eISSN 2598-9898 | pISSN 2654-2811 JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Vol. 10 | No. 1 | Januari 2026 | Hal. 117 - 125 http://riset. id/index. php/JU-ke/index http://dx. org/10. 33474/JU-ke ANALISIS KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA PETANI JAGUNG MANIS DI DESA PENDEM. KOTA BATU Malikha Lintang AlifiaA. Zainul ArifinA. Noerhadi SudjoniA AUniversitas Islam Malang. email: 22201032024@unisma. Universitas Islam Malang. email: zainul. arifin@unisma. Universitas Islam Malang. email: nurhadisudjoni@unisma. ABSTRACT In Batu City, sweet corn is not widely cultivated. however, it has become a highly sought-after commodity with steadily rising demand, making productivity a critical factor in meeting this demand. This study aims to determine the levels of knowledge, skills, attitudes, and environmental factors among sweet corn farmers in Pendem Village. Batu City. This study employs a quantitative descriptive analysis method, conducted through purposive sampling in Pendem Village, one of the four villages mentioned above that produce sweet corn in Batu City. Sampling was based on a percentage range, with a population of 388 people, resulting in a sample of 60 farmers as respondents. The data used consists of both primary and secondary Analysis was performed using a Likert scale. The results of the study indicate that variable (X. , knowledge competency, received the highest percentage of responses, as knowledge serves as the foundation for farmers to carry out their agricultural activities. Conversely, the lowest percentage was recorded for variable (X. , the environment, as the implementation of more environmentally friendly practices must be consistently applied to maintain ecosystem stability. There are also other variables that need to be improved, such as skills (X. and attitude (X. Keywords: competence. human resources. sweet corn. Likert scale ABSTRAK Di Kota Batu jagung manis adalah komoditas yang tidak banyak di tanam, namun jagung manis menjadi salah satu komoditas yang banyak diminati oleh masyarakat yang permintaanya terus naik, sehingga produktivitas sangat berpengaruh untuk memenuhi permintaan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi pengetahuan, keterampilan, sikap, lingkungan petani jagung manis di Desa Pendem. Kota Batu. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif, yang dilakukan secara sengaja . di Desa Pendem salah satu desa diantara 4 desa diatas yang memproduksi jagung manis di Kota Batu. Pengambilan sampel menggunakan rentang persentase dengan memasukkan populasi sebanyak 388 orang dan diperoleh sampel 60 orang petani sebagai responden. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Analisis dilakukan menggunakan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel (X. kompetensi pengetahuan menduduki posisi jawaban paling banyak, karena pengetahuan adalah dasar para petani untuk melaksanakan usahataninya, dan untuk jumlah persentase paling rendah di duduki oleh variabel (X. yakni lingkungan, karena keseimbangan praktik yang lebih ramah lingkungan harus terus diterapkan guna menjaga kestabilan ekosistem. Serta ada variabelvariabel lain yang perlu ditingkatkan seperti keterampilan (X. , sikap (X. Kata Kunci: kompetensi. sumberdaya manusia. jagung manis, skala likert Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Malikha Lintang Alifia1. Zainul Arifin2. Noerhadi Sudjoni3 PENDAHULUAN Sektor pertanian terus memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, menyumbang sekitar 13% dari PDB, dan memainkan peran penting dalam menyediakan lapangan kerja dan kesempatan hidup bagi sebagian besar orang, terutama di daerah pedesaan. Meskipun sektor pertanian menyediakan sebagian besar pekerjaan subsisten dan dengan upah yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor lain, sekitar 29% dari seluruh pekerja Indonesia masih bekerja di sana (Badan Pusat Statistik, 2. dalam (Sihite et al. , 2. Meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan daya saing produknya adalah dua hal yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Namun, melakukan dua pekerjaan ini adalah tantangan bagi banyak negara agraris, termasuk Indonesia, terutama karena keterbatasan teknologi, tenaga kerja, dan modal (Akbar, 2. Selain padi dan gandum, jagung manis adalah salah satu komoditas pangan yang paling Karena umur produksi yang singkat dan harga jual yang lebih tinggi dibanding jagung biasa, tanaman jagung manis memiliki prospek yang baik untuk diusahatanikan (Bakrie, 2. dalam (Pratama et al. , 2. Kebutuhan pangan yang terus meningkat meningkatkan peluang pengembangan jagung manis. Berdasarkan data (BPS, 2. Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang menjadi penyumbang jagung terbesar dengan luas panen 739. 157 ha pada tahun 2024, namun jika dibandingkan dengan tahun 2023 sebesar 759. 060 ha, yang berarti mengalami Maka dalam hal ini Sumber daya manusia adalah satu aspek penting yang berpengaruh dalam peningkatan produktivitas jagung manis. Di Kota Batu jagung manis adalah komoditas yang tidak banyak di tanam, namun jagung manis menjadi salah satu komoditas yang banyak diminati oleh masyarakat yang permintaanya terus naik, sehingga produktivitas sangat berpengaruh untuk memenuhi permintaan yang ada. Desa Pendem merupakan salah satu desa penghasil jagung manis, yang turut menjadi desa penyumbang hasil panen jagung manis untuk dipasarkan. Sumberdaya manusia dalam hal ini merupakan salah satu komponen yang vital oleh karena itu untuk meningkatkan produksi. SDM pertanian harus ditingkatkan karena SDM pertanian berkontribusi sebesar 50% terhadap peningkatan produktivitas. Utamanya di desa, seringkali menghadapi tantangan untuk mendapatkan instruksi dan pemahaman yang dapat mengubah cara mereka melakukan pertanian (Supatminingsih, 2. Digitalisasi melalui smart farming terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian dalam berbagai cara (Astrid, 2. dalam (Sudarmanto et al. , 2. Namun banyak petani yang belum mengerti serta menguasai dalam inovasi dan teknologi pertanian, banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi diantaranya karena dipengaruhi faktor pengetahuan, keterampilan, sikap, kompetensi sosial dll. Rizali & Kamalia, . berpendapat bahwa profitabilitas dan produksi usaha pertanian dipengaruhi oleh pendidikan Namun hal tersebut harus segera diatasi dengan mengembangkan cara menggunakan, dan mengelola potensi pengetahuan, keterampilan dan sikap para petani guna menambah peningkatan kemampuan SDM pertanian agar produktivitasnya bertambah dan hasil produksi bisa memenuhi permintaan masyarakat. Produktivitas usahatani jagung manis di Desa Pendem masih rendah untuk ukuran standart nasional yakni dengan rata-rata sebesar 10 ton, sedangkan rata-rata nasional produktivitas jagung manis sebesar 10-18 ton. Belum tercapainya produktivitas usahatani jagung manis didesa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya sumberdaya manusia petani jagung manis yang dimiliki desa Pendem masih perlu dianalisis lebih lanjut untuk mengukur kompetensi yang dimiliki masing-masing petaninya. SDM menjadi sangat krusial dan penting untuk dianalisis lebih lanjut. Pada penelitian yang baru SDM menjadi penggerak utama pada usaha tani jagung manis, yang besar pengaruhnya terhadap produktivitas usaha tani jagung manis. Maka pada penelitian yang baru ini terdapat penambahan beberapa variabel yang akan diteliti yang berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya diantaranya terdiri dari variabel kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, kompetensi sikap, kompetensi lingkungan. 118 Vol. 3 | No. 2 | April 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Kompetensi Sumberdaya Manusia Petani Jagung Manis Di Desa Pendem. Kota Batu Pada penelitian sebelumnya rata-rata hanya membahas mengenai variabel kompetensi pengetahuan dan kompetensi sikap. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi pengetahuan, keterampilan, sikap, lingkungan, petani jagung manis di Desa Pendem. Kota Batu. LANDASAN TEORI Teori Kompetensi SDM Dalam berusahatani, kompetensi petani adalah perilaku merencanakan berbagai tindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Kemampuan umum petani untuk melakukan tugas dan kewajibannya atau menjalankan usahatani secara efektif dikenal sebagai kompetensi. Kompetensi agribisnis petani dalam mengelola pertanian sangat erat kaitannya dengan keberhasilan mereka dalam bidang pertanian (Mayamsari & Mujiburrahmad, 2. dalam (Agustin et al. , 2. Kompetensi Pengetahuan Pengetahuan adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh petani dalam berusahatani. Hal ini sesuai dengan penelitian Lesmana . , yang menemukan bahwa pengetahuan merupakan salah satu komponen perilaku petani dan juga memainkan peran penting dalam adopsi inovasi. Tingkat pengetahuan petani dapat memengaruhi keutuhan usahataninya dan adopsi teknologi baru. Petani membutuhkan pengetahuan teoritis atau pengetahuan praktis untuk menerapkan perubahan atau pembaharuan (Agustin et al. , 2. Kompetensi Keterampilan Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rambe. SS, dan Honorita . bahwa petani dengan keterampilan yang baik memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat sehingga mereka dapat mengetahui sesuatu dengan cara yang efektif dan efisien. Dalam Usaha Tani Jagung, peningkatan bertani menunjukkan seberapa banyak petani terlibat dalam kegiatan pertanian sepanjang tahun ini. Menurut penelitian ini, produksi dipengaruhi oleh peningkatan budidaya (Amir et al. , 2. Kompetensi Sikap Menurut (Fitra et al. , 2. Sikap petani adalah pernyataan yang menyatakan setuju atau tidak setuju dengan sesuatu. Kelompok tani dapat memberikan informasi kepada petani tentang cara bertani yang baik. Misalnya, mereka dapat menceritakan tentang bagaimana memilih varietas jagung terbaik untuk benih, bagaimana menggunakan pupuk phonska dan urea dengan dosis yang tepat, bagaimana menggunakan pestisida untuk mengurangi jumlah hama dan penyakit pada tanaman jagung, dan bagaimana mengadakan pelatihan tentang teknik bertani. Selain itu, kelompok tani meningkatkan sikap petani dalam hubungan sosial dan meningkatkan rasa kepemilikan kelompok. Kompetensi Lingkungan Kompetensi lingkungan petani merujuk pada kesadaran dan kemampuan tindakan petani untuk mempertahankan keseimbangan ekologis usahatani mereka. Kompetensi ini sangat vital untuk menjamin keberlanjutan produksi jangka panjang dan mengurangi risiko degradasi lahan (Fitra et al. , 2. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Malikha Lintang Alifia1. Zainul Arifin2. Noerhadi Sudjoni3 METODE Penelitian ini dilakukan di Desa Pendem yang terletak di wilayah Kecamatan Junrejo. Kota Batu. Provinsi Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling . on-probabilit. Penelitian ini dilakukan di Desa Pendem karena Desa Pendem merupakan salah satu desa diantara 4 desa diatas yang memproduksi jagung manis di Kota Batu. Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 4 bulan yang terhitung pada November 2025 Ae Maret 2026. Metode pengambilan sampel dihitung menggunakan rentang persentase, dari populasi petani jagung manis di desa Pendem yang berjumlah 388 orang petani, setelah dihitung menggunakan rentang persentase diperoleh sampel penelitian sebanyak 60 orang petani di desa Pendem. Kecamatan Junrejo. Kota Batu. Jawa Timur. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui kegiatan observasi dan wawancara dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner sebagai alat bantu utama dalam pengumpulan informasi dari responden. Data Sekunder adalah data yang tidak didapatkan langsung oleh peneliti dari responden dilapangan, melainkan data yang diambil dari berbagai sumber pendukung penelitian yakni dari literatur, jurnal ilmiah, artikel, publikasi resmi, instansi pemerintah dan penelitian terdahulu yang relevan, serta data geografis Kota Batu. Analisis Skala Likert Tingkat Kompetensi SDM Pengumpulan data yang akan digunakan untuk penelitian dalam bentuk kuesioner yang diukur menggunakan skala likert. Skala likert bertujuan untuk mengukur pendapatan, sikap dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial, ditetapkan secara spesifik oleh peneliti sebagai variabel penelitian (Sugiyono, 2019:. Kuesioner adalah instrumen pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk menjawab (Sugiyono, 2019:. Responden adalah orang yang diteliti. Kuisioner merupakan pertanyaan yang akan disebarkan kepada responden untuk diteliti dengan pasti variabel untuk memperoleh data yang berupa pernyataan. Dalam mekanisme pengumpulan data penelitian ini memberikan pertanyaan dalam bentuk kuisioner yang disusun secara urutan, hal ini bertujuan agar pertanyaan dalam bentuk kuisioner tidak menyimpang dari tujuan penelitian tersebut. Dalam penelitian menggunakan skala likert umumnya terdiri dari 1-5 poin untuk penilaian: Tabel 1. Skor dan Kategori Penelitian Menggunakan Skala Likert Setelah diperoleh data dari hasil penentuan skala likert diatas, maka data tersebut akan Skor Kategori Sangat Tahu/Sangat Setuju (ST/SS) Tahu/Setuju (T/S) CukupTahu/Cukup Setuju (CT/CS) Kurang Tahu/Kurang Setuju (KT/KS) Tidak Tahu/ Tidak Setuju (TT/TS) dihitung dari seluruh responden menggunakan rumus: ycIycoycuyc = ycN y ycEycu ycIycoycuyc=ycNyycEycu A T: Total jumlah responden yang memilih sebuah kategori. Pn: Poin skor yang ditentukan untuk kategori tersebut . isalnya, 5 untuk "Sangat Setuju"). Kategori presentasi dapat menggunakan konversi seperti: 120 Vol. 3 | No. 2 | April 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Kompetensi Sumberdaya Manusia Petani Jagung Manis Di Desa Pendem. Kota Batu Tabel 2. Kategori Persentasi Skor Kategori 81-100% Sangat Berkompetensi (SB) 61-80% Berkompetensi (B) 41-60% Cukup Berkompetensi (CB) 21-40% Kurang Berkompetensi (KB) 0-20% Tidak Berkompetensi (TB) Tabel 3. Kategori Skor Skor Kategori 4,50-5,00 Sangat Kompeten (SK) 3,50-4,49 Kompeten (K) 2,50-3,49 Cukup Kompeten (CK) 1,50-2,49 Kurang Kompeten (KK) 1,00-1,49 Tidak Kompeten (TK) Setelah diperoleh jawaban dari pemberian skor pada kuisioner menggunakan skala likert, maka ada variabel-variabel yang dapat diukur kemudian dijabarkan menjadi indikator variabel. Indikator-indikator inilah yang nanti akan menjadi tolak ukur untuk menyusun instrumen yang berupa pernyataan. Jawaban dari instrumen yang sudah disusun tersebut yang kemudian akan diolah hingga menghasilkan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tingkat Kompetensi Sumber daya Manusia Berdasarkan hasil tabulasi data yang di peroleh dan telah diolah diperoleh hasil jawaban pada masing-masing responden penelitian pada setiap indikator pernyataan yang telah diajukan dengan jumlah keseluruhan responden 60 orang petani yang berkaitan dengan kompetensi sumberdaya manusia. Kompetensi sumberdaya manusia pada penelitian ini ada 7 diantaranya kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, kompetensi sikap, kompetensi lingkungan, usia, tingakt pendidikan, dan pengalaman berusahatani. Kompetensi Pengetahuan (X. Kompetensi pengetahuan dijelaskan oleh 3 pernyataan yang disajikan pada kuisioner. Adapun distribusi jawaban responden pada variabel kompetensi pengetahuan adalah sebagai Tabel 4. Hasil Distribusi Jawaban Responden Pada Kompetensi Pengetahuan (X. Jawaban Responden Indikator RataRata ST/SS T/S CT/CS KT/KS TT/TS X1. 4,97 X1. 4,90 X1. 4,90 4,92 Ket. Sangat Berkompetensi Sangat Berkompetensi Sangat Berkompetensi Sangat Berkompetensi Sumber: Data Primer Diolah . Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Malikha Lintang Alifia1. Zainul Arifin2. Noerhadi Sudjoni3 Pada variabel indikator X1. 1 yang membahas pernyataan Aupengetahuan tentang varietas, pupuk, hama, irigasi petani berpengaruh terhadap produktivitasAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,97 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 58 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 2 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa para petani setuju jika pengetahuan petani terkait varietas, pupuk yang digunakan serta cara mengatasi hama dan penggunaan irigasi yang tepat dan baik sangat mempengaruhi produktivitas yang dihasilkan. Pada variabel indikator X1. 2 yang membahas pernyataan Aupengetahuan teknis pelaksanaan usaha tani berpengaruh terhadap produktivitasAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,90 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 55 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 4 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 1 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan teknis mulai dari mulai pemilihan bibit, tanam hingga panen para petani perlu mengetahui betul untuk pelaksanaanya, karena mencoba untuk terjun kelapang adalah salah satu cara mengetest atau menguji apakah ilmu/ pengetahuan yang didapat dan diterapkan terlaksana sesuai dengan semestinya. Pada variabel indikator X1. 3 yang membahas pernyataan Aupengetahuan manfaat dan dampak pelaksanaan usaha tani berpengaruh terhadap produktivitasAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,90 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 55 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 4 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 1 orang . %). Artinya pengetahuan untuk menyerap ilmu yang didapat dan cara petani mempelajari ilmu tersebut berpengaruh terhadap produktivitas yang dihasilkan. Kompetensi Keterampilan (X. Kompetensi keterampilan dijelaskan oleh 3 pernyataan yang disajikan pada kuisioner. Adapun distribusi jawaban responden pada variabel kompetensi pengetahuan adalah sebagai Tabel 5. Hasil Distribusi Jawaban Responden Pada Kompetensi Keterampilan (X. RataRata Jawaban Responden Indikator Ket. ST/SS T/S CT/CS KT/KS TT/TS X2. 4,97 X2. 4,05 Berkompetensi X2. 4,93 Sangat Berkompetensi 4,65 Sangat Berkompetensi Sangat Berkompetensi Sumber: Data Primer Diolah . Pada variabel indikator X2. 1 yang membahas pernyataan Aukemampuan praktik tanaman, pengendalian opt, pengolahan hasil panen sangat berpengaruh terhadap produktivitasAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,97 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 58 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 2 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa praktik langsung mengenai pelaksanaan usahatani yang diimbangi dengan pengetahuan bagi petani sangat diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam penerapan usahataninya. Pada indikator X2. 2 membahas Aupenerapan teknologi pertanian untuk meningkatakan usaha taniAy masuk kedalam kategori berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,05 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 7 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 49 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 4 orang . %). Pada jawaban tahu/setuju memiliki jumalah paling banyak dengan 122 Vol. 3 | No. 2 | April 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Kompetensi Sumberdaya Manusia Petani Jagung Manis Di Desa Pendem. Kota Batu persentase 82%, jika dikaitkan dengan karakteristik responden tingkat pendidikan sebanyak 26 orang dengan persentase 43% pada tingkat SD, yang dapat diartikan keterampilan bisa dimiliki siapa saja dan tidak bergantung pada tingkat pendidikan yang dimiliki karena, keterampilan adalah hal dimiliki dengan cara mempraktikkan, jadi faktor lain seperti pengalaman berusahatani juga dapat menjadi hal yang bisa mempengaruhi. Pada indikator X2. 3 membahas Auteknologi yang digunakan dapat membantu mempermudah teknologi yang digunakan dapat membantu mempermudah pelaksanaan usaha taniAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,93 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 7 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 49 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 4 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa teknologi terbukti sangat memperumudah pelaksanaan usahatani dan penggunaanya memerlukan pengetahuan lebih, maka dari itu petani tua dan muda perlu ikut serta jika ada pengenalan penggunaan teknologi baru agar mempermudah aktivitas usahataninya. Kompetensi Sikap (X. Kompetensi Sikap dijelaskan oleh 3 pernyataan yang disajikan pada kuisioner. Adapun distribusi jawaban responden pada variabel kompetensi pengetahuan adalah sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Distribusi Jawaban Responden Pada Kompetensi Sikap (X. RataRata Jawaban Responden Indikator ST/SS T/S CT/CS X3. X3. X3. Ket. KT/KS TT/TS 4,93 Sangat Berkompetansi 3,62 Berkompetensi 4,72 Sangat Berkompetansi 4,42 Berkompetensi Sumber: Data Primer Diolah . Pada indikator X3. 1 yang membahas AuKeterbukaan terhadap inovasi menjadi hal penting untuk peningkatan produktivitas usaha taniAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,93 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 56 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 4 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa Mindset petani untuk maju dapat ditandai dengan keterbukaanya terhadap inovasi baru yang lebih cepat untu meningkatkan produktivitas. Pada indikator X3. 2 membahas Audisiplin dan tepat dalam menerapan/ melakukan teknis budidayaAy masuk kedalam kategori berkompetensi dengan nilai rata-rata 3,62 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 12 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 13 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 35 orang . %). Pada variabel X3. 2 ini memilki hasil paling banyak pada jawab cukup tahu/cukup setuju sebanyak 35 orang dengan persentase 58%, jika dilihat dengan karaketristik pada tingkat pendidikan tingkat SD berada pada jumlah dan persentase banyak, maka untuk memilki kedisplinan dan teknis budidaya yang baik pendidikan diperlukan untuk ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi, guna memiliki kualitas dalam mengatur waktu dan ketepatan dalam budidaya tanaman. Pada indikator X3. 3 yang membahas Aubersedia mencoba cara atau metode baru dalam usaha tani meskipun terdapat resikoAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,72 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 55 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 2 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 3 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa para Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga. Malikha Lintang Alifia1. Zainul Arifin2. Noerhadi Sudjoni3 petani berani mencoba hal baru untuk meningkatkan produktivitasnya meskipun belum tahu tantangan dan kelemahan dari metode baru tersebut, jika terjadi kegagalan mereka tidak takut. Kompetensi Lingkungan (X. Kompetensi lingkungan dijelaskan oleh 2 pernyataan yang disajikan pada kuisioner. Adapun distribusi jawaban responden pada variabel kompetensi pengetahuan adalah sebagai Tabel 7. Hasil Distribusi Jawaban Responden Pada Kompetensi Lingkungan (X. Jawaban Responden Indikator RataRata ST/SS T/S CT/CS KT/KS TT/TS X4. 4,52 X4. 4,02 4,27 Ket. Sangat Berkompetensi Berkompetensi Berkompetensi Sumber: Data Primer Diolah . Pada indikator variabel X4. 1 yang membahas Aupenggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan dapat merusak kualitas tanah dan lingkungan sekitarAy masuk kedalam kategori sangat berkompetensi dengan nilai rata-rata 4,52 jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 35 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 21 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 4 orang . %). Pada indikator X4. 2 membahas Autingkat kemauan dan komitmen petani guna mengadopsi praktik yang ramah lingkungan . upuk organi. dapat mempengaruhi hasil produksi usaha taniAy masuk kedalam kategori berkompetensi dengan nialai rata-rata 4,02 dan jumlah petani yang menjawab sangat tahu/ sangat setuju (ST/SS) sebanyak 16 orang . %), menjawab Tahu/Setuju (T/S) sebanyak 29 orang . %) dan menjawab Cukup Tahu/Cukup setuju (CT/CS) sebanyak 15 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa para petani sadar bahwa lingkungan sangat perlu dijaga bukan hanya berorientasi pada hasil yang tinggi, namun juga keseimbangan praktik yang lebih ramah lingkungan harus terus diterapkan guna menjaga kestabilan ekosistem yang ada. KESIMPULAN Dari nilai rata-rata masing-masing variabel diperoleh nilai X1 = 4,92 . angat berkompetens. X2 = 4,65 . angat berkompetens. X3 = 4,42 . X4 = 4,27 . Berdasarkan hasil diatas variabel X1 kompetensi pengetahuan menduduki posisi jawaban paling banyak, karena pengetahuan adalah dasar para petani untuk melaksanakan usahataninya, dan untuk jumlah persentase paling rendah di duduki oleh variabel X4 yakni lingkungan, karena keseimbangan praktik yang lebih ramah lingkungan harus terus diterapkan guna menjaga kestabilan ekosistem. Serta ada variabel-variabel lain yang perlu ditingkatkan seperti keterampilan X2, sikap X3. DAFTAR RUJUKAN Agustin. Rela. , & Lasinta. Kinerja Pelayanan Penyuluh dan Kompetensi Petani dalam Usahatani Jagung Di Desa Lapodidi Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna. Jurnal Ilmiah Penyuluhan Dan Pengembangan Masyarakat, 3. , https://doi. org/10. 56189/jippm. Akbar. Analisa Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Indonesia. Jurnal Ilmu Ekonomi & Sosial, 13. , 27. Amir. Idrus. Nur. Parepare. Harapan. Parepare. , & Selatan. Peran Sumber Daya Manusia Dalam Mengembangkan Usaha Tani Jagung Di Desa Labae Kabupaten Soppeng. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 5, 183Ae194. 124 Vol. 3 | No. 2 | April 2026 Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Analisis Kompetensi Sumberdaya Manusia Petani Jagung Manis Di Desa Pendem. Kota Batu BPS, 2024. Luas Panen. Produksi, dan Produktivitas Jagung Menurut Provinsi, 2024. Badan Pusat Statistik. luas-panen--produksi--dan-produktivitas-jagung-menurut-provinsi Fitra. Akrab. , & Safitri. Peran Kelompok Tani Terhadap Peningkatan Sumber Daya Manusia (Sd. Petani Jagung Hibrida Di Desa Makmur Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi. Jurnal Pembangunan Agribisnis (Journal of Agribusiness Developmen. , 3. , 255Ae265. https://doi. org/10. 22487/jpa. Pratama. Suharjo, & Syarbiah. Analisis Skala Ekonomi. Efisiensi Input, dan Pendapatan Usahatani Jagung Manis (Zea Mays Saccarata Stur. di Desa Nario Indah Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe. Journal of Student Research, 2. , 32Ae41. Resmianto. Sambodo. , & Mildaryani. Pengaruh Tingkat Pendidikan . Pengalaman Bertani dan Luas Lahan Terhadap Pendapatan Petani Kakao di Kecamatan Girimulyo . Kabupaten Kulon Progo. Proceedings Series on Physical & Formal Science, 8. https://doi. org/10. 30595/pspfs. Rizali. , & Kamalia. Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Padi di Desa Pasar Jati Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 1, 114Ae125. Sihite. Hsb. Syahputra. Raihan Amri. Alwi. , & Sakuntala. Peran Sektor Pertanian dan Distribusi Pendapatandi Indonesia : Analisis Model Faktor SpesifikRicardian. Jurnal Media Akademik (JMA), 3. , 3031Ae5220. Sudarmanto. Nurdayati. Mubarokah. Purwono. Akbarrizki. , & Makmun. Analisis Kompetensi Petani Millennial dalam Mendukung Keberlanjutan Usaha (Studi Kemampuan Teknis. Manajerial dan Sosial Petani Millennial di Jawa Tenga. Analysis. Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian, 21. , 11Ae28. Supatminingsih. Peranan Sumber Daya Manusia dalam Mewujudkan Pertanian Indonesia yang Unggul. Journal of Economic Education and Entrepreneurship Studies, 3. , 241Ae252. Umar. Yuliana Bakari. Supriyo Imran, & Muhammad Zubair Hippy. Ketersediaan Modal Dan Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Jurnal Agrica, 16. , 218Ae231. https://doi. org/10. 31289/agrica. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. JU-ke (Jurnal Ketahanan Panga.