STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI INDONESIA SETELAH 50 TAHUN WIERDEKA: Adakah peluang kedl ? Oleh: Mudrajad Kuncoro Sejak tahun 1966, pemerintah Orde basis modal besar dan teknologi tinggi, na- secara perlahan digeser oleh birokrasi dan akan menelaah bagaimana struktur serta Bam telah membangim suatu pemer- mun kurang berdasar atas kekuatan ek intahan nasional yang kuat menem- onomi rakyat. Padahal, pengalaman Tai patkan stabilitas politik sebagai landasan wan, misalnya,justm menunjukkan bahwa untuk mempercepat pembangunan ek- ekonominya dapat tumbuh pesatkarena dionomi Indonesia. Politik sebagai panglima topang oleh sejumlah usaha kecil dan metelah diganti dengan ekonomi sebagai pan nengah, yang sering disebut community glima, danmobilisasi massa atasdasarpartai basedindustry. Olehkarena itu,makalahini politik teknokratis. Dalam konstelasi politik yangbam ini,militertelahmenempati posisi yang paling atas dalam herarki kekuasaan. Sejarah mencatat, pemerintah Orba telah berhasil dalam melenyapkan hyperinflasi . nflasi beratus- ratus perse. , mengubah modal yang hengkang ke luar negeri menjadi ams masuk swasta yang substansial, mengubah defisit cadangan devisa menjadi selalupositif, mempertahankan haiga beras dan meningkatkan produksi beras hingga mencapai tingkat swasembada, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan menentukan jumlah kinerja industri Indonesia setelah 50 tahun Analisis temtamadifoluskan pada periode setelah tahun 1965mengingat ber bagaidataindustrisebelum periodetersebut amat sulit dipercaya keakuratannya karena hiperinflasy maupun kekacauan- politik. Pertanyaan mendiar yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah: Apakah peluang bagi usaha kecil dalam era globalisaasi? Upaya apakah yang hams ditempuh agar dapat mengembangkan stmktur indiwtri yang mampu menggerakkan dinamika kerakyatan dengan basis usaha kecil dan penduduk yang berada dalamgaris kemiskinan. Dibalik prestasi yang banyak mendapat pujian tersebut, hams diakui masih banyak "catatan pinggir" yang masih layak untuk ditelaah lebih mendalam. Salah satunya adalah masalah dualisme yang masih drasakan di berbagai sektor perekonomian. Makalah ini akan menelusur dualisme industri Indonesia. Dualisme ini muncul karena orientasi industrialisasi yang ber- DUALISME INDUSTRI INDONESIA Tidak dapat dipungkiri bahwa industrial isasi di Indonesia sejak Pelita I hingga saat ini telah mencapai hasil yang diharapkan. Setidaknya indutrialisasi telah mengakibatkan tranformasi struktural di Indonesia. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan ke- Stafpengajar dan peneliti pada Fakultas Ekonomi UGM. Saat Ini mendapatkan kepercayaan sebagai Kepala Devisi Industri dan Energi PAU Studi Ekonomi dan Pengelolaan Pusat Konsultasi Penqusaha Kecil UGM. Tabel 1. Distribusi Produk Domestik Bruto dan Laju Pertumbuhan sektor (%). Sektor PangsaDaiamPDB Rata-rata Pertumbuhan Perindustrian Industri I Industri manufaktu. Jasa, dil Sumber: WorldBank . '1994. )" ' seluruhan menymbang 40 persen terhadap PDB. Pada tahun yang sama, sumbangan cenderungaan proses transform^i struktural yang terjadi di berbagainegara, dimana teijadi penurunan' konstnbusi sektor pertanian Xsering' disebuf sektor prime. , se- sektor pertanian merosot. drastis hingga tinggai 19 pei^n dari PDB. Ini sejalan deng^ menurunnya laju pitumbuhan- sektor mentara konstribusi sektor sekunder dan dari rata- rata 4j3 percen per tersier cenderung meningkat. a 1965-1980'menjadi 3,1 'A Kecenderiingan mi'pada. Pada tahun 1965,sektorpertanianmerupakansek- . ' persen selama 1980-1992. "Singkatnya, sektor penyumbarig terbesar terhadap Produk Ator industri. manufaktur muncul menjadi DomestikBruto . sementara sek-. penyumbang, nilai tambah dominan dan tor industi bani menyumban. :13 peKen dari PDB. Dengan pertumbuhan'rata-rata - buhan-sektor pertanian. Para ahli sejarah pertahunsebesar Il,9persenselama 1980- , pereknomiah tahpa ragu akan menilai ba1992. sektpr=industri telah meuggeser. per- hwa pertumbuhan dan transforniasi indus anan sektor pertanian dalam pembangunan. tri 'selama . '25 tahun terakhir merupakan Pada tahun 1992, sektor industri secara keTabel 2. Kontribusi Usaha Kecil dalam Industri Manufaktur. Unit Usaha <^) Industri"' Menengah. A i A dan besafi'. A A. Tenaga Kerja Orang industri Kecil. c i. A 94. Industri A 770. /'rumah^ 1 416 935. '^tangga Nilai Tambah JutatRp. 254>419 A '11,0 Sumber: BPS . Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, 1971-1988 . Sektor Pertanian Pertambangan dan Pengalian Industri Pengolahan Listrik, air dan gas Bangunan Perdagangan Transportasi dan komunlkasi Perbankan. Keuangan Jasa. Pelayanan umum dan jasa lain. 67,04 0,21 6,92 0,09 1,72 10,96 2,42 0,23 13,95 56,30 0,76 9,14 0,13 3,23 13,04 2,87 0,59 13,95 54,72 0,67 9,29 0,11 3,36 14,98 3,14 0,04 13,33 50,43 1,01 11,53 0,20 4,13 14,87 3,69 0,90 13,24 0,22 0,96 0,76 13,13 13,18 4,34 17,05 4,12 SU\ILAH Sumber: BPS, berbagai tahun. salah satu prestasi Orde Baru yang layak formasi sosial sebagaimana ter-cermin dalam perubahan lapangan kerja pen Tabel 3 menunjukkan ternyata Hanya saja strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal, proteksi, dan teknologitinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembagunan. Fakta menunjukkan sektormanufakturyangmodem hidup berdampingan dengan sektor pertanian tradisional dan kurang produktif. Dualisme dalam sektormanufaktiirjuga terjadi antara industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang berdampingan dengan industri menengah dan besar. Tabel 2 menunjukkan bahwa industri kecil persentasependuduk yang bekerja di sektor pertanian terhadap total penduduk yang bekerja tidak anjlok sedrastis penurunan sumbangan sektor pertanian terhadap PDB. Pada tahun 1971, penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebesar 67,04 persen. Pada tahun 1994, meskipun menurun, temyata penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih sebesar 46,22 persen. Karena itutidak berkelebihan bila di^takan bahwa perekonomian Indonesia pada dasamya masih bersifat agraris, karena se- dan mmah tangga (IKRT) memiliki peranan bagian besar penduduk masih meng-gan- yang cukup besar dalam industri manufak tur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan tungkan diri pada sektor pertanian. daya serap^ tenaga kerja, namun lemah dalam menyumbang nilai tambah. Dari total STRUKTUR DAN KINERJA INDUSTRI unit usaha manufaktur di Indonesia seban- yak 1,524 juta, temyata 99,2 persen mempakan unit usaha IKRT. IKRT, dengan jum lah tenaga kerja kurang dari 20 orang, mampu menyediakan, sumbangan nilai tambah IKRT terhadap industri manufaktur hanya sebesar 17,8 persen. Sementara itu, tranformasi ekonomi agaknya tidakse-Ialusejalan dengan trans- Indonesia, struktur industri masih belum dalam . dan belum seim- bang . Berbagai studi dengan memanfaatkan tabel input-output menun jukkan bahwa kaitan ekonomis antara in dustri berskala besar, menengah dan kecil masih amat minim, kecuali untuk sebsektor makanan, prc^uk kayu dan kulit. Hal ini fl. Struktur Sekarang Struktur Ideol Usoho Besor Usoho Besor Usoho Menenooh Usoho Kecil Usoho Menenooh Usoho Kecll semakin diperarah dengan struktur industri yang masih kuasi-monopolistik dan oligopolistik. Struktur industri dapat dilihat daii rasio konsentrasinya sebagai berikut . ihat tabel . Pertama, rata-rata tingkat konsentrasl untuk sektor manufaktur sebe- sar 47 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi industri di negara maju (Inggris 22 persen dan AS 36 perse. ini semakin siilit diatasi karena masih men- dapatproteksi tarifdan nontarifyangtinggi d^ pemerintah. A-kibatnya, haiga domestik dari produk seperti tepimg teri-gu, min- yakgoreng,semen,bahan plastik, dan mobil jauh lebih tinggi diban^ng harga internasional. Lebih menarik lagi apabila fakta konsen trasi industri dikaitkan dengan kineija in Kedua, berdasarkan standar intemasional, dustri dalam bidang ekspor. Orientasi eksuatu industri dikatakan berstruktur oU- spor diharapkari dapat digunakan sebagai gopoli bila empat perusahaan terbesar dalamindustriyangsama mempunyai kon sentrasi di atas 40 persen. Karena itu, tidak berkelebihan bila dikatakan struktur pasar industri manufaktur Indonesia berciri oli- Menurut survei yang . dilakukan oleh Econit . , penyebab teijadinya oli- gopoli di Indonesia karena 4 hal, yaitu: . ata niag. , . besamya modal yang diperlukan untuk investasi, . tingginya teknologi yang digunakan, . preferensi terhadap produk. tabel 5 secara rinci menggambarkan beberapa sektor industri Struktur semacam ini menyebabkan tiadanya tekarian persaingan untuk melakukan minimisasi biaya. yang terkahir indikator efisiensi . engingat data efisiensi yang akurat secara sektoral tidak tersedi. , karena eksportir mau tidak mau harus ber- saing dengan efisien di pasar global. Studi empiris yang dilakukan Iqbal . menunjukkan adanya korel^i negatif antara orientasi ekspor dengan konsentrasi in Subsektoryang konsentrasinya tinggi cenderung tidak mau banyak terlibat dalam aktivitas ekspor. Hal ini kemungkinan besar karena subsektor'yangberkonsentrasi tinggi tidak dapat bersaing di pasar ter-buka yang tidak diproteksi. Tabel 6 menyajikan rangkuman studi Iqbal . yang melakukan analisis berdasarkan observasi 118 subsektor industri bukan logam, barang berorientasi ekspor tinggi sekaligus tingkat kon-sentrasinya rendah, meliputi industri Tabel 4. Rasio Kosentrasi dalam Sektor Manufaktur, i^ngsg_4Aerusj^aanterbesar, dalam persentas. Klasifihasi Makanan, minuman, tembakau Tekstil, pakaian jadi, kulit Produk Kayu Kertas Kimia Barang galian bukan logam logam Dasar barang dari logam, mesin dan peralatannya pengolahan lain ^ 49,0 Sumber: Diolah dari data BPS Oleh Mudrajad Kuncoro dan Anggito Abimanyu . Tabel 5. Penyebab Teriqdinva Oligopoli diIndonesia. Sehtorlndustri Minyak Goreng Penyebab terjadinya ONgopolj Frotehsj [Tata niag. Modal Besar Tehnologi ' Tinggi Preferensi Produk ^ tepung Terlgu Tembakau Produk kaca Semen Industri non best Peralatan profesional Sumber: Econit sebagaimana dikutib oleh KOMPAS, 6Juni 1995, hal 13. Tabel 6. Konsentrasi dan Qrientasi Ekspor. OrieniasiEkaorTinggi Barang dad Logam Konsentrasi Tinggi Konsentrasi rendab Orientasi Ekspor Rendah BukaDlioam Kmia Keitas Banns dariKaviTtkstil/sepi Mahanan Logam Dasar Catalan: Konsentrasi tinggi bila konsentrasi subseklor . asio 4 perusahaan terbesar pada tahun 1991 ) lebih tinggi dibanding rata-rata tertimbang industri sebesar 47 orientasi ekspor tinggi bila pangsa total produksi yang diekspor lebih tinggi diabnding rata-rata industri sebesar 25persen . adatahun 19921 A Sumber: Iqbal . barang dari kayu dan industri tek- vestasi tidak memberi banyak keimtungan stil/sepatu. Bukti-buktiempiris ini menunjukkanbahwaderegulasi telahmenurun^n bagi perusahaan kecil dan menengah. bahkan justru perusahaan besar dan konglomerat yang mendapat keuntungan (Abimayu. Setidaknya ini terlihat dari tabel 7 yang menunjukkan pola pertumbuhan . perusahaan dilihat dari jumlah perusahaan kecilrelatif rendah . ,31%), dibanding perusahaan menengah . ,3%) dan perusahaan kecil yang grduate lebih tinggi dibanding yang lain. Masalahnya temyata pertambahan nilai tambah tidak dinikmati oleh perusahaan baik berskala kecil, sedang dan besar. justru perusahaan milikkonglomeratyaiigberskalaamat besar . engan tenagaketja lebihdari 1000 oran. yang menikmati kenaikan nilai tambah se konsentrasi indnstri secara umum, melalui kenaikan pangsa subsektor yang berorientasi ekspor. Kenerja ekspor dapat pula dilihat dari derajat keter- gantungan ekspor Derajat ketergantungan ekspor menunjukkan proporsi produksi suatu subsektor yang secara ' langsung maupun tidak langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebu-tuhan ek dengan kata lain, indikator ini menun jukkan keterkaitan suatu subsektor dengan aktivitas ekspor. Semakin tinggi derajat ketergantungan eksporsuatu subsektorberarti semakin ketergantungan ekspor terhadap subsektor tersebut. Penelitian Kun- cara absolut maupun per rata- rata perusa coro dan Pradiptyo . , yang mengolah tabel Input-Output 1980-X985-1990, menunjukkan bahwa peringkat top ten Dalam konstelasi inilah, perhatian untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan kerajinan rumah tangga (IKKRI) setidaknya dilandasi oleh tiga alasan. IKKRT menyerap banyak tenaga kerja. Kedua. IKKRT memegangperanan pentindalam ek spor ndn migas, yang pada tahun 1990 mencapai US$ 1. 031 juta atau menempati ranking kedua setelahekspor dari kelompok aneka industri. Ketiga, adanya urgensi un tuk struktur ekononii yang berbentuk' piramida pada PJPT I menjadi semacam dalam derajat keter-gantungan ekspor didominasi oleh subsektor agroindustri yang mencakup produk pertanian, indutri pen- golah hasil pertanian, dan industri penyedia input pertanian. Sedang industri semen,rokok, tepung, mineral bukan logam. Besi baja mempunyai angka keter gantungan ekspor yang rendah. Subsektor agroindustri yang masuk dalam kelompok ini adalah unggas, temak, padi l^cang, jag- ing, cengkeh, tebu, pemotongan hewan, "gunungan" pada PJFTII. Struktur ekonomi serat, dan industri penggilingan padi. Ren- bentuk piramida terbukti telah menemukan isyu konsentrasi dan konglomerasi, serta banyak dituding melestarikan dual- dahnya derajat ketergantungan ekspor membuktikan bahwa subsektor-subsektor tersebut lebih berorientasi pada pasar dalam negeri dibanding melayanipasar ekspor. MENGAPA USAHA KECIL PERLU DIKEMBANGKAN? Sejaktahun 1983,pemerintah secara konsisten telah melakukan berbagai upaya de regulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukturisasi perekonomian. Kendatidemikian, banyak yang mensinyalir deregulasi di bidang perdagangan dan in- isme perekonomian nasional. Bentuk "ideal" yang banyak disarankan adalah "gunun gan", dimana: pada bagian atas adalah kelopok usaha besar yang memang memberikan konstribusi terbesar bagi perek onomian Indonesia tetapi proporsinya rela tif kecil dari pada kelompok usaha di bagian tengah menunjukkan kelompok atau usaha menengah yang merupakan proporsi terbesar dari struktur sedangkan bagian bawah hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan ekonomi nasional. Graduation dan Degredasi Perusahaan Manufaktur Indonesia 1980-1985,1986-1992. iumlah Perusahaan Small Mediuni Medium Small Medium A Medium ^ large Very >1992 Small Medium i Medium 2 Large UeryLarge A . Jumlah Perusahaan Very Small Medium I ^ Medium 2 Large Very large NilfllTAMBAH TotaHMiiyarRupiaiil PerPerusahaan (MilyarRupiah I 0,02 Menengah Konglomerat 22,78 -1,35 -2,77 25,23 Catalan: Perusahaan Kecil . : Jumlah tenaga keija 20-49 orang, perusahaan menengah I . edium 1^ jumlah tenaga keija 50-99. Perusahaan Menengah 2 . : Jumlah tenaga kerja 100-499. Perusahaan besar . : Jumlah Tenaga kerja 500-1000. Perusahaan sangat besar . jumlah tenaga kerja 1000 keatas. Sumber: Data mentah Perusahaan Mnaufaktur. BPS dan Bank Dunia. Laiigkah strategis agar membuat struktur ekonomi di mana lapisan menengah semakin banyak adalah mendorong pertumbuhan usaha kecil yang tangguh dan, syukur, dapat graduate menjadi usaha me nengah yang mandiri. pertanyaan yang barangkali muncul, kemudian, adalah: bagaimana profil industri/pengusaha kecil di Indonesia? Adakah bagi usaha kecil dalam era globalisasi yang penuh dengan persaingan. PROFIL USAHA KECIL Dalam setiap diskusi mengenai usaha kecil selalu timbul ketidaksamaan presepsi tentang siapa yang dimaksud dengan perusahaan/industri kecil. Biro Pusat Statistik memberikan klasifikasi industri berdasarka skala penggunaan tenaga keijanya, yaitu: industri besar bila menggunakan tenaga kerja lebih dari 100 or^g. industri sedang bila menggunakan tenaga keija antara 20 hingga 99 orang. industri kecil bila menggunakan tenaga keija antara 5 hingga 19 orang. industri rumah tangga bila menggunakan tenaga keija kurang dari 5 Departemen Perdagangan lebih menitik beratkan pada aspek permodalan, bahwa suatu usaha disebut usaha kecil apabila permodalanya kurang dari Rp25 juta. Departe men Perindustrian mendifinisikan industri kecil sebagai industri yang mempunyai asset tidak lebih dari Rp 600Juta. KADIN mendefinisikan indutri kecil sebagai aktor usaha yang memiliki asset maksimal Rp 250 juta, tenaga kerja paling banyak 300 orang dan nilai penjualan di bawah Rp 100 Juta. partemen Koperasi dan PPK agaknya sependapat dengan Bank Indonesia, yang menggolongkan pengusaha kecil (PK) berdasarkan kriteria omset Usaha tidak lebih dari 2 milyar dan kekayaan . idak termasuk tanah dan banguna. tidak lebih dari Rp 600 juta. Perbedaan persepsi mengenai pengusaha/industri kecil ini pada gilirannya menyebabkan pembinaan PK masih terkotak-kotak atau sector oriented, di mana mas- ing-masing instansi pembina menekankan pada sektor atau bidang binaannya sendirisendiri. Akibatnya terjadilah dua hal: . ketidak efektifan arah pembinaan. tiadanya indikator keberhasilan yang seragam, kareha masing-masing instansi pem bina berupaya mengejar target dan sasaran sesuai dengan kriteria yang telah mereka tetapkan sendiri. Karena egoisme sektoral/departemen, dalam praktek sering dijumpai terjadihya "persaingann" antar organisasi pembi-na. Bagi pengxisaha kecil pun, mereka sering mengeluh karena hanya selalu dijadikan "obyek" binaan tanpa ada -tindak lanjut atau pemecahah masalah mereka secara langsung. Kendata banyak definisi mengenai PK,namun agaknya PK mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas-^tara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga keija dari keluaiga dan kerabat dekatnya, data BPS menunjukkan hingga saat ini jumlah pengusaha kecil mandiri . anpa menggimakan tenaga keija lai. I8,227juta orang yang mengguankan tenaga keija anggota keluara sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga keija tetap. Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sember-sumber lain seperti keluaiga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir. ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan Menumt catatan BPS . , dari jumlah perusahaan kecil sebanyak 990, temyata 90,6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta 4,7 persen teigolong perusahaan perorangan berakta notaris. dan hanya 1,7 persen yang sudah mempunyai badan hukum (FT/NV,CV. FIRMA, atau Koperas. Secara garis besar, kita dapat membagi tantangan yang dihadapi pengusaha kecil dalara dua katagori: pertama, bagi PK dengari omset kurang dari 50 juta umixmnya tantangan yang dihadapinya adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjalan dengan aman sudah cukup. Mereka umumnya tidak membutuhkan mo dal yang besar untuk ekspansi produksi. biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. Bisa dipahami kredit dari BPR-BFR. BKK. TPSP, (Tempat Pelayanan simpan Pinjam-KUD) amat membantu modal keija mereka. Kedua, bagi PKdengan omset antara RP 50 juta hingga 2 milyar, tantangan yang di hadapi jauh lebih kompleks. Umumnya melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. Berdasarkan studi Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh PKjenis adalah: Pertama, masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Kedua, masalah bagaimana menyusun proposal dam membuat studi kelayakan untuk pin- jaman baik dari Bar^ maupun modal Ven Ketiga, masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor. Setidaknya ada 2 macam strategi yang relevan bagi usaha kecil. Pertama, karena kata kunci dalam era globalisasi adalah persaingan, maka usaha kecil dan koperasi perlu memusatkan diri pada keunggulan kompetitif yang dimilikinya. chael Porter . mengajarkan bahwa perusahaan dapat meraih keunggulan kompetitif dalam suatu industri dengan memilih satu diantara tiga generic strate gies, yaitu: . kepemimpinan ongkos:mengasilkan dan mendistribusikan produk den gan biaya rendah relatif diban^g para pesaingnya. deferensiasi: upaya penciptaan sesuatu yang baru yang dirasakan unik oleh keseluruhan industri. fokus: pe rusahaan dapat melayani pasar yang jelas terdefinisi namun sepit secara lebih baik dibanding pesaing yang melayani pasar yang lebih luas. Analisis Porter . mengenai keunggulan kompetitif lebih menekankan pada kemampuan usaha kecil un tuk meraih sukses dengan secara cermat mendefinisikan pangsa dan segmen . pasar mereka. Porter mengidentifikasi dua strategi fokus yaitu: . strategi fokus berdasarkan biaya rendah, yang teigantung pada adanya target segmen yang menginginkan biaya rendah. strategi fokus berdasarkan diferensiasi, yang tergantung pada adanya target segmen uang menginginkan atribut keunikan pro dengan Diamond model-nya,keunggulan kompetitif berasal dari perusahaan yang dapat mengembangkan suatu strategi yang jitu yang didesain untuk mefokuskan segenap kekuatannya pada suatu segmen pasar tertentu. Pada tingkat intemasional atau global, dimensi strategi kompetitif tersebut mencakup ruang lingkup m^tidoADAKAH FELUANG BAGI USAHA KECIL? Melihat konstelansi usaha kecil di Indone sia,-, masalahnya sekarang adalah: Adakah peliiang bagi usaha kecil dan bagaimana strategi mereka dalam era globalisasi dan perdagangan bebas? mestik ataukah global. Tabel 8 merangkup perbedaan dua spektrum dasar ini. Kunci siikses bagi usaha kecil, menurut Howard . , adalah melakukan adaptasi secara cepat terhadap tekanan persaingan. Kendati demikian, asumsi implisit dari model pengembangan usaha kecil tersebut adalah iklim yang kondusif bagi interaksi dan Tabel 8. Ciri Persaingan dan Strategi Industri Industri Global Persaingan MultldomestlK * Persaingan di tiap negara pada dasarnya tidak berkaitan dengan Suatu * Industri Internasional vice versa. yang menarik * Industri tidak hanya suatu kumpulan industri tap! juga bersaing pada skala dunia. Strategi perusahaan di suatu negara Perusahaan Strategi otonomi yang tinggi. * Strategi perusahaan di suatu negara amat ditehtukan oleh kondisi persaingan di negara tsb ( country centered * Strategi internasional negara lain. Perusahaan aktivitasnya di tingkat dunia keterkaitan antar negara. * Pesaing global harus rrienyeluruh namun masih perspektif negara. Sumber: Peter Dicken . 2, h. Porter . keterkaitan antara usaha kecil dengan pemerintah daerah, asosiasi, dan perguruan Kedua, apabila peluang imtuk bersaing tidak memungkinkan, altematif yang dapat dipilih adalah melalaikan aliansi bisnis. Ide dasar aliansi adalah dari pada bersaing saling mematikan lebih baik bekeija sama saling menguntungkan. Secara umum aliansi strategik dalam skala global dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: Pertama, aliansi patungan . lliance joint ventur. , dengan ciri partner tetap sebagaibadan usaha yang Kedua, aliansi khusus-fungsional . unctional-specific alliance. , dengan ciri nesiaberwajahlebih"merakyat". Tanpaber-. maksud mengecilkan arti dan Tcemajuan' koperasi pada saat ini, nampaknya T?eban berat' koperasi mengmban amanat sebagai sokoguru ekonomi perlu ditinjau kembali. Menjadikan koperasi sebagaisokoguru me mang sebuah ide mulia, sekaligus menjadi masalah besar. Krena yang terakhir ini selalu diartikan perlunya campur tangan pemerintah dalam pengembangan koperasi, hingga munculah gerakan koperatisasi: koperasi sarat dengan pesan-pesan konstitusional dan misi departemental. Koperasi dalam konteks ekonomi Indonesia modem haruslah koperasi yang modem pula. tidak terjadi pemisahan badan hukum dan harus sedinamis perekonomian itu sendiri. aliansi terbatas pada sau atau fungsi-fungsi khusus tertentu. Perbedaan dua kategori Karena persaingan adalah kata kunci dalam ekonomiglobal, mau tidak mau, ide koper aliansi ini dapat dilihat pada tabel 9. Baik asi sebagai organisasi ekonomi berwatak aliansi strategik yang pertama maupun kedua sebaiknya dUakukan atas pertimban- bisnis . idaklagi berwatak sosia. simgguh layak untuk dipertimbangkan. Barangkali gan yang bisnis-rasional dan tidak sudah saatnya dilakukan semacam business reengineering bagi koperasi. brdasarkan anjuran pejabat X sa-ja. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa program kemitraan yang didasarkan atas petunjuk Bapak X cenderung tidak mendidik dan hanya bersifat musiman. PENUTUP Hanya saja para pemikir yang kritis mulai mempertanyakan: ke mana arah sistem ek- onomi kita nantinya ? GBHN memang sudah menegaskan bahwa perekonomian Indone sia tidak raenganut free-fight leberalism maupun etatisme. Sistem Ekonomi Pancasila versi Mubyarto dan Emil Salim, seta isyu demokrasi ekonomi yang sempat ramai beberapa waktu lalu, nampaknya baru pada taraf "normatif dan belum mampu menjawab dinamika perekonomian Indonesia yang dinilai banyak pihak semakin terbuka dan" ke kanan". Kalaupun ada yang mendengungkan pengembangan koperasi dan usaha kecil barangkali hanya akan dianggap sebagai upaya membuat agar perekonomian Indo Oleh karena itu, apabilakita ingin berbicara banyak dalam pasar global, mau tidak mau distorsi semacam itu harus dihilangkan. Sudah saatnya proteksi bagi industri yang tidak efisien dan "jago kandang" dihilangkan, setidaknya dikurangi porsinya. Momentum liberalisasi perdaganngan dunia dan disepakatinya WTO agaknya merupakan external pressure untuk meniadakan berbagai proteksi yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Ini perlu dibarengi dengan berbagai persiapan kelembagaan, infrastruktur dan superas- truktur dalam upaya meningkatkan daya saing di pasar global. Pengembangan usaha kecil dan koperasi sebagai basis ekonomi kerakyatan merupakan salah satu langkah strategik yangperlu ditindaklanjutidengan langkah nyata dan tidak hanya berhenti pada retorika politifc semata. Agar dapat bersaingdi pasarglobal,sudah saatnyaiklim persaingan di dalam negeri dibenahi. Den gan langkah semacam itu. Insya Allah, kata tidak hanya menjadi "penggembira" dalam persaingan global. Tabel 9. Duajenis aliansi strategi intemasional. Alliance joint ventures Fuctionai specific competitive Badan dengan, atau kadang-kadang ' tanpa, kontribusi ekuitas. Kerjasama dapat terbatas pada suatu fungsi atau mencakup fungsi yang luas Adalah umum bagi partner suatu produk atau segmen pasar tertentu, sementara pada saat yang sama tetap beroperasi sebagai pesaing di pasar yang lain. Badan Kerjasama satu atau sejumlah fungsi tertentu , misalnya : . dalam litbang . erjasama dalam riset produk baru. persetujuan tisensi sitang . erluasan produk dengan suatu pasar tertent. persetujuan lisensi silang { distribusi silang ,hanya kemungkin-an tertentu ). persetujuan kerjasama manufaktur ( ekonomis dan mengatasi kapasitas produksi ). joint bidding consortia ( proyek mega ). Suraber: Business Intemasional . dalam Mudrajad Kuncoro ( 1. Daftar pustaka Abimanyu. Anggito . ,"Orientasi Usaha dan kinerja Bisnis Konglomerat", makalah dalam Seminar Nasiorial "Mencari Keseimbangan Antara Konglomerat dan Pengusaha kecil-menengah di Indonesia: Permasalahan dan Strategi". Dies Natalis STIE Widya Wiwaha. Yogyakarta, 30 i^ril. Booth. Anne, ed. The Oil Boom and after: Indonesian Economic Policy dan Performance in the Soeharto Era. Oxford: Oxford Univercity Press. Budiman. Arief . Sistem Perekonomian Pancasila dan Ideologi ilmu sosial di Indonesia. PT Gramedia. Jakarta. Ducken, peter . Global Shift: The Internationalization Economic Activity, edisi ke-2. Paul Chapman Publising Ltd. London. Hill, hal . , " Indonesia's Industrial Transformation: Part II". Bulletin of Indonesian Economic Syudies. No. Vol. Desember. ,"Manufacturing Industry", dalam Anne Booth . The Oil Boom and After: Indonesian Economin Policy and Performance in the Soeharto Era. Oxford Univercity Press. Singapore. Howard. Can Small Business Help Countries Compete". Havard Business Review. November-December. Kuncoro. Mudrajad . , "Struktural Adjustment in Indonesia: A survey of Recent Development". Kelola (Gadjah Mada University Business Revie. , 5/111/Januari. ," Peta Bisnis Aliansi Strategik". Manajemen dan Usahawan Indonesia. November. ,"Indonesia Menjelang Tahun 2000: sebuah renungan". Analisis CSIS, tahun XXII, no. 2, maret-April. Kuncoro. Mudrajad dan Anggito Abimayu . ,"Struktur dan Kinerja Indutri Indonesia: Adakah Peluang Bagi Usaha Kecil?", kelola Gadjah Mada University Business Review, akan segera terbit. Kuncoro. Mudrajad dan Rimawan Pradiptyo . Analisis Struktur-PerilakuKinerja Agroindustri Indonesia, laporan Penelitian, program Magister Manajemen UGM. Yogyakarta. Kustituanto. Bambang. Maskur Wiratmo. Mudrajad Kuncoro, dan R. Agus Sartono . Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM. Yogyakarta. Mubyarto . Sistem dan Moral Ekonomi Pancasila. LP3ES. Jakarta. Porter. Michael E. The Competitive Advantage of Nations. The Macmillan Press Ltd, -London and Basingtoke. ," frCm Competiitve Advantage to Corporate Strategies". Harvard Business Review. May-june, pp. Competitive Strategy: Techniquaes for Analizing and'Copetitors. The Free Press. New York. Rahrdjb. Dawam . ,"Aplikasi dan kritik Perkembangan Koperasi Dewasa ihi:, makalah dalam seminar Nasional Apresiasi dan kritik Perkembangan Koperasi Indonesia. Depkop & PPK. Jakarta, 6 Juli. Sumodiningrat. Gunawan . , "tantangan dan Peluang Pengembangan Usaha Kecil". Jurnal Tahunan CIDES, no. l,h. Swasono. Sri-Edi . Sistem Ekonomi dan Demokrasi Ekonomi. Ul-Press. Jakarta. World Bank . The Asiah Miracle: Economic Growth and Policy. Oxford: Oxford University Press.