Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vol. 03 No. E-issn : 2809-9508 http://jurnal. id/index. php/JPPISB https://doi. org/10. 47233/jppisb. KEMATANGAN VOKASIONAL DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA PADA SISWA SMK X KABUPATEN SOLOK Hari Kurniawan. Ane Titisemita. Ovan Zulia Putra. Fakultas Psikologi. Universitas Putra Indonesia AuYPTKAy Padang. Sumatera Barat. Indonesia Email: arikkurniawan17@gmail. Fakultas Psikologi. Universitas Putra Indonesia AuYPTKAy Padang. Sumatera Barat. Indonesia Email: anetitisemita@gmail. Abstract This study aims to determine the relationship between vocational maturity and anxiety in facing the world of work in students of SMK Negeri 2 Gunung Talang. The independent variable in this study is vocational maturity while the dependent variable is anxiety in facing the world of work. The measuring tool used in this study is the vocational maturity scale and anxiety in facing the world of work. The sampling technique in this study used a proportionate stratified random sampling technique. The sample in this study were 133 students of SMK Negeri 2 Gunung Talang. Test the validity and reliability in this study using Alpha Cronbach technique. The results of the validity coefficient on the vocational maturity scale move from rix = 0. 319 to rix = 0. 771 with a reliability coefficient value of = 0. 945 while the results of the validity coefficient on the anxiety scale in facing the world of work move from rix = 0. 329 to rix = 0. 746 with a reliability coefficient value of = 0. Based on data analysis, a correlation value of -0. 522 was obtained with a significance level of 0. 000, which means that the hypothesis is accepted. This shows that there is a significant relationship between vocational maturity and anxiety in facing the world of work in students of SMK Negeri 2 Gunung Talang. Keywords: vocational maturity, anxiety in facing the world of work, students. Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kematangan vokasional sedangkan variabel terikat adalah kecemasan menghadapi dunia kerja. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kematangan vokasional dan kecemasan menghadapi dunia kerja. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 133 siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. Uji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini menggunakan teknik Alpha Cronbach. Hasil koefisien validitas pada skala kematangan vokasional bergerak dari rix = 0,319 sampai dengan rix = 0,771 dengan nilai koefisien reliabilitas = 0,945 sedangkan hasil koefisien validitas pada skala kecemasan menghadapi dunia kerja bergerak dari rix = 0,329 sampai dengan rix = 0,746 dengan nilai koefisien reliabilitas = 0,939. Berdasarkan analisis data, diperoleh nilai korelasi sebesar -0,522 dengan taraf signifikansi 0,000 yang berarti hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. Kata kunci: kematangan vokasional, kecemasan menghadapi dunia kerja, siswa. Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara . Pendidikan dapat diperoleh melalui jalur formal, non formal dan informal. Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan yang telah baku misalnya SD. SMP. SMA dan Perguruan Tinggi . Pada umumnya dalam proses pendidikan akan ada sebuah kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan seperti mendengarkan, meniru dan lain sebagainya . Dalam hal ini siswa mempunyai serangkaian kegiatan seperti belajar membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya yang dilakukan siswa di sekolah. Sekolah adalah satuan mengajar . Sekolah yang dimaksud disini adalah SMA dan sederajat. Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Menengah Atas. Sekolah Menengah Kejuruan. Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan atau bentuk lain yang sederajat . Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs . Pendidikan dapat memperbesar peluang pekerjaan dan kemungkinan mendapatkan uang hingga akhirnya pendidikan tinggi bagi masyarakat dianggap merupakan suatu kebutuhan di era globalisasi yang terus berkembang saat ini untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik . Boleh dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang maka semakin luas pula kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Permasalahan di Indonesia adalah banyaknya ketidaksesuaian antara skill atau latar belakang pendidikan yang dimiliki calon tenaga kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan itu sendiri, sementara calon tenaga kerja terdidik ingin menemukan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang dimasuki, maka tingkat kemampuan calon tenaga kerja, jenis kelamin dan ketertarikan akan suatu pekerjaan dapat meningkatkan kesuksesan calon tenaga kerja dalam memilih pekerjaan yang tepat . Adanya kenyataan peluang mendapat pekerjaan yang semakin sulit akibat kebijakan ekonomi politik negara yang belum berpihak pada terbukanya lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya menjadikan tidak adanya jaminan dan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan . Sempitnya lapangan kerja saat ini banyak menimbulkan permasalahan serius bagi kalangan para pencari kerja dimana jumlah pencari kerja yang tidak sebanding dengan lowongan kerja yang ada mengakibatkan tingkat pengangguran menjadi tinggi . Situasi ini pada akhirnya menempatkan para pencari kerja dalam posisi yang kurang menguntungkan hingga akhirnya proses memasuki dunia kerja yang dinilai sulit dan dihubungkan dengan munculnya emosi negatif salah satunya yaitu kecemasan. Kecemasan adalah keadaan emosi negatif yang ditandai dengan gugup, khawatir, ketakutan dan terkait dengan aktivasi atau kegairahan pada tubuh . Kecemasan adalah suatu kekhawatiran umum mengenai suatu peristiwa-pwristiwa yang akan dating dimana hal tersebut belum jelas dan kapan terjadinya . Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 Kecemasan menghadapi dunia kerja adalah kondisi psikologis seseorang berupa rasa tertekan dan ketakutan yang muncul karena adanya keadaan dimana individu merasa tarancam oleh salah satu hal yang dianggapnya menakutkan dan menyakitkan yang berasal dari luar maupun dari dalam sehingga menimbulkan kekhawatiran, kegelisahan yang menganggu ketenangan menimbulkan kekacauan fisik . Perasaan cemas ini menimbulkan kekhawatiran seperti khawatir tidak adanya pekerjaan tetap, khawatir akan tidak mampu bersaing dan tidak berhasil mendapatkan pekerjaan, khawatir terhadap kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang diinginkan serta khawatir menghadapi calon pelamar lain . Kecemasan menghadapi dunia kerja juga memiliki pengaruh terhadap komitmen terhadap karir yang dipilih, artinya ketika seseorang mempunyai tingkat kecemasan karir yang tinggi maka akan mendorong individu tersebut untuk tidak terburu-buru dalam berkomitmen terhadap pilihan karir yang ada dan bersikap lebih terbuka terhadap eksplorasi karir . Kecemasan karir berdampak pada perkembangan pengalaman individu dimana hal tersebut akan mengganggu proses pengambilan keputusan untuk menjalani suatu pekerjaan, maka dibutuhkan pengukuran menyeluruh terkait kemampuan pengambilan keputusan terkait karir dan kemampuan vokasional . Kematangan kemampuan individu dalam melakukan pengkajian pada kendala-kendala yang berbentuk pendidikan dan pekerjaan, evaluasi pada kemampuan dirinya, perencanaan serta pengambilan keputusan dalam pemilihan pendidikan maupun pekerjaan . Kematangan vokasional merupakan kemampuan dalam melakukan eksplorasi terhadap masalah pendidikan kemampuan diri yang di kaitkan dengan masalah pekerjaan, perencanaan masalah pekerjaan, pengambilan keputusan dalam masalah pekerjaan . Kematangan vokasional sebagai keberhasilan individu tugas-tugas perkembangan vokasional yang khas bagi tahap perkembangan tertentu . Kematangan vokasional adalah suatu keberhasilan yang didapatkan individu perkembangan karir yang khas bagi setiap tahap perkembangan tertentu . Kematangan vokasional siswa dapat dipengaruhi oleh hasil belajar baik akademik maupun ekstrakurikuler sehingga siswa lebih mengetahui minat, bakat, potensi maupun kompetensi yang dimiliki dan siap untuk menentukan pilihan terkait dunia kerja yang akan dihadapi . Kematangan mengenai bagaimana individu mampu menetapkan pilihan pekerjaan sejalan dengan kemapuan yang telah dimilki oleh setiap individu yang tentunya telah sesuai dengan kepentingan dan preferensi kerja. Maka jika seorang individu dinyatakan matang secara vokasional, individu menunjukan konsistensi dalam membuat pilihan pekerjaan karena sebelumnya telah menyesuaikan dengan harapan seperti apa nantinya pekerjaan yang ingin dimiliki dan selaras dengan kemampuan dan pandangan terhadap pekerjaan tersebu . Individu menjadi matang atau siap untuk membuat sebuah penetapan karier yang didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki guna mengambil keputusan terhadap pilihan karier yang sebelumnya telah memiliki informasi mengenai apa saja terkait pekerjaan dan juga telah melakukan eksplorasi terhadap pekerjaan tersebut . Menurut Crites . dalam kematangan vokasional diperlukan adanya kesesuaian antara individu dengan pekerjaan dan bagaimana proses pengambilan keputusan dalam pemilihan pekerjaan. Individu dikatakan memiliki kematangan vokasional yang tinggi jika ditandai oleh keajegan memilih pekerjaan yang diharapkan . Berdasarkan hasil wawancara awal yang peneliti lakukan pada tanggal 30 Juni 2022 terhadap delapan orang siswa SMK Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 Negeri 2 Gunung Talang, diperoleh keterangan bahwa siswa mengatakan takut dan khawatir akan menganggur dan susah untuk mendapatkan pekerjaan setelah tamat Siswa mengatakan kurang yakin untuk bisa bersaing dengan orang lain yang pastinya mempunyai keahlian yang lebih mumpuni darinya. Siswa mengatakan adanya rasa was-was jika nanti lulus sekolah sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena untuk saat ini belum terpikirkan dan belum adanya persiapan sama sekali untuk mencari pekerjaan. Siswa mengatakan terkadang ada rasa takut dalam diri untuk bersaing dengan pelamar kerja lainnya yang lebih memiliki kemampuan lebih, adanya perasan pesimis dan merasa tidak yakin atas kemampuan yang dimilikinya. Siswa juga mengatakan sampai saat ini belum adanya usaha dari dalam diri untuk mencari-cari data tentang lowongan pekerjaan karena masih fokus untuk belajar Siswa mengatakan khawatir dalam menghadapi dunia kerja karena belum dimilikinya sehingga ragu akan hasil yang akan didapatkan. Kurangnya keyakinan di dalam diri untuk bersaing dengan orang lain terlebih sekarang ini kebanyakan orang masuk kerja pakai akses orang dalam. Siswa mengatakan ada potensi dalam diri untuk mencari kerja tetapi tidak dapat memilih satu sebagai tujuan yang jelas, mengambil keputusan dan belum bisa memilih satupun dari alternatif yang mungkin baginya dan masih bimbang akan pilihannya itu, peneliti melakukan penelitian di SMK dikarenakan, pendidikan kejuruan memberikan suatu bentuk pengembangan bakat dan keterampilan yang tentunya mengarah pada dunia kerja agar siswa mampu bersaing di persaingan dunia kerja, dan pembelajaran tidak hanya terjadi di sekolah namun juga ada kegiatan praktek kerja lapangan di industri dunia Namun faktanya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) lulusan sekolah menengah kejuruan memiliki angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) terbesar terhadap angkatan kerjanya dibandingkan dengan lulusan sekolah pendidikan lainnya . Berdasarkan hasil Kematangan Vokasional dengan seorang guru di SMK Negeri 2 Gunung Talang Beliau mengatakan bahwa kematangan vokasional yang dimiliki siswa itu banyak dari mereka yang memiliki tingkat Kematangan Vokasional yang bagus namun banyak juga yang masih bingung dan takut untuk menghadapi dunia kerja setelah lulus, dilihat dari hasil praktek di sekolah dan praktek kerja lapangan banyak dari mereka yang memiliki nilai bagus dalam menguasai bidang kejuruan mereka masing-masing, akan tetapi banyak juga dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul hubungan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan variable dependen nya adalah kecemasan menghadapi dunia kerja (Y) dan variabel independen nya adalah kematangan vokasioanal (X). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang yang berjumlah 254 siswa. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling dimana teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional . Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala. Alasan menggunakan metode skala yaitu karena subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri . Skala yang digunakan pada penelitian ini adalah skala kematangan menghadapi dunia kerja model Likert yang Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 telah dimodifikasi menjadi empat alternatif jawaban dan aitem-aitem dalam skala ini dikelompokkan dalam aitem favourable dan unfavourable. Bentuk skala yang digunakan untuk mengukur variabel kematangan vokasional dan variabel kecemasan menghadapi dunia kerja menggunakan empat alternatif jawaban, yaitu. SS (Sangat Setuj. S (Setuj. TS (Tidak Setuj. dan STS (Sangat Tidak Setuj. HASIL DAN PEMBAHASAN Koefisien validitas skala kematangan vokasional bergerak dari 0,319 sampai 0,771 reliabilitasnya sebesar 0,945. Tabel 1. Uji Normalitas Variabel KSZ Sebaran Kematangan 1,195 0,115 Normal Kecemasan 0,482 0,974 Normal Koefisien validitas skala kecemasan menghadapi dunia kerja diperoleh nilai indeks daya beda aitem bergerak dari 0,329 sampai dengan 0,746 dengan koefisen 0,939. Uji normalitas dalam penelitian ini menyatakan bahwa data yang dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi . lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan bantuan program komputer, maka diperoleh hasil sebagai Berdasarkan uraian tabel di atas, maka diperoleh nilai signifikansi pada skala kematangan vokasional sebesar p = 0,115 dengan KSZ = 1,195. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p > 0,05, artinya sebaran berdistribusi secara normal sedangkan untuk skala kecemasan menghadapi dunia kerja diperoleh nilai signifikansi sebesar p = 0,974 dengan KSZ = 0,482, hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai p > 0,05, artinya sebaran berdistribusi secara normal. Uji linieritas dilakukan untuk mengetahui apakah data variabel bebas berkorelasi secara linier dengan variabel Dikatakan linier apabila nilai p < 0,05 . Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan bantuan program komputer, maka diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 2. Uji Linieritas Mean Square Sig 2754,225 42,790 0,000 Berdasarkan uraian tabel di atas, maka diperoleh nilai signifikansi sebesar p = 0,000 . < 0,. , artinya varians pada skala kecemasan menghadapi dunia kerja tergolong linier. Berdasarkan hasil pengolahan data hubungan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang dengan sampel penelitian sebanyak 133 orang, maka diperoleh hasil sebagai Tabel 3. Uji Hipotesis () Nilai Korelasi . Kesimpul 0,000 0,01 -0,522 0,273 Sig . 0,000 < 0,01 level (). Berdasarkan uraian tabel di atas, maka diperoleh koefisien korelasi antara variabel kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja sebesar r = -0,522 dengan taraf signifikansi p = 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang dengan arah hubungan negatif. Hal ini berarti apabila siswa memiliki kematangan vokasional Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 yang tinggi, maka siswa tersebut memiliki kecemasan menghadapi dunia kerja yang rendah, begitu juga sebaliknya apabila siswa memiliki kematangan vokasional yang rendah, maka siswa akan memiliki kecemasan menghadapi dunia kerja yang Berikut tabel deskriptif statistik dari variabel kematangan vokasional dan variabel kecemasan menghadapi dunia kerja sebagai berikut: Tabel 4. Descriptive Statistic Variabel Mean Std. Deviation Minim Maxim Kematanga Kecemasan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat dilakukan pengelompokkan yang mengacu pada kriteria pengkategorisasian dengan tujuan menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur sebagai Tabel 5. Pengelompokkan Kategorisasi Subjek Variabel Kematangan Kecemasan Skor Juml Persentase (%) Kategori 77 Ae 88 Rendah 89 - 110 Sedang 111 - 125 Tinggi 87 - 99 Rendah 100 - 117 Sedang 118 - 131 Tinggi Berdasarkan uraian tabel di atas, maka dapat diperoleh gambaran pada variabel kematangan vokasional sebesar 17 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang vokasional yang rendah, sebesar 93 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang vokasional yang sedang dan sebesar 23 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang vokasional yang tinggi sedangkan untuk variabel kecemasan menghadapi dunia kerja diperoleh gambaran bahwa sebesar 15 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang memiliki kecemasan menghadapi dunia kerja yang rendah, sebesar 94 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang memiliki kecemasan menghadapi dunia kerja yang sedang dan sebesar 24 . %) siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang memiliki kecemasan menghadapi dunia kerja yang Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang yang ditunjukkan oleh angka koefisien korelasi rxy = -0,522 dengan tingkat signifikansi korelasi p = 0,000. Nilai yang negatif pada koefisien korelasi menunjukkan hubungan negatif antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang, artinya bahwa semakin tinggi kematangan kecemasan menghadapi dunia kerja dan sebaliknya semakin rendah kematangan vokasional maka semakin tinggi kecemasan menghadapi dunia kerja. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis diterima dimana arah hubungan yang negatif. Hasil penelitian ini sejalan dan mendukung penelitian sebelumnya yaitu penelitian oleh Nugroho . ada hubungan negatif antara kematangan vokasional dengan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja pada mahasiswa semester akhir di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hal ini selaras dengan penelitian yang Sukmasari . merupakan peneliti terdahulu mengenai hubungan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah Sosial Budaya Vo3. No 1 Juli 2024 pada mahasiswa tingkat akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kematangan vokasional dengan kecemasan mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang Artinya, ketika kematangan vokasional mahasiswa tinggi maka kecemasan menurun dan sebaliknya jika kecemasan mahasiswa tinggi maka kematangan vokasional mahasiswa menurun, maka hipotesis penelitian diterima. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang signifikan antara kematangan vokasional dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. Demikian juga arah dari hubungan yang menunjukkan vokasional maka semakin rendah kecemasan menghadapi dunia kerja kematangan vokasional maka semakin tinggi kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK Negeri 2 Gunung Talang. Hal ini menyatakan bahwa hipotesis diterima dimana arah hubungan yang Adapun sumbangan efektif dari variabel kematangan vokasional dengan variabel kecemasan menghadapi dunia kerja yaitu sebesar 27%. UCAPAN TERIMAKASIH