Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 41 - 51 P a g e | 41 Analisis Karakteristik Pola Sedimentasi dan Perubahan Morfologi Muara Sungai Serayu Novi Andhi Setyo Purwono *1. Atiyah Barkah 2. Didit Triyanto 3. Prengki Handino 4 1,2,3,4 Program Studi Teknik Sipil,Universitas Wijayakusuma Purwokerto e-mail: *1novi_andhisp@yahoo. com , 2atiyahbarkah69@gmail. didittriyanto17@gmail. com ,4prengki. handino@gmail. Abstract Muara Sungai Serayu is located in the Cilacap district, precisely in the Adipala and Kesugihan districts. When the flow of water enters the estuary there will be a change or transition in the speed of the water flow. Slowing water flow causes sedimentation in the river mouth so that sedimentation occurs at the mouth of the river mouth. The mouth of the Serayu river estuary has undergone a morphological change due to the presence of a sand spit that covers the mouth of the river estuary so that it experiences a diversion to the area. From the results of the SED2D modeling there was a change in the base elevation in the mouth of the river mouth with the existing conditions of 11. 79% - 30. In the groundsill planning conditions an increase of 0. 35%, resulting in a decrease in elevation of 11. 56% - 30. Changes in the base elevation in the jetty planning conditions decreased by 0. 47% from the existing conditions, so there was a change in evelation for 1 year amounting to 0. 06% - 29. Based on the sedimentation pattern that has been modeled on the groundsill planning conditions and jetty planning conditions by considering changes in the base elevation, then what is used as an estuary safety building is a long type jetty. Before planning the jetty, dredging is needed around the mouth of the Serayu River estuary to a depth of -3. 00 m. KeywordsAiGroundsill, jetty, river estuary mouth Serayu, sediment PENDAHULUAN uara sungai merupakan bagian hilir dari sungai yang berhubungan langsung dengan Permasalahan muara sungai dapat dilihat dari bagian mulut sungai dan estuari. Mulut sungai adalah bagian paling hilir dari muara sungai yang langsung bertemu dengan laut. Estuari adalah bagian sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut. Muara sungai berfungsi sebagai keluarnya debit sungai terutama pada saat banjir ke laut. Letak muara sungai yang berada diujung hilir menyebabkan debit aliran dimuara lebih besar dari pada sungai di wilayah Muara Sungai Serayu terletak di wilayah kabupaten Cilacap, tepatnya di kecamatan Adipala dan kecamatan Kesugihan sedangkan hulu sungai Serayu berada di kabupaten Wonosobo. Sungai Serayu melintasi 5 kabupaten, yaitu Wonosobo. Banjarnegara. Purbalingga. Banyumas dan Cilacap. Sungai Serayu memiliki banyak anak sungai dan total daerah aliran Sungai Serayu mencapai 3. 060 kmA. Panjang Sungai Serayu mencapai kurang lebih 151 km. Perubahan kecepatan pada aliran air dimuara sungai akan sering terjadi. Saat aliran air memasuki muara akan terjadi perubahan/transisi pada kecepatan aliran air. Aliran air yang memasuki muara akan kehilangan energinya, sehingga semakin lambat. Aliran air yang melambat menyebabkan terjadinya pengendapan dimuara sungai sehingga terjadi sedimentasi di ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 42 - 51 P a g e | 42 mulut muara sungai serayu. Mulut muara sungai serayu mengalami perubahan morfologi karena adanya lidah pasir . and spi. yang menutupi mulut muara sungai sehingga mulut muara sungai serayu mengalami pembelokan kewilayah Kesugihan, maka warga sekitar dan PLTU Karangkandri yang terkena dampaknya. Permasalahan yang terjadi di Muara Sungai Serayu perlu dikaji untuk mengetahui karakteristik sedimen, perubahan elevasi dasar dan menentukan bangunan pelindung yang tepat untuk menjadi pengaman di sekitar muara Sungai Serayu. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak . dengan pemodelan matematik yaitu SMS. TINJAUAN PUSTAKA Resources Management Associates merupakan model hidrodinamik numerik dua dimensi untuk rata-rata kedalaman dengan metode elemen hingga. RMA2 menghitung solusi elemen hingga bentuk Reynold dari persamaan Navier-Stokes untuk aliran turbulensi dan koefisien viskositas akan digunakan untuk mendefinisikan karakteristik turbulensi. Sistem persamaan yang digunakan dalam RMA2 terdiri dari dua persamaan gerak dalam persamaan Cartesian . Persamaan kontinuitas untuk fluida incompressible adalah sebagai berikut : E Cu Cu E EE A u A h EE ECx CxE E Ch Ca0 E Au xx C 2 u Au xy C 2 u gu A gE A A A 2 u2 A v2 A 0 A Cy C h E Cx Cx E A Cx E Ch Ca E Au C v Au yy C v A u A v A g EE A 0 EE A xx A 2 u2 A v2 A 0 Dengan : u = Kecepatan horizontal aliran arah-x , v = Kecepatan horizontal arah-y, = Fungsi waktu , g = Percepatan gravitasi , h = Kedalaman air, a0 = Elevasi dari dasar tampang. A = Massa jenis. Auxx = Koefisien pertukaran turbulensi normal arah-x. Auxy = Koefisien pertukaran turbulensi tangensial arah-x. Auyx = Koefisien pertukaran turbulensi tangensial arah-y. Auyy = Koefisien pertukaran turbulensi normal arah-y. C = Koefisien kekasaran Chezy . Manning, n = . Analisa sedimentasi diperlukan untuk mengetahui tingkat sedimentasi pada suatu muara, sehingga bisa diketahui tingkat keamanan sebuah struktur yang dibangun dari adanya Analisa sedimentasi dilakukan dengan software SED2D version 8. Persamaanpersamaan dasar yang dipakai adalah sebagai berikut : C E CC E C E CC E EE D y E AA 1C A A 2 E Dx Cx E Cx E Cy E Cy EE ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 43 - 51 P a g e | 43 Dengan: =Konsentrasi . g/m. , x, y =Arah aliran primer dan arah aliran yang tegak lurus dengannya . , u, v =Kecepatan arah aliran primer dan tegak lurus dengannya . Dx. Dy = Koefisien difusi efektif pada arah x dan y . A 1. A 2= Koefisien sumber sedimen METODE PENELITIAN 1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di muara sungai Serayu tepatnya di Kecamatan Adipala dan Kecamatan Kesugihan. Kabupaten Cilacap. Lokasi pengambilan sampel berada diwilayah Kecamatan Adipala. Pengambilan sampel sedimen di bagi menjadi 3 titik, yang tepatnya berada dijarak 50-150 meter dari tepian sand spit. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan april Pemodelan geometrik dimulai dari BM 6 sampai laut dengan elevasi 14 meter. Gambar 1. Lokasi Penelitian Keterangan : 1A = Sedimen dasar 1B = Sedimen melayang 2A = Sedimen dasar 2B = Sedimen melayang 3A = Sedimen dasar 3B = Sedimen melayang Gambar 2. Patok BM. ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 44 - 51 P a g e | 44 2Data Penelitian 1Data primer Data primer berupa data sedimen yang merupakan data untuk menjadi sampel pada pengujian di Laboratorium Geoteknik, untuk pemeriksaan karakteristik sedimen. Dimana, sampel sedimen ini diambil langsung pada titik pengambilan sampel yang sudah ditentukan. Pengujian sampel berupa karakteristik sedimen meliputi berat jenis sedimen dan analisa butiran. 2Data sekunder 1Data debit Data debit dalam penelitian ini diperoleh dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Serayu-Citanduy. Data debit yang akan digunakan yaitu data debit bendung gerak serayu pada tahun 2018, dengan diambil debit maksimum dan debit minimum pada tahun 2018. Debit maksimum terjadi diambil pada tanggal 22 februari sebesar 1080,030 m3/s, sedangkan debit minimum terjadi diambil pada tanggal 1 september 2018 sebesar 51,504 m3/s. 2Data pasang surut Data pasang surut digunakan sebagai material dalam pemodelan di software SMS. Data pasang surut diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Cilacap. Pasang surut yang digunakan pada saat debit maksimum dan debit minimum terjadi. 3Peta bathimetri Peta batimetri diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. Peta batimetri digunakan sebagai dasar pemodelan geometrik pada software SMS. Peta batimetri diperoleh dalam bentuk file dengan format . dwg, sehingga peta batrimetri harus dirubah format terlebih dahulu menjadi . dxf sebelum digunakan untuk menjadi dasar pemodelan geometrik. 4Metode pengambilan sampel Pengambilan sampel sedimen dibagi menjadi 3 titik sampel. Setiap 1 titik pengambilan sampel terdapat 2 sampel sedimen, yaitu sedimen melayang dan sedimen dasar. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sederhana dikarenakan terbatasnya alat dan biaya dalam penelitian ini. Pengambilan sampel untuk sedimen dasar menggunakan kaleng cat untuk mengangkut sedimen dasar, sedangkan sedimen melayang menggunakan botol untuk mendapatkan sampel sedimen yang melayang. 5Pemodelan Surface-Water Modeling System 8. Pemodelan Surface-Water Modeling System yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu yang pertama memodelkan geometrik, setelah geometrik sudah dibuat kemudian membuat pemodelan pada modul RMA2 dan SED2D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengujian Karakteristik Sedimen Dasar Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui jenis karakteristik pada sampel sedimen yang sudah diambil dimuara sungai Serayu. Estimasi waktu pengujian sampel sedimen selama kurang lebih 1 bulan. Sedimen dasar pada muara sungai Serayu dilakukan pengujian seperti berat jenis, analisa hidrometer, analisa saringan dan kadar air. Hasil pengujian adalah sebagai berikut : ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 45 - 51 P a g e | 45 Tabel 1 Hasil Pengujian Karakteristik Sedimen Dasar Nama Pengujian Berat Jenis Sedimen Kadar Air Sedimen D60 D30 D10 Klarifikasi Jenis Sedimen 2,560 56,170% 0,035 mm 0,013 mm 0,008 mm 4,375 0,604 Lempung Lanau Hasil Pengujian 2,085 35,330% 0,440 mm 0,035 mm 0,005 mm 88,000 0,557 Lempung Berpasir 2,200 40,650% 1,000 mm 0,052 mm 0,009 mm 0,300 0,300 Lempung Berpasir 2Pengujian Karakteristik Sedimen Melayang Untuk mengetahui jenis karakteristik pada sedimen melayang, maka perlu dilakukannya pengujian seperti uji padatan tersuspensi total, uji kebutuhan oksigen kimiawi, uji kebutuhan oksigen biokimia dan kadar lumpur. Pengujian ini dilakukan dengan estimasi waktu pengujian selama 1 minggu. Tabel 2Hasil Pengujian Karakteristik Sedimen Dasar Nama Pengujian Total Suspended Solid Chemical Oxygen Demand Biochemical Oxygen Demand Kadar Lumpur Hasil Pengujian 1,500 0,500 1,500 144,000 16,000 76,000 1,800 2,200 2,000 1,040 1,038 1,044 Satuan mg TSS/L g/5ml 3Pemodelan Software Surface-Water Modeling System 8. 1Pemodelan Geometrik Pemodelan geometrik yaitu sebagai dasar dalam melakukan pemodelan, sebelum melakukan pemodelan dengan RMA2 dan SED2D. Pemodelan geometrik dibuat berdasarkan data bathimetri yang sudah diperoleh dan diubah dalam bentuk file dxf. ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 46 - 51 P a g e | 46 Gambar 3. Mesh model pada perairan muara sungai serayu kondisi eksisting 2Pemodelan RMA2 Pemodelan pola arus menggunakan modul RMA2 untuk melakukan simulasi. Simulasi pola arus akan dimodelkan sebanyak 6 pemodelan selama 24 jam, yaitu dengan membandingkan saat terjadi debit besar dan saat terjadi debit kecil pada muara sungai serayu dengan kondisi eksisting dan kondisi sesudah adanya bangunan jetty dan groundsill sebagai bangunan pengaman. Data debit yang dipakai dari bendung gerak serayu yang terjadi pada Data pasang surut diambil pada saat debit besar dan debit kecil terjadi dengan nilai Dilakukan pemodelan menggunakan RMA2 didapatkan kecepatan aliran dalam muara sungai serayu seperti tabel berikut: Tabel 3Hasil pemodelan RMA2 pada saat debit besar Lokasi BM 6 BM 6 BM 4 Timur Delta BM 4 Barat Delta BM 3 Timur Delta BM 3 Barat Delta BM 2 BM 1 Mulut Muara Kawasan Pantai Titik Perencanaan Groudnsill Kondisi Eksisting 0,848 1,685 0,782 0,661 1,341 1,060 0,740 0,002 0,627 Ae 0,976 0,032 Ae 0,677 0,816 Hasil Simulasi Kondisi Perencanaan Groundsill 0,920 1,539 0,859 0,733 1,354 1,031 0,894 0,001 0,549 Ae 0,684 0,028 Ae 0,805 0,815 Kondisi Perencanaan Jetty 0,869 1,1771 0,833 0,569 1,24 1,035 0,877 0,337 0,198 Ae 0,351 0,313 Ae 0,407 0,815 *satuan m/s ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 47 - 51 P a g e | 47 Tabel 4Hasil pemodelan RMA2 pada saat debit kecil Lokasi BM 6 BM 6 BM 4 Timur Delta BM 4 Barat Delta BM 3 Timur Delta BM 3 Barat Delta BM 2 BM 1 Mulut Muara Kawasan Pantai Titik Perencanaan Groudnsill Kondisi Eksisting 0,040 0,068 0,037 0,036 0,057 0,056 0,033 0,000 0,023 Ae 0,039 0,006 Ae 0,036 0,035 Hasil Simulasi Kondisi Perencanaan Groundsill 0,042 0,068 0,039 0,037 0,057 0,056 0,031 0,000 0,028 Ae 0,037 0,013 Ae 0,025 0,040 Kondisi Perencanaan Jetty 0,041 0,065 0,041 0,038 0,058 0,054 0,031 0,015 0,015 Ae 0,02 0,018 Ae 0,018 0,036 *satuan m/s . Gambar 4 Sampel Pemodelan RMA2 kondisi eksisting dengan debit besar : . Kecepatan dalam bentuk vektor, . Kecepatan dalam bentuk tracer 3Pemodelan SED2D Jaring-jaring elemen yang digunakan dalam simulasi pola arus juga digunakan dalam simulasi sedimentasi. Data sedimen yang digunakan material yaitu d60 = 0,492 mm dengan asumsi konsentrasi sedimen = 0,015 kg/m3. Sedimen dicurahkan ke muara sungai serayu dengan debit besar dan debit kecil selama 720 jam . dengan kondisi hidrodinamika untuk simulasi sedimen menggunakan simulasi RMA2 yang disimulasi selama 24 jam. Setelah dilakukan simulasi maka didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 3Hasil Pemodelan SED2D Pemodelan Kondisi Eksisting Kondisi PerencanaanGroundsill Kondisi Perencanaan Jetty Satuan Debit Besar Debit Kecil 0,090 Ae 0,245 0,0022 Ae 0,0032 0,089 Ae 0,248 0,0021 Ae 0,0032 0,242 0,0001 Ae 0,0031 *Satuan dalam bentuk m . ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 48 - 51 P a g e | 48 . Gambar 5Sampel Pemodelan SED2D dengan debit besar: . Kondisi Eksisting, . Kondisi PerencanaanGroundsill, . Kondisi PerencanaanJetty 4Perubahan elevasi dasar selama 1 tahun Hasil perubahan elevasi dasar merupakan hasil simulasi dari pemodelan SED2D, yang disimulasikan selama 720 jam atau 30 hari kemudian diasumsikan selama 1 tahun. Hasil perubahan dasar selama 1 tahun ini diasumsikan dari hasil simulasi selama 1 bulan dengan dikalikan selama 12 bulan dengan asumsi debit besar terjadi selama 2 bulan sedangkan debit kecil terjadi selama 10 bulan dan pertumbuhan sedimen merupakan fungsi linier. Setelah diasumsikan perubahan elevasi dasar selama 1 tahun dengan debit besar terjadi selama 2 bulan dan debit kecil terjadi selama 10 bulan, maka didapatkan hasil perubahan dasar yang terjadi dimulut muara sungai dengan kondisi eksisting sebesar 11,79% - 30,20%. Pada saat disimulasikan dengan kondisi perencanaan groundsill terjadi kenaikan sebesar 0,35%, sehingga penurunan elevasi dasar dengan kondisi perencanaan groundsill sebesar 11,56% - 30,55%. Perubahan elevasi dasar yang terjadi dengan kondisi perencanaan jetty terjadi penurunan sebesar 0,47% dari kondisi eksisting, maka kondisi perencanaan jetty terjadi perubahan evelasi selama 1 tahun sebesar 0,06% - 29,73%. 5Perubahan morfologi muara sungai Serayu Setelah menentukan bangunan yang tepat sebagai bangunan pengendali sedimen dan membeloknya mulut muara sungai serayu yaitu bangunan jetty dengan tipe panjang, maka terjadi perubahan morfologi dengan terjadinya pengerukan lidah pasir atau sandspit disekitar mulut muara sungai serayu. Pengerukan kedalaman muara sungai serayu dilakukan hingga -3,00 m. Elevasi muara sungai serayu sebelum dilakukannya perencanaan jetty, terlebih dahulu dilakukan pengerukan pada elevasinya hingga kedalaman -3,00 m. Pada elevasi 2,00 m dengan luas area 16888,123 m2 dikeruk sedalam 5 m hingga kedalaman elevasi -3,00 m, sedangkan pada elevasi 1,00 m dengan luas area 38292,862 m2 dikeruk sedalam 4 m hingga kedalaman elevasi -3,00 m. Pada elevasi 0,50 m dengan luas area 116668,454 m2 dikeruk sedalam 2,5 m hingga kedalaman elevasi -3,00 m, sedangkan pada elevasi -1,00 m dengan luas area ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 49 - 51 P a g e | 49 219161,296 m2 dikeruk sedalam 2 m hingga kedalaman elevasi -3,00 m dan pada elevasi -2,00 m dengan luas area 89133,281 m2 dikeruk sedalam 1 m. Sebelum dilakukannya perencanaan jetty di muara sungai serayu, untuk elevasi 2,00 m terjadi pengerukan sebesar 84. 440,615 m3, sedangkan dielevasi 1,00 terjadi pengerukan 171,448 m3, untuk elevasi -0,50 m terjadi pengerukan sebesar 291. 671,135 m3, elevasi -1,00 m terjadi pengerukan sebesar 438. 322,592 m3, sedangkan elevasi -2,00 m terjadi pengerukan sebesar 89. 133,281 m3. Jadi total pengerukan disekitar mulut muara sungai serayu dan pantai disekitar bangunan jetty sebesar 1. 739,071 m3. Penumpukan sedimen yang terjadi disekitar mulut muara sungai serayu dalam waktu 5 tahun sebesar 0,007 m Ae 2,560 m, sedangkan kedalaman muara sungai serayu hanya -3,00 m. Maka bangunn jetty yang digunakan sebagai pengaman muara sungai serayu diperlukan perawatan dengan dilakukan pengerukan sedimen disekitar mulut muara sungai serayu, supaya tidak terjadinya penutupan muara sungai serayu. Pengerukan sedimen dilakukan dalam kurun waktu 15 tahun sekali atau bisa dengan cara sederhana yaitu disekitar mulut muara sungai serayu dilokasi titik tertentu dilakukan pertambangan pasir supaya tidak terjadinya pendangkalan disekitar mulut muara sungai serayu. Titik perencanaan Groundsill Titik perencanaan jetty di Kec. Kesugihan Titik perencanaan jetty di Kec. Adipala Gambar 6 Perubahan morfologi muara sungai Serayu KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : C Dari hasil pengujian karakteristik pada sampel sedimen yang diambil dimuara sungai serayu didapatkan hasil berat jenis rata-rata sebesar 2,312. Dengan diameter butiran (D. rata-rata sebesar 0,492 mm, sedangkan uji total suspended solid terbesar 1,5 mg/l. Berdasarkan segitiga tekstur nama tanah menurut USDA, dilokasi 1A tanah berjenis lempung lanau . ilt loa. sedangkan dilokasi 2A dan 3A tanah berjenis lempung berpasir . andy loa. ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 50 - 51 P a g e | 50 C Hasil pemodelan pola arus dengan RMA2 disimulasikan selama 24 jam memperoleh hasil kecepatan arus disekitar mulut muara sungai serayu dimana pada saat debit besar terjadi dengan kondisi eksisting sebesar 0,627 m/s Ae 0,976 m/s, kondisi perencanaan groundsill sebesar 0,549 m/s Ae 0,684 m/s, kondisi perencanaan jetty sebesar 0,198 m/s Ae 0,351 m/s. Sedangkan pada saat debit kecil terjadi dengan kondisi eksisting sebesar 0,023 m/s Ae 0,039 m/s, kondisi perencanaan groundsill sebesar 0,028 m/s Ae 0,037 m/s, kondisi perencanaan jetty sebesar 0,015 m/s Ae 0,020 m/s. Dari hasil pemodelan SED2D yang disimulasikan selama 720 jam atau 30 hari dengan diasumsikan selama 1 tahun terjadi perubahan elevasi dasar dimulut muara sungai dengan kondisi eksisting sebesar 11,79% - 30,20%. Pada saat disimulasikan dengan kondisi perencanaan groundsill terjadi kenaikan sebesar 0,35%, sehingga penurunan elevasi dasar dengan kondisi perencanaan groundsill sebesar 11,56% 30,55%. Perubahan elevasi dasar yang terjadi dengan kondisi perencanaan jetty terjadi penurunan sebesar 0,47% dari kondisi eksisting, maka kondisi perencanaan jetty terjadi perubahan evelasi selama 1 tahun sebesar 0,06% - 29,73%. C Berdasarkan pola sedimentasi yang telah dimodelkan dengan software surface-water modeling system dalam kondisi perencanaan groundsill dan kondisi perencanaan jetty dengan mempertimbangkan perubahan elevasi dasar, maka yang digunakan sebagai bangunan pengaman muara yaitu jetty tipe panjang. C Sebelum dilakukannya perencanaan jetty di muara sungai serayu, maka diperlukannya pengerukan disekitar mulut muara sungai serayu hingga kedalaman -3,00 m. Jadi total pengerukan disekitar mulut muara sungai serayu dan pantai disekitar bangunan jetty sebesar 739,071 m3. Penumpukan sedimen yang terjadi disekitar mulut muara sungai serayu dalam waktu 5 tahun sebesar 0,007 m Ae 2,560 m, sedangkan kedalaman muara sungai serayu hanya -3,00 m. Maka diperlukan perawatan dengan dilakukan pengerukan sedimen disekitar mulut muara sungai serayu, supaya tidak terjadinya penutupan muara sungai serayu. Pengerukan sedimen dilakukan dalam kurun waktu 15 tahun sekali atau bisa dengan cara sederhana yaitu disekitar mulut muara sungai serayu dilokasi titik tertentu dilakukan pertambangan pasir untuk mencegah terjadinya pendangkalan disekitar mulut muara sungai SARAN Adapun saran setelah dilakukannya penelitan dan supaya berguna untuk peningkatan dalam penelitian selanjutnya : C Diperlukannya penelitian lebih lanjut untuk menggunakan data debit dari hasil pengamatan dan pengukuran langsung disekitar muara sungai serayu supaya data penelitan lebih akurat. C Pengambilan sampel untuk penelitian selanjutnya diharapkan dengan cara melintang dan memanjang muara sungai serayu. C Ruang lingkup penelitian ini hanya dari akibat laju pengendapan muara sungai serayu, jika akan dilakukan penelitian lanjutan maka pengendapan disepanjang pantai disekitar muara sungai serayu dapat ditinjau. C Diperlukannya perencanaan struktur bangunan jetty tipe panjang. C Diperlukannya penelitian lebih lanjut tentang manajemen biaya dalam melakukan penanganan pengerukan sedimen atau pertambangan pasir disekitar muara sungai. C Diperlukannya penelitian dimuara sungai serayu dengan metode, software dan parameter ISSN 2477 - 5258 Jurnal Teknik Sipil Universitas Teuku Umar Volume 6. No. 1 April 2020 P p. 51 - 51 P a g e | 51 DAFTAR PUSTAKA