ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 2 (April, 2. Analysis Of Nursing Care For Patients With Hearing Hallucinations By Providing Mind Therapy Stop Syaifullah1. Icha Lisnawati2 Program Pendidikan Profesi Ners. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Email: syaifullah. 2130@gmail. ABSTRACT Auditory hallucinations are a condition where the client hears clear or unclear voices, where the voices invite the client to speak or do something. Sensory perception disorders if not treated immediately will have the impact of experiencing panic and behavior controlled by hallucinations. One of the interventions that can be carried out for auditory hallucinations is thought stopping therapy. Thought stopping therapy was chosen as the superior intervention in this method because it is able to eliminate negative thoughts and change them into positive ones. Case study conducted on Mr. R with sensory perception disorders, auditory hallucinations. Mr. R had auditory hallucinations so thought stopping therapy was given for 3 days. Evaluation of 3 days of implementation, there was a decrease in the frequency of hallucinations before and after the action of giving thought stopping therapy on August 3 2023, namely still often hearing whispers, on August 4 2023 from often to rarely hearing whispers, on August 5 2023 from rarely to rarely. Based on this data, providing thought stopping therapy is effective in reducing the frequency of auditory hallucinations, so it is hoped that this method can be used by health workers Keywords : Auditory Hallucinations. Nursing Care, providing therapy thought stopping PENDAHULUAN Kesehatan jiwa merupakan sebuah kondisi dimana seseorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu dapat menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, serta bekerja secara produktif, dan mampu melakukan kontribusi untuk komunitas. Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmoni . eretakan, perpecaha. antara proses pikir, afek/emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi. asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi (Direja, 2011 dalam Rustika, 2. Diperkirakan lebih dari 90 % klien skizofrenia mengalami halusinasi. Halusinasi yang paling banyak diderita adalah halusinasi pendengaran mencapai lebih kurang 70%, sedangkan halusinasi penglihatan menduduki peningkatan kedua dengan rata-rata 20%. Sementara jenis halusinasi yang lain yaitu halusinasi penglihatan, pengecapan, penciuman, peraba, kinestetik hanya meliputi 10% (Muhith,2. Angka penderita gangguan jiwa di Indonesia berdasarkan data riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2018 mengalami peningkatan, jika ditahun 2013 angka kejadian 1,7 per seribu penduduk maka di tahun 2018 meningkat menjadi 7,0 per seribu penduduk, artinya diperkirakan ada sekitar 450 ribu jiwa yang menderita skizofrenia (Jamilah dkk, 2. Berdasarkan data kemenkes 2019 wilayah Kalimantan Selatan jumlah penyandang gangguan jiwa tergolong tinggi, diperkirakan mencapai 6. 000 orang dan menurut riset kesehatan dasar prevalensi skizofrenia pada Kalimantan Selatan sebesar 5,0 per seribu orang (Jamilah dkk, 2. Halusinasi pendengaran merupakan keadaan dimana klien mendengar suara suara yang jelas maupun tidak jelas, dimana suara tersebut mengajak klien berbicara atau melakukan sesuatu. Pasien dengan halusinasi pendengaran umumya sering menarik diri, tersenyum sendiri, duduk terpaku, bicara sendiri, memandang http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 2 (April, 2. satu arah, gelisah dan tiba-tiba marah (Kusumawati F. Hartono Y, 2. Gangguan persepsi sensori jika tidak segera ditangani akan memiliki dampak yaitu mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak lingkungan (Twistiandayani & Widati, 2. Intervensi keperawatan non-farmakologi yang dapat membantu pasien dengan masalah gangguan persepsi sensori . adalah terapi tought stopping. Thought stopping merupakan salah satu bentuk terapi individu berupa psikoterapi kognitif perilaku yang digunakan untuk membantu mengubah proses berpikir seorang individu untuk membentuk perubahan perilaku (Sari & Abdullah, 2. Dasar dari teknik ini adalah secara sadar memerintah diri sendiri. Austop!Ay, saat mengalami pemikiran negatif berulang, tidak penting dan distorted. Kemudian mengganti pikiran negatif tersebut dengan pikiran lain yang lebih positif dan realistis. Dalam melakukan terapi thought stopping pada pasien halusinasi perawat melaksanakan peran sebagai pemberian asuhan keperawatan dimana memberikan terapi thought stopping pada pasien halusinasi secara komverensif di mulai dari pengkajian, diagnosa, intevensi, implementasi, dan evaluasi. Berdasarkan pentingnya teknik psikoterapeutik pemberian terapi non-farmakologi pengontrolan halusinasi yakni dengan pemberian terapi thought stopping maka peneliti tertarik memaparkan gambaran analisis asuhan keperawatan pada pasien halusinasi pendengaran dengan pemberian terapi thought stopping di Rumah Singgah Baiman Kota Banjarmasin METODE Desain penelitian yang digunakan berupa studi kasus deskriftif dengan kasus tunggal. Metode studi kasus bersifat mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan data. Studi kasus deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena- fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variable-variabel bebas, tetapi menggambarkan kondisi apa adanya (Fitrah & Luthfiyah, 2. Instrumen yang digunakan pada studi kasus ini adalah panduan berupa format pengkajian asuhan keperawatan jiwa yang mana akan di dapatkan data responden meliputi identitas klien, keluhan faktor predisposisi, aspek fisik atau biologis psikososial. status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik. Instrumen penerapan pemberian terapi thought stopping dibuat dalam bentuk Standar Operasional Prosedur dengan menggunakan Evidence Based Nursing Practice HASIL DAN PEMBAHASAN Pada tanggal 3 Agustus 2023 sampai dengan 5 Agustus 2023 dilakukan tindakan pengkajian pada Tn. dan membina hubungan saling percaya terlebih dahulu. Ketika peneliti dan pasien sudah terbina hubungan saling percaya peneliti melanjutkan untuk menggali pengalaman yang dialami pasien secara lebih dalam dan mencari tahu penyebab terjadinya halusinasi. Dan membuat perencanaan yang akan dilakukan pada Tn. seperti waktu pengkajian yaitu membina hubungan saling percaya, mengamati perilaku yang mengidentifikasi halusinasi, memonitor isi halusinasi yang dialami pasien, mempertahankan lingkungan yang aman selama melakukan tindakan, mengidentifikasi perasaan dan respon terjadinya halusinasi, mengamati proses terjadinya halusinasi pada pasien, meminta pasien untuk bicara pada orang yang dipercaya untuk memberikan dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi, mengajarkan pasien cara mengontrol halusinasi dengan cara thought stopping. Di hari pertama juga mengajarkan cara menghardik kepada pasien dan mengajarkan cara penghentian pikiran dengan terapi Thought Stopping. Pada hari kedua dan ketiga dilakukan intervensi yang sama seperti hari pertama yaitu membina hubungan saling percaya, mengamati perilaku yang mengidentifikasi halusinasi, memonitor isi halusinasi yang dialami pasien, mempertahankan lingkungan yang aman selama melakukan tindakan, mengidentifikasi perasaan dan respon terjadinya halusinasi, mengamati proses terjadinya halusinasi pada pasien, meminta pasien untuk bicara pada orang yang dipercaya untuk memberikan dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi, mengajarkan pasien cara mengontrol halusinasi dengan cara thought stopping. http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 2 (April, 2. Diagram Frekuensi mendengar suara-suara sebelum dan sesudah pemberian Hari Ke-1 4 : Selalu (> 3 kal. Hari Ke-2 3 : Sering . -3 kal. Hari Ke-3 2 : Jarang . -2 kal. 1 : Tidak pernah Diagram 1 Frekuensi mendengar suara-suara sebelum dan sesudah pemberian terapi Thought Stopping Berdasarkan diagram 1 diketahui bahwa terjadi penurunan halusinasi setelah dilakukan intervensi pemberian terapi thought stopping. Pada saat melakukan intervensi thought stopping pada tanggal 03 Agustus 2023 sampai tanggal 05 Agustus 2023. Intervensi terapi thought stopping pada Tn. R dilakukan selama 3 hari berturut-turut selama 10-30 menit pada setiap kunjungan. Selama dilakukan intervensi terapi thought stopping pada Tn. R didapatkan beberapa keberhasilan berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Pada hari pertama intervensi dilakukan Tn. R mengatakan masih sering mendengar suara bisikan yang menyuruhnya untuk kabur dari rumah singgah. Pada hari kedua setelah dilakukan intervensi Tn. mengatakan bahwa bisikan yang didengar mulai jarang yakni dengan frekuensi 1-2 kali/hari. Dan pada hari ketiga setelah dilakukan intervensi Tn. R mengatakan bahwa bisikan yang didengar mulai jarang yakni dengan frekuensi 1-2 kali/hari sama dengan hari kedua. Jadi, dapat disimpulkan bahwa selama diterapkannya intervensi pemberian terapi thought stopping selama tiga hari berturut-turut pada Tn. terdapat penurunan frekuensi halusinasi pendengaran. Sehingga intervensi pemberian terapi thought stopping dapat digunakan/diterapkan untuk menurunkan frekuensi halusinasi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Afaninda Dwi, dkk . Hasil jurnal ini menunjukan bahwa setelah dilakukan intervensi sebanyak 3 kali dengan durasi 10-15 menit pada setiap kunjungan. Berdasarkan penerapan yang telah dilakukan pada klien, diketahui bahwa penghentian pikiran dapat membantu mengurangi tanda dan gejala mengendalikan gangguan persepsi sensorik. Hasil persepsi sensorik menjadi lebih baik. Penurunan frekuensi halusinasi setelah tindakan telah dibuktikan telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Gita Agustya, . Hasil jurnal ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 10 hari dengan menggunakan latihan terapi thought stopping, klien yang mengalami halusinasi pendengaran dapat mengontrol halusinasinya sehingga frekuensi terjadinya halusinasi pendengaran berkurang. Sementara itu penelitian lain yang dilakukan oleh Fita . , mendapatkan hasil setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah teratasi sebagian ditandai dengan klien sudah bisa melakukan terapi thought stopping secara mandiri. Dan hasilnya klien jarang mendengar bisikan-bisikan KESIMPULAN Penurunan frekuensi halusinasi ini bisa terjadi karena ketika klien menyadari dan dapat mengidentifikasi pikiran negatif yang muncul menyertai suatu peristiwa yang menuntut penyesuaian diri, klien akan lebih mudah untuk dapat mengatasinya. Pemberian terapi thought stopping efektif menurunkan frekuensi halusinasi pendengaran, sehingga diharapkan metode ini bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan. DAFTAR PUSTAKA