Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 ORIENTASI AKTIVITAS DAN KELOMPOK KEAGAMAAN MAHASISWA : Sebuah Analisis Sosiologi dan Psikologi Triana Rosalina Noor trianasuprayoga@gmail. STAI An Najah Indonesia Mandiri ABSTRAKSI Perkembangan aktivitas dan kelompok keagamaan di sebuah perguruan tinggi adalah bertujuan untuk sebagai sarana pengembangan kompetensi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik namun juga dalam menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Namun dewasa ini aktivitas kelompok keagamaan mahasiswa yang dulunya secara mandiri dikelola oleh perguruan tinggi itu sendiri seiring dengan era globalisasi dan informasi mulai bermitra dengan beberapa kelompok keagamaan dari eksternal. Hal yang dikahawatirkan adalah adanya tendensi nilai-nilai kelompok eksternal tersebut akan mempengaruhi kehidupan di dalam kampus bahkan bermasyarakat. Melalui paparan ini, ditelaah aspek-aspek sosilogis dan psikologi yang melatarbelakangi keterlibatan dan keloyalitasan seorang mahasiswa pada sebuah kelompok keagamaan. Diantaranya adalah dikarenakan adanya secara pribadi adanya kebutuhan akan agama dan adanya kesamaan visi dan tujuan seorang mahasiswa tersebut sehingga nilai-nilai kelompok tersebut tercermin pada perilakunya sehari-hari. Kata kunci : aktivitas keagamaan ,kelompok keagamaan, sosiologis, psikologis, mahasiswa Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 PENDAHULUAN Tren pemikiran tentang keagamaan di Indonesia mungkin merupakan suatu topik yang tidak pernah sepi untuk dibicarakan sekarang ini. Para cendekiawan sampai politisi membicarakan topik terkaoit pemikiran tentang keagamaan sebagai persoalan hubungan agama, negara dan masyarakat. Frekuensi dan bobot pemberitaannya pun cukup tinggi dan sepertinya selalu aktual untuk disimak. Hal ini dikarenakan, selain bersentuhan dengan isu kebangsaan, keagamaan sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari polemik dan implikasi politik yang ditimbulkan. Menyikapi akan hal itu, para pendiri bangsa dan pemerintah meletakkan standar universal keagamaan pada sila pertama Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila digunakan sebagai pengatur kehidupan berbangsan dan bernegara terutama terkait hubungan antar beragama dan antar masyarakat secara umum. Sebagai masyarakat plural dan majemuk. Indonesia sepakat bahwa legitimasi Indonesia adalah sebagai negara nasional. Negara memiliki komitmen untuk merangkum dan mempersatukan segala sumber daya untuk menjaga keutuhan bangsa. Artinya seluruh komponen bangsa secara terintegrasi berusaha bersama-sama menjaga keutuhan bangsa diatas kemajemukan yang ada dengan cara mengesampingkan misi pribadi dan kelompok, agama atau etnis (Sudarto, 2. Namun pada kenyataannya saat ini di Indonesia sedang menggejala fenomena dogmatis yang tidak hanya melanda kalangan awam namun juga pada kalangan kelompok terdidik di perguruan tinggi. Dogmatis tersebut bukan hanya disebabkan oleh adanya kecenderungan taklid, tetap juga disebabkan oleh adanya keengganan berpikir. Kondisi seperti ini akan menyebabkan para pemeluk agama menganut fanatisme yang berlebihan sehingga menutup ruang dialog dengan penganut agama yang lain, bahkan cenderung bersikap otoriter yang pada akhirnya akan mengganngu kemajemukan Bangsa Indonesia (Sudarto, 2. Menyoroti maraknya paham paham dogmatis, intoleran, radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, maka sebanyak 50 pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia bersepakat untuk menolak paham-paham tersebut untuk masuk ke dalam ranah perguruan tinggi. Hal ini dilandasi adanya kekhawatiran saat melihat perkembangan terkait dengan maraknya kelompok-kelompok yang kurang menghormati kebinekaan, antiPancasila, dan anti-NKRI masuk kedalam kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi (Tempo. co, 2. Secara formal, pendidikan tinggi di Indonesia bertujuan untuk mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa, sebagaimana tertuang pada Undang-undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Artinya ada sebuah kewajiban bagi setiap perguruan tinggi untuk mengembangkan potensi mahasiswa melalui memberikan pendidikan keagamaan kepada para mahasiswa. Pendiidkan keagamaan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk kegiatan formal perkuliahan atau memfasilitasi mahasiswa dalam bentuk organisasi kemahasiswan. Terkait pembentukan organisasi mahasiswa dalam ranah perguruan tinggi diatur melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi. Adanya legitimasi atas pengembangan nilai keagamaan dan adanya fasilitasi dalam hal kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi maka membuka ruang bagi munculnya kajian keagamaan mahasiswa di perguruan tinggi. Mahasiswa terdorong untuk meningkatkan peranannya sebagai agent of change melalui melakukan pembaharuan dengan menggunakan organisasi kemahasiswaan sebagai sentral kegiatan dengan tujuan untuk Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 mengembangkan keilmuan dan pengembangan intelektual. Namun seiring dengan era globalisasi dengan kemudahan dalam mengakses informasi, paham-paham yang tidak seharusnya masuk di lingkungan perguruan tinggi tidak dapat terbendung lagi. Munculnya paham intolerasi yang tidak menerima heterogenitas masyarakat mulai menyerang aktivitas keagamaan mahasiswa. Hal ini dikuatkan oleh data dari Badan Intelejen Negara (BIN) yang mengungkap bahwa 39% mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal dan saat ini ada tiga universitas menjadi perhatian khusus karena bisa menjadi basis penyebaran paham radikal . com, 2. Adanya keinginan perubahan pemikiran di kalangan mahasiswa merupakan sebuah proses pencarian identitas dan orientasi baru sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak menutup kemungkinan dilakukan melalui aktivitas keagamaan yang berkembangndi perguruan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa ada kecenderungan aktivitas keagamaan yang dilakukan mahasiswa dipengaruhi oleh gerakan keagamaan yang terdapat di sekitar perguruan tinggi tersebut. Selain itu era reformasi diduga telah membawa pengaruh juga terhadap aktivitas keagamaan di kalangan mahasiswa. Asumsinya adalah era reformasi telah dianggap memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat yang berbeda sehingga muncullah paham-paham tertentu dalam aktivitas keagamaan di kalangan mahasiswa di perguruan tinggi (Muljono, 2. Keagamaan merupakan serangkaian tata nilai yang berfungsi sebagai kerangka acuan dalam bersikap dan bertingkah laku sehingga agar sesuai dengan keyakinan agama yang dimilikinya (Ishomuddin, 2. Terkait dengan aktivitas keagamaan mahasiswa, tidak terlepas dari motivasi dari masing-masing mahasiswa untuk mempelajari nilai-nilai tersebut secara kontinu. Penekanan-penekanan pada pentingnya mempelajari aspek syariat, akidah, kelimuan atau lainnya mendorong mahasiswa untuk berperilaku sebagaimana tekanan dari aspek-aspek tersebut. Selain itu peranan fasilitator pada kegiatan kemahasiswaan atau forum-forum diskusi ilmiah dengan topik keagamaan yang up to date tidak sedikit memiliki andil dalam membangun perubahan pemikira mahasiswa dalam hal keagamaan (Muljono. Menurut Paloutzian . , orientasi keagamaan seseorang akan mempengaruhi sikapnya dan berpengaruh pula pada sikap keagamaannya sehingga pada akhirnya akan mem pengaruhi perilaku keagamaannya. Dalam hal sikap, orientasi keagamaan menentukan sikap moral yang relevan . orally relevant attitud. dan sikap moral yang relevan tersebut akan melahirkan perilaku sosial yang relevan . orally relevant actio. Artinya pemaknaan agama dalam kehidupan seseorang tersebut akan berbeda antara mahasiswa satu dengan yang lain. KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI Manusia dan Agama Manusia merupakan makhluk tertinggi yang telah diciptakan oleh Tuhan di dunia ini. Manusia memiliki rasio-kecerdasan dan kemauan yang membedakannya dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia merupakan makhluk sosial yang berketuhanan (Gerungan, 2. Oleh karena bertujuan untuk menjalin hubungan dengan Tuhan YME maka manusia memiliki kebutuhan terhadap agama sebagai panduan dalam melakukan sesuatu karena manusia diciptakan tidak untuk melakukan kegiatan yang sia-sia (Ramli, 2. Manusia dalam beraktivitas keseharian berkaitan dengan religi . yang semua berdasarkan pada adanya suatu getaran jiwa untuk terlibat dalam keagamaan atau muncul emosi keagamaan . eligious emotio. Emosi keagamaan ini berbeda antara manusia satu dengan yang lain. Ada yang merasakan getaran emosi keagamaan yang berlangsung lama atau bahkan ada pula yang merasakan emosi keagamaan tersebut hanya sebentar saja. Namun secara umum, emosi keagamaan tersebut yang telah mendorong seseorang untuk melakukan Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 kegiatan yang bersifat religi, dan manusia tersebut akan berusaha untuk memelihara emosi keagamaan tersebut di komunitasnya (Koentjaraningrat, 2. Artinya, agama adalah sesuatu kepercayaan yang dianut oleh seseorang yang dikaitkan pada suatu kegiatan yang bersifat suci dan mengikat setiap penganutnya pada suatu komunitas tertentu. Agama Sebagai Sebuah Norma Dalam Tatanan Masyarakat Sebagai seseorang yang meyakini adanya Tuhan yang dimanifestasikan dengan menganut suatu agama tertentu, maka agama tersebut secara otomatis akan memiliki peran dalam penentuan tingkah laku sehingga agama akan dijadikan sebagai norma acuan. Fungsi agama sebagai norma dalam masyarakat antara lain sebagai berikut (Tualeka, 2. Fungsi Edukatif Agama digunakan sebagai bentuk penjelasan tentang suatu yang ghaib, baik dan buruk, sakral dan tata cara berhubungan dengan Tuhan. untuk menjalankan fungsi edukatif ini bisa diwujudkan dalam pembentukan lembaga-lembaga keagamaan oleh Pemerintah. Lembaga ini akan menjadi tempat penganut agama mendapatakan bimbingan secara rohani agar mendapatkan ketenangan dunia dan akhirat Fungsi Penyelamatan Agama dalam hal ini akan mengajarkan tentang tata cara kepada penganutnya untuk mendapatkan upaya keselamatan atas dirinya atas kekuasaan Tuhan. Fungsi Pengawasan Sosial Agama dalam hal ini akan dijadikan sebagai panduan dalam pemberian hukuman atau sanksi atau pelanggaran yang telah dilakukan oleh penganut agama. Fungsi Solidaritas Agama dalam hal ini akan mengatur apa saja yang harus dilakukan oleh penganut agama dalam menjaga ketenangan dan persaudaraan antar sesama manusia. Agama tidak mengajarkan untuk dilakukannya peperangan, konflik, perseteruan ataupun tindakan destruktif lainnya. Fungsi Transformatif Agama mempunyai tugas sebagai interpretasi atau penjelasan atas kebesaran Tuhan. agama dijadikan sebagai norma dalam rujukanajaran agar masing-masing penganut bisa dengan mudah menerima apa yang diturunkan Tuhan dalam bentuk wahyu. Norma agama yang dianut oleh seseorang tidak terlepas dari proses internalisasi norma yang dilakukan melalui proses identifikasi atas didapatkannya dari sosialnya (Gerungan. Seseorang akan memiliki internalisasi norma agama yang baik manakala orang tersebut melakukan proses identifikasi yang tepat atas orang atau komunitas yang dijadikannya sebagai rujukan. Oleh karena itu pemahaman atas norma agama itu sangat dipengaruhi oleh penafsiran atas kelompoknya sendiri. Menurut Abdul Rohman, aliran keagamaan yang tumbuh di Indonesia demikian banyak, dan masing-masing aliran membawa ideologi keagamaan sendiri-sendiri yang merupakan hasil interpretasi dari pemahaman kelompoknya (Rohman, 2. AKTIVITAS KEAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI Mahasiswa Dan Kelompok Keagamaan Norma agama yang dianut oleh seseorang tidak terlepas dari proses internalisasi norma yang dilakukan melalui proses identifikasi atas didapatkannya dari sosialnya (Gerungan. Norma tersebut pulalah yang dianut oleh semua orang khususnya mahasiswa di perguruan tinggi. Kelompok keagamaan mahasiswa yang ada di perguruan tinggi tersebut menunjukkan keragaman perguruan tinggi tersebut. Kelompok keagamaan tersebut mencerminkan karakter kehidupan beragama mahasiswanya sehingga dapat dipahami bahwa Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 akan muncul dinamika kelompok dari kegiatan keagamaan mahasiswa tersebut akan relevan dengan aspek lingkungan sekitar yang memepengaruhinya. Setidaknya terdapat empat jenis kelompok keagamaan mahasiswa yangbisa ditemukan di perguruan tinggi yaitu (Muljono, 2. Berupa unit kegiatan kemahasiswaan pada tingkat perguruan tinggi Kelompok keagamaan mahasiswa ini keberadaannya diakui secara legal oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dalalm bentuk unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan biasanya didukung dana dari anggaran perguruan tinggi dalam menjalankan aktivitasnya. Keberadaan UKM ini dalam proses aktivitasnya selektif dalam pelaksanaan kegiatannya agar tidak menyimpang dan memiliki potensi tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Kelompok kajian keagamaan yang ada pada tingkat fakultas/ jurusan. Aktivitas kajian keagamaan pada tingkat fakultas/ jurusan ini memang tidak semua perguruan tinggi memilikinya. Aktivitas keagamaan pada tingkat fakultas/ jurusan ini dibentuk sebagai sarana silatirahmi dan pembentuk jaringan mahasiswa yang sama Tujuan kelompok ini sebagai bentuk adanya gambaran kerjasama antar mahasiswa fakultas/ jurusan satu dengan yang lain. Kelompok keagamaan pada tingkat masjid kampus Keberadaan kelompok keagamaan mahasiswa pada tingkat masjid biasanya terkait dengan kegiatan takmir masjid perguruan tinggi tersebut. Aktivitas keagamaan yang terjadi tidak terbatas hanya pada mahasiswa yang ada di perguruan tinggi tersebut namun juga seluruh takmir dan bahkan mahasiswa pada perguruan tinggi lain yang saling terkait dengan takmir masjid tersebut. Kelompok belajar formal yang terkait dengan kegiatan kurikulum perguruan tinggi Aktivitas keagamaan pada bentuk kelompok belajar formal ini terkait dengan mata kuliah yang diajarkan pada perguruan tinggi tersebut. Kelompok belajar ini terkait dengan pendalaman keagamaan sesuai mata kuliah yang disampaikan. Kelompok belajar ini diharapkan bisa sebagai filter terkait munculnya paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran agama sebenarnya. Mahasiswa Dan Kelompok Keagamaan Rujukan Orientasi keagamaan mahasiswa terbentuk oleh beberapa pra kondisi seperti kehidupan keagamaan dalam keluarga, pengalaman spiritual individu, teman sebaya, organisasi/ perkumpulan rujukan, role model, informasi yang diterima dari lingkungan dan kondisi lainnya (Aryani, 2. Secara umum, manusia memiliki aspek sosial dan karakter psikologis untuk berkeinginan menjadi bagian dari kumpulan individu. Pada dasarnya memang tidak semua perkumpulan merupakan sebuah kelompok yang akan dijadikan rujukan, namun perkumpulan yang dimaksud adalah sebuah perkumpulan yang para anggotanya memiliki kesadaran untuk berinteraksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain dalam suatu interaksi sosial demi tercapainya tujuan dan organisasi (Borden dan Horowitz, 2. Kelompok rujukan . eference grou. merupakan sebuah kelompok yang akan digunakan sebagai alat ukur . untuk menilai diri sendiri dalam menentukan sikap. Kelompok rujukan akan dijadikan sebagai teladan untuk bagaimana seharusnya bersikap (Rakhmat, 2. Kelompok rujukan ini memiliki fungsi sebagai fungsi komparatif yani alat pengukur dan penilai keadaan diri sekarang dan sebagai fungsi normatif yaitu kerangka rujukan dalam membimbing periaku (Hyman dalam Rakhmat, 2. serta sebagai fungsi perspektif yakni pemberi makna pada berbagai objek, peristiwa dan lingkungan sekitar (Shibutani dalam Rakhmat, 2. Kondisi aktivitas keagamaan mahasiswa di perguruan tinggi tidak luput dari peran kelompok rujukan. Saat seorang mahasiswa atau sekelompok mahasiswa merasa sudah Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 menemukan kelompok dengan nilai yang sesuai dengan kerangka berpikir yang diharapkannya maka akan tergabunglah mahasiswa atau sekelompok tersebut dalam kelompok rujukan tersebut. Proses tergabungnya seseorang dalam sebuah kelompok yang dijadikan rujukan bisa dipetakan mealui beberapa pendekatan (Forsyth, 2. Psikodinamik Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan tujuan untuk kebutuhan biologis dan psikologis. Sociobiological Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan tujuan untuk survive Sosiokultural Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan tujuan untuk menunjukkan identitas sosial dan budaya Proses perbandingan sosial Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan tujuan untuk membandingkan keberadaan dirinya dengan lingkungan Pertukaran sosial Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian Ideologis Melalui pendekatan ini individu atau sekelompok orang bergabung pada sebuah kelompok dengan dasar kesamaan ideologis Saat seorang mahasiswa sudah memilih untuk bergabung dalam suatu organisasi, maka mahasiswa tersebut akan memulai untuk menjajaki kelompok tersebut, menyamakan visi dan misi serta pemahaman, mengikuti ketentuan normatif dalam kelompok tersebut atau bahkan justru melakukan withdrawl jika pada pertengahan keikutsertaannya sang mahasiswa aatau anggota tersebut merasakan kekecewaan atas kelompoknya. Menurut Tuckman . alam Johnson, 2. , mengatakan bahwa keikutsertaan seseorang daam sebuah kelompok akan melewati beberapa tahapan, yakni : Identifikasi sttruktur dan prosedur Pada tahap ini seorang anggota akan mencoba untuk mendefinisikan struktur, peran dan prosedur yang berlaku pada kelompoknya untuk dirinya Konformitas terhadap prosedur Pada tahap ini seorang anggota kelompok akan mulai taat pada aturan yang berlaku pada kelompok tersebut. Pada tahap ini seorang anggota mulai mendapatkan peran dan tanggung jawab pada keberlangsungan kelompoknya Membangun hubungan yang menguntungkan dan kepercayaan Pada tahap ini seorang anggota kelompok sudah mampu membangun hubungan yang positif dengan anggota kelompok yang lain sehingga terjalin kepercayaan antara semua Perlawanan dan perbedaan Pada tahap ini, seorang anggota dimungkinkan merasakan konflik atas prosedur yang ada di kelompoknya dengan apa yang diinginkannya Komitmen Pada tahap ini seorang ini berusaha untuk mengesampingkan egonya untuk berkomitmen mencapai tujuan kelompok Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 Produktivitas Pada tahap ini seorang anggota akan mulai merasakan puncak performance didalam kelompoknya yang ditandai dengan dihasilkan sebuah karya atau hasil kerja yang bisa ditunjukkan kepada anggota kelompok yang lain Pengakhiran Pada tahap ini seorang anggota dimungkinkan untuk merasa jenuh dan mulai berpikir untuk mencari tantangan baru atau bahkan memutuskan untuk mencari cara keluar dari kelompok tersebut. Berangkat dari paparan terkait begabungnya seseorang dalam sebuah organisasi, khususnya seorang mahasiswa dalam aktivitas kelompok keagamaan menunjukkan bahwa: pertama, bagaimana seorang mahasiswa tersebut memaknai dan memposisikan agama dalam Perilaku ketaatan mahasiswa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagaimana ketaata dalam agaa tersebut akan berpengaruh pada perilakunya sehari-hari. Sikap seorang mahasiswa dalam keseharian bisa dilihat melalui bagaimana orientasi mahasiswa tersebut dalam melihat lingkungan sosialnya, melihat dengan prasangka baik atau negatif. Sebuah nilai kelompok akan dimaknai seseorang dengan baik manakala nilai tersebut bisa diadopsi dan ditanamkan dengan baik dalam jiwa seseorang. Proses mekanisme pengadopsian nilai tersebut akan bisa efeltif diterima oleh seorang anggota kelompok manakal dilakukan oleh pelaku sosialisasi nilai yang efektif. Pelaku ini akan bertindak sebagai significant other dalam fungsi seorang anggota tersebut dalam sebuah kelompok. Dalam konteks organisasi keagamaan, significant other ini akan memegang peranan penting pada seorang anggota untuk membentu arah orinetasi pemikiran seorang anggota ke arah yang diinginkan oleh pihak kelompok. IMPLIKASI AKTIVITAS DAN KELOMPOK KEAGAMAAN TERHADAP ORIENTASI MAHASISWA Orientasi dan Makna Keagamaan dalam Kehidupan Mahasiswa Bagi mahasiswa yang cenderung memiliki pemikiran yang liberal, agama mungkin akan dianggap sebagai suatu aturan kaku yang akan mengikat kebebasan seseorang dalam Hal ini dikarenakan munculnya moderenitas yang membawa pada sebuah Aupembaharuan pemikiranAy generasi muda. Ada generansi muda berpemikiran moderen memiliki keinginan untuk melawan dan adapula generasi muda yang memilih untuk bersikap Golongan generasi muda yang berpemikiran untuk melawan biasanya diwujudkan dalam bentuk melakukan dan menyebarkan paham ekstrim-radikal. Yenny Wahid menyatakan bahwa generasi muda adalah generasi yang rentan akan intoleransi dalam agama dan rentan pula menjadi anggota suatu paham radikalisme. Hal ini disebabkan mereka berada pada fase mencari jati diri sehingga akan mudah bertindak responsif pada ketidakadilan yang ada di sekitarnya (Mulyadi, 2. Secara umum aktivitas kelompok keagamaan mahasiswa bisa bisa dimaknai dalam tiga kelompok yakni aktivitas kelompok yang liberal, moderat dan fundamentalis (Aryani, 2. Pada kelompok liberal memaknai sebuah aktivitas kegiatan keagamaan sebagai sebuah sarana kebutuhan akan spiritual yang masih bersifat universal dan tidak perlu diatur secara personal. Untuk kelompok moderat, seorang mahasiswa atau anggota kelompo akan mengakui sebuah norma keagamaan yang nilai-nilainya harus diserap dalam kehidupan serta menjadi pedoman praktis keseharian. Adapun untuk kelompok fundamentalis memaknai sebuah aktivitas keagamaan sebagai sebuah ketentuan agama dan dengan penuh keyakiinanpenuh harus diikuti sebagai sebuah doktrin. Artinya secara keseluruhan, pemaknaan atas aktivitas dan orientasi keagamaan seorang mahasiswa akan tetap menjunjung tinggi sebuah norma agama, namun Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 orientasinya akan terlihat pada bentuk perilaku yang dihasilkan setelah tergabung dalam kelompok tersebut. Sikap terhadap Perbedaan Aktivitas Keagamaan Sikap dan perilaku seseorang bisa merupakan cerminan keagaamaan orang tersebut. Menurut Paloutzian . , sikap seseorang bia dilihat melalui ada tidaknya prasangka yang dimiliki seseorang terhadap kelompok lain. Prasangka ini juga bisa mucul pada seseorang kepada sebuah kelompok keagamaa. Seorang mahasiswa dalam hal ini akan menyoroti aktivitas keagamaan orang lain, tingkat ketaatan ataupun ritualnya untuk selanjutnya dibandingkan dengan kelompoknya. Prasangka ini disebabkan oleh kurang mendalamnya pemahaman keagamaan seseorang (Aryani, 2. Prasangka merupakan sikap negatif-negatif yang diwujudkan dalam bentuk tindakantindakan yang diskriminatif terhadap orang-perseorangan atau kelompok yang diprasangkai tanpa dilandasi oleh alasan-alasan yang obyektif (Gerungan, 2. Tindakan-tindakan yang diskriminatif ini mengganggu bahkan mengancam kehidupan apalagi jika prasangka ini melibatkan unsur agama di dalamnya. Prasangka berkaitan dengan muncunya stereotipe atas watak atau pribadi seseorang atau golongan tertentu. Biasanya stereotipe pada dasarnya didasari pada keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subyektif. Sebagai contoh mengenai stereotipe adalah gambaran orang laki-laki muslim yang memiliki janggut yang panjang dengan celana yang khas diberi anggapan sebagai teroris atau muslim yang terlalu Peranan stereotipe ini sangat besar peranannya dalam pergaulan sosial sehingga membentuk penilaian tertentu. Penilaian ini membuat pemahaman agama seseorang menjadi sepenggal-penggal dan membuat terjebak dalam dikotomi benar-salah atau hitam-putih. Gambaran tentang stereotipe ini tidak mudah berubah dan cenderung untuk dipertahankan oleh orang yang berprasangka sehingga gambaran atas stereotipe tersebut cenderung menetap. Meskipun demikian, stereotipe dan prasangka masih bisa berubah asalkan dilakukan usaha-usaha intensif secara langsung kepada masyarakat atau golongan yang diprasangkai. BENTUK AKTIVITAS DAN KELOMPOK KEAGAMAAN TERHADAP ORIENTASI MAHASISWA Adanya perbedaan orientasi mahasiswa dalam memaknai keagamaanya dalam kelompok akan berpengaruh pada bagaimana mahasiswa tersebut bersikap dalam keseharian. Hal tersebut terlihat pada perilaku mahasiswa dalam berbuat amal saleh khususnya pada aspek ritual keagamaan yang dilakukannya (Aryani, 2. Pada dasarnya aktivitas kelompok keagamaan yang diikuti oleh mahasiswa khususnya dalam lingkungan kampus secara umum bersifat ritual keagamaan seperti sholat berjamaah dan kajian keagamaan rutin sebagiamana umumnya. Namun bentuk aktivitas keagamaan tersebut menjadi lebih variatif manakala beberapa organisasi keagamaan diluar kampus menjalin mitra dengan kelompok keagamaan interbal kampus. Kajian keagamaan mahasiswa menjadi lebih aktif dalam beberapa kegiatan, seperti melakukan keterlibatan dalam aksi solidaritas sanpai pada kajian keagamaan Keislaman kontemporer yang membahas tentang isu ekonomi dan politik. Namun terkadang keaktifan mahasiswa ini memunculkan prasangka sosial terkait disinyalirnya pemikiran adanya Islam yang ekstrim dan radikal (Aryani, 2. LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN ORIENTASI AKTIVITAS DAN KELOMPOK KEAGAMAAN MAHASISWA YANG RADIKAL Fenomena munculnya paham keagamaan yang radikal di lingkungan kampus membutuhkan perhatian yang serius dari semua pihak, baik dari piha pihak kampus. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 pemerintah ataupun masyarakat agar bisa menuntaskan secara komprehensif. Adapun solusi yang bisa dilakukan adalah antara lain sebagai berikut : Membentuk masyarakat yang responsif atas suatu kelompok radikal Munculnya suatu kelompok yang radikal bahkan samapi ke ranah kampus salah satu bisa disebabkannya kondisi ekonomi dan politik negara yang tidak kondusif dan merata. Kondisi ini jika terakumulasi secara terus-menerus maka tidak menutup kemungkinan akan mengakumulasi pula ketidakpuasan masyarakat atas negara karena mencoloknya ketimpangan sosial (Matulessy, 2. Sebagai wujud ketidakpuasan sebagian masyarakat maka masing-masing oarng bergabung kedalam sebuah kelompok yang dianggap bisa menaungi kebutuhan dan kepentingannya Penegakan hukum yang tegas Perkembangan kelompok dengan aliran radikal memang tidak bisa dianggap sepele apalagi jika kelompok dengan aliran radikal tersebut sampai masuk ke dalam ranah perguruan tinggi. Modusnya tentu dengan aktivitas sembunyi-sembunyi dan menyebarkan paham-paham kelompok-kelompok Kemenristekdikti melakukan proses pencegahan dengan cara sudah mengingatkan para rektor untuk waspada pada setiap kegiatan kemahasiswaan di lingkungan perguruan tingginya . ttps://w. com/pendidikan/18/05/2017/adaancaman-radikalisme-di-dalam-kampus-kemenristek-dikti-ingatkan-rekto. Meningkatkan Peran Lembaga/ Organisasi Keagamaan Indonesia menyadar dengan keberadaan enam agama yang ada maka keberadaan pluralitas agama tersebut membutuhkan lembaga yang menaungi masing-masing penganut agama sebagai tempat pembinaan umat. Selain itu, lembaga keagamaan juga berfungsi sebagai wadah dalam mempertahankan keseimbangan pribadi, dalam hal ini pribadi masing-masing penganut agama (Kahmad, 2. Terkait orientasi keagamaan mahasiswa, lembaga keagamaan perlu untuk melakukan edukasi tentang ajaran keagamaannya yang sesuai dengan syariat sebenarnya. KESIMPULAN Secara umum, mahasiswa merupakan agent of change yang akan menjadi penerus generasi bangsa. Aktivitas mahasiswa diperguruan tinggi akan memberikan pengaruh terhadap cara berpikir dan idealisme mereka di masa depan, termasuk aktivitas dalam hal Namun perlu ditekankan bahwa aktivitas mahasiswa di dalam kelompknya di perguruan tinggi perlu pada jalur yang semestinya, bukan dimanfaatkan oleh pihak lain yang ingin mnegejar tujuannya sendiri. Hal ini dikarenakan kelompok yang memiliki idealisme yang sama dengan seorang mahasiswa akan menjadi sebuah magnet tersendiri bagi mereka untuk bergabung. Hal yang dikhawatirkan adalah manakala kelompok keagamaam tersebut membawa sebuah misi atau tujuan tertentu yang akan menganggu stabilitas internal perguruan tinggi atau bahkan negara. Seminar Nasional Islam Moderat ISSN : 2622-9994 UNWAHA Jombang, 13 Juli 2018 DAFTAR PUSTAKA