(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. EFEK ANTIPROLIFERATIF EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN MAHONI PADA SEL HELA ANTIPROLIFERATIVE EFFECTS OF MAHOGANY LEAF EXTRACTS AND FRACTIONS ON HELA CELLS Info Artikel Diterima:17 November 2025 Direvisi: 2 Desember 2025Disetujui: 30 Desember 2025 Diah Komala Sari1. Nur Arifah2. Gusti Ayu Widayanti3 1, 2, 3 Universitas Indo Global Mandiri. Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: diahkomalasari@uigm. ABSTRAK Latar Belakang: Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian wanita di negara Upaya pengembangan agen antikanker dari bahan alam seperti daun mahoni (Swietenia mahagoni (L. ) Jacq. ) terus diteliti karena potensinya yang menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek antiproliferatif ekstrak etanol dan fraksi bioaktif daun mahoni terhadap sel kanker serviks (HeL. secara in vitro. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan pendekatan kuantitatif. Ekstraksi daun mahoni dilakukan dengan pelarut etanol, dilanjutkan fraksinasi menggunakan n-heksan, etil asetat, dan etanol-air. Uji viabilitas sel dilakukan menggunakan metode MTT dan ELISA reader pada panjang gelombang 550 nm. Efek antiproliferatif ditentukan melalui penghitungan doubling time sel setelah perlakuan menggunakan konsentrasi A ICCICA dari fraksi aktif. Golongan senyawa dalam fraksi aktif diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis. Hasil: Fraksi etil asetat menunjukkan efek antiproliferatif signifikan dengan nilai doubling time sebesar 59 jam dibandingkan kontrol sel . dan cisplatin . Nilai absorbansi pada 72 jam juga lebih rendah dibandingkan kontrol, menunjukkan penekanan laju proliferasi sel. Identifikasi senyawa menunjukkan keberadaan flavonoid, saponin, dan limonoid sebagai kandidat bioaktif utama. Kesimpulan: Fraksi etil asetat daun mahoni memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel HeLa dan berpotensi dikembangkan sebagai agen antikanker berbasis bahan alam. Kata kunci : Antiproliferatif, daun mahoni, sel HeLa, fraksi etil asetat, kanker serviks ABSTRACT Background: Cervical cancer is one of the leading causes of death among women, particularly in developing countries. The development of anticancer agents from natural sources such as mahogany leaves (Swietenia mahagoni (L. ) Jacq. ) continues to attract research interest due to their promising This study aimed to evaluate the antiproliferative effects of ethanol extract and bioactive fractions of mahogany leaves on cervical cancer (HeL. cells in vitro. Methods: This research employed an experimental quantitative approach. Mahogany leaves were extracted using ethanol and further fractionated with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol-water. Cell viability was assessed using the MTT assay and an ELISA reader at a wavelength of 550 nm. Antiproliferative activity was determined by measuring cell doubling time after treatment using A ICCICA concentration of the active fraction. The phytochemical constituents in the active fraction were identified through thin-layer chromatography (TLC). Results: The ethyl acetate fraction exhibited significant antiproliferative activity with a doubling time of 59 hours, compared to 34 hours in the control group and 81 hours with cisplatin. Absorbance values at 72 hours were also lower than the control, indicating suppressed cell proliferation. Phytochemical analysis identified the presence of flavonoids, saponins, and limonoids as major bioactive candidates. Conclusion: The ethyl acetate fraction of mahogany leaf extract demonstrates antiproliferative activity against HeLa cells and shows potential for development as a natural anticancer agent. Keywords : Antiproliferative, mahogany leaf. HeLa cells, ethyl acetate fraction, cervical cancer (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. PENDAHULUAN Kanker penyebab utama kematian di dunia, hanya setelah penyakit kardiovaskular. Kanker serviks menjadi salah satu jenis kanker yang paling mematikan bagi wanita, terutama di negara-negara berkembang. Menurut data WHO, setiap tahunnya terdapat lebih dari 000 kasus baru kanker serviks dengan angka kematian mencapai 350. 000 jiwa, dengan sekitar 85% kasus terjadi di negara Di Indonesia, kanker serviks menyumbang sekitar 36. 633 kasus . ,2%) dari total kasus kanker, dengan 234. Kanker serviks berkembang akibat infeksi virus HPV, khususnya melalui aktivitas dua onkoprotein utama yaitu E6 dan E73. Protein E7 mengganggu fungsi gen Rb yang berperan dalam pengendalian proliferasi sel. Interaksi E7 dengan Rb menyebabkan pelepasan faktor transkripsi E2F, yang selanjutnya mendorong pembelahan sel yang tidak terkendali. Akibatnya, terjadi proliferasi sel terus-menerus yang menjadi ciri khas dari pembentukan kanker4. Proliferasi sel adalah proses di mana satu sel membelah diri menjadi dua sel baru, yang memerlukan tahapan pertumbuhan terlebih dahulu sebelum pembelahan terjadi. Pada kondisi normal, proses ini dikendalikan dengan ketat, namun dalam kasus kanker, pertumbuhan dan pembelahan sel berlangsung tanpa kontrol5. Sel kanker umumnya mengandung biomolekul yang mendukung kematian, serta menjalankan fungsi spesifik. Gangguan dalam pengaturan proses-proses ini menyebabkan perubahan fenotipik yang mengarah pada pembentukan sel kanker6. Mengingat dampaknya yang luas, upaya untuk mengembangkan terapi kanker yang efektif dan minim efek samping terus menjadi fokus utama riset biomedis. Salah satu eksplorasi fitokimia dari tanaman obat sebagai agen antikanker alami. Tanaman mahoni (Swietenia mahagoni (L. ) Jacq. ) diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, terpenoid, limonoid, tanin, dan alkaloid yang berpotensi menghambat proliferasi sel kanker melalui berbagai mekanisme, seperti inhibisi DNA polymerase, penghambatan siklus sel pada fase G2/M, dan blokade jalur sinyal ERK/MAPK3. Studi sebelumnya menemukan bahwa fraksi etil asetat dari biji mahoni (Swietenia macrophyll. memiliki aktivitas sitotoksik yang kuat terhadap sel kanker kolon HCT116, dengan nilai ICCICA sebesar 35,35 AAg/mL. Meskipun menggunakan jenis sel yang berbeda, penelitian ini menunjukkan potensi antiproliferatif dari fraksi etil asetat biji mahoni sebagai agen antikanker7. Sebagai alternatif solusi terhadap keterbatasan terapi konvensional seperti kemoterapi yang sering disertai efek toksik sistemik, penggunaan agen fitoterapi dari tanaman lokal seperti mahoni menjadi opsi yang menarik dan potensial. Oleh karena itu, pemilihan fraksi etil asetat dari daun mahoni sebagai kandidat agen anti proliferatif dipandang sebagai solusi berbasis bukti yang memiliki urgensi tinggi untuk dikaji lebih dalam, baik dari sisi efektivitas maupun potensi pengembangannya menjadi terapi antikanker yang lebih aman3. Penelitian ini penting tidak hanya pengembangan agen antikanker alami, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap eksplorasi biodiversitas Indonesia dalam konteks pengobatan modern berbasis bukti ilmiah. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi landasan awal bagi studi lanjut yang lebih mendalam hingga tahap in vivo atau uji klinis Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek antiproliferatif ekstrak etanol dan fraksi bioaktif daun mahoni terhadap sel kanker serviks secara in vitro. Tujuan utama mencakup penentuan nilai ICCICA masing-masing fraksi, identifikasi fraksi paling aktif, analisis doubling time sebagai indikator penghambatan proliferasi, serta identifikasi golongan senyawa bioaktif dalam fraksi aktif. Merujuk pada latar belakang yang telah dipaparkan, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi efek antiproliferatif dari ekstrak etanol dan fraksi daun mahoni terhadap sel HeLa. METODE Penelitian pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimental. Ekstraksi dan fraksinasi dilakukan di laboratorium Genetika dan Bioteknologi Universitas Sriwijaya (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. (UNSRI) Palembang, dan Laboratorium Parasitologi. Universitas Gadjah Mada (UGM). Provinsi Daerah Khusus Yogyakarta (DIY). Alat: Inkubator CO2 5% dengan suhu 37Ac, mikropipet 10 AAl, 20AAl, 200 AAl, 1000 AAl, pipet biru dan kuning . lue tip dan yellow ti. , tabung konikal, tabung mikro, mikroskop inverted, timbangan analitik, vortex mixer, serta lemari aliran laminar (Laminar Air Flow/LAF). heamocitometer, counter sel. ELISA plate reader dengan panjang gelombang 595 Nm, sentrifuge. Tissue culture flask, kamera, tabung reaksi kecil yang diletakkan pada rak tabung reaksi, serta mikroplat 96 sumur dan 6 sumur . -well dan 6-well plat. untuk kultur sel. Bahan: Daun mahoni kering sebagai simplisia, pelarut etanol, n-heksan, etil asetat dan etanol air, cisplatin, sel HeLa. RPMI 1641 yang mengandung FBS 10%, penisilin-streptomisin 1%, dan fungizone 0,5%. Pemanenan sel dari kultur jaringan dilakukan menggunakan larutan tripsin-EDTA . ,25%) dan medium kultur DMEM/RPMI. Uji viabilitas sel dilakukan menggunakan reagen 3-. ,5dimetilthiazol-2-i. -2,5-difeniltetrazolium bromida (MTT). Larutan induk MTT . mg/mL) disiapkan dengan melarutkan MTT dalam PBS 1y pH. Sodium dodecyl sulfate (SDS) 10% dilarutkan dalam larutan HCl 0,01 Stok sampel dengan konsentrasi 10 mg disimpan dalam tabung mikro (Eppendor. , tisu makan dan aluminium foil. Ribonuclease (RNas. Sel kemudian diberi pewarnaan menggunakan propidium iodide (PI) untuk analisis viabilitas. Sel diperlakukan dengan Triton X-100 untuk permeabilisasi membran. Media kultur yang telah digunakan dibuang sesuai prosedur. Untuk prosedur penentuan klasifikasi senyawa, seperti berikut ini: Golongan senyawa dalam fraksi aktif diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Prosedur KLT melibatkan beberapa langkah, yaitu: Penotolan fraksi aktif . %) dilakukan pada pelat silika gel F254. , pengembangan plat dengan eluen yang sesuai hingga mencapai ujung plat, pengeringan plat setelah pengembangan, penyemprotan plat dengan larutan HCCSOCE 1% dan pemanasan pada hot plate, dan pengamatan bercak warna yang muncul untuk identifikasi golongan senyawa. Selanjutnya. Preparasi dan Panen Sel. Sampel sel yang disimpan dalam nitrogen cair terlebih dahulu diuapkan menggunakan penangas air pada suhu 37AC, kemudian disterilisasi dengan larutan etanol 70% sebelum dimasukkan ke dalam tabung konikal berisi medium kultur. Setelah proses sentrifugasi, cairan supernatan dibuang, dan endapan sel dilarutkan kembali dalam medium segar hingga tercampur merata. Campuran sel tersebut kemudian dipindahkan ke dalam cawan kultur sel dan diinkubasi dalam kondisi 5% COCC pada suhu inkubasi 37AC. Kondisi sel diamati menggunakan mikroskop, dan medium kultur diganti setelah 24 jam. Sel dikultur hingga mencapai konfluensi dan jumlah yang mencukupi untuk Setelah mencapai konfluensi, sel dipanen menggunakan larutan tripsin-EDTA dan dihitung jumlahnya menggunakan hemocytometer serta alat penghitung sel otomatis . ell counte. Jumlah sel HeLa dihitung menggunakan metode berikut:: sel/mL = sel A sel B sel C sel D y 107 Kemudian Persiapan Larutan Stok Ekstrak dan Fraksi. Sebagai tahap awal dalam pengujian toksisitas melibatkan pencampuran senyawa hasil ekstraksi daun mahoni, yang terdiri dari fraksi polar hingga non-polar, ke dalam media DMEM. Larutan stok disiapkan dengan menyesuaikan jumlah tiap fraksi berdasarkan konsentrasi yang telah dirancang. menambahkan DMSO atau tween dan media DMEM hingga mencapai volume yang Dari larutan stok, serangkaian konsentrasi berbeda disiapkan untuk pengujian terhadap lini sel HeLa. Seluruh proses persiapan larutan uji dilakukan secara aseptis menggunakan kabinet aliran laminar (LAF). Selanjutnya. Uji Antiproliferasi. Waktu pelipatan ganda . oubling tim. merujuk pada durasi yang dibutuhkan oleh sel untuk memperbanyak diri hingga dua kali lipat dari jumlah awalnya. Untuk menentukannya, sel dikultur dan dipanen dengan prosedur yang menggunakan jumlah awal yang lebih rendah, yaitu sebanyak 5y10A sel per sumur. Kultur sel kemudian diinkubasi dalam 96-well plate dengan konsentrasi senyawa uji sebesar setengah dari nilai ICCICA (A ICCICA) dan diamati pada interval waktu 0, 24, 48, dan 72 jam. (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Viabilitas sel dinilai menggunakan pembaca ELISA (ELISA reade. pada panjang gelombang 550 nm, lalu data tersebut digunakan untuk menyusun grafik korelasi antara jumlah sel yang bertahan hidup dan lama inkubasi. Nilai doubling time diperoleh melalui analisis regresi linier antara log jumlah sel hidup dan waktu, dengan memasukkan log dua kali nilai awal sebagai nilai y. Nilai x hasil perhitungan regresi dianggap sebagai waktu pelipatan sel. Apabila waktu pelipatan lebih lama dibandingkan kelompok kontrol negatif, maka senyawa uji dapat dikatakan memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel8. Analisis dan interpretasi data menggunakan rumus persentase viabilitas sel : (Absorbansi perlakuan Oe Absorbansi kontrol medi. % sel hidup = x 100% (Absorbansi kontrol sel Oe Absorbansi kontrol medi. Dilanjutkan dengan pengolahan data. Proporsi sel yang tidak bertahan hidup dalam pengujian toksisitas dimanfaatkan sebagai dasar perhitungan nilai ICCICA. , yakni konsentrasi yang menghambat pertumbuhan 50% sel dari total populasi. Analisis dilakukan menggunakan Microsoft Excel dengan visualisasi data viabilitas. HASIL Tabel 1. Nilai Absorbansi Uji Efek Antiproliferatif pada perlakuan 0 jam, 24 jam, 48 jam dan 72 jam Konsentrasi Bahan Uji (AAg/m. Waktu Inkubasi Rata-rata Absorbansi 0 jam 24 jam 48 jam 72 jam Fraksi Etil Asetat 0 jam 24 jam 48 jam 72 jam Cisplatin 0 jam 24 jam 48 jam 72 jam Kontrol Sel Berdasarkan Tabel 1, kontrol sel menunjukkan peningkatan absorbansi dari 0,310 menjadi 1,099 selama 72 jam, mencerminkan proliferasi sel HeLa yang Perlakuan dengan fraksi etil asetat daun mahoni menurunkan laju peningkatan absorbansi, dari 0,306 menjadi 0,692, yang menunjukkan adanya efek antiproliferatif. Sebagai pembanding, cisplatin sebagai kontrol positif menunjukkan efektivitas tertinggi dalam menekan viabilitas sel, dengan absorbansi hanya mencapai 0,558 pada 72 jam. Tabel 2. Hasil Doubling time untuk fraksi etil asetat daun mahoni Bahan Uji Kontrol Fraksi Etil Cisplatin Konsentras i (AAg/m. Persamaan garis waktu inkubasi vs jumlah sel y = 0. y = 0. y = 0. Doubling time . Berdasarkan Tabel 2, fraksi etil asetat pada konsentrasi 31,7 AAg/mL menghasilkan persamaan regresi y = 0,004x - 3,755, dengan nilai Y = 3,9928. Hasil ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan sel mengalami perlambatan dibandingkan kontrol sel . oubling time 34 Doubling time untuk fraksi etil asetat adalah 59 jam, yang berarti perlakuan ini memperlambat proliferasi sel HeLa hampir dua kali lebih lama dibandingkan kontrol. Ini menandakan bahwa fraksi etil asetat memiliki efek antiproliferatif yang cukup signifikan, walaupun masih lebih rendah dibandingkan cisplatin . oubling time 81 PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dari daun mahoni memiliki kemampuan untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker serviks (HeL. Hal ini terlihat dari bertambahnya waktu penggandaan sel . oubling tim. , yang menandakan bahwa proses pembelahan sel berjalan lebih lambat dibandingkan kondisi Efek ini berkaitan dengan senyawa aktif yang terkandung dalam daun mahoni, seperti flavonoid, saponin, dan limonoid. Senyawa-senyawa ini telah lama dikenal memiliki potensi biologis dalam menekan laju pertumbuhan sel kanker melalui mekanisme (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. penghentian siklus sel . ell cycle arres. dan memicu kematian sel . Temuan ini sejalan dengan hasil yang pernah dilaporkan oleh Sari, 2018, yang juga meneliti daun mahoni dan menemukan bahwa fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa. Ini memperkuat dugaan bahwa fraksi ini memang memiliki senyawa aktif yang lebih terkonsentrasi dan efektif dibandingkan ekstrak. Meski tidak sekuat cisplatin merupakan obat kemoterapi standar yang bekerja sangat cepat dan agresif terhadap DNA sel kanker, fraksi alami seperti ini memiliki kelebihan tersendiri, yaitu cara kerja yang lebih lembut dan kemungkinan efek samping yang lebih minimal3. Tentu saja, efektivitas senyawa alami tidak bisa disamakan secara langsung dengan obat sintetis. Tanaman seperti mahoni menyimpan potensi besar, terutama jika diteliti lebih lanjut untuk mengisolasi senyawa tertentu yang paling aktif. Apalagi, beberapa penelitian menyebutkan bahwa efektivitas fraksi seperti etil asetat bisa berbeda-beda, tergantung dari jenis tanaman, metode ekstraksi, hingga sel kanker yang diuji. Variasi ini juga selaras dengan studi Duraipandiyan . dan Naveen . , yang menunjukkan bahwa mahoni memiliki banyak senyawa dengan bioaktivitas kompleks9,10. Secara keseluruhan, fraksi etil asetat dari daun memperlambat laju pertumbuhan sel kanker melalui mekanisme yang masih perlu dikaji lebih dalam. dukungan selama UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan DAFTAR PUSTAKA