Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Kontrasepsi Hormonal terhadap Jumlah Koloni Candida sp. Urine Ibu Rumah Tangga Eva Cahyanti. Muhamad Taufiq Qurrohman* Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Article Information : Received 23 May 2025 . Accepted 28 June 2025. Published 30 June 2025 *Corresponding author: m. taufiqqurrohman@stikesnas. ABSTRAK Candida sp. merupakan sekelompok fungi yang dapat menyebabkan kandidiasis dengan infeksi jamur bersifat oportunistik. Salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi pertumbuhan Candida sp. adalah kontrasepsi hormonal yang dapat mengubah keseimbangan flora normal vagina. Hormon estrogen dalam kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan glikogen di sel epitel vagina yang mendukung pertumbuhan candida. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kandidiasis vulvovaginalis yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kontrasepsi hormonal terhadap jumlah koloni Candida sp. pada urine ibu rumah tangga. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu 24 sampel urine pengguna kontrasepsi suntik 1 bulan dan 24 sampel urine pengguna kontrasepsi pil kombinasi dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan kultur urine pada media CHROMagar-Candida dihitung jumlah koloni Candida sp. dan dinyatakan candiduria Ou 10-4 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan adanya candiduria pada 5 urine pengguna kontrasepsi suntik 1 bulan dan 3 pil kombinasi, sedangkan 19 urine pengguna suntik 1 bulan dan 21 pil kombinasi tidak mengalami candiduria. Data uji fisherAos exsac diperoleh nilai p-value adalah 0,701 . > 0,. sehingga H0 tidak ditolak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kontrasepsi hormonal dengan jumlah koloni Candida sp. pada urine ibu rumah tangga. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan variabel metabolik dan imunologis, serta kultur swab vagina untuk membedakan sumber kontaminasi atau infeksi saluran kemih. Kata kunci : Candida sp, kontrasepsi hormon kombinasi, candiduria ABSTRACT Candida sp. is a group of fungi that can cause candidiasis with opportunistic fungal infections. One of the predisposing factors that affects the growth of Candida sp. is hormonal contraception which can change the balance of normal vaginal flora. The estrogen hormone in hormonal contraception can increase glycogen in vaginal epithelial cells which supports the growth of candida. This condition has the potential to cause vulvovaginal candidiasis which can be detected through urine examination. This study aims to determine the relationship between hormonal contraception and the number of Candida sp. colonies in the urine of Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 The type of research used is analytical observational with a cross-sectional The samples used in this study were, 24 urine samples of 1-month injectable contraceptive users and 24 urine samples users of combination pill contraceptives with inclusion and exclusion criteria. Urine culture examination on CHROMagar-Candida media counted the number of Candida sp. colonies and stated candiduria Ou 10 -4 CFU / mL. The results showed candiduria in 5 urine users of 1-month injectable contraceptives and 3 combination pills, while 19 urine users 1-month injectables and 21 combination pills not experiencing candiduria. The Fisher's Exact test data has p-value obtaidned is 0. > . so H0 is not rejected. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between hormonal contraception and the number of Candida sp colonies. in the urine of housewives. Further studies are recommended to include metabolic and immunological variables, as well as vaginal swab cultures to differentiate the source of contamination or urinary tract infection. Keywords: Candida sp, combined hormonal contraception, candiduria PENDAHULUAN Kontrasepsi merupakan usaha dalam mencegah kehamilan dapat bersifat sementara maupun permanen. Kontrasepsi dibagi menjadi kontrasepsi hormonal dan kontrasepsi non hormonal (Nurullah, 2. Kontrasepsi kontrasepsi yang mengandung hormon kombinasi estrogen dan progesteron (Iballa & Hanum, 2. Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat dilakukan dengan alat maupun obat-obatan. Cara tersebut dapat berupa penggunaan pil, suntikan, dan implan (Anggraini et al. , 2. Diantara kontrasepsi hormonal suntik dan pil yang progesteron (Anggraini et al. , 2. Hormon estrogen berperan dalam ketidakseimbangan flora normal vagina melalui mekanisme kerjanya sel epitel mukosa vagina (Rozaandita, 2. estrogen yang tinggi juga dapat mempengaruhi menurunkan aktivitas sel fagosit seperti neutrofil, makrofag, dan sel natural killer (NK) sehingga vagina rentan terhadap Dari hasil penelitian Jessica et al. diketahui bahwa jamur dengan hormon yang lebih aktif banyak ditemukan hifa pada pemeriksaan mikroskopisnya. Hormon meningkatkan pertumbuhan dan produksi toksin serta fase germinasi dari Candida sp. hormonal (Armerinayanti & Putu, 2. Terjadinya estrogen pada penggunaan kontrasepsi hormon pertumbuhan . rowth hormon. Akibat dari hormon estrogen ini glukosa masuk ke dalam sel dan terjadi polimerisasi menjadi glikogen, yang mengakibatkan peningkatan glikogen dalam sel. Glikogen yang tinggi ini dimetabolisme oleh bakteri Lactobacillus namun tidak semua, sisanya disimpan di permukaan epitel vagina. Hal keasaman vagina karena jumlah asam laktat yang terbentuk tidak mencukupi untuk kondisi yang normal. Terjadinya penebalan epitel vagina dan permukaannya yang dilapisi glikoprotein yang disebabkan oleh peningkatan kadar estrogen. Glikogen dalam epitel vagina yang melimpah menyediakan sumber karbon yang ideal Candida, mengakibatkan jamur ini tumbuh subur dan menjadi patogen (Indriani, 2. Estrogen ini mampu mengkolonisasi Candida dengan merangsang perubahan morfologi candida dan menjadi patogen. Estrogen dapat mengaktifkan respon stress pada Heat Shock Protein (HSP), yang selanjutnya jamur akan berubah dari ragi menjadi hifa melalui Mitogen Activated Protein (MAP) kinase yang menyebabkan perubahan morfologi. Selain itu terjadi peningkatan terhadap partikel 17--estradiol Peningkatan ini juga berperan penting dalam merangsang transkripsi protein transfer fosfatidilinositol (PDR . , maka Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 akan meningkatkan aktivitas fosfolipid D dan mengubah morfologi jamur dalam hifa. Estrogen juga menghambat fungsi sel pembantu T-helper 1 (Th. dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap kolonisasi Candida, serta meningkatkan kemampuan dalam menempel pada sel epitel vagina. Keduanya berperan penting dalam invasi pada koloni jamur, sehingga mengakibatkan terjadinya jamur candida pada candididasis vulvavaginalis (Bahat et , 2. Kandidiasis vulvovaginalis merupakan salah satu infeksi yang sering dikeluhkan Selama hidupnya wanita setidaknya sekali terinfeksi kandidiasis vulvovaginalis sebanyak 70-75%, wanita usia subur paling sering terjadi sekitar 40-50% cenderung kekambuhan kedua. Wanita dewasa berulang keempat kalinya atau lebih yang dikenal kandidiasis vulvovaginalis rekuren sekitar 5-8% dan 33% spesies penyebabnya adalah Candida glabrata dan Candida parapsilosis yang lebih resisten terhadap pengobatan (Harnindya & Agusni, 2. Penelitian Samosir menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian kandidiasis vulvovaginalis dengan nilai . = 0,. Selaras dengan hasil penelitian tersebut telah dipahami bahwa kontrasepsi hormonal sebesar 3,4 kali lipat . <0,. , tidak tergantung pada riwayat Infeksi Menular Seksual (IMS) imunodefisiensi (Bahat et al. , 2. kandidiasis vulvovaginalis diduga memiliki signifikansi patologi dari sistem genitourinaria dengan keberadaan ragi dalam urine (Gajdacs et al. , 2. Keberadaan Candida sp. dalam urine disebut candiduria Candiduria dapat disebabkan adanya kolonisasi, infeksi saluran kemih, kandidemia atau kontaminasi (Dias, 2. Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dan risiko kandidiasis Meskipun demikian belum ada informasi spesifik mengevaluasi jumlah koloni Candida sp. pada urine pengguna kontrasepsi hormonal. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan kontrasepsi hormonal dengan jumlah koloni Candida sp. pada urine ibu rumah tangga. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional untuk mencari hubungan kontrasepsi hormonal terhadap jumlah koloni Candida sp. dalam urine ibu rumah Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2024 sampai Maret 2025 di Laboratorium Parasitologi dan Mikologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional Surakarta. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu rumah tangga yang menggunakan kontrasepsi suntik 1 bulan dan pil kombinasi. Pil kombinasi yang dimaksud adalah kontrasepsi oral yang dikonsumsi harian secara rutin sesuai siklus. Sampel yang kontrasepsi suntik 1 bulan sebanyak 24 sampel dan pil kombinasi 24 sampel dengan total 48 sampel. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu inklusi: ibu rumah tangga, penggunaan Ou 1 tahun, dan bersedia menjadi responden dengan mengisi informed consent. Kriteria eksklusi: HIV/AIDS, penderita diabetes mellitus, penyakit ginjal, penderita autoimun, infeksi saluran kemih, terapi hormon kortikosteroid, konsumsi antibiotik jangka panjang, dan penggunaan vaginal douching. Quota pengambilan sampel. Data primer diperoleh dari hasil kultur urine berupa perhitungan jumlah koloni Candida sp. dalam CFU/mL, hasil identifikasi presumtif Candida sp. sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan Data sekunder diperoleh peserta Keluarga Berencana (KB) pengguna kontrasepsi hormonal jenis suntik 1 bulan dan pil kombinasi. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah pot urine steril, marker, cool box, tabung sentrifus urine steril, sentrifuge, tip steril, mikropipet, cawan petri steril, inkubator, bunsen, korek api, drygalski, sendok media, erlenmeyer, autoclave, tabung reaksi, rak tabung, neraca analitik, oven, beaker glass dan colony counter. Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 Sedangkan bahan yang digunakan media CHROMagar-Candida, alkohol 70%. NaCl 0,9 % steril, akuades, ice pack dan alumunium foil Cara kerja Urine yang digunakan pagi hari setelah bagun tidur secara aseptis dengan teknik mid stream. Transport sampel menggunakan cool box dengan ice pack. Sampel dalam pot urine steril yang sudah ditutup rapat dan identitas diberikan kantong plastik bening bersih sebelum dimasukan ke cool box dengan stabilitas urine 2 jam. Pemeriksaan candiduria dilakukan dengan kultur urine kuantitatif dengan teknik pengenceran sampai 10-3 dengan NaCl 0,9 % steril @ 9 ml. Sebanyak 1 ml sedimen urine yang disentrifuge selama 1500 rpm 5 menit dibuat suspensi sebanyak 1 ml kemudian dibuat pengenceran. Sebanyak 0,1 ml dipipet diinokulasikan ke media CHROMagar-Candida dengan drygalski secara aseptis. Control dibuat dari NaCl 0,9 % sebanyak 1 ml yang diinokulasikan kemudian diratakan secara Kemudian diinkubasi pada suhu 37A C selama 48 jam. Perhitungan jumlah koloni Candida sp. diatas colony counter dengan rentang perhitungan 30-300 koloni dan CFU/mL. Sampel dinyatakan positif candiduria apabila ditemukan jumlah koloni Candida sp. Ou 104 CFU/mL dan negatif apabila jumlah koloni < 104 CFU/mL (Ghasemi et al. , 2. Serta identifikasi presumtif koloni Candida sp. CHROMagar-Candida. Analisis dengan uji Chi-square jika memenuhi persyaratan, apabila tidak uji fisher exact sebagai uji alternatif dengan kepercayaan () =0,05. Pengolahan data yang didapatkan disajikan dalam bentuk HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan candiduria dari total 48 sampel pengguna suntik 1 bulan 24 sampel dan pil kombinasi 24 sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditentukan. Pada penelitian ini pelaporan candiduria dari pengguna kontrasepsi hormonal jenis suntik 1 bulan dan pil kombinasi didefinisikan adanya jamur Candida sp. dalam urine Ou 104 CFU/mL, begitu pula dengan non candiduria < 104 CFU/mL. Hasil pemeriksaan kejadian candiduria diketahui 5 responden suntik 1 bulan dan 3 responden pil kombinasi menujukkan hasil Sementara itu sebanyak 19 responden suntik 1 bulan dan 21 pil kombinasi menujukkan hasil non candiduria dilihat dari tabel 1 dan tabel 2 Untuk mengetahui hubungan kontrasepsi hormonal dengan jumlah koloni Candida sp. maka dilakukan analisis uji statistik sesuai tabel 3. Hasil analisis diperoleh nilai p- value = 0,701. Nilai p > 0,05 sehingga H0 tidak ditolak yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel Ini kontrasepsi hormonal jenis suntik 1 bulan maupun pil kombinasi tidak secara signifikan meningkatkan risiko kolonisasi jamur Candida dalam urine ibu rumah tangga. Secara fisiologis, estrogen dalam kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi Tabel 1. Rekapitulasi perhitungan jumlah Candida kontrasepsi suntik 1 bulan. Kode Identitas Jumlah Candida (CFU/mL) Hasil Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Candiduria Candiduria Non-Candiduria Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 Tabel 2. Rekapitulasi perhitungan jumlah koloni Candida sp. kontrasepsi pil kombinasi Kode Identitas Jumlah Candia (CFU/mL) Hasil Candiduria Non-Candiduria Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Non-Candiduria Tabel 3. Hasil analisis fisherAos exact Jumlah Candida Suntik Pil Candiduria Non Candiduria p-value 0,701 flora normal serta menurunkan imunitas lokal, sehingga Candida dapat lebih mudah Namun, dalam studi ini, menunjukkan candiduria pada 19 dari 24 pengguna suntik 1 bulan dan 21 dari 24 pil Hal ini dapat disebabkan kontrasepsi modern. Teori (Harnindya & Agusni, 2. menyatakan faktor hormonal dalam penggunaan kontrasepsi terutama dengan kandungan estrogen dosis tinggi memiliki efek terhadap kejadian kandidiasis Dosis hormon kontrasepsi generasi pertama dan kedua memiliki dosis yang relatif tinggi etinil estradiol (EE, 50-500 . dan progestin yang bersifat androgenik. Untuk saat ini telah diturunkan dosisnya menjadi . -30 . dan progestin yang antiandrogen (Mosorin et al. , 2. Meskipun demikian, pertahanan terhadap infeksi tetap bergantung pada sistem imun. Seperti pernyataan Singh et al. , . sistem imun yang bekerja dengan sedemikian rupa mampu memainkan peran penting dalam pertahanan inangnya. Dilihat dari tabel 1 dan tabel 2 pengguna kontrasepsi suntik 1 bulan 5 dan 3 dari 24 pengguna pil kombinasi mengalami Meskipun perbedaan proporsi, namun secara statistik tidak signifikan. Peningkatan koloni ini dapat terjadi pada kondisi-kondisi tertentu seperti faktor higienitas yang tidak baik berpeluang besar terinfeksi jamur Candida sp. (Sari & Kafesa, 2. Usia juga menjadi faktor penting mengingat faktor predisposisi dengan bertambah usia sistem kekebalan akan menurun, sehingga muncul gejala Pada masa produktif antibodi pelindung serviks menurun dan aktivitas Selain itu, juga hormon estrogen yang mendukung peningkatan infeksi Candida dan kemampuan sel epitel menurun melawan infeksi Candida (Masfufatun et al. Penggunaan antibiotik mematikan sebagian mikroba normal tubuh, durasi penggunaan antibiotik atau terapi antibiotik mempengaruhi munculnya kandidiasis pada pasca terapi antibiotik (Teriyani et al. , 2. Selain itu. Kumwenda et al. , . menyatakan peningkatan estrogen dapat menyebabkan menurunkan imunitas lokal dengan menghambat fagositosis neutrofil dan makrofag dengan Candida. Status diabetes yang tidak terdeteksi dapat menjadi faktor bias. Kontrasepsi hormonal juga diketahui dapat menyebabkan gangguan metabolisme gula (Mohammed et al. , 2. Selain perhitungan koloni Candida sp Identifikasi presumtif. juga dilakukan pada media CHROMagar-Candida. data tabel 3. memberikan gambaran mengenai spesies Candida yang ditemukan pada urine pengguna kontrasepsi suntik 1 bulan dan pil kombinasi dapat dilihat pada tabel 4. Berdasarkan hasil tabel 4 spesies Candida sp. yang diidentifikasi secara presumtif pada media CHROMagar21 Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 Tabel 4. Rekapitulasi spesies Candida Spesies Candida glabrata Candida tropicalis Candida parapsilosis Candida albicans Jumlah Total Candida kelompok kontrasepsi suntik 1 bulan maupun pil kombinasi ditemukan pada beberapa sampel, baik secara tunggal maupun bersama spesies lain yang paling dominan adalah Candida glabrata. Spesies lain dari kelompok suntik 1 bulan ditemukan berturut-turut adalah Candida tropicalis dan Candida parapsilosis. Sementara kelompok kontrasepsi pil kombinasi, ditemukan pula Candida albicans selain Candida tropicalis dan Candida parapsilosis. Tidak ada perbedaan mencolok antara dua metode Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Candida glabrata tetapi distribusinya tidak menunjukkan pola khusus antara kelompok. Identifikasi hanya dilakukan secara presumtif dengan CHROMagar-Candida, sehingga interpretasi dapat dipengaruhi variasi media dan inkubasi. Penelitian lanjutan perlu menggunakan metode konfirmasi seperti PCR atau MALDI-TOF. Penelitian Bayona et al. , . menyebabkan keadaan dan perbedaan warna koloni pada media CHROMagarCandida dalam spesies yang sama dapat dipengaruhi oleh waktu inkubasi dan media CHROMagar-Candida yang digunakan. Hal ini dapat menyebabkan interpretasi kurang akurat, terutama pada spesies dengan hasil warna mirip. Selain identifikasi, meskipun dengan akurasi cukup berdasarkan warna memiliki potensi kesalahan terutama pada spesies Candida yang kurang umum yang tidak memberikan CHROMagar-Candida. Bayona et al. menyatakan media CHROMagarCandida Plus memiliki kinerja lebih baik dibanding dengan media CHROMagarCandida, dengan sensitivitas dan spesifitas tinggi untuk spesies Candida yang paling umum diisolasi, bahkan dalam kultur Terkait kemungkinan adanya infeksi pengambilan sampel, telah dikendalikan menggunakan kuesioner untuk menilai kriteria inklusi dan ekslusi. Dari kriteria eksklusi yang disebutkan hasil kuesioner seluruh sampel 48 tidak memiliki kondisi Dengan demikian responden dianggap bebas dari infeksi aktif atau penyakit penyerta saat pengambilan Namun demikian candiduria hanya ditemukan sebagian kecil responden 5 pengguna suntik 1 bulan dan 3 pengguna pil Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor individual seperti kebersihan pribadi, usia, hormon lokal serta perbedaan kontrasepsi suntik 1 bulan dan pil kombinasi yang berbeda. Selain itu kolonisasi jamur pada genitiurinari yang bersifat sementara juga mungkin menjadi penyebab infeksi yang tidak merata. Mengingat keterbatasan identifikasi direkomendasikan untuk mengkonfirmasi spesies Candida dengan menggunakan metode yang lebih akurat dan definitive seperti PCR. MALDI-TOF, atau uji biokimia (API 20C AUX). Keterbatasan lain adalah tidak adanya laboratorium pendukung seperti kadar glukosa darah atau uji imunologis, yang bisa mempengaruhi risiko Faktor gaya hidup, status kebersihan , dan penyakit penyerta juga tidak dianalisis. KESIMPULAN Tidak signifikan antara kontrasepsi hormonal . untik 1 bulan dan pil kombinas. dengan jumlah koloni Candida sp. dalam urine ibu rumah tangga. Selain itu identifikasi presumtif menggunakan CHROMagarCandida menunjukkan keberadaan Candida glabrata. Candida tropicalis. Candida parapsilosis dan Candida albicans pada sebagian sampel. Penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan variabel metabolik seperti kadar glukosa darah puasa dan HbA1c, serta pemeriksaan Sebaiknya juga dilakukan kultur dan identifikasi dari spesimen swab vagina Jurnal Kesehatan Perintis 12 . 2025: 17-24 untuk membedakan sumber kontaminasi atau infeksi saluran kemih. Gunakan metode identifikasi molekuler seperti PCR atau sekuensing DNA untuk meningkatkan akurasi spesies Candida yang teridentifikasi. REFERENSI