Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume 16 . 57 Ae 69 Mei 2026 ISSN: 2088-3072 (Prin. / 2477-5886 (Onlin. DOI: 10. 25273/counsellia. Available online at: https://e-journal. id/index. php/JBK Hubungan psychological well-being dengan brain rot siswa Sekolah Menengah Pertama Emelia1. Sulistiyana2. Ririanti Rachmayanie Jamain3 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin email: uO emeliaemel58@gmail. com1, sulis. bk@ulm. id2, ririanti. bk@ulm. 1,2,3 Abstrak: Perkembangan media digital yang semakin pesat menyebabkan remaja lebih sering terpapar konten instan dan repetitif yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis serta kemampuan kognitif. Salah satu fenomena yang muncul akibat kondisi tersebut adalah brain rot, yaitu menurunnya kualitas fokus, konsentrasi, dan pemrosesan informasi akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kondisi ini menjadi penting untuk dikaji karena dapat berkaitan dengan psychological well-being remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological well-being dengan brain rot pada siswa sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 162 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well-being dan skala brain rot berbentuk skala likert. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah, sedangkan brain rot berada pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being dengan brain rot. Semakin tinggi brain rot yang dialami siswa, maka semakin rendah psychological well-being yang Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam membantu siswa meningkatkan regulasi diri, pengelolaan penggunaan media digital, serta kemampuan menjaga kesejahteraan psikologis di era Kata Kunci: Brain rot, psychological well-being, siswa SMP Abstract: The rapid development of digital media has caused adolescents to be increasingly exposed to instant and repetitive content that may affect their psychological condition and cognitive abilities. One phenomenon emerging from this condition is brain rot, which refers to the decline in focus, concentration, and information-processing quality due to excessive digital content consumption. This condition is important to examine because it may be associated with adolescentsAo psychological well-being. This study aimed to determine the relationship between psychological well-being and brain rot among junior high school students. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 162 students selected using purposive sampling techniques, with the criterion of actively using social media for at least two hours per day. Data were collected using psychological well-being and brain rot scales in the form of Likert scales. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. The results showed that studentsAo psychological well-being tended to be Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being A. in the low category, while brain rot levels were in the moderate to high category. The correlation test results indicated a significant negative relationship between psychological well-being and brain rot . The higher the level of brain rot experienced by students, the lower their psychological well-being. The findings of this study can serve as a basis for developing guidance and counseling services, particularly in helping students improve self-regulation, manage digital media use, and maintain psychological wellbeing in the digital era. Keywords: Brain rot , junior high school students, psychological well-being Received: 25-02-2026. Accepted: 27-04-2026. Published: 05-05-2026 Citation: Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being dengan brain rot siswa Sekolah Menengah Pertama. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. 57 Ae 69. Doi: 10. 25273/counsellia. Copyright A2026 Counsellia: Bimbingan dan Konseling Published by Universitas PGRI Madiun. This work is licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercialShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi pada era digital saat ini telah mengubah cara individu belajar, berpikir, dan berinteraksi, khususnya pada kalangan remaja. Kemudahan akses internet dan tingginya intensitas penggunaan media sosial turut membentuk pola perilaku baru yang dapat memengaruhi kondisi psikologis remaja. Remaja merupakan individu yang sedang berada pada tahap perkembangan penting, di mana proses pencarian identitas, pengelolaan emosi, dan penyesuaian sosial berkembang secara intensif (Hurlock, 2. Pada masa ini, remaja cenderung lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk paparan media digital yang dikonsumsi dalam kehidupan seharihari. Hasan & Saima . menyatakan bahwa remaja sedang berada dalam proses pembentukan nilai diri, pemahaman sosial, dan penguatan konsep diri yang akan memengaruhi perkembangan kepribadian jangka panjang. Oleh karena itu, paparan lingkungan digital berpotensi memberikan pengaruh terhadap perkembangan psikologis dan sosial remaja. Brain rot merupakan fenomena yang muncul akibat meningkatnya konsumsi media digital pada remaja. Istilah brain rot merujuk pada kecenderungan menurunnya kualitas perhatian, konsentrasi, dan pemrosesan informasi akibat paparan konten digital yang bersifat cepat, instan, repetitif, dan dangkal secara terus-menerus (Canonigo et al. , 2. Dalam kajian psikologi digital, brain rot tidak diposisikan sebagai gangguan klinis, melainkan sebagai fenomena kognitif digital yang berkaitan dengan digital overstimulation, attentional fragmentation, dan cognitive overload akibat tingginya intensitas konsumsi media digital. Fenomena di atas dapat dijelaskan melalui Cognitive Load Theory yang dikembangkan oleh John Sweller. Teori ini menjelaskan bahwa kapasitas kognitif individu memiliki keterbatasan dalam memproses informasi. Paparan stimulus digital yang berlebihan dapat meningkatkan extraneous cognitive load sehingga individu mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian, memahami informasi secara mendalam, serta melakukan pemrosesan reflektif terhadap informasi yang diterima (Skulmowski & Xu, 2. Dalam konteks remaja, kondisi tersebut dapat memengaruhi Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 57-69 Mei 2026 kualitas fokus belajar, kemampuan berpikir kritis, dan pengelolaan perhatian dalam aktivitas sehari-hari. Brain rot dalam penelitian ini dipahami sebagai kondisi ketika kapasitas pemrosesan informasi siswa mengalami penurunan akibat paparan rangsangan digital yang berlebihan. Konstruk ini disusun berdasarkan aspek cognitive load menurut Sweller yang meliputi intrinsic load, extraneous load, dan reduced germane load. Intrinsic load berkaitan dengan kesulitan siswa dalam memahami serta menghubungkan informasi yang diterima, extraneous load berkaitan dengan distraksi dan penyajian informasi digital yang tidak terstruktur, sedangkan reduced germane load berkaitan dengan menurunnya keterlibatan berpikir kritis dan kecenderungan menerima informasi secara pasif tanpa pengolahan yang mendalam. Fenomena brain rot saat ini banyak ditemukan pada remaja, termasuk dalam konteks pendidikan. Berdasarkan hasil observasi awal dan pengumpulan data terkait penggunaan media sosial pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin, diketahui bahwa sebagian besar siswa memiliki intensitas penggunaan media sosial yang cukup tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data durasi penggunaan media sosial, dari total 162 siswa terdapat 98 siswa . ,5%) yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam per hari, 34 siswa . ,0%) menggunakan media sosial selama 3 jam per hari, dan 30 siswa . ,5%) menggunakan media sosial selama 2 jam per hari. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mayoritas siswa terpapar media digital dalam durasi yang relatif tinggi setiap Media sosial yang paling sering digunakan siswa adalah TikTok dan Instagram. Kedua platform tersebut umumnya menyajikan konten video singkat, infinite scrolling, serta stimulus visual yang cepat dan berulang sehingga mendorong pola konsumsi informasi secara instan. Tingginya intensitas penggunaan media sosial menunjukkan bahwa media digital telah menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari siswa, baik sebagai sarana hiburan, komunikasi, maupun memperoleh informasi. Dalam perspektif psikologi digital, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan paparan terhadap stimulus digital yang berlebihan sehingga dapat memengaruhi kualitas perhatian, konsentrasi, dan pemrosesan informasi pada remaja (Matthes et al. , 2. Hasil wawancara dengan guru dan siswa juga menunjukkan bahwa siswa cenderung mudah terdistraksi, cepat merasa bosan, melamun saat pembelajaran berlangsung, serta mengalami kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu lama. Siswa juga mengaku sering merasa mengantuk, kurang bersemangat, dan lebih menyukai proses pembelajaran yang cepat serta instan. Dalam perspektif Cognitive Load Theory, kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan extraneous load akibat paparan informasi digital yang berlebihan sehingga mengurangi kemampuan siswa dalam mengolah informasi secara mendalam. Psychological well-being berperan penting dalam mendukung perkembangan mental, sosial, dan akademik remaja. Ryff, . menjelaskan bahwa psychological well-being merupakan kondisi ketika individu mampu menerima dirinya, membangun hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, mampu menguasai lingkungan, bersikap mandiri, dan terus mengalami perkembangan pribadi. Remaja dengan tingkat psychological well-being yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, mengelola emosi, serta membangun relasi sosial yang sehat. Sebaliknya, rendahnya psychological well-being dapat meningkatkan kerentanan terhadap stres, kecemasan, penurunan harga diri, dan kehilangan makna hidup (Sala et al. , 2. Hubungan antara psychological well-being dan brain rot menjadi penting untuk dikaji karena penggunaan media digital yang tidak terkontrol berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis sekaligus kualitas fungsi kognitif remaja. Remaja dengan psychological well-being yang baik cenderung memiliki kemampuan self-regulation, pengelolaan emosi, dan kontrol perhatian yang lebih optimal sehingga lebih mampu mengelola penggunaan media digital secara sehat (Ryff & Keyes, 1. Sebaliknya. Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being A. remaja dengan psychological well-being rendah cenderung lebih rentan mengalami distraksi perhatian, kesulitan mengontrol penggunaan media sosial, dan paparan digital overstimulation yang dapat meningkatkan kecenderungan brain rot. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media digital dan kondisi psikologis remaja. Mousoulidou et al. menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan penurunan beberapa aspek psychological well-being pada remaja. Penelitian Husaini . juga menunjukkan bahwa paparan konten digital instan secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan reflektif dan pemrosesan kognitif remaja yang berkaitan dengan fenomena brain rot. Selain itu. Sandi & Rachmat . menemukan adanya hubungan negatif antara intensitas penggunaan media sosial dan psychological well-being Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin rendah tingkat penerimaan diri, tujuan hidup, dan penguasaan lingkungan yang dimiliki siswa. Penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan brain rot dengan psychological well-being pada remaja sekolah menengah pertama masih terbatas, khususnya dalam konteks remaja Indonesia, meskipun penelitian mengenai penggunaan media sosial dan psychological well-being telah banyak dilakukan. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih berfokus pada kecanduan media sosial, digital addiction, atau kesehatan mental secara umum, sedangkan kajian mengenai brain rot sebagai fenomena kognitif digital masih relatif sedikit dilakukan. Selain itu, belum banyak penelitian yang menguji hubungan antara psychological well-being dengan kecenderungan brain rot pada siswa sekolah menengah pertama menggunakan perspektif Cognitive Load Theory. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami keterkaitan antara kesejahteraan psikologis dan kecenderungan brain rot pada remaja di era digital. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara psychological well-being dengan kecenderungan brain rot pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin sebagai upaya memahami faktor protektif psikologis dalam penggunaan media digital. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian psikologi pendidikan digital, khususnya terkait psychological wellbeing, perilaku digital remaja, dan Cognitive Load Theory. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling dalam membantu siswa membangun kebiasaan penggunaan media digital yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan psikologis di era digital. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Pendekatan kuantitatif dipilih karena data yang diperoleh berupa angka yang dianalisis menggunakan teknik statistik untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Penelitian kuantitatif menekankan pada pengukuran objektif terhadap fenomena melalui data numerik yang diolah secara sistematis (Wahidmurni, 2. Adapun desain korelasional digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan serta tingkat hubungan antara dua variabel, yaitu psychological well-being sebagai variabel bebas dan brain rot sebagai variabel terikat. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini difokuskan pada populasi dan sampel penelitian. Populasi merupakan keseluruhan subjek yang menjadi sasaran penelitian yang memiliki karakteristik tertentu (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi SMPN 3 Banjarmasin sebanyak 273 siswa. Sampel merupakan bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan populasi, dalam penelitian ini jumlah sempel sebanyak 162 siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 57-69 Mei 2026 menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah siswa aktif kelas Vi tahun ajaran 2025/2026, memiliki akun media sosial aktif, serta menggunakan media sosial minimal 2 jam per hari. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner . dengan skala Likert yang disusun berdasarkan indikator dari masing-masing variabel Menurut Sugiyono . , skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi individu terhadap suatu fenomena sosial. Terdapat dua variabel penelitian, yaitu psychological well-being yang diukur berdasarkan enam dimensi menurut Ryff . yaitu penerimaan diri, relasi positif, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi, serta brain rot yang diukur berdasarkan aspek cognitive load yang meliputi intrinsic load, extraneous load, dan reduced germane load oleh Sweller . Setiap item pernyataan memiliki lima alternatif jawaban, yaitu sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen telah melalui uji validitas yang menunjukkan bahwa instrumen brain rot memiliki 21 item valid dari 40 item, sedangkan instrumen psychological well-being memiliki 27 item valid dari 36 item dan uji reliabilitas yang menunjukkan nilai cronbach's alpha sebesar 0,847 untuk brain rot dan 0,923 untuk psychological well-being. Dengan demikian, kedua instrumen dinyatakan valid dan reliabel sehingga layak digunakan dalam penelitian. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi spearman rho. Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi masing-masing variabel penelitian, seperti nilai rata-rata, distribusi frekuensi, dan kategorisasi data. Sementara itu, uji korelasi spearman rho digunakan untuk menguji hubungan antara variabel psychological well-being dan brain Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga analisis dilanjutkan menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman Rho. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian Berdasarkan hasil analisis data terhadap 162 siswa kelas Vi SMPN 3 Banjarmasin, diketahui bahwa hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,019 . <0,. , sehingga analisis hubungan antar variabel dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Tabel 1. Kategorisasi Psychological Well-Being Siswa Valid Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah. Sebagian besar siswa berada pada kategori rendah sebanyak 60 siswa . ,0%), diikuti kategori sedang sebanyak 53 siswa . ,7%). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being A. mengelola kesejahteraan psikologis, khususnya dalam aspek tujuan hidup yang memperoleh skor terendah. Tabel 2. Kategorisasi Brain Rot Siswa Valid Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Hasil analisis brain rot menunjukkan bahwa tingkat brain rot siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa cukup sering terpapar konten digital instan dan repetitif yang berpotensi memengaruhi konsentrasi, fokus, dan proses berpikir mendalam. Aspek extraneous load menjadi indikator yang paling dominan dalam penelitian ini. Tabel 3. Hasil Uji Korelasi Spearman Spearman's rho Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. 1,000 -,611** <,001 -,611** 1,000 <,001 Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai signifikansi sebesar < 0,001 dengan koefisien korelasi sebesar -0,611. Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan dengan kekuatan hubungan yang tergolong kuat antara brain rot dan psychological well-being pada siswa kelas Vi SMPN 3 Banjarmasin. Artinya, semakin tinggi tingkat brain rot yang dialami siswa, maka semakin rendah tingkat psychological well-being yang dimiliki, begitu pula sebaliknya. Pembahasan Tingkat Psychological Well-Being Siswa Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa psychological well-being pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin cenderung berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki kesejahteraan psikologis yang optimal, baik dalam menerima diri, membangun hubungan sosial, mengelola lingkungan, maupun memaknai kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa siswa masih membutuhkan dukungan psikologis dan sosial agar mampu berkembang secara lebih sehat pada masa remaja. Psychological well-being merupakan kondisi ketika individu mampu menerima dirinya, menjalin hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, bersikap mandiri, mampu menguasai lingkungan, serta terus berkembang sebagai pribadi (Schmutte & Ryff, 1. Pada masa remaja awal, kesejahteraan psikologis cenderung belum stabil karena siswa masih berada pada tahap pencarian identitas diri, perkembangan emosi, dan penyesuaian sosial (Jamain & Putro, 2. Selain itu, perkembangan psychological well-being pada remaja tidak terjadi secara merata pada setiap dimensi karena dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, lingkungan sosial, pola pengasuhan, serta tuntutan perkembangan remaja (Nasih & Rachman, 2. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 57-69 Mei 2026 Rendahnya psychological well-being pada siswa juga dapat dipengaruhi oleh tingginya paparan lingkungan digital yang mendorong perbandingan sosial, kebutuhan validasi diri, dan ketergantungan pada interaksi virtual. Remaja generasi digital cenderung terbiasa memperoleh stimulus sosial secara cepat melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram sehingga lebih rentan mengalami tekanan psikologis ketika tidak memperoleh respons sosial yang diharapkan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan siswa dalam memaknai diri, mempertahankan kestabilan emosi, serta menentukan arah dan tujuan hidup secara lebih jelas. Pada masa remaja awal, kemampuan regulasi emosi dan pengendalian diri juga belum berkembang secara optimal sehingga siswa lebih mudah mengalami kebingungan identitas dan fluktuasi emosi dalam menghadapi tekanan sosial maupun digital. Dimensi pertumbuhan pribadi menjadi aspek yang paling menonjol dalam psychological well-being siswa. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih memiliki keinginan untuk berkembang, mencoba pengalaman baru, dan mengenali potensi diri meskipun kesejahteraan psikologis secara umum masih tergolong rendah. Nasih & Rachman . menjelaskan bahwa pertumbuhan pribadi berkembang ketika individu memiliki kesempatan mengeksplorasi pengalaman baru dan melihat dirinya sebagai pribadi yang terus bertumbuh kondisi tersebut sesuai dengan karakteristik remaja yang aktif mengeksplorasi identitas diri dan pengalaman baru. Selain itu, kemampuan siswa dalam dimensi menjalin hubungan positif dengan orang lain juga tampak cukup Ozdemir et al. menjelaskan bahwa kesejahteraan siswa dipengaruhi oleh interaksi sosial yang sehat dan dukungan lingkungan sekitar. Hubungan positif dengan orang lain membantu individu merasa diterima dan memperoleh dukungan emosional yang penting bagi kesejahteraan psikologisnya (Ryff & Keyes, 1. Dimensi tujuan hidup menjadi aspek yang paling rendah dalam psychological wellbeing siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan arah hidup, memahami makna aktivitas yang dijalani, serta menetapkan tujuan jangka panjang. Azizah & Satwika . mengemukakan bahwa remaja saat ini menghadapi tekanan lingkungan digital yang dapat memengaruhi motivasi, fokus, dan kesadaran terhadap tujuan hidup. Paparan konten digital yang cepat dan instan juga dapat membentuk pola pikir jangka pendek sehingga remaja menjadi lebih terbiasa mencari kepuasan segera dibandingkan membangun orientasi tujuan jangka Selain itu, karakteristik media sosial yang menampilkan kehidupan ideal orang lain secara terus-menerus dapat menyebabkan remaja mengalami kebingungan identitas, keraguan diri, dan kesulitan memahami tujuan personalnya. Pada dimensi penerimaan diri, otonomi, dan penguasaan lingkungan menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kemampuan yang cukup dalam menerima kelebihan dan kekurangan diri, mengambil keputusan secara mandiri, serta menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sehari-hari, meskipun kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal. Pada masa remaja awal, perkembangan ketiga aspek tersebut masih berlangsung seiring dengan proses pembentukan identitas, peningkatan kemandirian, dan penyesuaian terhadap tuntutan akademik maupun sosial. Kondisi ini mengindikasikan bahwa siswa telah memiliki modal psikologis yang cukup baik untuk menghadapi berbagai tantangan perkembangan, namun tetap memerlukan dukungan dari lingkungan sekolah dan keluarga agar kemampuan tersebut dapat berkembang secara lebih matang. Psychological well-being yang rendah juga dapat memengaruhi kemampuan remaja dalam melakukan regulasi diri dan pengelolaan perilaku digital. Remaja yang belum memiliki tujuan hidup yang jelas, penerimaan diri yang baik, serta kontrol emosi yang optimal cenderung lebih rentan menggunakan media sosial secara berlebihan sebagai bentuk pelarian emosional atau hiburan instan (Irmer & Schmiedek, 2. Sebaliknya, remaja dengan psychological well-being yang baik umumnya memiliki kemampuan self-regulation dan self-awareness yang lebih optimal sehingga lebih mampu mengontrol durasi penggunaan media digital, mempertahankan fokus, serta mengarahkan Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being A. perhatian pada aktivitas yang lebih adaptif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa psychological well-being tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga berperan dalam membantu remaja mengelola perilaku digital secara lebih sehat di era Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa psychological well-being siswa masih memerlukan perhatian yang serius, terutama pada aspek tujuan hidup dan kestabilan emosional remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis remaja tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sosial dan budaya digital yang berkembang pada generasi saat ini. Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan layanan bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan regulasi emosi, membangun tujuan hidup, serta membentuk penggunaan media digital yang lebih sehat agar psychological well-being siswa dapat berkembang secara lebih optimal. Tingkat Brain Rot pada Siswa Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa tingkat brain rot pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin cenderung berada pada kategori Temuan ini menunjukkan bahwa siswa mulai mengalami kecenderungan penurunan kualitas perhatian dan pemrosesan informasi akibat paparan konten digital yang cepat, dangkal, dan berlangsung secara terus-menerus. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian siswa mulai mengalami kesulitan mempertahankan fokus, mudah terdistraksi, serta kurang terbiasa melakukan pemrosesan informasi secara mendalam dalam kegiatan belajar sehari-hari. Penelitian ini memahami brain rot sebagai fenomena kognitif digital yang berkaitan dengan menurunnya kualitas perhatian, kontrol kognitif, dan pemrosesan reflektif akibat paparan media digital yang bersifat overstimulating secara terus-menerus. Fenomena tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep attentional fragmentation, digital overstimulation, dan cognitive overload dalam kajian psikologi digital modern. Gyl . menjelaskan bahwa paparan konten digital instan secara terus-menerus dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, pemrosesan informasi, dan kedalaman berpikir Siraj . juga menjelaskan bahwa media sosial, video singkat, dan hiburan instan membentuk pola konsumsi informasi yang cepat tetapi kurang reflektif sehingga individu menjadi lebih terbiasa menerima stimulus singkat dibandingkan melakukan pemrosesan informasi secara mendalam. Kategori sedang pada brain rot menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya mengalami gangguan kognitif yang berat, namun mulai memperlihatkan perubahan pola perhatian akibat tingginya konsumsi media digital. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh karakteristik remaja generasi digital yang terbiasa mengakses informasi secara cepat melalui video singkat seperti TikTok dan Instagram Reels, dan konten hiburan instan Pola konsumsi informasi yang cepat dan terfragmentasi tersebut dapat membentuk kebiasaan multitasking digital serta menurunkan kemampuan perhatian berkelanjutan . ustained attentio. Akibatnya, siswa menjadi lebih mudah terdistraksi dan cenderung menginginkan proses informasi yang singkat serta praktis dibandingkan proses berpikir reflektif yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Aspek intrinsic load berada pada kategori sedang yang menunjukkan bahwa sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menghubungkan informasi yang diterima secara optimal. Dalam Cognitive Load Theory, intrinsic load berkaitan dengan tingkat kompleksitas informasi yang harus diproses individu berdasarkan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya (Sweller, 2. Tingginya paparan konten digital yang disajikan secara singkat dan instan dapat membuat siswa terbiasa menerima informasi dalam bentuk yang sederhana dan cepat dipahami. Akibatnya, ketika dihadapkan pada materi pembelajaran yang lebih kompleks dan membutuhkan Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 57-69 Mei 2026 pemahaman mendalam, siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi informasi digital yang serba cepat berpotensi memengaruhi kesiapan kognitif siswa dalam memproses informasi yang lebih kompleks dan terstruktur. Aspek extraneous load menjadi bagian yang paling dominan dalam brain rot Dalam Cognitive Load Theory, extraneous load merupakan beban kognitif tambahan yang muncul akibat penyajian informasi yang tidak relevan, tidak terstruktur, atau penuh distraksi (Sweller, 2. Tingginya extraneous load pada siswa menunjukkan bahwa paparan media digital yang berlebihan menyebabkan kapasitas perhatian siswa lebih banyak digunakan untuk memproses stimulus yang tidak penting dibandingkan memahami informasi utama. Kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik media sosial modern yang menyajikan informasi secara cepat, berulang, dan terus berganti sehingga perhatian individu mudah terpecah. Husaini . juga menjelaskan bahwa paparan konten instan secara berlebihan dapat menurunkan kedalaman perhatian dan refleksi kognitif remaja. Reduced germane load berada dalam kategori sedang yang menunjukkan bahwa siswa mulai mengalami penurunan kemampuan dalam mengolah, mengintegrasikan, dan memahami informasi secara mendalam. John Sweller menjelaskan bahwa reduced germane load berkaitan dengan kemampuan individu membangun pemahaman dan struktur pengetahuan baru melalui proses kognitif yang optimal (Sweller, 2. Ketika siswa terlalu terbiasa mengonsumsi informasi singkat dan instan, kemampuan melakukan refleksi, analisis, dan pemaknaan informasi menjadi berkurang. menjelaskan bahwa pola informasi digital yang cepat dan terfragmentasi dapat menurunkan kemampuan remaja memahami informasi secara utuh dan mendalam. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas belajar siswa karena proses pembelajaran membutuhkan perhatian yang stabil dan pemrosesan informasi yang lebih mendalam dibandingkan konsumsi konten digital sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena brain rot pada siswa perlu mendapatkan perhatian karena tidak hanya berkaitan dengan penggunaan media digital, tetapi juga berhubungan dengan kualitas perhatian, kemampuan belajar, dan fungsi kognitif remaja. Temuan ini memperkuat bahwa overstimulasi digital dapat meningkatkan extraneous cognitive load dan memengaruhi kemampuan siswa dalam mempertahankan fokus belajar. Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan layanan bimbingan dan konseling perlu membantu siswa membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, meningkatkan kemampuan pengendalian diri dalam penggunaan media sosial, serta mengembangkan pola belajar yang lebih reflektif agar dampak brain rot dapat Hubungan Psychological Well-Being dengan Brain Rot pada Siswa Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being dengan brain rot pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,611 dengan signifikansi <0,001. Nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara psychological well-being dan brain rot berada pada kategori kuat dengan arah hubungan negatif. Artinya, semakin tinggi psychological well-being siswa, maka semakin rendah kecenderungan brain rot yang dialami. Sebaliknya, siswa dengan psychological well-being rendah cenderung lebih rentan mengalami gangguan perhatian, distraksi kognitif, dan penurunan kualitas pemrosesan informasi akibat paparan media digital yang berlebihan. Temuan ini menunjukkan bahwa psychological well-being dapat berperan sebagai faktor protektif terhadap kecenderungan brain rot pada remaja, meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor yang memengaruhi. Secara psikologis, hubungan kedua variabel tersebut berkaitan dengan kemampuan regulasi diri, kontrol perhatian, dan pengelolaan emosi dalam penggunaan media digital. Emelia. Sulistiyana. Jamain. Hubungan psychological well-being A. Remaja dengan psychological well-being yang baik cenderung memiliki kemampuan self-regulation yang lebih optimal sehingga mampu mengontrol impuls penggunaan media sosial, membatasi paparan konten instan, dan mempertahankan fokus dalam aktivitas belajar (Sesarelia et al. , 2. Sebaliknya, remaja dengan psychological wellbeing rendah lebih rentan menggunakan media digital sebagai bentuk pelarian emosional . motional copin. ketika mengalami stres, kebosanan, atau tekanan sosial. Kondisi tersebut dapat meningkatkan paparan konten digital yang bersifat cepat, dangkal, dan overstimulating sehingga perhatian siswa menjadi mudah terpecah dan kemampuan pemrosesan reflektif menjadi menurun. Paparan video singkat, infinite scrolling, dan konten instan pada media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels dapat membentuk kebiasaan konsumsi informasi yang cepat tetapi kurang mendalam. Akibatnya, siswa menjadi lebih terbiasa menerima stimulus singkat dibandingkan mempertahankan perhatian dalam waktu lama pada aktivitas belajar yang membutuhkan konsentrasi dan refleksi lebih mendalam. Temuan penelitian ini sejalan dengan Sala et al. yang menjelaskan bahwa penggunaan media digital yang berlebihan berkaitan dengan menurunnya kesehatan mental dan psychological well-being remaja. Groenestein et al. juga menjelaskan bahwa fear of missing out akibat penggunaan media sosial dapat menurunkan kepuasan kebutuhan psikologis sekaligus meningkatkan distraksi perhatian. Selain itu. Rahaman & Saidi . mengemukakan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang tidak terkontrol tidak hanya memengaruhi aspek emosional remaja, tetapi juga berkaitan dengan kualitas perhatian dan fungsi kognitifnya. Hubungan antara psychological well-being dan brain rot juga dapat dijelaskan melalui Cognitive Load Theory yang dikembangkan oleh John Sweller. Sweller . menjelaskan bahwa beban kognitif yang berlebihan dapat menghambat proses perhatian, pemahaman, dan pembelajaran individu. Ketika siswa terlalu sering terpapar stimulus digital yang cepat dan tidak terstruktur, kapasitas kognitif mereka lebih banyak digunakan untuk memproses distraksi dibandingkan memahami informasi secara mendalam. Sebaliknya, psychological well-being yang baik membantu individu mempertahankan kestabilan emosi, mengelola stres, dan menjaga fokus sehingga fungsi kognitif tetap berjalan lebih optimal. Dengan demikian, kesejahteraan psikologis dapat membantu siswa mengelola perilaku digital secara lebih sehat dan mengurangi risiko munculnya brain rot. Kondisi di atas juga tidak terlepas dari karakteristik remaja generasi digital yang hidup dalam lingkungan dengan arus informasi cepat dan paparan media sosial yang Remaja saat ini cenderung terbiasa memperoleh hiburan dan informasi secara instan sehingga kemampuan perhatian jangka panjang . ustained attentio. menjadi lebih rentan terganggu. Dalam konteks siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin, penggunaan media sosial yang tinggi pada remaja juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan hiburan, interaksi sosial virtual, serta kebiasaan penggunaan gawai setelah pembelajaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fenomena brain rot tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi semata, tetapi juga dipengaruhi oleh pola perilaku digital dan lingkungan sosial remaja saat ini. Brain rot juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik remaja sekolah menengah pertama pada era pasca-pandemi yang semakin terbiasa menggunakan media digital dalam aktivitas sehari-hari. Pada remaja di lingkungan perkotaan seperti Banjarmasin, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari interaksi sosial dan pembentukan identitas diri. Paparan konten video singkat melalui TikTok. Instagram Reels, dan platform serupa menyebabkan siswa lebih terbiasa menerima informasi secara cepat dan instan. Di sisi lain, tuntutan akademik sekolah serta tingginya aktivitas digital membuat remaja rentan mengalami distraksi perhatian dan Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Volume 16 . 57-69 Mei 2026 kelelahan kognitif. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan siswa dalam mempertahankan fokus belajar, mengelola perhatian, serta membangun kesejahteraan psikologis secara optimal. Secara teoritis, hasil penelitian ini memperkuat Cognitive Load Theory yang menjelaskan bahwa paparan informasi digital berlebihan dapat meningkatkan extraneous cognitive load dan mengganggu proses perhatian serta pemahaman individu. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa psychological well-being dapat dipandang sebagai faktor protektif dalam perilaku digital remaja karena berkaitan dengan kemampuan regulasi diri, kontrol perhatian, dan pengelolaan emosi dalam penggunaan media digital. Temuan ini memperluas kajian psikologi pendidikan digital mengenai hubungan kesejahteraan psikologis dengan dampak kognitif penggunaan media digital pada remaja. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa psychological wellbeing dan brain rot memiliki keterkaitan yang cukup erat pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin. Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan layanan bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membantu siswa mengembangkan kesejahteraan psikologis, kemampuan regulasi diri, serta kebiasaan penggunaan media digital yang lebih sehat agar dampak brain rot pada remaja dapat diminimalkan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian hanya dilakukan pada satu sekolah sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas pada populasi remaja lainnya. Kedua, penggunaan instrumen self-report memungkinkan munculnya bias subjektivitas jawaban siswa. Ketiga, desain penelitian korelasional tidak dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat antara psychological well-being dan brain rot. Selain itu, konsep brain rot masih berkembang dalam kajian psikologi digital sehingga diperlukan pengembangan instrumen dan penguatan kajian teoritis pada penelitian SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pada siswa kelas Vi di SMPN 3 Banjarmasin, diketahui bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah, sedangkan kecenderungan brain rot berada pada kategori sedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam menjaga kesejahteraan psikologis serta mulai mengalami gangguan perhatian dan pemrosesan informasi akibat penggunaan media digital yang berlebihan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara psychological wellbeing dengan brain rot. Siswa dengan psychological well-being yang baik cenderung memiliki kemampuan regulasi diri, pengelolaan emosi, dan kontrol perhatian yang lebih optimal sehingga lebih mampu mengelola penggunaan media digital secara sehat. Temuan ini menunjukkan bahwa psychological well-being dapat berperan sebagai faktor protektif terhadap dampak negatif perilaku digital pada remaja. Oleh karena itu, sekolah, keluarga, dan layanan bimbingan dan konseling perlu membantu siswa membangun kebiasaan penggunaan media digital yang sehat serta mengembangkan psychological well-being agar dampak brain rot pada remaja dapat diminimalkan. PERNYATAAN KONTRIBUSI PENULIS Pada penelitian ini E berkontribusi dalam perencanaan penelitian, penyusunan instrumen penelitian, pengumpulan dan analisis data. S berperan sebagai supervisi pelaksanaan treatment, dan penyusunan manuskrip. Kemuadian RJ berperan sebagai ahli pengembangan instrumen, pembimbing penelitian, serta revisi dan membantu dalam penyusunan manuskrip. DAFTAR PUSTAKA