p-ISSN: 2808-2443 e-ISSN: 2808-2222 Volume. No. 4, 2025 Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business ANALISIS PENGELOLAAN KEUANGAN KELUARGA DALAM TRADISI SIDA DI MANGGARAI (STUDI KASUS DI DESA LANGGA SAI KABUPATEN MANGGARAI TIMUR) Prisila Mita Kurnia Mamo1. Wehelmina Mariana Ndoen2. Lia Nur Fadhilah3. Christien Corina Foenay4 1,2,3,4 Universitas Nusa Cendana. Jl. Adisucipto Penfui. Kupang. NTT. Indonesia Email: prisilamitakurniamamo@gmail. Article History Received: 23-11-2025 Revision: 09-12-2025 Accepted: 14-12-2025 Published: 28-12-2025 Abstract. This study aims to analyze family financial management in the implementation of the sida tradition in Langga Sai Village. East Manggarai Regency. Financial management includes planning, organizing, implementing, and supervising. The type of research used is a case study with a qualitative ethnographic approach, where data is obtained through in-depth interviews with 10 informants consisting of traditional leaders, anak wina and anak rona, as well as participatory observation and documentation. The results of this study show that family financial management in the sida tradition has not been implemented In planning, there is a significant disparity between families with fixed incomes who are able to allocate funds systematically and families with irregular incomes who plan reactively. In terms of organization, families find it difficult to balance traditional and household needs. In terms of implementation, additional costs often arise due to social pressure. In terms of monitoring, the majority of families do not conduct financial evaluations. This study emphasizes the importance of improving financial literacy and developing more flexible communication between rona children and wina children in order to achieve a sustainable tradition without burdening family finances. Keywords: Financial Management. Sida Tradition. Family. Manggarai. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan keuangan keluarga dalam pelaksanan tradisi sida di Desa Langga Sai Kabupaten Manggarai Timur. Pengelolaan keuangan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif etnografi, dimana data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 10 informan yang terdiri dari tokoh adat, anak wina dan anak rona, serta observasi partisipatif dan Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengelolaan keuangan keluarga dalam tradisi sida belum terlaksana secara efektif. Pada perencanaan, terdapat disparitas signifikan antara keluarga berpenghasilan tetap yang mampu mengalokasikan dana secara sistematis dengan keluarga berpenghasilan tidak tetap yang merencanakan secara reaktif. Pada pengorganisasian, keluarga kesulitan menyeimbangkan kebutuhan adat dan rumah tangga. Pada pelaksanaan, sering terjadi penambahan biaya akibat tekanan sosial. Pada pengawasan, mayoritas keluarga tidak melakukan evaluasi keuangan. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan dan pengembangan komunikasi yang lebih fleksibel antara anak rona dan anak wina untuk mencapai tradisi yang berkelanjutan tanpa membebani keuangan keluarga. Kata Kunci: Pengelolaan Keuangan. Tradisi Sida. Keluarga. Manggarai How to Sida: Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga Dalam Tradisi Sida Di Manggarai (Studi Kasus Di Desa Langga Sai Kabupaten Manggarai Timu. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 5 . , 7586-7597. 54373/ifijeb. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A PENDAHULUAN Tradisi sida yang dipraktikan oleh masyarakat desa Langga Sai merupakan tradisi dimana pihak anak wina . audara perempuan yang sida menika. ikut berpartisipasi dengan memberikan sejumlah uang atau hewan untuk meringankan kebutuhan anak rona . audara lakilak. dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan dan kematian yang dimana nominal atau jumlah hewan yang akan diberikan sida ditetapkan terlebih dahulu oleh anak rona (Kurnia et , 2. Dalam praktiknya sida sangat membutuhkan uang dengan nominal yang besar dan dikarenakan pada hakekatnya sida wajib dipenehui maka diperlukan kemampuam mengelola keuangan secara efektif oleh masing- masing keluarga (Candra, 2. Tradisi sida merupakan perekat hubungan kekeluargaan antara anak rona . audara lakilak. dan anak wina . audara perempua. yang menekankan solidaritas, rasa cinta, kepedulian, dan bantuan tanpa tuntutan balasan meskipun mereka telah berpisah karena perkawinan. Dalam praktiknya, sida hadir dalam berbagai konteks upacara adat seperti pernikahanterutama dalam prosesi ngo ba paca ketika keluarga laki-laki menyerahkan belis dan anak wina membantu memenuhi kebutuhan tersebut serta dalam upacara kematian, ketika sida diminta dan diserahkan pada rangkaian acara seperti saungta'a hingga pesta kenduri. Nominal sida ditetapkan melalui mekanisme adat yang meliputi pemberitahuan acara oleh anak rona, penetapan jumlah berdasarkan jenis dan skala acara serta kedekatan hubungan kekerabatan, penyerahan secara formal pada hari pelaksanaan, dan pencatatan oleh keluarga anak rona sebagai bentuk pengingat dan dasar hubungan timbal balik di masa mendatang. Pengelolaan keuangan merupakan proses mengelola dana secara efektif yang berkaitan dengan upaya mendapatkan dana serta mengalokasikan dana agar terpenuhnya berbagai kebutuhan (Wulandari et al. , 2. Terry . mengemukakan bahwa pengelolaan keuangan yang efektif harus mencakup empat fungsi yang saling terkait sida sama lain. Keempat fungsi manajemen tersebut adalah planning . , organizing . , actuating . , dan controlling . Pengelolaan keuangan keluarga adalah aspek kunci dalam ketahanan hidup berumah tangga. Individu dan keluarga diharuskan agar mampu mengatur sumber daya keuangan secara efektif karena hal ini akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga, stabilitas sosial, dan kualitas serta keberlanjutan hidup secara keseluruhan (Jagu et al. , 2. Proses pengelolaan keluarga yang baik dimulai dari proses merencanakan, mengorganisir dan mengendalikan pendapatan serta pengeluaran agar bisa menjaga stabilitas keuangan baik dalam jangka pendek maupun keberlanjutannya dalam jangka panjang. Kemampuan ini menjadi aspek kunci mengingat kebutuhan yang semakin kompleks dan meningkatnya tantangan ekonomi keluarga (Auliah et al. ,2. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A Permasalahan dalam pengelolaan keuangan keluarga adalah sumber pendapatan yang tidak menentu akan mendatangkan ketidakseimbangan antara alokasi pemasukan dan pengeluaran Dalam pemenuhan berbagai tuntutan adat keluarga seringkali menanggung biaya dengan nominal yang sangat besar, keluarga dengan pendapatan dibawah rata- rata seringkali mengalami kendala dalam mengontrol keuangan mereka (Zogara et al. ,2. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengelolaan keuangan keluarga dan penghayatan terhadap adat istiadat menjadi tantangan dan isu penting yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia diberbagai Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Manggarai Timur . Sumber pendapatan keluarga di Desa Langga Sai sangat bervariasi, sebagian besar masyarakat mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pemasukan yang utama. Pendapatan dari sektor pertanian sendiri bersifat tidak tetap, karena sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca serta variabilitas harga komoditas. Permasalahan dalam pengelolaan keuangan keluarga ini diperparah oleh faktor struktural seperti tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Otoritas Jasa Keuangan . , hasil survey menyatakan tingkat literasi keuangan di Nusa Tenggara Timur masih 51,95% sementara untuk inklusi keuangannya adalah 85,97%. Rendahnya literasi keuangan Masyarakat Manggarai akan berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam memahami, merencanakan, dan mengalokasikan dana dalam pemenuhan kebutuhan serta investasi (Jerubu et al. , 2. Dalam konteks penghayatan adat istiadat dikalangan masyarakat yang tinggi, pengetahuan literasi keuangan sangat diperlukan agar masyarakat mampu mengalokasikan keuangan secara bijak dan kesejahteraan ekonomi keluarga dapat dipertahankan (Siahaan et al. , 2. Pemahaman yang tinggi akan konsep literasi keuangan akan mempermudah keluarga dalam mengontrol pengalokasian dana berkaitan dengan pemenuhan berbagai tuntutan tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan keuangan keluarga dalam pelaksanaan tradisi Sida di Desa Langga Sai dengan fokus pada bentuk pengelolaan keuangan keluarga dalam memenuhi kewajiban adat berdasarkan empat indikator manajemen keuangan menurut Terry . yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Perencanaan merupakan kegiatan menetapkan tujuan keuangan dan memilih cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk perencanaan anggaran pemasukan dan pengeluaran, perencanaan investasi, serta perencanaan untuk kebutuhan tidak terduga. Pengorganisasian dalam pengelolaan keuangan keluarga untuk memenuhi kewajiban sida menjadi sangat penting karena keluarga harus mengatur alokasi dana tidak hanya untuk kebutuhan adat, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, dan kesehatan. Pelaksanaan menjadi tantangan tersendiri karena keluarga harus disiplin dalam mengelola kas, mengendalikan pengeluaran. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A serta mengatur utang agar tidak menimbulkan masalah jangka panjang. Pengawasan memungkinkan keluarga untuk membandingkan realisasi pengeluaran dengan rencana awal dan melakukan penyesuaian bila terjadi penyimpangan. Penelitian mengenai Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga Dalam Tradisi Sida Di Desa Langga Sai sangat penting dikarenakan penelitian ini memberikan pemahaman tentang konteks tradisi masyarakat Manggarai dan bagaimana tradisi tersebut memiliki keterkaitan secara langsung dengan aspek pengelolaan keuangan keluarga. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi studi kasus. Pendekatan etnografi dipilih karena penelitian bertujuan memahami makna budaya dalam tradisi Sida serta pengaruhnya terhadap pengelolaan keuangan keluarga di Desa Langga Sai. Kecamatan Elar Selatan. Kabupaten Manggarai Timur. Menurut Sugiyono . , metode kualitatif merupakan pendekatan untuk mempelajari objek dalam kondisi alami dengan peneliti sebagai instrumen utama. Informan penelitian terdiri dari 10 orang yang meliputi 2 tokoh adat, 6 anak wina, dan 2 anak rona yang aktif terlibat dalam praktik tradisi Sida. Data dikumpulkan melalui tiga teknik yaitu wawancara mendalam secara semi-terstruktur yang direkam dan ditranskripsikan, observasi partisipatif untuk mengamati langsung praktik pengelolaan keuangan dan pelaksanaan tradisi Sida, serta dokumentasi untuk memperkaya dan memvalidasi Fokus penelitian diarahkan pada aspek utama pengelolaan keuangan keluarga berdasarkan indikator perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap yaitu reduksi data dengan memilih informasi relevan dan mengkategorikan ke dalam tema, penyajian data melalui narasi deskriptif yang merangkum tanggapan informan dan temuan observasi, serta penarikan kesimpulan dengan mengkonfirmasi temuan dan melakukan cross-check dengan informan. Tahapan penelitian mengikuti pendekatan Creswel . yang dimulai dengan merumuskan tujuan penelitian untuk memahami implementasi pengelolaan keuangan dalam tradisi Sida, merancang strategi mendapatkan izin dari tokoh adat dan kepala desa, melakukan pengumpulan data dengan metode triangulasi, menerapkan analisis untuk mengidentifikasi pola dan makna simbolik, hingga menyusun hasil penelitian dalam bentuk narasi deskriptif yang menggambarkan konteks sosial budaya dan pengalaman partisipan. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode pengumpulan data untuk memastikan kredibilitas temuan penelitian. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A HASIL Perencanaan . : Disparitas antara Penghasilan Tetap dan Tidak Tetap Praktik perencanaan keuangan untuk memenuhi kewajiban sida di Desa Langga Sai sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh dua faktor utama: tingkat pendapatan dan literasi keuangan keluarga. Keluarga dengan penghasilan tetap atau tinggi . egawai, pengusaha, pensiuna. mampu melakukan perencanaan sistematis untuk keperluan adat. Mereka mengalokasikan persentase tertentu dari penghasilan bulanan ke dalam rekening tabungan khusus yang diperuntukkan untuk keperluan adat termasuk sida. Perencanaan jangka panjang ini membuat mereka siap ketika ada pemberitahuan sida dan tidak perlu kebingungan mencari dana atau berutang. Praktik perencanaan ini mencerminkan pemahaman yang baik tentang pentingnya menyisihkan dana secara rutin untuk kebutuhan masa depan yang dapat diprediksi. Sistem tabungan khusus memungkinkan mereka untuk memisahkan dana adat dari kebutuhan sehari-hari, sehingga ketika kewajiban sida muncul, dana sudah tersedia tanpa mengganggu alokasi keuangan lainnya. Sebaliknya, keluarga dengan penghasilan tidak tetap, terutama petani yang bergantung pada hasil panen dan fluktuasi harga komoditas, melakukan perencanaan secara reaktif. Mereka baru memikirkan sumber dana setelah ada pemberitahuan sida. Ketidakpastian pendapatan membuat mereka kesulitan menyisihkan dana secara rutin karena penghasilan sangat bergantung pada musim panen dan kondisi pasar. Ketika ada tuntutan sida, mereka terpaksa membentuk arisan mendadak, menjual aset produktif seperti ayam atau babi dengan harga murah karena harus dijual cepat, atau mencari pinjaman dari bank, koperasi, atau saudara. Kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan keuangan yang ideal belum dapat diterapkan secara merata oleh seluruh masyarakat karena keterbatasan ekonomi struktural dan ketidakpastian pendapatan dari sektor pertanian yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan fluktuasi harga. Pengorganisasian (Organizin. Peran Gender dan Kolaborasi dalam Keluarga Pengorganisasian keuangan keluarga untuk memenuhi kewajiban sida menunjukkan pola pembagian tanggung jawab yang berbeda berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Pada keluarga dengan penghasilan tetap atau cukup, umumnya istri yang menjadi pengelola utama keuangan dengan mengatur alokasi untuk berbagai kebutuhan termasuk tabungan sida. Istri berperan sebagai manajer keuangan yang harus menyeimbangkan antara kebutuhan pokok . akan, pendidikan, kesehata. dengan kewajiban adat. Mereka memprioritaskan kebutuhan pokok terlebih dahulu, baru kemudian mengalokasikan dana untuk tabungan sida. Ketika ada kewajiban sida, istri harus pintar mengatur dan mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A penting untuk memastikan dana sida tersedia. Sistem pengorganisasian ini memungkinkan alokasi dana yang lebih terstruktur meskipun kadang harus melakukan penyesuaian prioritas Pada keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, pengaturan keuangan dilakukan secara bersama-sama antara suami dan istri karena kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi. Keduanya sama-sama mencari penghasilan dari berkebun dan bertani, serta bersama-sama mengelola untuk kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran rumah tangga. Penghasilan yang sangat tidak tetap dan bergantung pada musim panen membuat mereka sangat kesulitan mengatur keuangan jangka panjang dan merencanakan pengeluaran dengan matang. Ketika ada kewajiban sida, semua rencana pengeluaran harus diatur ulang dan disesuaikan dengan kondisi keuangan yang terbatas. Kolaborasi suami-istri menjadi strategi penting untuk menghadapi keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan. Temuan penting menunjukkan bahwa tidak semua keluarga secara otomatis memprioritaskan sida di atas kebutuhan mendesak lainnya. Dalam kondisi darurat seperti anak sakit yang membutuhkan dana kesehatan, beberapa keluarga tetap memprioritaskan kesehatan dan melakukan negosiasi dengan anak rona untuk cicilan pembayaran sida. Hal ini menunjukkan adanya pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan keuangan meskipun sida dianggap sebagai kewajiban yang wajib dipenuhi. Fleksibilitas ini mencerminkan kesadaran bahwa kebutuhan dasar keluarga tidak boleh sepenuhnya dikorbankan untuk memenuhi kewajiban adat. Pelaksanaan (Actuatin. Dampak Tekanan Sosial dan Strategi Pemenuhan Pelaksanaan pengelolaan keuangan untuk memenuhi sida seringkali tidak berjalan sesuai rencana awal karena beberapa faktor yang tidak diantisipasi. Faktor pertama yang menyebabkan pelaksanaan tidak sesuai rencana adalah adanya penambahan nominal pada saat penyerahan yang tidak diantisipasi sebelumnya, yang dipicu oleh tekanan sosial untuk tidak terlihat "kalah" dibanding keluarga lain. Meskipun keluarga sudah mempersiapkan dana sesuai nominal yang ditetapkan, pada saat hari penyerahan sering terjadi penambahan dana yang tidak diduga-duga setelah melihat pemberian dari keluarga lain. Fenomena ini memaksa keluarga menggunakan dana cadangan, mengambil dana yang seharusnya untuk belanja bulanan, atau bahkan meminjam uang secara mendadak. Keluarga merasa tidak bisa menolak penambahan ini karena khawatir akan malu dan hubungan keluarga bisa rusak. Tekanan sosial dalam prosesi sida yang dilakukan secara terbuka menciptakan kompetisi tidak tertulis untuk memberikan kontribusi yang tidak kalah dengan keluarga lain. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A Strategi pemenuhan sida sangat bervariasi berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, dimana keluarga dengan ekonomi baik menggunakan tabungan khusus yang sudah disiapkan dengan sistem pencatatan untuk timbal balik dan memiliki dana cadangan untuk menghadapi penambahan nominal yang tidak terduga, sementara keluarga ekonomi menengah melakukan patungan dengan anak-anak atau memanfaatkan arisan keluarga yang sudah dibentuk sejak lama khusus untuk keperluan seperti ini terutama ketika menghadapi tuntutan dengan nominal yang sangat besar atau berupa hewan, sedangkan keluarga ekonomi terbatas terpaksa menjual aset produktif seperti ayam dan babi secara prematur dengan harga murah karena harus dijual cepat atau mencari pinjaman ke koperasi dan saudara yang jelas merugikan secara ekonomi karena kehilangan potensi keuntungan di masa depan dan menimbulkan beban utang yang harus dilunasi. Meskipun sida dianggap wajib, ada keluarga yang tetap memprioritaskan kebutuhan mendesak seperti kesehatan dan melakukan negosiasi untuk cicilan pembayaran. Pelaksanaan sida bagi keluarga dengan pendapatan di bawah rata-rata seringkali menimbulkan kerugian ekonomi jangka panjang karena harus melepas aset produktif sebelum waktunya atau terjebak dalam utang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan sida lebih didorong oleh tekanan sosial-budaya daripada prinsip efisiensi dan disiplin keuangan. Prioritas pada kebutuhan mendesak menunjukkan bahwa ada pertimbangan rasional yang tetap dipertahankan meskipun dalam konteks kewajiban adat yang kuat. Pengawasan (Controllin. Ketiadaan Evaluasi dan Dampaknya Aspek pengawasan merupakan kelemahan paling krusial dalam pengelolaan keuangan keluarga untuk tradisi sida di Desa Langga Sai. Mayoritas keluarga, terutama yang berpenghasilan rendah dan terbatas, sama sekali tidak melakukan pencatatan, monitoring, atau evaluasi keuangan setelah memberikan sida. Mereka tidak mencatat secara detail total pengeluaran, hanya mengingat-ingat nominal tanpa dokumentasi yang jelas. Fokus mereka hanya pada terpenuhinya kewajiban adat, tanpa refleksi terhadap dampak finansial yang Yang penting bagi mereka adalah kewajiban sudah selesai dan terpenuhi, tanpa memperhatikan rincian setiap pos pengeluaran. Bagi keluarga yang terpaksa berutang, perhatian mereka setelah memberikan sida langsung beralih pada bagaimana cara melunasi utang dan mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari, bukan pada evaluasi pengeluaran atau pembelajaran untuk perbaikan di masa depan. Prioritas pengelolaan keuangan lebih berfokus pada pemenuhan kewajiban sosial dan keberlanjutan ekonomi keluarga daripada pencatatan administrasi keuangan yang terperinci. Ketiadaan evaluasi ini membuat mereka tidak memiliki data historis untuk membuat keputusan yang lebih baik di masa mendatang. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A Sebagian kecil keluarga dengan literasi keuangan lebih baik melakukan pencatatan sederhana untuk dua tujuan. Pertama, mengetahui total pengeluaran sebagai dasar perhitungan berapa yang harus ditabung lagi untuk persiapan sida berikutnya. Kedua, mencatat siapa saja yang sudah dibantu untuk sistem timbal balik di kemudian hari. Pencatatan yang dilakukan cukup sederhana, hanya mencatat tanggal, nama pemberi atau penerima, dan nominal, tanpa detail yang rumit. Meskipun tidak terlalu detail, pencatatan ini membantu mereka memantau pengeluaran sida secara umum sambil tetap fokus pada pemenuhan kewajiban sosial dan persiapan kebutuhan sida di masa mendatang. Sistem pencatatan sederhana ini setidaknya memberikan gambaran umum tentang pola pengeluaran untuk sida. Hanya sebagian kecil keluarga yang menerapkan sistem evaluasi yang lebih sistematis. Mereka selalu mengevaluasi setiap pengeluaran termasuk untuk sida, mencatat berapa yang keluar, berapa sisa di tabungan khusus, dan menghitung berapa yang harus disisihkan bulan depan untuk mengembalikan jumlah tabungan ke level yang aman. Evaluasi ini dianggap penting supaya ketika ada sida lagi, mereka tetap siap secara finansial. Sistem evaluasi yang sistematis ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan stabilitas keuangan meskipun harus memenuhi kewajiban sida secara berkala. Lemahnya pengawasan ini menyebabkan keluarga tidak dapat mengidentifikasi masalah finansial sejak dini, tidak bisa belajar dari pengalaman untuk perbaikan di masa depan, dan berpotensi mengulangi pola yang sama sehingga terjebak dalam siklus kesulitan ekonomi yang berkepanjangan. Tanpa evaluasi yang memadai, keluarga tidak memiliki basis data untuk membuat keputusan keuangan yang lebih baik di masa mendatang terkait kewajiban sida. Ketiadaan pengawasan juga membuat keluarga tidak dapat mengantisipasi dampak kumulatif dari beberapa kewajiban sida yang mungkin terjadi dalam periode waktu yang berdekatan, sehingga risiko kesulitan finansial menjadi lebih tinggi. DISKUSI Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan keluarga dalam tradisi sida di Desa Langga Sai belum terlaksana secara efektif berdasarkan keempat fungsi manajemen keuangan menurut Terry . Temuan ini mengonfirmasi bahwa implementasi manajemen keuangan keluarga tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial-budaya yang melingkupinya, khususnya dalam masyarakat yang memiliki keterikatan kuat terhadap nilai-nilai adat istiadat. Disparitas signifikan dalam praktik perencanaan keuangan menunjukkan bahwa kemampuan perencanaan sangat dipengaruhi oleh stabilitas pendapatan, sejalan dengan Siahaan et al. Keluarga dengan penghasilan tetap mampu menerapkan perencanaan sistematis. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A sementara keluarga petani terpaksa menerapkan perencanaan reaktif akibat ketidakpastian hasil Rendahnya literasi keuangan masyarakat Nusa Tenggara Timur . ,95% menurut OJK 2. turut memperparah kondisi ini, sejalan dengan Jerubu et al. yang menekankan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat mampu mengalokasikan dana secara bijak. Pola pengorganisasian keuangan mencerminkan upaya keluarga menyeimbangkan kewajiban adat dan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Istri menjadi pengelola utama pada keluarga berpenghasilan cukup, namun pada keluarga dengan ekonomi terbatas pengambilan keputusan dilakukan secara kolaboratif. Temuan menarik adalah tidak semua keluarga secara otomatis memprioritaskan sida, di mana keluarga tetap melakukan kalkulasi rasional ketika dihadapkan pada kebutuhan darurat seperti kesehatan, memperkaya pemahaman tentang dinamika antara nilai budaya dan pertimbangan ekonomi rasional. Fenomena penambahan nominal sida penyerahan sida merupakan temuan krusial dalam pelaksanaan yang menjelaskan mengapa pengelolaan tidak berjalan sesuai rencana. Tekanan sosial untuk tidak terlihat kalah mencerminkan kuatnya modal sosial dalam budaya Manggarai (Jagu et al. , 2. namun solidaritas berubah menjadi kompetisi status yang merusak disiplin Sejalan dengan Zogara et al. , keluarga ekonomi baik memenuhi kewajiban secara terencana, sementara keluarga ekonomi terbatas terpaksa menjual aset atau berutang, mengindikasikan bahwa tradisi dapat memperparah ketimpangan ekonomi. Lemahnya pengawasan merupakan kelemahan fundamental, di mana mayoritas keluarga tidak melakukan pencatatan atau evaluasi keuangan. Ketiadaan pengawasan terjadi karena orientasi keluarga lebih fokus pada pemenuhan kewajiban sosial-budaya daripada efisiensi ekonomi. Bagi keluarga yang berutang, ketiadaan evaluasi menyebabkan mereka terjebak dalam siklus utang berkepanjangan, menjelaskan mengapa banyak keluarga mengalami kesulitan ekonomi berulang setiap ada tuntutan adat. Secara keseluruhan, penelitian ini mengonfirmasi bahwa efektivitas pengelolaan keuangan keluarga dalam konteks tradisi adat merupakan hasil interaksi kompleks antara nilai budaya, literasi keuangan, stabilitas pendapatan, dan tekanan sosial. Berbeda dengan Wulandari et al. yang fokus pada aspek teknis, penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sosial-budaya memiliki pengaruh dominan yang dapat mengalahkan prinsip manajemen keuangan rasional. Tradisi sida yang hakikatnya merupakan mekanisme solidaritas, dalam praktiknya dapat menimbulkan beban ekonomi karena menekankan pemenuhan kewajiban berdasarkan nominal tetap tanpa mempertimbangkan kapasitas ekonomi, sejalan dengan kritik Candra . Temuan ini berimplikasi bahwa peningkatan efektivitas pengelolaan keuangan memerlukan tidak hanya peningkatan literasi keuangan individual, tetapi juga transformasi cara pandang Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A kolektif melalui dialog antara tokoh adat, anak rona, dan anak wina untuk mengembangkan mekanisme lebih fleksibel yang mempertimbangkan kemampuan ekonomi masing-masing KESIMPULAN Pengelolaan keuangan keluarga dalam praktik tradisi sida di Desa Langga Sai belum terlaksana secara efektif berdasarkan empat indikator manajemen keuangan menurut Terry . Dari aspek perencanaan, terdapat disparitas signifikan dimana keluarga berpenghasilan tetap mampu mengalokasikan penghasilan bulanan untuk tabungan khusus keperluan adat, sementara keluarga berpenghasilan tidak tetap melakukan perencanaan secara reaktif setelah ada pemberitahuan sida karena ketidakpastian pendapatan dari sektor pertanian yang bergantung pada faktor cuaca dan fluktuasi harga komoditas. Dari aspek pengorganisasian, keluarga berupaya menyeimbangkan alokasi dana antara kebutuhan adat dan kebutuhan pokok rumah tangga dengan pembagian peran yang jelas dimana istri menjadi pengelola utama keuangan pada keluarga berpenghasilan cukup, sedangkan pengaturan dilakukan bersama antara suami dan istri pada keluarga dengan ekonomi terbatas, meskipun kebutuhan adat sering menjadi prioritas utama karena tekanan sosial-budaya yang kuat namun ada juga keluarga yang tetap memprioritaskan kebutuhan mendesak seperti kesehatan dengan melakukan negosiasi cicilan pembayaran sida. Dari aspek pelaksanaan, meskipun nominal sida telah ditetapkan sebelumnya, dalam praktiknya sering terjadi penambahan dana pada sida penyerahan yang tidak diantisipasi akibat tekanan sosial untuk tidak terlihat "kalah" dibanding keluarga lain sehingga memaksa penggunaan dana cadangan atau mencari pinjaman mendadak, dengan strategi pemenuhan yang bervariasi mulai dari keluarga ekonomi baik yang menggunakan tabungan khusus dengan sistem pencatatan, keluarga ekonomi menengah yang melakukan patungan atau memanfaatkan arisan keluarga, hingga keluarga ekonomi terbatas yang terpaksa menjual aset produktif dengan harga murah atau berutang yang menimbulkan kerugian ekonomi jangka panjang. Dari aspek pengawasan, mayoritas keluarga tidak melakukan pencatatan, monitoring, atau evaluasi keuangan setelah memberikan sida dengan fokus hanya pada terpenuhinya kewajiban adat tanpa refleksi terhadap dampak finansial, dimana bagi keluarga yang terpaksa berutang perhatian langsung beralih pada cara melunasi utang dan mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari, sementara hanya sebagian kecil keluarga dengan literasi keuangan lebih baik yang melakukan pencatatan sederhana untuk mengetahui total pengeluaran sebagai dasar perhitungan tabungan masa depan dan mencatat siapa saja yang sida dibantu untuk sistem timbal balik. Mamo. , et al. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga A REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat Desa Langga Sai perlu mulai menerapkan pencatatan keuangan sederhana, menyiapkan dana khusus untuk adat, serta membangun komunikasi terbuka antara anak rona dan anak wina agar penetapan nominal dan waktu pembayaran sida lebih realistis. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan secara komparatif dan longitudinal, serta perlu memasukkan perspektif anak rona untuk memahami dasar penetapan nominal sida dan implikasinya terhadap pengelolaan keuangan kedua belah pihak. REFERENSI