Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI USAHATANI KARET MENJADI KELAPA SAWIT DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI PASCAKONVERSI DI DESA KEJADIAN. KABUPATEN MESUJI ANALYSIS OF THE FINANCIAL FEASIBILITY OF CONVERTING RUBBER FARMING TO OIL PALM FARMING AND POST-CONVERSION FARMING DEVELOPMENT STRATEGIES IN KEJADIAN VILLAGE. MESUJI REGENCY Rizky Augia1. Ktut Murniati2 1,2 Universitas Lampung. Indonesia 1 augiarizky@gmail. com, 2 ktutmurniati@gmail. Masuk: 23 Juni2025 Penerimaan: 26 Juni 2025 Publikasi: 27 Juni 2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit dengan tumpang sari ubi kayu sebagai tanaman sela selama kelapa sawit belum menghasilkan serta merumuskan strategi pengembangannya di Desa Kejadian. Kecamatan Way Serdang. Kabupaten Mesuji. Pendekatan deskriptif-kuantitatif digunakan dengan analisis Net Present Value (NPV). Internal Rate of Return (IRR). Gross Benefit-Cost Ratio. Net Benefit-Cost Ratio, dan Payback Period (PP) untuk menilai kelayakan Perumusan strategi dilakukan melalui analisis Internal Factor Analysis Summary (IFAS). External Factor Analysis Summary (EFAS). Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threats (SWOT), dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi usahatani layak secara finansial, ditunjukkan oleh nilai NPV sebesar Rp264. 322,00. IRR sebesar 30,81%. Gross BC Ratio sebesar 2,06. Net BC Ratio sebesar 4,33, dan PP selama 6,77 tahun. Analisis SWOT menunjukkan kekuatan internal lebih dominan dibandingkan kelemahan, meskipun terdapat tekanan eksternal yang cukup tinggi, sehingga posisi usaha berada pada Kuadran II. Strategi utama yang direkomendasikan adalah penerapan sistem budidaya terpadu sebagai langkah mitigasi terhadap organisme pengganggu Kata kunci: Analisis SWOT. Konversi usahatani. Kelayakan finansial. Kelapa sawit. ABSTRACT This study aims to analyze the financial feasibility of converting rubber farming into oil palm farming using intercropped cassava as an interim crop during the immature phase of oil palm, as well as to formulate development strategies in Kejadian Village. Way Serdang District. Mesuji Regency. A descriptive-quantitative approach was employed using Net Present Value (NPV). Internal Rate of Return (IRR). Gross Benefit-Cost Ratio. Net Benefit-Cost Ratio, and Payback Period (PP) to assess financial feasibility. Strategy formulation was conducted through Internal Factor Analysis Summary (IFAS). External Factor Analysis Summary (EFAS). Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threats (SWOT), and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The results indicate that the farming conversion is financially feasible, as reflected by an NPV of Rp264,160,322. 00, an IRR of 30. 81%, a Gross BC Ratio of 2. 06, a Net BC Ratio of 4. 33, and a PP of 6. 77 years. The SWOT analysis shows that internal strengths outweigh weaknesses, although the external environment presents significant threats, placing the business position in Quadrant II. The main recommended strategy is the implementation of an integrated farming system as a mitigation measure against plant pest organisms. Keywords: Financial feasibility. Farm conversion. Oil palm farming. SWOT analysis Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama dalam struktur perekonomian nasional Indonesia, berperan penting dalam menyediakan pangan, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat (Rahmawaty et al. , 2. Dari berbagai subsektor pertanian, subsektor perkebunan menempati posisi utama dengan kontribusi sebesar 3,88% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2023, menjadikannya subsektor dengan sumbangan terbesar dibandingkan subsektor pertanian lainnya (Kementerian Pertanian. Pada subsektor perkebunan, kelapa sawit dan karet merupakan komoditas unggulan yang memainkan peran penting dalam perekonomian negara. Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian yang memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan devisa negara Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai USD 25,61 miliar dan volume ekspor sebesar 38,23 juta ton pada tahun 2023 (Kementerian Pertanian, 2024. Minyak nabati dari kelapa sawit digunakan secara luas dalam berbagai industri, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir utama minyak sawit dunia. Selain itu, berdasarkan penelitian sebelumnya, industri kelapa sawit juga menciptakan lapangan kerja dan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional (Riwaldi et al. , 2. Karet juga menjadi komoditas strategis yang telah lama menjadi pilar ekspor Indonesia dan penyumbang devisa negara yang signifikan. Sementara itu, penelitian Vernando et al. menunjukkan bahwa karet memiliki pasar potensial di dalam negeri, terutama untuk industri otomotif, manufaktur, dan konstruksi, sekaligus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Industri karet juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan taraf hidup masyarakat pedesaan. Berdasarkan sisi ekonomi, kelapa sawit dinilai lebih menguntungkan dan stabil di tengah fluktuasi harga komoditas global. Hal ini didukung oleh daya saing ekspor yang tinggi serta surplus neraca perdagangan kelapa sawit yang konsisten (Batubara et al. , 2. Meskipun demikian, beberapa penelitian di tingkat petani menunjukkan bahwa pendapatan usahatani karet rakyat di beberapa daerah bisa lebih tinggi daripada kelapa sawit, tergantung pada harga jual dan biaya produksi masing-masing komoditas (Siregar & Handayani, 2. Namun secara makro, penelitian sebelumnya menemukan bahwa kontribusi kelapa sawit terhadap devisa dan stabilitas ekonomi nasional tetap lebih besar dan lebih stabil dibandingkan karet (PASPI, 2022b, 2022. Selama periode 2018Ae2023, luas perkebunan rakyat untuk komoditas kelapa sawit menunjukkan peningkatan, sedangkan luas perkebunan karet mengalami penurunan. Secara Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 nasional, luas perkebunan rakyat kelapa sawit tumbuh sebesar 12%, dari 6. 000 hektare pada tahun 2018 menjadi 6. 516 hektare pada tahun 2023. Di Provinsi Lampung, pertumbuhan tercatat sebesar 2%, dari 109. 254 hektare menjadi 111. 134 hektare, sedangkan di Kabupaten Mesuji pertumbuhan mencapai 5%, dari 21. 750 hektare menjadi 22. 815 hektare. Sebaliknya, luas perkebunan rakyat karet mengalami kontraksi dengan tren penurunan yang konsisten pada seluruh tingkat wilayah. Data luas area perkebunan rakyat komoditas kelapa sawit dan karet dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2. -10% Indonesia Indonesia Lampung Kelapa Sawit Mesuji Karet Gambar 1. Komparasi Luas Area Perkebunan Rakyat Komoditas Kelapa Sawit dan Karet Tahun 2018 dan Sumber: Data diolah 2025 -20% Lampung Mesuji -9% -12% -20% -30% Kelapa Sawit Karet Gambar 2. Pertumbuhan dan Penurunan Luas Area Perkebunan Rakyat Komoditas Kelapa Sawit Tahun Sumber: Data diolah 2025 Fenomena konversi lahan dari karet ke kelapa sawit merupakan kecenderungan yang semakin nyata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kejadian. Kecamatan Way Serdang. Kabupaten Mesuji. Berdasarkan data BPS Kabupaten Mesuji, dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, terjadi peningkatan luas areal kelapa sawit sebesar 61%, sementara luas lahan karet mengalami penurunan sebesar 16%. Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan preferensi petani terhadap komoditas pertanian. Hal tersebut juga tercermin dari perubahan rasio penggunaan lahan, di mana lima belas tahun lalu setiap 1 hektare kelapa sawit berbanding dengan sekitar 1,5 hektare karet, sedangkan saat ini perbandingannya menjadi 1 hektare kelapa sawit terhadap 0,7 hektare karet. Data ini mengindikasikan pergeseran dominasi budidaya menuju kelapa sawit sebagai komoditas utama dalam struktur usahatani masyarakat setempat. Konversi usahatani dari karet ke komoditas lain seperti kelapa sawit dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, sosial, dan teknis. Harga karet yang cenderung rendah dan fluktuatif membuat petani kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sementara kelapa sawit menawarkan pendapatan yang lebih tinggi, stabil, dan berkelanjutan (Alfiandi & Jalil, 2024. Sari & Jalil, 2. Selain itu, budidaya kelapa sawit dinilai lebih mudah dan tidak seintensif karet dalam hal tenaga dan waktu. Faktor pendidikan, frekuensi penyadapan, serta ketersediaan pendapatan alternatif Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 juga turut memengaruhi keputusan petani dalam mengalihkan usaha taninya (Saputra, 2. sisi lain, motivasi konversi tidak hanya didorong oleh alasan ekonomi, tetapi juga oleh kebutuhan psikologis seperti rasa aman, harga diri, dan aktualisasi diri (Viero et al. , 2. Kombinasi faktorfaktor ini menjadikan kelapa sawit sebagai pilihan rasional bagi petani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi keluarga. Konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit di Desa Kejadian. Kecamatan Way Serdang. Kabupaten Mesuji dilakukan melalui sistem tumpang sari dengan ubi kayu selama masa belum menghasilkan, guna menyediakan pendapatan alternatif bagi petani. Meskipun secara ekonomi jangka pendek konversi ini menjanjikan, kelayakan usahatani secara keseluruhan tetap perlu dikaji. Survei lapangan menunjukkan sejumlah kendala pascakonversi, seperti keterbatasan modal, gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), serta infrastruktur jalan dan jembatan yang belum memadai. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan usahatani kelapa sawit di masa mendatang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial konversi usahatani karet ke kelapa sawit serta merumuskan strategi pengembangannya pascakonversi di wilayah tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kejadian. Kecamatan Way Serdang. Kabupaten Mesuji. Provinsi Lampung, dengan pengambilan data dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Februari 2025. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan Focus Group Discussion (FGD). Responden terdiri dari 15 petani yang telah melakukan konversi lahan dari karet ke kelapa sawit dalam lima tahun terakhir. Analisis kelayakan finansial konversi usahatani dilakukan dengan menggunakan indikator Net Present Value (NPV). Internal Rate of Return (IRR). Gross Benefit-Cost (Gross BC) Ratio. Net Benefit-Cost (Net BC) Ratio, dan Payback Period (PP). Sementara itu, untuk merumuskan strategi pengembangan pascakonversi, digunakan analisis Matriks Internal-Eksternal (IE) untuk menentukan posisi usahatani dalam kuadran SWOT (Strengths. Weaknesses. Opportunities. Threat. melalui FGD. Berdasarkan kuadran SWOT yang diperoleh, disusun alternatif strategi. Selanjutnya, alternatif tersebut diprioritaskan menggunakan metode Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) melalui FGD dengan mempertimbangkan bobot, rating, dan total skor daya tarik masing-masing strategi. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Penelitian ini melibatkan 15 responden petani yang telah mengonversi lahan dari karet ke kelapa sawit. Seluruh responden adalah laki-laki dengan rata-rata usia 45 tahun dan tanggungan dua orang. Sebanyak 50% berpendidikan hingga SLTP, sedangkan sisanya menyelesaikan SLTA dan S1. Sebagian besar responden memiliki pekerjaan utama sebagai petani dengan pengalaman bertani selama 20 tahun, sedangkan lainnya sebagai pedagang dan guru. Rata-rata pendapatan bulanan responden sebesar Rp3. Proses konversi usatani dari mulai penebangan pohon karet hingga kelapa sawit menghasilkan melalui beberapa tahapan seperti pada Gambar 3. Penyemaian Kelapa Sawit Penanaman Ubi Kayu MT2 Penyemprotan MT2 Penanaman Ubi Kayu MT4 Penyemprotan MT4 Penebangan Pohon Karet Penanaman Bibit Kelapa Sawit Pemupukan MT2 Pembajakan Lahan MT4 Pemupukan MT4 Pembajakan Lahan MT1 Pembajakan Lahan MT2 Pemanenan Ubi Kayu MT2 Pemanenan Ubi Kayu MT3 Pemanenan Ubi Kayu MT4 Penanaman Ubi Kayu MT1 Pemanenan Ubi Kayu MT1 Pembajakan Lahan MT3 Pemupukan MT3 Kelapa Sawit TM Penyemprotan MT1 Pemupukan MT1 Penanaman Ubi Kayu MT3 Penyemprotan MT3 Gambar 3. Diagram Alur Pola Konversi Keterangan: MT = Musim tanam ubi kayu. TM = Tanaman menghasilkan Sumber: Data diolah, 2025 Proses konversi usahatani dari karet ke kelapa sawit diawali dengan penyemaian bibit sawit dilahan terpisah yang membutuhkan waktu 6 hingga 18 bulan sebelum ditanam secara permanen di lahan. Selama masa tunggu ini, petani mulai melakukan penebangan pohon karet melalui skema bagi hasil informal antara pemilik lahan dan tenaga penebang. Kayu hasil tebangan dijual oleh penebang, sedangkan sisa batang dan ranting yang tidak terangkut biasanya dibakar langsung oleh pemilik lahan sebagai bagian dari persiapan areal tanam. Setelah lahan dibersihkan, dilakukan pembajakan sebanyak dua kali dengan pola menyilang guna memperbaiki struktur Untuk memanfaatkan jeda waktu sebelum sawit produktif, petani menerapkan sistem tumpangsari dengan menanam ubi kayu. Penanaman dilakukan secara borongan, dilanjutkan Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 dengan penyemprotan herbisida dan pemupukan dua tahap pada umur 1,5 dan 3,5 bulan. Ubi kayu dipanen setelah cukup umur . sampai 10 bula. , dan hasil panen didistribusikan langsung ke pabrik, dengan sebagian batang disisihkan untuk dijadikan bibit musim tanam berikutnya. Penanaman kelapa sawit dilakukan segera setelah fase tumpangsari awal selesai, dengan kepadatan sekitar 140Ae150 batang per hektar. Pada fase ini, sebagian petani tetap menanam ubi kayu secara terbatas di sela-sela tanaman sawit muda, meskipun secara bertahap intensitas tumpangsari menurun seiring bertambahnya tutupan kanopi sawit yang mengurangi penetrasi cahaya ke permukaan tanah. Produktivitas sawit mulai terlihat pada tahun ketiga dengan hasil yang masih terbatas, kemudian meningkat signifikan pada tahun keempat dan mencapai puncak pada tahun kelima hingga keenam. Sebaliknya, hasil panen ubi kayu menunjukkan tren penurunan sejak musim kedua akibat penurunan kualitas lahan dan berkurangnya perhatian petani terhadap komoditas semusim ini, yang hanya bersifat sementara. Produksi Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Produksi hasil usahatani dalam sistem konversi ini mencakup dua komoditas utama, yaitu kelapa sawit dan ubi kayu. Tanaman ubi kayu dibudidayakan sebagai tanaman sela sejak tahun pertama hingga tahun keempat, yaitu selama masa belum produktifnya kelapa sawit. Strategi tumpangsari ini diterapkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan mendukung keberlanjutan pendapatan petani pada fase awal usaha tani. Dinamika produksi komoditas kelapa sawit dan ubi kayu dapat dilihat pada Gambar 4. Selama empat tahun pertama, pola panen ubi kayu dilakukan dengan frekuensi yang Pada tahun pertama dan ketiga dilakukan satu kali panen, sedangkan pada tahun kedua dan keempat dilakukan dua kali panen. Namun demikian, produksi ubi kayu menunjukkan tren penurunan sejak musim tanam ketiga hingga musim tanam keenam. Penurunan ini berkaitan dengan semakin rapatnya kanopi tanaman kelapa sawit, yang mengurangi intensitas cahaya serta meningkatkan persaingan unsur hara di lahan budidaya. Tanaman kelapa sawit mulai berbuah pada tahun keempat, namun hasilnya belum layak Oleh karena itu, penerimaan dari kelapa sawit baru diperoleh mulai tahun kelima, saat produksi telah mencapai volume dan kualitas yang dapat dipasarkan. Hasil panen meningkat secara bertahap hingga mencapai tingkat produksi yang relatif stabil pada tahun kesepuluh hingga tahun keempat belas. Puncak produksi terjadi pada tahun kelima belas hingga tahun kesembilan belas, kemudian mengalami penurunan secara bertahap sejak tahun kedua puluh hingga tahun kedua puluh lima, seiring dengan penurunan produktivitas akibat usia tanaman. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Produksi Kelapa Sawit (K. Produksi Ubi Kayu (K. Gambar 4. Produksi Komoditas Kelapa Sawit dan Ubi Kayu. Sumber: Data diolah, 2025. Penerimaan dan Biaya Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Konversi usahatani dari tanaman karet menjadi kelapa sawit dengan tumpang sari ubi kayu di Desa Kejadian. Kecamatan Way Serdang. Kabupaten Mesuji, merupakan sebuah inovasi agribisnis yang bertujuan meningkatkan pendapatan petani sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan. Tabel 1 menyajikan rincian penerimaan dan biaya dalam proses konversi usahatani dari karet menjadi kelapa sawit dengan sistem tumpangsari bersama ubi kayu. Penerimaan berasal dari produksi kelapa sawit, ubi kayu, batang karet, dan nilai sisa investasi setelah proyek selesai. Sementara itu, biaya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu biaya investasi dan biaya operasional. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 1. Penerimaan dan Biaya Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit. Penerimaan dan Biaya Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit (R. Penerimaan Kelapa sawit 000,00 Ubi kayu 000,00 Bonggol ubi kayu 000,00 Batang karet 000,00 Nilai sisa investasi 134,00 Total Penerimaan 134,00 Biaya Biaya Investasi Lahan 000,00 Penebangan dan pembersihan pohon karet 000,00 Penyemaian bibit kelapa sawit 000,00 Penanaman bibit kelapa sawit 000,00 Peralatan 200,00 Total Biaya Investasi 200,00 Biaya Operasional Pembajakan lahan 000,00 Pembelian bibit ubi kayu 000,00 Pembelian pupuk 000,00 Pembelian obat pengendali organisme pengganggu tanaman 000,00 Pruning kelapa sawit 000,00 Biaya tenaga kerja operasional 000,00 Biaya pajak 000,00 Total Biaya Operasional 000,00 Total Biaya 200,00 Pendapatan 934,00 Sumber: Data diolah, 2025. Tabel 1 menunjukkan nilai penerimaan yang berasal dari beberapa sumber utama. Penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kelapa sawit sebagai komoditas utama. Selain itu, penjualan ubi kayu dan bonggolnya sebagai tanaman sela memberikan tambahan pendapatan dalam masa belum produktifnya sawit. Penerimaan juga diperoleh dari penjualan batang karet hasil penebangan, yang masih memiliki nilai ekonomi. Di samping itu, nilai sisa dari investasi tetap yang masih memiliki umur ekonomis pada akhir periode perhitungan turut diperhitungkan sebagai komponen penerimaan. Secara keseluruhan, total penerimaan yang diperoleh dari seluruh komponen tersebut mencapai Rp1. 134,00. Biaya investasi mencakup pengeluaran awal yang sebagian besar dikeluarkan pada tahun Komponen utama dalam kategori ini meliputi pengadaan lahan, kegiatan penebangan dan pembersihan pohon karet sebagai bagian dari persiapan lahan, penyemaian bibit kelapa sawit, serta pengadaan peralatan penunjang budidaya. Adapun kegiatan penanaman bibit kelapa sawit dilaksanakan pada tahun kedua, menyesuaikan dengan kesiapan lahan serta perkembangan bibit yang telah disemaikan sebelumnya. Seluruh komponen dalam kelompok biaya ini merupakan pengeluaran bersifat tetap yang dikeluarkan sebelum usaha berjalan secara Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Biaya operasional mencerminkan kebutuhan pengeluaran rutin selama fase budidaya. Komponen biaya ini mencakup kegiatan pembajakan lahan, pembelian bibit ubi kayu sebagai tanaman sela, pembelian pupuk dan obat pengendali organisme pengganggu tanaman (OPT), serta pemangkasan . Pupuk dan obat OPT digunakan untuk dua komoditas sekaligus, yaitu kelapa sawit dan ubi kayu, karena keduanya dibudidayakan secara bersamaan melalui sistem tumpangsari selama masa belum produktifnya tanaman kelapa sawit. Biaya operasional juga mencakup pengeluaran untuk tenaga kerja operasional yang digunakan dalam berbagai tahapan kegiatan budidaya. Tenaga kerja terlibat dalam proses pembajakan, pembelian dan penanaman bibit ubi kayu, pemupukan, pengendalian OPT, serta panen tanaman sela. Di samping itu, sebagian tenaga kerja dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan akomodasi dan aktivitas penunjang lapangan lainnya. Beberapa kegiatan, seperti pemupukan dan pengendalian OPT, memerlukan kombinasi antara biaya tenaga kerja dan biaya pembelian input produksi, sehingga keduanya dicatat secara terpisah sesuai jenis Secara keseluruhan, total biaya yang diperlukan dalam proses konversi usahatani ini mencapai Rp399. 200,00. Jumlah tersebut mencerminkan kebutuhan investasi awal dan intensitas biaya operasional yang dikeluarkan untuk mendukung transisi dari budidaya karet menuju sistem pertanian terpadu berbasis kelapa sawit dan ubi kayu. Berdasarkan hasil perhitungan, pendapatan bersih yang diperoleh dari kegiatan konversi ini sebesar Rp772. 934,00. Dinamika penerimaan dan biaya dalam konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 5. 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 000,00 0,00 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Penerimaan (R. Biaya (R. Gambar 5. Penerimaan dan Biaya Total Konversi Usahatani Sumber: Data diolah, 2025 Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Analisis Kelayakan Finansial Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Analisis kelayakan finansial konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit dengan sistem tumpangsari ubi kayu, menggunakan lima indikator utama, yaitu Net Present Value (NPV). Internal Rate of Return (IRR). Gross Benefit-Cost Ratio (Gross BC). Net Benefit-Cost Ratio (Net BC), dan Payback Period (PP). Hasil analisis kelayakan finansial konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis Kelayakan Finansial. Kriteria Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Gross Benefit-Cost (Gross BC) Ratio Net Benefit-Cost (Net BC) Ratio Payback Period (PP) Sumber: Data diolah, 2025. >Rp0 >6% <25 Tahun Hasil Rp264. 322,00 30,81% 2,06 4,33 6,77 Tahun Keterangan Layak Layak Layak Layak Layak Net Present Value (NPV) merupakan indikator utama yang digunakan untuk menilai kelayakan investasi berdasarkan konsep nilai waktu uang. NPV menggambarkan selisih antara nilai sekarang dari seluruh penerimaan bersih usaha dengan nilai sekarang dari seluruh biaya yang dikeluarkan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa NPV sebesar Rp264. 322,00, yang berarti bahwa proyek menghasilkan surplus bersih setelah semua biaya investasi dan operasional diperhitungkan selama umur proyek. Maka berdasarkan hasil ini, dengan menggunakan tingkat diskonto sebesar 6% . ebagai proksi biaya modal atau tingkat bunga ban. , kegiatan konversi usahatani tidak hanya mengembalikan seluruh biaya yang dikeluarkan, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bersih. Karena NPV > 0, maka proyek ini layak secara finansial, artinya memberikan keuntungan bersih di atas nilai modal yang diinvestasikan. Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat diskonto di mana NPV menjadi nol. IRR menggambarkan tingkat pengembalian efektif dari investasi. Hasil IRR yang diperoleh adalah sebesar 30,81%, yang berarti bahwa tingkat pengembalian internal proyek jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi tingkat diskonto sebesar 6%. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa proyek menghasilkan pengembalian investasi sebesar 30,81% per tahun. Karena nilai IRR > 6%, maka secara matematis dan ekonomis proyek ini sangat layak, bahkan menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Perbedaan besar antara IRR dan tingkat diskonto juga menunjukkan bahwa proyek relatif rendah risiko dalam hal pengembalian modal. Gross Benefit-Cost Ratio (Gross BC) menggambarkan perbandingan antara total penerimaan kotor dengan total biaya yang dikeluarkan . anpa memperhitungkan nilai waktu uan. Nilai Gross BC yang diperoleh sebesar 2,06 menunjukkan bahwa setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan dapat menghasilkan Rp2,06 manfaat ekonomi. Berdasarkan hasil analisis ini, konversi usahatani Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 tidak hanya mengembalikan modal secara penuh, tetapi juga menggandakan nilai manfaat yang Gross BC > 1 merupakan indikator bahwa kegiatan tersebut efisien dari sisi biaya dan layak dilaksanakan, meskipun tanpa mempertimbangkan nilai waktu uang. Net Benefit-Cost Ratio (Net BC) merupakan indikator efisiensi finansial dengan mempertimbangkan nilai waktu uang, dihitung sebagai rasio antara manfaat bersih dengan nilai sekarang dari biaya. Nilai Net BC sebesar 4,33 mengindikasikan bahwa setiap Rp1 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp4,33. Nilai ini memperkuat penilaian terhadap kelayakan finansial proyek. Net BC yang tinggi menunjukkan bahwa investasi ini sangat menguntungkan bahkan setelah semua pengeluaran dan manfaat dikonversi ke nilai kini. Oleh karena itu, kegiatan ini bukan hanya layak secara teknis dan agronomis, tetapi juga sangat menguntungkan secara finansial dalam jangka panjang. Payback Period (PP) menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan seluruh biaya investasi dari arus kas bersih tahunan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa PP adalah 6,77 tahun, jauh di bawah asumsi umur proyek selama 25 tahun. Modal investasi akan kembali dalam waktu kurang dari 7 tahun, sedangkan sisa umur proyek selama 18 tahun ke depan berpotensi menghasilkan keuntungan bersih tanpa harus menanggung lagi beban investasi awal. Nilai ini mengindikasikan bahwa proyek memiliki risiko pengembalian modal yang relatif rendah, serta prospek keuntungan jangka panjang yang kuat. Faktor Internal dan Eksternal Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Analisis Matriks Internal-Eksternal (IE) dalam Tabel 3 menunjukkan bahwa faktor internal secara umum mendukung konversi usahatani dari karet ke kelapa sawit. Salah satu kekuatan utama adalah ketersediaan lahan yang luas dan topografi yang relatif landai, sehingga memudahkan pengembangan perkebunan sawit dan menurunkan risiko erosi. Selain itu, pengalaman petani dalam mengelola tanaman tahunan seperti karet memberi dasar keterampilan awal yang berguna untuk membudidayakan sawit. Faktor pendukung lainnya adalah kemudahan memperoleh bibit sawit unggul dan kesesuaian agroklimat desa setempat. Proses budidaya sawit yang relatif sederhana dan telah dikenal secara umum di kalangan petani turut memperkuat kesiapan internal dalam menghadapi konversi ini. Setelah memasuki masa produksi, sawit juga mampu memberikan hasil panen yang stabil dan berkontribusi terhadap peningkatan penerimaan petani. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 3. Performa Faktor Internal dan Eksternal Usahatani Kelapa Sawit Pasca Konversi. Internal Factor Analysis Summary (IFAS) Strength Skor External Factor Analysis Summary (EFAS) Opportunities Skor Ketersediaan lahan yang cukup untuk menanam sawit Pengalaman dalam berusaha tani . erutama di tanaman kare. Mudah mendapatkan bibit sawit berkualitas 0,76 Mudah membudidayakan sawit di desa ini 0,03 Produksi tinggi dari sawit setelah mencapai umur optimal Total Strength 0,40 Komoditas sawit merupakan komoditas unggul di pasar internasional Adanya motivasi petani untuk beralih dari karet ke sawit Tenaga kerja mudah didapatkan di desa ini untuk bekerja di sektor sawit Adanya pembeli tetap untuk produk sawit . Hubungan baik antara petani dengan pemasok dan pembeli sawit Total Opportunities Weakness Kelembagaan petani belum berjalan secara Biaya investasi awal yang tinggi Sumber permodalan yang terbatas untuk usaha Penurunan penerimaan petani di awal Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan Total Weakness Nilai Internal (S-W) Sumber: Data diolah, 2025. 0,39 0,20 1,78 Skor 0,03 Threats 0,28 Organisme pengangu tanaman yang mengancam hasil sawit Dukungan dan keterlibatan pemerintah sangat rendah Kondisi jalan yang buruk menghambat distribusi hasil sawit Kondisi iklim atau cuaca yang tidak mendukung pertumbuhan sawit Harga jual sawit yang tidak menentu 1,35 0,43 Total Opportunities Nilai Eksternal (O-T) 0,32 0,33 0,39 0,20 0,44 0,39 0,28 0,21 1,52 Skor 0,68 0,13 0,44 0,24 0,30 1,79 -0,27 Terdapat beberapa kelemahan internal yang signifikan. Biaya investasi awal untuk konversi lahan cukup tinggi dan sulit dijangkau oleh sebagian besar petani karena keterbatasan akses terhadap sumber permodalan. Kelembagaan petani seperti koperasi dan kelompok tani belum berfungsi optimal, sehingga belum mampu memberikan dukungan dalam hal pembiayaan, pelatihan, dan pemasaran. Selain itu, masa tunggu sawit yang panjang hingga berproduksi menyebabkan penurunan penerimaan sementara bagi petani. Hal ini diperburuk oleh minimnya pengetahuan teknis dan keterampilan spesifik dalam budidaya sawit, yang menghambat proses Dari sisi eksternal, peluang yang tersedia sangat menjanjikan. Petani memiliki motivasi kuat untuk beralih dari karet ke sawit, didorong oleh harapan terhadap penerimaan yang lebih baik dan pekerjaan yang lebih ringan. Ketersediaan tenaga kerja lokal juga mendukung, meskipun kebutuhan tenaga kerja sawit lebih rendah dibandingkan karet. Selain itu, kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di pasar internasional. Keberadaan pabrik pengolahan yang relatif dekat dan hubungan baik antara petani dengan pembeli atau pemasok input memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok. Ancaman dari serangan hama dan penyakit merupakan tantangan agronomis utama yang dapat mengganggu produktivitas. Kondisi infrastruktur jalan yang buruk memperlambat Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 distribusi hasil panen dan menurunkan efisiensi logistik. Selain itu, harga sawit yang fluktuatif dan ketidakpastian iklim menciptakan risiko ekonomi yang harus diantisipasi. Di tengah tantangan ini, dukungan pemerintah masih rendah, baik dalam bentuk penyuluhan, subsidi, maupun penguatan kelembagaan. Posisi Kuadran SWOT Konversi Usahatani Karet Menjadi Kelapa Sawit Berdasarkan analisis SWOT dengan perhitungan IFAS dan EFAS pada Tabel 3, konversi usahatani dari karet ke kelapa sawit di Desa Kejadian menunjukkan kekuatan internal lebih dominan dibanding kelemahan, namun ancaman eksternal lebih besar dibanding peluang. Posisi konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit dalam kuadran SWOT yang tertera pada Gambar 6 menunjukkan konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit berada pada Kuadran II. Hal ini tercermin dari skor positif pada faktor internal dan negatif pada faktor eksternal, menandakan perlunya strategi diversifikasi untuk memanfaatkan kekuatan internal dalam menghadapi berbagai risiko eksternal. Meski kapasitas internal cukup kuat, seperti ketersediaan lahan dan pengalaman petani, tantangan eksternal berupa serangan hama, kondisi infrastruktur jalan yang kurang memadai, fluktuasi harga sawit, serta ketidakpastian iklim harus dikelola secara adaptif agar konversi usahatani dapat berhasil. Secara keseluruhan konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit berada pada Kuadran II dalam analisis kuadran SWOT. 1,00 IFAS Kuadran i Kuadran I 0,50 0,00 -0,5 0,43. -0,27 Kuadran IV -0,50 -1,00 EFAS Gambar 6. Kuadran SWOT Sumber: Data diolah, 2025. Kuadran II Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Penentuan Strategi Usahatani Usahatani Kelapa Sawit Pascakonversi Hasil analisis kuadran SWOT menunjukkan bahwa usahatani konversi dari karet ke kelapa sawit berada pada posisi Kuadran II. Strategi bertahan menjadi pilihan utama dengan pemanfaatan kekuatan internal yang ada untuk menghadapi dan mengurangi dampak dari tekanan eksternal. Strategi yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah: Optimasi produksi dan diversifikasi usaha untuk mengatasi fluktuasi harga. Penguatan kapasitas dan jejaring petani melalui pendekatan swadaya dan kolaboratif dengan mitra non-pemerintah. Pengelolaan distribusi adaptif untuk mengatasi kendala infrastruktur. Penerapan budidaya terpadu untuk mitigasi Organisme Penggangu Tanaman (OPT). Adaptasi iklim melalui pengelolaan agroekosistem berkelanjutan. Berdasarkan analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM), seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4, strategi yang menempati posisi paling prioritas dalam analisis ini adalah penerapan budidaya terpadu untuk mitigasi organisme penggangu tanaman. Strategi ini dipandang sangat penting karena tantangan biotik merupakan salah satu ancaman utama dalam budidaya kelapa Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 4. Quantitative Strategic Planning Matrix. Faktor Strength Ketersediaan lahan yang cukup untuk menanam sawit Pengalaman dalam berusaha tani . erutama di tanaman Mudah mendapatkan bibit sawit berkualitas Mudah membudidayakan sawit di desa ini Produksi tinggi dari sawit setelah mencapai umur optimal Weakness Kurangnya akses pemasaran untuk hasil sawit Biaya investasi awal yang tinggi Sumber permodalan yang terbatas untuk usaha sawit Penurunan penerimaan petani Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan petani Opportunuties Komoditas sawit merupakan komoditas unggul di pasar Adanya motivasi petani untuk beralih dari karet ke sawit Tenaga kerja mudah didapatkan di desa ini untuk bekerja di sektor sawit Adanya pembeli tetap untuk produk sawit . Hubungan baik antara petani dengan pemasok dan pembeli Threats Organisme Penggangu Tanaman (OPT) yang mengancam hasil sawit Upah tenaga kerja yang tinggi dan berdampak pada biaya Kondisi jalan yang buruk menghambat distribusi hasil sawit Kondisi iklim atau cuaca yang tidak mendukung pertumbuhan sawit Harga jual sawit yang tidak menentu Total Strategi Optimasi Produksi dan Diversifikasi Usaha untuk Mengatasi Fluktuasi Harga Penguatan kapasitas dan jejaring petani melalui pendekatan swadaya dan kolaboratif dengan mitra nonpemerintah Pengelolaan Distribusi Adaptif untuk Mengatasi Kendala Infrastruktur Sumber: Data diolah, 2025. Total Attractiveness Score Strategi 0,76 0,52 0,38 0,39 0,57 0,52 0,76 0,52 0,38 0,39 0,15 0,06 0,20 0,10 0,06 0,30 0,15 0,09 0,30 0,20 0,09 0,40 0,15 0,06 0,20 0,06 0,32 0,33 0,39 0,21 0,09 0,64 0,33 0,39 0,14 0,09 0,48 0,33 0,52 0,21 0,12 0,48 0,44 0,52 0,28 0,12 0,48 0,33 0,26 0,21 0,10 0,15 0,15 0,15 0,10 0,22 0,26 0,44 0,26 0,33 0,52 0,44 0,39 0,22 0,26 0,14 0,14 0,14 0,14 0,28 0,28 0,28 0,28 0,14 0,21 0,34 0,34 0,68 0,68 0,68 0,26 0,39 0,52 0,39 0,39 0,22 0,18 0,33 0,18 0,44 0,24 0,44 0,24 0,22 0,12 0,30 5,16 0,30 5,49 0,30 7,00 0,30 7,40 0,20 5,12 Penerapan Budidaya Terpadu untuk Mitigasi Organisme Penggangu Tanaan (OPT) Adaptasi Iklim melalui Pengelolaan Agroekosistem Berkelanjutan Strategi Budidaya Terpadu untuk Mitigasi Organisme Penggangu Tanaman (OPT) Strategi budidaya kelapa sawit terpadu untuk mitigasi Organisme Penggangu Tanaman (OPT) memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan metode pengendalian hayati, teknis, dan budaya. Berikut strategi terpadu berdasarkan penelitian dan praktik terkini. Early Warning System (EWS) Penerapan Early Warning System (EWS) dalam budidaya kelapa sawit merupakan salah satu pendekatan preventif yang bertujuan untuk mendeteksi dan merespons kemunculan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara dini. Sistem ini mengandalkan integrasi teknologi pemetaan Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 digital, sensor berbasis data spasial, dan analisis berbantuan perangkat lunak untuk memantau dinamika populasi hama, penyakit, serta keberadaan musuh alami secara real-time (Suryono. Melalui pemantauan yang presisi. EWS memungkinkan pelaku budidaya melakukan intervensi sebelum populasi OPT mencapai ambang ekonomi yang merugikan secara signifikan. Sebagai contoh, penerapan EWS dalam pemantauan Ulat Pemakan Daun Kelapa Sawit (UPDKS) telah terbukti mampu menurunkan tingkat kerusakan daun secara drastis di beberapa kawasan perkebunan (Haris et al. , 2. Salah satu teknologi pendukung EWS yang efektif adalah penggunaan perangkap feromon, seperti ethyl-4-methyloctanoate, yang digunakan untuk memantau dinamika populasi hama utama seperti Oryctes rhinoceros dan bagworm, sehingga pola serangan dapat dikenali dan ditindaklanjuti secara tepat waktu (Kamarudin et al. , 2. Pengendalian Hayati Pengendalian hayati merupakan strategi yang mengandalkan organisme hidup sebagai agen pengendali terhadap populasi organisme penggangu tanaman, sehingga mendukung sistem pertanian berkelanjutan yang minim residu kimia. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah introduksi predator alami. Misalnya, keberadaan Sycanus sp. , serangga predator yang efektif dalam memangsa UPDKS, terbukti berkontribusi terhadap pengendalian populasi hama tersebut secara signifikan. Di samping itu, penggunaan burung hantu (Tyto alb. sebagai predator alami tikus juga menjadi metode yang efisien dan ramah lingkungan dalam mengatasi gangguan hama vertebrata di perkebunan kelapa sawit (Fadilla et al. , 2022. Wibowo et al. , 2. Pendekatan hayati juga mencakup penggunaan mikroorganisme antagonis. Jamur entomopatogen Metarhizium sp. telah banyak diaplikasikan untuk menginfeksi dan menurunkan populasi kumbang tanduk (Oryctes rhinocero. , salah satu hama utama kelapa sawit. Sementara itu. Trichoderma sp. dikenal sebagai bio-fungisida yang efektif dalam menghambat perkembangan patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang, terutama yang disebabkan oleh Ganoderma sp. (Ikhsan et al. , 2019. Nasution et al. , 2. Strategi pengendalian hayati juga dapat diwujudkan melalui penanaman tanaman berguna yang berfungsi sebagai penarik musuh alami. Penanaman spesies seperti Cassia cobanensis dan Turnera subulata diketahui mampu menarik keberadaan predator alami ulat kantung . , sehingga secara tidak langsung menekan populasi hama tersebut melalui peningkatan aktivitas musuh alaminya di ekosistem perkebunan (Hutajulu et al. Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Manajemen Budidaya dan Teknis Manajemen budidaya dan teknis merupakan fondasi penting dalam pengelolaan kebun kelapa sawit yang berorientasi pada mitigasi organisme pengganggu tanaman penyakit secara Salah satu praktik dasar yang perlu diterapkan secara konsisten adalah sanitasi lahan, yang mencakup kegiatan pembersihan kebun dari sisa batang membusuk dan tandan buah tua. Material organik yang membusuk tersebut sering kali menjadi habitat ideal bagi perkembangan hama seperti kumbang tanduk (Oryctes rhinocero. , sehingga pembersihannya dapat secara efektif menekan sumber infestasi. Langkah lain yang mendukung adalah penerapan rotasi tanaman, terutama dengan penanaman tanaman sela non-inang seperti kacang-kacangan. Strategi ini bertujuan memutus siklus hidup OPT dengan menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi reproduksi dan penyebaran hama spesifik kelapa sawit (Hidayati, 2. Penerapan pemangkasan selektif pada bagian-bagian tanaman tertentu berperan dalam pengaturan struktur kanopi. Dengan mempertahankan bentuk tajuk tanaman yang optimal, kondisi mikroklima kebun dapat diatur agar tidak mendukung perkembangan hama, seperti suhu dan kelembapan yang tidak stabil bagi pertumbuhan larva atau jamur patogen (Hasibuan et al. , 2. Pengendalian Kimia Pengendalian kimia dalam budidaya kelapa sawit digunakan sebagai opsi terakhir ketika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi dan tidak lagi dapat dikendalikan melalui pendekatan preventif atau biologis. Penggunaan pestisida dilakukan secara selektif dan terbatas agar dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan manusia, dan musuh alami tetap minimal. Salah satu contoh pengendalian kimia yang ramah lingkungan adalah penggunaan insektisida berbasis Bacillus thuringiensis, yang efektif menekan populasi ulat api (Setothosea asign. tanpa mencemari lingkungan dan tidak membahayakan organisme non-target (Tarigan et al. , 2. Pendidikan dan Pelatihan Petani Pendidikan dan pelatihan petani memegang peranan penting dalam keberhasilan implementasi strategi pengendalian organisme penggangu tanaman secara terpadu pada budidaya kelapa sawit. Pelatihan rutin mengenai teknik Pengendalian Hama Terpadu (PHT), termasuk pengenalan musuh alami dan penggunaan alat sederhana seperti perangkap feromon untuk mengendalikan kumbang tanduk (Oryctes rhinocero. , meningkatkan kapasitas petani dalam deteksi dan respons dini terhadap serangan hama (Hidayati, 2. Studi kasus di Kalimantan Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 Timur menunjukkan bahwa pelatihan intensif kepada petani berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas kebun sebesar 4%, membuktikan pentingnya penguatan sumber daya manusia dalam mendukung budidaya berkelanjutan (Haris et al. , 2. Adaptasi Teknologi Modern Adaptasi teknologi modern dalam budidaya kelapa sawit menjadi komponen kunci dalam meningkatkan efektivitas pengendalian organisme pengganggu tanaman secara presisi. Pemanfaatan aplikasi digital berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) memungkinkan pemantauan OPT secara spasial dan real-time, sehingga mempercepat pengambilan keputusan berbasis data lapangan (Stefano, 2. Selain itu, penerapan bioteknologi melalui pengembangbiakan massal musuh alami juga menunjukkan hasil signifikan, seperti produksi Trichoderma sp. skala kebun yang didistribusikan secara rutin setiap bulan untuk menekan serangan penyakit tular tanah. Integrasi kedua pendekatan ini memperkuat ketahanan sistem budidaya sawit terhadap tekanan biotik secara efisien dan berkelanjutan (Day et al. , 2. Secara keseluruhan, strategi pengelolaan organisme pengganggu tanaman yang terintegrasi ini telah terbukti efektif dalam menurunkan serangan OPT sekaligus meningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit, sebagaimana dibuktikan dalam berbagai studi lapangan. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada integrasi sistem pemantauan dini berbasis EWS, keberagaman metode pengendalian yang diterapkan, serta partisipasi aktif petani dalam proses surveilans dan pengendalian OPT. Oleh karena itu, implementasi pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif ini menjadi kunci dalam mencapai keberlanjutan produksi kelapa sawit yang optimal. KESIMPULAN Konversi usahatani karet menjadi kelapa sawit melalui tumpang sari ubi kayu di Desa Kejadian terbukti layak dan menguntungkan secara finansial. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp264. 322,00 yang positif, tingkat Internal Rate of Return (IRR) sebesar 30,81% yang jauh melampaui tingkat diskonto 6%, serta nilai Gross Benefit-Cost Ratio sebesar 2,06 dan Net Benefit-Cost Ratio sebesar 4,33 yang keduanya lebih besar dari satu. Selain itu, periode pengembalian modal (Payback Perio. hanya 6,77 tahun dari umur proyek 25 tahun, yang menandakan risiko finansial yang rendah dan tingkat pengembalian investasi yang cepat. Sementara itu, hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan internal lebih dominan dibandingkan kelemahan, meskipun pada aspek eksternal, potensi ancaman lebih besar daripada Agroscience Vol 15 No. 1 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4661 e-ISSN: 2579-7891 peluang, sehingga posisi usaha berada pada Kuadran II. Berdasarkan hasil analisis QSPM, strategi utama yang direkomendasikan adalah penerapan sistem budidaya terpadu sebagai upaya mitigasi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Temuan ini memperkuat bahwa konversi dengan pendekatan tumpangsari bukan hanya secara teknis dapat dilaksanakan, tetapi juga memberikan prospek ekonomi yang kuat bagi petani. Finansial yang kuat dapat mendorong agar strategi yang direkomendasikan melalui analisis dapat diterapkan secara realistis dan berkelanjutan, khususnya sistem budidaya terpadu sebagai upaya mitigasi terhadap organisme pengganggu tanaman. DAFTAR PUSTAKA