Copyright: : 2807-9280 @ ISSN Penyami et al https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK STUDI KASUS: IMPLEMENTASI MANAJEMEN JALAN NAPAS PADA ANAK DENGAN PNEUMONIA Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 1,2,3,4,5,6 Poltekkes Kemenkes Semarang *e-mail korespondensi : yuniske. polkesmar@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Sebanyak 14% kematian anak di bawah 5 tahun disebabkan oleh pneumonia dengan total kematian mencapai 740. 180 jiwa. Berdasarkan data rekam medis RSUD Bendan Kota Pekalongan ditemukan tren kasus pneumonia pada anak meningkat 102 kasus pada 2021 menjadi 202 kasus pada tahun 2023. Sesak napas dan batuk karena terjadi penumpukan sekret di jalan napas sering menjadi keluhan utama pada anak dengan pneumonia. Implementasi keperawatan utama yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas maupun pola napas pada anak akibat pneumonia yaitu manajemen jalan napas. Metode: Rancangan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan jenis studi kasus. Tujuan untuk menggambarkan implementasi beberapa tindakan manajemen jalan napas pada anak dengan pneumonia. Responden terdiri dari 6 pasien anak di bawah 5 tahun dan mengalami masalah bersihan jalan napas maupun pola napas tidak efektif. Manajemen jalan napas dilakukan selama 3 hari. Hasil : Jenis tindakan manajemen jalan napas yang sama dilakukan pada 6 pasien sesuai dengan tanda dan gejala yang muncul yaitu monitor pola napas, bunyi napas, dan terapi nebulizer. Fisioterapi dada dilakukan pada 2 pasien. terapi oksigen hanya diberikan pada 2 pasien. pemberian minuman hangat dan hidrasi yang optimal hanya dilakukan pada 1 pasien. Terdapat perbaikan jalan napas pada keenam pasien dengan rincian 2 pasien masalah teratasi sebagian dan 4 pasien masalah teratasi. Adapun indikator utama penilaian berdasarkan perbaikan frekuensi napas (RR), penurunan atau hilangnya bunyi napas tambahan, perbaikan saturasi oksigen, penurunan atau hilangnya sesak napas, hilangnya batuk. Kesimpulan: Manajemen jalan napas dapat menurunkan keluhan bersihan jalan napas dan pola napas tidak efektif pada anak dengan pneumonia. Kata Kunci: manajemen jalan napas. Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 Page 1 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: ISSN : 2807-9280 @ 2024. Penyami et al https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK CASE STUDY: IMPLEMENTATION OF AIRWAY MANAGEMENT IN CHILDREN WITH PNEUMONIA Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 1,2,3,4,5,6 Poltekkes Kemenkes Semarang *Corresponding author: yuniske. polkesmar@gmail. ABSTRACT Background: As many as 14% of deaths of children under 5 years were caused by pneumonia with a total of 740,180 deaths. Based on medical record data from the Bendan District Hospital. Pekalongan City, it was found that the trend of pneumonia cases in children increased from 102 cases in 2021 to 202 cases in 2023. Shortness of breath and coughing due to a buildup of secretions in the airways are often the main complaints in children with pneumonia. The main nursing implementation needed to overcome problems with airway clearance and breathing patterns in children due to pneumonia is airway management. Method: This research design is a descriptive method with a case study type. The aim is to describe the implementation of several airway management measures in children with Respondents consisted of 6 pediatric patients under 5 years old who experienced problems with airway clearance or ineffective breathing patterns. Airway management was carried out for 3 days. Results: The same type of airway management action was carried out on 6 patients according to the signs and symptoms that appeared, namely monitoring breathing patterns, breath sounds, and nebulizer therapy. Chest physiotherapy was performed on 2 patients. oxygen therapy was given to only 2 patients. providing warm drinks and optimal hydration was only carried out in 1 patient. There was airway improvement in the six patients, with details of 2 patients having the problem partially resolved and 4 patients having the problem resolved. The main indicators for assessment are based on improvement in respiratory frequency (RR), decrease or disappearance of additional breath sounds, improvement in oxygen saturation, decrease or disappearance of shortness of breath, disappearance of cough. Conclusion: Airway management can reduce complaints of airway clearance and ineffective breathing patterns in children with pneumonia. Keywords: airway management. Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 Page1 Of 2 of1011 Page Copyright: @ 2024. Penyami et al The Journal of Cross Nursing PENDAHULUAN (Somantri, 2. Bersihan jalan nafas tidak Kuat atau lemahnya suatu bangsa pada awalnya dapat ditentukan oleh kualitas penerusnya (Adriana, 2. Anak ialah individu yang berusia <18 tahun dan sedang menjalani berbagai tahap perkembangan, efektif perlu ditangani lebih lanjut karena jika tidak dapat menyebabkan berkembanganya penyakit seperti empyema, otitis media akut, emfisema, atelektasis atau komplikasi jauh organ-organ berfungsi dengan optimal akibatnya anak lebih rentan terhadap penyakit (Ariga, 2. Berdasarkan data WHO tahun . sebanyak 14% kematian anak di bawah 5 tahun disebabkan oleh pneumonia dengan total kematian mencapai 740. 180 jiwa. Berdasarkan RSUD Bendan Kota Pekalongan ditemukan pasien anak dengan pneumonia 102 kasus pada 2021 dan 202 kasus pada 2023. Pneumonia adalah suatu kondisi inflamasi akut pada parenkim paru yaitu adanya eksudasi, konsolidasi, mengakibatkan paru mengandung zat padat ataupun zat cair ditandai dengan gejala utama (Kementerian Kesehatan RI, 2. menginfiltrasi paru-paru dan memicu kaskade infeksi yang berujung pada dispnea dan produksi dahak yang berlebihan, pasien Implementasi manajemen jalan nafas yaitu teraupetik fisioterapi dada dan kolaborasi pemberian Fisioterapi dada . ialah suatu terapi tambahan pada pengobatan penyakit pernafasan untuk anak-anak dengan penyakit pernafasan (Purnamiasih, 2. Dalam studi lanjutan. Hanafi et al. , . menemukan bahwa kemampuan pasien untuk frekuensi pernafasan normal menunjukan efektivitas fisioterapi dada. Dari penjelasan fisioterapi dada penting dilaksanakan pada pasien yang terjadi bersihan jalan nafas. Selain itu tindakan terapeutik yang dapat dilakukan perawat secara mandiri adalah pemberian oksigen, pemberian minum hangat dan hidrasi yang optimal. Tujuannya Sebagai akibat dari agen etiologi (Umi Wijayaningsih, 2. mulai dari bayi hingga remaja (Novita, 2. Anak sebagai individu yang unik, masa diagnosis keperawatan yang berkaitan erat dengan subkategori pernapasan, seperti pola napas tidak efektif, dan bersihan jalan napas untuk mengurangi secret di jalan napas dan memaksimalkan pola napas. Terapi nebulizer yaitu teknik yang dilakukan dengan pemberian uap ke dalam saluran respiratory yang digunakan untuk membantu mengencerkan secret yang ada pada bronkus (Sutiyo & Nurlaila, 2. Hal ini sesuai dengan penelitian (Muttaqin, 2. , tidak efektif, serta gangguan pertukaran gas Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono . Maslahatul Inayah Page 3 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: @ 2024. Penyami et al Secara COCC Subjek penelitian yaitu 6 orang pasien didalam darah yang menimbulkan sesak anak dengan diagnosis keperawatan bersihan dengan frekuensi napas meningkat, sehingga jalan napas tidak efektif di ruang Sekarjagad pentingnya terapi yang cepat mengencerkan RSUD Bendan Kota Pekalongan. Teknik bulan Januari-Februari 2024. pengambilan sampel dilakukan dengan cara Dari convinience Sampling yakni subjek dipilih penjelasan diatas peneliti menyimpulkan karena kemudahan dan keinginan peneliti melalui kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien anak dilakukan oleh seorang perawat. Dari pembahasan latar belakang di permasalahan keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif yang berusia dibawah lima tahun yang tidak ada penyakit penyerta yang Tujuan dilakukan teknik sampling pasien tetap baik, maka dari itu penulis yaitu untuk mendapatkan sampel yang sesuai dan dapat menggambarkan populasi untuk memperburuk kondisi. dijadikan subjek. Adapun Instrumen pengumpulan data yang dipakai yaitu, format asuhan keperawatan AuBagaimanakah kepatenan jalan nafas pada pasien anak evaluasi keperawatan, alat kesehatan sebagai dengan pneumonia?Ay stetoskop, oximetry, jam tangan, meteran. METODE timbangan berat badan, formulir skrining Rancangan tumbuh kembang anak atau KPSP. SOP Nebulizer dan Fisioterapi dada. menjadi metode penelitian. Tujuan studi ini untuk memaparkan gambaran penerapan HASIL intervensi manajemen jalan napas pada anak Pada pengkajian An. S frekuensi pernapasan 57 x/menit, nadi 153 x/menit. SPO2 90%. Penelitian dilaksanakan pada terdengar suara wheezing. An. C frekuensi Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 Page 4 of1011 Page 1 Of Copyright: @ 2024. Penyami et al pernapasan 54 x/menit, nadi 142 x/menit, dada diberikan selama 5 menit dilakukan oleh SPO2 92%, terdengar suara ronchi. An. petugas fisioterapi dan pemberian terapi mengalami sesak napas, batuk tidak efektif, nebulizer sesuai prosedur yaitu menyiapkan alat, mengecek program terapi, dilakukan selama 20 menit dilakukan oleh penulis 48x/menit. An. L mengalami sesak napas, selama 3x24 jam didapatkan peningkatan batuk tidak efektif, terdengar suara ronchi, kondisi pasien. gelisah, dan pernapasan cuping hidung Evaluasi pasien 1 ditemukan data dengan RR 53x/menit. An. R mengalami subyektif Ibu An. S mengatakan sesak napas batuk berdahak, sesak napas, pilek, suara An. S berkurang, sudah tidak ada wheezing. Namun, berdasarkan hasil data objektif hidung. RR 44x/menit. An. LA mengalami pasien masih tampak sesak ketika oksigen batuk berdahak, sesak napas, pilek, suara dilepas, tidak ada pernapasan cuping hidung, 48x/menit. Berdasarkan 50x/menit. Berdasarkan hasil tersebut. An. didapatkan kesamaan keluhan yaitu sesak napas, terdapat suara napas tambahan seperti ditentukan ditandai dengan masih adanya ronchi dan wheezing, pernapasan cuping bunyi samar napas tambahan wheezing, hidung, terdapat batuk tidak efektif, sekret pasien An. S masih tampak sesak/dispnea yang menyumbat. (SPO2 95%. RR 50x/meni. , pasien An. Setelah pemberian fisioterapi dada, sesuai prosedur yaitu: mencuci tangan dan masih menggunakan alat bantu pernapasan nasal kanul 1lpm, intervensi dilanjutkan. menggunakan sarung tangan, menjelskan Pasien 2 An. C sudah tidak sesak, prosedur perkusi dan vibrasi, melakukan perkusi pada dinding rongga dada selama 1-2 Berdasar data objektif sesak menit, meletakkan satu tangan pada area yang napas menurun, penurunan cuping hidung yang ingin divibrasi dan letakkan satu tangan menurun, kedalaman napas menurun, tidak diatasnya, menegangkan otot otot tangan dan terdengar ronchi, saturasi oksigen 98%. RR lengan sambil melakukan tekanan sedang dan 45x/menit. Berdasarkan hasil tersebut. An. vibrasi tangan dan lengan, mengangkat telah memenuhi kriteria hasil yang ditetapkan tekanan pada dada ketika pasien menarik dan intervensi dihentikan. Pada pasien 3 (An. M) masuk kedalam klasifikasi penyakit bronkopneumonia sangat Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono . Maslahatul Inayah Page 5 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: @ 2024. Penyami et al berat dengan tanda dan gejala pasien 1 An. sehingga untuk rencana selanjutnya yaitu sehingga penyakit yang lebih parah atau lebih intervensi dihentikan. kompleks cenderung memerlukan waktu . Masalah teratasi sebagian. (Plannin. lanjutkan intervensi, monitor KU Tabel 1 Gambaran Pasien Anak dengan Pneumonia Sebelum dan Sesudah dilakukan Manajemen Jalan Napas (Selama 3x24 ja. Pasien (Usi. dan TTV, monitor pola nafas tambahan, berikan oksigenasi 1 lpm, lakukan fisioterapi dada, kolaborasi dengan dokter pemberian An S terapi nebulizer. Pasien (An. Ibu mengatakan batuk anaknya sudah berkurang, data obyektif kesadaran composmentis, suara ronki sudah tidak terdengar, pasien sudah tidak rewel, pasien tidak memuntahkan dahak N : 115x/menit. RR: 46x/menit. S : 36EE Keluhan Data Ibu pasien An. an pasien RR: 57x/menit SPO2: Wheezing ( ), n cuping Intervensi (Tindaka. Evaluasi Monitor pola napas, monitor bunyi napas. Ibu pasien An. an pasien RR: 54x/menit SPO2: Monitor pola napas, monitor bunyi napas. Masalah dengan data: Ibu An. An. ada wheezing. Masih tampak dilepas, tidak ada pernapasan cuping hidung, oksigen 95%. RR 50x/menit, 1lpm . enurun semula 2 lp. Masalah teratasi pada pasien An. subjektif ibu An. Berdasar data objektif sesak cuping hidung SPO2 : 99%. A(Assessmen. masalah teratasi P (Plannin. Intervensi dihentikan. Pasien (An. Ibu mengatakan sudah tidak batuk berdahak, didapatkan data objektifnya: RR: 34x/menit, suhu 36,6AC, ronki menurun, produksi sekret menurun, sekret klien tampak keluar melalui Analisanya Bersihan Jalan Nafas membaik intervensi dihentikan. Pasien (An. LA) Ibu mengatakan sudah tidak batuk dan sesak nafas, data objektifnya yaitu RR: 36x/menit. Suhu: 36,2AC, produksi sputum menurun, suara ronchi menurun, pernafasan kembali Berdasarkan analisanya bersihan Jalan Nafas teratasi Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono . Maslahatul Inayah Page 6 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: @ 2024. Penyami et al M . Ibu pasien ronki di dan pucat, pucat. RR 48x/menit. Ibu pasien ronki di dan pucat, 53x/menit. Monitor pola napas, monitor oksigen sesuai advice dokter. NaCl Monitor pola napas, monitor NaCl menurun, tidak ronchi, saturasi oksigen 98%. RR 45x/menit. Masalah dengan hasil: Data subyektif Ibu berkurang dan Data Obyektif ronchi samarsamar di kedua terpasang O2 1 tampak gelisah N: 117x/menit. RR: 27x/menit. S: 37EE. SPO2 : 99%. Masalah teratasi dengan Subyektif: Ibu batuk anaknya Data obyektif: pasien sudah 115x/menit. RR: 46x/menit. S: 36EE SPO2: R . Ibu klien an An R 44x/menit. Ibu klien an An L 48x/menit. Monitor pola napas, monitor minum hangat, dada, anjurkan asupan cairan 1000ml/hari. NaCl Masalah bersihan jalan nafas teratasi Data subjektif: Ibu klien sudah tidak Data :RR: 34x/menit, suhu 36,6AC, ronki menurun, produksi sekret sekret klien tampak keluar melalui hidung setelah diberi Monitor pola napas, monitor minum hangat, dada, anjurkan asupan cairan 1000ml/hari. Ventolin 2cc dan pulmicort 1cc/ 8 jam Masalah teratasi dengan Ibu klien sudah tidak batuk dan sesak nafas. Data yaitu RR: 36x/menit. Suhu: 36,2AC, menurun, suara Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono5. Maslahatul Inayah6 Page 7 of1011 Page 1 Of Copyright: @ 2024. Penyami et al PEMBAHASAN Fisioterapi dada adalah pneumonia bisa mencegah penyumbatan pada mengeluarkan sputum, mengembalikan serta saluran pernapasan akibat produksi dahak Pada kelima pasien diberikan menghilangkan sputum dalam bronkhus, nebulizer NaCl 2cc. NaCl merupakan obat tertimbunnya sputum, dan aliran sputum di mengencerkan dahak, selain itu cairan NaCl saluran pernafasan dan meningkatkan fungsi untuk mengatasi gangguan bersihan jalan mukolitik, larutan ini dapat menghambat nafas pada anak yang belum dapat melakukan mediator inflamasi dan viskositas mukus batuk efektif secara sempurna (Nurmayanti et , 2019 dan Mardianti, 2. Fisioterapi (Indriani et al, 2. Sedangkan pada An. dada terdiri dari turning, postural drainage. LA mendapatkan ventolin dengan dosis 2 mg perkusi dada, vibrasi dada, latihan tarik nafas dalam, dan batuk efektif yang dianggap dapat kegunaannya, ventolin digunakan sebagai Fisioterapi dada untuk pasien-pasien pada penelitian ini dilakukan selama 3 menit Pemberian terapi nebulizer ini efektif dan sejalan dengan teori oleh Bonita . kenyamanan dan (Dr. Indriyani, respon anak, tindakan fisioterapi dada ini mengungkapkan penggobatan efektif dalam membantu pasien mengurangi tanda dan gejala bersihan jalan nafas yang karena langsung dihirup masuk ke paru- tidak efektif. Hal ini sesuai dengan penelitian paru, dosis yang dibutuhkan lebih kecil. Ari et al. , . yang menemukan bahwa efektif dari obat-obatan diminum Penelitian yang Dearasi setelah dilakukan fisioterapi dada, serta menjelaskan bahwa nebulisasi menggunakan adanya korelasi yang signifikan antara tidak hipertonik (NaCl 0,3%) lebih efektif dalam efektifnya pembersihan jalan nafas dan suara nafas ronchi dan batuk produktif. pembersihan jalan nafas tidak efektif, dan Nebulizer adalah alat yang mengubah meningkatkan saturasi oksigen. obat cair menjadi aerosol stabil untuk Terapi nebulizer merupakan tugas dan memperbaiki hipoksemia. Penelitian oleh Nur tanggung jawab perawat dalam penerapannya E et al . memperlihatkan bahwasanya terhadap pasien. Implementasi terapi inhalasi pemberian nebulisasi di unit perawatan nebulizer rutin dilakukan oleh peneliti selama Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono . Maslahatul Inayah Page 8 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: @ 2024. Penyami et al melakukan penelitian, disamping melakukan 100% dan nilai saturasi di bawah 85% nebulizer peneliti juga mengedukasi cara-cara menunjukkan bahwasanya jaringan tidak melakukan nebulizer ke orang tua pasien. mendapat oksigen yang cukup dan dapat Terapi oksigen menjadi salah satu mengakibatkan hipoksia (T. Hayati et al, terapi agar mendapatkan pemenuhan oksigen Pasien An. S mendapat program terapi untuk melindungi dan memperbaiki hipoksia oksigen 2 lpm sedangkan pasien An. sambil menjaga oksigenasi jaringan. Pasien 1 mendapat terapi oksigen 1 lpm, hal ini An. S dengan saturasi oksigen awal 90% setelah diberikan terapi oksigen selama 3 hari berturut-turut saturasi oksigennya menjadi Selaras dengan hal tersebut, pasien 2 dibanding An. C dengan disertai masalah An. C dengan saturasi oksigen awal 92% kesehatan lain yang memperburuk pasien setelah diberikan terapi oksigen selama 3 hari An. S dibandingkan An. An. berturut-turut saturasi oksigennya menjadi Pemberian cairan hangat dan hidrasi Terapi oksigen merupakan terapi untuk yang optimal dapat membantu mengencerkan Hal ini dapat terjadi karena selama memperbaiki atau mencegah hipoksia dan jeda 2 jam pemberian minum cairan hangat mempertahankan oksigen tetap adekuat (I Maya, 2. Nasal kanul merupakan alat mukosa usus dan masuk ke aliran darah serta bantu napas pada hidung untuk mencukupi perpindahan cairan ke sel-sel tubuh lainnya seperti meningkatkan jumlah cairan pada sel laju aliran rendah atau low flow dengan 1 Ae mempengaruhi sekresi lendir dan lebih encer. 10 lpm dan laju aliran tinggi atau high flow Hal ini sesuai dengan pendapat dari Dongoes dengan 60 lpm untuk pasien gagal napas . Penelitian Saturasi oksigen yakni presentasi oksigen melalui nasal kanul menggunakan hipoksemia akut (Nagler, 2. Banhae et al . berdasarkan analisis hemoglobin yang terikat antara jumlah oksigen aktual dengan total kemampuan bronkopneumonia berhubungan dengan tiga hemoglobin darah yang mengikat oksigen variabel tumbuh kembang yang berbeda: ASI dengan menggunakan oksimetri (A. Berman eksklusif, imunisasi, dan status gizi. Asupan et al, 2. Saturasi hemoglobin mengacu pada hemoglobin yang mengikat oksigen, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap saturasi oksigen yang normal adalah 95- Yuniske Penyami1. Salsabela Nurul Firdaus2. Murni Wijayanti3. Ike Rahmawati4. Mardi Hartono . Maslahatul Inayah Page 9 of 11 Page 1 Of 10 Copyright: @ 2024. Penyami et al merupakan tindakan proaktif yang bertujuan pernapasan lainnya serta pada responden untuk menjaga daya tahan tubuh anak merekomendasikan studi selanjutnya untuk ASI Hasil imunomodulator, antiinflamasi terhadap imun faktor-faktor Apabila ketiga poin tersebut gagal terpenuhi maka bayi akan rentan terhadap intervensi manajemen jalan napas sehingga penyakit infeksi termasuk bronkopneumonia. Keenam pasien berdasarkan usia dan tumbuh dioptimalkan di rumah sakit. kembangnya ditinjau dari penilaian KPSP tidak mengalami masalah, tetapi rendah ASI REFERENSI