Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted : 24/07/2025 Reviewed : 22/08/2025 Accepted : 30/09/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu DEKADENSI KEPEMIMPINAN DAN DISINTEGRASI TUBUH KRISTUS: ANALISIS TEOLOGI ETIS TERHADAP KRISIS MORALITAS GEREJA DI ERA KONTEMPORER Wahju Astjarjo RiniA* Sekolah Tinggi Teologi Ekumene. Jakarta. *)Email Correspondence: wahyuarini@sttekumene. Abstract: Church leadership today is facing a serious crisis due to the weakening of moral integrity and the increasing prevalence of ethical banality. Many cases show that authoritarian behaviour, abuse of power, desire for position and power, and immoral behaviour have created deep wounds in the faith community and damaged the integrity of the Body of Christ. This phenomenon is a strong indicator of the decline of leadership that no longer stands on biblical values and ethical theological principles that should be the foundation of Christian ministry. The disintegration of the church as a direct result of moral failure in leadership highlights the urgency of re-examining the relationship between Christian ethics and power structures within the church. This study aims to analyse theologically and ethically how leadership decadence contributes to church division in the contemporary era. Using a qualitative approach with a literature review method, it can be concluded that amoral and banal leadership in Christianity is the primary factor causing moral decadence, leading to the disintegration of the Body of Christ and a crisis of church morality. When leadership loses its spiritual dimension and ethical integrity, the church is no longer able to carry out its prophetic function in society. Therefore, leadership actualisation and reform strategies that emphasise moral education and accountability are needed as efforts to restore spiritual authority and church unity Keywords: Leadership Decline. Body Of Christ. Moral Crisis. Ethical Theology Abstraksi: Kepemimpinan gereja masa kini sedang menghadapi krisis yang serius akibat melemahnya integritas moral dan banalitas etis yang semakin mengemuka. Banyak kasus menunjukkan bahwa perilaku otoriter, penyalahgunaan kuasa, keinginan pada jabatan dan kuasa serta perilaku amoral telah menciptakan luka mendalam dalam komunitas iman dan merusak keutuhan Tubuh Kristus. Fenomena ini menjadi indikator kuat dari dekadensi kepemimpinan yang tidak lagi berpijak pada nilai-nilai alkitabiah dan prinsip teologi etis yang seharusnya menjadi fondasi pelayanan Kristen. Disintegrasi gereja sebagai dampak langsung dari kegagalan moral kepemimpinan menunjukkan urgensi untuk mengkaji kembali relasi antara etika Kristen dan struktur kekuasaan dalam tubuh gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara teologis dan etis bagaimana dekadensi kepemimpinan berkontribusi terhadap perpecahan gereja di era kontemporer. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa Amoralitas dan banalitas dalam kepemimpinan Kristen menjadi faktor utama penyebab dekadensi moral yang berujung pada disintegrasi Tubuh Kristus dan krisis moralitas gereja. Ketika kepemimpinan kehilangan dimensi spiritual dan integritas etisnya, gereja tidak lagi mampu menjalankan fungsi profetisnya dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan aktualisasi dan strategi reformasi kepemimpinan yang menekankan pendidikan moral dan akuntabilitas sebagai upaya pemulihan otoritas rohani dan kesatuan gereja. Kata kunci: Dekadensi Kepemimpinan. Tubuh Kristus. Krisis Moralitas. Teologi Etis. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 213 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Kepemimpinan Kristen memiliki mandat spiritual yang luhur, yakni kepemimpinannya serta mengarahkan umat kepada kebenaran Injil dan Allah. Sebab kepemimpinan Kristen ini merupakan bentuk kepemimpinan yang berakar pada teladan pelayanan Yesus Kristus, yang membedakannya dari kepemimpinan sekuler yang bersifat duniawi. Meskipun keduanya memiliki beberapa prinsip yang serupa, kepemimpinan Kristen memiliki karakteristik khusus yang perlu diwujudkan dalam praktik kehidupan Sebab seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar untuk mencapai tujuan bersama bukan demi kepentingan pribadi. 2 Maka itu Kristen berlandaskan pada Alkitab sebagai standar kebenaran yang utama. Seorang pemimpin perlu memahami bahwa sumber dan asal mula otoritas kepemimpinan berasal dari Allah yang Allah sendirilah yang menetapkan dan memanggil seorang pemimpin untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Oleh karena itu, kepemimpinan Kristen dituntut untuk mampu merespons secara bijak berbagai persoalan dan tantangan yang muncul di setiap zaman. 3 Namun, dalam kenyataan gereja masa kini, panggilan tersebut Diany Rita P. Saragih. AuImplementasi Kepemimpinan Kristen,Ay Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik Dan Agama 2, no. https://doi. org/10. 36972/jvow. Berlina Lumban Gaol. AuGaya Kepemimpinan Otoriter Dan Kepemimpinan Kristen Terhadap Kariawan,Ay FILADELFIA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 3, no. : 301Ae20, https://doi. org/10. 55772/filadelfia. Sunarto. AuKepemimpinan Menurut Alkitab Dan Penerapannya Dalam Kepemimpinan Lembaga Kristen,Ay TE DEUM (Jurnal Teologi Dan Pengembangan Pelayana. 5, no. : 95Ae116, https://doi. org/10. 51828/td. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menghadapi tantangan serius akibat gejala dekadensi moral dalam tubuh kepemimpinan gereja. Dekadensi ini pelanggaran etika yang menimbulkan skandal publik. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi garam dan terang justru berpotensi menjadi batu sandungan bagi umat, dan ini berdampak sistemik terhadap identitas dan misi gereja. Seorang pemimpin diharapkan mampu menjalankan peran yang bermanfaat, baik bagi sesama manusia maupun dalam ketaatannya kepada Tuhan. 4 Bila melihat fenomena krisis kepemimpinan gereja tidak hanya bersifat individual, tetapi telah merambah ke ranah Tubuh Kristus. Seperti kasus yang baru ini terdengar bahwa seorang pemimpin jemaat di kota Blitar harus berhubungan dengan hukum terkait dugaan asusila pencabulan anak. 5 Dekadensi amoral juga terjadi di Kota Riau, seorang pendeta harus ditangkap pihak berwajib dalam kasus asusila. 6 Kasus rebutan pelayanan ini miris menambah daftar banalitas kepemimpinan yang terjadi dimana ada peristiwa perebutan mimbar gereja merupakan kejadian yang sangat Sisga Desriman Zebua. Yubilate Chriswell Zebua, and Ibelala Gea. AuReformulasi Karakter Kepemimpinan Kristen Masa Kini Berdasarkan Kepemimpinan Daud,Ay Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik 9, no. : 01-12, https://doi. org/10. 58374/sepakat. Izzatun Najibah and Icha Rastika. AuPendeta Di Blitar Pelaku Pencabulan Anak Ditahan Di Rutan Polda Jatim,Ay Kompas. https://surabaya. com/read/2025/07/16/16 3648578/pendeta-di-blitar-pelaku-pencabulananak-ditahan-di-rutan-polda-jatim. Idon Tanjung and Reni Susanti. AuLakukan Pelecehan Seksual Anak Jemaat. Pendeta Di Riau Ditangkap,Ay Kompas. https://regional. com/read/2024/09/12/21 5915878/lakukan-pelecehan-seksual-anakjemaat-pendeta-di-riau-ditangkap. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 214 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf memprihatinkan dan memalukan, serta menjadi tamparan keras bagi komunitas Kejadian semacam ini seharusnya tidak terjadi dalam ruang ibadah, karena bagaimanapun beratnya persoalan yang dihadapi gereja, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan secara nalar sehat dan tidak mencerminkan etika kepemimpinan rohani yang sejati. Disintegrasi ini bisa merusak integritas dan membawa dampak hilangnya kepercayaan publik terhadap gereja, meningkatnya eksodus umat, dan lemahnya kesaksian gereja di tengah Media digital memperparah pelanggaran moral oleh tokoh-tokoh gereja, sehingga luka yang dihasilkan menjadi lebih terbuka dan dalam. Sementara itu, banalitas dalam dikaburkan oleh egois dan popularitas telah mengikis semangat pengabdian yang seharusnya bersumber dari ketaatan kepada Kristus. Hal ini menimbulkan pertanyaan teologis yang serius: bagaimana gereja dapat tetap menjadi tubuh Kristus yang kudus dan tidak bercacat bila pemimpinnya terjebak dalam krisis moral dan spiritual yang kronis? Berkaitan dengan kajian ini pernah diteliti oleh Daniel Pesah Purwonugroho dalam penelitiannya membahas integritas dan moralitas merupakan dua pilar utama yang harus dimiliki pemimpin Kristen dalam menghadapi era post-truth, karena keduanya saling menopang dalam menyampaikan kebenaran Firman Tuhan secara autentik. 8 Keduanya harus dibangun secara sistematis melalui Yupiter Gulo. AuPendeta Berebut Mimbar Gereja. Memalukan Dan Memprihatinkan,Ay Kompasiana. Com, 2019, https://w. com/yupiter/5d2181d9 0d82303be968ee74/pendeta-berebut-mimbargereja-memalukan-dan-memprihatinkan. Daniel Pesah Purwonugroho. AuMembangun Integritas Dan Moralitas: Fondasi Kepemimpinan Kristen Menghadapi Era PostTruth,Ay Philoxenia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 29Ae45. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 pendidikan karakter berbasis Alkitab, meneladani kehidupan Yesus Kristus sebagai model kepemimpinan yang berintegritas dan bermoral tinggi. Dengan fondasi spiritual yang kuat, pemimpin Kristen mampu membimbing umat untuk tetap berpegang pada kebenaran di tengah derasnya arus Penelitian lain yang dinyatakan oleh Yonatan Alex Arifianto penelitiannya mengungkapkan bahwa menyimpang dalam kepemimpinan Kristen tercermin ketika kejahatan dianggap wajar dan kehilangan dimensi etis serta tanggung jawab spiritual, kepemimpinan Ahab dan Izebel yang dipenuhi ketamakan, manipulasi, dan penyalahgunaan kuasa. 10 Fenomena ini muncul akibat lemahnya pendidikan moral, minimnya spiritualitas, dan nilai-nilai Alkitabiah sebagai fondasi etis dalam Untuk mencegah banalitas semacam ini, diperlukan penguatan iman, pendidikan karakter berbasis Alkitab, dan kehidupan rohani yang intim dengan Tuhan sebagai sumber moralitas sejati dalam kepemimpinan. Dalam kerangka teologi etis, krisis ini perlu dianalisis melalui pemahaman kepemimpinan Kristen yang berbasis pada integritas, dan kesetiaan kepada ajaran Kristus. Berdasarkan latar belakang masalah, fenomena dan penelitian terdahulu masih ada celah yang menjadi kebaharuan penelitian ini. Artikel ini menawarkan kebaruan dengan mengangkat keterkaitan antara dekadensi kepemimpinan Kristen dan disintegrasi Tubuh Kristus sebagai akar Purwonugroho. Yonatan Alex Arifianto. AuMereduksi Banalitas Moral Dan Karakter Pemimpin Kristen: Studi Kepemimpinan Ahab Dalam 1 Raja-Raja 21,Ay DIDASKO: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 3, no. : 96Ae106, https://doi. org/10. 52879/didasko. Arifianto. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 215 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kontemporer, sebuah pendekatan yang jarang dikaji secara simultan dalam kajian teologi etis. Dengan memadukan analisis etika teologis dan fenomena sosial gerejawi masa kini, tulisan ini menyajikan perspektif baru tentang kepemimpinan demi keutuhan dan kesaksian gereja di tengah dunia posttruth. Di sinilah etika teologis perlu berperan sebagai koreksi dan pencerah bagi praktik kepemimpinan yang telah menyimpang dari panggilan Ilahi. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan naratif dari studi pustaka . ibrary researc. sebagai kerangka utama dalam menganalisis krisis moralitas gereja melalui perspektif teologi etis. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari literatur teologis kontemporer, artikel jurnal ilmiah bereputasi, dokumen gerejawi. Alkitab, serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan isu dekadensi kepemimpinan dan disintegrasi tubuh Kristus. Langkahlangkah yang dilakukan meliputi, identifikasi dan pengumpulan sumbersumber teologi etis serta kajian tentang krisis moral pemimpin gerejawi. Dengan mengidentifikasi gejala amoralitas dan banalitas dalam kepemimpinan Kristen sebagai penyebab utama dekadensi moral yang berdampak pada disintegrasi Tubuh Kristus. Selanjutnya, dilakukan analisis teologi etis terhadap krisis moralitas gereja melalui studi literatur, telaah teks Alkitabiah, dan kajian Langkah terakhir adalah Kristen pendekatan pendidikan moral dan penguatan akuntabilitas gerejawi sebagai solusi teologis yang aplikatif. HASIL Hasil penelitian ini menunjukkan P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kepemimpinan Kristen pada kontemporer merupakan akibat langsung dari kombinasi sikap amoral dan banalitas kejahatan yang merusak integritas rohani pemimpin gereja serta mencederai kesaksian gereja sebagai Kristus. Fenomena mengakibatkan disintegrasi spiritual dan etis dalam komunitas gereja yang ditandai dengan krisis kepercayaan, konflik internal, dan melemahnya kesaksian di hadapan dunia. Studi ini menemukan bahwa akar persoalan pembinaan karakter rohani, dominasi nilai-nilai duniawi, serta minimnya sistem akuntabilitas dan pendidikan moral yang berbasis Alkitab. Oleh karena itu, aktualisasi dan reformasi kepemimpinan Kristen harus dimulai dari pemulihan spiritualitas, penguatan identitas panggilan ilahi, serta penerapan Reformasi ini menuntut gereja untuk mengembangkan model kepemimpinan yang berakar pada kasih karunia, integritas, dan tanggung jawab moral, serta mampu menjadi teladan hidup dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, gereja dapat kembali memainkan perannya sebagai agen transformasi moral dan spiritual yang relevan di tengah dunia yang sarat krisis PEMBAHASAN Amoral Banalitas Kepemimpinan Kristen Penyebab Dekadensi Moral Kepemimpinan Kristen idealnya merepresentasikan nilai-nilai moralitas, integritas, dan spiritualitas yang bersumber dari firman Tuhan. Sebab ini menyangkut nilai dari seseorang pemimpin yang harus memiliki integritas sebagai seorang pelayan. 12 Karena yang Diany Rita P. Saragih. AuImplementasi Gaya Pemimpin Rohani Pada Generasi Digital,Ay Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik Dan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 216 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf diharapakan dari kepemimpinan adalah berfokus pada hal yang utama yaitu melayani terlebih dahulu (Auservant firstA. barulah memimpin. 13 Hal itu mengaktualisasi peran pemimpin Kristen yang berintegritas dalam kehidupan bergereja ataupun bermasyarakat. Namun dalam konteks kontemporer, tidak sedikit pemimpin Kristen yang justru terjebak dalam praktik amoral dan banalitas yang secara perlahan namun pasti menyebabkan dekadensi moral dalam tubuh gereja. Terlebih degradasi moral pemimpin Kristen menampar pelayan Tuhan sebagai gembala dalam tugas pastoral. Memang tidak dipungkiri asusila dan amoral sering menjadi headline portal berita nasional. 15 Istilah amoral mengacu pada sikap dan tindakan yang tidak mempertimbangkan nilai moral sama sekali, bukan hanya eksistensi norma etis sebagai pedoman Kepemimpinan yang bersifat amoral berpotensi lemahnya keteladanan moral dari pemimpin, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya defisit moral di kalangan yang dipimpinnya. Ketika sikap amoral melekat dalam tindakan, bahkan strategi pelayanan yang dilakukan tidak lagi berpijak pada kebenaran firman, melainkan pada Agama 2, no. : 85Ae100, https://doi. org/10. 36972/jvow. Robert K Greenleaf. Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness (Paulist press. Yonatan Alex Arifianto. AuGembala Dan Keteladanannya: Menepis Kritikan Isu Degradasi Moral Pemimpin Kristen,Ay EUANGGELION: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 4, no. 1 (July 26, 2. : 50Ae https://doi. org/10. 61390/euanggelion. Arifianto. Muhammad Rasyid Abdillah et al. AuKnowledge Sabotage Behavior: Examining Detrimental Dual-Mechanism of Amoral Leadership,Ay Journal of Leadership and Organizational Studies 31, no. : 382Ae97, https://doi. org/10. 1177/15480518241288679. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 ambisi, kekuasaan, atau kepentingan pribadinya yang egois. Konsep banalitas kejahatan yang diperkenalkan oleh Hannah Arendt menggambarkan fenomena di mana kejahatan menjadi hal biasa, wajar, bahkan diterima tanpa pertimbangan etis Bahkan melakukan tindakan keji bukan karena kedengkian tetapi melalui kepatuhan tanpa berpikir terhadap otoritas dan norma-norma sistemik. 17 Dalam konteks penelitian ini yaitu kepemimpinan Kristen, banalitas moral muncul ketika nilai-nilai penyalahgunaan kuasa, ketamakan, atau ketidakjujuran, dianggap sebagai bagian dari Aurealitas pelayananAy yang harus Eko Sugiyarto Mengungkapkan satu makna penting bahwa banalitas spiritual di antara para pemimpin Kristen sering dikaitkan dengan penurunan kualitas spiritual, yang penting untuk memenuhi esensi kepemimpinan Kristen. Penurunan ini dikaitkan dengan pengaruh prinsipprinsip dan filsafat duniawi, yang mengarah pada kehidupan spiritual yang dangkal yang gagal memenuhi standar 18 Sehingga kejahatan tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap Allah dan sesama, melainkan disamarkan dengan alasan pragmatis atau budaya organisasi pelayanan, maka gereja telah memasuki wilayah bahaya dekadensi moral. Seperti pada kasus pelecehan seksual di kalangan pemimpin evangelis merupakan salah satu bentuk nyata dari kegagalan moral, yang kerap berkaitan dengan ketimpangan relasi Perilaku tersebut sering Yi Qie. AuAoThe Banality of EvilAo and Modern Education,Ay Journal of Education. Humanities and Social Sciences 32 . : 185Ae 89, https://doi. org/10. 54097/5jj00970. Eko Sugiyarto and Carolina Etnasari Anjaya. AuBanalitas Spiritual Pemimpin Kristiani Dalam Kajian Teologis Maleakhi 1: 6-14. 2: 19,Ay JURNAL TERUNA BHAKTI 5, no. 274Ae86. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 217 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kali diperparah oleh penafsiran alkitab yang keliru serta kecenderungan untuk membenarkan diri sendiri. 19 Oleh karena itu, diperlukan pemulihan mendasar dalam kepemimpinan Kristen melalui Alkitab yang bertanggung jawab, serta penerapan sistem akuntabilitas yang kuat guna mencegah banalitas moral dan menjaga integritas pelayanan di tengah tantangan era kontemporer. Kombinasi antara sikap amoral dan banalitas dalam kepemimpinan membentuk kultur spiritual yang korosif dan berdampak negatif. Pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru kehilangan otoritas dan orientasi etis karena integritasnya diragukan. Maka itu pemimpin gereja memegang peran krusial dalam membimbing jemaat serta memberikan respons yang tepat dan relevan terhadap berbagai persoalan dan isu yang dihadapi oleh umat dan Supaya menyebabkan krisis kepercayaan dari umat dan munculnya sikap skeptis Lebih jauh lagi, dekadensi moral pada pemimpin rohani tidak hanya menghancurkan reputasi pribadi, tetapi berdampak pada disintegrasi tubuh Kristus, yakni perpecahan, sehingga membangun konflik internal, gereja dan orang percaya kehilangan arah misi, dan runtuhnya kesaksian gereja di tengah Penyebab dari fenomena ini pembinaan karakter selama masa lingkungan pelayanan yang permisif. Ian Hussey. AuSexual Misconduct amongst Evangelical Leaders: A Practical Theological Reflection,Ay Practical Theology 16, 5 . : 655Ae68, https://doi. org/10. 1080/1756073X. Nova Ritonga. AuPeran Pemimpin Gereja Dan Etika Kristen Dalam Menyikapi Isu Kontemporer Di Era Revolusi Industri 4. 0,Ay EUANGGELION: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 2024, https://doi. org/10. 61390/euanggelion. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kurangnya pengawasan atau sistem akuntabilitas dalam gereja, hingga adanya kompromi terhadap nilai-nilai duniawi seperti popularitas, kekuasaan, dan kekayaan. Sehingga kepemimpinan Kristen sedang mengalami degradasi moral dan iman. 21 Dalam kerangka teologis, amoralitas dan banalitas dalam penyimpangan dari panggilan kudus sebagai wakil Allah di tengah umat. kepemimpinan yang berintegritas. Namun para pemimpin yang egois Dan mengindahkan prinsip-prinsip etika Kristen adalah bentuk pemberontakan terhadap kehendak Allah. Oleh karena itu, gereja perlu menyadari bahwa pemulihan kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pelatihan teknis atau strategi manajerial, tetapi harus dimulai dengan pertobatan dan nilai-nilai spiritualitas yang berakar dalam alkitab. Sehingga kepemimpinan efektif sesuai nilai-nilai kebenaran firman Tuhan akan mengharumkan nama Allah,24 dan Yunardi Kristian Zega et al. AuMentransformasi Generasi Kepemimpinan Kristen Berlandaskan Teori Perkembangan Iman Karya James W. Fowler,Ay Jurnal Shanan, 2023, https://doi. org/10. 33541/shanan. Tri Astuti Yeniretnowati and Yakub Hendrawan Perangin Angin. AuImplikasi Dari Kepemimpinan Yang Berintegritas Bagi Pendidikan Pemimpin Kristen,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kriste. , 2022, https://doi. org/10. 59177/veritas. Yusak Kurniawan Gulo and Melianus Hura. AuIntegritas Kepemimpinan Yosua Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Umat Tuhan Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Injili 3, no. : 94Ae 112, https://doi. org/10. 55626/jti. Yakub Hendrawan Perangin Angin and Tri Astuti Yeniretnowati. AuKepemimpinan Yang Finishing Well: Kiat-Kiat Sukses Kepemimpinan Jonathan Parapak,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 78Ae96. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 218 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf berdampak menjadi terang dan garam Disintergrasi Tubuh Kristus dan Krisis Fenomena disintegrasi dalam tubuh Kristus menunjukkan pecahnya kesatuan dan hilangnya kekompakan dan kesatuan internal di dalam komunitas gereja, baik secara spiritual, etis, maupun sosial. Ini mengakibatkan jatuhnya Kekristenan dan kebangkitan budaya sekuler telah menyebabkan perubahan signifikan dalam kerangka moral dan etika. 25 Maka itu yang diharapkan adalah pemimpin Kristen sebagai garda terdepan mempersiapkan pribadinya dan umat Allah menjadi pribadi yang tetap menjunjung nilai-nilai moral, sosial maupun spiritual. Sehingga menimbulkan keretakan yang serius Di mana krisis moralitas dalam gereja saat ini ditandai oleh berbagai bentuk penyimpangan etis, ketamakan, penyalahgunaan jabatan, perpecahan internal, bahkan skandal pelecehan seksual. Kejatuhan moral ini tidak hanya merusak citra pribadi pelaku, tetapi juga menciderai kesaksian gereja sebagai tubuh Kristus di hadapan Ketika para pemimpin yang seharusnya menjadi teladan hidup benar dan kudus justru menjadi pusat kontroversi dan skandal, umat menjadi kehilangan arah dan kepercayaan terhadap institusi gereja. Dalam Alkitab, bila melihat terkait disintegrasi tubuh Kristus akibat krisis moralitas dapat ditemukan dalam kisah bangsa Israel pada masa Tristram Engelhardt Jr. AuLiving in the Ruins of Christendom,Ay Revista Bioethikos 8, 2 . : 199Ae212, https://doi. org/10. 15343/19818254. Yakobus Adi Saingo. AuEra Disrupsi Teknologi Dan Sikap Pemimpin Kristen,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 4, no. : 76Ae94. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kepemimpinan imam Eli . Sam 2:1. Anak-anak Eli, yakni Hofni dan Pinehas, yang seharusnya menjalankan tugas sebagai imam, justru bertindak Mereka memperlakukan korban persembahan dengan semena-mena,27 dan melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang melayani di pintu Kemah Pertemuan . Sam 2:. Tindakan amoral mereka menimbulkan kemarahan Allah, sebab mereka menyalahgunakan posisi rohani untuk kepentingan pribadi, mencemarkan ibadah, dan merusak kepercayaan umat terhadap sistem Bahkan. Allah secara tegas menyatakan bahwa karena dosa mereka, rumah Eli tidak akan lagi memiliki kedudukan imam selamanya . Sam 2:30-. Kisah ini menunjukkan kepemimpinan rohani dapat membawa dampak destruktif yang luas, bahkan memutus keberlanjutan otoritas rohani dalam garis keturunan tertentu. Akibat dari perbuatan Hofni dan Pinehas, bangsa Israel mengalami kekalahan perang. Tabut Allah dirampas, dan mereka sendiri mati terbunuh di medan pertempuran . Sam . Di titik ini, tampak jelas bahwa kejatuhan moral satu bagian dari tubuh rohani berdampak langsung terhadap seluruh komunitas umat Allah. Terlebih kehidupan yang dijalani tidak secara benar maka akan menjadi batu sandungan bagi jemaat, merusak pekerjaan Tuhan. Disintegrasi tubuh Kristus juga dapat terjadi ketika konflik internal, diselesaikan secara alkitabiah. Rasul Fridianus Kurniadi Saragih. AuKejahatan Anak-Anak Imam Eli Terhadap Pola Asuh Anak-Anak Pendeta,Ay MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Gereja, 2023, https://doi. org/10. 62240/msj. Maria Hanie Endojowatiningsih. AuAnak-Anak Imam Eli (I Samuel 2-. Dan Refleksinya Bagi Anak-Anak Hamba Tuhan,Ay Missio Ecclesiae 11, no. 1 (April 2. : 37Ae50, https://doi. org/10. 52157/me. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 219 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Paulus dalam 1 Korintus 1:10-13 mengingatkan jemaat agar tidak terjadi perpecahan dan mengajak mereka untuk bersatu dalam satu pikiran dan satu tujuan di dalam Kristus. Paulus menegur jemaat Korintus yang terpecah menjadi kelompok-kelompok yang mengklaim mengikuti Paulus. Apolos. Kefas, atau Kristus, yang menunjukkan bahwa ego sektarian dan kebanggaan rohani dapat menjadi bibit disintegrasi gereja. Oleh karena itu bersinergi adalah menjadi kawan sekerja Allah yang terus melatih kehendak bebasnya sesuai dengan kehendak Allah sehingga tidak mudah tergoda oleh kejahatan dosa. Mengingat Allah secara dinamis menghasilkan persatuan dengan Allah dan memberi pelayanan terbaik kepada sesama seperti Kristus melayani. 29 Namun ketika identitas tubuh Kristus digantikan oleh pandangan teologis sempit, maka kesatuan dalam kasih dan kebenaran mulai runtuh. Krisis moral juga sering dipicu oleh absennya pemuridan, pengajaran yang sehat dan pendidikan karakter yang berakar dalam firman Tuhan. Ketika gereja lebih menekankan pertumbuhan institusi secara kuantitatif dibandingkan pembentukan spiritual secara mendalam, maka kualitas iman umat rentan terhadap pengaruh duniawi yang merusak. Oleh karena itu ketahanan gereja dalam menghadapi krisis moral bertumpu pada landasan moral dan teologis bahwa martabat manusia telah dipulihkan melalui karya penyelamatan Kristus. Ketahanan tersebut tercermin dalam pengembangan kehidupan yang berakar pada kasih karunia dan iman, yang senantiasa diperbaharui di dalam Yesus Kristus. 30 Sebab kekristenan dipanggil untuk menjalani kehidupan yang etis dengan menolak keinginan duniawi, menentang segala bentuk kejahatan, dan berkomitmen pada perbuatan baik. Pola hidup ini berakar pada ajaran Alkitab dan memainkan peran penting dalam memelihara keharmonisan sosial. 31 Bila tidak terlaksana maka akan menciptakan komunitas gereja yang lemah dalam integritas, mudah terprovokasi oleh isu, dan tidak memiliki daya tahan moral dalam menghadapi godaan zaman. Maka tidak heran jika disintegrasi tubuh Kristus menjadi konsekuensi logis dari krisis moral yang tidak ditangani secara Untuk mengatasi persoalan ini, gereja harus kembali kepada prinsipprinsip dasar tubuh Kristus seperti yang diajarkan dalam Alkitab, yakni saling mengasihi (Yoh 13:34-. , saling menegur dalam kasih (Gal 6:. , dan hidup dalam kekudusan . Pet 1:15-. Selain itu, gereja harus memperkuat sistem akuntabilitas dan memperbaharui komitmen terhadap kehidupan rohani yang otentik, baik pada level pemimpin maupun jemaat. Pendidikan moral berbasis Alkitab, pemuridan yang konsisten, dan pembinaan karakter yang utuh adalah langkah-langkah strategis yang harus diupayakan agar kesatuan tubuh Kristus tetap terjaga dan kesaksian gereja tidak menjadi batu sandungan. Dengan demikian, disintegrasi tubuh Kristus dan krisis moralitas bukan hanya merupakan masalah sosial internal gereja, melainkan isu teologis yang mengancam keberadaan dan misi gereja di dunia. Gereja yang sehat adalah gereja yang menjaga kemurnian moral, memelihara kesatuan tubuh Kristus, dan terus hidup dalam terang firman Tuhan yang menjadi dasar iman dan Desti Ratna Sari Halawa. AuSinergi Pelayan Dan Jemaat Tuhan Menurut 1 Korintus 3:4-9,Ay CARAKA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika 2, no. : 44Ae60, https://doi. org/10. 46348/car. Ante Bekavac. AuChurch Resilience in Times of Crisis,Ay Ephemerides Theologicae Zagrabienses 93, no. : 509Ae31, https://doi. org/10. 53745/bs. Riste Tioma Silaen. AuPenerapan Nilai-Nilai Etika Dan Moral Dalam Konteks Cara Hidup Orang Kristen Berdasarkan 1 Petrus 2:11-12,Ay Manna Rafflesia 10, no. 309Ae21, https://doi. org/10. 38091/man_raf. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 220 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Aktualisasi dan Strategi Reformasi Kepemimpinan dalam Pendidikan Moral dan Akuntabilitas Gereja Di tengah krisis moral yang melanda berbagai lapisan masyarakat, gereja sebagai komunitas iman memiliki tanggung jawab fundamental dalam memperbarui peran kepemimpinannya. Sebab seorang pemimpin Kristen yang tidak memiliki karakteristik spiritualitas akan terjebak pada sifat keduniawian. Dan tentunya seorang pemimpin sangat Sehingga aktualisasi dan reformasi kepemimpinan gereja bukan hanya menjadi kebutuhan internal, tetapi juga menjadi panggilan gereja untuk menghadirkan terang dan garam bagi dunia. Reformasi ini menuntut kepemimpinan yang berakar kuat pada spiritualitas, dan tanggung jawab moral, serta mampu menjalankan akuntabilitas dalam setiap aspek pelayanan dengan capaiannya adalah Kristen berdasarkan nilai-nilai Kristen. 34 Yang mana akan melahirkan pendidikan moral membentuk karakter kepemimpinan yang bukan hanya kompeten secara teologis, tetapi juga tangguh secara etis. Aktualisasi kepemimpinan dalam konteks gereja dimulai dari kesadaran akan identitas panggilan ilahi, yaitu menjadi pelayan Kristus yang hidup dalam kebenaran dan kasih. Ini menjadi tanggungjawab moral yang menjadi Gordon Simaremare. AuKarakteristik Pemimpin Kristen Menurut Kitab 2 Timotius Dan Relevansinya Bagi Pelayan Generasi Milenial,Ay Angelion: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 36Ae52. Gaol. AuGaya Kepemimpinan Otoriter Dan Kepemimpinan Kristen Terhadap Kariawan. Ay Julianus Julianus et al. AuKepemimpinan Keluarga Sebagai Wadah Dalam Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan Berdasarkan Nilai-Nilai Kristen,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 31Ae45, https://doi. org/10. 47530/edulead. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 pertimbangan dan keputusan etis, bagi setiap hamba Tuhan sebagai orang yang menerima panggilan Tuhan untuk menjadi alatNya. 35 Maka kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan atau otoritas keteladanan hidup yang menampakkan buah-buah Roh Kudus. Dalam penelitian ini, pemimpin gereja harus mampu menjadi pendidik moral, yakni sosok yang tidak hanya mengajar melalui katakata, tetapi membentuk melalui teladan Sebab pemimpin Kristen mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik, lebih berfaidah bagi Allah dan sesamanya, karena pemimpin Kristen adalah agen perubahan di era Melenial 36 Oleh karena itu, pendidikan moral bukan sekadar kurikulum pelengkap, tetapi menjadi inti dalam proses formasi kepemimpinan gereja yang visioner, pembaruan masyarakat. Strategi reformasi kepemimpinan gereja menuntut pendekatan yang Pertama, pembinaan kepemimpinan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan teologi yang berintegritas, pembinaan spiritual yang konsisten, dan pengembangan kapasitas pelayanan. Kedua, gereja perlu membangun sistem akuntabilitas yang transparan, baik dalam aspek keuangan. Ketiga, keterlibatan umat menjadi bagian penting dalam proses reformasi ini, sebab gereja bukan hanya milik pemimpin, tetapi komunitas orang percaya yang berjalan bersama dalam misi Allah. Selain itu, reformasi Maria Magdalena Swantina and Nicolien Meggy Sumakul. AuImplementasi Etika Kristen Sebagai Tanggung Jawab Moral Hamba Tuhan Dalam Pelayanan Dan Kehidupan Sosial,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 5, no. : 212Ae28, https://doi. org/10. 47167/kharis. Suhadi Suhadi and Yonatan Alex Arifianto. AuPemimpin Kristen Sebagai Agen Perubahan Di Era Milenial,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 1, no. : 129Ae47, https://doi. org/10. 47530/edulead. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 221 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kepemimpinan gereja harus peka terhadap konteks zaman. Tantangan era digital, post-truth, dan budaya instan menuntut kepemimpinan gereja untuk mampu berdialog dengan realitas kontemporer tanpa kehilangan pijakan Oleh karena itu, aktualisasi kepemimpinan yang relevan harus disertai dengan keberanian untuk berinovasi dalam metode pendidikan moral, termasuk melalui media digital, komunitas belajar, serta pelayanan kontekstual yang menyentuh kehidupan sehari-hari umat. Pada akhirnya, aktualisasi dan strategi reformasi kepemimpinan dalam pendidikan moral dan akuntabilitas gereja merupakan terus-menerus. Tujuannya adalah menghadirkan gereja yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga tangguh secara spiritual dan Gereja yang demikian akan mampu menjadi agen pembaruan moral di tengah dunia yang rapuh, serta memancarkan kesaksian hidup yang otentik sebagai tubuh Kristus di dunia. KESIMPULAN Kepemimpinan Kristen yang ideal seharusnya mencerminkan integritas, moralitas, dan spiritualitas yang berakar pada kebenaran Firman Tuhan. Namun kepemimpinan rohani justru banyak tercemar oleh praktik amoral dan banalitas yang mengikis integritas moral gereja secara perlahan namun sistemik. Fenomena ini melahirkan dekadensi moral dan disintegrasi tubuh Kristus, ditandai dengan krisis kepercayaan, konflik internal, serta runtuhnya kesaksian gereja di hadapan dunia. Penyebab utama dari krisis ini adalah lemahnya formasi karakter spiritual, kompromi terhadap nilai duniawi, serta minimnya sistem akuntabilitas yang Dalam kerangka teologis, amoralitas dan banalitas kepemimpinan merupakan bentuk penyimpangan dari P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Allah. Oleh karena itu, pemulihan kepemimpinan Kristen harus dimulai dari pertobatan mendalam, pemurnian spiritual, serta peneguhan nilai-nilai etika Kristen yang murni. Aktualisasi dan reformasi kepemimpinan Kristen menjadi kunci utama dalam membentuk gereja yang tahan terhadap krisis moral dan tetap relevan di tengah tantangan Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui pendidikan moral yang berbasis Alkitab, pemuridan yang konsisten, keteladanan hidup pemimpin, serta penerapan sistem akuntabilitas yang Gereja harus menyadari bahwa transformasi kepemimpinan tidak hanya soal kapasitas manajerial, tetapi yang terutama adalah karakter spiritual dan tanggung jawab etis yang mewujud dalam pelayanan sehari-hari. Ketika gereja mampu mencetak pemimpin yang tangguh secara spiritual, etis, dan teologis, maka gereja akan menjadi terang dan garam bagi dunia, serta pembaruan moral dan penjaga kesatuan tubuh Kristus yang otentik dan DAFTAR PUSTAKA