JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Penerapan Metode 3M (Mewarnai. Memotong. Menempe. untuk Meningkatkan Motorik Halus Anak Tunagrahita Ringan Kelas 3C SLB Manunggal Slawi Amelia Zulfal Asvia1*. Faizah Muawanah. Fajar Muzaki Mustofa. Ghina Rahma Izzati. Efvelin BS Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Tegal. Indonesia. DOI: 10. 29303/jpap. Sitasi: Asvia. Muawanah. Mustofa. Izzati. , & BS. Penerapan Metode 3M (Mewarnai. Memotong. Menempe. untuk Meningkatkan Motorik Halus Anak Tunagrahita Ringan Kelas 3C SLB Manunggal Slawi. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 155Ae159. https://doi. org/10. 29303/jpap. *Corresponding Author: Amelia Zulfal Asvia. Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Tegal. Indonesia. ameliaasvia@gmail. Abstract: Fine motor skills are an important aspect in the development of children with mild intellectual disabilities because they directly affect functional independence, basic academic abilities, and readiness to carry out daily activities. This study aims to describe the effectiveness of applying the 3M Method (Coloring. Cutting. Pastin. in improving the fine motor skills of mildly mentally disabled students in class 3C at SLB Manunggal Slawi. The study used a classroom action research (CAR) design with a descriptive qualitative approach conducted in two cycles. The research subjects consisted of six students in class 3C, while the teacher acted as a facilitator in each stage of the action. Data collection techniques included participatory observation and documentation of student work on each 3M activity. The results showed that in Cycle I, students began to show enthusiasm, but there were still various obstacles, such as inaccuracy when coloring outside the lines and a lack of precision when cutting patterns. After implementing strategic improvements and more intensive guidance in Cycle II, students' fine motor skills showed significant This was evident in neater coloring skills, improved cutting accuracy, and more focused and instruction-compliant pasting abilities. Thus, it can be concluded that the 3M Method has proven effective in stimulating eye-hand coordination, strengthening fine motor control, and gradually and systematically improving the fine motor skills of children with mild intellectual disabilities. Keywords: Fine Motor Skills, 3M Method. Mild Intellectual Disability. Manunggal Slawi Special Needs School. Abstrak: Kemampuan motorik halus merupakan aspek penting dalam perkembangan anak tunagrahita ringan karena berpengaruh langsung terhadap kemandirian fungsional, kemampuan akademik dasar, serta kesiapan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas penerapan Metode 3M (Mewarnai. Memotong. Menempe. dalam meningkatkan keterampilan motorik halus siswa tunagrahita ringan kelas 3C di SLB Manunggal Slawi. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri atas enam siswa kelas 3C, sementara guru berperan sebagai fasilitator dalam setiap tahap tindakan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif dan dokumentasi hasil karya siswa pada setiap aktivitas 3M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Siklus I siswa mulai menunjukkan antusiasme, namun masih terdapat berbagai hambatan seperti ketidaktepatan saat mewarnai di luar batas objek serta kurangnya presisi ketika memotong Setelah dilakukan perbaikan strategi dan pendampingan lebih intensif pada Siklus II, kemampuan motorik halus siswa mengalami peningkatan signifikan. Hal tersebut terlihat dari keterampilan mewarnai yang lebih rapi, ketepatan memotong yang lebih baik. A 2026 Published by Posgraduate University of Mataram. This open access article is distributed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 155-159 serta kemampuan menempel yang semakin terarah dan sesuai instruksi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Metode 3M terbukti efektif dalam menstimulasi koordinasi mata dan tangan, memperkuat kontrol otot halus, serta meningkatkan keterampilan motorik halus anak tunagrahita ringan secara bertahap dan sistematis. Kata Kunci: Motorik Halus. Metode 3M. Tunagrahita Ringan. SLB Manunggal Slawi. Pendahuluan Pendidikan Islam dan Bimbingan Konseling (BK) di lembaga pendidikan inklusif memiliki peran esensial dalam memfasilitasi perkembangan holistik siswa berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Di SLB Manunggal Slawi, fenomena yang teramati adalah adanya kesulitan yang dialami siswa tunagrahita ringan, khususnya di kelas 3C, dalam menguasai keterampilan dasar motorik halus seperti memegang pensil, menggunting, dan menempel. Kesulitan ini termanifestasi dalam kerapian hasil kerja yang rendah dan kontrol gerak tangan yang belum Padahal, motorik halus adalah fondasi penting untuk keterampilan akademik dasar . dan kemandirian hidup sehari-hari . emakai baju, maka. Menurut teori Psikologi Perkembangan, anak usia sekolah membutuhkan stimulasi motorik halus yang terstruktur untuk mengoptimalkan koneksi saraf dan koordinasi mata-tangan. Bagi anak tunagrahita ringan, proses ini memerlukan metode yang spesifik, berulang, dan konkret (Kauffman & Landrum, 2. Oleh karena itu, penerapan intervensi yang sistematis dan menarik sangat relevan dengan bidang Psikologi Pendidikan karena bertujuan untuk mengoptimalkan potensi belajar dan fungsional siswa. Dalam konteks BK Islam, intervensi ini juga dapat dilihat sebagai upaya tarbiyah . untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian . melalui penyelesaian tugas secara tuntas (Ramli & Azizah, 2. Kemampuan motorik halus merupakan aspek penting dalam perkembangan anak, terutama dalam mendukung aktivitas sehari-hari seperti menulis, menggambar, dan menggunakan alat bantu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode 3M . ewarnai, memotong, menempe. efektif dalam merangsang dan meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia Metode 3M, yang terdiri dari kegiatan Mewarnai. Menggunting, dan Menempel, merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia Melalui kegiatan mewarnai, anak dilatih untuk mengendalikan gerakan tangan dan jari-jari agar dapat mengisi warna sesuai gambar, sehingga meningkatkan koordinasi mata dan tangan serta ketelitian. Aktivitas menggunting mendorong anak untuk mengontrol gerakan tangan dengan presisi, mengikuti pola yang ditetapkan, dan mengasah kemampuan konsentrasi serta kemandirian. Sementara itu, menempel memungkinkan anak untuk menempatkan potongan kertas atau benda kecil dengan tepat pada media yang ketelitian, dan koordinasi secara simultan. Penerapan metode 3M biasanya melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penutup, dengan guru berperan sebagai fasilitator yang memberi arahan, bimbingan, dan pujian sehingga anak tetap fokus dan termotivasi. Metode ini tidak hanya meningkatkan motorik halus, tetapi juga merangsang kreativitas, imajinasi, kemampuan berpikir logis, serta keterampilan sosial anak, menjadikannya pilihan yang menyenangkan dan bermanfaat dalam pendidikan anak usia dini. (Sudono. Penerapan metode 3M, yaitu Mewarnai. Memotong, dan Menempel, merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Kegiatan ini tidak hanya melatih koordinasi tangan dan jari anak, tetapi juga mengembangkan keterampilan manipulatif yang penting dalam aktivitas sehari-hari, seperti menulis dan menggambar. Melalui mewarnai, anak belajar mengendalikan gerakan tangan dan jari untuk mengisi warna dengan rapi, sedangkan kegiatan memotong melatih ketelitian dan presisi dalam mengeksekusi bentuk sesuai pola yang diinginkan. Sementara itu, menempel melatih kontrol gerakan tangan dan jari untuk menempatkan benda dengan tepat, sekaligus mendorong kreativitas dan imajinasi Implementasi metode 3M yang didukung oleh bimbingan guru serta dukungan orang tua di rumah dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak secara signifikan, sambil memberi pengalaman belajar yang menyenangkan dan merangsang perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi strategi penting dalam mendukung pertumbuhan optimal anak di masa awal pendidikan mereka. (Case-Smith. , & O'Brien. Zahra . menyatakan bahwa kegiatan 3M mampu meningkatkan koordinasi mata dan tangan serta memperkuat otot-otot kecil pada anak usia dini. menekankan bahwa Auaktivitas mewarnai, menggunting. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan dan menempel memberikan stimulus visual dan taktil yang mempercepat perkembangan motorik halusAy (Zahra, 2. Penelitian oleh Karti Asih et al. , . juga menunjukkan hasil serupa. Dalam studi eksperimental yang dilakukan di TK Negeri Pembina Kota Palu, ditemukan bahwa terdapat peningkatan signifikan kemampuan motorik halus anak setelah mengikuti Mereka menyimpulkan bahwa Aumetode 3M merupakan pendekatan yang menyenangkan dan efektif dalam pembelajaran motorik halus anak usia diniAy (Asih et al. Rohanah . dalam penelitiannya di TK Negeri Pembina Metro Utara menambahkan bahwa kegiatan 3M tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik, tetapi juga membangun rasa percaya diri anak dalam menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan Ia menyatakan bahwa Auanak menjadi lebih fokus dan teliti saat melakukan kegiatan yang melibatkan keterampilan tanganAy. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa aktivitas berbasis seni dan praktik langsung efektif untuk meningkatkan motorik halus. Studi oleh Mulyadi . menemukan bahwa kegiatan kolase dan menempel terbukti meningkatkan fokus dan koordinasi siswa tunagrahita. (Mulyadi, 2. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan pada anak usia dini secara umum, bukan pada anak berkebutuhan khusus seperti tunagrahita ringan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan mengkaji penerapan metode 3M dalam meningkatkan motorik halus anak tunagrahita ringan di SLB, khususnya kelas 3C di SLB Manunggal Slawi. Metode Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain kualitatif deskriptif. Desain ini dipilih untuk mengamati dan mendeskripsikan secara mendalam proses dan perubahan yang terjadi setelah intervensi. Metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi. (Sugiyono. Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 155-159 sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu. (Arikunto, 2. Subjek dan Partisipan: Subjek penelitian adalah enam siswa tunagrahita ringan Kelas 3C SLB Manunggal Slawi dan satu orang guru kelas yang bertindak sebagai pelaksana tindakan sekaligus partisipan utama dalam proses refleksi. Teknik Pengumpulan Data: Data dikumpulkan Observasi Partisipatif: Peneliti mengamati secara langsung proses penerapan Metode 3M, mencatat respons, kesulitan, dan perkembangan motorik siswa di setiap siklus. Wawancara . idak terstruktu. : Dilakukan dengan guru untuk mendapatkan pandangan mengenai kendala dan progres siswa. Dokumentasi: Berupa pengumpulan dan analisis hasil karya siswa . embar mewarnai, potongan, dan hasil tempela. pada akhir setiap siklus. Teknik Analisis Data: Data dianalisis melalui tiga tahapan model (Miles & Huberman, 1. Reduksi Data: Memilah, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari observasi dan dokumentasi, berfokus pada indikator motorik halus. Penyajian Data: Menyajikan data dalam bentuk naratif deskriptif dan tabel perbandingan hasil antarsiklus. Penarikan Kesimpulan: Merumuskan kesimpulan mengenai efektivitas Metode 3M berdasarkan peningkatan yang terjadi dari Siklus I ke Siklus II. Etika Penelitian: Etika penelitian diterapkan dengan menjaga kerahasiaan identitas partisipan. Nama siswa yang disebutkan dalam hasil hanya digunakan sebagai deskripsi faktual temuan lapangan dan telah disetujui untuk tujuan penelitian. Hasil dan Pembahasan Deskripsi Hasil Siklus I Pada Siklus I, penerapan Metode 3M mulai menunjukkan adanya respons positif, namun masih ditemukan beberapa kendala spesifik pada beberapa Mewarnai: Sebagian siswa masih mewarnai di luar Abiyaksa Adi dan ShafiAoi Khoirul Zaki terlihat masih kesulitan dalam mengendalikan arah dan tekanan warna sehingga hasilnya kurang rapi. Hal ini menunjukkan kontrol otot jari dan koordinasi matatangan yang belum optimal. Memotong: Sebagian besar siswa sudah dapat menggunakan gunting, namun masih ada yang belum presisi mengikuti garis pola. Muhammad Zabran dan Syamsul Rizal tampak kesulitan menjaga Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan ketepatan guntingan, yang mengindikasikan masalah dalam perencanaan gerak . otor plannin. Menempel: Seluruh siswa sudah mampu melakukan kegiatan menempel dengan baik. Mereka dapat posisi gambar memerlukan arahan untuk merapikan tata letak. Catatan Khusus: Alshameyzea Rahma sudah mampu melakukan ketiga kegiatan . ewarnai, memotong, menempe. dengan baik, meskipun tetap mempertahankan kerapian. Deskripsi Hasil Siklus II Setelah dilakukan intervensi dan bimbingan lanjutan yang lebih intensif pada Siklus II, terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada hampir semua siswa, menunjukkan perbaikan pada aspek kontrol gerak dan ketepatan: Mewarnai: Kemampuan sebagian besar siswa menunjukkan perkembangan. Warna lebih merata, dan batas objek lebih dihargai. Abiyaksa Adi dan ShafiAoi Khoirul Zaki menunjukkan perbaikan meskipun sesekali masih keluar garis, namun frekuensinya berkurang drastis. Memotong: Ketepatan saat menggunting meningkat. Muhammad Zabran dan Syamsul Rizal mulai dapat mengikuti garis pola lebih baik daripada siklus sebelumnya, meskipun hasilnya belum sepenuhnya Peningkatan ini menunjukkan penguatan otot tangan dan pemahaman visual yang lebih baik. Menempel: Seluruh siswa konsisten mampu menempel gambar dengan rapi. Teknik penggunaan lem sudah dipahami dengan baik, dan tata letak gambar semakin teratur tanpa memerlukan banyak Catatan Khusus: Alshameyzea Rahma semakin stabil dalam melakukan semua tahapan dan mampu menyelesaikan tugas dengan baik meskipun tetap memerlukan instruksi ringan dari guru, yang menunjukkan kemandirian belajar yang semakin kokoh. Pembahasan (Discussio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi Metode 3M secara bertahap berhasil mengatasi hambatan motorik halus pada siswa tunagrahita ringan. Peningkatan signifikan dari Siklus I ke Siklus II menegaskan bahwa aktivitas yang terstruktur dan berulang sangat krusial bagi perkembangan kognitif dan motorik anak berkebutuhan khusus (Kirk et al. Aktivitas Mewarnai dalam Metode 3M secara langsung melatih kontrol jari dan tekanan pensil, yang merupakan prasyarat untuk menulis. Sulitnya Abiyaksa dan ShafiAoi di awal sejalan dengan karakteristik Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 155-159 tunagrahita yang sering mengalami keterlambatan dalam koordinasi visual-motor. Begitu pula dengan Memotong, keterampilan ini menuntut koordinasi bilateral dan sinkronisasi mata-tangan. Perbaikan pada Muhammad Zabran dan Syamsul Rizal di Siklus II menunjukkan bahwa pengulangan dan scaffolding yang tepat dari guru mampu membangun memori otot . uscle memor. yang diperlukan untuk gerakan Dalam konteks Psikologi Pendidikan dan BK Islam, metode 3M ini merefleksikan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif: Konkret dan Praktis: Kegiatan hands-on lebih mudah dipahami siswa tunagrahita dibandingkan instruksi verbal abstrak. Pembinaan Karakter: Proses penyelesaian tugas hingga tuntas, mulai dari mewarnai, memotong, hingga menempel dengan rapi, menanamkan nilai ketekunan . dan tanggung jawab, yang merupakan bagian integral dari konseling berbasis nilai Islam (Sutirna, 2. Keberhasilan siswa seperti Alshameyzea dalam menyelesaikan tugas dengan rapi mencerminkan pencapaian kemandirian belajar. Temuan ini konsisten dengan penelitian Nurmiyati dan Hasanah . yang menyimpulkan bahwa aktivitas manipulatif seperti menempel dan memotong dapat mengaktivasi jalur saraf yang mendukung fungsi eksekutif, meskipun pada siswa tunagrahita prosesnya berjalan lebih lambat dan membutuhkan intervensi yang lebih intensif. Oleh karena itu, peran guru di SLB Manunggal Slawi sangat menentukan sebagai fasilitator yang sabar dan reflektif dalam menyesuaikan intervensi di setiap siklus Kesimpulan Penerapan Metode 3M (Mewarnai. Memotong. Menempe. terbukti efektif dan sistematis dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak tunagrahita ringan Kelas 3C SLB Manunggal Slawi. Peningkatan yang signifikan terlihat pada kemampuan kontrol warna dan presisi saat menggunting dari Siklus I ke Siklus II, yang didukung oleh bimbingan dan intervensi yang berkelanjutan dari guru. Metode ini berhasil menstimulasi koordinasi visual-motorik yang esensial bagi kemandirian fungsional siswa. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, subjek penelitian terbatas pada siswa tunagrahita ringan Kelas 3C di SLB Manunggal Slawi, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan ke jenjang kelas lain, kategori ketunaan yang berbeda, maupun sekolah luar biasa Kedua, durasi penelitian yang relatif singkat dan hanya dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 155-159 memungkinkan hasil peningkatan keterampilan motorik halus dipengaruhi oleh faktor kebaruan metode dan intensitas bimbingan guru, sehingga belum dapat menggambarkan keberlanjutan hasil dalam jangka Ketiga, penilaian keterampilan motorik halus masih berfokus pada aspek mewarnai dan menggunting, sehingga belum mencakup seluruh indikator motorik halus secara komprehensif. Selain itu, keterlibatan aktif guru sebagai pembimbing utama berpotensi memengaruhi objektivitas pengamatan, meskipun telah dilakukan upaya pengamatan secara Daftar Pustaka