Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-932 ANALISIS TAHAPAN PENGEMBANGAN PARIWISATA BERTUMPU MASYARAKAT DI KAMPUNG ADAT CIRENDEU, KOTA CIMAHI Hafsah Restu Nurul Annafi1, Ratu Dika Kartika2, Winne Riesky Alifah3, Alhilal Furqan4 Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesa No. 10, Coblong Bandung, Jawa Barat Email Korespondensi: hfshannafi@gmail.com ABSTRAK Desa Wisata dianggap sebagai daya tarik dalam suatu tujuan wisata yang secara signifikan merangsang pertumbuhan ekonomi, terutama bagi masyarakat lokal. Pariwisata pedesaan di desadesa tradisional dapat membantu melestarikan budaya lokal dan memberdayakan masyarakat setempat. Kampung Adat Cirendeu adalah contoh desa tradisional yang telah dikembangkan menjadi tujuan wisata edukatif dengan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal seperti tidak makan nasi dan menggantinya dengan singkong. Pariwisata berbasis masyarakat adalah salah satu cara di mana Kampung Adat Cirendeu telah mengembangkan dan mempertahankan gaya hidup tradisionalnya. Keberlanjutan desa dipertahankan oleh kemampuan masyarakat setempat untuk memberdayakan diri tanpa terganggu oleh faktor eksternal seperti kehadiran atau ketiadaan wisatawan. Analisis studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara dengan Ketua Desa Cirendeu dan penelitian pustaka. Hasil studi ini menemukan bahwa Desa Cirendeu berada dalam kategori berkelanjutan, hal ini karena orang-orang di sekitar desa telah mampu memberdayakan diri tanpa terganggu oleh faktor eksternal seperti ada atau tidaknya wisatawan, mereka terus melakukan gaya hidup mereka. Kata Kunci: Pariwisata Berbasis Komunitas; Desa Wisata; Eduwisata ABSTRACT Rural tourism is considered an attraction within a destination that significantly stimulates economic growth, particularly for local communities. Rural tourism in traditional villages can help preserve local culture and empower local communities. Kampung Adat Cirendeu is an example of a traditional village that has been developed into an educational tourist destination by preserving local cultural values such as not eating rice and replacing it with cassava. Community-based tourism is one of the ways that Kampung Adat Cirendeu has developed and maintained its traditional way of life. The sustainability of the village is maintained by the local community's ability to empower themselves without being disturbed by external factors such as the presence or absence of tourists. The analysis of this study used qualitative research methods by conducting interviews with the Cirendeu Village Chair and library research. The results of this study found that the Cirendeu Village is in the sustainable or sustainable category, this is because the people around the village have been able to empower themselves without being disturbed by external factors such as whether or not there are tourists, they continue to do their lifestyle as they should. Keyword: Community Based Tourism; Tourism Village; Edutourism 27 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 PENDAHULUAN Sektor Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang penting dan paling cepat berkembang dewasa ini. Sektor ini menjadi sumber pendapatan, pekerjaan, dan kekayaan yang semakin signifikan di berbagai negara. Pariwisata selalu berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan manusia. Pariwisata merupakan sumber pendapatan penting dan faktor penting dalam stabilitas ekonomi, karena berkontribusi pada peningkatan arus masuk devisa dan penciptaan lapangan kerja (Dašić, 2018). Berbagai konsep dan terminologi dikembangkan seperti sustainabletourism, rural tourism, village tourism dan lainnya. Saat ini berbagai macam strategi berbeda saat ini sudah beberapa negara coba lakukan untuk menarik lebih banyak wisatawan, investor asing, maupun melakukan Kerjasama dalam mengembangkan kemitraan internasional (Cvijanović et al.,2018). Desa wisata dianggap sebagai alternatif untuk pembangunan berkelanjutan karena lebih mengutamakan masyarakat (Yulianah, 2021). Menggunakan konsep pariwisata pedesaan, berarti pengembangan pariwisata di atas lanskap dan atraksi pedesaan, dan menganjurkan pengembangan sumber daya pariwisata pedesaan (Ramsey et al., 2017). Desa Wisata diperkirakanakan makin diminati oleh para wisatawan. Hal ini seiring dengan perubahan trend preferensi segmentasi pasar wisatawan pasca pandemi Covid-19 dengan berorientasi pada daya tarik wisata yang lebih personalize, customize, localize, dan smaller in size. Desa wisata merupakan sebuah kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan dari suasana yang mencerminkan keaslian dari pedesaan itu sendiri mulai dari sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas dan darikehidupan sosial ekonomi atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembangkan berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomondasi, makan-minuman, cinderamata, dan kebutuhan wisata lainnya (Priasukmana Soetarso dan R. Mohamad, 2020). Desa wisata memiliki keunikan dan karakteristik khusus untuk menjadidestinasi wisata, antara lain lingkungan bernuansa alami, tradisi dan budaya masih dipegang masyarakat, makanan khas, sistem pertanian, dan sistem kekerabatan (Santos, 2021). Inti kegiatandesa wisata didasarkan pada lokasi geografis pedesaan dan metode dan budaya produksi pedesaan tradisional (Li et al., 2021). Penyelenggaraaan pariwisata pedesaan diharapkan dapat mengatasi masalah di pedesaan yang meliputi; (a) pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat; (b) membangun rantai pasokan produk lokal; (c) mendorong produksi kerajinan lokal; (d) memastikan retensi maksimum keuntungan secara lokal; dan (e) memastikan bahwa pembangunan berada dalam kapasitas lingkungan dan masyarakat setempat (Gao & Wu, 2017). Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu Provinsi yang memiliki banyak potensi wisata di dalamnya dan di dukung oleh kekayaan alam dan budaya yang dimiliki menjadi salah satu dayatarik wisatawan untuk mengunjungi Jawa Barat. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi JawaBarat mengemukakan potensi wisata Jawa Barat antara lain : Wisata Alam berupa pantai, pengunungan, hutan, sungai, air terjun, dan danau. Wisata budaya berupa situs purbakala, keraton dan peninggalan sejarah. Wisata seni seperti kriya/kerajinan, rumpun angklung, rumpun gamelan, rumpun teater, rumpun wayang, rumpun kecapian, rumpun helaran, rumpun bela diri, rumpun debus. Wisata rekreasi yaitu seperti bumi perkemahan Rancaupas selain itu di Jawa Barat juga terdapat Wisata lainnya seperti wisata kuliner, wisata belanja, wisata religi dan terdapat beberapa desa wisata seperti Desa Wisata Pasanggrahan, Desa Wisata Sari Bunihayu, Desa Wisata 28 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Wangunharja, Kampung Adat Cirendeu, Kampung Adat Mahmud, Kampung Adat Sirna Resmi, Kampung Ciptagelar, Kampung Dukuh, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Kuta, Kampung Naga, Kampung Pulo, dan Kampung Urug. Dalam pelestarian desa wisata, tentu selain menambah dan meningkatkan perekonomian dapat menambah wawasan dan edukasi bagi masyarakat. Indonesia sebagai negara yang memiliki beranekaragam budaya tidak hanya lokal, terdapat di berbagai daerah di seluruh nusantara terbentang berbagai kebudayaan yang menjadi bagian teristimewa dari kebudayaan Indonesia (Trisandi & Rosdianti, 2021). Kota Cimahi merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat, Cimahi berada di sekitar Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Kota Bandung (termasuk pada wilayahBandung Raya). Kota Cimahi diharapkan memiliki kemajuan yang relatif sama dengan beberapa kabupaten/kota yang ada di sekitarnya, dalam hal ini berkaitan dengan kualitas pariwisata yang ada. Peneliti merasa bahwa Kota Cimahi memiliki kesenjangan dalam aspek pariwisata di banding dengan wilayah-wilayah di sekitarnya, hal tersebut dapat dibuktikan dengan perbandingan jumlah wisatawan yang berkunjung pada wilayah-wilayah tersebut. Tabel 1. Jumlah Wisatawan Domestik Bandung Raya Pada Tahun 2020 No Kabupaten/Kota 1 Kota Cimahi 2 Kota Bandung 3 Kab Bandung 4 Kab BandungBarat Sumber : jabar.bps.go.id (2020) Wisatawan Lokal Tahun2020 48.148 2.431.290 1.270.937 3.440.529 Jumlah wisatawan lokal pada tabel di atas sangat menunjukkan kesenjangan sektor pariwisata dari kabupaten/kota yang berada di Bandung Raya, dalam hal ini Kota Cimahi memiliki jumlah wisatawan lokal maupun asing yang terpaut sangat jauh dengan jumlah wisatawan di kabupaten/kota lain di sekitarnya. Kota Cimahi diharapkan dapat memaksimalkan potensi-potensi yang dimiliki untuk memajukan sektor pariwisata yang ada,hal tersebut berkaitan dengan sektor pariwisata yang menjadi salah pendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Potensi pariwisata yang dimiliki Kota Cimahi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan oleh pemerintah setempat, dalam hal ini mengembangkan potensi tersebut hingga dapat menjadi salah satu kekuatan yang menonjol dari Kota Cimahi. Tabel 2. Data Wisata di Kota Cimahi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam Budaya Minat Khusus Alam Wisata Cimahi Kampung Adat Cirendeu Pandiga Educreation Sport Kampung Buyut Cimahi Wisata Heritage Militer Mesjid Perahu Al Baakhirah Sumber : cimahikota.bps.go.id (2020) Ditjen Kebudayaan Indonesia pada tahun 2019 akan fokus pada revitalisasi adat selain ketahanan bencana serta faktor lain yang dianggap penting. Melihat pentingnya Kampung Adat Cirendeu dari ekonomi, budaya dan sektor lainnya serta untuk melestarikan sumber daya alam, diperlukan langkah-langkah revitalisasi yang sejalan dengan kelembagaan. Kampung Adat Cirendeu terletak di Lembah Gunung Kunci, 29 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Gunung Cimenteng, dan Gunung Gajahlungu, Cimahi. Kampung Adat Cirendeu adalah salah satu daerah yang masih sangat mempertahankan adat Sunda yang sudah dilakukan secara turun menurun. Keunikan dari kampung ini adalah penduduknya mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok. Gambar 1. Pintu Masuk Kampung Adat Cirendeu Sumber: Dokumentasi Penulis (2023) Kampung Adat Cirendeu masih sangat kental dengan budaya serta tradisi yang unik dan sakral. Potensi budaya ini menjadi atraksi untuk menarik wisatawan yang ingin melihat wisata budaya. Kampung Adat Cirendeu memiliki banyak potensi wisata baik wisata alam maupun wisata budaya. Banyaknya potensi wisata tersebut tidak didukung untuk kesejahteraan masyarakat lokal. Kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan pariwisata serta pemahaman mengenai menjadikan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi atraksi wisatamembuat masyarakat tidak sepenuhnya mendapat pemasukan dari pariwisata di Kampung Adat Cirendeu. Berdasarkan analisis situasi, masalah yang dihadapi dalam kegiatan pariwisata pedesaan adalah; (a) kurangnya partisipasi masyarakat dalam upaya perintisan pariwisata pedesaan; (b) infrastruktur pariwisata masih terbatas; dan (c) investasi untuk kegiatan pariwisata masih sedikit. Masalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pariwisata pedesaan disebabkan karena kurangnya manfaat yang diperoleh masyarakat dalam kegiatan pariwisata.Hal tersebut sejalan dengan pandangan, yang menyatakan masyarakat seharusnya mendapat manfaat dari pengembangan pariwisata pedesaan (Riddle, 2019). Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan yang di Kampung Adat Cirendeu peneliti ingin mengkaji dan merancang aktivitas masyarakat seperti bertani dan living culture masyarakat dikemas untuk menjadi atraksi wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan. Dengan pendekatan model community based tourism berdasarkan dengan sepuluh tahapan pendekatan hasil modifikasi. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan hingga nantinya dapat menambah variasi aktivitas wisata di Kampung Adat Cirendeu. METODE PENELITIAN Untuk mendapatkan hasil penelitian yang objektif dan akurat, penulis mencoba menggunakan pendekatan/metode penelitian deskriptif kualitatif. Untuk penelitian ini penulis mencoba mengelaborasi masalah-masalah penelitian di lapangan, dengan 30 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 melakukan langkah- langkah penelitian sebagai berikut: 1. Melakukan observasi, suatu pengamatan langsung di lapangan yaitu di Kampung Adat masyarakat Cirendeu. 2. Melalui studi library research dengan studi kepustakaan diharapkan ditemukannya beberapa pandangan teoritik yang membahas tentangmasyarakat adat, baik kulturnya maupun keyakinannya yang dianut oleh masyarakat adat. 3 Melalui wawancara (interview). Untuk memperoleh data yang akurat penulis melakukan wawancara secara mendalam dengan beberapa narasumber (responden) Kampung Adat Cirendeu. Dengan investigasi yang dilakukan, diharapkan ditemukannya pandanganpandangan objektif danotentik dari masyarakat. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif menurut Prayogi (2021) yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber sehingga peneliti dapat melakukan pemeriksaan serta dengan membandingkan data-data yang diperoleh dari banyak sumber. Adapun teori yang digunakan yaitu adaptasi Handbook on Community Based Tourism “How to Develop and Sustain CBT” dari Amran Hamzah dan Zainab Khalifah. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses analisis dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dari hasil pengolahan data. Penulis menjelaskan fenomena terkait community-based tourism di Kampung Adat Cirendeu secara runtut dan mendalam berdasarkan teori dari tahapan community-based tourim development. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, Kampung Adat Cirendeu teridentifikasi telah melakukan sembilan tahap dari sepuluh tahap pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat. 10 tahapan pengembangan yang telah dilakukan oleh Kampung Adat Cirendeuberdasarkan adaptasi Handbook on Community Based Tourism “How to Develop and Sustain CBT” dari Amran Hamzah dan Zainab Khalifah dipaparkan sebagai berikut: Tahap 1: Mengidentifikasi Lokasi dan Komunitas yang Potensial Kampung Adat Cirendeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Jawa Barat. Luas areanya sebesar 64 hektar yang terdiri atas 60 hektar lahan pertanian dan 4 hektarlahan permukiman. Hingga saat ini, masyarakat adat Kampung Cirendeu memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan atau Sunda asli. Salah satu keunikan yang dimiliki oleh kampung adat ini ialah masyarakat mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok. Gambar 3. Peta Wisatawan Kampung Cirendeu Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2023 31 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Kampung Adat Cirendeu terdiri dari tiga bagian utama yaitu: (1) Leuweung Larangan (hutan terlarang), yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cirendeu khususnya; (2) Leuweung Tutupan (hutan reboisasi): hutan yang digunakan untuk reboisasi, hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang baru. Luasnya mencapai dua hingga tiga hektar; dan (3) Leuweung Baladahan (hutan pertanian): hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cirendeu. Biasanya ditanami oleh jagung, kacang tanah, singkong atau ketela, dan umbi-umbian. Tahap 2: Penilaian Kebutuhan dan Kesiapan Komunitas untuk Pariwisata Pariwisata di Kampung Adat Cirendeu menonjolkan kebudayaan masyarakat yang meliputi sistem pekerjaan, organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian dan peralatan hidup. Beberapa kebudayaan ini didorong oleh faktor ekonomi yaitu harga bahan pokok yang terlalu tinggi sehingga masyarakat mengalami kesulitan pangan. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai budaya seperti menjadikan singkong sebagai bahan makanan pokok menjadi pola kebiasaan, termasuk terhadap pekerjaan utama masyarakat (bertani ketela dan umbi-umbian). Berawal dari kebutuhan dasar masyarakat, sistem perekonomian di Kampung Adat Cirendeu juga berjalan. Kesiapan Komunitas untuk pariwisata salah satunya ditunjukkan melalui proses produksi singkong menjadi bahan olahan pangan hingga dikonsumsi oleh masyarakat maupun wisatawan. Masyarakat menerapkan inovasi produk agrobisnis dan ekonomi kreatif sehingga mampu menghasilkan pendapatan. Tahap 3: Mendidik dan Mempersiapkan Komunitas untuk Pariwisata Pemerintah Kota Cimahi memberikan acuan dan pedoman dasar kepada seluruh stakeholder untuk mengatur segala aktivitas pelaksanaan pengelolaan dan pelestarian Kampung Adat Cirendeu melalui penerbitan regulasi dan SK. Pemerintah membimbing dan mengarahkan secara intensif dan efektif kepada masyarakat Terdapat Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) danKompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata). Selain itu, juga terdapat kegiatan pengabdianmasyarkat / KKN dari berbagai universitas, seperti Universitas Padjajaran. Tahap 4: Identifikasi dan Menetapkan Local Champion Pada tahap ini Kampung Adat Cirendeu mempunyai tiga tokoh adat/sesepuh yang menjadipanutan, yaitu Abah Emen sebagai Ketua Adat (generasi ke-5), Abah Widia sebagai pembuat kebijakan dan penampung aspirasi masyarakat serta Abah Asep Wardiman sebagai Humas. Selain itu untuk aktivitas pariwisata Triyana Santika atau biasa disapa Kang Yana ini sudah menjabat menjadi penggerak pariwisata yang mulai aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasispariwisata sejak 2017. Tahap 5: Mempersiapkan dan Mengembangkan Organisasi Komunitas Melalui binaan beragam Universitas dan Organisasi masyrakat Kampung Adat Cirebdeu ini dapat mengembangkan kampung adat dalam bidang pariwisata serta melahirkan beberapa aktivitas wisata diantaranya walking tour di Kampung Adat 32 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Cirendeu dan mengenal lebih dekat dengan budaya dan tradisi masyarakat setempat. Walking tour mencakuppengalaman mendaki ke Puncak Salam tanpa menggunakan alas kaki, belajar membuat dan mencicipi rasi sebagai makanan pokok warga Kampung Adat Cirendeu, membuat eggroll rasi, membuat mainan dari janur, dan memainkan permainan tradisional yang saat ini sudah jarang dimainkan. Kemudian untuk menciptakan desa wisata yang berkelanjutan dan berprinsip dalam menjaga kelestarian lingkungan, dilakukan beberapa kegiatan sosialisasi dan pelatihan dalam pengembangan kegiatan wisata yang diberikan kepada masyarakat local. Dalam hal ini sosialisasi maupun edukasi ini tidak hanya berhenti hingga masyarakat lokalnya saja, melainkan tersampaikan hingga pengunjung atau wisatawan yang berkunjung di Kampung Adat Cirendeu melalui masyarakat tersebut. Tahap 6: Pengembangan Kerjasama Kampung Adat Cirendeu bekerja sama dengan pihak-pihak universitas, pemerintah dan travel industri dalam memajukan dan memberdayakan masyarakat desa, terutama yang berhubungan dengan atraksi wisata yang ditawarkan. Komunitas lain yang saling bekerja sama di sini adalah Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang dikelola oleh masyarakat local untuk setiap kegiatan pariwisata. Beberapa komunitas tersebut sudah sangat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas Kampung Adat Cirendeu. Contohnya seperti menanam singkong, menjaga lingkungan, serta kegiatan pariwisata lain yang berhubungan dengan kebudayaan dan kelestarian alam. Namun Ketua Adat mengatakan bahwa sejauh ini masih belum ada kerjasama dengan swasta. Kampung Adat Cirendeu. tersebut belum membuka peluang kerja sama ini karena berbagaifaktor yang dipertimbangkan, termasuk untuk mendorong dan memberdayakan masyarakat sendiri terlebih dahulu. Pihak masyarakat lokal masih perlu mempertimbangkan aspek-aspek apa yang dinilai kurang dan dibutuhkan, serta masih perlu meningkatkan kualitas SDM kampung adat ataumempekerjakan masyarakat desa dengan meminimalisir campur tangan orang di luar desa yang berpotensi merugikan masyarakat Kampung Adat Cirendeu. secara sistem, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Tahap 7: Mengadopsi Pendekatan Terintegrasi Sejak awal identifikasi hingga pengembangan potensi atraksi wisata yang dimiliki, Kampung Adat Cirendeu. telah memiliki dua hal yang menjadi bagian penting dalam keberlanjutanKampung Adat Cirendeu, yaitu di dalam segi sektor pertanian di mana Kampung Adat Cirendeu ini mempunyai produk unggulan yaitu Singkong. Masyarakat Kampung Adat Cirendeu sudah secara turun temurun tidak mengonsumsi beras padi dan menggantinya dengan produk olahan singkong atau biasa disebut Rasi (Beras Singkong). Selain singkong Kampung Adat Cirendeu juga mempunya produk unggulan lainnya dalam bidang Kesehatan yaitu obat herbal yang berasal dari Pohon Rendeu. Dalam sektor kesenian Kampung Adat Cirendeu mempunyai peringatan atau upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat adat, seperti peringatan satu sura atau tanggal 1 sura sesuai kalender Saka Sunda. Masyarakat Kampung Adat Cirendeu memiliki kesenian gondang, karinding, serta angklung buncis yang biasanya ditampilkan dalam ritual upacara adat tertentu. Seperti upacara satu sura atau sekedar upacara menyambut tamu. Masyarakat adat di kampung iniadalah bagian dari Sunda Wiwitan yang tersebar di daerah Cigugur-Kuningan-Cirebon dengan nama Agama Djawa-Sunda (ADS), Sunda Wiwitan Suku Baduy di Kanekes (Lebak,Banten), 33 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Kasepuhan di Cipta gelar (Banten Kidul, Sukabumi), Cisolok-Sukabumi, Kampung Naga- Tasikmalaya. Sunda Wiwitan berasal dari kata sunda dan wiwitan. dapat diartikan bahwa Sunda Wiwitan berarti Sunda asal atau Sunda asli atau disebut juga agama Jati Sunda. Ia diyakini sebagai sebuahagama yang besar. Agama leluhur bangsa yang sangat peduli terhadap alam dan sopan santun. Adapun pandangan masyarakat adat Cirendeu terhadap agama adalah ageman (pegangan) untuk tuntunan hidup (keselamatan) yang tidak bisa lepas dari pemaknaan budaya yang artinya ketika seseorang beragama maka secara tidak langsung dan tidak disadari ia sedang menjalankan dan memaknai budaya yang melekat pada agama yang dianut. Tahap 8: Merancang dan Mendesain Produk Berkualitas Dalam tahap ke-8 ini terkait dengan merandang dan mendain produk berkualitas, yang menjaditemuan di Kampung Adat Cirendeu ini dibagi menjadi 5 tahap yang diantaranya adalah a. Product Development: Pengembangan produk yang dilakukan oleh Kampung Adat Cirendeu ini memfokuskan pada Edutourism dan Cultural Based Tourism Corrior. Artinyayaitu kegiatan di kampung adat ini berfokus pada pemberian edukasi yang bersifat mempelajari adat dan budaya kampung adat tersebut melalui kegiatan pariwisata. b. Destination Management: Dalam prakteknya Kampung Adat Cirendeu memiliki poin tambahan tersendiri untuk destinasinya antaralain yaitu interaksi antar wisatawan dengan aktivitas langsung seperti melakukan panen singkong, kemudian program edukasi untuk pelajar dan mahasiswa seperti study tour dan KKN, Kampung Adat Cirendeu juga memberikan tampilan hiburan gameran dan juga kecapi kepada wisatawan, kemudian aktivitas ketika wisatawan diberikan oleh-oleh atau mencoba secara langsung untuk bahanolahan singkong yang telah dibuat secara langsung oleh wisatawan, dan yang terakhir sebuah destinasi harus bisa memiliki poin memorable dalam hal ini Kampung AdatCirendeu ini memberikan aktivitas hiking untuk panen singkong secara langsung kepada wisatawan tanpa menggunakana alas kaki c. Interpetation and Communication: Kampung Adat Cirendeu ini banyak bersifat penjelasanlangsung contohnya untuk menjelaskan pembuatan produknya dilakukan secara langsung dengan melibatkan wisatawan untuk mencoba membuat produk tersebut d. Service Quality: Pada pengembangan dan perencanaan dari kualitas pelayanan di Kampung Adat Cirendeu ini pihak kampung hanya diberikan pelatihan atau sosialisasi dari komunitas dan akademisi seperti mahasiswa yang melakukan KKN di Kampung Adat Cirendeu tersebut. Seperti mahasiswa UNPAD yang melakukan KKN dengan output desain buku menu dan price list penjualan oleh oleh di Kampung Adat Cirendeu. 34 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Gambar 4. Produk Kampung Adat Cirendeu Sumber: Dokumentasi Pribadi (2023) Tahap 9: Identifikasi Target Pasar dan Strategi Promosi Tahap lainnya pada pengembangan dan perencanaan Community Based Tourism di KampungAdat Cirendeu ini adalah identifikasi target pasar dan strategi promosi yang terbagi menjadi 6 tahap diantaranya: 1. Matching the product with the potential market segment Kampung Adat Cirendeu ini memiliki produk yang sangat cocok dengan target pasarnya, karena target pasar berupa mahasiswa dan pelajar maka diselarakan juga denganproduknya yaitu edutourism, sehingga dimaksudkan bahwa Kampung Adat Cirendeu ini kaya akan produk konten pendidikan seperti walking tour yang bersifat petualangan dan cocok untuk wisatawan yang menyukai ekowisata dan edutourism. 2. Understanding the channels of Distribution Hal ini dimaksudkan bahwa paket wisata yang ditawarkan masih bersifat private artinya masih menggunakan penjualan paket wisata melalui tur operator dan word of mouth, serta penjualan melalui rekening pribadi artinya penjualan langsung antara administrasi kampung adat cirendeu dengan calon wisatawan. 3. Embracing ICT as a promotion tool Menjadi penting bagi beberapa destinasi untuk ikut serta dalam kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang up to date sesuai dengan kemajuan jaman samahalnya dengan upaya yang telah dilakukan oleh Kampung Adat Cirendeu yaitu dengan memperbanyak promosi melalui media sosial seperti instagram, website, hingga youtube.Kampung Adat Cirendeu juga membuat konten terkait dengan Virtual Tour ketika pandemi hal ini menjelaskan bahwa secara tidak langsung Kampung Adat Cirendeu telah menggunakan teknologi dengan baik. 4. Piggy back riding on tour operators and ground handling Konsep ini mengidentifikasi pasar belum diterapkan oleh Kampung Adat Cirendeu karena sejauh ini pemasaran masih bersifat word of mouth. 5. CBT organization to set up in-house travel agency Sejauh menjadi edutourism attraction, Kampung Adat Cirendeu ini memiliki tour guide dan paket wisata secara mandiri artinya terdapat keberlanjutan dalam hal kewirausahaan diantara kalangan remaja dan masyarakat setempat. 6. Leveraging on award certification to shape the branding Penghargaan menjadi salah satu bentuk branding dari suatu proyek keberhasilan CBT, hal ini dapat digunakan sebagai komunikasi dari nilai nilai positif mereka. KampungAdat Cirendeu memiliki sertifikasi yang diantaranya berasal dari kegiatan kebudayaan. 35 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Tahap 10: Implementasi dan Monitoring Tahap akhir dari bagaimana menjaga keberlangsungan proyek CBT ini adalah adanya implementasi dan monitoring kegiatan yang telah dilakukan dengan mempertimbangkan 2 kegiatan yaitu yang pertama adalah mengajak masyarakat untuk ikut dalam implementasi dan dapat memberdayakan masyarakat dalam kegiatannya masyarakat khususnya ibu ibu yang dikerahkan untuk membantu menyiapkan makanan dan juga homestay bagi tur wisatawan kemudian anak muda yang dijadikan sebagai tour guide, disekitar kampung dapat dilihat langsung bahwa banyak masyarakat yang ikut serta membuat tepung singkong sebagai olahan oleh-oleh. Kemudian yang kedua adalah monitoring, untuk memastikan keberlangsungan ini perlu adanya monitoring seperti, sejauh ini monitoring yang dilakukan oleh Kampung Adat Cirendeu ini hanyabersifat evaluasi seperti bagaimana tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya desain produk oleh-oleh dan buku menu untuk menarik wisatawan. KESIMPULAN Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang sangat penting saat ini yang dapatmemberikan menghasilkan nilai tambah yang besar bagi setiap pelaku yang terlibat (Streimikieneet al 2020). Kampung Adat Cirendeu sebagai salah satu Daya Tarik Wisata yang terdapat di Kota Cimahi menjadi satu-satunya kampung adat yang menerapkan konsep desa wisata di Kota Cimahi,Revitalisasi kehidupan secara umum di pedesaan merupakan salah satu efek positif yang dihasilkan dari pengembangan desa wisata. Hasil pembahasan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pengelola wisata di Kampung Adat Cirendeu agar dapat mengelola semua potensi wisata yang ada sehingga dapat menjadi sumber penghasilan oleh masyarakat lokal Kampung Adat Cirendeu sudah memiliki modal pariwisata yang memadai, hanya saja diperlukan peran pengelola yang maksimal sehingga semua potensi wisata yang ada dapat mengarah kepada Rural Tourism. Pariwisata Pedesaan dapat tetap menjaga keaslian potensi yang ada di suatu wilayah tanpa mengubah apapun sehingga dapat mendukung kelestarian alam dan budaya yang ada di Kampung Adat Cirendeu. Wisata pedesaan juga dapat membantu melestarikan warisan nilai budaya berwujud dantidak berwujud pada masyarakat pedesaan. Selain itu pariwisata pedesaan juga merupakan salah satu cara dalam mengentaskan kemiskinan pedesaan. Melalui pariwisata pedesaan mampu memfasilitasi keharmonisan dan integrasi sosial masyarakat. Adapun saran yang dapat peneliti berikan yaitu evaluasi manajemen destinasi wisata desa adat oleh pemerintah Kampung Adat Cirendeu sehingga selain berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Dalam pembuatan aturan pengelolaan sumberdaya alam khususnya pertanian harus memperhatikan nlai-nilai lokal masyarakat, karena sudah terbukti lebih efektif dan efisien dalam pelestarian lingkungan. Untuk mencapai hasil partisipasi yang sebaik-baiknya perlu ditingkatkan tanggung jawab masing-masing anggota masyarakat, diperjelas dan diperluas hak dan kewajibannya mengikuti perencanaan partisipatif untuk memelihara kelestarian lingkungan. Perlu adanya sosialisasi dan koordinasi dengan semua pihak secara masif agar nilai-nilai lokal masyarakat tetap berjalan dan berkembang dalam masyarakat dibuat secara tertulis dan diperdakanagar generasi yang akan datang dapat berpedoman dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pemerintah Kabupaten Cimahi lebih meningkatkan lagi pembangunan dan penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana serta manajemen destinasi wisata dengan baik agar potensi pariwisata Kampung Adat Cirendeu dapat 36 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 direalisasikan menuju kampung adat yang berkelanjutan. Perwujudan ini diharapkan lebih melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat Kampung Adat Cirendeu dan tentunya berdampak pada tingkat perekonomian masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Aditama, N. P., & Winarto, A. E. (2021). Pengabdian Kepada Masyarakat Melalui Revitalisasi BUMDes Sebagai Layanan Sosial Pada Bamuju Bamara Desa Sungai Tabuk. ADI Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 41-53. DOI:10.34306/adimas.v1i2.431 Aliyah, I., Yudana, G., & Sugiarti, R. (2020). Desa Wisata Berwawasan Ekobudaya: Kawasan Wisata Industri Lurik. Yayasan Kita Menulis. Cvijanović, D., Simić, N., & Vukotić, S. (2018). Creating a state brand: brand and branding Serbia. Ekonomika, 64(1), 43-54, DOI:10.5937/ekonomika1802043C Dašić, D. (2018). Management of health and medical tourism: Possible directions of developmentin the Republic of Serbia. Ekonomski signali: Business magazine, 13(1), 41-56. DOI: 10.5937/ekonsig1801041D Dašić, D., Živković, D., & Vujić, T. (2020). Rural tourism in development function of rural areas in Serbia. Економика пољопривреде, 67(3), 719-733. DOI:10.5937/ekoPolj2003719D Gao, J., & Wu, B. (2017). Revitalizing traditional villages through rural tourism: A case study of Yuanjia Village, Shaanxi Province, China. Tourism management, 63, 223-233. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2017.04.003 Haryanto, L. (2019). Gerakan Revitalisasi Eko Dan Etno Wisata Berbasis Modal Sosial (Studi Deskriptif pada Kelompok Masyarakat Adat Suku Sambori “Madasusa” di Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima) (Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang). Sishi, Z., Wangminna, L., & Jiaqi, H. (2020, August). Rural Revitalization: How to Develop Rural Tourism. In 2020 4th International Seminar on Education, Management and Social Sciences (ISEMSS 2020) (pp. 635-639). Atlantis Press. Li, Z., Zhang, X., Yang, K., Singer, R., & Cui, R. (2021). Urban and rural tourism under COVID-19 in China: research on the recovery measures and tourism development. Tourism Review, 76(4), 718-736. Prayogi, A. (2021). Pendekatan Kualitatif dalam Ilmu Sejarah: Sebuah Telaah Konseptual. Historia Madania: Jurnal Ilmu Sejarah, 5(2), 240-254. Raftopoulos, M. (2020). Rural community‐based tourism and its impact on ecological consciousness, environmental stewardship and social structures. Bulletin of Latin American Research, 39(2), 142-156. Ramsey, D., & Malcolm, C. D. (2018). The importance of location and scale in rural and small town tourism product development: The case of the Canadian Fossil Discovery Centre, Manitoba, Canada. The Canadian Geographer/Le Géographe canadien, 62(2), 250-265. Riddle, C., & Thompson‐Fawcett, M. (2019). Rural change and tourism in remote regions: Developments and Indigenous endeavour in Westland, Te Tai o Poutini, Aotearoa New Zealand. New Zealand Geographer, 75(3), 194-203. 37 Jurnal Industri Pariwisata Vol 7, No. 1, 2024 e-ISSN : 2620-9322 Trisandi, R., Razak, A. R., & Usman, J. (2021). Peran Pemerintah Daerah Dalam Melestarikan Adat Maccerang Manurung Di Desa Kaluppini Kabupaten Enrekang. Kajian Ilmiah Mahasiswa Administrasi Publik (KIMAP), 2(2), 605619. Santos, R. (2021). Return migration and rural tourism development in Portugal. Tourism Planning& Development, 1-24. https://doi.org/10.1080/21568316.2021.1953121 Streimikiene, D., Svagzdiene, B., Jasinskas, E., & Simanavicius, A. (2021). Sustainable tourism development and competitiveness: The systematic literature review. Sustainable development, 29(1), 259-271. Yulianah, Y. (2021). Mengembangkan Sumber Daya Manusia Untuk Pariwisata Berbasis Komunitas Di Pedesaan. Komitmen: Jurnal Ilmiah Manajemen, 2(1), 1-9. DOI:10.15575/jim.v2i1.12472 38