(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Literasi dan numerasi sebagai aktualisasi imago Dei: Refleksi teopedagogis guru pendidikan agama Kristen di sekolah dasar kota Ambon Yowelna Tarumasely Institut Agama Kristen Negeri Ambon Correspondence: yowelnatarumasely@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: June 19, 2025 Reviewed: Nov. 24, 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: Christian education imago Dei. competencies of Christian education teachers. kompetensi guru PAK. teologi pendidikan Kristen Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This article examines literacy and numeracy as means of actualizing the imago Dei among Christian Religious Education (CRE) teachers in Ambon City Elementary Schools. Employing a qualitative-phenomenological approach and theological-pedagogical analysis, this study explores how language capacity . and mathematical reasoning . manifest God's image in humanity and require development through education. The reflective findings indicate that literacy represents the logos dimension of the imago Dei, enabling humans to communicate and interpret reality, whereas numeracy reflects the ordo dimension, empowering humans to comprehend the order of creation. CRE teachers in Ambon bear theological responsibility to integrate literacy and numeracy development into their teaching to facilitate the actualization of the imago Dei in students. This research contributes to the development of a theological-pedagogical framework that repositions CRE teachers' literacy-numeracy competence not merely as a matter of educational policy, but as a divine calling to educate the whole person. Abstrak: Artikel ini mengkaji literasi dan numerasi sebagai bentuk aktualisasi imago Dei dalam konteks kompetensi guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Sekolah Dasar Kota Ambon. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis dan analisis teologis-pedagogis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kapasitas berbahasa . dan bernalar matematis . merupakan manifestasi gambar Allah dalam diri manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Hasil refleksi menunjukkan bahwa literasi merepresentasikan dimensi logos dari imago Dei yang memungkinkan manusia berkomunikasi dan memaknai realitas, sementara numerasi mencerminkan dimensi ordo yang memampukan manusia memahami keteraturan ciptaan. Guru PAK memiliki tanggung jawab teologis untuk mengintegrasikan pengembangan literasi-numerasi dalam pembelajaran sebagai bagian dari tugas memfasilitasi aktualisasi imago Dei pada peserta didik. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teologis-pedagogis yang mereposisi kompetensi literasinumerasi guru PAK bukan sekadar tuntutan kebijakan pendidikan, melainkan sebagai panggilan ilahi dalam mendidik manusia seutuhnya. Pendahuluan Kebijakan pendidikan Indonesia kontemporer menempatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi fundamental yang harus dikuasai peserta didik dan difasilitasi oleh guru di semua jenjang pendidikan. Implementasi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai peng- KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 852 Y. Tarumasely. Literasi dan numerasi sebagaiA ganti Ujian Nasional sejak tahun 2021 menegaskan adanya paradigma baru dalam evaluasi pendidikan, yaitu pergeseran fokus dari penguasaan konten mata pelajaran menuju pengembangan kemampuan bernalar melalui literasi membaca dan numerasi, baik dalam konteks kehidupan nyata maupun akademis. 1 Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 74 dari 79 negara dalam literasi membaca dan peringkat 73 dalam numerasi matematika menjadi dasar empiris kebijakan ini. 2 Konsekuensinya, seluruh guru, termasuk guru Pendidikan Agama Kristen (PAK), dituntut tidak hanya menguasai kompetensi literasi dan numerasi secara personal, tetapi juga mampu memfasilitasi pembelajaran yang mengintegrasikan kedua keterampilan tersebut secara kontekstual. Meskipun urgensi pengembangan literasi-numerasi telah mendapat perhatian luas dalam diskursus pendidikan nasional, refleksi teologis yang mendalam tentang makna dan signifikansi kedua kompetensi ini sangat terbatas dalam perspektif iman Kristen. Penelitian-penelitian terdahulu tentang kompetensi guru PAK cenderung berfokus pada aspek pedagogik, profesional, sosial, dan spiritual secara terpisah dari kebijakan literasi-numerasi nasional. 3 Di sisi lain, kajian teologis tentang imago Dei sebagai konsep antropologi Kristen belum banyak diaplikasikan secara spesifik untuk memaknai peran guru dalam pengembangan kapasitas kognitif-linguistik peserta didik. 4 Kesenjangan ini mengakibatkan guru PAK cenderung memandang tuntutan literasi-numerasi sebagai beban administratif-birokratis daripada sebagai bagian integral dari panggilan pelayanan pendidikan yang berakar pada mandat teologis. Kajian ini memfokuskan pada Kota Ambon sebagai lokus penelitian, dengan pertimbangan bahwa wilayah ini memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari daerah lain di Indonesia, khususnya dalam konteks pengembangan dan implementasi pendidikan agama Kristen. Menurut data BPS Kota Ambon . , komposisi penduduk beragama Kristen mencapai 58,7%, menjadikan Ambon sebagai salah satu kota dengan populasi Kristen tertinggi di Indonesia. 5 Namun, warisan konflik sosial 1999-2004 telah meninggalkan jejak mendalam dalam sistem pendidikan, termasuk segregasi spasi-al dan psikologis antara komunitas Muslim dan Kristen yang memengaruhi dinamika pembe-lajaran. Sejarah pendidikan Kristen di Maluku dimulai dengan kedatangan Joseph Kam pada 1814 yang mendirikan sekolah-sekolah raja . yang mengajarkan baca-tulis-hitung sebagai bagian integral dari penginjilan. 7 Cooley mencatat bahwa metode pendidikan Kam mengintegrasikan literasi Alkitabiah dengan keterampilan numerasi praktis seperti pembukuan dan perdagangan, mencerminkan pemahaman holistik tentang pendidikan sebagai 1 Hidayah. Irma Rachmah. Tri Atmojo Kusmayadi, and Laila Fitriana, "Minimum Competency Assessment (AKM): An Effort to Photograph Numeracy," Journal of Mathematics and Mathematics Education 11, no. : 14, https://doi. org/10. 20961/jmme. 2 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Laporan Nasional PISA 2018 Indonesia (Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendikbud, 2. , 5-12. 3 Hutauruk. Kristian, and Wahyu Irawati, "Pedagogical Competence of Christian Teachers as Facilitators in the Process of Developing 21st Century Thinking Skills," Didache: Journal of Christian Education 5, no. : 142167, https://doi. org/10. 46445/djce. 4 Robin Barfield, "Children and the Imago Dei: A Reformed Proposal Regarding the Spiritual Openness of the Child," Christian Education Journal 17, no. : 7-17, https://doi. org/10. 1177/0739891319865911. 5 Badan Pusat Statistik Kota Ambon. Kota Ambon dalam Angka 2023 (Ambon: BPS Kota Ambon, 2. , 78-82. 6 Birgit Bryuchler, "Cultural Solutions to Religious Conflicts? The Revival of Tradition in the Moluccas. Eastern Indonesia," Asian Journal of Social Science 37, no. : 423-425, https://doi. org/10. 1163/156853109X460281. 7 Frank L. Cooley. Ambonese Adat: A General Description (New Haven: Yale University Southeast Asia Studies, 1. , 87-93. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 853 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 pemberdayaan total. 8 Tradisi ini berlanjut hingga era Belanda dengan sistem kweekschool yang mencetak guru-guru agama Kristen yang kompeten secara teologis dan pedagogis. Pada periode pasca-kemerdekaan, pendidikan Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Ambon mengalami transformasi dari sistem berbasis gerejawi menuju sistem pendidikan nasional. Touwe dan Pusparani menunjukkan bahwa transisi ini memunculkan ketegangan antara orientasi misi gereja dan tuntutan kurikulum nasional yang bersifat sekuler. 9 Guru PAK kerap menghadapi krisis identitas profesional, yakni antara peran sebagai penginjil yang mengajar dan sebagai pendidik profesional yang menjalankan mandat institusional pendidikan. Dalam konteks AKM serta penguatan literasi dan numerasi, tantangan spesifik yang dihadapi guru PAK di Ambon meliputi: Persepsi bahwa literasi dan numerasi merupakan domain eksklusif guru mata pelajaran umum, bukan tanggung jawab guru agama. keterbatasan sumber daya pembelajaran PAK yang terintegrasi dengan pengembangan literasi dan numerasi. tingginya beban administratif akibat sistem pelaporan ganda kepada pihak sekolah dan gereja. serta disparitas kompetensi profesional antara guru PAK di sekolah negeri dan sekolah swasta Kristen. Penelitian Abidin di SD Negeri 19 Ambon menemukan bahwa, meskipun nilai-nilai religius Kristen telah diintegrasikan ke dalam budaya sekolah, implementasinya masih cenderung bersifat normatif-ritualistik daripada transformatif-pedagogis. 10 Belum ada upaya sistematis untuk menghubungkan nilai-nilai teologis dengan pengembangan kompetensi kognitif seperti literasi-numerasi. Hal ini mengindikasikan gap antara potensi teologis dengan praktik Namun demikian, konteks Ambon juga menawarkan peluang unik. Tradisi budaya pela gandong yang menekankan persaudaraan dan kerjasama dapat menjadi basis kontekstualisasi konsep imago Dei sebagai fondasi kesetaraan martabat yang melampaui batas-batas Bartels menunjukkan bahwa nilai-nilai pela tentang tanggung jawab kolektif dalam pendidikan generasi muda dapat direvitalisasi untuk memotivasi pengembangan kompetensi guru PAK. 11 Selain itu, jaringan Gereja-gereja yang kuat di Ambon (GPM. GMIH. GKI, ) dapat menjadi platform untuk pelatihan guru PAK yang berorientasi pada integrasi literasi-numerasi dengan pembinaan iman. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi kerangka teologis-pedagogis yang memaknai literasi dan numerasi sebagai bentuk aktualisasi imago Dei dalam konteks kompetensi guru PAK di Sekolah Dasar Kota Ambon. Argumentasi sentral yang dikembangkan adalah bahwa kemampuan berbahasa . dan bernalar matematis . bukan sekadar keterampilan teknis-fungsional yang dituntut oleh kebijakan pendidikan, melainkan merupakan manifestasi kapasitas ilahi . ivine capacit. yang dimiliki manusia sebagai penyandang gambar Allah. Dengan demikian, guru PAK yang mengembangkan kompetensi literasi-numerasi sesungguhnya sedang menjalankan tugas teologis dalam memfasilitasi aktualisasi imago Dei pada peserta didik, yaitu suatu tanggung jawab yang memiliki dimensi doksologis dan eskatologis. Cooley. Touwe dan R. Pusparani. Sejarah Pendidikan di Maluku Sejak Masa Prakolonial Hingga Orde Baru: Penjajahan. Partisipasi. Keperdulian (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. Kemendikbud, 2. , 156-167. 10 Hartini Abidin, "Implementasi Budaya Sekolah dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter di SD Negeri 19 Ambon," PEDAGOGIKA: Jurnal Pedagogik dan Dinamika Pendidikan 8, no. : 18-20, https://doi. org/10. 30598/pedagogikavol8issue1page11-23. 11 Dieter Bartels. Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim-Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah. Jilid 2: Kesejarahan (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2. , 234-237. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 854 Y. Tarumasely. Literasi dan numerasi sebagaiA Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teologis-pedagogis yang mengintegrasikan studi kepustakaan teologis tentang imago Dei dengan kajian fenomenologis terhadap realitas pendidikan di Ambon. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen teologis, kebijakan pendidikan, dan literatur akademik relevan, kemudian diinterpretasi menggunakan kerangka hermeneutis yang mempertemukan tradisi teologi Kristen dengan teori pendidikan kontemporer. Sistematika pembahasan mencakup lima bagian utama: pertama, rekonstruksi teologis konsep imago Dei dan relevansinya dengan kapasitas kognitiflinguistik manusia. kedua, analisis literasi sebagai aktualisasi dimensi logos dari imago Dei. ketiga, eksplorasi numerasi sebagai manifestasi dimensi ordo dalam gambar Allah. implikasi teologis-pedagogis bagi pengembangan kompetensi guru PAK di Ambon. kelima, strategi implementasi yang dibagi menjadi beberapa model pembelajaran PAK untuk mengintegrasikan literasi-numerasi. Rekonstruksi Teologis Imago Dei dan Kapasitas Kognitif Manusia Konsep imago Dei . ambar Alla. yang bersumber dari narasi penciptaan dalam Kejadian 1:2627 merupakan salah satu doktrin paling fundamental dalam antropologi teologis Kristen. Sepanjang sejarah, para teolog telah mengembangkan berbagai interpretasi tentang makna gambar Allah dalam diri manusia, yang secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pendekatan utama: substantif, relasional, dan fungsional. Richard Middleton dalam karyanya The Liberating Image berargumen bahwa imago Dei dalam konteks Timur Dekat Kuno memiliki makna representatif-fungsional, di mana manusia diciptakan sebagai wakil Allah untuk memerintah dan mengelola ciptaan. 12 Sementara itu. Stanley Grenz dalam perspektif Trinitarian menekankan dimensi relasional imago Dei, di mana gambar Allah terefleksi dalam kapasitas manusia untuk berelasi dengan Allah, sesama, dan ciptaan. Pendekatan substantif klasik yang dikembangkan oleh teolog-teolog seperti Agustinus dan Thomas Aquinas, menekankan kapasitas rasional dan moral sebagai elemen pembeda manusia dari makhluk lain yang merefleksikan sifat-sifat ilahi. Anthony Hoekema dalam sintesisnya menegaskan bahwa imago Dei mencakup dimensi struktural . apasitas bawaa. dan dimensi fungsional . enggunaan kapasitas tersebut sesuai tujuan penciptaa. 14 Dalam kerangka ini, kapasitas kognitif-linguistik manusia yang teraktualisasi dalam kemampuan berbahasa, bernalar, dan memahami pola, dapat dipahami sebagai bagian integral dari gambar Allah yang membedakan manusia dari ciptaan lainnya. Jason Sexton dalam analisisnya terhadap pemikiran Grenz, menegaskan bahwa imago Dei berfungsi sebagai motif pemersatu yang menghubungkan seluruh aspek kemanusiaan dengan tujuan ilahi. Rekonstruksi teologis ini membuka perspektif baru untuk memaknai literasi dan numerasi dalam kerangka imago Dei. Kemampuan berbahasa . dapat dipahami sebagai manifestasi dimensi logos dari gambar Allah, yakni kapasitas untuk mengomunikasikan makna, menafsirkan realitas, dan berpartisipasi dalam dialog yang mencerminkan Allah yang menyatakan diri melalui Firman (Logo. Sementara itu, kemampuan bernalar matematis . Richard Middleton. The Liberating Image: The Imago Dei in Genesis 1 (Grand Rapids: Brazos Press, 2. Stanley J. Grenz. The Social God and the Relational Self: A Trinitarian Theology of the Imago Dei (Louisville: Westminster John Knox, 2. , 185-189. 14 Anthony A. Hoekema. Created in God's Image (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 68-73. 15 Jason S. Sexton, "The Imago Dei Once Again: Stanley Grenz's Journey Toward a Theological Interpretation of Genesis 1:26-27," Journal of Theological Interpretation 4, no. : 200-206. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 855 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 merepresentasikan dimensi ordo, yakni kapasitas untuk memahami keteraturan, pola, dan struktur yang merefleksikan Allah sebagai Pencipta, yang menghadirkan kosmos dari kekacauan. Dengan demikian, pengembangan literasi dan numerasi dalam pendidikan bukan sekadar transfer keterampilan teknis, melainkan proses memfasilitasi aktualisasi kapasitas ilahi dalam diri peserta didik yang diciptakan menurut gambar-Nya. Literasi sebagai Aktualisasi Dimensi Logos Imago Dei Tradisi teologi Kristen sejak Yohanes 1:1 telah mengidentifikasi logos sebagai prinsip ilahi yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dan dipertahankan. Dalam perspektif ini, kemampuan manusia untuk menggunakan bahasa, seperti berbicara, membaca, menulis, dan menafsirkan teks merupakan partisipasi dalam kapasitas logos ilahi yang membedakan manusia sebagai makhluk yang mampu berkomunikasi secara bermakna dengan Allah dan sesama. 16 Literasi dalam pengertian ini bukan sekadar kemampuan teknis mengenal huruf dan kata, melainkan kapasitas untuk memaknai, menginterpretasi, dan mengkonstruksi pemahaman tentang realitas melalui medium bahasa. Dalam kajiannya tentang imago Dei dan anak-anak. Robin Barfield menekankan bahwa setiap anak dianugerahi potensi bawaan untuk merefleksikan kemuliaan Ilahi. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan berbahasa dipandang sebagai salah satu sarana strategis dalam proses aktualisasi potensi tersebut. Dalam kerangka Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), literasi dipahami sebagai kemampuan individu untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan beragam teks dalam rangka pemecahan masalah dan pengembangan kapasitas sebagai warga Indonesia dan global yang berkontribusi secara produktif bagi masyarakat. 18 Definisi ini selaras dengan pemahaman teologis tentang literasi sebagai sarana manusia untuk menjalankan mandatnya sebagai pengelola ciptaan yang bertanggung jawab. Melalui penelitiannya pada sekolah-sekolah beretos Kristiani di Inggris. Mark Pike menemukan bahwa pendidikan karakter yang berlandaskan konsep imago Dei berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan motivasi dan pencapaian akademik siswa, khususnya dalam literasi. 19 Hal ini mengindikasikan bahwa kerangka teologis dapat memberikan fondasi motivasional yang lebih kuat bagi pengembangan literasi dibandingkan pendekatan sekuler-instrumental. Bagi guru PAK di Ambon, pemahaman literasi sebagai aktualisasi dimensi logos, imago Dei memiliki implikasi pedagogis yang signifikan. Pertama, integrasi pengembangan literasi dalam pembelajaran PAK tidak dapat dipandang sebagai penyimpangan dari mandat pendidikan iman, tetapi sebagai bagian esensial dari pembentukan manusia seutuhnya yang diciptakan menurut gambar Allah. Kedua, pemanfaatan teks-teks Alkitab dan sumber-sumber teologis dalam pembelajaran PAK memungkinkan terjadinya pengembangan literasi melalui praktik membaca kritis, interpretasi teks, dan komunikasi reflektif, tanpa mengabaikan tujuan formasi iman. Ketiga, posisi guru PAK secara pedagogis memberikan keuntungan tersendiri dalam menumbuhkan motivasi literasi peserta didik melalui pengaitan proses belajar dengan narasi besar penciptaan dan penyelamatan yang bersifat transformatif. Jeferson Davis Freny Timpal. Valentino Reykliv Mokalu, "Pengaruh Kompetensi Spiritual. Pedagogik, dan Sosial Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap Kualitas Belajar Mengajar Siswa," DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 6, no. : 708-722, https://doi. org/10. 30648/dun. 17 Barfield, "Children and the Imago Dei," 10-12. 18 Megawati. Luthfiana Aristia, and Hery Sutarto, "Analysis Numeracy Literacy Skills in Terms of Standardized Math Problem on a Minimum Competency Assessment," Unnes Journal of Mathematics Education 10, 2 . : 160-165. 19 Pike, "The 'Image of God' and the Schooling of Virtue," 5-8. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 856 Y. Tarumasely. Literasi dan numerasi sebagaiA Numerasi sebagai Manifestasi Dimensi Ordo dalam Gambar Allah Paralel dengan literasi sebagai aktualisasi logos, numerasi dapat dipahami sebagai manifestasi dimensi ordo dalam imago Dei. Konsep ordo merujuk pada keteraturan, pola, dan struktur yang merefleksikan karakter Allah sebagai Pencipta yang menghadirkan kosmos . dari kekacauan . Narasi penciptaan dalam Kejadian 1 menggambarkan Allah yang menciptakan dengan memisahkan, menamai, dan mengorganisasi sebagai aktivitas yang mengandaikan kapasitas untuk memahami dan menciptakan pola serta struktur. 20 Manusia sebagai penyandang gambar Allah dianugerahi kapasitas serupa untuk mengenali, memahami, dan memanipulasi pola-pola matematis dalam ciptaan. Grenz menegaskan bahwa kapasitas ini merupakan bagian dari tanggung jawab manusia untuk mengelola ciptaan secara bijaksana. Dalam kerangka AKM, studi Hidayah. Kusmayadi, dan Fitriana menemukan bahwa kemampuan numerasi siswa Indonesia masih tergolong rendah, terutama pada level penalaran yang membutuhkan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah. 22 Penelitian Prananto terhadap guru sekolah dasar di Gunungkidul juga menunjukkan bahwa kompetensi numerasi guru masih perlu ditingkatkan, dengan temuan menarik bahwa guru yang belum tersertifikasi justru menunjukkan skor numerasi lebih tinggi dibanding yang sudah tersertifikasi. 23 Hai ini mengindikasikan bahwa sertifikasi belum menjamin peningkatan kompetensi substantif. Dengan memaknai numerasi sebagai bagian dari ordo imago Dei, perspektif teologis ini menyediakan kerangka konseptual yang memberi landasan makna bagi guru PAK dan peserta didik dalam mengembangkan kemampuan matematis. Ketika siswa belajar mengenali pola dalam data, memahami proporsi, atau menganalisis grafik, mereka sesungguhnya sedang mengaktualisasi kapasitas ilahi untuk memahami keteraturan ciptaan. Guru PAK dapat mengintegrasikan contoh-contoh numerasi dalam pembelajaran, misalnya menganalisis data demografis gereja, memahami proporsi persembahan, atau menghitung pertumbuhan jemaat sebagai sarana mengembangkan kemampuan bernalar matematis sekaligus mengajarkan tanggung jawab penatalayanan. Dengan demikian, numerasi tidak terasing dari konteks iman, melainkan menjadi sarana untuk memahami dan mengelola ciptaan Allah secara lebih Teologis-Pedagogis bagi Kompetensi Guru PAK di Ambon Rekonstruksi teologis yang menempatkan literasi-numerasi sebagai aktualisasi imago Dei memiliki implikasi signifikan bagi pemahaman dan pengembangan kompetensi guru PAK di Kota Ambon. Pertama, kerangka ini mereposisi tanggung jawab guru PAK dalam pengembangan literasi-numerasi dari sekadar kepatuhan terhadap kebijakan administratif menjadi panggilan teologis yang berakar pada mandat penciptaan. Lahope et al. dalam penelitiannya tentang peningkatan kompetensi profesional guru PAK di era Society 5. 0, menekankan perlunya integrasi kemajuan teknologi dengan nilai-nilai Kristiani yang selaras dengan pemahaman literasi-numerasi sebagai kapasitas ilahi yang perlu dikembangkan dalam konteks kontemMiddleton. The Liberating Image, 210-215. Grenz. The Social God and the Relational Self, 230-235. 22 Hidayah. Kusmayadi, dan Fitriana, "Minimum Competency Assessment," 16-18. 23 Prananto. Irfan Wahyu. Yoppy Wahyu Purnomo, and Fery Muhamad Firdaus, "The Numeracy Competency Profile of Elementary School Teachers in Ponjong District. Gunungkidul Regency Viewed from Demographic Factors," ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal 10, no. : 287-304. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 857 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 24 Timpal dan Mokalu dalam studinya menemukan korelasi positif antara kompetensi spiritual, pedagogik, dan sosial guru PAK dengan kualitas pembelajaran, mengindikasikan pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan berbagai dimensi kompetensi. Kedua, konteks Ambon dengan warisan pendidikan Kristen yang kuat dan dinamika sosial pasca-konflik memberikan latar unik bagi implementasi kerangka teologis-pedagogis ini. Penelitian Abidin tentang implementasi budaya sekolah di SD Negeri 19 Ambon menunjukkan bahwa nilai-nilai religius, kemandirian, dan kepedulian sosial dapat diintegrasikan secara efektif dalam pembentukan karakter siswa. 26 Sejarah pendidikan Maluku yang mencatat peran sentral misionaris dalam memperkenalkan literasi . embaca, menuli. dan numerasi . sebagai bagian dari misi penginjilan memberikan preseden historis bagi integrasi pengembangan kognitif dengan pembinaan iman. 27 Nilai-nilai kearifan lokal seperti pela gandong yang menekankan relasi persaudaraan lintas komunitas juga dapat menjadi jembatan kontekstualisasi pemahaman imago Dei, sebagai basis kesetaraan martabat manusia dalam pendidikan. Ketiga, implikasi praktis bagi pengembangan kompetensi guru PAK mencakup beberapa Pada dimensi kognitif, guru PAK perlu memahami landasan teologis literasi-numerasi dan mampu mengartikulasikannya dalam desain pembelajaran. Pike dalam penelitiannya menemukan bahwa guru yang memiliki pemahaman teologis yang kuat tentang imago Dei mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan memotivasi. 28 Pada dimensi afektif, guru perlu mengembangkan disposisi yang melihat pengembangan literasi-numerasi sebagai bagian dari pelayanan, bukan beban. Hoekema menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang imago Dei akan menghasilkan sikap penghargaan terhadap setiap dimensi kemanusiaan peserta didik. 29 Pada dimensi psikomotorik, guru perlu mengembangkan keterampilan mengintegrasikan latihan literasi-numerasi dalam pembelajaran PAK. Misalnya, melalui analisis teks Alkitab yang mendalam, penulisan refleksi rohani, atau eksplorasi pola numerik dalam narasi biblis. Keempat, dimensi eskatologis imago Dei perlu dipertimbangkan dalam kerangka ini. Barfield mengingatkan bahwa gambar Allah dalam diri manusia bukan sekadar realitas statis, melainkan memiliki orientasi dinamis menuju kepenuhan dalam Kristus. 30 Middleton menegaskan bahwa narasi biblis tentang imago Dei bergerak dari penciptaan menuju konsummasi, di mana manusia yang telah ditebus dipulihkan ke dalam kepenuhan gambar Allah. 31 Grenz dalam perspektif eklesiologisnya menekankan bahwa komunitas beriman memiliki peran sentral dalam proses pembentukan ini. 32 Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti bahwa pengembangan literasi-numerasi merupakan bagian dari proses progresif menuju kepenuhan 24 Lahope. Teofilus. Nelson Hasibuan. Angel Gabriela Jenesa. Tasya Oktavianti Pandjaitan, and Septiniar Laoli. AuDeskriptif Analisis Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Kristen Di Era Society 5. 0Ay. SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI 14 . :149-74. https://doi. org/10. 46495/sdjt. 25 Timpal dan Mokalu, "Pengaruh Kompetensi Spiritual. Pedagogik, dan Sosial," 714-716. 26 Johannes. Nathalia Yohana. Samuel Patra Ritiauw, and Hartini Abidin, "Implementasi Budaya Sekolah dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter di SD Negeri 19 Ambon," PEDAGOGIKA: Jurnal Pedagogik dan Dinamika Pendidikan 8, no. : 11-23, https://doi. org/10. 30598/pedagogikavol8issue1page11-23. 27 Touwe. Sem, and Rina Pusparani. Sejarah Pendidikan di Maluku Sejak Masa Prakolonial Hingga Orde Baru: Penjajahan. Partisipasi. Keperdulian (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. Kemendikbud, 2. , 45-67. 28 Pike, "The 'Image of God' and the Schooling of Virtue," 12-15. 29 Hoekema. Created in God's Image, 100-103. 30 Barfield, "Children and the Imago Dei," 14-15. 31 Middleton. The Liberating Image, 231. 32 Grenz. The Social God and the Relational Self, 267-268. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 858 Y. Tarumasely. Literasi dan numerasi sebagaiA kemanusiaan yang sejati, bukan sekadar persiapan untuk dunia kerja atau kelulusan ujian, melainkan pembentukan manusia seutuhnya yang mampu menjalankan panggilannya sebagai wakil Allah di dunia. Dengan demikian, guru PAK di Ambon mengemban tanggung jawab yang melampaui batas-batas kurikulum formal, yaitu memfasilitasi transformasi peserta didik menuju gambar Kristus sebagai imago Dei yang sempurna. Strategi Implementasi: Model Pembelajaran PAK yang Mengintegrasikan Literasi-Numerasi Translasi kerangka teologis-pedagogis ke dalam praktik pembelajaran memerlukan strategi konkret yang dapat diimplementasikan guru PAK. Model operasional berikut dikembangkan berdasarkan sintesis antara prinsip teologis imago Dei dengan best practices pendidikan literasinumerasi yang telah terbukti efektif dalam berbagai konteks pendidikan. Pembelajaran Berbasis Teks Alkitab Multi-Literasi Wiggins dan McTighe menekankan pentingnya Understanding by Design yang dimulai dengan identifikasi tujuan pembelajaran esensial sebelum merancang aktivitas dan asesmen. 33 Dalam konteks PAK, guru dapat menggunakan narasi Alkitab sebagai teks anchor untuk mengembangkan multiliterasi yang mencakup literasi dasar, literasi kritis, literasi visual, dan literasi digital secara terintegrasi. Sebagai contoh implementasi konkret, ketika mengajarkan tema "Penciptaan dan Tanggung Jawab Penatalayanan" berdasarkan Kejadian 1-2, guru PAK dapat mengembangkan pembelajaran berlapis: pada level literasi dasar, siswa membaca dan merangkum narasi dengan kata-kata sendiri. pada level literasi kritis, siswa menganalisis makna "mengelola dan memelihara" (Kej. dalam konteks pengelolaan lingkungan Ambon. level literasi visual, siswa membuat diagram relasi manusia-Allah-ciptaan. dan pada level literasi digital, siswa mencari informasi tentang isu lingkungan lokal seperti pengelolaan Teluk Ambon. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip literasi kritis Freire dan Macedo yang menekankan "reading the word and the world," di mana teks biblis menjadi lensa untuk menafsirkan dan mentransformasi realitas. Eksplorasi Pola Numerik dalam Narasi Alkitab Integrasi numerasi dapat dilakukan melalui eksplorasi pola numerik yang terdapat dalam narasi Alkitab. Devlin menunjukkan bahwa pemahaman matematis berkembang optimal ketika dikaitkan dengan konteks bermakna dan pola yang menarik. 35 Ketika mengajarkan tema "Pertumbuhan Gereja Mula-Mula" dari Kisah Para Rasul, guru dapat memfasilitasi siswa Melakukan analisis data pertumbuhan jemaat: dari 120 orang (Kis. menjadi 3000 orang (Kis. , kemudian 5000 orang (Kis. Peserta didik dapat membuat tabel, memvisualisasikan dalam grafik, menghitung persentase pertumbuhan, mengidentifikasi pola eksponensial, dan membuat proyeksi untuk gereja lokal mereka. Untuk dimensi aplikatif, siswa mengumpulkan data riil tentang jumlah jemaat di beberapa gereja di Ambon dalam lima tahun terakhir, membuat analisis tren, dan merefleksikan faktor-faktor teologis . ualitas penggembalaan, program penginjila. serta sosiologis . igrasi penduduk, dinamika pasca-konfli. yang memengaruhi pertumbuhan jemaat. Boaler menekankan bahwa pembelajaran matematika menjadi bermakGrant Wiggins dan Jay McTighe. Understanding by Design. Expanded 2nd ed. (Alexandria. VA: Association for Supervision and Curriculum Development, 2. , 227-231 34 Paulo Freire dan Donaldo Macedo. Literacy: Reading the Word and the World (South Hadley. MA: Bergin & Garvey, 1. , 35. 35 Keith Devlin. The Math Gene: How Mathematical Thinking Evolved and Why Numbers Are Like Gossip (New York: Basic Books, 2. , 56-63. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 859 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 na ketika peserta didik dapat melihat relevansi langsung dengan kehidupan mereka, dalam hal ini kehidupan gerejawi dan pelayanan Kristen. Pembelajaran Berbasis Proyek Terintegrasi Krajcik dan Blumenfeld menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek efektif untuk mengintegrasikan multiple competencies karena sifatnya yang kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah autentik. 37 Guru PAK dapat merancang proyek "pemetaan kebutuhan sosial di komunitas lokal sebagai wujud kasih Kristiani" dengan empat fase: Fase literasi: siswa membaca dan menganalisis teks Alkitab tentang kepedulian sosial (Mat. 25:3146. Yak. 2:14-. serta artikel tentang masalah sosial di Ambon. fase numerasi: siswa melakukan survei di lingkungan sekitar untuk mengidentifikasi kebutuhan sosial . umlah keluarga kurang mampu, anak putus sekola. , mengolah data, membuat tabulasi, menghitung persentase, dan membuat presentasi visual . iagram, grafik, infografi. fase aksi: siswa merancang dan mengimplementasikan program bantuan sederhana . enggalangan dana, bimbingan belajar gratis, kampanye kesadara. fase refleksi: siswa menulis refleksi teologis tentang pengalaman melayani, menghubungkannya dengan konsep imago Dei, bagaimana melayani sesama adalah bentuk penghormatan terhadap gambar Allah dan aktualisasi kapasitas ilahi untuk berkontribusi pada restorasi shalom. Proyek ini mengintegrasikan kompetensi literasi-numerasi dengan pembentukan karakter Kristiani yang menekankan pelayanan kasih. Pendekatan ini selaras dengan konsep pedagogical content knowledge (PCK) Shulman yang menekankan integrasi penguasaan konten . eologi Kriste. , pedagogi . etode sesuai perkembangan sisw. , dan konteks . ealitas sosial-kultural Ambo. 38 Pembelajaran seperti ini memfasilitasi transformasi holistik siswa yang merupakan esensi pendidikan Kristen berakar pada imago Dei. Pertanyaan Tingkat Tinggi untuk Literasi Kritis dan Numerasi Hermeneutis Anderson dan Krathwohl merevisi Taksonomi Bloom dengan menekankan pertanyaan yang mendorong menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, bukan sekadar mengingat. 39 Guru PAK perlu mengubah pola pertanyaan dari recall faktual menjadi penalaran tingkat tinggi. Contoh transformasi pertanyaan literasi: dari "Siapa yang menciptakan manusia?" menjadi "Bagaimana pemahaman bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah mempengaruhi cara kita memperlakukan orang yang berbeda agama, suku, atau status sosial?" Ini pertanyaan yang sangat relevan untuk konteks Ambon yang plural dan dalam proses rekonsiliasi. Contoh transformasi pertanyaan numerasi: dari "Berapa hari Yesus berpuasa?" menjadi serangkaian pertanyaan berlapis: "Jika Yesus berpuasa 40 hari dan 40 malam, berapa total jam? Mengapa angka 40 sering muncul dalam Alkitab . hari air bah, 40 tahun di padang gurun, 40 hari Musa di Sina. ? Apa makna simbolis angka 40 dalam tradisi Yahudi dan bagaimana ini membantu kita menafsirkan narasi pencobaan Yesus?" Pertanyaan ini tidak hanya mengembangkan kompetensi komputasi numerik, tetapi juga mendorong peserta didik untuk mengenali pola, bernalar mengenai signifikansi teologis, serta mengintegrasikan pemahaman numerik dengan Jo Boaler. Mathematical Mindsets: Unleashing Students' Potential Through Creative Math. Inspiring Messages and Innovative Teaching (San Francisco: Jossey-Bass, 2. , 112-118. 37 Joseph S. Krajcik dan Phyllis C. Blumenfeld, "Project-Based Learning," dalam The Cambridge Handbook of the Learning Sciences, ed. Keith Sawyer (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 319-323. 38 Lee S. Shulman, "Knowledge and Teaching: Foundations of the New Reform," Harvard Educational Review 57, no. : 8. 39 Lorin W. Anderson dan David R. Krathwohl, eds. A Taxonomy for Learning. Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives (New York: Longman, 2. , 67-68. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 860 Y. Tarumasely. Literasi dan numerasi sebagaiA pendekatan hermeneutik. Hal ini menunjukkan bahwa numerasi dalam PAK dapat berfungsi sebagai instrumen untuk memahami struktur makna dan pola simbolik dalam teks suci. Asesmen Autentik Holistik Wiggins menekankan bahwa asesmen autentik harus mengukur kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks bermakna, bukan sekadar mengingat informasi dalam tes terpisah dari realitas. 40 Misalnya, guru PAK dapat mengembangkan rubrik asesmen terintegrasi untuk tugas analisis teks alkitab dan aplikasi kontekstual dengan empat kriteria: Literasi . %): kemampuan memahami teks, mengidentifikasi gagasan utama, menginterpretasi makna. Numerasi . %): kemampuan menganalisis dan merepresentasikan informasi numerik jika relevan. Refleksi Teologis . %): kedalaman pemahaman konsep teologis dan relevansinya dengan iman pribadi. Aplikasi Kontekstual . %): kemampuan menghubungkan teks dengan realitas Ambon dan merumuskan respons praktis. Rubrik ini memastikan asesmen tidak terfragmentasi melainkan mengakui kesatuan antara keterampilan kognitif dan spiritual sebagaimana ditekankan dalam imago Dei. Guru PAK juga perlu mengembangkan portofolio pembelajaran yang mendokumentasikan perkembangan siswa sepanjang semester, mencakup refleksi tertulis, analisis data, proyek pelayanan, dan karya kreatif yang menunjukkan pertumbuhan holistik, bukan hanya penguasaan konten tetapi juga karakter dan komitmen iman. Palmer, dalam refleksinya tentang pendidikan berorientasi formasi spiritual menekankan bahwa asesmen sejati harus mengukur transformasi interior siswa, bukan hanya performa eksternal. 41 Pendekatan ini sejalan dengan pemahaman teologis bahwa aktualisasi imago Dei adalah proses developmental sepanjang hidup, bukan pencapaian sesaat. Dukungan Sistemik untuk Implementasi Implementasi strategi-strategi di atas memerlukan dukungan sistemik multi-level. Pada level institusional, diperlukan pelatihan guru PAK yang fokus pada integrasi literasi-numerasi dengan teologi, bukan sebagai pelatihan terpisah. Pelatihan harus membantu guru memahami landasan teologis literasi-numerasi dan mengembangkan keterampilan praktis merancang pembelajaran terintegrasi. Darling-Hammond dan McLaughlin menekankan bahwa pengembangan profesional guru efektif harus kontekstual, kolaboratif, dan berkelanjutan, bukan sekadar workshop satu kali terputus dari praktik kelas. 42 Pada level kurikulum, perlu dikembangkan bahan ajar PAK yang sudah mengintegrasikan latihan literasi-numerasi secara eksplisit, sehingga guru tidak merancang dari nol tetapi mengadaptasi materi tersedia. Pada level supervisi, sistem pengawasan perlu mengapresiasi kreativitas guru dalam integrasi kompetensi, bukan hanya kepatuhan administratif. Pada level kolaborasi, guru PAK perlu didorong berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lain (Bahasa Indonesia. Matematika. IPA. IPS) untuk merancang pembelajaran interdisipliner yang saling memperkuat. Ketika guru Matematika mengajarkan statistik, guru PAK dapat menggunakan konteks pelayanan gereja sebagai data yang dianalisis. Ketika guru Bahasa Indonesia mengajarkan teks argumentatif, guru PAK dapat meminta siswa menulis argumentasi teologis tentang isu etis kontemporer. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas Grant Wiggins. Educative Assessment: Designing Assessments to Inform and Improve Student Performance (San Francisco: Jossey-Bass, 1. , 21-27. 41 Parker J. Palmer. The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a Teacher's Life, 20th Anniversary ed. (San Francisco: Jossey-Bass, 2. , 145-152. 42 Linda Darling-Hammond dan Milbrey W. McLaughlin, "Policies That Support Professional Development in an Era of Reform," Phi Delta Kappan 92, no. : 81-100. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 861 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 pembelajaran, tetapi membantu siswa melihat kesatuan pengetahuan dan mengembangkan worldview Kristiani integratif, yakni iman sebagai lensa untuk memahami seluruh realitas. Van Brummelen menegaskan bahwa kurikulum Kristen autentik harus mengintegrasikan semua disiplin dalam kesatuan visi Alkitabiah tentang realitas, di mana setiap subjek dipahami dalam terang narasi penciptaan-kejatuhan-penebusan-konsumasi. Kesimpulan Refleksi teologis-pedagogis yang dikembangkan dalam artikel ini menegaskan bahwa literasi dan numerasi bukanlah sekadar keterampilan teknis yang dituntut oleh kebijakan pendidikan kontemporer, melainkan merupakan bentuk aktualisasi imago Dei dalam diri manusia. Literasi sebagai manifestasi dimensi logos memungkinkan manusia berkomunikasi secara bermakna dan menafsirkan realitas, sementara numerasi sebagai ekspresi dimensi ordo memampukan manusia memahami keteraturan ciptaan dan mengelolanya dengan bijaksana. Bagi guru PAK di Sekolah Dasar Kota Ambon, kerangka teologis ini mereposisi tanggung jawab pengembangan literasi-numerasi dari beban administratif menjadi panggilan ilahi yang terintegrasi dengan tugas pembinaan iman. Integrasi perspektif teologis tentang imago Dei dengan tuntutan kompetensi literasi-numerasi membuka kemungkinan pendekatan holistik yang memelihara kesatuan antara pengembangan kognitif dan spiritual peserta didik. Warisan pendidikan Kristen di Maluku, yang sejak awal memadukan literasi dengan misi penginjilan memberikan fondasi kontekstual bagi implementasi kerangka ini. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengembangkan model pembelajaran PAK yang secara eksplisit mengintegrasikan pengembangan literasi-numerasi sebagai aktualisasi imago Dei, serta mengukur efektivitasnya dalam konteks sekolah-sekolah di Ambon dan wilayah lain di Indonesia. Referensi