Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Arinta Rara Kirana STKIP PGRI Bandar Lampung arintarara@gmail. How to cite . n APA Styl. : Kirana. Arinta Rara. Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 18 . Abstract : The problems studied in this study are related to the less than optimal achievement of students' mathematical problem-solving abilities. The purpose of this study was to determine the effect of the CORE learning model on the mathematical problem-solving abilities of grade Vi students in the Odd Semester of SMP Negeri 34 Bandar Lampung in the 2025/2026 Academic Year. This study used an experimental method with the population in this study being all grade Vi students of SMP Negeri 34 Bandar Lampung consisting of 7 classes. While the sample was taken from two classes, namely class Vi C as the experimental class that applies the CORE learning model, and class Vi A as the control class that applies the conventional learning model. The sample was taken using the Cluster Random Sampling technique. To determine students' mathematical problemsolving abilities, the author conducted a test in the form of five essay questions that had previously been tested for validity and reliability. Hypothesis testing in this study used the t-hit formula and obtained a value of t hit = 3,51. From the tdistribution table at a significance level of 5%, it is known that t daf = 1,67, so ycEaycnyc > ycyccycayce , which means that the average mathematical problem-solving ability of students using the CORE learning model is higher than the average mathematical problem-solving ability of students using the conventional learning Keywords: CORE. Problem Solving PENDAHULUAN Pemecahan masalah merupakan aktivitas utama dalam pembelajaran matematika pada semua tingkatan sekolah. Rostina . mengatakan pemecahan masalah merupakan kemampuan siswa karena terbiasanya menghadapi suatu Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa permasalahan sehingga siswa akan terbiasa menggunakan pola pikirnya berakibat dapat membantu keberhasilan dalam memecahkan permasalahan pada kehidupan sehari-hari. Yesi dkk, . mengemukakan kemampuan pemecahan masalah adalah suatu kemampuan yang dapat memberikan manfaat bagi siswa karena terdapat kaitan antara mata pelajaran matematika dengan mata pelajaran lain, serta manfaatnya dalam kehidupan nyata. Kesumawati . alam Chotimah, 2. menyatakan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, mampu membuat atau menyusun model matematika, dapat memilih dan mengembangkan strategi pemecahan, mampu menjelaskan dan memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh. Menurut Hudojo . dalam Anisa & Sri . , siswa yang sudah mempunyai kemampuan pemecahan masalah yang baik dapat membuat siswa tersebut lebih terampil dalam menyeleksi sebuah informasi relevan dan juga dapat meningkatkan potensi intelektual yang dimiliki Bruning et al. menjabarkan dua alasan pentingnya mempelajari pemecahan masalah. Pertama menekankan bahwa pemecahan masalah merupakan proses yang berkesinambungan, artinya dimulai dari tahapan awal dan berujung pada definisi akhir yang jelas. Kedua, pemecahan masalah merupakan proses perubahan dari satu tahap ke tahapan lainnya yang bertujuan untuk membantu seseorang memahami hampir setiap masalah yang dihadapi dan dapat diselesaikan menggunakan strategi yang hampir sama meskipun masalah yang dihadapi terlihat Keterbatasan proses pada sistem kognitif merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses pembelajaran, termasuk kemampuan pemecahan masalah. Polya . menyatakan ada empat tahapan pemecahan masalah. Langkah pertama adalah memahami masalah. Pada tahapan ini siswa harus mampu mengidentifikasi kondisi masalah yang disajikan, informasi apa saja yang tersedia dan apakah perlu adanya pengurangan atau penambahan informasi yang Langkah kedua adalah perencanaan tindakan. Pada tahapan ini siswa mampu menentukan apakah semua informasi yang tersedia dapat digunakan atau tidak untuk memecahkan masalah dan mencari tahu apakah ada informasi lain yang Selain itu siswa diharapkan mampu menghubungkan masalah yang dihadapinya dengan masalah yang penah dihadapi sebelumnya sehingga mampu merencanakan strategi atau tindakan apa yang sebaiknya ditempuh. Tahapan ketiga yaitu menjalankan strategi. Pada tahapan ini siswa menjalankan strategi yang dipilih untuk menemukan solusi dengan memeriksa langkah demi langkah yang Langkah terakhir yaitu memriksa kembali. Pada langkah ini siswa memeriksa strategi yang digunakan apakah sudah sesuai dan kelogisan hasil yang Dari penjabaran di atas, dapat diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis begitu penting untuk dikuasai siswa. Namun fakta di lapangan menunjukan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih rendah. Hal Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 181-190 tersebut juga terjadi pada kelas Vi SMPN 34 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil prapenelitian berupa wawancara dengan guru matematika dikelas Vi dan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang ada dapat terlihat siswa kurang memahami strategi penyelesaian soal yang diberi oleh guru. Kebanyakan dari mereka tidak dapat menuliskan sistematika penyelesaian dari soal-soal tersebut. Proses pembelajaran yang dilakukan tidak diawali dengan tanya jawab mengenai pengetahuan dan pengalaman siswa yang sudah mereka dapatkan sebelumnya. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa juga dapat dilihat dari hasil pra penelitian yang menunjukkan bahwa hanya 18% siswa yang dapat menjawab soal-soal kemampuan pemecahan masalah, sedangkan sisanya sebesar 82% siswa belum mampu menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah. Hal tersebut dikarenakan siswa tidak terbiasa mengerjakan soal-soal pemecahan masalah sehingga mereka kesulitan dalam tahap penyelesaiannya, selain itu siswa juga tidak berusaha mengaitkan materi yang sudah mereka pelajari dengan materi yang akan dipelajari padahal secara umum materi yang akan dipelajari berkaitan juga dengan materi yang sebelumnya sudah pernah dipelajari. Proses pembelajaran yang dilakukan juga belum sepenuhnya berpusat pada siswa. Sebagian besar informasi disampaikan oleh guru dan siswa hanya mendengarkan. Pembelajaran terkesan monoton dan siswa merasa kurang termotivasi dengan pembelajaran yang monoton dan tantangan yang diberi oleh guru dirasa kurang. Siswa tidak dapat mengeksplorasi pengetahuan awal dan mengembangkan ide-ide mereka sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Hal tersebut tentunya membutuhkan suatu alternatif penyelesaian yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran di kelas. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan untuk mengaktifkan siswa dalam menemukan konsep matematis yaitu model pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE). Model pembelajaran CORE memiliki gabungan dari empat kata yang saling berkaitan, yaitu Connecting . Organizing . Reflecting . Extending . Keempat aspek tersebut memiliki arti sebagai berikut : . Connecting merupakan kegiatan menghubungkan informasi lama dengan informasi lama. Organizing merupakan kegiatan mengorganisasikan ide-ide untuk memahami sebuah materi. Reflecting merupakan kegiatan memikirkan kembali, dan menggali informasi yang sudah . Extending merupakan kegiatan untuk mengembangkan, memperluas dan menerapkan informasi yang didapatkan selama proses pembelajaran (Shoimin. Model pembelajaran CORE menekankan kemampuan berpikir siswa untuk menghubungkan, mengorganisasikan, mendalami . emikirkan kembal. , serta mengembangkan informasi yang didapat. Siswa dituntut untuk dapat berpikir kritis terhadap informasi yang didapatnya selama proses pembelajaran. Tahapan pembelajaran CORE menawarkan sebuah proses pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk berpendapat, mencari solusi serta membangun Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pengetahuannya sendiri (Andi, 2. Model pembelajaran CORE adalah model pembelajaran yang menerapkan metode diskusi/kerja kelompok yang terdiri dari 45 siswa yang bertugas menyelesaikan tugas secara bersama-sama, dimulai dari setiap siswa menghubungkan konsep lama dan konsep baru yang akan dipelajarinya, kemudian mengorganisasikan setiap ide-ide untuk memahami materi tersebut, lalu memikirkan kembali dan menggali informasi yang telah diperoleh, selanjutnya mengembangkan informasi yang telah diperoleh dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Adapun penjelasan dari keempat tahapan model CORE adalah sebagai berikut : . Connecting. Connect menurut bahasa artinya menghubungkan. Pada tahap connecting ini guru mengaktifkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya dengan meminta siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru atau menulis dari pengetahuan dan pengalaman mereka yang akan diterapkan untuk topik yang akan dipelajari. Menurut Suyatno, connecting merupakan kegiatan menghubungkan informasi lama dengan informasi baru dan antar konsep (Suyanto. Sebuah konsep dapat dihubungkan dengan konsep lain dalam sebuah diskusi kelas, dimana konsep yang akan diajarkan dihubungkan dengan apa yang telah diketahui siswa. Maka, agar dapat berperan dalam diskusi, siswa harus mengingat dan menggunakan konsep yang dimilikinya untuk menghubungkan dan menyusun ide-idenya. Connecting erat kaitannya dengan pembelajaran bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan pembelajaran yang mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif Struktur kognitif dimaknai sebagai fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa. Pembelajaran bermakna dimulai dengan hal yang sudah dikenal dan dipahami siswa, kemudian guru menambahkan unsur-unsur pembelajaran dan kompetensi baru yang disesuaikan dengan pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki (Mulyasa, . Organizing Secara bahasa, organize artinya mengatur, mengorganisasi . , mengorganisir, mengadakan sebuah sistem dapat bekerja dengan baik (Echol dan Shadily, 2. Tahap organizing adalah kunci penting agar siswa aktif menciptakan, mengatur informasi/ ide dengan bimbingan guru. Penciptaan aktif ini semakin memperkuat metakognitif siswa dan kemampuan penalaran. Kegiatan ini dalam proses pembelajaran meliputi penyusunan ide-ide atau rencana setelah siswa menemukan keterkaitan dalam masalah yang diberikan, sehingga terciptanya strategi dalam menyelesaikan masalah. Setiap siswa dapat bertukar pendapat dalam diskusi kelompoknya sehingga dapat mengorganisasikan, menyusun ide/informasi yang telah diperoleh. Jadi, pada tahap organizing siswa dapat menemukan, menyusun dan mengorganisasikan ide-ide yang telah diperoleh untuk memahami . Reflecting. Reflect secara bahasa berarti menggambarkan, membayangkan, mencerminkan, mewakili, memantulkan dan memikirkan (Echol Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 181-190 dan Shadily, 2. Syaiful Sagala . mengungkapkan refleksi adalah cara berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dalam hal belajar di masa lalu. Reflecting merupakan kegiatan memikirkan kembali informasi yang sudah didapat. Kegiatan reflecting dalam proses pembelajaran dilakukan ketika siswa berada dalam satu kelompok diskusi. Dalam kegiatan ini, perwakilan dari kelompok diskusi diharapkan bisa memaparkan hasil diskusinya di depan kelas, dan yang lain memperhatikan dengan menyimpulkan materi baru tersebut, sehingga siswa bisa saling menghargai dan mengoreksi pekerjaan orang lain. Dengan demikian, diskusi dapat berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatkan kemampuan berfikir reflektif siswa. Jadi, pada tahap reflecting siswa dapat memikirkan, menggali dan menjelaskan kembali materi yang telah dipelajari. Extending. Secara bahasa extend berarti memperpanjang, menyampaikan, mengulurkan, memberikan dan memperluas. Tahap extending memberikan kesempatan bagi siswa untuk mensintesis pengetahuan mereka, mengaturnya dengan cara baru, dan mengubahnya untuk aplikasi baru. Extending merupakan tahap dimana siswa dapat memperluas pengetahuan mereka tentang apa yang sudah diperoleh selama proses belajar mengajar berlangsung (Suyanto, 2. Perluasan pengetahuan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki siswa. Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk mensintesis pengetahuan mereka, mengembangkan, memperluas pengetahuan yang telah didapatkan pada pembelajaran. Selama kegiatan diskusi berlangsung, siswa diharapkan dapat memperluas pengetahuan yang berhubungan dengan konsep yang dipelajari tetapi dalam situasi baru atau konteks yang berbeda yaitu secara Langkah-Langkah Model Pembelajaran CORE menurut Shoimin . : . Mengawali pembelajaran dengan kegiatan yang menarik siswa. Guru membuka pelajaran dengan hal-hal yang menarik, misal dengan menyanyikan lagu yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan. Hal ini berguna untuk memberi motivasi kepada siswa sebelum memulai pembelajaran. Guru menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran hari itu. Melakukukan kegiatan apersepsi dengan memberikan pertanyaan terkait materi yang disampaikan untuk mengetahui konsep lama yang dimiliki siswa. Pembagian kelompok secara heterogen . ampuran antara yang pandai, sedang, dan kuran. yang terdiri dari 4-5 siswa. Tahap connecting, guru mengajak siswa untuk menghubungkan konsep lama dengan konsep baru yang akan dipelajari, dengan cara memberikan siswa pertanyaanpertanyaan, kemudian siswa diminta untuk menulis hal-hal yang berhubungan dengan pertanyaan tersebut. Disini siswa dituntut untuk berperan aktif, siswa harus mengingat dan menggunakan konsep yang dimilikinya untuk menghubungkan dan menyusun ideidenya. Tahap organizing, siswa mengorganisasikan informasi-informasi yang diperolehnya seperti konsep apa yang diketahui, konsep apa yang dicari, dan keterkaitan antar konsep apa saja yang dittemukan pada tahap connecting untuk dapat membangun pengetahuannya Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa . onsep bar. dengan bimbingan guru. Bersama kelompoknya siswa dapat saling bertukar pendapat dalam kelompok diskusinya dengan membuat peta konsep sehingga nantinya diharapkan dapat membentuk pengetahuan baru . onsep bar. dan memperoleh pemahaman yang baik. Tahap reflecting, siswa diberi kesempatan untuk memikirkan kembali apakah hasil diskusi bersama dengan kelompoknya pada tahap organizing sudah benar atau masih terdapat kesalahan yang perlu diperbaiki. pada tahap ini siswa mengedepankan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, jadi siswa dapat menyimpulkan pembelajaran yang mereka peroleh dengan bahasa mereka sendiri. Tahap extending, siswa dapat memperluas pengetahuan dengan cara mengerjakan soalsoal yang berhubungan degan konsep yang dipelajari tetapi dalam situasi baru atau dalam konteks yang berbeda secara berkelompok. Guru membimbing dan mengawasi selama siswa berdiskusi. Guru memberikan kesimpulan dari ide atau pendapat yang disampaikan siswa. Guru bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami siswa. Guru menyampaikan kesimpulan materi. Kelebihan dari model CORE ini diantaranya : . Siswa aktif dalam belajar. Melatih daya ingat siswa tentang suatu konsep atau informasi. Melatih daya piker kriris siswa terhadap suau masalah. Memberikan siswa pembelajaran yang bermakna (Isum, 2. Sedangkan kekurangan dari model CORE ini diantaranya : . Jika siswa tidak kritis maka proses pembelajaran tidak bisa berjalan lancar. Memerlukan banyak waktu. Tidak semua materi pelajaran dapat menggunakan model ini (Shoimin, 2. Dengan menggunakan model pembelajaran CORE diharapkan dapat mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Adapun Rumusan Masalah dari penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran CORE dapat mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa? METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Dimana dalam pengambilan data penulis menggunakan dua kelas. Kelas pertama dijadikan kelas eksperimen yaitu kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran CORE dan kelas kedua dijadikan kelas kontrol yaitu kelas yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas Vi Semester Ganjil SMPN 34 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2025/2026. Penulis mengambil sampel dengan teknik Cluster Random Sampling dengan prosedur pengundian kemudian didapat 2 kelas yang dijadikan sampel yakni kelas Vi C sebanyak 32 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas Vi A sejumlah 32 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Tes yang digunakan dalam penelitian adalah tes berbentuk uraian. Tes ini bertujuan untuk menguji kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang berjumlah 5 butir soal. Sebelum diujikan, tes diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengujian validitas Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 181-190 menggunakan rumus korelasi product moment dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha. Dari hasil tes ini kemudian dianalisis untuk mengetahui pengaruh yang terjadi guna menarik kesimpulan penelitian. Teknik pengujian hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Ae t jika data terbukti normal dan Uji tAo jika data normal tetapi tidak homogen dan uji non parametrik jika data tidak normal. Uji prasyarat analisis . ji normalitas dan uji homogenita. Uji normalitas menggunakan rumus Liliefors dan uji homogenitas menggunakan rumus F. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 34 Bandar Lampung tahun pelajaran 2025/2026 yaitu pada semester ganjil. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas Vi C sebanyak 32 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas Vi A sejumlah 32 siswa sebagai kelas kontrol. Dalam penelitian ini penulis memberikan perlakuan berupa model pembelajaran CORE pada pembelajaran matematika di kelas Vi C dan memberikan perlakuan pembelajaran konvensional dalam pembelajaran matematika di kelas Vi A. Penelitian ini dilakukan sembilan kali pertemuan, pertemuan pertama sampai pertemuan kedelapan diberikan materi pembelajaran mengenai bilangan bulat dan pertemuan kesembilan diberikan tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Setiap pertemuan berlangsung selama 2x40 menit baik untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol yang disesuaikan dengan CP. ATP, dan modul ajar. Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Dari kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran CORE diperoleh yaycu =0,1360 dan diperoleh yayccycayce = 0,1566. demikian terlihat yaycu < yayccycayce , berarti H0 diterima sehingga sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Dari kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional diperoleh hasil analisis yaycu = 0,0891. dan diperoleh yayccycayce = 0,1566. dengan demikian terlihat yaycu < yayccycayce , berarti H0 diterima sehingga sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Setelah mengetahui bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal, dilakukan uji homogenitas menggunakan rumus F. Berdasarkan perhitungan yaitu Fhit= 0,74 dan untuk = 5% didapat Fdaf = 1,84. Terlihat bahwa Fhit< Fdaf atau 0,74 < 1,84, berarti H0 diterima sehingga dapat disimpulkan kedua data mempunyai varians yang sama. Langkah berikutnya dilakukan pengujian hipotesis menggunakan rumus ttes. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini: Kelas Tabel 1 Hasil Analisis Uji t Rata-rata Eksperimen 78,13 Kontrol 63,28 3,51 1,67 Pengaruh Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas eksperimen sebesar 78,13 dan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas kontrol sebesar 63,28. Dari perhitungan diperoleh thit = 3,51 dengan taraf signifikansi 5% didapat t daf = 1,67. Dapat terlihat bahwa thit > tdaf sehingga Ho ditolak. Jadi dapat disimpulkan model pembelajaran CORE berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Kelas Vi SMP negeri 34 Bandar Lampung. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran CORE dengan yang menerapkan model pembelajaran konvensional. Rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran CORE lebih tinggi dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran Model Pembelajaran CORE dapat mendorong kerjasama antar individu karena terdapat tahapan diskusi pada proses pembelajarannya. Dengan diskusi dalam kelompok, siswa dapat bertukar ide dalam menyelesaikan berbagai Pada tahap Connecting, guru dapat mengaitkan materi yang sudah dipelajari sebelumnya dengan materi yang akan di pelajari. Dengan mengaitkan konsep ini, siswa lebih mudah dalam mempelajari konsep baru. Selanjutnya pada tahap Organizing, perserta didik berdiskusi mengenai topic permasalahan serta mencoba untuk mencari penyelesaian dari permasalahan tersebut. Pada tahap Reflecting, peserta didik diharapkan dapat menyimpulkan cara atau konsep baru yang telah mereka dapatkan melalui diskusi dan pembelajaran sebelumnya. Kemudian peserta didik dapat berbagi hasil diskusi dan pemahaman mereka dengan peserta didik lainnya melalui presentasi atau pertukaran gagasan. Kemudian pada tahap terakhir yaitu Extending, peserta didik akan mengerjakan latihan atau tugas secara individu. Mereka akan mengaplikasikan konsep tersebut dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Tahapan ini bermaksud untuk menguji pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam menggunakan konsep yang sudah dipelajari dalam skala yang lebih luas. Selain itu, mereka dapat memperdalam pemahaman mereka dalam pemecahan masalah matematis dengan cara yang lebih mandiri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Surry dkk . yang menyatakan bahwa model pembelajaran CORE memungkinkan siswa agar terlibat aktif, berdiskusi, serta mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri sehingga memperluas pemahaman mereka dalam pemecahan masalah matematis. Berbeda halnya dengan situasi di kelas Vi A SMP Negeri 34 Bandar Lampung pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran Pembelajaran masih berpusat pada guru. Guru memaparkan materi dan contoh soal setelah itu siswa diberi waktu untuk bertanya dan menyelesaikan latihan soal. Namun masih ada beberapa siswa yang melakukan aktivitas diluar Arinta Rara Kirana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 181-190 pembelajaran ketika guru sedang menjelaskan materi. Pada pembelajaran ini siswa jarang bertanya kepada guru mengenai kesulitan yang dialaminya, mereka cenderung berdiam diri ketika diminta bertamnya atau menjawab pertanyaan dari Ketika diminta mengerjakan soal pun hanya sebagian kecil siswa yang dapat menyelesaikan solusi dari persoalan tersebut. Pembelajaran yang terjadi kurang aktif dan hanya mengandalkan informasi yang bersumebr dari guru. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran menggunakan model CORE dapat membuat peserta didik aktif dan mampu menemukan ide Siswa dengan berbagai kemampuan pemahaman pada kelas yang menggunakan model pembelajaran CORE dapat menyelesaikan setiap tahapan pemecahan masalah matematis dengan cara mereka sendiri dalam diskusi kelompok, sedangkan pada kelas kontrol siswa masih terlihat bingung saat menyelesaikan tahapan pemecahan masalah. Tentunya perbedaan keadaan kedua kelas ini berakibat pada perbedaan perolehan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan uji hipotesis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu ada pengaruh model pembelajaran CORE terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas Vi SMP Negeri 34 Bandar Lampung tahun pelajaran 2025/2026. Hal tersebut ditunjukan dengan ratarata kemampuan pemecahan masalah matematis yang menggunakan model pembelajaran CORE pada kelas eksperimen yaitu kelas Vi C yaitu 78,13 lebih tinggi daripada rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol yaitu Vi A yaitu 63,28. Dengan melihat hasil penelitian dan melihat kesimpulan yang ada, maka saran yang dapat penulis sampaikan yaitu: . Dalam pembelajaran menggunakan model CORE hendaknya disesuaikan dengan kondisi siswa di sekolah. Guru dapat memaksimalkan keaktifan siswa dalam tahapan organizing agar lebih mendukung siswa dalam menemukan konsep baru dan kemampuannya dalam memecahkan maslah matematis. Dalam penggunaan model CORE hendaknya guru menyiapkan materi dan soal-soal pemecahan masalah yang menarik agar siswa lebih maksimal dalam memahami konsep materi yang disampaikan. Model pembelajaran CORE dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran guna perbaikan kualitas kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta guna mengaktifkan siswa dalam pembelajaran matematika. DAFTAR PUSTAKA