Fadjria, et al KISRA 01 . , 2024, pp. ISSN x . dan x . KISRA: The Knowledge of Industrial & Scientific Research Journal homepage: https://w. id/index. php/kisra Analisis Kadar Karbohidrat Pati Biji Durian (Durio zibethinus murr. ) Dengan Reagen Luff Schoorl Secara Iodometri Analysis of Carbohydrate Starch Content in Durian Seeds (Durio zibethinus murr. Using Luff Schoorl Reagent via Iodometric Method Neri Fadjria*. Arfiandi. Reza Arisfa Azril Email . erifadjria1607@gmail. Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi. Kota Bukitting. Indonesia Keywords Abstract Bioethanol production. Carbohydrate content. Durian seeds. Iodometric method. Luff Schoorl This research aims to explore the potential of durian seeds (Durio zibethinus Murr. ), often overlooked as solid waste, as a source of utilizable carbohydrates. The method employed in this study is iodometry using Luff Schoorl reagent to determine the carbohydrate content of durian seed starch. Carbohydrates in durian seeds are crucial components that can be quantified using the iodometric method with Luff Schoorl reagent. The study found that the carbohydrate content in durian seed starch is 55. This high carbohydrate content indicates the potential of durian seeds as a raw material for bioethanol The results of the study demonstrate that the determination of carbohydrate content using the Luff Schoorl method is effective and reliable. Furthermore, the determination of carbohydrate content is also influenced by the type of solvent and concentration used in the hydrolysis of polysaccharide Carbohydrate content determination was based on calculation formulas adjusted to the SNI 01-2891-1992 standard. Thus, this research indicates that durian seeds have potential for further exploration as a carbohydrate source for various industrial applications, particularly in bioethanol production. In conclusion, the iodometric method using Luff Schoorl reagent can effectively determine the carbohydrate content in durian seed starch, which has the potential for economical utilization as an alternative raw Kata Kunci Abstrak Produksi Bioetanol. Kandungan Karbohidrat. Biji Durian. Metode Iodometri. Reagen Luff Schoorl Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi biji durian (Durio zibethinus Murr. ), yang sering kali diabaikan sebagai limbah padat, sebagai sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah iodometri dengan menggunakan reagen Luff Schoorl untuk menentukan kadar karbohidrat pati biji durian. Karbohidrat dalam biji durian merupakan komponen yang penting dan dapat ditetapkan kadarannya dengan metode iodometri menggunakan reagen Luff Schoorl. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa kadar karbohidrat pada pati biji durian adalah sebesar 55,197%. Kandungan karbohidrat yang tinggi ini mengindikasikan potensi biji durian sebagai sumber bahan baku untuk produksi bioetanol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan kadar Fadjria, et al KISRA 01 . , 2024, pp. karbohidrat menggunakan metode Luff Schoorl efektif dan dapat diandalkan. Selain itu, penentuan kadar karbohidrat juga dipengaruhi oleh jenis pelarut dan konsentrasi yang digunakan dalam proses hidrolisis senyawa Penetapan kadar karbohidrat dilakukan berdasarkan rumus perhitungan yang disesuaikan dengan standar SNI 01-2891-1992. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa biji durian memiliki potensi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut sebagai sumber karbohidrat untuk berbagai aplikasi industri, terutama dalam produksi bioetanol. Kesimpulannya, metode iodometri dengan menggunakan reagen Luff Schoorl dapat digunakan secara efektif untuk menentukan kadar karbohidrat dalam pati biji durian, yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara ekonomis sebagai bahan baku alternatif. Pendahuluan Sumber karbohidrat dapat kita peroleh dari tumbuh-tumbuhan. Karbohidrat pada tumbuhan dibentuk dari reaksi CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis dalam sel tumbuhan yang dibantu oleh klorofil. Karbohidrat yang terbentuk digunakan dalam metabolismenya dan sebagian akan disimpan sebagai cadangan makanan. Setiap tumbuhan memiliki tempat penyimpanan cadangan makanan yang berbeda-beda, seperti akar, batang, dan buah. Salah satu tumbuhan yang menyimpan cadangan makanan pada buah adalah durian. Umumnya biji durian tidak dimanfaatkan oleh masyarakat, malahan menjadi limbah padat. Komponen utama dalam biji durian adalah karbohidrat 45% dalam basis basah . Adanya kandungan karbohidrat pada biji durian masyarakat dapat mengolah biji durian menjadi nilai guna, seperti sebagai pakan ternak, bahan makanan alternatif, bahan baku untuk perekat . , sumber bioetanol . dan bioplastik . Kandungan karbohidrat dapat ditentukan kadarnya dengan menggunakan metode spektrofotometri dan titrimetri . Pada penelitian yang dilakukan oleh Steen et al pada tahun 2014 dengan menggunakan metode spektofotometri, bahan yang digunakan salah satunya adalah arsenomolibdat . Arsenomolibdat adalah larutan berwarna biru, memiliki waktu simpan yang terbatas dan bersifat Jika tertelan akan menimbulkan rasa pusing, mual, dan sesak . Oleh sebab itu maka penelitian penetapan kadar karbohidrat pati biji durian ditentukan secara iodometri dengan menggunakan pereaksi luff schoorl. Metode Penelitian Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Biji durian. CuSO4. 5H2O. NaHCO3. Na2CO3 HCl. KI. NaOH. C6H8O7. K2Cr2O7. H2SO4. Na2S2O3, . , amylum, dan aquadest. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Timbangan analitik, timbangan digital, oven, blender, alat refluk, standar dan klem buret, pH universal, dan alat gelas. Prosedur Kerja Pembuatan Reagen . Larutan Luff Schoorl Dilarutkan 25 g C6H8O7. H2O dalam 10 ml aqua dest sebagai larutan A, dilarutkan 12,5 gr CuSO4. 5H20 dalam 50 ml aqua dest sebagai larutan B, dilarutkan 71,9 g Na 2CO3 dalam 200 ml aqua dest mendidih sebagai larutan C. Larutan A dan B yang telah dingin di campur dalam labu ukur 500 ml, ditambahkan sedikit demi sedikit larutan C, cukupkan dengan aqua dest hingga volume menjadi 500 ml, biarkan semalam kemudian disaring . HCl 3% 21,4 ml HCl p dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian ditambahkan aqua dest melalui dinding erlenmeyer sedikit demi sedikit sampai tanda batas. Fadjria, et al KISRA 01 . , 2024, pp. NaOH 40% Dilarutkan 4 g NaOH dengan aqua dest hingga 10 ml. KI 15 % Dilarutkan 15 g KI dengan aqua dest hingga 100 ml. H2SO4 25% 70 ml H2SO4 p dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml, kemudian ditambahkan aqua dest melalui dinding labu ukur sedikit demi sedikit sampai tanda batas. Na2S2O3 0,1 N Dilarutkan 13 g natrium tiosulfat p dan 100 mg natrium karbonat p kedalam air bebas CO 2 hingga 500 ml . Indikator amylum 1% Ditimbang amylum 1 g ditambahkan sedikit demi sedikit aqua dest hingga 100 ml, didihkan selama beberapa menit, dinginkan. Air Bebas CO2 Dimasukkan 500 ml aqua dest ke dalam erlenmeyer kemudian tutup. Kemudian panaskan, setelah mendidih buka tutup tersebut hingga CO 2 hilang. Kemudian tutup kembali Pengolahan Sampel Biji durian dikupas, cuci dan timbang 1 kg biji durian. Kemudian biji durian tersebut ditambahkan air sebanyak 1:2 . /m. lalu diblender. Biji durian yang telah diblender tersebut diekstrak dengan cara diremas-remas, setelah itu disaring dengan menggunakan kain flanel, kemudian peras. Ambil pati Keringkan dengan oven. Setelah kering timbang sebanyak 100 g. Kemudian diblender . Pembakuan Natrium Tiosulfat Ditimbang seksama 700 mg K2Cr2O7 P dilarutkan dalam 100 ml 1air dalam labu ukur 100 ml, goyangkan hingga larut, kemudian ambil 10 ml larutan K2Cr2O7, pindahkan kedalam erlenmeyer, ditambahkan dengan cepat 1 g KI P, 0,7g NaHCO3 P, dan 5 ml HCl P. Tutup erlenmeyer, goyangkan hingga tercampur, biarkan di tempat gelap selama 10 menit. Titrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai warna kuning pucat, kemudian tambahkan 3 tetes indikator amylum 1% dan titrasi dilanjutkan secara perlahan hentikan tepat warna biru menghilang dan muncul warna larutan hijau. lakukan 3 kali pengulangan. catat larutan Na 2S2O3 0,1N yang terpakai . 1 ml natrium tiosulfat 0,1 N setara dengan 4. 904 mg K 2Cr2O7 Penetapan Kadar Karbohidrat Sampel 5 g masukkan ke dalam labu refluks ditambahkan 200 ml HCl 3%. Direfluks selama 2. Kemudian didinginkan, setelah itu dinetralkan sampai pH 7 dengan NaOH 40%. Setelah itu di pindahkan ke labu ukur 500 ml dan ditambahkan aquades sampai tanda batas kemudian disentrifus. Ambil 10 ml larutan bening encerkan dalam labu ukur 100 ml, kemudian pipet 10 ml masukkan ke dalam erlemeyer dan tambahkan 25 ml luff schoorl, panaskan selama 12 menit. Didinginkan, lalu tambahkan KI 15% sebanyak 15 ml. Ditambahkan lagi H 2SO4 25% sebanyak 25 ml. Titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai warna putih kecoklatan, kemudian tambahkan 2 ml indikator amilum 1% dan titrasi dilanjutkan secara perlahan hentikan hingga warna biru tua kehitaman dalam larutan berubah warna menjadi putih susu, catat larutan Na2S2O3 0,1 N yang terpakai. Lakukan 3 kali pengulangan . yc1 ycu yceycy Kadar Glukosa = ycu 100 % yc Kadar karbohidrat = 0,9 x kadar glukosa Keterangan : = faktor pengenceran = berat sampel . = glukosa yang terkandung untuk tiap ml Na2S2O3 (Vol. Na2S2O3 blanko AeVol. Na2S2O3 sampel ) x N. Na2S2O3 X 10 Fadjria, et al KISRA 01 . , 2024, pp. Hasil dan Pembahasan Sebelum dilakukan penetapan kadar karbohidrat pati biji durian, terlebih dahulu dilakukan proses pembakuan larutan Na2S2O3. Larutan Na2S2O3 merupakan larutan baku sekunder atau larutan yang digunakan untuk mentitrasi sampel. Larutan ini perlu dibakukan karena konsentrasinya cepat berubah oleh pengaruh lingkungan, karena senyawa yang digunakan sebagai larutan baku sekunder umumnya tidak stabil. Jika terlalu lama, terjadinya proses metabolit oleh bakteri dengan membentuk SO 3-2. SO4-2, dan koloid belerang sehingga dalam pembuatannya menggunakan aqua dest bebas CO2. Dalam pembuatan Na2S2O3 ditambahkan natrium karbonat dengan tujuan sebagai pengawet. Oleh karena itu Na2S2O3 perlu dibakukan dengan K2Cr2O7. KI yang ditambahkan dalam pembakuan harus dilebihkan dan akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium thiosulfat. Reaksi pembakuan sebagai berikut . K2Cr2O7 6 KI 14 HCl 8 KCl 2 CrCl3 3 I2 7 H2O I2 ( berlebi. Na2S2O3 Na2S4O6 2 NaI Setelah ditambahkan dengan KI berlebih. NaHCO3 dan HCl kemudian biarkan ditempat gelap 10 menit. Setelah itu titrasi dengan larutan Na 2S2O3 sampai warna kuning pucat, kemudian tambahkan indikator amilum dan titrasi dilanjutkan secara perlahan hentikan tepat warna biru menghilang dan warna hijau muncul yang merupakan titik akhir titrasi . Pengujian karbohidrat pati biji durian diawali dengan pembuatan tepung pati. Tepung pati biji durian dihidrolisis dengan menggunakan pelarut asam klorida dengan konsentrasi 3%. Konsentrasi ini merupakan konsentrasi optimum dalam menghidrolisis senyawa polisakarida . Konsentrasi asam yang terlalu tinggi menyebabkan senyawa monosakarida terdegradasi sehingga menghasilkan senyawa hidroksimetil furfural dan furfural yang akhirnya akan membentuk senyawa asam formiat . Hidrolisis pati biji durian tidak hanya ditambahkan HCl tetapi perlu dipanaskan dengan cara di refluk. Refluk adalah teknik distilasi yang melibatkan kondensasi uap dan berbaliknya kondensat ini ke dalam sistem asalnya. Sebenarnya refluk hampir sama dengan destilasi sederhana, yang berbeda terletak pada proses kondensasi yang terjadi secara berulang-ulang. Waktu refluk yang digunakan untuk menghidrolisis pati biji durian dalam penelitian ini yaitu 2,5 jam. Lamanya waktu untuk menghidrolisis senyawa karbohidrat juga mempengaruhi hasil hidrolisis karbohidrat menjadi senyawa monosakarida . Hasil hidrolisis pati biji durian dianalisis dengan menggunakan metode luff schoorl. Prinsip dari analisis dengan menggunakan metode luff Schoorl yaitu reduksi Cu2 menjadi Cu oleh monosakarida. Reaksi yang terjadi dalam penentuan kadar karbohidrat dengan metoda luff schoorl dapat ditulis sebagai berikut . R-COH 2 CuO berlebih R-COOH Cu2O CuO sisa . H2SO4 CuO sisa CuSO4 H2O CuSO4 KI CuI I3. I3 - 2S2O3-2 3I- S4O6-2 Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan luff schoorl yang ditambahkan berlebih menjadi Cu2O seperti reaksi . CuO sisa dari reaksi seblumnya akan berekasi dengan H2SO4 membentuk CuSO4 seperti reaksi . CuSO4 yang terbentuk akan bereaksi dengan larutan KI yang menghasilkan ion tri iodida . yang selanjutnya dititrasi dengan larutan tio sulfat . Ion tri-iodida tereduksi dengan kelebihan Na2S2O3 menjadi ion iodida yang tak bewarna sehingga endapan akan berwarna putih susu. indikator amilum akan membentuk senyawa kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, penambahan amilum sebelum titik ekivaken . Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh kadar karbohidrat dari pati biji durian sebesar 55,197 % dengan menggunakan rumus perhitungan berdasarkan SNI 01-2891-1992 . Penelitian sebelumnya memperoleh kadar karbohidrat biji cempedak sebesar 38,016% dengan metode iodometri dengan konsentrasi HCl yang sama . Kadar karbohidrat pada kulit buah durian sebesar 31,768% dengan menggunakan katalis H2SO4 1,5 N . Hal ini Fadjria, et al KISRA 01 . , 2024, pp. membuktikan penetapan kadar karbohidrat dengan menggunakan luff schoorl efektif digunakan. Penetapan kadar karbohidrat ditentukan juga pelarut dan konsentrasi yang digunakan dalam menghidrolisis senyawa polisakarida. Simpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, penelitian ini menyimpulkan bahwa biji durian memiliki potensi sebagai sumber karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk produksi bioetanol. Metode analisis menggunakan iodometri dengan reagen Luff Schoorl terbukti efektif dalam menentukan kadar karbohidrat pati biji durian. Proses persiapan yang meliputi pembakuan larutan Na 2S2O3 dan hidrolisis pati biji durian dengan asam klorida 3% berperan penting dalam memastikan akurasi hasil. Kadar karbohidrat yang diperoleh sebesar 55,197% menunjukkan potensi yang signifikan untuk pemanfaatan biji durian sebagai bahan baku bioetanol. Temuan ini memperkuat kontribusi penelitian dalam mengidentifikasi alternatif sumber energi terbarukan serta mengoptimalkan nilai ekonomis biji durian yang sering dianggap sebagai limbah. Referensi