LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan STKIP PGRI BANDAR LAMPUNG http://jurnal. id/index. php/lentera UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS V SDN 1 SUKARAME Rupiana SDN 1 Sukarame rupiana_mm@yahoo. Abstrak: Pembelajaran IPA kelas V SDN 1 Sukarame, hasil tes formatif belum memuaskan, minat dan motivasi belajar masih kurang karena pengaruh acara televisi yang menanyangkan film yang bagus-bagus. Pengaruh lingkungan yang kurang mendukung, kurangnya dorongan serta perhatian orang tua, malas mengerjakan PR, dan lalai belajar. Sehingga prestasi dalam pembelajaran IPA kurang memuaskan . asih Berdasarkan soal itu, maka diadakan penelitian tindakan kelas. Dengan diadakannya PTK, diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi serta prestasi belajar siswa. Sumber data diperoleh dari aktivitas belajar, hasil belajar dan hasil kerja Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, diperoleh dari penilaian aktivitas belajar, tes formatif, dan penilaian portofolio. Berdasarkan hasil pembahasan diperoleh data keaktifan siswa pada siklus I 66,54%, siklus II 77,01%, dan siklus i 84,65%. Hasil belajar siklus I 72,42%, siklus II 81,035%, dan siklus i 89,66%. Sedangkan hasil kerja kelompok pada siklus I 64,28%, siklus II 78,57%, dan siklus i 85,71%. Tampak terjadi peningkatan dari siklus ke siklus. Maka dapat disimpulkan bahwa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas V SDN 1 Sukarame. Kata kunci: prestasi belajar, pembelajaran IPA, tipe STAD PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha sadar menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui proses belajar. Agar proses pembelajaran lebih bermakna maka pembelajaran harus direncanakan dengan baik dan benar, penggunaan metode yang tepat, sehingga tercipta pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif, dan menyenangkan sehingga memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dalam pembelajaran di sekolah hal yang penting dan utama yang harus dilakukan seorang pelajar adalah belajar, karena keberhasilan seseorang tergantung pada proses kegiatan individu yang belajar. Belajar bukan sekedar pengalaman, melainkan suatu proses dasar dari perkembangan hidup manusia yang mengubah tingkah lakunya. Jadi, belajar adalah suatu proses bukan hasil, karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan. Pembelajaran IPA kelas V SDN 1 Sukarame, nilai tes formatif belum kurangnya minat belajar siswa dalam Kurangnya minat belajar Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame siswa dalam pembelajaran karena pengaruh kemajuan teknologi khususnya acara televisi yang menampilkan film yang bagus-bagus , pengaruh lingkungan yang kurang mendukung, dan kurangnya dorongan serta perhatian orang tua, sehingga siswa malas mengerjakan tugas PR dan lalai belajar. Siswa yang kurang kecerdasannya bukan berarti bodoh, tetapi karena kurangnya latihan mengakibatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran rendah, nilai yang dicapai siswa dalam mata pelajaran IPA masih rendah. Untuk meningkatkan minat belajar siswa dan pelajaran, guru guru harus mempunyai cara terbaik untuk tidak secara langsung memberikan informasi yang dibutuhkan Dalam proses belajar mengajar, bila menggunakan barang yang nyata dan mendemonstrasikan langsung, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Siswa akan mudah mengingatnya apabila informasi tersebut didapatkan sendiri, bukan merupakan informasi perolehan. Apabila informasi, maka ia akan lebih lama ingat sehingga pemahaman dan prestasi siswa akan meningkat sesuai dengan harapan. Bagi beberapa siswa yang tidak mengerjakan PR perlu mendapatkan perhatian khusus, khususnya perhatian dan dorongan orang tua. Dengan demikian diharapkan siswa akan rajin mengerjakan tugas PR, dan prestasi belajarnya akan memuaskan sesuai dengan harapan. Pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas sangat bermanfaat untuk memperbaiki pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini juga bermanfaat untuk meningkatkan proses/hasil belajar siswa. Dengan adanya penelitian tindakan kelas, kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan Berdasarkan evaluasi setiap semester, ternyata prestasi belajar IPA kelas V SD belum memuaskan. Maka dari itu, penulis melakukan penelitian tindakan kelas dengan topik meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD di SDN 1 Sukarame pada semester genap Tahun Pelajaran 2016/2017. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD di SDN 1 Sukarame. KAJIAN TEORI Pembelajaran IPA di SD Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang diperoleh dar pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah yang berupa penyelidikan, penyusunan, dan pengujian gagasan-gagasan mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa (Depdikbud, 1. Ilmu pengetahuan alam merupakan suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala alam. Sejak ada peradaban manusia, orang telah dapat mengadakan upaya untuk mendapatkan sesuatu dari alam sekitarnya. Mereka telah dapat membedakan hewan atau tumbuhan mana yang dapat menggunakan Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. alat untuk mencapai kebutuhannya. Dengan menggunakan alat, mereka telah merasakan manfaat dan kemudahan untuk mencapai suatu tujuan. Semua itu menandakan bahwa mereka memperoleh pengetahuan dari pengalaman. Untuk memperdalam gambaran tentang IPA, di bawah ini dikemukakan beberapa batasan tentang IPA menurut Wahyono . IPA adalah merupakan suatu kumpulan pengetahuan, tersusun secara sistematik dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala alam. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, terbatas pada gejala alam dari hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang diperoleh, dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah, yang berupa penyelidikan, penyusunan, dan pengujian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematik, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta- fakta, konsep-konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkan dalam kehidupan sehari- hari. Pelaksanaan pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (BNSP, 2008:. IPA diperlukan dalam kehidupan sehari- hari untuk memenuhi kebutuhan manusia, melalui pemecahan masalahmasalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat sekolah pembelajaran saling temas (Sains. Lingkungan. Teknologi, dan Masyaraka. yang diharapkan pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara Pembelajaran IPA dilaksanakan secara inkuiri ilmiah . cientific inquir. untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menekankan pada pemberian pengalaman keterampilan proses dan sikap ilmiah. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPA di Sekolah Dasar merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang di fasilitasi Mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. Memperoleh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keteraturan alam ciptaan-Nya. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA diterapkan dalam kehidupan seharihari. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling IPA. Mengembangkan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, lingkungan alam. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan ke SMP/MTs. Sedangkan IPA mempunyai beberapa fungsi yaitu : Memberi pengetahuan lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitannya dengan manfaat kehidupan sehari-hari. Mengembangkan Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna bagi siswa kehidupan sehari-hari. Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan keterkaitan yang kemajuan IPA dan teknologi dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari. Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan (IPTEK) keterampilan-keterampilan berguna dalam kehidupan sehar- hari pendidikannya yang lebih tinggi. Selanjutnya, ruang lingkup bahan kajian IPA untuk Sekolah Dasar meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Makhluk kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan, dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan. Benda/materi, sifat-sifat kegunaan meliputi cair, padat, dan Energi dan perubahannya meliputi gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana. Bumi dan alam semesta meliputi tanah, bumi, tata surya, dan bendabenda langit lainnya. Penilaian Hasil Belajar Penilaian merupakan serangkaian menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi Penilaian kompetisi dasar peserta didik dilakukan Berdasarkan PP No. 19 tahun 2005 bahwa penilaian hasil belajar oleh peserta didik terdiri atas ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes. Penilaian dengan tes dapat berbentuk tulisan, lisan, dan Adapun penilaian non tes dapat dilakukan dengan pengamatan, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek, dan atau produk. Dalam rangka mendukung pelaksanaan penilaian yang bermakna dapat dilengkapi portofolio untuk masing- masing anak. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan perkembangan pengalaman belajar siswa. Dengan demikian, pengalaman diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata- mata pada hasil pembelajaran. Prinsip dasar penilaian autentik yang menjadi patokan pendekatan kontekstual, dapat diterapkan sepenuhnya dalam Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah: Penilaian bukan menghakimi siswa, perkembangan pengalaman siswa. Penilaian komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil. Guru menjadi penilai konstruktif bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai perkebangan belajar siswa dengan konteks belajar. Penilaian memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri dan penilaian sesama. Penilaian mengukur keterampilan dan performansi dengan kriteria yang jelas. Penilaian berkesinambungan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Penilaian dapat dimanfaatkan oleh siswa, orang tua dan sekolah untuk mendiagnosis kesulitan belajar, umpan balik pembelajaran, dan atau untuk menentukan prestasi siswa. Teknik penilaian yang dipakai dalam penilaian ini adalah penilaian penugasan, penilaian hasil kerja . , penilaian tes tertulis . aper dan pe. , dan penilaian portofolio. Yang dimaksud dengan tahapan atau aktivitas belajar IPA dalam PTK adalah: hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, pemahaman siswa, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan guru, kemampuan bertanya dan menjawab. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Fungsi dari model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi guru dalam aktivitas pembelajaran. Untuk menunjang pembelajaran, dibutuhkan model- model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta Model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang telah direncanakan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Selain memperhatikan rasional teoritik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki ilmu unsur dasar (Joyce & Weil dalam Santayasa, 2. , yaitu . syntax, yaitu langkahlangkah operasional pembelajaran, . social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran, . principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, . support system, adalah segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan . instructional dan nurturant effect, adalah hasil belajar yang diperoleh langsung (. nstructional effec. dan hasil belajar di luar yang di capai . urturant effec. Model pembelajaran merupakan menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang dan para pengajar dalam aktivitas belajar mengajar. Penerapan model dan merupakan salah satu komponen yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, karena dengan pembelajaran itu guru dapat mengajar di kelas, karena dengan model pembelajaran itu guru dapat menciptakan kondisi belajar yang mendukung pencapaian Selain penggunaan metode pembelajaran yang di pilih dan dipergunakan dengan baik oleh guru dapat mendorong siswa untuk aktif mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas. Pemilihan model pembelajaran harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar yang tidak hanya menerima secara pasif apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus menempatkan siswanya sebagai insan yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, baik secara individual maupun berkelompok. Model pembelajaran yang bersifat partisipatoris yang dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif, karena siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta sensitif dalam kegiatan belajar Pembelajaran pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling mencerdaskan, menyayangi, dan tenggang rasa antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Unsur-unsur kooperatif sebagai berikut. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka Autenggelam atau berenang bersamasamaAy, . Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, dalam mempelajari materi yang di hadapi, . Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama, . Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok, . Para siswa berbagi memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar, . Para siswa akan di minta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara berkelompok kecil Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. yang merupakan tempat siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang optimal baik individu maupun kelompok. Tiga pembelajaran kooperatif, yaitu: Untuk meningkatkan kerjasama dalam tugas-tugas kelompok. Penerimaan terhadap keragaman agar siswa dapat menerima temantemannya berbagai macam perbedaan latar Penerimaan terhadap keragaman keterampilan sosial siswa berupa tugas,keaktifan menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, pendapat/ide, kerjasama dan lain-lain. Penggunaan kooperatif menurut Slavin . 0:4-. Untuk mengingat pembelajaran hubungan dalam suatu grup. Mengatasi rintangan sekelas secara Meningkatkan harga diri. Menumbuhkan pembelajaran perlu berpikir. Memecahkan masalah dan belajar baik yang menyangkut pengetahuan konsep, prinsip dan prosedur sehingga terjadi pemecahan yang lebih bermakna. Menciptakan rasa senang pada diri pembelajaran dan menyumbangkan anggotaanggota kelompoknya. Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut. Siswa dalam kelompoknya haruslah Ausehidup sematiAy. Siswa bertanggung jawab atas kelompoknya, seperti milik mereka Siswa haruslah melihat bahwa kelompoknya memiliki tujuan yang Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. Siswa mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani oleh kelompok. Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins. Tipe ini di pandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Berikut adalahl angkah- langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Para siswa di dalam kelas di bagi masing- masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok heterogen, baik jenis kelamin, ras, maupun kemampuannya . Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame Guru Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama anggota Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab pertanyaan atau kuis guru, siswa tidak boleh saling Setiap akhir pembelajaran guru mengetahui penguasaan terhadap bahan akademik yang telah Kesimpulan. METODE Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN 1 Sukarame, dengan jumlah 29 Dengan dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas di kelas V, diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki hasil belajar siswa. Sumber data diambil dari beberapa kegiatan aktivitas siswa, baik yang diamati oleh observer maupun data yang diperoleh dari hasil belajar siswa berupa hasil evaluasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penelitian Siklus I Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 4 Pebruari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan penulis merencanakan pembelajaran yang akan deterapkan dalam PBM, memberi salam, menentukan materi pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok, lembar tugas . Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut. Data hasil pengamatan aktivitas siswa dilaporkan secara lengkap pada tabel berikut. Tabel 1. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan dalam memahami Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Skor Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. Kemampuan bertanya jawab. Keterangan : : Amat baik : Baik : Cukup . Refleksi Keaktifan Siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus I pertemuan pertama menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 82,76%, kemampuan dalam memahami tugas 68,97%, interaksi siswa dengan siswa 75,86%, interaksi siswa dengan guru 58,62%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 68,97%, dan kemampuan bertanya jawab 24,14%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus I pertemuan pertama adalah 63,22%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus I pertemuan pertama menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 20 siswa . ,97%) dan yang belum tuntas 9 siswa . ,03%). Penilaian Portofolio Data hasil tes formatif siklus I pertemuan pertama menunjukkan bahwa, kerapian 57,14%, kebenaran 85,71%, dan tanggung jawab 42,86%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 61,9%. Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 8 Pebruari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan penulis merencanakan pembelajaran yang akan deterapkan dalam PBM, memberi salam, menentukan materi pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok, lembar tugas belajar, masing- masing kelompok menunjukkan hasil kerjanya. Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut : Data hasil pengamatan aktivitas siswa dilaporkan secara lengkap pada tabel berikut. Tabel 2. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan dalam memahami Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Skor Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame Kemampuan bertanya jawab. Keterangan : : Amat baik : Baik : Cukup . Refleksi . Keaktifan Siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus I pertemuan kedua menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 86,21%, kemampuan dalam memahami tugas 75,86%, interaksi siswa dengan siswa 82,76%, interaksi siswa dengan guru 72,41%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 68,97%, dan kemampuan bertanya jawab 31,03%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus I pertemuan pertama adalah 69,54%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus I pertemuan kedua menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 20 siswa . ,86%) dan yang belum tuntas 9 siswa . ,14%). Penilaian Portofolio Data hasil tes formatif siklus I pertemuan kedua menunjukkan bahwa, kerapian 57,14%, kebenaran 85,71%, dan tanggung jawab 57,14%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 66,66%. Siklus II Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 11 Pebruari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan penulis merencanakan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok dan tes formatif, menyiapkan RPP. Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut. Tabel 3. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan dalam memahami Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Kemampuan bertanya jawab. Keterangan : Skor Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. : Amat baik : Baik : Cukup . Refleksi . Keaktifan Siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus II pertemuan ketiga menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 89,66%, kemampuan dalam memahami tugas 79,31%, interaksi siswa dengan siswa 86,21%, interaksi siswa dengan guru 75,86%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 75,86%, dan kemampuan bertanya jawab 37,93%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus II pertemuan ketiga adalah 74,14%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus II pertemuan ketiga menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 23 siswa . ,31%) dan yang belum tuntas 6 siswa . ,69%). Penilaian Portofolio Data dari hasil tes formatif siklus II pertemuan ketiga menunjukkan bahwa, kerapian 71,43%, kebenaran 85,71%, dan tanggung jawab 71,43%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 76,19%. Pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan penulis merencanakan pembelajaran yang akan deterapkan dalam PBM, memberi salam, menentukan materi pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok, lembar tugas belajar, masing- masing kelompok menunjukkan hasil kerjanya. Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut. Tabel 4. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Kemampuan bertanya jawab. Keterangan: : Amat baik Skor Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame : Baik : Cukup . Refleksi . Keaktifan Siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus II pertemuan keempat menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 89,66%, kemampuan dalam memahami tugas 89,66%, interaksi siswa dengan siswa 86,21%, interaksi siswa dengan guru 86,21%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 75,86%, dan kemampuan bertanya jawab 48,31%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus II pertemuan keempat adalah 79,89%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus II pertemuan keempat menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 23 siswa . ,76%) dan yang belum tuntas 6 siswa . ,24%). Penilaian Portofolio Data dari hasil tes formatif siklus II pertemuan ketiga menunjukkan bahwa, kerapian 85,71%, kebenaran 85,71%, dan tanggung jawab 71,43%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 80,95%. Siklus i Pertemuan kelima dilaksanakan pada tanggal 15 Pebruari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan penulis merencanakan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok dan tes formatif, menyiapkan RPP. Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut. Tabel 5. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan dalam memahami Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Kemampuan bertanya jawab. Keterangan : : Amat baik : Baik : Cukup Skor . Refleksi . Keaktifan Siswa Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus i pertemuan kelima menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 93,10%, interaksi siswa dengan siswa 89,66%, interaksi siswa dengan guru 96,55%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 89,66%, dan kemampuan bertanya jawab 48,28%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus i pertemuan kelima adalah 84,49%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus i pertemuan kelima menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 25 siswa . ,21%) dan yang belum tuntas 4 siswa . ,69%). Penilaian Portofolio Data dari hasil tes formatif siklus i pertemuan kelima menunjukkan bahwa, kerapian 85,71%, kebenaran 100%, dan tanggung jawab 76,43%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 85,71%. Pertemuan keenam dilaksanakan pada tanggal 22 Pebruari 2016 . Perencanaan Dalam tahap perencanaan siklus i merencanakan pembelajaran yang akan deterapkan dalam PBM, memberi salam, menentukan materi pembelajaran, membuat lembar tugas kelompok, lembar tugas belajar, masing- masing kelompok menunjukkan hasil kerjanya. Tindakan Dalam ini penulis menerapkan skenario pembelajaran, yaitu membuat kelompok yang heterogen, guru menyajikan materi pembelajaran, guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompoknya. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai anggota dalam kelompok itu mengerti, guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, memberi evaluasi, dan kesimpulan. Observasi dan Penilaian Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada tahap pertama diperoleh data sebagai berikut. Tabel 6. Keaktifan Siswa Aktivitas Kesiapan belajar Kemampuan dalam memahami Interaksi siswa dengan siswa Interaksi siswa dengan guru. Tanggung jawab Kemampuan bertanya jawab. Keterangan : : Amat baik : Baik : Cukup Skor . Refleksi . Keaktifan Siswa Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame Data hasil pengamatan aktivitas siswa siklus i pertemuan keenam menunjukkan bahwa: Kesiapan siswa belajar 96,55%, interaksi siswa dengan siswa 96,55%, interaksi siswa dengan guru 93,10%, tanggung jawab dalam mengerjakan tugas 96,55%, dan kemampuan bertanya jawab 58,62%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus i pertemuan keenam adalah 89,65%. Hasil Belajar Data hasil tes formatif siklus i pertemuan keenam menunjukkan bahwa dari 29 siswa yang sudah mencapai KKM . 27 siswa . ,10%) dan yang belum tuntas 2 siswa . %). Penilaian Portofolio Data dari hasil tes formatif siklus i pertemuan kelima menunjukkan bahwa, kerapian 85,71%, kebenaran 100%, dan tanggung jawab 85,71%. Jadi rata-rata hasil kerja kelompok adalah 90,47%. Pembahasan Berdasarkan pelaksanaan penelitian tindakan dari observasi dan penilaian diperoleh bahwa keaktifan siswa, hasil belajar, dan hasil kerja kelompok mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Keaktifan siswa pada siklus I pertemuan 1 63,22%, pertemuan 2 69,54%, dengan rata-rata siklus I adalah 66,38%. Siklus II pertemuan 3 74,14% dan pertemuan 4 79,89%. Jadi rata-rata keaktifan siswa siklus II adalah 77,02%. Selanjutnya keaktifan siswa pada siklus i, pertemuan 5 menunjukkan 84,89%, dan pertemuan 6 89,65%. Rata-rata keaktifan siswa pada siklus i adalah 87,03%. Hasil belajar siklus I pertemuan 1 siswa yang sudah mencapai KKM adalah 68,97% dan pertemuan 2 75,86%. Ratarata hasil belajar siklus I yang sudah KKM 72,42%. Selanjutnya siklus II pertemuan 3 siswa yang sudah mencapai KKM 79,31% dan pada pertemuan 4 siswa yang sudah mencapai KKM menunjukkan 82,76%. Jadi rata-rata hasil belajar pada siklus II yang sudah mencapai KKM adalah 81,04%. Sedangkan pada siklus i hasil belajar sudah menunjukkan peningkatan yang memuaskan. Terlihat bahwa pada pertemuan kelima yang sudah mencapai KKM adalah 86,21% dan pada pertemuan keenam siswa yang sudah mencapai KKM adalah 93,10%, dengan rata-rata hasil belajar pada siklus i ini adalah 89,66%. Hasil kerja kelompok siklus Ipertemuan pertama, hasil yang di dapat masih kurang, baru mencapai 61,90% dan petemuan kedua 66,66%. Rata-rata hasil kerja kelompok siklus I adalah 64,28%. Pada siklus II sudah ada peningkatan yang cukup baik. Pada pertemuan ketiga hasil kerja kelompok sudah mencapai 76,19% dan pada pertemuan keempat mencapai 80,95%. Dengan rata-rata hasil kerja kelompok siklus II ini adalah 78,57%. Data hasil penelitian dalam tabel 1. siklus II pertemuan kelima menunjukkan bahwa hasil kerja kelompok ada peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan siklus ke II. Pada siklus II pertemuan kelima hasil kerja kelompok sudah mencapai 85,71% dan pada pertemuan keenam dari 7 kelompok tersebut hasil kerja kelompok sudah Rupiana LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. memuaskan, sesuai dengan harapan yaitu 90,47%. Dengan demikian, dapat diketahui IPA Penguasaan materi pada siklus I tingkat ketuntasan baru mencapai 72,42% pada siklus II ada peningkatan pada tingkat ketuntasan yang sudah mencapai 81,04% dan pada siklus i terjadi peningkatan yaitu menggembirakan yaitu mencapai 89,66%. Sesuai dengan pendapat Wardini . perencanaan penelitian tindakan kelas bermula karena adanya permasalahan yang timbul ketika guru dalam proses kualitas siswa dalam prestasi belum karakteristik penelitian tindakan kelas yaitu kesadaran pada diri guru bahwa dalam praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas ada masalah yang perlu Dalam penelitian tindakan kelas perlu menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, sehingga dari siklus ke Aktivitas-aktivitas tersebut antara lain kesiapan belajar siswa, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan guru, mengemukakan pendapat, bertanya jawab, dan membuat rangkuman tertulis. Oleh karena itu, siswa memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung sesama teman dan dengan benda Maka, siswa langsung terlibat aktif dan kreatif. Dengan kata lain. Selain itu, sikap ilmiah seperti keterbukaan, menghargai pendapat orang lain, jujur, rasa ingin tahu, dan atau sikap kritis dapat dimiliki siswa. Peningkatan kemampuan dalam mengajar setelah diadakan penelitian tindakan kelas, terasa benar manfaatnya bagi guru, karena peranan guru dalam pembelajaran tidak hanya sebagai pemberi informasi tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator bagi Di samping itu, guru akan merefleksikan dirinya untuk membenahi dan meningkatkan kinerjanya. Penelitian hendaknya dikelola atas dasar kemitraan yang sehat, sehingga kedua belah pihak dapat memetik manfaat secara timbal balik. Melalui penelitian masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji secara tuntas, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan dapat diaktualisasikan secara sistematis. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan di atas diperoleh data keaktifan siswa pada siklus I 66,54%, siklus II 77,01%, dan siklus i 84,65%. Hasil belajar siklus I 72,42%, siklus II 81,035%, dan siklus i 89,66%. Sedangkan hasil kerja kelompok pada siklus I 64,28%, siklus II 78,57%, dan siklus i 85,71%. Tampak terjadi peningkatan dari siklus ke siklus. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa STAD meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas V SDN 1 Sukarame. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukarame DAFTAR PUSTAKA