CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 AProgram Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Analisis silang faktor determinan pengelolaan budidaya perikanan berbasis masyarakat di Teluk Bintuni. Papua Barat: peran, kapasitas, dan optimasi Cross-Analysis of Determinant Factors in Community-Based Aquaculture Management in Teluk Bintuni. West Papua: Roles. Capacities, and Community Optimization Ismi Nurhayati Silaratubun1. Roni Bawole2*. Yolanda Holle3. Paulus Boli4. Christover Alfarani Bawole5 )Program Studi Magister Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana )Jurusan Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan )Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian )Jurusan Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Papua. Manokwari )Program Doktor. Pascasarjana. Universitas Papua. Manokwari Jl. Gunung Salju. Amban. Manokwari, 98314. Indonesia Email: r. bawole@unipa. Disubmit: 5 Juni 2025, direvisi: 30 Januari 2026, diterima: 31 Januari 2026 Doi : 10. 30862/casowary. ABSTRACT : This study aims to examine expert perceptions regarding the sustainability of aquaculture in Bintuni Bay through a cross-analysis of several key aspects, including community participation, awareness of the importance of aquaculture, involvement in decision-making processes, capacity building, engagement in monitoring and evaluation, optimization of production and resource use, and the distribution of economic benefits. The analytical approach employs a cross-tabulationAebased comparative analysis that systematically examines interrelationships among these aspects to identify patterns of convergence and divergence in expert perceptions across social, economic, and governance dimensions. The results indicate a predominance of positive perceptions. however, they also reveal significant challenges related to the quality of participation, the equity of economic benefit distribution, and the effectiveness of monitoring and evaluation mechanisms. Based on these findings, recommendations are directed toward strengthening institutional capacity, fostering technological innovation, and developing inclusive and adaptive participatory mechanisms to enhance the long-term social and ecological sustainability of aquaculture in Bintuni Bay. Keywords: Aquaculture, sustainability, community participation, community capacity. Bintuni Bay. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 PENDAHULUAN Budidaya perikanan merupakan salah satu sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir (FAO. Keberlanjutan budidaya perikanan sangat tergantung pada sinergi antara aspek teknis produksi, sosial-ekonomi, dan kelembagaan (Edwards, 2000. Shahidur Rashid et al. , 2. Oleh karena itu, pengelolaan yang berbasis partisipasi aktif masyarakat, pengembangan kapasitas, serta mekanisme pengawasan yang transparan sangat diperlukan (Berkes, 2009. Ostrom. Oleh karena itu, optimalisasi dan efisiensi budidaya perikanan menjadi fokus utama yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam suatu sistem pengelolaan budidaya perikanan yang berkelanjutan (FAO, 2. Dalam konteks pengelolaan sumber daya perikanan, partisipasi masyarakat telah diakui sebagai kunci keberhasilan pengelolaan berbasis komunitas yang mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, serta pengembangan kapasitas untuk mencapai keberlanjutan (Ostrom, 1990. Pretty, 1. Studi tentang partisipasi masyarakat mengindikasikan bahwa kualitas dan intensitas keterlibatan masyarakat memiliki pengaruh langsung terhadap keberhasilan praktik budidaya perikanan dan kesejahteraan sosial ekonomi komunitas (Berkes et al. , 2. Kesadaran pentingnya budidaya perikanan yang berkelanjutan dan peran mereka dalam pengambilan keputusan menjadi faktor penggunaan sumber daya serta peningkatan produksi (Martynez-Novo et al. , 2. Namun, tantangan dalam penyelesaian konflik dan penguatan kapasitas masyarakat masih menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar tata kelola budidaya perikanan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan (He et al. Pada Tingkat lokal dan komunitas masih terdapat tantangan dalam aspek konflik, serta keterlibatan dalam pemantauan dan evaluasi (Asnuryati, 2. Hal ini sejalan dengan temuan dari (Cinner, 2. yang menyebutkan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat sangat tergantung pada kualitas dan intensitas partisipasi serta kapasitas kelembagaan lokal. Selain itu, aspek ekonomi masyarakat sebagai bagian penting dalam mendukung keberlanjutan budidaya juga menunjukkan ketimpangan persepsi terkait manfaat yang dirasakan. Masyarakat yang belum merasakan dampak ekonomi secara signifikan masih perlu mendapatkan perhatian khusus, mengingat kesejahteraan sosial menjadi fondasi utama keberlanjutan praktik budidaya (Allison & Ellis, 2. Dalam konteks ini, penguatan kapasitas masyarakat serta mekanisme partisipatif yang lebih inklusif dan adaptif menjadi kebutuhan mendesak agar sistem budidaya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan (McCay, 2. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan mengingat masih terbatasnya kajian empiris yang secara sistematis mengukur tingkat dan kualitas partisipasi masyarakat dalam Pengelolaan Budidaya Perikanan Berbasis Masyarakat (PBPBM) di Teluk Bintuni. Studi-studi sebelumnya umumnya menitikberatkan pada aspek produksi atau kebijakan sektoral, sementara interaksi antara faktor sosial ekonomi, mekanisme pengelolaan sumber daya, dan dinamika kelembagaan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan budidaya Selain itu, belum banyak mengidentifikasi kendala struktural dan fungsional yang dihadapi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan budidaya perikanan di CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 wilayah pesisir dengan karakteristik sosial dan ekologis yang kompleks seperti Teluk Bintuni. Oleh sebab itu, pendekatan multidimensi untuk mengukur faktor-faktor determinan pengelolaan budidaya perikanan berbasis masyarakat menjadi krusial. Faktorfaktor tersebut mencakup partisipasi masyarakat, tingkat kesadaran, peran dalam pengambilan keputusan, aspek ekonomi, mekanisme penyelesaian konflik, sistem pemantauan, serta pengembangan kapasitas Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kontribusi relatif masing-masing faktor determinan terhadap optimalisasi dan efisiensi pengelolaan budidaya perikanan yang berkelanjutan di Teluk Bintuni. METODE DAN BAHAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Distrik Manimeri Teluk Bintuni. Papua Barat, pada periode bulan Pebruari hingga Mei 2025. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu sentra budidaya perikanan dengan potensi sumber daya laut yang melimpah dan keberadaan komunitas masyarakat yang aktif dalam Teknik Pengambilan dan Analisis Data Penelitian menggunakan pendekatan survei persepsi terhadap 40 responden pakar secara sengaja yang memiliki pengalaman di bidang budidaya perikanan di Teluk Bintuni. Validitas instrumen diuji melalui validitas isi . ontent validit. dengan melibatkan penilaian pakar . xpert judgmen. untuk memastikan kesesuaian butir pertanyaan dengan indikator variabel yang diukur. Selanjutnya, reliabilitas instrumen diuji untuk menilai konsistensi internal kuesioner, yang menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat keandalan yang memadai dalam mengukur persepsi responden secara konsisten dan stabil. Data dikumpulkan menggunakan instrumen kuantitatif berupa kuesioner yang mengukur tiga indikator utama pada masing-masing aspek. Analisis deskriptif dan analisis silang dilakukan untuk mengidentifikasi dan membandingkan pola hubungan antar aspek dan variabel melalui penelaahan keterkaitan lintas dimensi, sehingga memungkinkan pengungkapan kecenderungan, konsistensi, dan perbedaan persepsi secara kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Determinan Partisipasi Masyarakat Indikator menunjukkan persepsi yang sangat positif dengan mayoritas penilaian berada pada kategori AuBaikAy dan AuSangat BaikAy (Gambar Hal ini sejalan dengan teori partisipasi yang menegaskan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya untuk keberlanjutan (Gaber, 2020. Pretty, 1. Kesadaran Masyarakat Tingginya kesadaran masyarakat tentang pentingnya budidaya juga tercermin dari penilaian positif terhadap pengetahuan dan tingkat kesadaran budidaya perikanan (Gambar . Namun, terdapat penilaian AuCukupAy pada beberapa indikator yang mengindikasikan adanya variasi kapasitas dan pemahaman yang perlu diperkuat. Hal ini berkelanjutan dan pelibatan masyarakat secara lebih intensif (Edwards, 2. Peran Masyarakat Pengambilan Keputusan Persepsi masyarakat dalam pengambilan keputusan juga dominan positif, dengan kategori AuBaikAy CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 dan AuSangat BaikAy (Gambar . Meskipun demikian, kehadiran penilaian AuKurangAy menunjukkan adanya tantangan dalam representasi dan kualitas partisipasi. Hal ini sesuai dengan temuan Berkes . bahwa partisipasi tidak hanya kuantitas, tetapi kualitas proses partisipasi sangat menentukan Pengambilan keputusan yang inklusif dan deliberatif sangat penting agar kebijakan budidaya dapat diterima secara luas dan berkelanjutan (Pretty, 1. Gambar 1. Partisipasi Masyarakat Gambar 2. Kesadaran Pentingnya Budidaya CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 Gambar 3. Peran Masyarakat sebagai Pengambilan Keputusan Pengembangan Kapasitas Masyarakat Pengembangan kapasitas masyarakat dinilai sangat positif terutama dalam penguatan kelembagaan nelayan dan diversifikasi sumber pendapatan (Gambar . Hal ini merupakan modal sosial yang penting untuk mendukung keberlanjutan ekonomi (Allison & Ellis, 2. Meskipun terdapat sedikit penilaian negatif, ini menunjukkan kapasitas yang lebih responsif dan Keterlibatan Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi Keterlibatan menunjukkan kelemahan yang relatif signifikan, dengan adanya beberapa penilaian AuKurangAy (Gambar Mekanisme pemantauan budidaya perikanan di Teluk Bintuni terinstitusionalisasi, dengan pelaksanaan yang sporadis dan berfokus pada aspek teknis Keterbatasan kapasitas, rendahnya minimnya sarana, serta lemahnya koordinasi menurunkan transparansi dan akuntabilitas Hal ini menunjukkan rendahnya transparansi dan akuntabilitas dalam mekanisme evaluasi yang berpotensi menimbulkan ketimpangan manfaat dan konflik sosial (Berkes et al. , 2008. Ostrom. Penguatan mekanisme pemantauan partisipatif yang lebih inklusif sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan sosial-ekonomi. Distribusi Manfaat Ekonomi Distribusi manfaat ekonomi dari budidaya perikanan menunjukkan persepsi yang cukup beragam dengan sejumlah penilaian AuCukupAy dan AuKurangAy pada indikator kesejahteraan Masyarakat (Gambar Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan dalam distribusi manfaat ekonomi, di mana keuntungan dari kegiatan budidaya perikanan belum dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat. Manfaat ekonomi cenderung terkonsentrasi pada pelaku usaha tertentu, khususnya mereka yang memiliki akses lebih besar terhadap modal, teknologi, dan jaringan pemasaran, sementara sebagian masyarakat lokal lainnya hanya memperoleh manfaat tidak langsung atau bersifat marginal, seperti kesempatan kerja musiman dengan tingkat CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 pendapatan yang relatif rendah. Ketimpangan ini juga mencerminkan perbedaan kapasitas dan posisi tawar antar pelaku dalam rantai berimplikasi pada terbatasnya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara kolektif dan Kondisi ini menandakan ketimpangan yang perlu diatasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata, keberlanjutan ekonomi jangka panjang (Kellert et al. , 2. Gambar 4. Pengembangan Kapasitas Masyarakat Gambar 5. Keterlibatan Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 Penyelesaian Konflik Hasil persepsi responden pakar terhadap kemampuan masyarakat dalam penyelesaian konflik pada budidaya perikanan di Teluk Bintuni menunjukkan kecenderungan positif dengan variasi penilaian yang cukup beragam (Gambar . Sebagian besar responden menilai masyarakat memiliki kemampuan yang baik hingga sangat baik dalam menyelesaikan dan mengelola konflik, namun masih terdapat sebagian yang memberikan penilaian sedang hingga rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kelembagaan masyarakat dan mekanisme resolusi konflik yang lebih partisipatif tetap diperlukan untuk menjaga kohesi sosial dan keberlanjutan pengelolaan perikanan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Berkes & Folke, 1. yang menekankan pentingnya mekanisme penyelesaian konflik yang efektif dalam pengelolaan sumber daya berbasis komunitas. Selain itu, (Agrawal, 2. menyoroti pengelolaan konflik sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan fleksibilitas kelembagaan dalam menanggapi dinamika Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan koordinasi kelembagaan menjadi kunci untuk memperkuat tata kelola konflik di tingkat lokal dan mendorong keberlanjutan sumber daya perikanan (Ostrom, 2. Optimalisasi Produksi dan Sumber Daya Optimalisasi produksi dan pemanfaatan sumber daya merupakan aspek strategis dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor budidaya perikanan. Terdapat variasi dengan sejumlah responden memberikan nilai AuCukupAy dan AuKurangAy (Gambar . Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun produksi sudah berjalan baik, efisiensi teknis dan pengelolaan sumber daya Menurut (Edwards, 2. , inovasi teknologi budidaya dan penguatan manajemen produksi sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan ekologis dan ekonomis. Kecenderungan ini mencerminkan bahwa praktik budidaya telah cukup berhasil dalam menghasilkan output secara kuantitatif dan mampu mengelola sumber daya secara relatif efisien. Temuan ini sejalan dengan kajian Tacon dan Metian . yang menekankan pentingnya efisiensi produksi dalam sistem budidaya berkelanjutan melalui manajemen input yang optimal dan praktik teknis yang adaptif. Untuk itu, optimalisasi produksi ke depan perlu difokuskan pada: . Peningkatan efisiensi inputAeoutput, seperti konversi pakan dan pengelolaan air. Inovasi teknologi budidaya, termasuk penggunaan sistem . Penguatan kapasitas manajemen, baik pada skala individu maupun Langkah-langkah ini penting agar kegiatan budidaya tidak hanya produktif secara kuantitatif, tetapi juga efisien dan berkelanjutan secara ekologis dan ekonomis. Budidaya Perikanan Berkelanjutan Budidaya berkelanjutan menjadi tujuan utama dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang inklusif dan berbasis ekosistem. Berdasarkan persepsi responden pakar di Teluk Bintuni, variabel ini menunjukkan kecenderungan penilaian yang positif (Gambar Mayoritas memberikan penilaian pada kategori AuBaikAy dan AuSangat BaikAy terhadap indikator pengelolaan budidaya, jumlah pembudidaya yang menerapkan prinsip keberlanjutan, serta tingkat keberlanjutan praktik budidaya secara CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 Gambar 6. Aspek Ekonomi Masyarakat Gambar 7. Penyelesaian konflik Efisiensi penggunaan sumber Tingkat produksi ikan yang Produktivitas dan Efisiensi 0% 20% 40% 60% 80% 100% Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik Gambar 8. Optimalisasi Produksi dan Sumber Daya CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 Kecenderungan positif ini menandakan telah adanya pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip pengelolaan budidaya perikanan, baik dari sisi teknis, kelembagaan, maupun kesadaran pelaku usaha. Temuan ini sejalan dengan pendekatan Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA) yang menekankan pentingnya keselarasan antara produktivitas, kesejahteraan sosial, dan keberlanjutan ekologis (Ross et al. , 2. Namun demikian, kemunculan penilaian AuCukupAy pada seluruh indikator menegaskan bahwa implementasi praktik berkelanjutan belum Masih kesenjangan kapasitas antar kelompok masyarakat dan perbedaan akses terhadap teknologi ramah lingkungan serta informasi pengelolaan yang berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan kajian Rulianto et , . yang menyatakan bahwa tantangan utama dalam menerapkan budidaya berkelanjutan terletak pada aspek distribusi kapasitas dan ketimpangan akses terhadap sumber daya pendukung. Dengan demikian, penguatan budidaya berkelanjutan pendampingan teknis, harmonisasi regulasi lokal yang adaptif, serta pengarusutamaan pendekatan ekosistem dalam kebijakan Integrasi multi-aktor, terutama baik pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan akademisi, akan menjadi kunci dalam memastikan transisi menuju sistem budidaya yang adil, tangguh, dan berkelanjutan secara ekologis dan sosial. Gambar 1. Budidaya Perikanan yang Berkelanjutan Analisis Silang Pengelolaan Budidaya Perikanan Berbasis Masyarakat. Hubungan Partisipasi. Kesadaran, dan Peran Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Aspek Partisipasi Masyarakat. Kesadaran Pentingnya Budidaya, dan Peran Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan menunjukkan keterkaitan erat. Tingginya kesadaran masyarakat terhadap budidaya . ominasi kategori AuBaikAy dan AuSangat BaikA. mendukung tingginya tingkat partisipasi dan keterlibatan masyarakat. Namun, temuan AuCukupAy dan AuKurangAy menunjukkan bahwa partisipasi masih bersifat formal dan belum sepenuhnya memberi pengaruh nyata terhadap keputusan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 Oleh karena itu, peningkatan kualitas partisipasi menjadi krusial agar kesadaran tinggi dapat diterjemahkan menjadi partisipasi yang substantif dan inklusif, sebagaimana ditekankan oleh (Arnstein, 2. dan (Pretty, 1. Keterkaitan Pengembangan Kapasitas Optimalisasi Produksi Keberlanjutan Budidaya Penilaian Pengembangan Kapasitas Masyarakat Optimalisasi Produksi dan Sumber Daya serta Budidaya Perikanan yang Berkelanjutan. Kapasitas yang baik menjadi fondasi untuk pengelolaan budidaya yang efisien dan ramah lingkungan (Edwards, 2. Namun, adanya nilai AuCukupAy pada aspek efisiensi dan penguatan kapasitas teknis dan manajerial agar inovasi dan praktik budidaya dapat berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan ekologis dan ekonomis (Allison & Ellis. Kesenjangan antara Peningkatan Ekonomi dan Keterlibatan dalam Pemantauan dan Evaluasi Aspek Ekonomi Masyarakat yang menunjukkan ketimpangan manfaat ekonomi harus dikaitkan dengan hasil pada Keterlibatan Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi yang belum sepenuhnya inklusif dan efektif. Ketidakseimbangan ini mengindikasikan bahwa mekanisme evaluasi dan kontrol partisipatif perlu diperkuat untuk memastikan distribusi manfaat yang adil dan pengelolaan sumber daya yang transparan (Ostrom. Pemantauan partisipatif penting untuk memperbaiki akuntabilitas dan mencegah kesenjangan sosial yang dapat merusak keberlanjutan jangka panjang (Pretty, 1. Tantangan Penyelesaian Konflik dalam Mendukung Keberlanjutan dan Keterlibatan Variasi persepsi pada Penyelesaian Konflik menunjukkan bahwa konflik sosial masih menjadi hambatan signifikan dalam tata kelola budidaya. Konflik yang tidak terselesaikan dapat menghambat partisipasi bermakna dan keberlanjutan sosial-ekonomi (Kellert et al. , 2. Oleh karena itu, integrasi mekanisme penyelesaian konflik yang efektif sangat penting untuk membangun tata kelola yang inklusif dan Konflik sosial menghambat partisipasi bermakna dengan melemahkan kepercayaan dan membatasi ruang dialog, sehingga keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan menjadi bersifat formal dan tidak substantif. Dampaknya, kepatuhan terhadap kesepakatan pengelolaan menurun dan keberlanjutan sosial-ekonomi Mekanisme efektif untuk komunitas yang rutin, mediasi oleh lembaga adat atau pihak netral, serta aturan pengelolaan bersama yang jelas dan Sinergi dan Tantangan dalam Mewujudkan Budidaya Perikanan yang Berkelanjutan Persepsi positif pada aspek Budidaya Perikanan Berkelanjutan Optimalisasi Produksi dan Sumber Daya menunjukkan kemajuan, tetapi penilaian AuCukupAy yang konsisten mengindikasikan tantangan teknis dan kelembagaan yang harus diatasi. Pendekatan ekosistem dan penguatan regulasi lokal sangat diperlukan agar budidaya perikanan dapat berkembang secara berkelanjutan dan resilien (FAO. KESIMPULAN Kesadaran, partisipasi, dan kapasitas masyarakat menjadi pilar penting untuk CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 1 - 12 keberlanjutan, namun kualitas partisipasi pengambilan keputusan lebih inklusif dan bermakna. Distribusi manfaat ekonomi yang belum merata terkait dengan mekanisme pemantauan yang belum optimal dan penyelesaian konflik yang masih menjadi tantangan utama. Optimalisasi produksi dan keberlanjutan lingkungan harus didukung oleh inovasi teknis dan penguatan kapasitas agar efisiensi dan keberlanjutan berjalan Mekanisme tata kelola yang inklusif dan transparan, dengan penguatan kapasitas dan penyelesaian konflik yang efektif, adalah kunci untuk keberlanjutan jangka panjang budidaya perikanan. DAFTAR PUSTAKA