Al-Insyirah Midwifery Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science. https://jurnal. id/kebidanan Volume 13. Nomor 2. Tahun 2024 p-ISSN: 2338-2139 e-ISSN: 2622-3457 PERBANDINGAN PIJAT WOOLWICH DAN PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI IBU POSTPARTUM DI PMB X KAMPAR Wilda Artika Sari Siregar. Rifa Rahmi. Rizka Mardiya. Wira Ekdeni Aifa. Program Studi Kebidanan Program Sarjana. Fakultas Kesehatan Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Pekanbaru. Indonesia *email: wildaartikasarisiregar@gmail. ABSTRAK ASI Ibu merupakan cairan putih yang dihasilkan kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui dan termasuk makanan terbaik bagi bayi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan pengaruh pijat Woolwich dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di PMB X yang asa di Kabupaten Kampar. Jenis penelitian ini menggunakan Pra-Eksperiment dengan rancangan penelitian yaitu Two group pretest-posttest. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2024. Populasi penelitian ini yaitu seluruh ibu postpartum di PMB X Kabupaten Kampar, jumlah sampel 32 responden dengan teknik purposive sampling menggunakan Uji Wilcoxon Signed Ranks Test dan Uji Mann Whitney. Hasil didapatkan pada penelitian ini produksi ASI pijat Woolwich sebelum 55,00 ml dan sesudah pijat Woolwich 365,00 ml dan sebelum pijat oksitosin 59,38 ml dan sesudah Pijat Oksitosin 365,75 ml. Didapatkan hasil p-value pada Pijat Woolwich 000425<0,05 sedangkan nilai p-value pada Pijat Oksitosin 0,000413<0,05 sedangkan perbandingan pijat Woolwich yaitu 15,41 ml dan perbandingan pijat oksitosin 17,59 ml dengan selisih 2,18 ml maka Ho diterima dan Ha ditolak artinya pada Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin ada perbedaan terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di PMB X Kabupaten Kampar Kata kunci: Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin. Ibu Postpartum. Produksi ASI ABSTRACT Breast milk is a white fluid produced by the mother's mammary glands through the breastfeeding process and isthe best food for babies. This study aims to determine the comparison of the effects of Woolwich massage and oxytocin massage on breast milk production in postpartum mothers at PMB X Kampar Regency. This type of research uses PreExperiment with a research design, namely Two group pretest- posttest. This research was conducted in May-July 2024. The population of this study was all postpartum mothers at PMB X Kampar Regency, the number of samples was 32 respondents with a purposive sampling technique using the Wilcoxon Signed Ranks Test and the Mann Whitney Test. The results obtained in this study were that the production of breast milk from Woolwich massage 00 ml and after Woolwich massage 365. 00 ml and before oxytocin massage 59. ml and after Oxytocin Massage 365. 75 ml. The results of the p-value on Woolwich Massage 000425 <0. 05 while the p-value on Oxytocin Massage was 0. 000413 <0. 05 while the comparison of Woolwich massage was 15. 41 ml and the comparison of oxytocin massage was 59 ml with a difference of 2. 18 ml then Ho was accepted and Ha was rejected meaning that in Woolwich Massage and Oxytocin Massage there was a difference in breast milk production in postpartum mothers at PMB X Kampar Regency. Keywords: Woolwich Massage. Oxytocin Massage. Postpartum Mothers. Breast Milk Production 164 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 PENDAHULUAN Produksi ASI ibu merupakan cara salah satu faktor agar kebutuhan ASI untuk batita dapat terpenuhi. Pemberian ASI yang kurang akan berdampak pada anak di usia 0-3 tahun perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik anak seperti: pertumbuhan otak terhambat akan berpenyebab anak tidak cerdas, dan pertumbuhan jasmani terhambat berpenyebab anak menjadi stunting, anak menjadi lemah dan mudah sakit, beresiko menderita alergi, asma, gangguan gigi dan maloklusi, anemia defisiensi besi, hipertensi dan jantung, serta sindrom mati mendadak (S. Handayani. Susaldi, and Syarah 2. Faktor yang dapat mempengaruhi proses produksi ASI di antaranya adalah faktor nutrisi, faktor IMD, faktor isapan bayi, perawatan payudara, pola istirahat, faktor menyusui, faktor sosial budaya, konsumsi rokok dan alkohol serta faktor Ibu yang mengalami stres dapat mengakibatkan terjadinya blokade dari refleks let down yang diakibatkan karena adanya pelepasan adrenalin . sehingga vasokontriksi pembuluh darah alveoli menghambat oksitosin untuk mencapai target miopitelium (Sukriana. Dewi, and Utami, 2. Pijat woolwich adalah pemijatan diatas areola mammae tepatnya 1-1,5 cm dengan tujuan untuk mengeluarkan ASI yang ada di sinus laktiferus (Gudang ASI). Pemijatan ini akan merangsang sel saraf di payudara menuju ke hipotalamus untuk diteruskan merangsang produksi ASI (Kusumastuti et al. , 2. Melalui hormon endorphin yang disekresi dengan rileks dan nyaman tersebut yang dialami ibu selama pemijatan dan support yang Metode pijat woolwich meningkatkan rangsangan sentuhan produksi oksitosin yang menyebabkan sel-sel (Kusumastuti et al. , 2. Pijat woolwich memiliki manfaat diantaranya: mencegah peradangan atau bendungan payudara, mencegah memperbanyak produksi ASI. Pijat postpartum di waktu pagi dan sore hari sebanyak 2 kali/hari minimal dilakukan selama 3 hari. Prosedur melakukan pijat woolwich dilakukan pemijatan melingkar pada area sinus laktiferus tepatnya 1-1,5 cm di luar areola mamae menggunakan kedua ibu jari selama 15 menit (Kusumastuti & Laelatul, 2. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang . sampai tulang costae kelima-keenam untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Wahyuningtyas 2. Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI yang kurang dapat dilakukan tindakan nonfarmakologis pijat oksitosin yang dapat merangsang refleks oksitosin atau refleks letdown, selain itu dapat memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormone oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit (Rumakey. Dewi Susanti . Ratna Sari, 2. World Health Organization (WHO) 2021 melaporkan data pemberian produksi ASI secara global, yaitu sekitar 44% bayi usia 0-6 bulan yang mendapatkan ASI di seluruh dunia selama periode 2015-2020, hal ini belum mencapai target untuk cakupan pemberian Produksi ASI di dunia yakni sebesar 50% (WHO, 2. 165 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Kementerian Kesehatan (Kemenke. mencatat bahwa 66% bayi menerima produksi ASI hingga triwulan kedua tahun 2022. Data yang dikumpulkan sejak Januari - Juni itu mendorong kementerian untuk terus Produksi ASI. Berdasarkan Kemenkes Riau Cakupan Produksi ASI di Provinsi Riau belum mencapai target yang diharapkan dan pada bayi usia yang kurang dari 6 bulan 49,7% . arget 80%) per Februari 2023, dan 46,6% pada bayi usia 6 bulan . arget 50%) per Mei 2023. Dalam enam bulan kehidupan pertama. Produksi ASI menyediakan semua kebutuhan gizi dan cairan yang dibutuhkan bayi. Berdasarkan survei awal yang saya lakukan di klinik Bd. Fuchia Yulivel Asneldy. Tr. Keb. (Ke. Desa Kualu. Kecamatan Tambang. Kabupaten Kampar. Pijat Woolwich dan pijat oksitosin ini belum pernah dilakukan disana sehingga saya tertarik untuk melakukan pijat Woolwich dan pijat oksitosin. Dan menurut jurnal (Amnar et al. ,2. untuk memastikan aplikasi yang berikan oleh Amnar et, 2022 itu benar ataupun ada inofasi baru terhadap pijat produksi ASI. METODE Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Kuantitatif dengan desain Quasi Eksperimen melalui rancangan Pretest-Posttest dengan perbandingan membandingkan kelancaran ASI ibu postpartum sebelum dan sesudah intervensi pijat Woolwich dan pijat Oksitosin pada kelompok eksperimen. Penelitian mengetahui produksi ASI dengan perbandingan pengaruh pijat woolwich dan pijat oksitosin pada ibu postpartum di PMB X Kabupaten Kampar. Jenis rancangan pra-eksperimen, two group pretest dan posttest. Penelitian ini dilakukan sebanyak 2 kali sehari pada waktu pagi dan sore hari yakni sebelum dan sesudah dilakukan pemijatan yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh pijat woolwich dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (Sugiyono, 2. Penelitian dilaksanakan di PMB X Kabupaten Kampar yang bertempat di Jl. Tuanku Tembusai. Desa Kualu. Kecamatan Tambang. Kabupaten Kampar. Penelitian ini dimulai pada bulan JuniJuli 2024. Populasi penelitian ini melahirkan normal dan berada di PMB X Kabupaten Kampar dengan jumlah responden sebanyak 32 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan Instrument atau alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan minyak baby oil atau minyak zaitun dan pumping ASI dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pijat Woolwich dan pijat oksitosin serta lembar observasi sebelum dan sesudah dilakukan Setelah dilakukan pemijatan maka kita melihat intervensi perlakuan pijat Woolwich dan pijat oksitosin sebelum dan produksi ASI pada ibu postpartum. Penelitian ini telah melalui persetujuan layak etik dengan nomor surat No. 225/IKES PN/KEPK/Vi/2024. Analisis data Univariat dan Bivariat dengan menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Uji Mann Whitney. Serta uji Normalitas Data. 166 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 HASIL Analisis Univariat Produksi ASI Sebelum dan sesudah dilakukan Pijat Woolwich pada ibu Tebel 1. Produksi ASI Sebelum dan sesudah dilakukan Pijat Woolwich pada ibu postpartum Kelompok Pretest Postest Mean . Median . Minimum . Maximum . Devation posttest adalah Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan Dengan rerata pretest dilakukan pijat Woolwich bahwa terdapat perbedaan produksi ASI 00 ml dan postest dilakukan sebelum dan sesudah intervensi pijat intervensi pijat Woolwich didapatkan Woolwich pada Ibu Postpartum di PMB nilai mean 365,00. Dan rerata selisih X Kabupaten Kampar perbedaan pijat Woolwich pretest dan Produksi ASI Sebelum dan sesudah dilakukan Pijat oksitosin pada ibu Tabel 2. Produksi ASI Pada Ibu Postpartum Sebelum dan Sesudah Pijat Oksitosin Kelompok Pretest Postest Mean . Median . Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan rerata pretest dilakukan pijat oksitosin 38 ml dan postest dilakukan intervensi pijat oksitosin nilai mean 365,75. Dan rerata selisih perbedaan pijat oksitosin pretest dan posttest adalah sebesar 306,45 ml. Minimum . Maximum . Devation Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan produksi ASI sebelum dan sesudah intervensi pijat oksitosin pada Ibu Postpartum di PMB X Kabupaten Kampar. Analisis Bivariat Uji Normalitas data Tabel 3. Uji Normalitas Data terhadap produksi ASI pada Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin pada Ibu Postpartum di PMB X Uji Normalitas p Value Kesimpulan Pretest Pijat Normal Woolwich PosttestPijatWoolwich Tidak Normal Pretest Pijat Oksitosin Normal Posttest Pijat Tidak Normal Oksitosin 167 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Berdasarkan memperlihatkan bahwa pijat Woolwich dan pijat oksitosin menunjukkan terdapat distribusi data tidak normal pada posttest pijat Woolwich yaitu p- value 0,002<0,05 dan pijat oksitosin pada postest yaitu p-value 0,001<0,05 sehingga analisis data menggunakan analisis alternatif yaitu Uji Non Parametrik. Pengaruh Pijat Woolwich Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Tabel 4. Uji Wilcoxon Signed Rank Test Pengaruh Pijat Woolwich Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Postpartum Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Variabel Posttest Pijat Woolwich Pretest Pijat Woolwich Penurunan Produksi ASI Peningkatan Produksi ASI Tidak Ada Perubahan Produksi ASI Total Berdasarkan memperlihatkan nilai Mean Rank sebelum dilakukan pijat Woolwich terdapat penurunan ASI bernilai 0,00 da Sum of Rank sebesar 0,00. Setelah dilakukan pijat Woolwich terdapat peningkatan produksi ASI dengan nilai Mean Rank 8,50 dengan Sum of Rank 136,00. Hasil Mean Rank Sum of Ranks P value menggunakan Uji Wilxocon Signed Ranks Test, p-value 0,000425<0,05. Hal mengindikasikan bahwa hipotesis Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya ada perbedaan pengaruh pijat Woolwich terhadap produksi ASI pada Ibu Postpartum di PMB X Kabupaten Kampar. Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Postpartum Tabel 5. Uji Wilcoxon Signed Rank Test Terhadap Produksi ASI Pengaruh Pijat Oksitosin pada Ibu Postpartum Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Posttest Pijat Oksitosin Pretest Pijat Oksitosin Variabel Penurunan Produksi ASI Peningkatan Produksi ASI Tidak Ada Perubahan Produksi ASI Total Mean Sum of Rank Ranks P value Berdasarkan Rabel memperlihatkan nilai Mean Rank sebelum dilakukan pijat oksitosin terdapat penurunan ASI bernilai 0,00 dan Sum of Rank sebesar 0,00. Setelah dilakukan pijat oksitosin terdapat peningkatan produksi ASI dengan nilai Mean Rank 8,50 dengan Sum of Rank 136,00. Hasil menggunakan Uji Wilxocon Signed 0,000413<0,05. Hal mengindikasikan bahwa hipotesis Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya ada perbedaan pengaruh pijat Woolwich terhadap produksi ASI pada Ibu Postpartum di PMB X Kabupaten Kampar 168 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Perbandingan Pengaruh Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Tabel 6. Uji Mann Whitney Perbandingan Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Mean Sum of P value Metode Pijat Rank Ranks Produksi ASI Pijat Woolwich Pijat Oksitosin Total Berdasarkan menunjukkan bahwa hasil Uji Mann Whitney intervensi pijat Woolwich yaitu nilai rerata sebesar 15,41 ml dan pada perlakuan setelah intervensi pijat oksitosin yaitu nilai rerata sebesar 17,59 ml dan selisih antara pijat Woolwich dan pijat oksitosin setelah dilakukan intervensi yaitu sebesar 2,18 ml setelah dilakukan intervensi. Dapat disimpulkan bahwa hasil Uji Mann Whitney p-value 0,507 yang artinya p- value <0,005 yang menunjukkan bahwa ada perbedaan PEMBAHASAN Pijat Woolwich adalah pemijatan yang dilakukan untuk mengeluarkan ASI yang berada pada area sinus laktifirus tepatnya 1-1,5 cm diatas areola mammae, dengan tujuan. Pijat oksitosin adalah yang dilakukan pemijatan pada sepanjang tulang belakang . sampai dengan tulang costae kelimakeenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan. Faktor yang dapat mempengaruhi proses produksi ASI di antaranya adalah faktor nutrisi, faktor IMD, faktor bayi, perawatan payudara, pola istirahat, faktor menyusui, faktor sosial budaya, konsumsi rokok dan alkohol serta psikologis ibu. Dimana ibu yang mengalami stres dapat mengakibatkan terjadinya blokade dari refleks let down perbandingan intervensi pijat Woolwich dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa ibu postpartum yang diberikan Woolwich dan pijat oksitosin perbedaan setelah dilakukan intervensi. Hal ini menggambarkan bahwa pada hasil peneliti pijat oksitosin lebih efektif daripada Woolwich terhadap produksi ASI pada ibu postpartum di PMB X Kabupaten Kampar. yang diakibatkan karena adanya . sehingga menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah alveoli menghambat oksitosin untuk mencapai target miopitelium (Sukriana. Dewi, and Utami, 2. Pengaruh Pijat Woolwich Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Berdasarkan peneliti pada pengaruh pijat Woolwich pada ibu postpartum terhadap produksi ASI. Dengan demikian bahwa pijat Woolwich setelah dilakukan intervensi menggunakan Uji Wilxocon Signed Ranks Test memperlihatkan nilai Mean Rank sebelum dilakukan pijat Woolwich terdapat penurunan ASI bernilai 0,00 dan Sum of Rank sebesar 0,00. Setelah dilakukan pijat oksitosin 169 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 terdapat peningkatan produksi ASI dengan nilai Mean Rank 8,50 dengan Sum of Rank 136,00. Hasil interprestasi data menggunakan Uji Wilxocon Signed Ranks Test, p-value 0,000425<0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis Ho diterima dan Ha Artinya ada perbedaan pengaruh pijat Woolwich sebelum dan sesudah dilakukan intervensi terhadap produksi ASI pada Ibu Postpartum di PMB X Kabupaten Kampar Berdasarkan terhadap pijat Woolwich pada ibu postpartum terhadap produksi ASI. Pijat Woolwich adalah pemijatan yang dilakukan untuk mengeluarkan ASI yang berada pada sinus laktifirus. pada area sinus laktifirus tepatnya 1-1,5 cm diatas areola mammae, dengan tujuan untuk mengeluarkan ASI yang berada pada sinus laktifirus. Pada saat dilakukan pemijatan tersebut dapat merangsang sel saraf pada payudara, dimana rangsangan tersebut diteruskan ke hipotalamus dan direspon oleh hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin yang akan dialirkan oleh darah ke sel miopitel payudara sehingga untuk memproduksi ASI, meningkatkan ASI, penyumbatan dan bendungan payudara ibu (S. Handayani. Susaldi, and Syarah 2. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitain (Farida et al. , 2. dengan judul yaitu pijat woolwich untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu didapatkan hasil dengan menggunakan Uji Statistik diperoleh p-value sebesar 0,001 sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat woolwich efektif untuk mengatasi masalah produksi ASI. Produksi ASI meningkat setelah dilakukan pijat Woolwich, mendukung untuk menerapkan pijat woolwich dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut pada ibu menyusui agar ASI ibu lancar. Hasil Penelitian ini juga sejalan yang dilakukan oleh (L et al. , 2. dengan judul yaitu pengaruh pijat Woolwich terhadap rerata produksi asi pada ibu postpartum di pmb kabupaten bandung pada tahun 2021 bahwa didapatkan Hasil Rerata produksi ASI sesudah pemberian pijat Woolwich pada kelompok intervensi yaitu 0,68 cc. Rerata produksi ASI sesudah pada kelompok kontrol yaitu 0,29 cc serta terdapat perbedaan rerata produksi ASI antara ibu postpartum kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan p-value 0,002 < . Berdasarkan asumsi peneliti pada pengaruh pijat Woolwich pada ibu postpartum terhadap produksi ASI. Dan berdasarkan asumsi peneliti pengaruh pijat Woolwich terhadap produksi ASI pada ibu postpartum dimana pijat Woolwich peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum setelah dilakukan intervensi Woolwich p-value 0,000425<0,05 dimana pada pijat Woolwich dapat mengelurakan hormon prolaktin yang ada di sinus laktifirus tempat saluran atau Gudang ASI sehingga pada saat pemijatan ASI yang dikeluarkan keluar pada payudara ibu dan pijat yang dilakukan dapat berpengaruh terhadap produksi ASI ibu (S. Handayani et al. , 2. Pengaruh Pijat Oksitosin Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Berdasarkan hasil penelitian peneliti pada pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin setelah dilakukan intervensi menggunakan Uji Wilxocon Signed Ranks Test memperlihatkan nilai Mean Rank sebelum dilakukan pijat oksitosin terdapat penurunan ASI 170 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 bernilai 0,00 dan Sum of Rank sebesar 0,00. Setelah dilakukan pijat oksitosin terdapat peningkatan produksi ASI dengan nilai Mean Rank 8,50 dengan Sum of Rank 136,00. Hasil interprestasi data menggunakan Uji Wilxocon Signed Ranks Test, p-value 0,000413<0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesis Ho diterima dan Ha Artinya ada perbedaan pengaruh pijat Woolwich sebelum dan sesudah terhadap produksi ASI pada Ibu Postpartum di X Kabupaten Kampar. Berdasarkan teori terkait terhadap pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Dimana Pijat oksitosin salah satu solusi produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang . sampai tulang costae kelima-keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon Begitu juga kenyamanan pada ibu dan merangsang refleks oksitosin, pijat oksitosin juga memiliki . ngorgement, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit (S. Handayani. Susaldi, and Syarah 2. Hasil Penelitian yang sejalan dilakukan oleh (Saputri et al. , 2. dengan judul yaitu pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi asi pada ibu Dan berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test, rata- rata produksi ASI ibu nifas sebelum pijat oksitosin adalah 9,90 sedangkan ratarata produksi ASI ibu nifas setelah pijat oksitosin adalah 13,50. Terdapat pengaruh yang signifikan pijat oksitosin terhadap produksi ASI dengan p-value = 0,008 . O0,. Disarankan bagi tenaga kesehatan untuk dapat melakukan pijat oksitosin untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Hasil dilakukan oleh (Alfiatun et al. , 2. judul yaitu Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Ibu Post Partum: Literatur Review. Didapatkan Hasil literature review yang telah ditelaah, semua artikel menjelaskan hasil penelitian adanya pengaruh yang signifikan antara pijat oksitosin terhadap produksi ASI dengan nilai P value. Hasil penelitian sejalan oleh (Hidayah & Dian Anggraini, 2. dengan judul yaitu Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap Produksi Asi pada Ibu Nifas di BPM Noranita Kurniawati. Hasil Uji statistik menunjukkan pengaruh signifikan antara pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu post partum di BPM tersebut. Didapatkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan bagi tenaga kesehatan terutama bidan sebagai pelaksana sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu akan pijat oksitosin dan dapat memotivasi ibu dan keluarga untuk melakukan pijat oksitosin serta penyuluhan kepada ibu nifas tentang manfaat pijat oksitosin. Berdasarkan asumsi peneliti pada pengaruh Pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum dimana pijat oksitosin merupakan salah satu pijat untuk melancarkan ASI ibu ketidaklancaran produksi ASI ibu setelah Dan berdasarkan asumsi peneliti pengaruh terhadap produksi ASI pada ibu postpartum dimana pijat oksitosin produksi ASI pada ibu postpartum intervensi pijat p-value 0,000413<0,05 dimana pada pijat oksitosin mengelurakan hormon oksitosin dan prolaktin pada tulang belakang terdapat 171 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 titik-titik tempat pemicu nya hormon tempat saluran ASI sehingga pada saat pemijatan ASI yang dikeluarkan keluar pada payudara ibu (S. Handayani et , 2. (S. Handayani et al. Perbandingan Pengaruh Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin Pada Ibu Postpartum Terhadap Produksi ASI Berdasarkan penelitian perbandingan pengaruh pijat Woolwich dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbandingan pijat Woolwich dilakukan intervensi menggunakan Uji Mann Whitney pada perlakuan setelah intervensi pijat Woolwich yaitu nilai rerata sebesar 15,41 ml dan pada perlakuan setelah intervensi oksitosin yaitu nilai rerata sebesar 17,59 ml dan selisih antara pijat Woolwich dan pijat oksitosin setelah dilakukan intervensi yaitu sebesar 2,18 ml setelah dilakukan intervensi pijat Woolwich dan pijat Berdasarkan teori terkait terhadap perbandingan pijat Woolwich dan pijat oksitosin bahwa dari pijat oksitosin dimana pada penelitian ini disimpulkan bahwa pijat oksitosin efektif terhadap produksi ASI pada ibu postpartum setelah dilakukan intervensi. Pijat Woolwich adalah pemijatan yang dilakukan pada area sinus laktifirus (Gudang ASI) tepatnya 1-1,5 cm diatas areola mammae, dengan tujuan Dengan pemijatan Woolwich disini bahwa pemijatan ini dilakukan pada areola mammae ibu yang berguna untuk mengeluarkan ASI yang terdapat pada Gudang ASI . inus laktifiru. dimana pada saat peneliti melakukan pemijatan Woolwich disini terdapat perbedaan nilai sebesar 2,18 ml dari pijat oksitosin. Sehingga pijat Woolwich yang peneliti lakukan terdapat perbedaan antara pijat Woolwich dan pijat oksitosin dimana perbedaan yang terjadi bisa dilihat bahwa pijat Woolwich disini adalah pemijatan yang dilakukan pada daerah areola mammae saja mungkin bisa jadi pada saat peneliti melakukan pijat Woolwich terjadinya penyumbatan pada ASI ibu sehingga ASI yang dikeluarkan dari sinus laktiferus tidak keluar karena terjadinya penyumbatan pada sinus didapatkan berbeda dengan pijat Sedangkan pada Pijat oksitosin adalah pemijatan pada yang dilakukan pada punggung sepanjang tulang belakang . sampai tulang costae kelima-keenam usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah Sehingga pada dilakukan pijat oksitosin hormon merangsang keluar sehingga ASI ibu keluar dengan lancar karena pada pijat oksitosin disini juga pemijatan yang sangat merangsang hormon oksitosin tulang belakang ibu setelah melahirkan. Maka pijat oksitosin ini efektif tehadap peningkatan produksi ASI setelah dilakukan pijat oksitosin karena pada tulang belakang ibu terdapat titik-titik hormon oksitosin sehingga ASI ibu dapat dirangsang keluar pada saat dilakukan pijat oksitosin dan membuat ibu nyaman dan rileks setelah dilakukan Hasil penelitian sejalan oleh (S. Handayani et al. , 2. dengan judul efektivitas kombinasi pijat oksitosin dan woolwich massage serta breastcare terhadap peningkatan produksi asi pada ibu menyusui di puskesmas kecamatan jagakarsa jakarta selatan tahun 2023. Berdasarkan hasil Uji Mann U Withney, p value bernilai 0,022 didapatkan nilai mean rank untuk kelompok intervensi 172 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 22,47 dan kelompok kontrol 14,53 sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin dan Woolwich Massage efektif dalam peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi manfaat pijat oksitosin dan woolwich massage kepada masyarakat sehingga dapat dijadikan tolak ukur dalam melakukan upaya promotif terhadap peningkatan pemberian ASI eksklusif. Penelitian (Dinengsih, 2. Pengaruh Kombinasi pengaruh Pijat oksitosin dan Pijat Woolwich Terhadap Produksi ASI pada Ibu Post Partum. Metode menggunakan teknik analisis Analisa bivariate menggunakan uji paired t-tes. Dengan karakteristik responden yang usia 25-35 tahun sebanyak 75%, multipara 65% kecukupan ASI setelah dilakukan pijat woolwich dan pijat oksitosin yaitu rata-rata yaitu 3210,00, sedangkan pada kategori produksi ASI rata-rata sebanyak 3050,00. Ada pengaruh yang signifikan kecukupan ASI antara kelompok Kombinasi pada yang dilakukan Pijat Woolwich dan Oksitosin Sesudah Diberikan Pijatan pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol pada Ibu Post Partum. Berdasarkan asumsi peneliti Woolwich dan pijat oksitosin bahwa pijat oksitosin lebih efektif terhadap produksi ASI pada ibu postpartum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin efektif pada ibu postpartum terhadap produksi ASI karena pada pijat oksitosin yang sangat cepat merangsang oksitosin dan prolaktin karena pijat oksitosin adalah pemijatan pada tulang belakang yang terdapat banyak titi-titik pada tulang belakang ibu merangsang hormon oksitosin dan Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin pada ibu postpartum dengan memberikan sensasi rileks pada ibu yaitu dengan melakukan pijat Woolwich dan pijat oksitosin. Tindakan seperti Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin memperbanyak ASI, membuat payudara menjadi rileks dan menghilangkan stress dengan begitu hormon oksitosin keluar dan akan membantu pengeluaran ASI ibu, yang dibantu dengan isapan bayi pada puting susu pada saat bayi menyusui dengan ibu sehingga ASI ibu keluar dengan rangsangan pada saat mengisap putting susu ibu sehingga ASI keluar dengan lancar dan ibu merasa nyaman dan tenang karena bayi ibu mendapatkan ASI yang cukup dan terpenuhi. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian hasil peneliti kesimpulan bahwa Berdasarkan hasil penelitian terhadap 32 responden dengan judul AuPerbandingan Pengaruh Pijat Woolwich dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Postpartum di PMB X Kabupaten Kampar dapat disimpulkan bahwa: Berdasarkan rerata produksi ASI sebelum dilakukan pijat Woolwich sebesar 55,00 ml dan setelah dilakukan pijat Woolwich sebesar 365,00 Berdasarkan rerata produksi ASI sebelum dilakukan pijat oksitosin sebesar 59,38 ml dan setelah dilakukan pijat oksitosin sebesar 365,75 ml. Berdasarkan Woolwich terhadap produksi ASI pada p-value 0,000425<0,05 sedangkan pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu postpartum yaitu p-value 0,000413<0,05. Berdasarkan perbandingan pengaruh pijat Woolwich dan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu 173 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 postpartum pada perlakuan intervensi pijat Woolwich yaitu nilai rerata sebesar 15,41 ml dan pada perlakuan intervensi pijat oksitosin yaitu nilai rerata sebesar 17,59 ml dan selisih antara pijat Woolwich dan pijat oksitosin setelah dilakukan intervensi yaitu sebesar 2,18 ml setelah dilakukan intervensi pijat Woolwich dan pijat oksitosin. DAFTAR PUSTAKA