Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Optimalisasi Pembelajaran Fikih melalui Pendekatan Problem-Based Learning untuk Meningkatkan Pemahaman dan Pengamalan Siswa di MI Darul Hikmah Ulfatul Hasanah1. Mashuliyanah2 1 Mi Darul Hikmah 2 RA Baitul Amilin Correspondence: ulfatulhasanah61@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Fiqh. Problem-Based Learning. Student Engagement. MI Darul Hikmah. Islamic Education. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding and application of Fiqh at MI Darul Hikmah by implementing a Problem-Based Learning (PBL) approach. The study addresses challenges in engaging students with the practical aspects of Fiqh and its relevance to daily life. By using PBL, students are encouraged to solve real-life problems that require the application of Fiqh principles, promoting critical thinking, problem-solving skills, and deeper engagement with the subject. The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection. Data were collected through classroom observations, student assessments, and The findings show that the PBL approach significantly improved students' motivation, participation, and understanding of Fiqh. Students demonstrated a better ability to relate the concepts of Fiqh to their daily practices, such as prayer, fasting, and zakat. This research highlights the effectiveness of using a student-centered learning approach to teach Fiqh, as it encourages active learning, collaboration, and real-world application of Islamic teachings. The study provides valuable insights for educators looking to improve Fiqh education in elementary schools. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Fikih di tingkat Madrasah Ibtidaiyah memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman agama yang mendalam bagi siswa sejak dini. Fikih, sebagai cabang ilmu yang mengatur tata cara ibadah dan kehidupan sosial umat Islam, perlu diajarkan dengan pendekatan yang tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga pemahaman konsep dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Di MI Darul Hikmah, pelajaran Fikih seringkali dirasakan kurang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa, karena metode pembelajaran yang digunakan masih konvensional, seperti ceramah atau hafalan tanpa dihubungkan dengan pengalaman nyata siswa (Budi, 2. Hal ini menyebabkan siswa kurang memahami pentingnya Fikih dalam kehidupan mereka. Selain itu, sebagian besar siswa di MI Darul Hikmah menunjukkan rendahnya motivasi dalam mengikuti pelajaran Fikih. Mereka cenderung melihat pelajaran ini hanya sebagai mata pelajaran yang harus dihafal tanpa ada hubungan dengan kehidupan nyata mereka. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang tidak menemukan relevansi dalam materi pelajaran cenderung kehilangan minat dan motivasi untuk mempelajarinya lebih dalam (Sulaiman, 2. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih menarik dan kontekstual sangat diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa terhadap Fikih. Penerapan metode pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis masalah menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran Fikih. Penelitian sebelumnya menunjukkan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBL) dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan membantu mereka untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata (Rani, 2. Dengan memberikan masalah-masalah yang relevan dengan kehidupan seharihari siswa, mereka akan merasa lebih tertantang untuk menemukan solusi yang sesuai dengan prinsip Fikih, yang pada akhirnya meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Namun, meskipun metode PBL terbukti efektif, implementasinya di MI Darul Hikmah masih Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kurangnya keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran berbasis masalah secara efektif. Guru perlu mendapatkan pelatihan lebih lanjut tentang bagaimana merancang masalah yang relevan dengan materi Fikih dan mengelola diskusi kelompok yang produktif. Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan . mengungkapkan bahwa guru yang terlatih dalam metode PBL dapat mengelola kelas dengan lebih baik, meningkatkan partisipasi siswa, dan memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam terhadap materi ajar. Pembelajaran Fikih yang hanya berfokus pada hafalan sering kali mengabaikan pentingnya pengamalan nilai-nilai Fikih dalam kehidupan sehari-hari siswa. Penelitian menunjukkan bahwa pengajaran Fikih yang hanya berfokus pada aspek kognitif, tanpa memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik, dapat menghambat pemahaman siswa dalam menerapkan ajaran agama (Fachrudin, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan aspek-aspek pengamalan dalam pembelajaran Fikih, seperti praktik ibadah, pemahaman tentang zakat, dan etika sosial berdasarkan prinsip-prinsip Fikih. Selain itu, keterbatasan sumber daya dan fasilitas yang mendukung pembelajaran juga menjadi kendala dalam pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah. Kurangnya media pembelajaran yang menarik, seperti alat peraga atau aplikasi digital, membuat pembelajaran terasa monoton. Penelitian tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama menunjukkan bahwa integrasi teknologi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mempermudah mereka dalam memahami konsep-konsep yang lebih kompleks (Syahrial & Fadillah, 2. Oleh karena itu, diperlukan penggunaan teknologi dalam pembelajaran Fikih untuk membuat materi lebih interaktif dan menyenangkan bagi siswa. Salah satu solusi untuk mengatasi kendala ini adalah dengan mengadaptasi pendekatan pembelajaran kontekstual yang mengaitkan materi Fikih dengan kehidupan nyata siswa. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk mengaitkan prinsip-prinsip Fikih dengan pengalaman sehari-hari mereka, misalnya dengan memahami zakat dalam konteks distribusi kekayaan di masyarakat, atau memahami tata cara shalat dengan melibatkan kegiatan praktis (Suryadi, 2. Pendekatan ini dapat memperkaya pemahaman siswa dan meningkatkan relevansi materi yang diajarkan. Namun, meskipun pembelajaran kontekstual memiliki banyak manfaat, implementasinya juga memerlukan kesiapan dari berbagai pihak, terutama guru dan orang tua. Guru perlu memiliki keterampilan untuk menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, sementara orang tua perlu mendukung pembelajaran anak di rumah. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan orang tua sangat berperan dalam keberhasilan pembelajaran, terutama dalam pendidikan agama (Rahman, 2. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangat penting dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan Fikih oleh siswa. Keterbatasan waktu yang tersedia untuk mengajarkan Fikih juga menjadi tantangan dalam pembelajaran di MI Darul Hikmah. Waktu yang terbatas seringkali membuat materi Fikih tidak dapat dibahas secara mendalam, dan pembelajaran yang terjadi hanya sebatas pada hafalan atau pemahaman permukaan. Penelitian tentang pembelajaran di madrasah menunjukkan bahwa waktu yang terbatas dapat menghambat pengembangan pemahaman yang lebih holistik dan aplikatif (Setiawan & Maulana, 2. Oleh karena itu, perlu adanya penataan kembali waktu dan alokasi jam pelajaran agar materi Fikih dapat dipelajari lebih mendalam dan lebih aplikatif. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Fikih adalah pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Banyak siswa yang hanya menerima ajaran agama secara tekstual tanpa memahami konteks dan tujuan dari ajaran tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran agama yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis dapat membantu siswa untuk lebih memahami makna ajaran agama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka (Putra, 2. Dengan demikian, penting untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Fikih agar mereka dapat mengerti dan mengamalkan ajaran agama dengan cara yang lebih mendalam. Pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah juga perlu memperhatikan aspek karakter siswa. Pendidikan agama tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan pembentukan karakter yang baik. Pembelajaran Fikih yang menekankan pada pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu siswa dalam membentuk karakter yang baik, seperti jujur, sabar, dan peduli terhadap sesama. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama yang mengintegrasikan aspek moral dan karakter dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan kepribadian siswa (Syurgawi & Yusuf, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis masalah. Pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan memanfaatkan media pembelajaran yang lebih interaktif dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Fikih. Kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua juga sangat penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Fikih dan membentuk karakter siswa yang lebih baik. Untuk itu, penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam merancang model pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa. Pembelajaran Fikih yang berbasis pada pengamalan dan pemahaman nilai-nilai agama akan membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan mereka, serta memperkuat karakter mereka sebagai individu yang taat dan bertanggung jawab (Fachrudin, 2. RESEARCH METHODS Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih di MI Darul Hikmah. PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan secara langsung dalam proses pembelajaran dan mengevaluasi efektivitas tindakan yang dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. PTK memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran, mengimplementasikan perbaikan, dan melakukan evaluasi secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran (Kemmis & McTaggart, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama guru menyusun rencana pembelajaran berbasis masalah yang bertujuan untuk menghubungkan materi Fikih dengan kehidupan sehari-hari Dalam perencanaan ini, peneliti memilih topik yang relevan, merancang kegiatan diskusi, eksperimen, serta merencanakan penggunaan media pembelajaran seperti video atau aplikasi interaktif untuk mendukung pembelajaran yang lebih menarik dan kontekstual. Rencana ini juga mencakup evaluasi yang lebih komprehensif, tidak hanya mengandalkan tes hafalan, tetapi juga mencakup observasi sikap dan pengamalan nilai yang diajarkan (Sulaiman. Setelah perencanaan, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini, guru mengimplementasikan rencana pembelajaran yang telah disusun. Selama pelaksanaan, peneliti Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengamati aktivitas siswa di kelas, baik dalam kegiatan diskusi kelompok maupun dalam praktek pengamalan nilai Fikih, seperti shalat berjamaah atau zakat. Siswa diberikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan ajaran Fikih, seperti permasalahan sosial yang memerlukan solusi sesuai dengan prinsip Fikih. Observasi dilakukan untuk mencatat interaksi siswa, keterlibatan mereka, dan bagaimana mereka mengaplikasikan konsep Fikih yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari (Rani, 2. Tahap berikutnya adalah observasi, di mana peneliti mencatat perkembangan siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana metode yang diterapkan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi Fikih, serta untuk menilai tingkat keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran. Selama observasi, peneliti mencatat apakah siswa dapat menghubungkan prinsip-prinsip Fikih dengan tindakan nyata mereka, serta perubahan sikap siswa dalam hal kepatuhan terhadap ajaran agama. Data observasi juga digunakan untuk menilai efektivitas metode pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai agama oleh siswa (Fachrudin, 2. Pada tahap refleksi, peneliti dan guru menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi, tes, dan umpan balik siswa. Refleksi bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai, apakah siswa lebih aktif dan lebih memahami konsep-konsep Fikih, serta apakah pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka semakin meningkat. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru melakukan perbaikan untuk siklus berikutnya. Perbaikan ini mencakup penyempurnaan metode pembelajaran, penyesuaian waktu, dan penambahan media atau sumber belajar yang lebih relevan dengan konteks siswa. Dengan siklus berulang, diharapkan pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah dapat semakin efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa (Suryadi, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) pada materi Fikih di MI Darul Hikmah berhasil meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap materi. Sebelum implementasi PBL, banyak siswa yang merasa materi Fikih kurang relevan dan sulit dipahami karena hanya mengandalkan hafalan teks tanpa aplikasi Dengan menerapkan PBL, siswa diberikan tantangan yang menghubungkan prinsipprinsip Fikih dengan situasi kehidupan mereka, seperti permasalahan zakat atau adab dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya, siswa lebih aktif terlibat dalam diskusi dan lebih mudah mengaitkan pembelajaran dengan praktik kehidupan mereka (Sulaiman, 2. Dalam siklus pertama, meskipun ada peningkatan dalam partisipasi, sebagian siswa masih merasa kesulitan ketika materi menjadi lebih abstrak atau memerlukan pemahaman konteks yang lebih mendalam, seperti hukum yang berhubungan dengan transaksi atau ekonomi dalam Fikih. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun PBL meningkatkan pemahaman, masih ada tantangan dalam memperkuat konsep dasar yang lebih rumit (Fachrudin, 2. Pembelajaran yang lebih mendalam mengenai dasar-dasar Fikih perlu diberikan di awal agar siswa dapat mengikuti dengan lebih mudah materi yang lebih kompleks di kemudian hari. Penerapan media pembelajaran yang variatif juga terbukti sangat membantu meningkatkan pemahaman siswa. Dalam penelitian ini, penggunaan video pembelajaran dan alat peraga yang relevan dengan situasi sehari-hari siswa membuat mereka lebih tertarik dan lebih mudah menyerap informasi. Media ini memperkaya pengalaman belajar mereka dan membuat materi Fikih terasa lebih hidup dan mudah diterima. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama dapat meningkatkan minat dan keterlibatan siswa (Syahrial & Fadillah, 2. Oleh karena itu, media pembelajaran yang tepat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran berbasis masalah. Selain itu, model PBL berhasil meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah. Dalam tugas kelompok, siswa diajak untuk menganalisis dan mencari Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 solusi terhadap situasi yang dihadapi berdasarkan prinsip Fikih, seperti masalah zakat atau syarat sah ibadah. Pembelajaran seperti ini menuntut mereka untuk berpikir lebih dalam tentang ajaran yang mereka pelajari dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang penting dalam memahami ajaran agama secara lebih aplikatif (Setiawan, 2. Meskipun ada banyak aspek positif dari penerapan model PBL, kendala yang dihadapi adalah waktu yang terbatas untuk mendalami semua konsep yang relevan. Dengan alokasi waktu yang ada, beberapa materi penting dalam Fikih tidak dapat dibahas secara mendalam. Ini mengindikasikan bahwa waktu pembelajaran perlu dikelola dengan baik agar setiap topik dapat dibahas secara tuntas, mengingat kedalaman materi yang harus dikuasai siswa. Penelitian menunjukkan bahwa alokasi waktu yang cukup dalam pembelajaran agama penting untuk memungkinkan siswa memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama dengan baik (Putra. Evaluasi yang dilakukan setelah setiap siklus menunjukkan bahwa siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman materi dan pengamalan nilai-nilai agama, terutama dalam hal pengaplikasian Fikih dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang sebelumnya hanya menghafal teks-teks Fikih sekarang lebih mampu memahami dan menerapkan prinsipprinsip tersebut dalam konteks yang lebih konkret. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis konteks kehidupan nyata dapat meningkatkan kualitas pengajaran Fikih (Handayani, 2. Selain itu, refleksi yang dilakukan oleh siswa di akhir siklus pembelajaran menunjukkan bahwa mereka merasa lebih memahami dan mengaplikasikan prinsip Fikih setelah pembelajaran berbasis masalah. Mereka merasa lebih tertantang untuk memecahkan masalah yang diberikan dan lebih memahami pentingnya penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa refleksi dalam pembelajaran agama tidak hanya memperbaiki pemahaman kognitif, tetapi juga memperkuat pengamalan nilai-nilai dalam diri siswa (Syurgawi & Yusuf, 2. Hasil tes yang diadakan setelah siklus kedua menunjukkan peningkatan skor yang signifikan dalam pemahaman konsep Fikih. Siswa yang sebelumnya memiliki nilai rendah dalam tes Fikih, setelah mengikuti pembelajaran dengan metode PBL, menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang prinsip-prinsip dasar Fikih, termasuk hukum zakat, shalat, dan transaksi Peningkatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik kehidupan nyata dapat mempercepat pemahaman dan penerapan materi ajar (Rani, 2. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan untuk mendiskusikan dan membagikan pemahaman mereka terhadap Fikih dengan teman-teman mereka. Proses diskusi kelompok memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan saling memberi pendapat mengenai cara-cara yang benar dalam menjalankan ajaran agama. Penelitian menunjukkan bahwa diskusi kelompok dalam pembelajaran agama dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan (Fadillah & Achadi, 2. Namun, meskipun hasil tes dan evaluasi menunjukkan peningkatan, masih terdapat perbedaan antara kemampuan siswa yang memiliki pemahaman dasar yang kuat dan mereka yang membutuhkan penguatan lebih lanjut. Beberapa siswa mengalami kesulitan dalam memahami beberapa konsep yang lebih abstrak, terutama yang berkaitan dengan hukum Fikih yang lebih Oleh karena itu, perlu ada tindak lanjut yang lebih fokus pada penguatan dasardasar Fikih untuk siswa yang membutuhkan bantuan tambahan (Sulaiman, 2. Peningkatan pengamalan nilai-nilai agama juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa mulai lebih rajin dalam menjalankan ibadah seperti shalat berjamaah, zakat, dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 menghormati hak sesama. Mereka juga lebih peka terhadap penerapan prinsip Fikih dalam interaksi sosial, seperti berlaku jujur dalam bertransaksi atau menjaga adab dalam berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif tetapi juga mengembangkan sikap dan karakter siswa (Rahman, 2. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam materi Fikih di MI Darul Hikmah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata siswa, didukung dengan media yang tepat dan evaluasi yang berkelanjutan, dapat memperdalam pemahaman siswa dan meningkatkan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi penting untuk pengembangan pembelajaran Fikih yang lebih efektif dan kontekstual di masa depan (Suryadi. CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan di MI Darul Hikmah, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) pada materi Fikih berhasil meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan pengamalan siswa terhadap materi yang Pembelajaran yang menghubungkan prinsip-prinsip Fikih dengan kehidupan nyata siswa melalui penerapan skenario kontekstual membuat materi menjadi lebih relevan dan mudah dipahami. Siswa tidak hanya menghafal teks, tetapi juga belajar untuk menerapkan ajaran agama dalam situasi yang mereka hadapi setiap hari. Model PBL juga terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Melalui diskusi kelompok dan pemecahan masalah, siswa diajak untuk menganalisis permasalahan sosial yang berkaitan dengan ajaran Fikih, seperti zakat atau transaksi dalam Islam. Hal ini meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir lebih mendalam tentang penerapan hukum agama dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, peningkatan dalam sikap dan pengamalan nilai agama juga terlihat jelas, dengan siswa yang lebih aktif dalam menjalankan ibadah dan menunjukkan perilaku yang lebih baik dalam kehidupan sosial mereka. Meskipun ada peningkatan signifikan, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan waktu dan beberapa siswa yang masih kesulitan memahami materi yang lebih kompleks. Oleh karena itu, penguatan pemahaman dasar Fikih bagi siswa yang membutuhkan bantuan tambahan sangat Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah metode yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Fikih di MI Darul Hikmah. Pembelajaran yang lebih kontekstual, aktif, dan relevan dapat memotivasi siswa untuk lebih memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan mereka seharihari. REFERENCES