p-ISSN: 2776-3919 e-ISSN: 2776-2513 Vol. No. April 2022, page 49Ai58 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/21 Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah Sampeq Kenyah's Commodification of Musical Culture Bayu Arsiadhi Putra*. Program Doktor. Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Email: bayuarsiadhiputra@gmail. Aris Setyoko. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Mulawarman. Email: aris. setyoko@fib. Received: 16 Maret 2022 Accepted: 17 May 2022 Published: 19 May 2022 Keywords: the commodification of culture, sampeq music. Dayak Kenyah. Kata kunci: komodifikasi budaya, musik sampeq. Dayak Kenyah. Abstract: The Dayak people of East Kalimantan have long been involved in the world of tourism. There is a cultural village in Samarinda called Pampang, mostly inhabited by the Dayak Kenyah community. In many ways, the government 'takes care of' the development of the Kenyah Pampang community, including its culture and music. It can indicate the government's concern for marginalized groups. However, at the same time, images of 'original', 'exotic' and 'primitive' cultures are being constructed to fit into commodified 'goods'. This view does affect not only the Dayaks themselves but also the government, tourists and private institutions involved in it. This paper aims to discuss how the history of the commodification of Kenyah's musical culture. The research method used is descriptive qualitative with a historical approach. The study results show that the development of the Kenyah Pampang community's musical culture cannot be separated from the commodification brought in by the tourism body. The commodification of Dayak Kenyah's music culture has changed relations among the people, increasing competition and suspicion, both intra and between ethnic groups. Often commodification is carried out with ideology, as in an effort to 'purify tradition'. Abstrak: Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur telah lama mengambil bagian dalam dunia Terdapat sebuah desa budaya di Samarinda bernama Pampang, yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat Dayak Kenyah. Dalam banyak hal pemerintah AomengurusAo pembangunan masyarakat Kenyah Pampang, termasuk budaya dan Hal ini dapat menandakan kepedulian pemerintah terhadap kelompok Namun saat bersamaan, imaji-imaji tentang kebudayaan AoasliAo. AoeksotisAo dan AoprimitifAo sedang didikonstruksi agar layak menjadi AobarangAo komodifikasi. Pandangan ini tidak hanya mempengaruhi Orang Dayak Sendiri tetapi juga pemerintah, wisatawan dan lembaga swasta yang terlibat di dalamnya. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas bagaimana sejarah komodifikasi budaya musik sampeq Kenyah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan budaya musik masyarakat Kenyah Pampang tidak lepas dari komodifikasi yang dibawa dalam tubuh Pariwisata. Komodifikasi budaya musik Dayak Kenyah telah mengubah relasi di antara masyarakat, meningkatkan persaingan dan kecurigaan, baik intra maupun antar etnis. Seringkali komodifikasi dijalankan dengan ideologi, seperti dalam upaya Aomemurnikan tradisiAo. Citation: Putra. , & Setyoko. Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 2. , 49-58. https://doi. org/10. 30872/mebang. Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah Pendahuluan Masyarakat Dayak di Kalimantan Timur telah lama mengambil bagian dalam dunia Terdapat sebuah desa budaya di Samarinda bernama Pampang, yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat Dayak Kenyah. Para wisatawan apabila berkunjung ke tempat ini dapat menyaksikan cuping (AuIbu-ibu Kenyah bertelinga panjangA. , lamin . umah panjan. , pakaian tradisional, ukiran khas Kenyah, ritual, hingga pertunjukan musik sampeq dan tari tradisional masyarakat Kenyah. Setiap tahunnya tempat ini mendatangkan banyak kunjungan wisatawan, disamping itu memperoleh dukungan dari pemerintah guna pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah desa budaya. Dalam banyak hal pemerintah AomengurusAo pembangunan masyarakat Kenyah Pampang, hal ini dapat menandakan kepedulian pemerintah terhadap kelompok marjinal. Namun saat bersamaan, imaji-imaji tentang kebudayaan AoasliAo. AoeksotisAo dan AoprimitifAo sedang didikonstruksi agar layak menjadi AobarangAo komodifikasi. Pandangan ini tidak hanya mempengaruhi Orang Dayak Sendiri tetapi juga pemerintah, wisatawan dan lembaga swasta yang terlibat di dalamnya. Kecenderungan menginginkan tradisi yang AootentikAo merupakan ancaman dalam kacamata poskolonial. Karena pasti sulit untuk menentukan mana yang otentik dari sebuah kebudayaan, dan akhirnya mengabaikan Aokontak budayaAo yang telah menempa suatu budaya. Dengan kata lain, kebudayaan akan selalu dipandang statis tanpa mengalami perubahanperubahan. Oleh karena itu. Orang Dayak dianggap tidak memiliki pilihan-pilihan . yang selalu direduksi ke dalam kepentingan politik dan ekonomi melalui slogan-slogan AomemperadabkanAo melalui pariwisata. Banyak peneliti dan penulis menggambarkan Orang Dayak, terutama dalam bidang musik dan seni pertunjukan. Gorlinski . meneliti skala dan tangga nada musik sampe untuk menyoroti kesamaan dan ketidaksamaan dengan tradisi musik di Asia. Hose . 3, hal. Aumantra cinta banyak digunakan oleh Orang Kayan dan Kenyah, karena mereka lebih suka mengandalkan kekuatan musik dan daya tarik pribadiAy. Krohn . menggambarkan masyarakat Kenyah memiliki sensivitas dan wawasan musik secara Peneliti Indonesia. Maunati . meneliti nilai-nilai budaya Dayak sebagai daya yang bernilai komoditas bagi wisatawan internasional dan domestik. Artikel ini merupakan kombinasi dari apa yang telah dibahas oleh para peneliti dan penulis di atas, yaitu membahas bagaimana sejarah komodifikasi budaya musik sampeq Kenyah. Lebih lanjut, tulisan ini mengasumsikan bahwa Orang Dayak membagikan keagenan mereka meskipun dalam tekanan komodifikasi. Oleh karena itu, tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas bagaimana sejarah komodifikasi budaya musik sampeq Kenyah. Metode Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sejarah. Pendekatan kualitatif ini (Bogdan & Biklen, 2. memiliki karakteristik sebagai berikut: . sumber data langsung dalam situasi wajar, . bersifat deskriptif, . mengutamakan proses dari pada produk atau hasil, . analisis data secara deskriptif, dan . mengutamakan makna. Data-data yang diperoleh dalam penelitian kemudian disusun, dijelaskan, dianalisa berdasarkan teori yang ada untuk selanjutnya ditarik kesimpulannya (Surakhmad, 1. Situasi yang wajar merujuk kepada proses serta aktivitas pada saat Bayu Arsiadhi Putra & Aris Setyoko pengumpulan informasi melalui observasi terhadap situasi dan manusia yang diobservasi. Pada penelitian ini data diperoleh dengan melakukan pengamatan, observasi, wawancara, dokumentasi penelitian, dan data-data lainnya yang dibutuhkan sebagai instrumen penelitian. Alasan menggunakan metode penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa metode ini dianggap relevan dengan materi penulisan ini. Dalam konteks penulisan sejarah, tulisan ini menerapkan pandangan T. Clark. menegaskan, untuk mengidentifikasi momen-momen sejarah sosial seni diperlukan penyelidikan tentang patronase, dan status seniman. Ideologi merupakan interseksi dari kedua aspek tersebut. Ideologi diartikan sebagai AualatAy untuk menaturalisasi pertentangan, membuat represi menjadi normal, dan membayangkan pertentangan-pertentangan seolah-olah terselesaikan (Clark, 1. Dalam The German Ideology, ideologi-ideologi yang paling tersebar dan banyak dianut oleh suatu masyarakat itu mencerminkan kepentingankepentingan dari kelas sosial yang dominan (Marx & Engels dalam Loomba, 2. Lebih lanjut. Loomba . 3, hal. mengatakan ideologi adalah produk dari kehidupan sosial dan Pembahasan 1 Komodifikasi Budaya di Desa Budaya Pampang Orang Kenyah tiba di desa Pampang pada awal 1970-an. Mereka melakukan migrasi panjang dari suatu tempat bernama Apau Kayan (Kabupaten Bulunga. yang berada di sekitar dataran tinggi dekat perbatasan Indonesia dan Sarawak. Malaysia. Berdasarkan cerita populer di masyarakat Kenyah Pampang, terdapat tiga keluarga yang berangkat bersama-sama melalui perjalanan sungai yang sangat sulit karena melewati riam cukup tinggi dan deras. Tidak jarang mereka harus menginap di suatu daerah sebelum melanjutkan perjalanan. Alasan untuk melakukan perjalanan berisiko ini adalah pertanian yang selalu gagal panen, kekurangan bahan makanan pokok karena harga melambung tinggi di hulu, dan tidak ada akses pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak mereka. Ketika sampai di Pampang, sebuah daerah berjarak lebih kurang 30 Km dari Samarinda, mereka bergabung dengan Orang Kenyah lainnya yang juga mengalami kesulitan bertahan hidup dalam komunitas terpencil. Jika dibandingkan dengan hari ini, perjalanan ke Pampang dari Apau Kayan bisa memakan waktu lebih dari sebulan melalui jalur sungai. Seiring waktu, populasi desa Pampang terus Terdapat etnis lain yang menetap di sana, misalnya Bugis. Kutai. Batak dan Banjar. Bahkan, beberapa penduduk Dayak Kenyah ada yang menikah dengan orang dari etnik bukan Kenyah. Sampeq merupakan alat musik petik warisan budaya Dayak. Menurut salah satu informan di Pampang, sampeq tidak ikut serta dibawa dalam migrasi Apau Kayan-Pampang. Sampeq di buat di Pampang dengan bahan-bahan kayu yang tersedia di daerah tersersebut. Informan juga menyebutkan, sampeq yang sediakala dipakai untuk kegiatan-kegiatan memadu kasih antara pria dan wanita telah menjadi nostalgia. Sampeq di masyarakat Pampang sekarang berfungsi untuk mengiringi kanjet . ari sol. dan datun . ari kelompo. Tari memiliki posisi tinggi dalam Budaya Kenyah. Selain menjadi sarana untuk mengekspresikan keindahan, tari dapat menyimbolkan kegagahan dan keberanian . isal, kanjet laki, tari perang tunggal laki-lak. Hal tersebut tidak lepas dari budaya perang masyarakat Dayak di zaman dahulu, yang mana kebanggaan terhadap identitas budaya sangat Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah berakar kuat. Dalam banyak kasus, penamaan musik sampeq sama dengan tari. Misalnya, tari Punan LetoAo, musiknya juga disebut dengan musik Punan LetoAo. Dua dekade kemudian, masyarakat Kenyah Pampang menginginkan agar ada perbaikan taraf kesejahteraan hidup mereka. Karena itu, kepala adat desa Pampang bekerjasama dengan kepala adat besar masyarakat Kenyah di Samarinda berniat memperluas upacara panen tahunan . alas tau. Dengan cara kreatif, mereka menyulap upacara menjadi festival, yang melibatkan kerjasama dari pejabat-pejabat Kota Samarinda dan Propinsi Kalimantan Timur. Barangkali kegiatan ini sekaligus untuk memberitahukan tentang kondisi desa dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Kenyah Pampang. Gubernur dan Walikota diundang ke perayaan tersebut. Beberapa penduduk kemudian mengorganisir kelompok musik sampeq dan para penari untuk menghibur pejabat yang akan datang. Beberapa orang Kenyah lain membuat kerajinan yang dapat dibawa pulang oleh tamu untuk selalu mengingat Desa Pampang. Menurut Amai, pelas taun pertama sangat meriah, dan pertama kalinya sampeq dimainkan dengan pengeras suara melalui empat orang secara bersamaan. Khusus untuk kegiatan ini, beberapa pemuda membuat sampeq baru yang pengerjaannya memakan waktu lebih kurang dari tiga bulan. Sementara itu, orang-orang kaya dari masyarakat Kenyah menanggung semua biaya produksi pembuatan sampeq. Ketika ditanya tentang siapa orang itu, narasumber hanya mengingat jika ia berasal dari golongan bangsawan yang tinggal di kota. Orang Kenyah mempraktikkan sistem hierarki sosial secara turun-temurun yang mencakup paren . dan panyin . akyat jelat. Seiring waktu, pola kepemimpinan tradisional berangsur-angsur berubah seiring dengan semakin banyaknya desa yang bergabung menjadi desa urban, dan karena adanya peran dari para pemimpin gereja (Conley, 1. Oleh sebab itu, pertanyaan tentang strata sosial, relasi kuasa dan seni Dayak tentu menarik untuk dibahas. Namun, penulis tidak tidak akan mengarahkan tulisan ini untuk perdebatan tersebut. Dinas Pariwisata provinsi menetapkan Pampang sebagai desa budaya pada tahun 1991. Penunjukan itu dirayakan dengan pendirian belawing Autugu kesatuanAy yang diukir di halaman depan lamin . umah panjan. Meski demikian, penetapan pampang sebagai desa wisata dikemudian hari menimbulkan banyak persoalan. Salah satunya adalah wisatawan yang berkunjung merasa tertipu, karena tidak menemukan kehidupan asli masyarakat Dayak. Sementara rumah lamin yang berada di Pampang dianggap AominiaturAo karena fungsi aslinya telah hilang (AuPerjalanan Panjang Masyarakat Pampang,Ay 1. Rumah panjang adalah tempat tinggal tradisional yang umumnya berisi puluhan orang dan mencerminkan organisasi sosial Dayak Kenyah (Whittier, 1. Menanggapi kritikan tersebut seorang dosen dari perguruan tinggi negeri di Kalimantan Timur, yang juga aktivis Dayak dengan tegas membantah bahwa Pampang tidak disebut desa budaya karena arsitekturnya. Ia menegaskan jika Pampang dianggap sebagai desa budaya Aukarena keberadaan suku Dayak Kenyah yang mempertahankan adat dan tradisinya, seperti dalam melakukan upacara panen, cara mereka menerima tamu, dan melalui tarian, lagu, dan keterampilan dalam mengukir (Laden, 1. Pada tahun 1998, kepala adat desa budaya Pampang mengusulkan kepada penduduk untuk menghadirkan pertunjukan tari dan musik di lamin secara rutin. Meski penentuan hari sempat dipermasalahkan orang beberapa warga, namun kegiatan pertunjukan tari dan musik di lamin pemung tawai pada Sabtu dan Minggu berlangsung hingga saat ini. Partisipasi anak muda Kenyah Pampang ke dalam latihan dan pertunjukan merupakan bagian integral yang dibutuhkan dalam proses transmisi seni tradisi. Minggu merupakan hari penting bagi masyarakat desa budaya Pampang. Sebagaimana penulis mengamati baru-baru ini, setiap minggu setelah kebaktian gereja, pria, wanita, dan Bayu Arsiadhi Putra & Aris Setyoko anak-anak desa berjalan ke rumah panjang untuk memulai persiapan pertunjukan. Pria-pria berkumpul di sebelah kanan area lamin pertunjukan, dan empat orang duduk di kursi panjang sebelah kiri area pertunjukan yang akan memainkan sampeq (Gambar . Mereka yang berada di area sebelah kanan nantinya bernyanyi untuk penonton selama jeda di antara tarian. Begitu pula, terdapat beberapa perempuan di luar lamin yang membawa keranjang manik-manik, bening aban . endongan bay. Para wanita itu menawarkan barang-barang kerajinan . alung, gantungan kunci, hiasan manik-mani. untuk dijual. Gambar 1. Pemain Musik Sampeq Pampang (Dokumentasi Penuli. Mendekati pukul 14. 00 WITA, wisatawan mulai berdatangan dari Samarinda. Begitu berada di dalam rumah panjang, mereka membeli tiketAimasing-masing sekitar Rp5. 000,00 Berdasarkan seorang narasumber, kegiatan turis berfoto dengan wanita Dayak bertelinga panjang sudah ada sejak menjadi desa budaya. Para turis harus mengeluarkan uang tambahan agar dapat berfoto dengan Orang Dayak. Namun saat ini, hal tersebut tidak lagi diumumkan secara terang-terangan melalui oral, melainkan dengan tulisan yang ditempelkan pada dinding bangunan bawah lamin. Pengunjung dikenakan biaya Rp25. 000,00 untuk mengambil gambar bersama Orang Dayak Kenyah. Acara dimulai dengan sambutan pembawa acara. Setelah menyambut pengunjung, perwakilan desa yang dihormati memimpin penonton membacakan doa. Enam sampai sembilan tarian dimainkan setiap minggu. Mayoritas diadaptasi dari tradisi Kenyah. Beberapa tarian seperti Punan LetoAo atau Autarian perangAy, dan Kanjet Anyam Tali atau Autarian persatuan. Ay Tari pertama bercerita persaingan laki-laki dalam memperebutkan kasih sayang seorang perempuan yang sedang menari di atas gong. Penari laki yang kalah kembali dengan bala bantuan dan menyerang secara massal. Pada tarian kedua, sekelompok gadis menampilkan koreografi rumit yang melibatkan pita warna-warni yang digantung di tiang berukir burung Para gadis membuka dan menutup pita untuk menunjukkan Aukesatuan Suku DayakAy (Gambar . Untuk tarian itu pembawa acara menjelaskan: AuKami orang Dayak berasal dari suku yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda. Tapi kita benar-benar satu. Ay Warna pita yang berbeda mewakili suku yang berbeda. Kita semua hidup rukun di Kampung Budaya Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah Pampang. Setelah semua tari dipentaskan seseorang kembali menyampaikan doa penutup, mengucapkan terima kasih dan berharap selamat dalam perjalanan pulang. Pertunjukan secara keseluruhan berlangsung sekitar satu jam. Setelah pengunjung meninggalkan lamin, pembawa acara mengumumkan pendapatan mereka yang akan dibagi kepada para penampil hari itu. Pengumuman ini disampaikan dalam bahasa Kenyah sehingga hanya penduduk Kenyah yang dapat mengerti. Gambar 2. Kanjet Anyam Tali (Dokumentasi Penuli. Perkembangan pariwisata di Pampang hingga akhirnya memperbesar peluang pemerintah memberikan bantuan. Namun, dari waktu ke waktu. Dinas Pariwisata setempat lebih memfokuskan bantuannya pada proyek-proyek infrastruktur guna meningkatkan daya tarik Pampang. Pada tahun 1996, beberapa gedung baru dibangun di jalan utama desa, yaitu kantor sekretariat, gedung kecil untuk museum, dan tempat transit untuk gubernur. Bangunanbangunan itu kini tampak rusak, barangakali dana pembangunan gedung tidak dibarengi dengan dana pemeliharaan oleh pemerintah. Masyarakat Kenyah Pampang tentu sangat membutuhkan dukungan. Selain infrastruktur, mereka berharap menjadi sejahtera secara finansial. Namun, sebagaimana telah dijelaskan bantuan pemerintah masih terfokus kepada pembangunan fisik. Karena itu, kekecewaan dari penduduk Kenyah seringkali muncul. Auberat mas jadi desa budaya itu, peran dinas kadang gak jelasAy (Komunikasi personal dengan Pak Imang. Gambar . Hal tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan lebih buruk adalah ketidakpercayaan Orang Dayak Kenyah kepada pemerintah. Bayu Arsiadhi Putra & Aris Setyoko Gambar 3. Penulis dengan Tokoh Adat Kenyah Sejak pariwisata berkembang di Pampang, hubungan ekonomi dan sosial di antara penduduk desa mengalami banyak perubahan. Isu siapa yang harus melatih penari muda Pampang merupakan perdebatan panjang diantara pengurus Pampang. Seperti seorang penari Pampang memberitahukan, orang yang memiliki otoritas terhadap tari Kenyah AuasliAy tidak mungkin akan membuat koreografi tarian baru atau bersedia memvariasikan pertunjukan Baginya, padahal hal itu diperlukan guna cara mempertahankan wisatawan dan membuat mereka akan berkunjung lagi. Seperti yang telah disebutkan di awal, masyarakat Kenyah memiliki hierarki strata sosial, sehingga menjadi wajar jika keputusan mengenai kepentingan publik biasanya dibuat oleh anggota masyarakat yang lebih tinggi statusnya. Terlebih lagi orang dari strata sosial atas banyak yang menjadi perpanjangan tangan Mereka tentu akan memiliki otoritas terhadap upah penari dan pemusik terkait dengan proyek-proyek dari pemerintah. Seiring berjalannya waktu, sebuah harian lokal telah menggambarkan keadaan Pampang dalam sebuah tulisan berjudul AuTempat Wisata di SamarindaAy (Kaltim Post 2. , yang mengklaim bahwa Pampang Autidak layak untuk dikunjungi. Ay Padahal menurut perwakilan dari dinas pariwisata kota, yang sekarang bertanggung jawab untuk memperbaiki Pampang, pembangunan di sana baru mulai berjalan. Cetak biru dan rencana telah disusun untuk kompleks budaya yang akan mencakup auditorium dan museum besar, lapangan golf, danau buatan dengan perahu dayung, dan deretan pohon palem untuk menggantikan jalan yang Pemerintah berharap untuk membangun kompleks dengan bantuan dari Bank Dunia. 2 Perjuangan Kenyah di Luar Desa Budaya Pampang Di luar Pampang, penulis menemukan kelompok pemuda Kenyah memainkan sampeq secara rutin di pusat hiburan. Terkadang mereka juga melayani panggilan pertunjukan untuk resepsi pernikanahan dan acara lainnya. Pertunjukan mereka umumnya ansambel sampeq Komodifikasi Budaya Musik Sampeq Kenyah dengan seorang penyayi. Rasa penasaran penulis terhadap mereka adalah mempertanyakan bagaimana awal mula terlibat dalam dunia hiburan publik di kota. Pertanyaan tadi akhirnya terjawab bahwa mereka bisa sampai ke sini melalui grup media sosial pemain sampeq seBorneo yang terbentuk di tahun 2010. Grup media sosial ini berisi semua orang mayoritas Dayak yang tertarik dengan sampeq, baik itu pemain pemula, pemain profesional, bahkan yang sekedar suka dengan suara sampeq. Tidak jarang informasi tentang permintaan untuk penampilan sampeq disebarkan ke dalam grup ini. Dalam sebuah pertunjukan komersil, kelompok musik sampeq Kenyah muda ini memainkan lagu yang sedang populer dan lagu nasional. Untuk mendapat bayaran dan agar diterima oleh penonton, musik mereka juga penuh dengan nuansa AokekinianAo, seperti suara synthesizer yang dibuat ke dalam minus-one, untuk latar belakang suara sampeq. Satu hal yang dapat dicermati terhadap kelompok musik sampeq Kenyah ini, yaitu mereka ada pada interseksi dua dunia: upaya memasuki lanskap musik AomodernAo, pada saat yang sama memanfaatkan akar tradisi sendiri. Dalam pandangan Marxist dapat dikatakan bahwa kelompok musik sampeq Kenyah membentuk musik mereka untuk meningkatkan nilai tukar (Stone, 2008, hal. Gambar 4. Pertunjukan Grup Musik Sampeq Kenyah di Luar Pampang (Dukumentasi Fernando Yonathan Tua. Di Kalimantan Timur, orang Dayak masih merupakan kelompok minoritas (Dayak. Karena itu, mereka menyadari dengan bekerja sama dengan kelompok lain dapat memecahkan masalah bersama dan memupuk identitas ke-Dayak-an bersama. Akan tetapi, merajut identitas budaya bersama bukanlah persoalan mudah. Seperti dalam kasus grup media sosial Pemain Sampeq Se-Borneo di mana wacana tentang kompetisi antar kelompok Dayak meningkat akhir-akhir ini. Misalnya, siapa yang memiliki tarian paling AumenarikAy, siapa yang telah AukehilanganAy budaya. Dalam beberapa kasus, mendesain ulang Aupakaian tradisionalAy adalah cara untuk membuat satu kelompok Dayak lebih spektakuler dibandingkan kelompok Bayu Arsiadhi Putra & Aris Setyoko Dayak lainnya. Pada Gambar 4, juga menunjukan pakaian Dayak Kenyah yang telah Penutup Perkembangan budaya musik masyarakat Kenyah Pampang tidak lepas dari komodifikasi yang dibawa dalam tubuh Pariwisata. Komodifikasi budaya musik Dayak Kenyah telah mengubah relasi di antara masyarakat, meningkatkan persaingan dan kecurigaan, baik intra maupun antar etnis. Seringkali komodifikasi dijalankan dengan ideologi, seperti dalam upaya Aomemurnikan tradisiAo. Pak Imang mengatakan kepada penulis jika dia membayangkan Desa Pampang yang akan hilang ketika para pemain sudah mulai memasukkan unsur tari budaya Gagasan yang dibayangkan Pak Imang tentu saja wajar, akan tetapi itu dipengaruhi oleh pariwisata yang menginginkan budaya Dayak agar Aoselalu asliAo sehingga menjanjikan kunjungan wisatawan. Sementara perjuangan anak muda Kenyah di luar Pampang dalam mengkonstruksi musik sampeq bukan hanya karena sistem sosial yang tidak mendukung mereka di Pampang tetapi juga menginginkan bentuk kerjasama baru. Namun, kerjasama diantara berbagai Dayak dan subnya lagi-lagi diwarnai oleh konflik-konflik kecil karena dilandasi oleh berbagai macam kepentingan dan rasa perbedaan yang telah mengakar dalam masing-masing sub etnis Dayak. Oleh karena itu, penulis merasa bahwa kerjasama yang dibangun antar Dayak sebaiknya mengedepankan peran emosional, bukan kepentingankepentingan, politik, ekonomi dan rasa perbedaan. Referensi