PENGETAHUAN IBU DAN PERAN TENAGA KESEHATAN BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI INTRA UTERINE DEVICE (IUD) DI PUSKESMAS PADANG BULAN MEDAN Nurfitria Darmayanti1 Eka Darmayanti Putri Siregar2 Alumni Prodi Sarjana Kebidanan STIKes Senior Medan Dosen Kebidanan STIKes Senior Medan ekadarmayanti96@gmail. ABSTRAK Upaya mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera dan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak merupakan satu dari beberapa tujuan program Keluarga Berencana. Rakyat Indonesia saat ini dihadapkan pada permasalahan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan salah satu upaya dalam menangani masalah ini adalah peningkatkan penggunaan MKJP khususnya IUD. Cakupan persentase akseptor IUD Indonesia yang rendah menjadi satu penyebab pertumbuhan penduduk yang tak Sumatera Utara juga mengalami hal yang sama, tercatat hanya 3,81% akseptor IUD tahun 2022 dan suntikan masih menjadi alat kontrasepsi yang mendominasi Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan pengetahuan dan peran tenaga kesehatan dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Padang Bulan Medan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional, dilaksanakan pada April-Juli 2023, dan populasi penelitian 32 orang wanita usia subur (WUS) akseptor IUD dengan rentang usia 30-49 tahun. Sampel penelitian menggunakan metode total sampling dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Pasca pengumpulan data penelitian, data selanjutnya dianalisis menggunakan uji Chi-Square . <0,. Hasil penelitian menunjukkan 20 orang . ,5%) memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 23 orang . ,9%) mendapat dukungan dari tenaga kesehatan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Hubungan yang signifikan juga ditemukan antara pengetahuan . =0,. dan peran tenaga kesehatan . =0,. dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD Hasil penelitian bivariat didapatkan hasil terdapat hubungan signifikan pengetahuan dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD. Kesimpulan hasil penelitian adalah ada hubungan antara pengetahuan dan peran tenaga kesehatan dengan pemilihan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan Kata Kunci: Intra Uterine Device (IUD), pengetahuan, peran tenaga kesehatan LATAR BELAKANG dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka akan menjadi masalah di Indonesia seperti kemiskinan kerusakan lingkungan, pemanasan global, (BPS RI, 2022. Jumlah penduduk Indonesia menurut Kementerian Dalam Negeri (Kemendagr. mencatat bahwa rerata tingkat pertambahan penduduk per tahun meningkat dari 269,603 juta jiwa tahun 2020 menjadi 273,87 juta jiwa tahun 2021. Angka ini menunjukkan Indonesia sudah meningkat 2,49 juta pada tahun 2021 (BPS RI, 2022. Pertambahan penduduk yang besar, jika hal ini tidak Upaya mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera dan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak merupakan satu dari beberapa tujuan program Keluarga Berencana. Rakyat Indonesia saat ini pertumbuhan penduduk yang tinggi dan salah satu upaya dalam menangani penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien yakni penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) IUD (BKKBN, 2. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alat keluarga berencana di Indonesia 55,36% dan alat kontrasepsi yang paling mendominasi berupa suntikan dengan persentase 56,01% sementara penggunaan Intra Uterine Device (IUD) hanya 8,35%. (BPS RI, penyuluhan yang kurang oleh para tenaga kesehatan berhubungan dengan minat menggunakan IUD sehingga mereka lebih tertarik dan memilih menggunakan suntikan KB 1 atau 3 bulan. Minat PUS di Sumatera Utara Puskesmas Padang Bulan Medan, menarik peneliti melakukan sebuah penelitian terkait hubungan pengetahuan dan peran tenaga dengan pemilihan alat kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain crosectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Padang Bulan Medan pada Bulan April hingga Juli 2023. Populasi penelitian ini adalah 32 Wanita Usia Subur Akseptor IUD yang memperoleh layanan pemasangan alat kontrasepsi IUD sejak November 2022 hingga Juli 2023 di Puskesmas Padang Bulan Medan. Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling. Teknik pengumpulan data berdasarkan data primer dan sekunder. Instrumen penelitian adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat Analisis menggunakan uji Chi Square dengan p<0,05 menandakan ada hubungan antara variabel independen dengan variabel Persentase rendah penggunaan IUD di Provinsi Sumatera Utara juga terjadi. BPS melaporkan bahwa jumlah Pasangan Usia Subur dan Peserta KB Aktif di Sumatera Utara Tahun 2022 yang menggunakan alat kontrasepsi IUD adalah 080 atau 3,81%, di Kota Medan 7604 (BPS, 2. dan di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2022 adalah 32 orang. Rendahnya cakupan pengunaan alat kontrasepsi IUD dilatarbelakangi oleh faktor beragam. Dua dari beberapa faktor tersebut adalah pengetahuan masyarakat yang kurang terkait keuntungan pengunaan metode MKJP dan keterbatasan dalam hal jumlah tenaga kesehatan terampil, teratih dan tersertifikasi dalam hal pemberian KIE alat kontrasepsi dan pemasangan alat kontrasepsi IUD (Safitri, 2. Penelitian yang dilakukan Trianingsih tahun 2021 juga menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan dan peran tenaga kesehatan berhubungan erat dengan minat akseptor KB IUD (Trianingsih, 2021. Nadeak. HASIL Hasil Analisis Univariat Tabel 1 menampilkan bahwa akseptor mayoritas memiliki pengetahuan yang baik terkait alat kontraspesi IUD yakni sebanyak 20 akseptor . ,5%) dan sedikit berpengetahuan kurang sebanyak 12 akseptor . ,5%). Keterbatasan pengetahuan dan informasi mengenai MKJP, menstimulasi menggunakan MKJP, serta informasi atau Pada Tabel 2 diketahui bahwa 9 akseptor KB IUD . ,1%) tidak mendapat dukungan dari tenaga kesehatan untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD ,9%) menyatakan memperoleh dukungan untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Akseptor KB IUD Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Akseptor KB IUD Baik Kurang Total Tabel 2 Distribusi Frekuensi Akseptor KB IUD Berdasarkan Peran Tenaga Kesehatan dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD Peran Tenaga Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Total Hasil Analisis Bivariat Tabel 3 Tabulasi silang antara Pengetahuan Akseptor IUD dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD Pengetahuan Menggunakan pValue Tidak Menggunakan Total Baik Kurang Total 0,021 Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Pengetahuan Akseptor IUD dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan dengan p-value 0,021 Tabel Tabel 4 Tabulasi silang antara Peran Tenaga Kesehatan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD Peran Tenaga Kesehatan Menggunakan Tidak Menggunakan pValue Total Mendukung Tidak Mendukung Total 0,030 Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Peran Tenaga Kesehatan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di Puskesmas Padang Bulan Medan dengan p-value 0,030 PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan Akseptor IUD Dengan Pemilihat Alat Kontrasepsi IUD Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi-square Hubungan Pengetahuan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2023 dengan nilai p value 0,021 . <), maka memperlihatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel ini. Notoadmodjo dalam bukunya tahun 2016 pada tahun 2016 memaparkan bahwa tingkat pengetahuan individu dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat berupa kemampuan . objek yang diketahui yang tidak sekedar mampu menyebutkan dengan tepat. Hal ini akan tercapai ketika seorang individu tersebut memiliki jenjang pendidikan atau pola pikir yang baik. Jenjang Pendidikan dan pola pikir yang baik akan melahirkan pengetahuan terkait suatu hal yang akan lebih baik pula. Beranjak dari faktor internal, terdapat pula faktor eksternal yang kurangnya minat seorang individu dalam suatu hal. Faktor eksternal yang dimaksud adalah kurangnya keterpaparan oleh media massa tentang informasi kesehatan, baik media cetak, elektronik, yang kaitannya berhubungan dengan infomasi tentang keluarga berencana seperti penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. IUD salah satunya (Notoadmodjo, 2. Penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa pengetahuan rendah akan menstimulasi WUS untuk tidak menggunakan IUD. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa 55% WUS tidak pernah mengetahui IUD serta hanya 20% WUS saja yang pergi ke layanan kesehatan primer guna mengetahui keefetivitasan IUD. Sebuah penelitian di Ethiopia penyebab utama tidak menggunakan IUD ialah rasa takut akan mengalami ketidaksuburan (Danielle et al, 2. dan sebuah penelitian di Sumatera Barat juga menemukan bahwa ada keterkaitan antara pengetahuan akseptor KB (Khoiriyah. Pengetahuan adalah modal utama WUS guna mengetahui suatu hal itu baik menghasilkan dampak pada pengambilan keputusan dalam memilih pilihan terbaik menurutnya. Wanita usia subur (WUS) yang berpengetahuan baik akan lebih condong memilih untuk menggunakan IUD sebagai alat kontrasepsinya sebab ia sudah paham dan mengerti bahwa IUD adalah alat kontrasepsi jangka panjang yang menawarkan berbagai macam kelebihan dibandingkan alat kontrasepsi WUS juga telah memperoleh informasi dari penyuluhan yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan mengenai IUD WUS mengenai alat kontrasepsi IUD juga baik dan termotivasi dalam menggunakan lebih untuk memilih menggunakan IUD yang sesuai dengan kebutuhannya. Hubungan Peran Tenaga Kesehatan Dengan Pemilihat Alat Kontrasepsi IUD Hasil menggunakan Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan Peran Tenaga Kesehatan dengan Pemilihan ALat Kontrasepsi IUD Di Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2023 nilai p value = 0,030. Green Notoatmodjo, 2016 memaparkan bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan sebagai seorang konselor. Tugas konselor dalam hal ini adalh sebagai pemberik informasi kesehatan kepada WUS atau PUS agar terjadi perubahan perilaku, yang semula tidak mengetahui tentang KB dan enggan menggunakan alat kontrasepsi berubah menjadi tahu dan mau menggunakan alat kontrasepsi (Notoatmodjo, 2. Perempuan sudah selayaknya dan wajib memperoleh informasi terkait alat kontrasepsi dari berbagai sumber lain yakni para tenaga kesehatan profesional ataupun media online. Penelitian Yeshiwas Abebaw, dkk tahun 2019, memaparkan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang kurang dari seorang pengambilan keputusan seorang acalon akseptor untuk tidak memilih sebagai alat kontrasepsi, hal mengisyaratkan bahwa diperlukannya pelaksanaan pelatihan bidan, perawat, dokter umum dan petugas kesehatan lain dalam hal pemberian konseling pada PUS (Abebaw et al. Penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sundari pada tahun 2020 (Sundari, 2. Hal- hal yang telah diuraikan di atas, mengandung arti bahwa layanan KB melalui KIE yang berkualitas adalah unsur utama dan krusial dalam mencapai pelayanan kesehatan reproduksi. Tenaga menjembatani para calon akseptor untuk berdaya dalam menentukan jenis alat kontrasepsi terbaik untuknya dan pada akhirnya akan menghasilkan dampak positif pula pada peningkatan cakupan keberhasilan penggunaan MKJP. Para tenaga kesehatan, sebagai pemberi layanan KB juga sangat perlu difasilitasi dalam hal mengikuti pelatihan Contraceptive Technology Update (CTU) keterampilan, dan juga sikap positif dalam pemasangan alat kontrasepsi IUD sehingga akan lebih memungkinkan dan menstimulus para perempuan untuk lebih banyak memilih dan menggunakan alat kontrasepsi IUD. UCAPAN TERIMAKASIH (Bila Ad. Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Puskesmas Padang Bulan Medan yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di Puskesmas Padang Bulan Medan ah-penduduk-hasil proyeksi-menurutprovinsi-dan-jenis-kelamin. DAFTAR PUSTAKA