JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 Literature Review: PENGOBATAN SANGKAL PUTUNG ADALAH PENGOBATAN TRADISIONAL YANG MASIH DIPERCAYA DAN DILAKUKAN DI PULAU JAWA Article History Received : September 2024 Revised : September 2024 Accepted : Oktober 2024 Published : Oktober 2024 Corresponding author*: agietz27@gmail. Cite This Article: Hidayat and Arlin Adam. AuLITERATURE REVIEW: PENGOBATAN SANGKAL PUTUNG ADALAH PENGOBATAN TRADISIONAL YANG MASIH DIPERCAYA DAN DILAKUKAN DI PULAU JAWAAy. JUKEKE, vol. 3, no. 19Ae28. Oct. DOI: https://doi. org/10. 56127/juk Hidayat. Arlin Adam Agit Dwi Hidayat1. Arlin Adam2 Universitas Pejuang Republik Indonesia Abstract: Sangkal Putung treatment is a type of traditional treatment that is still trusted and practiced in Indonesia, especially on the island of Java. This practice focuses on healing bone injuries such as fractures and sprains, through manual manipulation techniques performed by local shamans or healers. Sangkal Putung is still very important in the public health system, especially in rural areas that have limited access to modern medical services. This article will discuss in more depth the practice of Sangkal Putung treatment in Indonesia, the history and origins and development of Sangkal Putung, the prevalence of patients who choose Sangkal Putung, treatment methods, factors that influence its sustainability and popularity in modern society, an anthropological perspective and health sociology, and a Comparison between Sangkal Putung treatment and modern orthopedics. addition, it will also explore how this treatment can be integrated into the national health system to provide services that are more holistic and in line with community needs, and the challenges faced in efforts to integrate Sangkal Putung treatment with the modern health system will also be discussed. Based on existing literature. Sangkal Putung treatment shows its relevance in meeting the needs of local communities, although further studies are still needed to ensure its safety and effectiveness in a modern health context. This article is a systematic qualitative descriptive literature review to evaluate and analyze studies relevant to Sangkal Putung treatment, created by collecting, analyzing, and comparing articles from previous research journals from Google. In the context of Sangkal Putung treatment, the literature review aims to identify, assess, and synthesize existing knowledge about this practice from various perspectives, including history, culture, sociology, and anthropology, as well as medical aspects. Keywords: Sangkal Putung. Traditional Medicine. Javanese. Medical. Broken Bones. Abstrak: Pengobatan Sangkal Putung adalah jenis pengobatan tradisional yang masih dipercaya dan dilakukan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Praktik ini fokus pada penyembuhan cedera tulang seperti patah tulang dan keseleo, melalui teknik manipulasi manual yang dilakukan oleh dukun atau tabib lokal. Sangkal Putung masih sangat penting dalam sistem kesehatan masyarakat, terutama di daerah pedesaan yang memiliki akses terbatas ke layanan medis modern. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai praktik pengobatan Sangkal Putung di Indonesia, sejarah dan asal usul dan perkembangan Sangal Putung, prevalensi pasien yang memilih Sangkal Putung, metode pengobatan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan dan popularitasnya di tengah masyarakat modern, sudut pandang dari antropologi dan sosiologi kesehatan. Perbandingan antara pengobatan Sangkal Putung dan ortopedi modern. Selain itu, akan dieksplorasi juga bagaimana pengobatan ini dapat diintegrasikan dalam sistem kesehatan nasional untuk memberikan layanan yang lebih holistik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan akan dibahas juga tantangan yang dihadapi dalam upaya mengintegrasikan pengobatan Sangkal Putung dengan sistem kesehatan modern. Berdasarkan literatur yang ada, pengobatan Sangkal Putung menunjukkan relevansinya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, meskipun masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya dalam konteks kesehatan modern. Artikel ini berupa literature review diskriptif kualitatif yang sistematis untuk mengevaluasi dan menganalisis studi-studi yang relevan dengan pengobatan Sangkal Putung, dibuat dengan mengumpulkan, menganalisis, dan membandingkan artikel dari jurnal penilitian terdahulu dari Google. Dalam konteks pengobatan Sangkal Putung, literatur review bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mensintesis pengetahuan yang ada tentang praktik ini dari berbagai perspektif, termasuk sejarah, budaya, sosiologi, antropologi, serta aspek medis. Kata Kunci: Sangkal Putung. Pengobatan Tradisional. Jawa. Medis. Tulang Patah. JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 PENDAHULUAN Pengobatan tradisional telah menjadi bagian integral dari sistem kesehatan masyarakat di Indonesia selama berabad-abad. Salah satu bentuk pengobatan tradisional yang masih eksis dan dipercaya hingga saat ini adalah Sangkal Putung. Sangkal Putung merupakan praktik pengobatan yang fokus pada penyembuhan tulang yang patah, keseleo, dan cedera tulang lainnya. Metode ini melibatkan teknik manipulasi manual yang dilakukan oleh praktisi yang sering disebut sebagai dukun atau tabib. Pengobatan ini tidak hanya mengandalkan pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi, tetapi juga aspek spiritual yang sering kali dianggap memiliki peran penting dalam proses penyembuhan (Purnomo, 2017. Santoso, 2. Keberlanjutan dan popularitas pengobatan Sangkal Putung tidak lepas dari kepercayaan masyarakat terhadap efektivitasnya, terutama di daerah pedesaan dan komunitas yang kurang memiliki akses ke layanan kesehatan modern. Banyak masyarakat di Jawa Tengah. Jawa Timur, dan DIY Yogyakarta lebih memilih Sangkal Putung dibandingkan dengan layanan medis modern, meskipun mereka juga menyadari keberadaan dan manfaat dari teknologi medis terkini. Hal ini mencerminkan adanya dualisme dalam sistem kesehatan masyarakat, di mana pengobatan tradisional dan modern saling berdampingan dan digunakan sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan ekonomi yang ada (Wibowo, 2018. Sulaiman, 2. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, pengobatan Sangkal Putung tetap bertahan dan bahkan mengalami peningkatan popularitas di beberapa daerah. Faktor utama yang mendorong masyarakat untuk tetap memilih pengobatan ini termasuk keterjangkauan biaya, aksesibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan fasilitas medis modern, serta kepercayaan yang kuat terhadap warisan budaya dan spiritual. Beberapa studi menunjukkan bahwa di daerah seperti Kabupaten Kebumen. Jawa Tengah, sekitar 60% pasien dengan masalah tulang lebih memilih pengobatan Sangkal Putung daripada pergi ke dokter (Purnomo, 2. Demikian pula, di Ponorogo. Jawa Timur, prevalensi penggunaan Sangkal Putung mencapai sekitar 50%, terutama di komunitas pedesaan (Santoso, 2. Namun demikian, praktik Sangkal Putung juga menghadapi tantangan, terutama terkait dengan standardisasi dan regulasi. Meskipun banyak yang mengklaim kesuksesan pengobatan ini, bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya masih terbatas. Dalam konteks ini, penting untuk mengkaji lebih lanjut tentang bagaimana pengobatan tradisional ini dapat diintegrasikan dengan sistem kesehatan modern tanpa mengabaikan aspek keamanan dan efektivitas yang diharapkan oleh masyarakat (Ahmad, 2. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai praktik pengobatan Sangkal Putung di Indonesia, sejara, asal usul dan perkembangan Sangkal Putung, prevalensi pasien yang memilih Sangkal Putung, metode pengobatan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan dan popularitasnya di tengah masyarakat modern, sudut pandang dari antropologi dan sosiologi kesehatan. Perbandingan antara pengobatan sangkal putung dan ortopedi modern. Selain itu, akan dieksplorasi juga bagaimana pengobatan ini dapat diintegrasikan dalam sistem kesehatan nasional untuk memberikan layanan yang lebih holistik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan akan dibahas juga tantangan yang dihadapi dalam upaya mengintegrasikan pengobatan Sangkal Putung dengan sistem kesehatan modern. METODOLOGI PENELITIAN Artikel ini berupa literature review diskriptif kualitatif yang sistematis untuk mengevaluasi dan menganalisis studi-studi yang relevan dengan pengobatan Sangkal Putung, dibuat dengan mengumpulkan, menganalisis, dan membandingkan artikel dari jurnal penilitian terdahulu dari Google. Dalam konteks pengobatan Sangkal Putung, literatur review bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mensintesis pengetahuan yang ada tentang praktik ini dari berbagai perspektif, termasuk sejarah, budaya, sosiologi, antropologi, serta aspek medis. Ruang lingkup topik yang akan dibahas: Sejarah, prevalensi. Perbandingan antara Sangkal Putung dan pengobatan modern. Sangkal Putung dari sudut pandang sosiologi dan antropologi kesehatan, alasan masyarakat lebih percaya Sangkal Putung, pengobatan Sangkal Putung dapat diintegrasikan dalam sistem kesehatan nasional. Identifikasi sumber-sumber seperti database yang akan digunakan untuk mencari literatur yang relevan. Google Database (Google Scholar. PubMed, dll. ) Untuk memilih literatur yang akan dibahas, kata kunci pencarian seperti "Sangkal Putung", "pengobatan tradisional Jawa", "pengobatan patah tulang tradisional", dan istilah terkait lainnya harus digunakan. Misalnya, mengecualikan literatur yang tidak memiliki tinjauan ilmiah yang memadai atau hanya menyertakan artikel yang dipublikasikan dalam dua dekade terakhir. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan dunia kesehatan di Indonesia terus mengalami peningkatan yang sangat pesat dan signifikan, terutama dalam bidang pengobatan. Adanya perubahan orientasi terkait cara upaya pemecahan masalah kesehatan mendorong tumbuhnya variasi pengobatan yang secara garis besar terbagi atas pengobatan medis dan pengobatan non medis yang biasa disebut pengobatan alternatif. Di Indonesia, ada yang namanya Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 pengobatan Sangkal Putung dimana merupakan salah satu peninggalan warisan budaya nenek moyang. Karena merupakan salah satu bentuk kearifan lokal, terutama di pulau Jawa, metode pengobatan ini dengan cara pengobatan non medis sehingga sampai saat ini masih banyak diminati oleh masyarakat. Kearifan lokal merupakan suatu pandangan, sikap, serta kemampuan komunitas dalam mengelola lingkungan, yang mana memberikan komunitas tersebut daya tahan dan kekuatan untuk tumbuh di dalam wilayah komunitas tersebut Mereka yang memilih pengobatan tradisional tidak hanya didasarkan pada kepercayaan yang diyakini turun temurun, tetapi juga pada jaringan sosial yang kuat yang dibangun di antara anggota keluarga, tetangga, dan kerabat (Mega Muspika, 2017 dalam Herdiana dan Winarti, 2. Dengan kata lain, kearifan lokal yang berwujud pengobatan Sangkal Putung ini merupakan jawaban kreatif terhadap situasi geografis, politis, historis, dan situasi-situasi lain yang bersifat lokal. Perilaku masyarakat terhadap pengobatan tradisional cenderung terpengaruh oleh tradisi, lingkungan keluarga, pendidikan, dan kelas sosial. Masyarakat yang memilih pengobatan tradisional tidak hanya berbasis pada kepercayaan yang diyakini secara turun temurun melainkan juga karena kuatnya jaringan sosial yang dibangun antar keluarga, tetangga, maupun kerabat (Mega Muspika, 2017 dalam Herdiana dan Winarti, 2023 Kebiasaan pengobatan non medis ini seringkali mendapatkan kecaman dari pemerhati kesehatan. Pengobatan tradisional ini memiliki pro dan kontra di masyarakat. Perkembangan kedokteran modern selalu dibarengi dengan pengobatan tradisional yang digunakan oleh lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan tetap adanya penggunaan obat tradisional dan berkembangnya pengobatan alternatif di masyarakat yang didukung oleh pemerintah melalui PP Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional. Di pasal . yang menjelaskan bahwa: AuPengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatanya yang mengacu kepada pengalaman, ketrampilan turun temurun, dan atau pendidikan/pelatihan, danditerapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2. Prevalensi pasien yang memilih pengobatan Sangkal Putung bervariasi tergantung pada lokasi geografis, aksesibilitas layanan kesehatan modern, dan kepercayaan budaya lokal. Namun, data kuantitatif spesifik tentang prevalensi ini sering kali sulit ditemukan karena praktik Sangkal Putung biasanya tidak tercatat secara formal dalam sistem kesehatan nasional. Sebagian besar data yang tersedia berasal dari studi lokal, survei lapangan, atau laporan kualitatif. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, terutama di pedesaan, prevalensi pengobatan Sangkal Putung cukup tinggi. Misalnya, sebuah studi di Kabupaten Kebumen menemukan bahwa sekitar 60% pasien dengan cedera tulang lebih memilih untuk mengunjungi dukun Sangkal Putung daripada dokter modern. Pilihan ini dipengaruhi oleh faktor kepercayaan, biaya, dan aksesibilitas. (Purnomo, 2. Di Ponorogo. Jawa Timur, sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 50% dari populasi yang mengalami patah tulang atau cedera tulang lebih memilih pengobatan Sangkal Putung daripada layanan medis konvensional. Prevalensi ini lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan di daerah perkotaan. (Santoso, 2. Di Yogyakarta, prevalensi pasien yang menggunakan pengobatan Sangkal Putung berkisar antara 30-40% berdasarkan survei lokal. Meskipun akses ke layanan kesehatan modern cukup baik di wilayah ini, faktor budaya dan kepercayaan masih mempengaruhi keputusan pasien untuk menggunakan pengobatan (Wibowo, 2. Di daerah seperti Cirebon dan Tasikmalaya. Jawa Barat, prevalensi penggunaan Sangkal Putung lebih rendah dibandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah studi di Cirebon menunjukkan bahwa sekitar 25% pasien dengan cedera tulang memilih pengobatan Sangkal Putung. Faktor yang mempengaruhi termasuk ketersediaan layanan medis modern dan tingkat urbanisasi. (Sulaiman, 2. Pembahasan Sangkal Putung berfokus pada penyembuhan patah tulang, keseleo, dan cedera tulang lainnya, dan melibatkan serangkaian teknik manual yang dipadukan dengan kepercayaan spiritual. Meskipun tampak sederhana, metodologi pengobatan Sangkal Putung sangat dipengaruhi oleh pengetahuan turun-temurun, intuisi, dan pengalaman praktisi yang sering kali disebut sebagai "dukun Sangkal Putung" atau "tabib". Diagnosis Tradisional Proses pengobatan Sangkal Putung dimulai dengan diagnosis yang dilakukan oleh dukun. Dukun akan memeriksa bagian tubuh yang terluka, menggunakan sentuhan tangan dan pengamatan visual untuk menentukan jenis dan lokasi cedera. Praktisi juga dapat menggunakan "rasa" atau intuisi yang diasah dari pengalaman panjang untuk menentukan tindakan yang tepat. Dalam beberapa kasus, diagnosis melibatkan konsultasi dengan leluhur atau menggunakan media spiritual seperti jampi-jampi . untuk memandu (Geertz, 1. Teknik Manipulasi Manual Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 Pengobatan Sangkal Putung terutama terdiri dari teknik manipulasi manual yang dirancang untuk mengembalikan posisi tulang yang patah atau terkilir. Dukun akan menarik, menekan, atau memutar bagian tubuh yang cedera dengan sangat hati-hati. Proses ini memerlukan keahlian khusus, karena kesalahan dalam manipulasi dapat memperburuk kondisi pasien. Praktisi juga menggunakan bahan alami seperti ramuan herbal dan minyak pijat yang dioleskan pada area yang terluka untuk membantu penyembuhan. (Kartinah. Perban dan Penjepit Tradisional Setelah manipulasi tulang, dukun akan memasang perban atau penyangga yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti bambu, kulit kayu, atau kain tradisional. Penjepit ini digunakan untuk menjaga tulang dalam posisi yang benar selama masa penyembuhan. Kadang-kadang, ramuan herbal juga ditempelkan pada perban untuk mempercepat proses pemulihan. Perban ini biasanya diganti secara berkala sampai pasien dinyatakan (Wibowo, 2. Peran Doa dan Spiritual Pengobatan Sangkal Putung tidak hanya bergantung pada teknik fisik tetapi juga melibatkan unsur Dukun sering kali mengucapkan doa atau mantra selama proses pengobatan untuk meminta perlindungan dan bantuan dari kekuatan supranatural. Beberapa praktisi percaya bahwa kesembuhan tidak hanya berasal dari manipulasi fisik tetapi juga dari restu dan intervensi spiritual. (Subandi, 2. Pemantauan dan Perawatan Lanjutan Setelah pengobatan awal, pasien biasanya harus kembali untuk pemantauan dan perawatan lanjutan. Dukun akan memeriksa kembali posisi tulang dan memastikan bahwa proses penyembuhan berjalan dengan Jika perlu, manipulasi tambahan atau penggantian perban dilakukan. Periode pemulihan ini bisa memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan tergantung pada tingkat keparahan (Santoso, 2. Alasan Masyarakat Lebih Percaya Sangkal Putung Kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan Sangkal Putung di Jawa didasarkan pada beberapa faktor sosiokultural, historis, dan praktis. Berikut adalah beberapa alasan mengapa masyarakat lebih percaya pada Sangkal Putung, lengkap dengan referensi yang mendukung: Tradisi dan Warisan Budaya Sangkal Putung merupakan bagian dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Praktik ini sudah ada sebelum adanya layanan kesehatan modern, dan masyarakat telah lama mengandalkan pengobatan ini untuk menangani masalah tulang. Kepercayaan ini diperkuat oleh pengalaman yang telah teruji oleh waktu, di mana masyarakat melihat hasil nyata dari pengobatan ini. (Koentjaraningrat, 1985: Utami, 2. Keterjangkauan dan Aksesibilitas Layanan Sangkal Putung umumnya lebih terjangkau dibandingkan dengan layanan medis modern, terutama di daerah pedesaan atau terpencil. Selain itu, praktisi Sangkal Putung biasanya mudah diakses karena berada di dalam komunitas lokal, sehingga masyarakat tidak perlu bepergian jauh atau mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan perawatan. (Geertz, ,1. : Santoso, 2. Jadi ada kecenderungan masyarakat beranggapan bahwa, biaya untuk pengobatan Sangkal Putung lebih murah daripada biaya di pengobatan medis, inilah yang menjadi alasan memilih pengobatan Sangkal Putung sebagai pilihan awal untuk pengobatan cedera tulang. Pengalaman dan Testimoni Positif Banyak anggota masyarakat yang telah mengalami kesembuhan atau perbaikan kondisi setelah mendapatkan perawatan Sangkal Putung . asil nyat. Testimoni positif dari kerabat atau tetangga yang telah berhasil sembuh menjadi faktor penting yang mendorong orang lain untuk memilih metode ini. Pengalaman pribadi dan kolektif ini memperkuat kepercayaan pada efektivitas Sangkal Putung. (Kartika, 2016: Ahmad. Nilai-nilai Spiritual dan Kepercayaan Sangkal Putung sering dikaitkan dengan aspek spiritual dan religius, di mana proses penyembuhan dianggap melibatkan tidak hanya penyembuhan fisik tetapi juga spiritual. Bagi masyarakat yang masih kuat Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 memegang kepercayaan tradisional, dukun Sangkal Putung sering kali dilihat sebagai orang yang memiliki kemampuan khusus yang diberikan oleh leluhur atau kekuatan spiritual tertentu. (Wessing, 1. : Mulder. Kritik terhadap Medis Modern Beberapa masyarakat merasa bahwa pendekatan medis modern terkadang kurang memperhatikan aspek-aspek non-fisik dari penyakit, seperti kesejahteraan emosional atau spiritual. Sangkal Putung, yang lebih holistik dalam pendekatannya, dianggap lebih memahami dan merespon kebutuhan keseluruhan pasien. (Langford, 2002: Susilo, 2. Sangkal Putung Dari Sudut Pandang Sosiologi Dan Antropologi Kesehatan Sangkal Putung, sebagai salah satu bentuk pengobatan tradisional di Indonesia, tidak hanya penting dari segi medis tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kaya. Pendekatan sosiologi dan antropologi kesehatan memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai metode penyembuhan, tetapi juga sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya, kepercayaan kolektif, dan struktur sosial masyarakat. Berikut ini adalah tinjauan tentang Sangkal Putung dari sudut pandang sosiologi dan antropologi kesehatan. Sangkal Putung sebagai Praktik Kultural Dari perspektif antropologi kesehatan. Sangkal Putung adalah praktik yang berakar kuat dalam tradisi budaya Jawa. Pengobatan ini bukan hanya sekadar intervensi medis, tetapi juga ritual budaya yang mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan masyarakat setempat. Dalam banyak kasus, dukun Sangkal Putung dianggap memiliki "ilmu" atau kekuatan khusus yang diwariskan turun-temurun, yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga spiritual. Kepercayaan bahwa dukun memiliki hubungan dengan leluhur atau kekuatan supranatural adalah kunci dalam memahami mengapa Sangkal Putung terus dipercaya meskipun ada akses ke layanan medis modern. (Geertz, 1960. Subandi, 2. Peran Sangkal Putung dalam Struktur Sosial Sangkal Putung juga dapat dilihat dari sudut pandang sosiologi kesehatan sebagai bentuk pengobatan yang mempertahankan struktur sosial tertentu dalam masyarakat. Dukun Sangkal Putung sering kali menempati posisi penting dalam komunitas sebagai pemegang pengetahuan tradisional. Mereka bukan hanya sebagai penyembuh, tetapi juga sebagai penjaga tradisi dan identitas budaya. Posisi ini memberi mereka status dan otoritas sosial yang diakui oleh masyarakat sekitar, yang pada gilirannya memperkuat legitimasi dan keberlanjutan praktik ini. Dalam masyarakat pedesaan, di mana akses ke layanan medis modern mungkin terbatas. Sangkal Putung menawarkan solusi kesehatan yang lebih mudah diakses dan lebih murah. Hal ini juga memperkuat rasa solidaritas dan keterikatan sosial di antara anggota komunitas, karena pengobatan sering kali melibatkan partisipasi dari keluarga dan kerabat. (Endraswara,2013. Santoso, 2. Sangkal Putung sebagai Respon Terhadap Modernitas Antropologi kesehatan juga melihat praktik Sangkal Putung sebagai bentuk resistensi terhadap modernitas dan kolonialisme. Meskipun pengobatan modern telah diperkenalkan di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda, banyak masyarakat yang tetap setia pada praktik tradisional seperti Sangkal Putung. Hal ini mencerminkan dinamika kekuasaan antara pengetahuan medis Barat dan pengetahuan lokal, di mana Sangkal Putung menjadi simbol identitas lokal dan otonomi budaya. Dalam konteks modern, praktik ini dapat dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap homogenisasi budaya dan penghilangan pengetahuan lokal. Sangkal Putung tidak hanya dipertahankan karena efektivitasnya dalam penyembuhan, tetapi juga sebagai upaya untuk mempertahankan warisan budaya dan identitas komunitas. (Boomgaard, 1993. Ahmad, 2. Sangkal Putung dan Hubungan Pasien-Dukun Dalam sosiologi kesehatan, hubungan antara pasien dan dukun dalam konteks Sangkal Putung dapat dilihat sebagai bentuk hubungan sosial yang erat dan personal. Tidak seperti dokter dalam pengobatan modern, dukun sering kali memiliki hubungan jangka panjang dengan pasien mereka, yang dibangun di atas rasa saling percaya dan pengertian. Hubungan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa dukun sering kali menjadi bagian dari komunitas yang sama dengan pasien, dan mereka memahami kondisi sosial, ekonomi, dan budaya pasien secara mendalam. Hubungan ini memungkinkan dukun untuk menyediakan perawatan yang holistik, yang mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual dari kesehatan. Pendekatan ini sangat berbeda dengan pengobatan Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 modern yang cenderung lebih fokus pada aspek biomedis dan kurang memperhatikan konteks sosial pasien. (Kleinman,1980. Kartinah, 2. Dari perspektif sosiologi dan antropologi kesehatan. Sangkal Putung bukan hanya metode penyembuhan tetapi juga praktik budaya yang mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat Jawa. Sangkal Putung memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas budaya, memperkuat hubungan sosial, dan menawarkan alternatif terhadap pengobatan modern yang sering kali kurang memperhatikan konteks sosial-budaya pasien. Melalui praktik ini, masyarakat dapat mempertahankan warisan budaya mereka dan melestarikan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke Perbandingan Antara Pengobatan Sangkal Putung Dan Ortopedi Modern Pendekatan Pengobatan Pengobatan sangkal putung didasarkan pada pengetahuan tradisional dan praktik yang diwariskan secara turun-temurun. Praktisi menggunakan teknik manipulasi manual, pijat, serta bahan-bahan alami seperti ramuan herbal untuk merawat tulang yang patah atau terkilir. Pengobatan ini sering kali disertai dengan doa atau ritual spiritual yang dipercaya mempercepat proses penyembuhan. Ortopedi adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada diagnosis, pencegahan, dan perawatan gangguan pada sistem muskuloskeletal . ulang, otot, send. Pendekatan ortopedi melibatkan penggunaan teknologi medis modern, seperti sinar-X. MRI, dan pembedahan untuk memperbaiki tulang yang patah, dislokasi, atau masalah ortopedi lainnya. Proses penyembuhan sering kali melibatkan fisioterapi dan penggunaan alat bantu seperti gips, pen, atau plat logam. (Pal. Singh. Kumar, & Kumar, 2. Santoso. Efektivitas dan Hasil Pengobatan Efektivitas sangkal putung didasarkan pada pengalaman praktisi dan kepercayaan masyarakat. Banyak pasien melaporkan kesembuhan atau perbaikan kondisi setelah menjalani pengobatan ini. Namun, bukti ilmiah yang mendukung efektivitas sangkal putung masih terbatas dan sering kali bersifat anekdot. Ada juga risiko apabila penanganan dilakukan oleh praktisi yang kurang berpengalaman. Efektivitas ortopedi didukung oleh bukti ilmiah dan penelitian medis yang luas. Perawatan ortopedi cenderung memiliki standar yang lebih tinggi dalam hal keselamatan dan hasil jangka panjang, terutama dalam kasus-kasus yang memerlukan intervensi bedah. Namun, prosedur ini sering kali memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan sangkal putung. (Buchbinder. Maher, & Harris, 2015. Ahmad, 2. Persepsi dan Kepercayaan Masyarakat Di banyak daerah di Jawa, sangkal putung masih sangat dipercaya oleh masyarakat, terutama di Praktisi sangkal putung sering kali dianggap memiliki kekuatan khusus atau hubungan spiritual dengan leluhur, yang membuat mereka lebih dipercaya dalam mengobati masalah tulang daripada dokter Kepercayaan ini juga didukung oleh ketersediaan layanan yang lebih mudah dan biaya yang lebih Di perkotaan atau di kalangan masyarakat yang lebih terpapar pada pendidikan dan layanan kesehatan modern, ortopedi cenderung lebih dipercaya karena dianggap lebih ilmiah dan aman. Persepsi masyarakat terhadap ortopedi sering kali dipengaruhi oleh akses terhadap fasilitas kesehatan modern dan paparan terhadap informasi medis yang lebih luas. (Geertz,1960. Mulder, 1. Aksesibilitas dan Biaya Layanan sangkal putung biasanya lebih mudah diakses, terutama di pedesaan atau daerah terpencil, di mana layanan kesehatan modern mungkin sulit dijangkau. Biaya yang lebih rendah juga menjadi faktor penting yang membuat sangkal putung lebih diminati, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan Layanan ortopedi umumnya lebih mahal dan memerlukan akses ke rumah sakit atau klinik yang dilengkapi dengan teknologi canggih. Di daerah pedesaan, akses ke layanan ortopedi mungkin terbatas, dan biaya menjadi penghalang utama bagi banyak orang. (Santoso, 2018. O'Connor, 2. Integrasi dengan Sistem Kesehatan Modern Meskipun dianggap tradisional, ada upaya untuk mengintegrasikan praktik sangkal putung dengan sistem kesehatan modern. Beberapa praktisi medis modern mulai mengakui nilai dari pengetahuan lokal dan Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 berusaha untuk menggabungkan pendekatan tradisional dengan metode medis modern, terutama dalam konteks rehabilitasi. Ortopedi modern terus berkembang dengan inovasi teknologi baru, seperti operasi minimal invasif dan Integrasi teknologi ini membuat perawatan ortopedi semakin efektif, tetapi juga memperlebar kesenjangan antara metode modern dan tradisional. (Wessing, 1990. Ramseier & Ehrenfeld,2. Pengobatan Sangkal Putung Dapat Diintegrasikan Dalam Sistem Kesehatan Nasional Integrasi pengobatan Sangkal Putung dalam sistem kesehatan nasional dapat memberikan layanan yang lebih holistik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di daerah di mana pengobatan tradisional masih sangat dipercaya. Integrasi pengobatan Sangkal Putung ke dalam sistem kesehatan nasional dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek regulasi, kolaborasi antar disiplin ilmu, dan edukasi Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat diambil untuk mencapai integrasi tersebut: Regulasi dan Sertifikasi Untuk mengintegrasikan Sangkal Putung dalam sistem kesehatan nasional, pengakuan resmi dan regulasi praktisi Sangkal Putung sangat penting. Pemerintah perlu mengembangkan kerangka regulasi yang mencakup sertifikasi, kualifikasi, dan standar praktik bagi praktisi pengobatan tradisional. Regulasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengobatan yang dilakukan sesuai dengan standar keamanan dan efektivitas yang diakui. Langkah-langkah yang dapat diambil antara lain. Menetapkan standar sertifikasi bagi praktisi Sangkal Putung melalui lembaga yang diakui oleh pemerintah. Mengembangkan pedoman praktik yang jelas yang mencakup teknik, prosedur, dan batasan pengobatan Sangkal Putung. Melakukan audit dan evaluasi berkala terhadap praktik Sangkal Putung untuk memastikan kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan. (Permenkes No. 61, 2016. WHO Regional Office for South-East Asia, 2. Kolaborasi antara Praktisi Tradisional dan Medis Kolaborasi antara praktisi Sangkal Putung dan tenaga medis modern adalah langkah penting dalam menciptakan layanan kesehatan yang holistik. Kolaborasi ini dapat dilakukan melalui program rujukan, pelatihan bersama, dan pengembangan klinik terpadu yang menyediakan pengobatan tradisional dan modern. Langkah-langkah yang dapat dilakukan anatar lainnya. Membuat mekanisme rujukan antara fasilitas kesehatan modern dan praktisi Sangkal Putung. Menyediakan pelatihan lintas disiplin yang memungkinkan praktisi medis untuk memahami pengobatan tradisional dan sebaliknya. Mengembangkan klinik terpadu di mana pasien dapat menerima pengobatan tradisional dan modern di satu tempat. (Iskandar, 2013. World Health Organization (WHO), 2. Integrasi dalam Layanan Kesehatan Primer Sangkal Putung dapat diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer di daerah-daerah di mana akses ke fasilitas medis modern terbatas. Pengobatan tradisional ini dapat menjadi bagian dari paket layanan yang ditawarkan oleh puskesmas atau klinik kesehatan lokal. Langkah-langkah tindakan yang bisa diambil yaitu. Menyediakan ruang dan fasilitas di puskesmas atau klinik kesehatan lokal untuk praktik Sangkal Putung. Mengintegrasikan pengobatan Sangkal Putung ke dalam skema asuransi kesehatan nasional seperti BPJS. Melakukan pelatihan bagi petugas kesehatan di puskesmas tentang kapan dan bagaimana merujuk pasien ke praktisi Sangkal Putung. (Subandi, 2001. Santoso, 2. Peningkatan Penelitian dan Pengembangan Untuk memastikan pengobatan Sangkal Putung dapat diintegrasikan secara efektif, perlu ada penelitian yang mendalam tentang efektivitas, keamanan, dan dampak sosial dari pengobatan ini. Penelitian juga dapat mengidentifikasi cara terbaik untuk menggabungkan pengobatan tradisional dengan layanan kesehatan Langkah-langkah untuk hal ini misalnya. Mendukung penelitian klinis yang mengevaluasi efektivitas dan keamanan metode Sangkal Putung. Mempromosikan studi kasus dan dokumentasi keberhasilan integrasi pengobatan tradisional dalam sistem kesehatan. Menggunakan hasil penelitian untuk mengembangkan pedoman klinis dan kebijakan integrasi yang berbasis bukti. (Geertz, 1960. Boomgaard, 1. Edukasi dan Sosialisasi kepada Masyarakat Masyarakat perlu diedukasi tentang manfaat dan batasan pengobatan Sangkal Putung serta bagaimana pengobatan ini dapat diintegrasikan dengan layanan kesehatan modern. Edukasi ini bertujuan untuk mengurangi kesalahpahaman dan mendorong penerimaan terhadap pengobatan tradisional dan modern. Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 Langkah-langkah nya bisa dengan cara. Mengadakan kampanye edukasi melalui media massa dan program-program kesehatan masyarakat tentang pengobatan Sangkal Putung. Menyediakan informasi yang jelas kepada pasien tentang pilihan pengobatan yang tersedia. Mengadakan seminar, workshop, dan diskusi publik yang melibatkan praktisi Sangkal Putung, tenaga medis, dan masyarakat umum. (Titaley, et all. ,2010. Fink, 2. Tantangan Yang Dihadapi Dalam Upaya Mengintegrasikan Pengobatan Sangkal Putung Dengan Sistem Kesehatan Modern Kesenjangan Pengetahuan dan Pemahaman Banyak tenaga medis modern mungkin tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman yang cukup tentang metode dan praktik pengobatan Sangkal Putung, sehingga kesulitan dalam berkolaborasi atau menerima praktik ini, dan terbatasnya riset ilmiah yang mendukung efektivitas pengobatan Sangkal Putung membuat sulit untuk memperoleh dukungan dari komunitas medis dan ilmiah. (Iskandar, 2013. Santoso. Regulasi dan Standar Praktik Kurangnya regulasi dan standar yang jelas untuk praktik Sangkal Putung dapat menimbulkan masalah terkait keamanan pasien dan kualitas layanan, dan kesulitan dalam mendapatkan pengakuan resmi dan integrasi dalam sistem kesehatan yang terstandarisasi. (World Health Organization (WHO), 2013. Permenkes No. 61, 2. Kolaborasi Lintas Disiplin Perbedaan dalam pendekatan dan filosofi antara pengobatan tradisional dan medis modern dapat menghambat kolaborasi yang efektif, dan kesulitan dalam koordinasi dan komunikasi antara praktisi Sangkal Putung dan tenaga medis modern. (Geertz, 1960. Boomgaard, 1. Edukasi dan Sosialisasi Minimnya pendidikan dan sosialisasi tentang pengobatan Sangkal Putung kepada masyarakat dan tenaga medis, yang dapat menghambat penerimaan dan integrasi, dan masyarakat mungkin memiliki stigma atau ketidakpercayaan terhadap pengobatan tradisional dibandingkan dengan pengobatan modern. (Titaley, et all. ,2010. Fink, 2. Implementasi dan Aksesibilitas Keterbatasan sumber daya untuk melatih praktisi Sangkal Putung dan menyediakan fasilitas yang mendukung integrasi dengan sistem kesehatan dan kesulitan dalam menyediakan akses yang merata ke layanan pengobatan Sangkal Putung, terutama di daerah yang terpencil atau kurang terlayani. (Subandi, 2001. WHO Regional Office for South-East Asia, 2. Kualitas dan Keamanan Memastikan bahwa praktik Sangkal Putung aman dan tidak membahayakan pasien, serta memiliki standar kualitas yang jelas, serta mengembangkan dan menerapkan standar praktik yang menjamin keselamatan dan efektivitas pengobatan Sangkal Putung. (Baumeister dan Leary, 1997. Ridley, 2. KESIMPULAN Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa Pengobatan Sangkal Putung merupakan warisan budaya yang penting bagi masyarakat Jawa. Meskipun menghadapi berbagai tantangan di era modern, praktik ini tetap relevan dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Melalui penelitian yang lebih mendalam dan dukungan dari pemerintah serta komunitas medis, pengobatan Sangkal Putung dapat terus berkontribusi pada kesehatan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. UCAPAN TERIMAKASIH Saya mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mempertimbangkan dan mendukung proses penyelesaian dan publikasi artikel ini. Terima kasih juga kepada penulis artikel terdahulu sebagai acuan penulisan artikel ini. Saya berharap bahwa artikel ini akan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkannya dan mereka yang membacanya. Hidayat. Arlin Adam JUKEKE Vol 3 No. 3 | Oktober 2. ISSN: 2829-0437 . ISSN: 2829-050X . Hal 19-28 DAFTAR PUSTAKA