Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Halaman 6-13. Februari 2026 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS DOI: 10. 63004/jfs. Uji Aktivitas Penghambatan Enzim -Glukosidase pada Ekstrak dan Fraksi Akar Wanga (Pigafetta elat. Secara In-vitro In vitro -Glukosidase Inhibitory Activity of Root Extracts and Fractions Wanga (Pigafetta elat. Fitriyanti Jumaetri Sami1*. Akbar Awaluddin2. Alberispon Rerung1 Program Studi Farmasi. Bagian Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal. Universitas Almarisah Madani. Indonesia Program Studi Farmasi. Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik. Universitas Almarisah Madani. Indonesia *Corresponding author: fitriyantisami@gmail. ABSTRAK Suatu penyakit yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi kadar normal akibat gangguan metabolisme karbohidrat menjadi glukosa disebut diabetes melitus. Pada sistem pencernaan enzim -glukosidase mengubah karbohidrat menjadi glukosa, penghambatan enzim -glukosidase untuk mengendalikan kadar gula darah. Penghambatan enzim glukosidase akan memberikan dampak penundaan penyerapan glukosa. Wanga merupakan tumbuhan endemik Sulawesi dan banyak tersebar di Kabupaten Toraja. Potensi tumbuhan wanga belum maksimal pemanfaatannya, kajian ilmiah mengenai tumbuhan ini khususnya untuk obat masih sangat sedikit. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas penghambatan enzim -glukosidase dari ekstrak dan fraksi akar tumbuhan wanga yang dilakukan secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan penghambatan enzim -glukosidase dengan nilai IC50 pada ekstrak etanol sebesar 56. 451 AAg/mL, fraksi n-heksan sebesar 155. AAg/mL, fraksi etil asetat sebesar 42. 676 AAg/mL, dan fraksi air sebesar 288. 83 AAg/mL. Sedangkan untuk kontrol positif menggunakan akarbose diperoleh nilai IC 50 sebesar 9. AAg/mL. Dari data tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan ekstrak etanol akar tumbuhan wanga memiliki aktivitas penghambatan yang lebih tinggi dengan kategori aktif dibandingkan fraksi lainnya. Namun kategori fraksi etil asetat dan ekstrak etanol masih lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol positif akarbose yang bersifat sangat aktif dalam menghambat enzim -Glukosidase. Kata kunci: -glukosidase, akar wanga, diabetes. Pigafetta elata This is an open access article under the CC BY-NC 4. ABSTRACT Diabetes mellitus is a disease with a disturbance in the metabolism of carbohydrates into glucose which is characterized by an increase in blood sugar levels above normal levels. Inhibition of the -glucosidase enzyme to control blood sugar levels, this enzyme can convert carbohydrates into glucose in the digestive system. Inhibition of the -glucosidase enzyme will have the effect of delaying glucose absorption. Wanga is an endemic plant to Sulawesi and is widely distributed in Toraja Regency. The potential for use of the wanga plant has not been maximized, there are still very few scientific studies regarding this plant, especially for The aim of this research is to determine the inhibitory activity of the -glucosidase enzyme from extracts and root fractions of Wanga plants carried out in vitro. The results showed inhibition of the -glucosidase enzyme with an IC50 value for the ethanol extract of 56,451 AAg/mL, the n-hexane fraction of 155,86 AAg/mL, the ethyl acetate fraction of 42,676 AAg/mL, and the water fraction of 288,83 AAg/mL. Meanwhile, for the positive control using acarbose, the IC50 value was 9,536 AAg/mL. These data show that the ethyl acetate fraction and ethanol extract of Wanga plant roots have higher inhibitory activity in the active category than the other fractions. However, the ethyl acetate fraction and ethanol extract categories are still lower when compared to the positive control of acarbose which is very active in inhibiting the -Glucosidase enzyme. Keywords: -glukosidase, diabetes. Pigafetta elata, wanga root PENDAHULUAN Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat potensial untuk mengembangkan obat herbal yang berbasis pada tumbuhan. Hingga saat ini sudah lebih dari 1000 spesies tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat. Tumbuhan tersebut dapat dikembangkan menjadi obat untuk berbagai penyakit karena kandungan metabolit sekunder yang struktur molekulnya beranekaragam (Syarif et al. , 2. Jurnal Farmasi SYIFA Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi kadar normal, hal ini terjadi karena adanya gangguan metabolisme karbohidrat menjadi glukosa. Prevalensi meningkatnya penyakit ini dari tahun ke tahun menunjukkan perlunya perhatian serius dalam terapi penyakit diabetes melitus (Ebrahimi et al. , 2017. GaliciaGarcia et al. , 2020. Alam et al. , 2. Pada pencernaan enzim -glukosidase dapat mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Penghambatan enzim ini untuk mengendalikan kadar gula darah, akan memberikan dampak penundaan penyerapan Obat-obat sintesis yang digunakan dalam terapi sering menyebabkan efek samping, resistensi insulin dan biaya yang tinggi akibat pengobatan jangka panjang (Van de Laar et al. , 2005. Standl & Schnell, 2. Karena hal tersebut para peneliti banyak melakukan riset dari tumbuhan alam untuk mendapatkan obat alternatif dengan efikasi yang lebih baik, sehingga penderita penyakit diabetes Hal ini bisa meningkatkan peluang untuk bisa sembuh, minimal dengan menjaga agar kadar glukosa darah terkontrol dan efek samping yang minimal dengan biaya yang relatif terjangkau (Irwandi et al. , 2018. Salah satu jenis palma yang tinggi dan indah adalah tumbuhan wanga atau banga (Pigafetta elat. (Rezha Aras et al. , 2. Pigafetta terdiri dari dua spesies yaitu Pigafetta fillaris dan Pigafetta elata. elata merupakan tumbuhan endemik dari Sulawesi. Tumbuhan ini tersebar di Sulawesi Selatan dan banyak ditemukan di Kabupaten Toraja. Sedangkan P. fillaris tersebar di Maluku dan Papua Nugini (Syamsiah et al. Masyarakat kabupaten Toraja menggunakan bagian akar tumbuhan wanga, tumbuhan ini digunakan masyarakat sebagai obat luka pasca operasi dan obat bisul. Diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi luka operasi, yang merupakan salah satu penyebab kematian pasca operasi. Potensi tumbuhan wanga belum maksimal pemanfaatannya, kajian ilmiah mengenai tumbuhan ini khususnya untuk obat masih sangat sedikit. Berdasarkan hal tersebut penghambatan enzim -glukosidase dari ekstrak Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 dan fraksi tumbuhan wanga (Pigafetta elat. untuk pengobatan diabetes melitus. METODE Rancangan Penelitian Penelitian rancangan eksperimental berskala laboratorium the post test only control group design. Sampel penelitian diambil di BuntaoAo kabupaten Toraja Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal, dan Laboratorium Penelitian Terpadu Universitas Almarisah Madani. Variabel terikat pada penelitian ini adalah aktivitas penghambatan Enzim -glukosidase, sedangkan variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak dan fraksi akar tumbuhan wanga (Pigafetta elat. Alat Alat yang di gunakan dalam penelitian ini antara lain batang pengaduk, bejana maserasi, beaker gelas . , cawan porselin, corong, gelas kimia, tabung reaksi, wadah penguap, tabung mikrosentrifuge. Elisa reader . iotek Elx. , gelas ukur, inkubator, mikro pipet, labu ukur, oven simplisia, pipet tetes, plat well 96, rotary evaporator, timbangan analitik dan vortex. Bahan Bahan-bahan yang digunakan yaitu, etanol 70%, n-hexan, etil asetat,aquadest,pereaksi mayer, eter. H2SO4,asam asetat. HCl, akarbose . exa medic. , aluminium foil, aquadest, buffer fosfat pH 7,0, enzim -Glukosidase (Sigma Aldric. , (Na2HPO. , dihidrogen fosfat (NaH2PO. natrium karbonat (Na2CO. , p-nitrofenil--D-glukopiranosida (PNPG) dan akar tamanan wanga(Pigafetta elat. Pembuatan Ekstrak Simplisia akar Pigafetta. elata yang telah berbentuk serbuk sebanyak 1 kg dimaserasi menggunakan pelarut etanol 70% dengan perbandingan 1:7,5. Sampel dimasukkan ke dalam wadah maserasi kemudian lakukan pembasahan dan tambahkan pelarut etanol sampai seluruh sampel terendam selama 2-3 hari dan sesekali dilakukan pengadukan. Filtrat dan residu kemudian dipisahkan dengan cara penyaringan. Hasil pemisahan dengan pelarut dilanjutkan dengan Jurnal Farmasi SYIFA penguapan dengan rotavapor hingga ekstrak yang diperoleh menjadi lebih kental. Fraksinasi Fraksinasi ekstrak dilakukan secara partisi dengan menggunakan campuran dua pelarut yang memiliki kepolaran yang berbeda yaitu metode ekstraksi cair-cair (ECC). Ekstraksi dilakukan dari pelarut non polar ke polar. Campuran pelarut pertama adalah campuran n-heksan : air dan yang kedua campuran etil asetat : air. Ekstrak kental yang akan di ECC ditimbang sebanyak 20. 51 g dan dilarutkan dalam Larutan menggunakan corong pisah dengan menambahkan palarut n-heksan, kemudian dikocok dan didiamkan hingga terdapat dua lapisan . quadest pada bagian bawah dan n-heksan bagian ata. Lapisan yang terbentuk kemudian dipisahkan, diambil lapisan n-heksan. Proses penambahan pelarut n-heksan diulangi sampai n-heksan menjadi Lapisan aquadest kemudian difraksinasi kembali dengan cara yang sama menggunakan pelarut etil asetat. Terakhir didapatkan fraksi air, semua fraksi diuapkan dan dihitung rendemennya. Hasil Fraksinasi diuapkan menggunakan alat rotary evaporator hingga diperoleh fraksi pekat (Runtuwene et al. , 2. Selanjutnya dilakukan skrining fitokimia alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, terpenoid dan steroid (Nur et al. , 2. Penyiapan Larutan -Glukosidase . 025 U/mL) Enzim -Glukosidase ditimbang 10 mg dan dilarutkan menggunakan dapar fosfat pH . 10 mL kemudian didapatkan larutan enzim glukosidase . U/mL). Selanjutnya dibuat larutan enzim -glukosidase dengan konsentrasi 0,025 U/mL, dengan cara memipet 25 AAL lalu dicukupkan volumenya dengan dapar fosfat . H 7,. sebanyak 10 mL. Penyiapan Substrat PNPG 1,99 mM Substrat p-nitrofenil--D-glukopiranosida (PNPG) ditimbang sebanyak 3. 000 mg, kemudian dilarutkan dengan dapar fosfat . H 7,. sebanyak 5 mL sehingga didapatkan konsentrasi substrat PNPG 1,99 mM. Pengujian Blanko Masing-masing campuran pereaksi yang digunakan dalam uji ini mengandung 40 AAL dapar Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 fosfat pH 7,0 ditambah 50 AAL PNPG 2 mM, kemudian ditambahkan 30 AAL larutan Glukosidase . U/mL) lalu diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37AC. Reaksi dihentikan dengan menambahkan 80 AAL larutan natrium karbonat 0,2 M, dibuat 3 replikasi. Sampel diukur serapannya dengan elisa reader pada panjang gelombang 405 nm. Pengujian Pembanding Akarbose Masing-masing campuran pereaksi yang digunakan dalam uji ini mengandung 50 AAL larutan akarbose dari masing-masing seri konsentrasi yang mengandung 50 AAL larutan akarbose dari masingmasing seri konsentrasi yang telah dibuat yaitu 1,5625 ppm, 3,125 ppm, 6,25 ppm, 12,5 ppm, 25 ppm ditambahkan 50 PNPG 2mM kemudian ditambahkan 20 AAL larutan enzim -Glukosidase . ,025 U/mL) lalu diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37AC. Reaksi dihentikan dengan menambahkan 30 AAL larutan natrium karbonat 0,2 M, dibuat 3 replikasi pembanding diukur serapannya dengan microplate reader pada panjang gelombang 405 nm. Pengujian Sampel Ekstrak Etanol dan Fraksi Untuk pengujian sampel ekstrak etanol dan fraksi akar wanga (Pigafetta elat. sebanyak 40 AAL larutan sampel ekstrak etanol dari masingmasing seri konsentrasi yang telah dibuat yaitu 250 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm, 31,25 ppm dan 15,625 ppm, ditambah 50 AAL PNPG 2 mM, kemudian ditambahkan 30 AAL larutan enzim -Glukosidase . ,025 U/mL), lalu diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37AC. Reaksi dihentikan dengan menambahkan 80 AAL larutan natrium karbonat 0,2 Sampel diukur serapannya dengan microplate reader pada panjang gelombang 405 nm. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menghitung % inhibisi melalui persamaan regresi yang didapatkan. % inhibisi : [(Ao-A. / A. x 100% Ao = Absorbansi Blanko A1 = Absorbansi sampel Melalui persamaan regresi linear, y = a A bx, dimana sumbu x adalah konsentrasi sampel . dan sumbu y adalah % inhibisi, maka nilai IC50 dapat dihitung menggunakan rumus: Jurnal Farmasi SYIFA IC50 = 50 - a / b HASIL Aktivitas antidiabetes suatu tumbuhan disebabkan karena adanya senyawa Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 metabolit sekunder golongan fenolik, flavonoid, alkaloid, dan steroid pada tumbuhan tradisional (Indrakusuma et al. , 2021. Wan-Nadilah et al. Hasil skrining fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Skrining fitokimia ekstrak dan fraksi akar wanga Sampel Kandungan kimia Metode pengujian Alkaloid Mayer Flavonoid Serbuk Mg HCl pekat 2 tetes Ekstrak Etanol 70% Saponin Air panas Fenolik FeCl3 Steroid/Terpenooid H2SO4 Pekat asam asetat anhidrat Fraksi n-Heksan Alkaloid Mayer Flavonoid Serbuk Mg HCl Pekat 2 tetes Saponin Air panas Fenolik FeCl3 Steroid/Terpenoid H2SO4 Pekat asam asetat anhidrat Alkaloid Mayer Flavonoid Serbuk Mg HCl Pekat 2 tetes Fraksi Etil Asetat Saponin Air Panas Fenolik FeCl3 Steroid/Terpenoid H2SO4 Pekat asam asetat anhidrat Alkaloid Mayer Flavonoid Serbuk Mg HCl pekat 2 tetes Fraksi Air Saponin Air panas Fenolik FeCl3 Steroid/Terpenoid H2SO4 Pekat asam asetat anhidrat Keterangan: ( ) Kandungan kimia terdeteksi (-) kandungan kimia tidak terdeteksi Aktivitas AOeglukosidase dinyatakan dengan nilai IC50 yang didapatkan dari hasil regresi linier antara persen inhibisi dan konsentrasinya. Data persen inhibisi dan nilai IC50 dari ekstrak dan fraksi akar wanga Hasil Endapan putih Warna kuning Terbentuk buih 3 cm Warna Hitam pekat Warna hijau pekat Warna coklat Warna kuing Terbentuk buih 3 cm Warna coklat Warna hitam Warna kuning kehitaman Warna merah Timbulnya buih Warna coklat Warna kuning Endapan putih Berubah coklat ke kuning Timbulnya buih 4 cm Warna hitam Ungu kemerahan Ket. dapat dilihat pada Tabel 2. Dari hasil IC50 ini menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi dari akar wanga menunjukkan aktivitas sebagai penghambat enzim AOeglukosidase dan dibandingkan dengan akarbose sebagai kontrol positif. Tabel 2. Hasil Uji Aktivitas Inhibisi Enzim -Glukosidase dari Ekstrak. Fraksi akar wanga dan Akarbose Sampel Konsentrasi (AAg/mL) %Inhibisi IC50 (AAg/mL) Ekstrak etanol 70% Fraksi etil asetat Fraksi n-heksan Fraksi air Kategori Aktif Aktif Tidak aktif Tidak aktif Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 Akarbose Sangat aktif 228,83 Nilai IC50 155,86 Ekstrak etanol 70% Fraksi etil asetat Fraksi n-heksan 56,451 Fraksi air 42,676 Akarbose 9,536 Ekstrak Fraksi etil etanol 70% Fraksi nheksan Fraksi air Akarbose Gambar 1. Nilai IC50 ekstrak, fraksi akar wanga dan akarbose dalam menghambat enzim - glukosidase PEMBAHASAN Berdasarkan hasil uji skrining fitokimia pada Tabel 1 ekstrak etanol akar wanga alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik dan steroid. Skrining fitokimia pada fraksi nheksan dan etil asetat positif mengandung senyawa flavonoid dan saponin. Sedangkan fraksi air terdapat hasil positif senyawa alkaloid, fenolik, dan terpenoid (Amin et al. , 2. Pada pasien diabetes militus untuk mengatasi hiperglikemia dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah monosakarida yang diserap oleh usus, hal ini dapat dilakukan dengan menghambat enzim glukosidase (Early Febrinda et al. , 2. Efektivitas penghambatan enzim ditunjukkan dengan nilai IC50 yaitu konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas enzim sebesar 50 persen, semakin kecil nilai IC50 menunjukkan aktivitas inhibisi semakin tinggi. Menurut (Lee & Lee, 2. , menyatakan bahwa suatu ekstrak dikatakan sangat aktif sebagai penghambat enzim -glukosidase jika nilai IC50 <10 AAg/mL, selanjutnya aktivitas sebagai penghambat enzim glukosidase dikatakan aktif jika nilai IC50 10 -100 AAg/mL, dan dikatakan tidak aktif jika IC50 >100 AAg/mL (Sakulkeo et al. , 2022. Nur et al. , 2. Dari nilai IC50 pada Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa fraksi etil asetat dengan IC50 42. AAg/mL dan ekstrak etanol 70% 56. 451 AAg/mL memiliki kategori aktif. fraksi n-heksan 155. AAg/mL dan fraksi air 288. 83 AAg/mL kategori tidak Sedangkan akarbose sebagai pembanding memiliki nilai IC50 9. 536 AAg/mL dengan kategori sangat aktif. Dari data tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat akar tumbuhan wanga memiliki aktivitas penghambatan yang paling tinggi dibanding ekstrak dan fraksi lainnya terhadap enzim -glukosidase yang mendekati angka kontrol positif pada akarbose. Perbedaan nilai IC50 akarbose yang lebih rendah pada Gambar 1 dapat disebabkan karena akarbose merupakan penghambat -glukosidase yang memiliki efek inhibisi yang tinggi terhadap -glukosidase Fraksi etil asetat mempunyai daya hambat enzim lebih tinggi dari pada ekstrak dan fraksi lainnya, hal ini dapat disebabkan oleh adanya kandungan metabolit sekunder. Kehadiran metabolit sekunder di dalam tanaman, dapat berfungsi sebgai pertahanan diri, menarik organisme laindan sebagai zat pengatur tumbuh untuk dapat bersaing dengan tumbuhan lainnya. Metabolit sekunder tidak hanya menumpuk di Jurnal Farmasi SYIFA tempatnya bersintesis dan akan didistribusikan ke tempat penyimpanannya melalui jaringan floem atau xylem (Oswari, 2. Senyawa metabolit sekunder yang ada pada fraksi etil asetat yaitu flavonoid dan saponin. Cara kerja flavonoid sebagai anti diabetes dapat melalui cara mengurangi aldose reductase dan meregenerasi sel-sel pankreas, serta meningkatkan kalsium(Chen, 2017. Dirir et al. , 2022. Assefa et , 2. Flavonoid menurunkan kadar glukosa darah melalui dua mekanisme adalah mekanisme ekstra pankreas dengan cara menginhibisi aktivitas -glukosidase yang mengakibatkan terjadinya pengurangan absorpsi glukosa dan mekanisme intra pankreas melalui aktivitas antioksidan yang mencegah kerusakan sel beta pancreas . hretolu & Sari, 2020. He et al. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol akar wanga dan fraksi n-heksan, etil asetat, dan air memiliki aktivitas penghambatan terhadap enzim -Glukosidase, dimana fraksi etil asetat dengan IC50 85,34 AAg/ml termasuk kategori kuat dalam menghambat enzim -Glukosidase, ekstrak etanol dengan IC50 112,89 AAg/ml termasuk kategori sedang, fraksi n-hexan dengan IC50 155,86 AAg/mL termasuk kategori lemah, dan fraksi air dengan IC50 sebesar 288,83 AAg/mL kategori tidak aktif. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis berikan kepada TIM peneliti dan Program Studi Farmasi melaksanakan penelitian ini. REFERENSI