PANGARSA : Jurnal Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Volume. No. Tahun 2024 Hal. Available online at: https://journal. id/index. php/PANGARSA In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Nadlir 1. Nasrul Fuad Erfansyah 2 1Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Ampel Surabaya Email : nadlir@uinsby. id, erfansyah@uinsby. Abstract : The challenge of improving the quality of learning in the era of the Merdeka Curriculum requires teachers' readiness and competence. Therefore, an In-House Training on the Implementation of the Merdeka Learning Curriculum was conducted at MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya, involving 20 participants, consisting of teachers and school principals. The main goal of this activity was to enhance teachers' ability to design learning that aligns with the principles of the Merdeka Curriculum, focusing on developing students' competencies and shaping the Pancasila Student Profile. The training included needs mapping discussions, creating competency-based learning modules, and developing projects to strengthen the Pancasila Student Profile. As a result, participants gained a better understanding of the Merdeka Curriculum and were able to design teaching modules relevant to students' needs. This activity had a positive impact on improving teachers' skills and showed the potential for sustainability through further guidance Keywords: Merdeka Curriculum. In-House Training. Teacher Competence. Pancasila Student Profile. Competency-Based Learning. Abstrak : Tantangan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era Kurikulum Merdeka memerlukan kesiapan dan kompetensi guru. Untuk itu, dilaksanakan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya, yang melibatkan 20 peserta, terdiri dari guru dan kepala Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang fokus pada pengembangan kompetensi siswa dan pembentukan Profil Pelajar Pancasila. Pelatihan dilakukan melalui diskusi pemetaan kebutuhan, pembuatan modul pembelajaran berbasis kompetensi, dan penyusunan modul projek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Hasilnya, peserta lebih memahami Kurikulum Merdeka dan mampu menyusun modul ajar yang relevan dengan kebutuhan siswa. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemampuan guru dan menunjukkan potensi keberlanjutan melalui pendampingan lebih lanjut. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. In House Training. Kompetensi Guru. Profil Pelajar Pancasila. Pembelajaran. PENDAHULUAN Implementasi Kurikulum Merdeka menjadi tantangan besar bagi satuan pendidikan di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di tengah perubahan zaman yang cepat. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas kepada sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dengan tujuan utama untuk menghasilkan Profil Pelajar Pancasila. Profil tersebut mencakup enam elemen utama, yaitu berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Setiap elemen ini merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap siswa, agar dapat menjadi warga negara yang mampu beradaptasi dengan perkembangan global yang terus berubah (Kemendikbud, 2. Meskipun memiliki tujuan yang mulia, penerapan Kurikulum Merdeka di lapangan sering kali dihadapkan pada berbagai kendala, seperti kurangnya pemahaman dari guru tentang konsep dan implementasi yang tepat, serta terbatasnya pelatihan yang lebih mendalam mengenai kurikulum ini (Saputra & Hadi, 2. Received: Oktober 30, 2024. Revised: November 30, 2024. Accepted: Desember 20, 2024. Published: Desember 30, 2024. In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Kendala utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka adalah terbatasnya pelatihan yang berorientasi pada keterampilan praktis. Banyak guru yang merasa kesulitan dalam mendesain pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pengembangan kompetensi siswa yang menyeluruh. Selain itu, banyaknya variasi karakteristik siswa yang ada di setiap kelas juga menambah tantangan tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pemahaman guru melalui pelatihan yang sistematis dan berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan. Kegiatan pelatihan yang dirancang secara khusus, seperti In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar, menjadi solusi yang tepat untuk menjawab kebutuhan ini (Wahyudi & MiftahusyaiAoan, 2. Kegiatan In House Training yang diselenggarakan di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan cara yang lebih praktis. Fokus utama dari pelatihan ini adalah mengajarkan guru cara mendesain pembelajaran berbasis kompetensi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa serta kondisi lingkungan sekolah. Pembelajaran berbasis kompetensi yang dimaksud tidak hanya menekankan pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan siswa dalam berbagai aspek, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta sikap mandiri dan gotong royong (Kemendikbudristek, 2. Pelatihan ini juga bertujuan untuk membantu guru mengembangkan modul ajar yang tidak hanya berfokus pada pengajaran konten, tetapi juga menyertakan pendekatan pembelajaran yang berdiferensiasi dan berbasis projek. Pendekatan ini sejalan dengan prinsipprinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pada fleksibilitas dan keberagaman dalam proses belajar mengajar. Melalui pelatihan ini, diharapkan guru dapat menyusun rencana pembelajaran yang lebih adaptif, yang mampu memenuhi kebutuhan individu siswa yang beragam, sekaligus memperhatikan konteks lokal di sekitar mereka (Saputra & Hadi, 2. Dalam konteks pasca-pandemi, fenomena learning loss telah menjadi isu utama yang mempengaruhi kualitas pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pembelajaran yang terhambat selama pandemi menyebabkan siswa kehilangan banyak waktu dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya secara optimal. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi semakin relevan untuk memberikan guru keterampilan yang dibutuhkan dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan, yang tidak hanya mengatasi learning loss, tetapi juga mengoptimalkan potensi siswa. Dengan adanya pelatihan yang tepat, guru diharapkan dapat mendesain pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa, yang pada PANGARSA - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 Hal. gilirannya akan membantu mereka berkembang menjadi pelajar yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (Aditama & Sugiharto, 2. Harapan utama dari kegiatan In House Training ini adalah agar guru tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis tentang Kurikulum Merdeka, tetapi juga keterampilan praktis dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Dengan pelatihan yang tepat, diharapkan guru akan lebih siap menghadapi tantangan dalam mengimplementasikan kurikulum ini dan dapat mengoptimalkan potensi siswa secara Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, interaktif, dan menyenangkan bagi semua siswa, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional yang lebih baik di masa depan (Mulyasa, 2. TINJAUAN PUSTAKA Implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia merupakan respons terhadap tuntutan globalisasi dan perkembangan zaman yang cepat, yang memerlukan sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan adaptif. Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal dan kebutuhan masing-masing siswa, memungkinkan proses belajar yang lebih relevan dan efektif. Salah satu tujuan utama dari Kurikulum Merdeka adalah pembentukan Profil Pelajar Pancasila, yang mencakup enam kompetensi utama: berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Dengan demikian. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menghasilkan siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki keterampilan dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Penelitian oleh Saputra dan Hadi menunjukkan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka berpotensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penerapannya di lapangan sering menghadapi berbagai kendala, terutama terkait dengan pemahaman guru yang terbatas mengenai konsep dan implementasi yang tepat (Saputra dan Hadi, 2. Kendala utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka terletak pada keterbatasan pelatihan yang lebih berorientasi pada keterampilan praktis. Guru sering kali merasa kesulitan dalam mendesain pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada materi akademik, tetapi juga pada pengembangan kompetensi siswa secara menyeluruh. Hal ini semakin rumit mengingat adanya variasi karakteristik siswa yang berbeda-beda di setiap kelas, baik dari segi kemampuan, gaya belajar, maupun latar belakang sosial budaya. Guru perlu diberikan pelatihan yang dapat membantu mereka merancang pembelajaran yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Aisyah dan Miftahusyai'an menekankan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar bahwa penting bagi para guru untuk memahami secara mendalam konsep pembelajaran berbasis kompetensi agar dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan baik. Oleh karena itu, pelatihan berbasis pada konteks lokal dan kebutuhan spesifik di lapangan menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan implementasi kurikulum ini (Aisyah & Miftahusyai'an, 2. Salah satu solusi yang dapat dihadirkan untuk mengatasi kendala tersebut adalah melalui pelatihan berbasis In House Training. In House Training merupakan bentuk pelatihan yang diselenggarakan secara internal di sekolah, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing satuan pendidikan. In House Training memungkinkan guru untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai Kurikulum Merdeka, sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis kompetensi. Menurut Meldona. In House Training adalah metode yang sangat efektif karena dapat menyesuaikan materi pelatihan dengan kondisi nyata yang dihadapi oleh guru, sehingga pelatihan ini menjadi lebih relevan dan mudah diterapkan (Meldona, 2. Pelatihan ini juga memberikan kesempatan bagi guru untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mendapatkan solusi bersama mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mengimplementasikan kurikulum. Secara keseluruhan, keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada kesiapan dan keterampilan guru dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan hidup siswa. Pelatihan seperti In House Training dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis projek, dan pengembangan kompetensi sosial siswa. Faiz dan Faridah juga menekankan pentingnya pelatihan yang memberikan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan oleh guru di lapangan (Faiz & Faridah, 2. Dengan pelatihan yang tepat, diharapkan guru dapat mengatasi kendala yang ada dan berhasil mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan baik, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan generasi pelajar yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. In House Training atau pelatihan internal di sekolah merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kapasitas guru dalam menghadapi tantangan kurikulum yang terus berkembang. In House Training memungkinkan guru untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di kelas. Hal ini penting karena setiap sekolah memiliki kondisi dan kebutuhan yang unik, yang memerlukan pendekatan pelatihan yang lebih spesifik dan PANGARSA - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 Hal. Sujoko menyatakan bahwa In House Training dapat menjawab kebutuhan spesifik di tingkat satuan pendidikan, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan keterampilan pedagogis guru. Melalui pelatihan berbasis In House Training, guru-guru dapat belajar dalam konteks yang relevan dengan kondisi nyata di sekolah mereka, menjadikannya lebih efektif dalam mengimplementasikan perubahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran (Sujoko, 2. Pelatihan berbasis kompetensi menjadi sangat penting untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, yang menuntut guru tidak hanya menguasai materi pelajaran tetapi juga memiliki kemampuan untuk merancang pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan kritis dan kreatif siswa. Kemendikbudristek menekankan pentingnya pembelajaran berbasis kompetensi yang tidak hanya fokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial, kemampuan bernalar kritis, dan kreativitas siswa (Kemendikbudristek, 2. Kompetensi-kompetensi ini diharapkan dapat membantu siswa menghadapi tantangan global yang terus berkembang, sekaligus membentuk karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Oleh karena itu, pelatihan seperti In House Training yang berfokus pada pembelajaran berbasis kompetensi sangat relevan untuk mendukung penerapan Kurikulum Merdeka secara efektif. Salah satu aspek penting dari pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek. Pendekatan ini sangat relevan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang mengutamakan keberagaman dan fleksibilitas dalam proses pembelajaran. Mulyasa menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis projek dapat mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, karena mereka diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka pelajari dalam konteks nyata. Hal ini membantu siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif, yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis projek juga mendukung pengembangan karakter siswa, sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang ingin membentuk karakter pelajar yang mandiri, gotong royong, dan bernalar kritis (Mulyasa, 2. Pembelajaran berbasis projek semakin penting dalam konteks Kurikulum Merdeka, karena pendekatan ini mengutamakan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Melalui projek, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan akademik, tetapi juga membangun kemampuan sosial dan sikap yang lebih positif, seperti kemampuan bekerja dalam tim, mengatasi masalah secara kreatif, dan berkolaborasi dengan orang lain. Mulyasa menyatakan bahwa pembelajaran berbasis projek memungkinkan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam situasi dunia nyata, yang pada gilirannya dapat In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar memperkuat karakter mereka. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis projek adalah pendekatan yang sangat relevan dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk menghasilkan pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan kemampuan untuk beradaptasi dengan tantangan yang ada di masyarakat (Mulyasa, 2. Dalam konteks pasca-pandemi, learning loss menjadi isu besar yang mempengaruhi kualitas pendidikan, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Pembelajaran yang terhambat selama pandemi menyebabkan banyak siswa kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mereka secara optimal. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pemulihan yang intensif untuk mengatasi dampak learning loss ini. Program pelatihan seperti In House Training sangat penting untuk memberikan guru keterampilan yang dibutuhkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan. Aditama dan Sugiharto menegaskan bahwa pelatihan yang tepat akan membantu guru merancang pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama dalam mengatasi tantangan pasca-pandemi. Pelatihan ini harus mengutamakan pendekatan yang dapat mengatasi learning loss dengan memperkuat pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pada kebutuhan siswa (Aditama & Sugiharto, 2. Sebagai langkah konkret. In House Training dapat memberikan pelatihan kepada guru tentang strategi mengajar yang lebih fleksibel dan berfokus pada siswa, seperti menggunakan teknik pembelajaran yang lebih inklusif dan partisipatif. Guru dilatih untuk memahami pentingnya mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan keterampilan siswa dalam berbagai aspek. Pendekatan ini sangat penting untuk memastikan bahwa semua siswa dapat mengatasi gap pembelajaran yang mungkin timbul akibat pandemi. Meldona juga menekankan bahwa In House Training memberikan kesempatan bagi guru untuk berkolaborasi, berbagi pengalaman, dan menyelesaikan masalah bersama, sehingga menciptakan suasana yang lebih mendukung dalam pengembangan kapasitas pengajaran mereka (Meldona, 2. Implementasi Kurikulum Merdeka yang mengutamakan kompetensi siswa harus didukung oleh pelatihan yang tepat dan berkesinambungan. In House Training dapat menjadi solusi jangka panjang dalam membantu guru mengatasi tantangan yang ada di lapangan, terutama dalam mendesain pembelajaran yang lebih relevan dan berbasis pada kebutuhan Pelatihan ini akan membantu guru untuk lebih memahami prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran yang berbasis pada kompetensi, fleksibilitas dalam proses pembelajaran, dan pengembangan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Faiz dan PANGARSA - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 Hal. Faridah mengungkapkan bahwa guru yang telah dibekali dengan keterampilan yang tepat akan lebih mampu menghadapi tantangan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat sekolah (Faiz & Faridah. Selain itu, pelatihan yang terstruktur dan terarah dapat menciptakan keberlanjutan dalam proses peningkatan kapasitas guru, yang berperan penting dalam memastikan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk terus memberikan dukungan kepada guru melalui pelatihan lanjutan dan penguatan kapasitas mereka agar dapat terus beradaptasi dengan tuntutan kurikulum yang terus berkembang. Kegiatan In House Training yang dilaksanakan secara berkesinambungan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengembangan profesionalisme guru dan peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. METODE PELATIHAN Pelatihan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Metode pelatihan yang digunakan dalam kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam sekaligus keterampilan praktis kepada peserta. Tahap pertama dimulai dengan diskusi pemetaan kebutuhan yang melibatkan seluruh peserta. Diskusi ini bertujuan untuk menggali berbagai tantangan yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka di kelas mereka. Dengan mendengarkan langsung pengalaman dan kesulitan yang dialami guru, fasilitator dapat menyesuaikan materi pelatihan agar lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan praktis yang ada di lapangan. Setelah pemetaan kebutuhan, kegiatan pelatihan dilanjutkan dengan penyampaian materi teori mengenai Kurikulum Merdeka dan prinsip-prinsip dasar pembelajaran berbasis Pada tahap ini, peserta diberi pemahaman tentang tujuan dan esensi dari Kurikulum Merdeka, yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kompetensi siswa secara holistik. Guru juga diajarkan mengenai konsep Profil Pelajar Pancasila, yang menjadi fokus utama dalam Kurikulum Merdeka, serta bagaimana membangun karakter siswa melalui pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai Pancasila. Materi ini disampaikan melalui presentasi interaktif dan diskusi kelompok, yang memungkinkan peserta untuk berbagi pemikiran dan pengalaman mereka. In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Setelah mendapatkan pemahaman teoretis, peserta kemudian dibimbing untuk merancang modul pembelajaran berbasis kompetensi. Pada tahap ini, peserta diberi tugas untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Guru diajak untuk tidak hanya berfokus pada konten akademik, tetapi juga untuk mengintegrasikan keterampilan sosial dan karakter dalam setiap rencana pembelajaran. Melalui latihan praktis ini, peserta dapat memadukan teori yang telah dipelajari dengan konteks nyata yang mereka hadapi di kelas, sehingga membuat pembelajaran lebih relevan dan adaptif. Selain itu, pelatihan ini juga mencakup pembuatan modul projek penguatan Profil Pelajar Pancasila. Dalam sesi ini, peserta dilatih untuk merancang projek yang dapat menguatkan nilainilai Pancasila dalam diri siswa. Projek ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan akademik siswa, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan sosial, seperti kerja sama, toleransi, dan rasa tanggung jawab. Pendekatan pembelajaran berbasis projek ini sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka, karena memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan cara yang lebih aplikatif dan berbasis pada pengalaman nyata. Modul projek ini dirancang agar dapat diimplementasikan langsung di kelas, sehingga memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh siswa. Setelah penyusunan modul selesai, para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan refleksi dan evaluasi. Refleksi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam desain pembelajaran yang telah mereka buat. Guru diajak untuk mengevaluasi apakah pembelajaran yang mereka rancang sudah mencakup kompetensi yang diinginkan, serta seberapa besar keterlibatan siswa dalam proses belajar. Dalam sesi ini, peserta dapat mendiskusikan masalah yang mungkin timbul selama pelaksanaan pembelajaran dan mencari solusi bersama, baik dengan sesama guru maupun fasilitator. Hal ini memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan umpan balik yang konstruktif yang dapat meningkatkan kualitas rencana pembelajaran mereka. Sebagai tahap terakhir, kegiatan pelatihan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang mencakup rencana implementasi, evaluasi, dan pendampingan. Guru diminta untuk membuat rencana tindak lanjut terkait penerapan modul dan projek yang telah mereka buat. Pendampingan lebih lanjut disiapkan untuk memastikan bahwa setiap peserta dapat mengimplementasikan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan pelatihan dengan cara yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Pendampingan ini diharapkan akan memperkuat keberlanjutan pelatihan dan memastikan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka berjalan dengan baik, bahkan setelah kegiatan In House Training berakhir. PANGARSA - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 Hal. Metode pelatihan yang digunakan dalam In House Training ini tidak hanya menekankan pada aspek teoritis, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara praktis, berdiskusi, dan berbagi pengalaman. Dengan cara ini, diharapkan para guru dapat mengembangkan keterampilan yang lebih baik dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya berhasil meningkatkan pemahaman guru mengenai konsep dasar dan implementasi Kurikulum Merdeka. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, sebagian besar peserta menyatakan bahwa mereka mengalami peningkatan pemahaman yang signifikan tentang bagaimana menyusun pembelajaran berbasis kompetensi yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Pembelajaran berbasis kompetensi yang diajarkan dalam In House Training ini memfokuskan pada pengembangan keterampilan siswa, termasuk berpikir kritis, kreativitas, dan sikap mandiri, yang menjadi inti dari Kurikulum Merdeka (Kemendikbud, 2. Guru-guru merasa lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada pengembangan kompetensi sosial dan karakter siswa. Selama pelatihan, para peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan kurikulum Banyak guru yang mengungkapkan kesulitan dalam merancang pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai siswa dengan karakteristik yang berbeda. Sebagai solusi. In House Training ini menekankan pada pendekatan pembelajaran berdiferensiasi, yang memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode dan materi pembelajaran berdasarkan kesiapan, minat, dan gaya belajar siswa (Saputra & Hadi, 2. Guru-guru juga diberi pemahaman tentang pentingnya pembelajaran berbasis projek yang dapat memperkuat karakter dan kompetensi siswa, sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Implementasi pendekatan ini terbukti efektif dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan konteks dan kebutuhan individu mereka. Salah satu hasil yang paling terlihat dari pelatihan ini adalah kemampuan guru untuk menyusun modul ajar berbasis kompetensi. Setelah pelatihan, guru-guru di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya mampu merancang pembelajaran yang lebih fleksibel dan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar adaptif, sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Mereka dapat memadukan teori yang didapatkan dalam pelatihan dengan konteks lokal dan karakteristik siswa yang beragam, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diselenggarakan memberikan dampak positif dalam meningkatkan kemampuan guru untuk merancang pembelajaran yang berkualitas, tidak hanya dalam hal penguasaan materi, tetapi juga dalam pengembangan karakter siswa (Aditama & Sugiharto, 2. Meskipun pelatihan ini berhasil memberikan peningkatan yang signifikan, beberapa mengimplementasikan perubahan secara menyeluruh. Beberapa guru mengungkapkan bahwa meskipun mereka memahami konsep Kurikulum Merdeka, mereka merasa kesulitan dalam menerapkannya di kelas, terutama dengan adanya batasan waktu dan sumber daya yang Selain itu, adanya variasi dalam kompetensi awal siswa juga menjadi tantangan Sebagian guru merasa khawatir bahwa tidak semua siswa dapat mengikuti pendekatan yang lebih fleksibel ini secara optimal, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih dalam hal dasar-dasar akademik (Kemendikbudristek, 2. Namun, meskipun ada tantangan tersebut, keberlanjutan program ini sangat didorong oleh guru-guru yang mengikuti pelatihan. Banyak peserta In House Training yang mengharapkan agar kegiatan serupa dapat dilanjutkan dengan pendampingan lanjutan dan konsultasi untuk membantu mereka dalam mengatasi kendala-kendala yang masih ada di Keinginan ini menunjukkan bahwa pelatihan semacam ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membuka kesempatan untuk pengembangan profesi guru dalam jangka panjang. Sebagai tindak lanjut, beberapa peserta menyarankan agar sekolah terus melakukan evaluasi dan refleksi terhadap penerapan Kurikulum Merdeka agar dapat terus mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan yang ada. Dampak positif lain yang dapat dilihat dari pelatihan ini adalah perubahan dalam cara pandang guru terhadap proses pembelajaran. Sebelum pelatihan, banyak guru yang terfokus pada pengajaran materi dan pengujian pengetahuan semata. Namun, setelah mengikuti In House Training, mereka lebih memperhatikan pentingnya pengembangan karakter siswa serta penguatan kompetensi non-kognitif, seperti kerjasama, kreativitas, dan keberagaman. Hal ini sejalan dengan tujuan utama dari Kurikulum Merdeka, yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan hidup yang berguna bagi siswa di masa depan (Mulyasa, 2. Oleh karena itu, pelatihan ini terbukti berhasil dalam mengubah pola pikir dan praktik pembelajaran guru menuju pendekatan yang lebih holistik dan berorientasi pada siswa. PANGARSA - VOLUME. NO. DESEMBER 2024 Hal. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kegiatan In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di MI Haji Hasyim Babat Jerawat Pakal Surabaya telah berhasil meningkatkan kapasitas guru dalam memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, terutama dalam mendesain pembelajaran berbasis kompetensi yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Hasil dari pelatihan menunjukkan bahwa guru-guru lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan kompetensi siswa dalam aspek keterampilan, karakter, dan sikap sosial. Meskipun demikian, mengimplementasikan perubahan secara menyeluruh, terutama dalam menghadapi keragaman karakteristik siswa dan keterbatasan sumber daya yang ada. Meskipun demikian, antusiasme guru untuk melanjutkan pendampingan dan pelatihan lanjutan menunjukkan adanya perubahan positif dalam cara pandang mereka terhadap pembelajaran yang lebih holistik dan adaptif. Saran Pelatihan lebih lanjut dan pendampingan berkelanjutan diperlukan untuk membantu guru mengatasi tantangan yang muncul setelah pelatihan. Sebagai tindak lanjut, disarankan agar kegiatan In House Training ini dilanjutkan dengan sesi refleksi dan evaluasi yang lebih mendalam, yang memungkinkan guru untuk memonitor perkembangan implementasi Kurikulum Merdeka di kelas. Selain itu, penguatan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran berbasis projek perlu terus diperkenalkan agar guru dapat lebih fleksibel dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa. Dukungan lebih lanjut dalam bentuk materi ajar yang sesuai dan bantuan teknis dapat membantu guru mengatasi kendalakendala yang masih ada di lapangan. SARAN UNTUK PENELITIAN SELANJUTNYA Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan memperluas cakupan lokasi dan jumlah partisipan untuk melihat dampak yang lebih luas dari In House Training ini pada implementasi Kurikulum Merdeka di berbagai jenis satuan pendidikan. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, seperti dukungan manajemen sekolah, ketersediaan sumber daya, dan peran orang tua dalam mendukung pembelajaran siswa. Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hambatan dan solusi yang diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas di era Kurikulum Merdeka. In House Training Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar DAFTAR PUSTAKA