CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 7 | Nomor 3 | April . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Peningkatan Kompetensi Guru melalui Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berdiferensiasi berbasis Nilai Pancasila Nur Ika Sari Rakhmawati1. Rachma Hasibuan2. Sri Setyowati3. Nurul Khotimah4. Nurul Kurnia Cahyani5 Kata Kunci: Perangkat pembelajaran. Nilai karakter Pancasila. Guru PAUD. Kurikulum Merdeka. Keywords : Training. Differentiated learning Pancasila character Preschool teachers. Merdeka Curriculum. Corespondensi Author Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Alamat: Jl. Ketintang. Ketintang. Kec. Gayungan. Surabaya. Jawa Timur 60231 Email: nurrakhmawati@unesa. Article History Received: 02-12-2024. Reviewed: 21-02-2025. Accepted: 12-03-2025. Available Online: 02-04-2025. Published: 05-04-2025. Abstrak. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran yang adaptif dan berbasis nilai-nilai Pancasila, sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini ialah, metode eksperimen dengan desain one group pretest posttest design. Untuk mengetahui seberapa besar dampak pemberian materi pada kegiatan pelatihan, peserta diberi soal pretest dan posttest yang dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai pretest peserta adalah 40. 83, sedangkan posttest meningkat menjadi 60. 25, dengan nilai signifikansi (Sig. yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan setelah pelatihan. Hasil pelatihan ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan peningkatan pemahaman dan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang inklusif, berbasis karakter, dan sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, pelatihan semacam ini sangat penting untuk memperkuat kapasitas guru PAUD dalam menciptakan pembelajaran yang tidak hanya mendukung perkembangan akademik anak, tetapi juga membentuk karakter yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila. Abstract. This training is designed to improve teachers' understanding and skills in compiling adaptive learning devices based on Pancasila values, in line with the implementation of the Merdeka Curriculum. The method used in this training is an experimental method with a one group pretest posttest design. To find out how much impact the provision of materials has on training activities, participants were given pretest and posttest questions which were measured using the Paired Sample T-Test. The results of the analysis showed that the average pretest score of participants was 40. 83, while the posttest increased to 25, with a significance value (Sig. indicating a significant increase after the training. The results of this training show that there is an increase in teachers' understanding and competence in designing inclusive, character-based learning, and in accordance with the Merdeka Curriculum. Therefore, this kind of training is very important to strengthen the capacity of PAUD teachers Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 in creating learning that not only supports children's academic development, but also forms characters based on Pancasila values. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author PAUD bertujuan untuk, memberikan kebebasan bagi guru untuk merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif, dengan tetap memperhatikan karakteristik, kebutuhan, dan potensi masing-masing anak. Konsep PENDAHULUAN Pendidikan yang dilaksanakan dengan terencana dan tersistematis, dipercaya dapat membangun manusia seutuhnya. Untuk tersistematis pelaksanaan Pendidikan di sebuah negara, maka dapat dilihat bagaimana mengembangkan kurikulum yang digunakan. Salah satu indikator sebuah kurikulum efektif, mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan serta tuntutan masyarakat (Nurhalim, 2011. Weldemariam. Boyd. Hirst. Sageidet. Browder. Grogan. Hughes, 2. Untuk itu, kurikulum harus bersifat adaptif dan antisipatif pada perubahan sosial, ilmu pengetahuan dan pengembangan dan perubahan kurikulum Pendidikan merupakan sebuah keharusan. Dalam Menyusun tentunya harus memahami karangka dasar dan struktur kurikulum, agar kurikulum dapat mudah untuk dipahami, berkaitan struktur kurikulum, juga akan menjadikan jam pembelajaran lebih fleksibel, pembelajaran yang akan dicapai selama satu PAUD selalu menggunakan berbagai menginformasikan kurikulum (Brooker et al. Maka kefokusan dan pemahaman pada materi yang esensial dapat memberikan keleluasaan bagi guru untuk menyusun perangkat ajar sesuai pada kebutuhan dan karakteristik setiap anak didik. Sejalan dengan itu, kurikulum juga dibuat untuk memberikan kesempatan kepada anak didik supaya dapat dikembangkan seiring dengan pertumbuhan pribadi setiap anak itu sendiri (Sriandila et al. Kurikulum yang digunakan saat ini di Indonesia ialah pendekatan kurikulum merdeka, pendekatan Kurikulum Merdeka kurikulum merdeka belajar pada konteks Pendidikan anak usia dini, merdeka belajar juga disebut dengan merdeka bermain, sebab pada hakekatnya dalam mendidik anak usia dini ialah dengan cara bermain sambil belajar. Menurut (Mustagfiroh, 2. konsep merdeka bermain ialah berubahnya sistem pembelajaran yang awalnya hanya di dalam ruang kelas dan mendengarkan penjelasan dari guru saja menjadi pembelajaran yang dikombinasi antara pembelajaran indoor dan outdoor kelas atau yang biasa disebut dengan outing class, dimana anak dapat berinteraksi secara langsung dengan guru maupun lingkungan sekitarnya, sehingga akan membentuk karakter anak yang mandiri, berani, mudah bergaul, dan berkompeten. Sehingga dapat tercipta suasana bermain sembari belajar yang menyenangkan tanpa anak merasa dibebani dengan standar pencapaian nilai tertentu yang diberikan oleh guru. Kurikulum intrakurikuler yang lebih dioptimalkan dan bervariasi, supaya dapat memberikan anak didik cukup waktu untuk mengeksplorasi konsep dan memperkuat pada konsep yang ada pada masing-masing kemampuan anak. Kurikulum merdeka PAUD juga bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan individual masing-masing pembelajaran dan memberikan ruang yang cukup untuk anak- anak mengeksplorasi minat dan bakat mereka secara bebas. Oleh karena itu dalam merancang perangkat pembelajaran di era kurikulum merdeka saat ini harus dirancang secara difrensiasi. Rakhmawati, et al. Peningkatan Kompetensi Guru melalui. Menurut Marlina . Pembelajaran terhadap minat anak didik, preferensi belajar pada masing-masing anak didik, juga kesiapan yang dilakukan anak didik pada pembelajaran untuk meningkatkan hasil Dalam merancang pembelajaran memperhatikan, gaya belajar masing-masing anak, menggunakan berbagai model, metode dan sumber belajar yang bisa digunakan di lingkungan sekitar. Karakteristik lain pada pengalamanpengalaman belajar untuk anak. Namun berdasarkan data lapangan belum sepenuhnya guru memahami atau mengenal kurikulum merdeka, pembelajaran berdifrensiasi serta capaian pembelajaran nilai karakter Pancasila. Hal demikian juga terjadi pada guru-guru TK di bawah naungan IGTKI Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten yang letaknya paling ujung timur Jawa. Banyuwangi kabupaten peringkat pertama dalam kategori terluas di Jawa Timur (Eston et al. , 2016. Praja et al. , 2. namun tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa desa atau dusun yang masuk kategori daerah dengan akses sulit (Deta. Proses belajar mengajar yang dilaksanakan di daerah tingkat akses sulit (Deta. pada umumnya memiliki jumlah guru yang terbatas. Dari data dapodik Kabupaten Banyuwangi pada tahun ajaran semester 2023 / 2024 Genap, terdapat 47 lembaga TK di Kabupaten Banyuwangi, dengan jumlah peserta didik mencapai 2. 301, sedangkan jumlah guru yang dimiliki berjumlah 197. Dari data jumlah guru tersebut, masih banyak guru yang belum mengenal konsep kurikulum merdeka, capaian pembelajaran yang baru serta pelaksanaan pembelajaran berdifrensiasi yang bertujuan untuk memberikan pelayanan Pendidikan bagi anak usia dini berdasarkan kebutuhan masing-masing individu. Oleh karena itu, yang menjadi fokus dalam pelatihan ini ialah meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam merancang, pembelajaran dalam penanaman nilai karakter Pancasila. kurikulum merdeka belajar atau kurikulum prototipe ialah pembelajaran berbasis proyek, fokus pada materi esensial serta fleksibilitas bagi guru untuk mengelola pembelajaran (Supangat, 2. Salah satu capaian pembelajaran yang relatif baru dan harus dikembangkan di PAUD ialah nilai karakter pancasila (PP Kemristekdikti Nomor 5 Tahun 2. Karena capaian ini relatif baru dan definisi yang terlalu umum maka banyak pendidik PAUD yang kebingungan menterjemahkan capaian nilai karakter Pancasila. Dalam proses pembelajaran. Pancasila tidak sebatas pada konteks pengetahuan saja, namun harus sampai pada bagaimana mengaplikasikan dalam kehidupan yang nyata (Sulistyati et al. Dengan diberlakukannya kurikulum merdeka belajar atau kurikulum prototipe, maka lebih memudahkan satuan Pendidikan anak usia dini mengembangkan kurikulum operasionalnya sendiri untuk penanaman nilai karakter Pancasila pada anak usia dini. Pendidikan Indonesia mengarah pada terwujudnya pelajar yang mampu berpikir kritis, komprehensif, dan bangga dengan jati dirinya sebagai anak Indonesia. Dengan kata lain, karakteristik Pelajar Indonesia adalah pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai norma-norma Pancasila. Upaya untuk membumikan muatan nilai-nilai luhur tersebut pada anak usia dini merupakan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, kreativitas guru sangat dibutuhkan untuk pembelajaran yang menarik, menyenangkan, terintegrasi dengan kehidupan nyata dan Pengembangan METODE Berdasarkan informasi yang telah diperoleh dari sumber literatur maupun informasi dari pihak mitra, ditemukan sebuah diselesaikan melalui pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berdifrensiasi Dalam Penanaman Nilai Karakter Pancasila. Adapun metode penyelesaian yang digunakan mengadaptasi metode eksperimen dengan desain one group pretest posttest design (Campbell and Stanley, 2. perangkat pembelajaran, mendasarkan pada kurikulum yang digunakan, dalam Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 Untuk mengetahui seberapa besar dampak pemberian materi pada kegiatan pelatihan, peserta diberi soal pretest dan posttest yang dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Dengan tahapan sebagai Dimulai dari tahap persiapan yang pertama dilakukan ialah menganalisis kebutuhan, melakukan koordinasi dengan pihak mitra, mempersiapkan materi pelatihan serta mempersiapkan soal pretest dan posttest untuk mengukur pemahaman peserta sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan. Kemudian dilanjut dengan tahap pelatihan yang dimana, sebelum pemberian materi tim pelaksana pengabdian masyarakat mengukur pemahaman guru terkait materi kurikulum, perencanaan berdiferensiasi dan nilai karakter pancasila melalui pemberian soal pretest. Kemudian dalam tahap pelatihan diberikan tiga materi yang berbeda serta peserta diminta untuk praktek merancang kegiatan pembelajaran berdiferensiasi dalam penanaman nilai karakter pancasila. kompetensi pedagogik. Setelah diberikan pelatihan tim juga melakukan evaluasi pemahaman peserta, melalui pengukuran soal posttest kemudian dianalisis menggunakan uji T serta mengevaluasi ketercapaian program penyusunan laporan akhir dan luaran Grafik 1. Perbandingan Hasil Pretest dan Postest Berdasarkan data tersebut didapatkan hasil peningkatan rata-rata pada hasil pretest dan posttest setiap peserta setelah diberikan materi pelatihan. Selanjutnya dilakukan analisis data sebagai berikut Tabel 1. Uji T-test (Paired Sampel T-Tes. Paired Samples Statistics Std. Std. Error Mean N Deviation Mean Pair PRETEST 40. POSTTEST 60. Berdasarkan output pair 1 pada tabel 2, menunjukkan hasil statistik deskriptif dari kedua sampel yang diteliti, yakni nilai pretest dan posttest pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran berdiferensiasi. Pada nilai pretest diperoleh rata-rata hasil belajar atau Mean sebesar 40. 83, sedangkan untuk nilai posttest diperoleh nilai rata-rata atau Mean hasil belajar sebesar 60. Jumlah subjek yang digunakan sebagai sampel penelitian adalah sebanyak 24 peserta. Nilai Std. Deviation pada pretest sebesar 3. 214 dan posttest Nilai rata-rata hasil belajar pada pretest . < posttest . , maka dapat diartikan secara deskriptif ada perbedaan ratarata hasil pelatihan antara pretest dan posttest. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dan kondusif, pertama-tama peserta diminta menjawab soal pretest untuk mengetahui kemampuan awal peserta terkait materi yang disajikan, dilanjutkan dengan menjawab posttest pada akhir kegiatan untuk mengetahui perbedaan poin dan juga materi yang dikuasai saat sebelum pelaksanaan kegiatan dan sesudah pelaksanaan. Berikut hasil pretest dan posttest disajikan dalam grafik berikut ini : Tabel 2. Paired Sample Correlations Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair PRETEST & 24 POSTTEST Rakhmawati, et al. Peningkatan Kompetensi Guru melalui. Berdasarkan menunjukkan hasil uji korelasi atau hubungan kedua data pretest dan posttest. Output pair 1 . sebesar 0,825 dengan nilai signifikasi (Sig. ) 0. 000 Karena 0,000 < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel pretest dan posttest. Tabel 3. Paired Samples Test Gambar 2. Pemberian Materi Oleh Pemateri Paired Samples Test Paired Differences Confid St ence Interval Er of the ro Differe . M Std. M Lo ea Devi ea we Up d led n ation n r per t f ) P PRET - 9. - 2 . ai EST - 19. 4 93 23. r POST 41 2 41 42 05 1 TEST 3 1 1 Pelatihan penanaman nilai karakter Pancasila ini terbukti memberikan dampak positif dalam peningkatan kemampuan para peserta. Melalui pelatihan ini, para guru tidak hanya pembelajaran, tetapi juga terampil merancang kebutuhan belajar setiap anak dengan berbagai latar belakang dan kemampuan yang Selain itu, pelatihan ini juga memperkuat pemahaman guru mengenai strategi efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter Pancasila, seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan, dalam konteks pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Peningkatan meningkatnya rata-rata pengetahuan setelah diberikan materi. Secara keseluruhan, kompetensi profesional guru PAUD dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkarakter, dan berbasis nilai-nilai Pancasila. Diferensiasi pembelajaran sesuai dengan keragaman siswa, baik dalam hal kemampuan, minat, maupun gaya belajar. Hal ini sangat penting, terutama dalam pembelajaran pada satuan pendidikan PAUD, dimana anak-anak berada pada tahap perkembangan yang sangat beragam, baik secara kognitif, fisik, maupun sosial (Weldemariam et al. , 2. Nurhayati & . Langlang Handayani . menyebutkan penekanan diberikan pada bagaimana guru bisa menggunakan pendekatan yang fleksibel Berdasarkan output di atas diperoleh nilai Sig. -taile. sebesar 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan hasil pretest dan posttest sesudah diberikan pelatihan berupa materi tentang penyusunan Sehingga terjadi peningkatan pemahaman merancang dan melaksankan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Gambar 1. Pelaksanaan Pretest Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3. April 2025 pembelajaran yang adaptif, sehingga nilainilai karakter Pancasila seperti toleransi, gotong royong, dan keadilan dapat ditanamkan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Selain itu. Hamzar . yang membahas tentang diferensiasi pembelajaran di sekolah dasar, juga memberikan wawasan yang dapat diadaptasi dalam konteks PAUD. Mereka mengemukakan bahwa diferensiasi tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter. Dalam hal ini, nilai-nilai Pancasila bisa diterapkan melalui aktivitas yang melibatkan berbagai jenis kecerdasan dan gaya belajar, mulai dari kegiatan fisik, permainan kolaboratif, hingga diskusi kelompok yang mengedepankan prinsip musyawarah dan Ngaisah et al. , . menekankan diferensiasi yang bisa diterapkan secara rutin dalam setiap kegiatan pembelajaran. Konsep ini sangat relevan untuk guru PAUD, yang harus dapat menyesuaikan aktivitas-aktivitas pembelajaran dengan perkembangan sosialemosional anak. Penerapan diferensiasi yang dimaksud adalah dengan memberikan pengalaman belajar yang mengedepankan kolaborasi . isalnya permainan yang pembelajaran berbasis nilai yang mendorong anak untuk saling menghargai perbedaan, seperti yang terkandung dalam Pancasila. Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna di kelas, guru PAUD mengadaptasi materi dan metode berdasarkan kebutuhan individual siswa. Oleh karena itu, dalam pelatihan ini, guru diajarkan memperhatikan kemampuan akademik anak, tetapi juga bagaimana nilai-nilai karakter Pancasila dapat diintegrasikan secara konkret dalam setiap aktivitas, baik itu dalam bentuk cerita, permainan, maupun diskusi ringan. berhasil memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan kompetensi guru PAUD. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman dan keterampilan peserta dalam menyusun perangkat pembelajaran yang adaptif dan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini. Peningkatan rata-rata skor pretest dan posttest membuktikan bahwa pelatihan ini efektif dalam meningkatkan pemahaman guru tentang pembelajaran berdiferensiasi dan nilai-nilai Pancasila meningkatkan performance pedagogik dalam merancang dan melaksankan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Melalui pelatihan ini, guru PAUD tidak hanya memahami konsep Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi, tetapi juga terampil dalam merancang pembelajaran yang inklusif dan bermakna, yang mendukung perkembangan karakter anak berbasis nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, toleransi, dan keadilan. Setelah penyusunan perangkat pembelajaran berdiferensiasi berbasis nilai Pancasila terbukti dapat meningkatkan pemahaman serta performance pedagogik dalam merancang dan melaksankan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman, oleh karena itu tim pengabdian kepada Masyarakat menyarankan hal-hal sebagai berikut . Guru diharapkan terus mengembangkan kompetensi mereka memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai karakter Pancasila untuk diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari. Bagi Institusi Pendidikan : Lembaga pendidikan PAUD perlu mendukung guru dalam menerapkan hasil pelatihan melalui penyediaan fasilitas pembelajaran yang mendukung, seperti alat bantu mengajar, bahan ajar kreatif, dan program pendampingan. Bagi Penyelenggara Pelatihan : Program pelatihan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan peserta yang lebih luas, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses Selain itu, penyelenggara dapat menambahkan sesi praktik yang lebih intensif untuk memperkuat implementasi di lapangan. Bagi Penelitian Selanjutnya : Penelitian serupa dapat dilakukan dengan menilai SIMPULAN DAN SARAN Pelatihan penanaman nilai karakter Pancasila telah Rakhmawati, et al. Peningkatan Kompetensi Guru melalui. dampak jangka panjang dari pelatihan ini terhadap kinerja guru dan perkembangan anak didik, serta mengkaji lebih lanjut penerapan pembelajaran berdiferensiasi di berbagai tingkat pendidikan lainnya. Nurhayati. , & . Langlang Handayani. Analisis Penerapan Pembelajaran Diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran Matematika Kelas 4 Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5. , 3. , 524Ae532. https://journal. id/ajie/article/v iew/971. Peraturan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Ristek dan Pendidikan Tinggi Nomor 5 Tahun 2022 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pada PAUD. Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah. Praja. Yudhana. , & Haditanojo. Isolasi dan Identifikasi Jamur pada Cangkang Telur Penyu Lekang (Lepidochelys Gagal Menetas Pantai Boom Banyuwangi. Surabaya. Med. Vet , 1 . , 11-15. Sriandila. Suryana. , & Mahyuddin. Implementasi Kurikulum Merdeka di PAUD Nurul Ikhlas Kemantan Kebalai Kabupaten Kerinci. Journal on Education, 5. , 1826Ae1840. https://doi. org/10. 31004/joe. Sulistyati. Wahyaningsih. , & Wijania. Buku Panduan Guru Projek Penguatan Profil Pancasila Satuan PAUD. In Buku Panduan Guru Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Supangat. Kurikulum 2022: Mengenal Kurikulum Prototipe Bagi Sekolah dan Guru. Depok: School Principal Academy. Weldemariam. Boyd. Hirst. Sageidet. Browder. Grogan. , & Hughes. Critical Analysis Concepts Associated with Sustainability in Early Childhood Curriculum Frameworks Across Five National Contexts. International Journal of Early Childhood, 49. , 333Ae351. https://doi. org/10. 1007/s13158-0170202-8 DAFTAR RUJUKAN Brooker. Blaise. , & Edwards. (Eds. The SAGE handbook of play and learning in earlychildhood. London: Sage. Campbell. , & Stanley. Experimental quasiexperimental designs for research. Ravenio books. Eston. Hananto. , & Soemarmi. Pengelolaan Potensi Pariwisata Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Banyuwangi Menurut Undangundang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Diponegoro Law Journal , 5 . , 1-11. Hamzar. PENERAPAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DI SEKOLAH DASAR (Tinjauan Literature dalam Implementasi Kurikulum Merdek. Renjana Pendidikan Dasar, 3. Marlina. STRATEGI PEMBELAJARAN BERDIFERENSISASI DI SEKOLAH INKLUSIF. Afifa Utama. Mustagfiroh. Konsep Au Merdeka Belajar Ay Perspektif Aliran Progresivisme di Perguruan Tinggi. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 3. , 141Ae147. Ngaisah. , * M. , & Aulia. PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI. Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak, 9. https://doi. org/10. 22373/bunayya. \Nurhalim, . Analisis Perkembangan Kurikulum Indonesia (Sebuah Tinjauan Desain Dan Pendekata. INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 16. , 339Ae356. https://doi. org/10. 24090/insania.