Volume 2 Issue 1 . Pages 1-11 Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah E-ISSN: 3063-1181 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak Galuh Kartikasari1 Lilis Rahmawati2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul AoUla Nganjuk1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul AoUla Nganjuk2 91@gmail. elrahmawati22@gmail. Abstrak Orang tua adalah pendidik utama anak dalam hal moral, agama, dan akademik yang di dalamnya terdapat kegiatan membaca. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang tidak bisa terlepas dari ketrampilan lainnya sehingga posisinya penting dalam pendidikan. Metode bercerita mampu menjadi motivasi bagi anak pada kegiatan membaca, karena setiap anak dapat ditumbuhkan motivasi dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode bercerita yang diterapkan oleh orang tua sebagai motivasi membaca pada anak. Jenis penelitian adalah kualitatif, subyek penelitian berupa 10 orang tua dengan anak yang berada pada jenjang Sekolah Dasar, serta sudah menerapkan metode bercerita. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menjelaskan bahwa metode bercerita oleh orang tua merupakan bentuk motivasi ekstrinsik yang mampu memancing motivasi intrinsik anak. Hal ini terlihat dari semangat yang muncul ketika kegiatan bercerita akan dimulai, ketertarikan anak pada buku lebih awal, kemampuan mengeja huruf, kata, dan kalimat lebih awal, serta durasi anak untuk membaca buku dalam seminggu. Kata Kunci: metode bercerita, orang tua, motivasi membaca Abstract Parents are the main educators in terms of morality, religion, and academics which retelling story activity is a part of them. Retelling story is one of language skills that cannot be apart from the other skills so that the position of retelling story is important in education. Retelling story method becomes motivation for children in reading activity because each child can develop the motivation themselves. This research aims to describe retelling story method implemented by parents as reading motivation for This is qualitative research. The subject of the research is 10 parents of children who study in Elementary School and they have implemented the retelling story. The data collection is in the form of structured interview. The findings show that retelling story method done by parents become extrinsic motivation that can support childrenAos intrinsic motivation. It can be seen from the spirit when the retelling story activity is begun, the earlier curiosity in the book, the earlier ability in spelling alphabets, words, and sentences, and also the duration in reading book in a week. Keywords: retelling story, parents, reading motivation Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak PENDAHULUAN Orang tua adalah Pendidikan utama bagi anak. Keberadaan orang tua sangat penting pada proses belajar anak. Sebelum memulai Pendidikan formal yang akrab sebut sekolah, anak pasti memperoleh pendidikan dari orang tuanya di rumah. Bisa dikatakan bahwa Pendidikan formal tidak bisa terlepas dari pendidikan dari orang tua, sehingga orang tua tidak bisa begitu saja melepaskan pendidikan anak hanya di sekolah saja. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa dua pendidik terpenting dalam kehidupan seorang anak ialah orang tua dan guru pada usia sekolah dasar (Chopel dan Choda, 2. Orang tua dan guru saling bersinergi dalam pendidikan seorang anak menurut porsi masing-masing. Salah satu pendidikan yang diterima anak di rumah adalah kebiasaan-kebiasaan yang membuatnya siap untuk memasuki pendidikan formal, yaitu sekolah. Didikan tersebut bisa meliputi moral, agama, maupun yang berkaitan dengan akademik. Khusus untuk akademik, pastinya tidak jauh dari kegiatan membaca. Membaca merupakan kegiatan interaktif untuk mendapatkan makna yang terdapat dalam tulisan (Somadayo, 2. Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Membaca merupakan suatu proses aktif yang bertujuan dan memerlukan strategi. Hal ini didukung oleh beberapa definisi sebagai berikut: . Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas dan makna kata- kata secara individual akan dapat diketahui. Hodgson mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Depdikbud menuliskan bahwa membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Definisi ini sesuai dengan membaca pada tingkat lanjut, yakni membaca kritis dan membaca kreatif (Nurhayati, 2. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ketrampilan membaca sangat penting posisinya dalam dunia pendidikan. Di samping itu, membaca merupakan aspek penting dalam komunikasi ataupun memahami fenomena sosial. Coachrene menyatakan setiap anak mengalami lima tahapan perkembangan membaca. Adapun tahapan perkembangan membaca tersebut adalah: . Tahap magic . agical stag. Pada tahap ini anak belajar tentang guna buku itu adalah sesuatu yang penting. Anak melihatlihat buku dan memiliki buku favorit. Pada tahap ini anak memperhatikan tulisan dan membedakannya dengan gambar. Tahap konsep diri . elf concept stag. Pada tahap ini anak melihat diri sendiri sebagai pembaca, mulai melihat dalam kegiatan Aupura-pura membacaAy, mengambil makna dari gambar, membahasakan buku walaupun tidak cocok dengan teks yang ada di dalamnya. Pada tahap ini anak mengetahui bahwa tulisan dapat dilafalkan dan memiliki informasi. Tahap pembaca antara atau tahap membaca gambar (Bridging Reading Stag. Anak-anak memiliki kesadaran terhadap bahan cetak . Mereka mungkin memilih kata yang sudah dikenal, mencatat kata-kata yang berkaitan dengan dirinya, dapat membaca ulang cerita yang telah ditulis, dapat membaca puisi. Anak-anak mungkin mempercayai setiap label sebagai kata dan dapat menjadi frustasi ketika mencoba mencocokan bunyi dengan Pada tahap ini anak mulai mengenal alfabet. Anak-anak memperhatikan tanda-tanda visual seperti gambar tetapi belum menguasai simbol. Anak biasanya akan membaca dengan melihat gambar, membaca label dengan memperhatikan barang dan gambarnya. Anak 2 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2024 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak menjabarkan gambar atau informasi visual lain dalam bentuk satu kalimat atau lebih. Tahap lepas landas atau tahap pengenalaan bacaan . ake off Reader Stag. Pada tahap ini anak mulai menggunakan tiga sistem tanda atau ciri yaitu grafonik, semantik, dan sintaksis. Mereka mulai bergairah membaca, mulai mengenali huruf dari konteks, memperhatikan lingkungan huruf cetak dan membaca apapun di sekitarnya, seperti tulisan pada kemasan dan tanda-tanda. Tahap independent atau tahap membaca lancar . ndependent reader stag. Pada tahap ini Anak dapat membaca buku yang tidak dikenal secara mandiri, mengkonstruksi makna dari huruf dan dari pengalaman sebelumnya. Anak-anak dapat membuat perkiraan tentang materi bacaan. Materi berhubungan langsung dengan pengalaman-pengalaman yang paling mudah dibaca (Herlina, 2. Dari tahapan-tahapan yang disebutkan Coachrene tersebut, dapat dikatakan bahwa pengenalan buku sangat diperlukan untuk perkembangan membaca anak. Tanpa dikenalkan dengan buku, anak tidak akan mengetahui bahwa membaca buku itu penting. Anak juga akan kesulitan untuk mengenal alfabet ataupun simbol-simbol lainnya. Setiap anak memiliki kemampuan membaca yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh beberapa aspek. Salah satu aspek yang mempengaruhi adalah motivasi, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi merupakan suatu keadaan kompleks . complex stat. dan kesiapsediaan . reparatory se. dalam diri individu . untuk bergerak . o move, motion, motiv. ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari . akmun, 2. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya sehingga tidak perlu rangsangan dari luar, karena dari dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Motivasi intrinsik tidak bisa terlepas dari motivasi ekstrinsik. Adanya motivasi ekstrinsik bisa memancing munculnya motivasi intrinsik (Sadirman, 2. Bisa dikatakan bahwa motivasi intrinsik berhubungan dengan motivasi ekstrinsik. Maka, kedua hal tersebut kerap tumbuh bersamaan dalam diri anak, termasuk pada aktifitas membaca. Sebagai orang tua, bisa membantu memberikan motivasi ekstrinsik pada anak, sehingga motivasi instrinsik tersebut bisa muncul. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalan menumbuhkan motivasi belajar anak. Hal ini dilihat berdasarkan dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi (Saputri, 2. Terkait dengan belajar, salah satu aspeknya adalah membaca. Salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk memunculkan motivasi membaca tersebut adalah dengan menerapkan metode bercerita. Metode bercerita adalah suatu cara menyampaikan atau menguraikan suatu peristiwa atau kejadian melalui kata, gambar, atau suara yang diberikan beberapa penambahan improvisasi dari pencerita sehingga dapat memperindah jalannya cerita (Yaumi, 2. Bercerita merupakan tindakan tutur kisah kejadian secara lisan dan hal tersebut merupakan sebuah usaha untuk meningkatkan keterampilan berbahasa salah satunya membaca (Ningsih. Metode bercerita dinilai memiliki keunggulan tersediri. Selain mendukung dunia akademik anak yang khususnya berkaitan dengan baca tulis dan memaparkan suatu hikmah, metode ini juga mampu menjalin kedekatan antara orang tua dan anak. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa keterampilan membaca peserta didik di era digital sangat menurun dan perlunya usaha guru untuk mengubah beberapa kebiasaan peserta didik yaitu membaca. Guru perlu menerapkan metode bercerita untuk mengembangkan keterampilan membaca peserta didik (Maulida dan Zakaria, 2. Pentingnya penerapan metode bercerita di sekolah, sangat bisa untuk diadaptasi dan diaplikasikan orang tua selama Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2. 3 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak bersama anaknya. Seperti halnya guru, orang tua menerapkan metode bercerita untuk memancing ketertarikan pada kegiatan membaca, serta mengembangkan keterampilannya. Pernyataan di atas didukung oleh penelitian lain yang menyebutkan bahwa peran orang tua merupakan hal penting dalam meningkatkan minat baca anak usia SD/MI. Beberapa peran penting tersebut diantaranya . menjadi teladan dan menyediakan fasilitas membaca, . sebagai guru dan motivator, . menerapkan pola asuh dan menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan . menjadi mentoring atau penasehat. Beberapa peran tersebut dapat menjadi faktor peningkatan minat membaca anak dan rumah merupakan tempat terbaik untuk mengembangkan minat membaca anak (Aysah dan Maknun, 2. Hal ini menunjukkan pentingnya kehadiran orang tua dalam dunia pendidikan anak. Kehadiran orang tua tersebut salah satunya adalah dengan memberikan dukungan untuk memancing ketertarikan membaca anak melalui penerapan metode bercerita. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan secara dekskriptif tentang metode bercerita yang diterapkan oleh orang tua sebagai motivasi membaca pada anak. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, akan semakin besar kesadaran orang dewasa, khususnya orang tua, agar semakin sering menerapkan kegiatan bercerita kepada anak-anaknya. Selain itu, diharapkan penelitian ini bisa dikembangkan lebih lanjut pada penelitian selanjutnya, serta menjadi dorongan bagi dunia akademik untuk mulai menghubungkan antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan dari orang tua. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan subyek penelitian berupa 10 orang tua dengan anak yang berada pada jenjang Sekolah Dasar, serta sudah menerapkan metode bercerita. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur dengan cara menerapkan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya kepada subyek penelitian. Metode wawancara terstruktur dipilih karena mampu menggali data secara subyektif dan mendalam, serta sesuai dengan kondisi kenyataan masing-masing subyek penelitian. Pemilihan subyek penelitian di atas dipillih karena mampu memberikan gambaran keefektifan metode bercerita untuk dijadikan motivasi membaca pada anak. Posisi peneliti dalam penelitian adalah sebagai human instrument. Peniliti hadir untuk mengumpulkan data sesuai fokus penelitian. Di samping itu, peneliti juga melakukan analisis data yang terkumpul dan melakukan reduksi data. Selanjutnya, peneliti mendeskripsikan temuan sebelum ditarik kesimpulan. Tahapan penelitian dapat dilihat pada gambar berikut: Pengumpulan Penyajian data Reduksi data Verifikasi/ penarikan kesimpulan Gambar 1. Tahapan Penelitian Menurut Miles dan Huberman 4 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2024 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan secara dekskriptif tentang metode bercerita yang diterapkan oleh orang tua sebagai motivasi membaca pada anak. Data diperoleh melalui wawancara dengan subyek penelitian terpilih. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa orang tua memiliki durasi yang berbeda-beda dalam melaksanakan kegiatan bercerita. Orang tua juga menyatakan mereka rutin melakukan kegiatan bercerita pada anak-anaknya. Hasil dari konsistensi tersebut, orang tua menyatakan bahwa anak mereka menunjukkan rerspon positif berupa rasa semangat ketika sesi bercerita akan dimulai. Tabel 1. Daftar Respon Anak Durasi bercerita dalam semingu Durasi bercerita dalam sehari Respon anak Setiap hari 2 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 1 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 1 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 1 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 1 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 1 kali Sedikit terpaksa Setiap hari > 3 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari 2 kali Semangat untuk menyimak 4-6 hari 1 kali Semangat untuk menyimak 1-3 hari > 3 kali Semangat untuk menyimak Gambar 2. Prosentase respon anak pada kegiatan bercerita Meskipun memiliki konsistensi yang berbeda-beda berdasakan jumlah hari, namun tabel dan diagram di atas menjelaskan bahwa 90% anak memberikan respon positif saat sesi bercerita diterapkan, dan hanya 10% yang memberikan respon terpaksa. Ketika orang tua rajin dan konsisten melakukan metode bercerita, maka respon positif berupa rasa semangat menunjukkan adanya motivasi dalam diri anak. Artinya, metode bercerita yang diterapkan orang tua bisa menjadi motivasi anak untuk dekat dengan buku. Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2. 5 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak Hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara motivasi belajar dan dukungan orang tua terhadap minat baca anak. Anak yang memiliki motivasi belajar dan dukungan orang tua yang baik akan menentukan minat baca anak, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi meningkatnya hasil belajar anak (Putra, 2. Jika dihubungkan dengan penelitian ini, maka diperoleh bahwa kehadiran orang tua dapat menumbuhkan motivasi bagi anak. Orang tua yang menerapkan metode bercerita, mampu memunculkan motivasi belajar bagi anak. Terkait dengan ketertarikan anak pada buku berupa kegiatan pura-pura membaca, mengamati gambar, menata, atau membolak-balik buku, orang tua yang konsisten melakukan kegiatan bercerita, maka rata-rata anak juga akan memiliki ketertarikan pada kegiatan membaca lebih cepat, yaitu pada usia prasekolah. Tabel. 3 Daftar Ketertarikan Anak pada Kegiatan Membaca Usia anak tertarik pada buku Usia anak Usia anak mulai bisa mengeja kata Usia anak mulai bisa mengeja Usia anak bisa menyelesaikan satu buku untuk dibaca 3-4 tahun 4 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun < 6 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun < 6 tahun 3-4 tahun 4 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 4-5 tahun 5 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 6-7 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun < 6 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 2-3 tahun 4 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun < 6 tahun 2-3 tahun 3 tahun 4-5 tahun 5-6 tahun < 6 tahun Terkait prosentase usia ketertarikan anak pada buku, dapat dilihat pada diagram berikut. 6 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2024 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak Gambar 3. Prosentase usia ketertarikan anak pada buku . ura-pura membaca, mengamati gambar, menata, atau membolak-balik buk. Sebanyak 70% anak mulai tertarik untuk berpura-pura membaca, mengamati gambar, menata, dan membolak-balik buku pada usia 2-3 tahun, selanjutnya 20% di usia 3-4 tahun dan 10% di usia 4-5 tahun. Ketertarikan ini memiliki kesesuaian dengan dua tahapan membaca yang dikemukakan Coachrane, yaitu tahap magic . agical stag. dan tahap konsep diri . elf concept Kedua tahapan ini berkaitan dengan pandangan anak tentang pentingnya buku dan melihat diri sendiri sebagai pembaca. Jumlah di atas juga menunjukkan bahwa orang tua yang melakukan kegiatan bercerita, akan menjadi contoh perilaku untuk anak-anak. Seperti yang kita ketahui bahwa orang tua adalah role model bagi anak-anak mereka. Bercerita juga menjadi penanaman kebiasaan baik bagi anak. Anak yang selalu melihat orang tuanya bercerita, maka mereka juga akan terbiasa untuk melakukan hal sama. Sebuah penelitian menyatakan bahwa sebelum menanamkan kebiasaan membaca pada anak, orang tua harus terlebih dahulu menjadi role model panutan bagi anak. Karena anak akan meniru kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya di rumah (Hernawati, 2. Pernyataan ini turut mendukung ulasan sebelumnya, bahwa orang tua adalah panutan untuk anak-anaknya. Orang tua yang konsisten bercerita, maka anak-anaknya pun akan mengikuti kegiatan tersebut. Selanjutnya, untuk prosentase usia anak mulai mampu mengeja huruf, kata, dan kalimat, dapat dijelaskan pada diagram-diagram berikut. Gambar 4. Prosentase usia anak mulai bisa mengeja huruf Gambar 5. Prosentase usia anak mulai bisa mengeja kata Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2. 7 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak Gambar 6. Prosentase usia anak mulai bisa mengeja kalimat Diagram-diagram di atas menunjukkan bahwa anak lebih mudah dan relatif cepat untuk mengeja, baik huruf, kata, maupun kalimat karena konsistensi orang tua untuk melakukan kegiatan bercerita. Sebanyak 60% anak bisa mengeja huruf di usia 3 tahun, 30% di usia 4 tahun, dan 10% di usia 5 tahun. Lalu 90% anak bisa mengeja kata di usia 4-5 tahun dan 10% di usia 5-6 tahun. Selanjutnya 90% anak bisa mengeja kalimat di usia 5-6 tahun dan 10% di usia 5-7 Tahapan membaca Coachrene yang ketika muncul pada fase ini, yaitu tahap pembaca antara atau tahap membaca gambar. Jumlah di atas menunjukkan keterkaitan antara orang tau sebagai role model dengan ketertarikan anak pada buku. Anak yang tertarik lebih awal dengan buku, akan lebih mudah untuk mengeja huruf, kata, dan kalimat. Aktifitas bercerita yang dilakukan orang tua, mampu menjadi semangat anak-anak untuk membaca. Sebuah penelitian menyatakan bahwa anak-anak yang sering membahas hal-hal yang berhubungan dengan sosial atau budaya lebih sering dengan orang tuanya menunjukkan kemampuan literasi lebih tinggi dibanding yang tidak (Nurbaeti, 2. Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka komunikasi yang dilakukan orang tua melalui kegiatan bercerita, memberikan dampak positif pada kemampuan anak untuk mengeja huruf, kata, dan kalimat. Penelitian tersebut juga turut mendukung bahwa kebiasan bercerita oleh orang tua memberikan hasil positif pada kemampuan anak untuk membaca dan menyelesaikan sebuah Anak yang terbiasa mendapatkan cerita dari orang tuanya, lebih mudah untuk membaca dan menyelesaikan sebuah buku pada usia kurang dari 6 tahun serta antara 6-7 tahun. Gambar 6. Prosentase usia anak mampu menyelesaikan satu buku untuk dibaca 8 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2024 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak Sebanyak 50% orang tua menyatakan bahwa anak mereka mampu membaca satu buku pada usia kurang dari 6 tahun dan 50% pada usia 6-7 tahun. Seperti pernyataan sebelumnya bahwa orang tua yang konsisten melakukan aktifitas bercerita, secara tidak langsung juga menanamkan kebiasaan baik untuk anaknya. Aktifitas bercerita juga memunculkan semangat dan ketertarikan anak pada buku. Rasa semangat dan tertarik tersebut terlihat dari seberapa seringnyaa atau durasi anak membaca buku. Gambar 7. Durasi anak membaca buku dalam seminggu. Diagram di atas merupakan penjelasan bahwa anak yang sudah mahir membaca memiliki durasi waktu yang konsisten untuk membaca secara mandiri dalam satu minggu. Sebanyak 60% orang tua menyatakan bahwa anak mereka melakukan kegiatan membaca sebanyak 3-5 kali dalam seminggu, dan 40% lainnya sebanyak 0-2 kali dalam seminggu. Hal tersebut merupakan efek positif dari kegiatan bercerita yang dilakukan orang tua. Metode bercerita yang dilakukan orang tua di rumah mampu menjadi sebuah motivasi anak untuk membaca buku. Metode bercerita yang dilakukan orang tua merupakan bentuk motivasi ekstrinsik yang nama mampu memancing motivasi intrinsik anak. Kehadiran orang tua memiliki pengaruh besar pada munculnya motivasi-motivasi tersebut. Metode bercerita yang diterapkan orang tua di rumah, telah membentuk dampak positif untuk anak-anaknya. Anak yang sering dibacakan buku oleh orang tuanya, akan memiliki rasa semangat menyimak sebagai wujud motivasi yang terbentuk. Sebanyak 90% anak menunjukkan respon postif berupa rasa semangat saat akan dibacakan buku. Rasa semangat menunjukkan adanya motivasi dalam diri anak. Artinya, metode bercerita yang diterapkan orang tua bisa menjadi motivasi anak untuk dekat dengan buku. Kehadiran orang tua dapat menumbuhkan motivasi bagi anak. Kegiatan bercerita, juga mampu menumbuhkan ketertarikan anak pada buku lebih Ketertarikan itu berupa kegiatan pura-pura membaca, mengamati gambar, menata, dan membolak-balik buku. Ketertarikan tersebut muncul pada usia prasekolah. Sebanyak 70% anak mulai tertarik untuk berpura-pura membaca, mengamati gambar, menata, dan membolak-balik buku pada usia 2-3 tahun, selanjutnya 20% di usia 3-4 tahun dan 10% di usia 4-5 tahun. Seperti yang kita ketahui bahwa orang tua adalah role model bagi anak-anak mereka. Bercerita juga menjadi penanaman kebiasaan baik bagi anak. Anak yang selalu melihat orang tuanya bercerita, maka mereka juga akan terbiasa untuk melakukan hal sama. Anak lebih mudah dan relatif cepat untuk mengeja, baik huruf, kata, maupun kalimat karena konsistensi orang tua untuk melakukan kegiatan bercerita. Sebanyak 60% anak bisa mengeja huruf di usia 3 tahun, 30% di usia 4 tahun, dan 10% di usia 5 tahun. Lalu 90% anak bisa mengeja kata di usia 4-5 tahun dan 10% di usia 5-6 tahun. Selanjutnya 90% anak bisa mengeja kalimat di usia 5-6 tahun dan 10% di usia 6-7 tahun Jumlah tersebut menunjukkan Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2. 9 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak keterkaitan antara orang tau sebagai role model dengan ketertarikan anak pada buku. Anak yang tertarik lebih awal dengan buku, akan lebih mudah untuk mengeja huruf, kata, dan kalimat. Aktifitas bercerita yang dilakukan orang tua, mampu menjadi semangat anak-anak untuk Tabel 4. Kecepatan Anak Mengeja Huruf. Kata, dan Kalimat Kategori Prosentase Usia . alam tahu. Huruf Kata Kalimat Anak yang terbiasa mendapatkan cerita dari orang tuanya, lebih mudah untuk membaca dan menyelesaikan sebuah buku pada usia kurang dari 6 tahun serta antara 6-7 tahun. Sebanyak 50% anak mampu membaca satu buku pada usia kurang dari 6 tahun dan 50% pada usia 6-7 Seperti pernyataan sebelumnya bahwa orang tua yang konsisten melakukan aktifitas bercerita, secara tidak langsung juga menanamkan kebiasaan baik untuk anaknya. Aktifitas bercerita juga memunculkan semangat dan ketertarikan anak pada buku. Rasa semangat dan tertarik tersebut terlihat dari seberapa seringnyaa atau durasi anak membaca buku. Anak yang sudah mahir membaca memiliki durasi waktu yang konsisten untuk membaca secara mandiri dalam satu minggu. Sebanyak 60% orang tua menyatakan bahwa anak mereka melakukan kegiatan membaca sebanyak 3-5 kali dalam seminggu, dan 40% lainnya sebanyak 0-2 kali dalam seminggu. Hal tersebut merupakan efek positif dari kegiatan bercerita yang dilakukan orang tua. Tabel 5. Durasi Anak Membaca dalam Seminggu Durasi anak membaca dalam seminggu Prosentase Jumlah 3-5 kali 0-2 kali Penelitian ini menunjukkan bahwa metode bercerita dapat dijadikan alat untuk memunculkan motivasi membaca pada diri anak. Motivasi yang dimunculkan orang tua berupa motivasi ekstrinsi yang mana mampu memancing munculnya motivasi intrinsik anak pada 10 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 2. , 2024 Metode Bercerita Oleh Orang Tua Sebagai Motivasi Membaca Pada Anak kegiatan membaca. Orang tua tidak hanya menyerahkan pendidikan anak di sekolah saja, akan tetapi juga ikut andil di dalamnya. Ketika anak sudah muncul motivasi untuk membaca karena dorongan orang tua, maka akan lebih mudah bagi anak untuk menerapkannya di sekolah. SIMPULAN Metode bercerita yang dilakukan orang tua di rumah mampu menjadi sebuah motivasi anak untuk membaca buku. Metode bercerita yang dilakukan orang tua merupakan bentuk motivasi ekstrinsik yang nama mampu memancing motivasi intrinsik anak. Kehadiran orang tua memiliki pengaruh besar pada munculnya motivasi. Hal tersebut terlihat dari semangat yang muncul ketika kegiatan bercerita akan dimulai. Orang tua sebagai role model, mampu menarik keteratrikan anak pada buku lebih awal. Ketertarikan tersebut sebagai wujud adanya motivasi dalam diri anak. Anak juga menunjukkan motivasi membaca karena lebih cepat untuk mengeja huruf, kata, dan kalimat ketika orang tua konsisten melakukan kegiatan bercerita. Durasi anak membaca buku dalam seminggu merupakan wujud motivasi yang muncul dalam diri anak ketika orang tua hadir untuk melakukan kegiatan bercerita. DAFTAR PUSTAKA