JURNAL BASICEDU Volume 7 Nomor 5 Tahun 2023 Halaman 3299 - 3308 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Rahmat1A. Rukli2. Sitti Fithriani Saleh3 Universitas Muhammadiyah Makassar. Indonesia1,2,3 E-mail: naufalrahmat62@gmail. com1, rukli@unismuh. id2, fithriani. saleh@unismuh. Abstrak Penelitian ini membandingkan model pembelajaran Resik . ealistik setting kooperati. dengan model pembelajaran PBL (Problem Based Learnin. dalam konteks hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil dan minat belajar matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran resik dan model pembelajaran PBL. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian quasy eksperimental dengan desain nonequivalent control group design. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas V SD yang terdiri dari 10 sekolah, dengan jumlah total siswa sebanyak 317 orang. Sampel penelitian terdiri dari 56 siswa kelas V yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Hasil penelitian berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar matematika pada model pembelajaran resik adalah 84,64, sedangkan pada model pembelajaran PBL mencapai 79,46. Selain itu, rata-rata minat belajar matematika pada model pembelajaran resik adalah 85,89, sedangkan pada model pembelajaran PBL mencapai 81,82. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa model pembelajaran resik memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD, dengan nilai Sig. 0,006 < 0,05 berdasarkan uji manova. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran resik dapat memberikan kontribusi yang positif dalam meningkatkan hasil belajar dan minat belajar matematika siswa kelas V SD. Kata Kunci: Model Pembelajaran Resik. Problem Based Learning. Hasil Belajar. Minat Belajar. Abstract This research compares the Resik learning model . ealistic cooperative settin. with the PBL (Problem-Based Learnin. learning model in the context of the results and interest in learning mathematics for fifth-grade elementary school students. The purpose of this study was to find out the differences in the results and interest in learning mathematics between students who followed the formal learning model and the PBL learning model. The research method used was quasi-experimental research with a nonequivalent control group design. The study population included all fifth-grade elementary school students consisting of 10 schools, with a total of 317 students. The research sample consisted of 56 fifth-grade students who were selected using the cluster random sampling technique. The results of the research based on descriptive analysis show that the average mathematics learning achievement in the rehearsal learning model is 84. 64, while in the PBL learning model, it is 79. In addition, the average interest in learning mathematics in the formal learning model is 85. 89, while in the PBL learning model, it is 81. The results of the inferential analysis show that the formal learning model has a more significant influence on the results and interest in learning mathematics for fifth-grade elementary school students, with a Sig. 006 <0. 05 based on the Manova test. This conclusion shows that the use of a formal learning model can make a positive contribution to improving learning outcomes and interest in learning mathematics for fifth-grade elementary school students. Keywords: Resik Learning Model. Problem Based Learning. Learning Outcomes. Interest in Learning Copyright . 2023 Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh A Corresponding author : Email : naufalrahmat62@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3300 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN (Juliyantika dan Batubara 2. Perbaikan dalam dunia pendidikan sudah sering dilakukan oleh pemerintah demi mencapai pendidikan yang lebih bermutu. Peningkatan anggaran pendidikan, peningkatan profesionalisme guru dalam mengajar, serta perubahan pada kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman merupakan contoh dari perbaikan dalam dunia pendidikan yang dilakukan pemerintah. Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi-potensi positif yang terpendam dalam diri Pendidikan selalu mengupayakan kehidupan manusia ke arah yang lebih baik yang diperlukan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam memajukan suatu negara. Setiap negara di belahan dunia memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda. Sama halnya dengan negara Indonesia, arah pendidikan juga ditujukan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki karakter dan dapat bersaing sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam tataran praktek, pelaksanaan pendidikan belum terimplementasikan secara baik atau sesuai dengan arah kebijakan pendidikan (Astuti dan Wirawati 2. (Anjelia Ratu Oasis. Anugrah Dinda Juliawan, dan Neneng Nurjanah 2. Pendidikan merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, sejalan dengan hal tersebut, maka patutlah pendidikan menjadi salah satu perioritas. Karenanya, mengembangkan potensi peserta didik juga merupakan salah satu upaya yang dapat mendorong meningkatnya kualitas pendidikan pada suatu negara dan sebagai wujud penghambaan kita sebagai khalifah di bumi-Nya. Setiap tahunnya ada banyak model pembelajaran ataupun strategi yang dikembangkan dalam pendidikan guna untuk menyesuaikan perkembangan teknologi. Pembelajaran di sekolah sebagai salah satu bentuk model pendidikan, seharusnya dilakukan dengan azas demokrasi. Dalam azas demokrasi, pendidikan harus berlangsung dan disesuaikan dengan potensi dan kecepatan daya tangkap masing-masing peserta didik. Model pembelajaran yang digunakan hendaknya model pembelajaran yang dapat mewadahi siswa untuk dapat aktif selama pembelajaran dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan yang ditemukan. Namun fakta yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran masih banyak yang berpusat kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat (Nurul Jumrah dkk. yaitu Kenyataan yang terjadi di lapangan guru masih sebagai sumber utama dalam proses pembelajaran dan belum maksimal menjadikan pembelajaran berpusat pada siswa sehingga apa yang didapatkan oleh siswa selama pembelajaran bukan dari pengalamannya melainkan hanya melalui proses mencawan apa saja yang diberikan guru. (Nurul Jumrah dkk. Hasil belajar sangat bergantung pada pelaksanaan pembelajaran. Semakin baik pembelajaran yang dilakukan, maka semakin baik pula hasil belajar siswa yang diperoleh siswa. Pada saat sekarang ini, pelaksanaan pembelajaran di kelas ditekankan agar tidak secara konvensional atau lebih berpusat pada guru. Akan tetapi, pembelajaran yang diharuskan adalah pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa sebagai subjek belajar dan guru sebagai pembimbing dan fasilitator. Menurut (Rizqi Abdul Majid. Riyadi, dan Kurniawan 2. hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku. Walaupun semua perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi aktivitas belajar pada umumnya disertai perubahan tingkah laku. Hasil belajar yang baik akan diperoleh apabila proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas terlaksana secara efisien. Semakin baik proses pembelajaran yang dilakukan, maka semakin baik pula hasil yang akan diperoleh (Haristiani dan RifaAoi 2. Hasil belajar juga bergantung pada cara-cara belajar yang dilaksanakan. Oleh karena itu, dengan menggunakan cara belajar yang efektif, akan meningkatkan hasil belajar yang memuaskan. (Ratna Widian Ningke dan Eko Subiantoro 2. Berdasarkan kenyataan yang ditemui di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih dibawah kriteria ketuntasan minimun (KKM) yaitu 70. Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti mewawancarai guru kelas V salah satu Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3301 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. sekolah di Gugus 1 yaitu guru kelas di UPT SD Negeri 14 Tamalatea Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto, guna mencari informasi penyebab rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Guru kelas V mengatakan belum menggunakan model pembelajaran yang cocok dan menarik sesuai dengan kebutuhan siswa, saya melihat bahwa model pembelajaran yang digunakan oleh guru kelas V juga kurang variatif dan sifatnya monoton dalam artian bahwa model pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dengan model pembelajaran dan materi ajar yang ingin diajarkan sehingga itulah beberapa kendala yang menghambat hasil belajar siswa. (Risma Tartila. Anggraini, dan Faizah 2. Sebagai seorang guru harus mengetahui alternatif atau cara yang dapat membantu siswa dalam memahami pembelajaran khususnya untuk meningkatkan hasil belajar Karena kesulitan yang dialami siswa bermacam-macam dan satu siswa kemungkinan akan mengalami kesulitan yang berbeda dengan siswa yang lain. Oleh karena itu salah satu cara yang dapat di lakukan seorang guru untuk membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai, agar proses pembelajaran terlihat menarik dan tidak membosankan. Bercermin kondisi tersebut, pembelajaran matematika di sekolah perlu diciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan . aling sedikit tidak tegan. Di lain pihak, perspektif belajar yang baru menyatakan bahwa belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memahami dan mampu menerapkan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kekhasan materi dan karakteristik siswa sehingga dapat memfasilitasi aktivitas siswa dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dieksperimenkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran resik (Realistik Setting Kooperati. Model pembelajaran resik mengadopsi pembelajaran kooperatif dan pendekatan pembelajaran realistik (Muchti dan Dewi 2. Model pembelajaran kooperatif bukan hanya untuk meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan keterampilan sosial. Dengan alasan, bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang berorientasi sosial, suka kumpul, bertandang dan berbicara. Selain itu, salah satu pendekatan pembelajaran yang diadopsi dalam model pembelajaran resik adalah pendekatan matematika realistik. (Risma Tartila. Anggraini, dan Faizah 2. menyatakan bahwa pendekatan matematika realistik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa, bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa ke pengalaman belajar yang berorientasi pada hal-hal yang real . (Yahya. Yulistio, dan Arifin 2. mengatakan bahwa salah satu ciri utama dari pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran resik adalah menggunakan masalah kontekstual yang diangkat sebagai masalah awal dalam pembelajaran, yakni guru memberikan masalah kontekstual sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Kemudian meminta siswa untuk memahami masalah tersebut. Jika terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru menjelaskan atau memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian yang belum dipahami siswa. Selain itu, adanya kerjasama siswa secara kooperatif dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan aktivitas atau pemecahan masalah yang menjadi tugas kelompok. Guru perlu membuat berbagai perencanaan sehingga ciri atau kondisi ini dapat terlaksana secara baik dalam Dalam model pembelajaran resik, siswa diharapkan dapat memahami sendiri suatu konsep, tanpa dijelaskan oleh guru. Jadi, prinsip konstruksi pengetahuan oleh siswa menjadi perhatian utama dalam model pembelajaran resik (Binti Bachtiar 2. Sintaks model pembelajaran Realistik Setting Kooperatif (RESIK) terdiri dari 6 . fase, yakni . memotivasi siswa, . menyajikan informasi dan melibatkan siswa memahami masalah kontekstual, . mengorganisasi siswa kedalam kelompok belajar dan memberikan tugas kelompok, . membimbing kelompok bekerja dan belajar, . diskusi dan negosiasi, dan . evaluasi dan Selain itu, model pembelajaran resik dirancang untuk menyediakan kondisi yang memungkinkan penguatan dan perluasan pengetahuan siswa. Untuk tercapainya hal ini, sangat dibutuhkan perencanaan aktivitas atau pemecahan masalah secara baik dan sesuai. Peran guru dalam hal perencanaan aktivitas atau pemecahan Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3302 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. masalah ini sangat utama. Guru perlu merencanakan dan menyiapkan masalah kontekstual yang sesuai, yang memu-ngkinkan siswa untuk beraktivitas saling membantu dalam kelompok kecil untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan siswa dengan berbagai latar belakang kemampuan dan kondisi sosial untuk bekerja sama, saling tergantung dan belajar saling menghargai satu dengan yang lainnya. Hal ini akan lebih mudah dicapai jika menggunakan pendekatan realistik. (Bi dkk. Penelitian ini menguji efek model pembelajaran kooperatif terhadap prestasi matematika siswa sekolah dasar. Anda dapat merujuk penelitian ini sebagai pendukung untuk memperkuat pentingnya membandingkan model pembelajaran resik dengan model pembelajaran PBL dalam konteks belajar (Aziezah 2. Penelitian ini mengeksplorasi efek model pembelajaran berbasis masalah (PBL) terhadap minat belajar matematika siswa. Studi ini memberikan wawasan tambahan tentang pengaruh model pembelajaran PBL pada minat belajar matematika yang dapat Anda perbandingkan dengan hasil penelitian Anda terkait model pembelajaran resik. (Hildayanti. Samsuri, dan Arief 2. Penelitian ini melakukan perbandingan antara pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dan Problem-Based Learning (PBL) dalam hal prestasi dan sikap siswa terhadap Studi ini relevan karena melibatkan model pembelajaran resik dan PBL seperti penelitian Anda, dan dapat memberikan pemahaman tambahan tentang perbandingan ini. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Quasy eksperimen. Peneliti memilih metode ini karena sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran resik dengan model pembelajaran PBL terhadap hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasy Eksperimental Design Type nonequivalent control group Berikut tabel desain penelitian. Tabel 1. Desain penelitian nonequivalent control group design. Kelompok Kelas Pretest Treatment Posttest Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 Sumber: (Sugiyono, 2. Keterangan: O1 : Pretest kelas eksperimen 1 O2 : Posttest kelas eksperimen 1 O3 : Pretest kelas ekperimen 2 O4 : Posttest kelas ekperimen 2 X1 : Perlakuan pada kelas eksperimen 1 dengan menggunakan model pembelajaran resik X2 : Perlakuan pada kelas eksperimen 2 dengan menggunakan model pembelajaran PBL. Penelitian ini dilaksanakan di SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Waktu pelaksanaan penelitian adalah pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023. Pengambilan data hanya dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Hal ini karena dalam melakukan penelitian eksperimen sebaiknya dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk mengurangi resiko kurangnya validitas penelitian yang disebabkan ancaman penelitian. (Novarina. Santoso, dan Furaidah 2. Populasi yang akan dijadikan sumber dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto, dengan jumlah siswa keseluruhan sebanyak 317 siswa. Proses pengambilan cluster random sampling dengan cara pengundian dimana dalam pengundian tersebut dilakukan dua kali. Pengundian pertama yaitu untuk menentukan sekolah yang akan dipilih dan terpilihlah UPT SD Negeri 14 Tamalatea. Pengundian yang kedua untuk menentukan kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3303 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. 2 dan hasilnya adalah ditetapkan kelas VA sebagai kelas eksperimen 1 dan kelas VB sebagai kelas ekperimen Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas V UPT SD Negeri 14 Tamalatea yang terdiri dari dua kelas yang berjumlah 56 orang. Tabel 2. Sampel Penelitian No Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah Jumlah Sumber data: UPT SD Negeri 14 Tamalatea . Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data seperti observasi, angket, dokumentasi dan teknik pengukuran berupa tes hasil belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berikut ini diuraikan hasil penelitian mengenai perbandingan model pembelajaran resik dengan model pembelajaran PBL terhadap hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Hasil Analisis Deskriptif Hasil analisis deskriptif yang akan digambarkan dalam penelitian ini terdiri dari hasil belajar baik pre test maupun post test dan minat belajar matematika baik pre test maupun post test. Deskripsi Hasil Belajar Matematika Hasil Belajar Matematika Pre Test Berikut ini disajikan dalam bentuk tabel mengenai gambaran awal hasil belajar matematika pretest kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Tabel 3. Statistik skor hasil belajar matematika pre test Nilai Statistik Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum Berdasarkan tabel 3 dapat dinyatakan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika pret test kelas eksperimen 1 dari 28 siswa sebesar 60,18, median 60, mode 60. Std. Deviation 6,01. Variance 36,08. Range 25. Minimum 45. Maximum 70. Sedangkan skor rata-rata hasil belajar matematika pret test kelas eksperimen 2 sebesar 58,93, median 60, mode 60. Std. Deviation 6,99. Variance 48,81. Range 30. Minimum 45. Maximum Dari hasil tersebut dapat diperoleh bahwa kemampuan awal hasil belajar matematika kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 tidak jauh berbeda sehingga memungkinkan untuk kedua kelas dapat dibandingkan kemampuannya setelah eksperimen (Mukhlishina 2. Jika hasil belajar matematika dikelompokkan dalam empat kategori maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut: Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3304 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar matematika pretest Skor Kategori Frekuensi Persentase Kelas Eksperimen 1 93 Ae 100 Sangat Tinggi 00,00 % 84 Ae 92 Tinggi 00,00 % 75 Ae 83 Sedang 10,71 % < 75 Kurang 89,29 % Kelas Eksperimen 2 93 Ae 100 Sangat Tinggi 00,00 % 84 Ae 92 Tinggi 00,00 % 75 Ae 83 Sedang 4,57 % < 75 Kurang 96,43 % Pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 28 siswa kelas eksperimen 1, siswa yang memperoleh skor pada kategori kurang 25 siswa . ,29%), kategori sedang 3 siswa . ,71%), kategori tinggi 0 siswa . ,00%) dan kategori sangat tinggi 0 siswa . ,00%). Sedangkan kelas eksperimen 2, menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh skor pada kategori kurang 27 siswa . ,43%), kategori sedang 1 siswa . ,57%), kategori tinggi 0 siswa . ,00%) dan kategori sangat tinggi 0 siswa . ,00%). Untuk Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa dikonversi ke dalam empat kategori diatas, maka rata-rata hasil belajar matematika pretest kelas eksperimen 1 termasuk dalam kategori kurang yaitu 60,18. Sedangkan kelas eksperimen 2 juga termasuk dalam kategori kurang yaitu 58,93. Berikut ini grafik perbandingan rata-rata kemampuan awal hasil belajar matematika kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 berdasarkan pengkategorian diatas: Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 00% 40. 00% 60. 00% 80. 00% 100. 00% 120. Sedang Kurang Grafik 1. Perbandingan statistik hasil belajar pretest kelas eksperimen 1 dengan kelas eksperimen 2 Hasil Belajar Matematika Post Test Berikut ini disajikan dalam bentuk tabel mengenai gambaran hasil belajar matematika post tes kelas eksperimen 1 dengan menerapkan model pembelajaran resik dan kelas eksperimen 2 menerapkan model pembelajaran PBL. Tabel 5. Statistik skor hasil belajar matematika post test Nilai Statistik Kelas Eksperimen 1 Kelas Eksperimen 2 Mean 84,64 79,46 Median Mode Std. Deviation Variance Range Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3305 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Minimum Maximum Berdasarkan tabel 5 dapat dinyatakan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika post test kelas eksperimen 1 dengan menerapkan model pembelajaran resik dari 28 siswa sebesar 84,64, median 85, mode 80. Std. Deviation 7. Variance 60,98. Range 30. Minimum 70. Maximum 100. Sedangkan skor rata-rata hasil belajar matematika post test kelas eksperimen 2 dengan menerapkan model pembelajaran PBL sebesar 79,46, median 80, mode 80. Std. Deviation 7,74. Variance 59,89. Range 30. Minimum 65. Maximum 95. Dari hasil tersebut dapat diperoleh bahwa hasil belajar matematika kelas eksperimen 1 dengan menerapkan model pembelajaran resik dan kelas eksperimen 2 dengan menerapkan model pembelajaran PBL jauh berbeda. Ini artinya model pembelajaran resik memiliki hasil belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran PBL. Berikut ini grafik perbandingan statistik rata-rata hasil belajar matematika post test kelas eksperimen 1 dengan kelas eksperimen 2: Uji Homogenitas Pada tabel 6 uji Homogenitas Levene's Test of Equality of Error Variances dibawah ini menunjukkan homogenitas data. Jika signifikansi lebih dari Nilai yaitu 0,05 maka data dikatakan homogen. Pada hasil analisis hasil belajar siswa diperoleh bahwa signifikansi data adalah 0,928 > 0,05 maka data dinyatakan Pada hasil analisis minat belajar matematika diperoleh bahwa signifikansi data adalah 0,074 > 0,05 maka data dinyatakan homogen. Tabel 6. Uji Homogenitas Levene's Test of Equality of Error Variances Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Based on Mean Based on Median Hasil Belajar Based on Median and with adjusted df 019 1 53. Based on trimmed mean Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Based on Mean Based on Median Minat Belajar Based on Median and with adjusted df 200 1 53. Based on trimmed mean Uji Homogenitas matrix varian-kovarian/ Box M Pada tabel 7 Box's Test of Equality of Covariance Matrices dibawah ini digunakan untuk menguji asumsi manova yang mensyaratkan bahwa matrik/kovarian dan variable dependen adalah sama. Jika signifikansi lebih dari Nilai yaitu 0,05 maka data dikatakan memenuhi syarat untuk uji manova, pada hasil perhitungan diperoleh bahwa signifikansi data adalah 0,071 > 0,05 maka data dikatakan memenuhi syarat untuk uji manova. Tabel 7. Box's Test of Equality of Covariance Matrices Box's Test of Equality of Covariance Matricesa Box's M Sig. Tests the null hypothesis that the observed covariance matrices of the dependent variables are equal across groups. Design: Intercept Kelas Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3306 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Uji multikolinieritas Pada tabel 8 Uji multikolinieritas dibawah ini diperoleh nilai perarson correlation 0,059 < 0,8 dengan demikian tidak terjadi multikolinieritas maka dilanjutkan ke uji hipotesis. Tabel 8. Uji multikolinieritas Correlations Hasil Belajar Minat Belajar Hasil Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. Minat Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. Uji Hipotesis (Uji Manov. Tabel test of betweens subjects effects digunakan untuk menguji hipotesis 1 dan hipotesis 2 Hipotesis 1 Berdasarkan table 14 test of betweens subjects effects dibawah ini dapat dilihat pada baris kelas variabel hasil belajar diperoleh nilai Sig. 0,016 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yaitu terdapat perbedaan simultan hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto yang mengikuti model pembelajaran Resik dengan yang mengikuti model pembelajaran PBL Hipotesis 2 Berdasarkan table 4. 13 test of betweens subjects effects diatas dapat dilihat pada baris kelas variabel minat belajar diperoleh nilai Sig. 0,020 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yaitu terdapat perbedaan simultan minat belajar matematika siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto yang mengikuti model pembelajaran Resik dengan yang mengikuti model pembelajaran PBL. Hipotesis 3 Pada tabel 9 multivariate test dibawah ini digunakan untuk menguji hipotesis 3. Dari tabel tersebut terdapat uji statistik yakni pillaiAos trace, wilksAo Lambda. Hotelling Trace. RoyAos Larget Root pada kolom kelas. Didapat nilai signifikannya 0,006, dimana 0,006 < 0,05 sesuai kriteria bahwa H0 ditolak dan Ha diterima yaitu terdapat perbedaan simultan hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto yang mengikuti model pembelajaran Resik dengan yang mengikuti model pembelajaran PBL. Tabel 9. Multivariate test Multivariate Testsa Effect Value Hypothesis df Error df Sig. Partial Eta Squared Pillai's Trace Wilks' Lambda Intercept Hotelling's Trace 287. Roy's Largest Root 287. Pillai's Trace Wilks' Lambda Kelas Hotelling's Trace Roy's Largest Root Design: Intercept Kelas Exact statistic Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran resik dengan model pembelajaran PBL terhadap hasil dan minat belajar matematika siswa di kelas V SD Gugus I Kecamatan Jurnal Basicedu Vol 7 No 5 Tahun 2023 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 3307 Perbandingan Model Pembelajaran Resik dengan Pembelajaran PBL terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Ae Rahmat. Rukli. Sitti Fithriani Saleh DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan hasil dan minat belajar matematika siswa yang diberi model pembelajaran resik di kelas eksperimen 1 dengan siswa yang diberi model pembelajaran PBL dikelas eksperimen (Dalbosco. Nolli, dan Maraschin 2. Temuan penelitian dapat memberikan landasan untuk pengembangan kurikulum matematika yang lebih berfokus pada pendekatan pembelajaran resik. Hal ini berarti pemerintah pendidikan dan pengembang kurikulum dapat mempertimbangkan integrasi model pembelajaran resik dalam desain kurikulum untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Kurikulum yang menekankan pemahaman matematika melalui konteks realistis dan pemberdayaan siswa dalam pembelajaran kolaboratif dapat menjadi pijakan dalam perbaikan kurikulum yang ada. Implikasi penting dari temuan penelitian adalah pentingnya memberikan pelatihan dan dukungan yang memadai kepada guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran resik. Guru perlu memahami konsepkonsep resik, strategi pengajaran yang terkait, dan bagaimana mengintegrasikannya secara efektif dalam pembelajaran matematika. Program pelatihan dan pengembangan profesional dapat disusun untuk memperkuat keterampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran resik dan memfasilitasi pemahaman matematika yang lebih baik di kelas. (Aziezah 2. Temuan penelitian ini dapat menjadi dorongan bagi penelitian lanjutan dalam bidang ini. Penelitian masa depan dapat mengeksplorasi faktor-faktor tambahan yang mungkin mempengaruhi hasil dan minat belajar matematika, serta membandingkan model pembelajaran lainnya dengan model pembelajaran Dalam penelitian berikutnya, juga bisa mempertimbangkan pengukuran aspek lain seperti kepercayaan diri siswa, motivasi, atau pembelajaran berkelanjutan setelah model pembelajaran diimplementasikan. Dalam kesimpulannya, temuan penelitian dapat memberikan wawasan berharga bagi praktisi pendidikan, pengembang kurikulum, dan peneliti di bidang pendidikan matematika. Implementasi model pembelajaran resik dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan hasil dan minat belajar matematika siswa kelas V SD, dan dapat membuka jalan bagi perbaikan praktik pengajaran dan pengembangan kurikulum. KESIMPULAN Simpulan ini menjawab tujuan penelitian yang ingin mengetahui perbedaan hasil dan minat belajar matematika antara model pembelajaran resik dan model pembelajaran PBL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran resik secara konsisten menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dan membangkitkan minat belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran PBL. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran resik memiliki potensi untuk memperbaiki hasil belajar dan minat belajar matematika siswa di kelas V SD. Implikasi dari temuan ini adalah perlunya mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran resik sebagai strategi yang efektif dalam meningkatkan pembelajaran matematika. Rekomendasi praktik pengajaran berdasarkan temuan ini adalah mengintegrasikan elemen-elemen resik, seperti penggunaan konteks realistis, kerja kelompok, dan penerapan teknik kooperatif dalam pembelajaran matematika sehari-hari. Penelitian lanjutan dapat melibatkan eksplorasi lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil dan minat belajar matematika, serta perbandingan dengan model pembelajaran lainnya. Penelitian selanjutnya juga dapat mempertimbangkan pengukuran aspek lain seperti kepercayaan diri siswa dan motivasi dalam konteks model pembelajaran resik. DAFTAR PUSTAKA