Sapa Tana Program: A Community Empowerment-Based Waste Management Program in Tana Duen Village Raden Roro Seraphine Kalista Drupadi1* Article Info Abstract 1Community Waste management has become a significant challenge in Tana Duen Village. Sikka Regency. East Nusa Tenggara Province, due to the absence of a structured system. The Sapa Tana program was designed using the Asset-Based Community Development (ABCD) approach by optimizing community-owned human, social, environmental, physical, and financial assets. This article aims to formulate a waste management strategy that not only focuses on environmental aspects but also generates social and economic value. The analysis shows that the stages of discovery, dream, design, define, and destiny can strengthen community participation, enhance the productivity of targeted groups, and promote the creation of a sustainable waste management system. The program also opens opportunities for income generation through the exchange of plastic waste and the utilization of compost. Furthermore. Sapa Tana fosters collective awareness to protect the environment and strengthen social solidarity. Through cross-sector collaboration involving village government, local agencies, and community groups. Sapa Tana has the potential to become a community empowerment model that is responsive to local contexts, nurtures a sense of ownership, and can be replicated in other regions facing similar challenges. *Correspondence Author Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere How to Cite: Drupadi. Raden Roro Seraphine Kalista. Sapa Tana Program: A Community Empowerment-Based Waste Management Program in Tana Duen Village. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 . Article History Submitted: 7 September 2025 Received: 8 September 2025 Accepted: 12 September 2025 Keywords: Waste Empowerment. ABCD Responsibility Management. Community Approach. Corporate Social Correspondence E-Mail: seraphineseya@gmail. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. https://doi. org/jpm. https://prospectpublishing. id/ojs/index. php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Sapa Tana: Program Pengelolaan Sampah Pemberdayaan Masyarakat di Desa Tana Duen Berbasis Raden Roro Seraphine Kalista Drupadi1* Article Info *Korespondensi Penulis 1Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere Email Korespondensi: seraphineseya@gmail. Abstrak Permasalahan sampah menjadi tantangan di Desa Tana Duen. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur, karena ketiadaan sistem pengelolaan yang terstruktur. Program Sapa Tana dirancang dengan berbasis pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dengan mengoptimalisasi aset manusia. dan finansial yang dimiliki masyarakat. Tulisan ini bertujuan merumuskan strategi pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tahapan discovery, dream, design, define, dan destiny dapat memperkuat partisipasi komunitas, meningkatkan produktivitas kelompok sasaran, serta mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah berkelanjutan. Program ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pertukaran sampah plastik dan pemanfaatan kompos. Lebih jauh. Sapa Tana mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempererat kohesivitas sosial. Melalui dukungan kolaborasi antar aktor pemerintah desa, organisasi perangkat daerah (OPD), dan komunitas lokal Sapa Tana berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat yang responsif terhadap konteks lokal, menumbuhkan rasa memiliki, serta dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah. Pemberdayaan Masyarakat. Pendekatan ABCD. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan A Drupadi Pendahuluan Permasalahan lingkungan merupakan salah satu isu yang mendapatkan perhatian luas dalam berbagai skala, termasuk global. Salah satu buktinya adalah masuknya isu lingkungan ke dalam sejumlah poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Dalam konteks Indonesia, salah satu permasalahan lingkungan yang paling menonjol adalah persoalan Masalah tersebut tidak lepas dari peningkatan jumlah penduduk serta aktivitas ekonomi yang berkembang pesat (Budianto & Ghanistyana, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi selain menjadi indikator kemajuan suatu wilayah, juga berdampak negatif terhadap kualitas hidup masyarakat (Tisnawati dkk. , 2. Peningkatan volume timbunan sampah menjadi salah satu contoh konkretnya. Pengelolaan sampah di Indonesia saat ini masih terbatas pada metode konvensional, seperti open dumping . dan sanitary landfill . (Ilma dkk. , 2. Praktik tersebut selain tidak ramah lingkungan, juga semakin sulit diterapkan karena keterbatasan lahan tempat pembuangan. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana maupun tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah turut memperburuk kondisi pengelolaan sampah di skala nasional (Elamin dkk. , 2018 dalam Saptenno dkk. , 2. Permasalahan sampah dihadapi pula oleh masyarakat di pedesaan, termasuk di Desa Tana Duen. Kecamatan Kangae. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak adanya sistem pengelolaan sampah yang terorganisasi menyebabkan limbah rumah tangga, termasuk sampah plastik dan organik, dibuang ataupun dibakar sembarangan. Kondisi tersebut dapat mencemari lingkungan sekaligus berpengaruh terhadap kesehatan Potensi sosial yang ada di desa membuka peluang akan terbangunnya sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas. Potensi tersebut tercermin dari eksistensi kelompok-kelompok informal Karang Taruna, kelompok tani, perkumpulan mama-mama . erempuan des. Kohesivitas sosial yang ada dapat menjadi modal penting untuk merancang program pemberdayaan. Menurut Profil Desa Tana Duen . dalam Laporan Pemetaan Sosial PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere (Social Development Studies Center, 2. , disajikan jumlah penduduk berdasarkan usia dengan rincian sebagai berikut: Tabel 1. Kelompok Penduduk Desa Tana Duen Berdasarkan Usia Umur penduduk Jumlah Penduduk umur < 1 tahun 22 jiwa Penduduk umur 1-4 tahun 147 jiwa Penduduk umur 5-14 tahun 477 jiwa Penduduk umur 15-39 tahun 911 jiwa Penduduk umur 40-64 tahun 609 jiwa Penduduk umur 65 tahun ke atas 194 jiwa Sumber: Profil Desa Tana Duen . dalam Laporan Pemetaan Sosial PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere (Social Development Studies Center, 2. Berdasarkan data kelompok penduduk berdasarkan usia, diketahui bahwa mayoritas penduduk Desa Tana Duen tergolong ke dalam kelompok usia produktif. Penduduk berusia 15-39 tahun berjumlah 911 jiwa, diikuti oleh penduduk berusia 40-64 tahun sebanyak 609 A Drupadi Data tersebut menunjukkan bahwa Desa Tana Duen mempunyai potensi sumber daya manusia (SDM) yang besar. Meskipun demikian, menurut Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDe. Tana Duen 2023-2028, tercatat bahwa tingkat pengangguran di desa masih tergolong cukup tinggi, yaitu sebanyak 123 orang. Perlu dilakukan intervensi supaya masyarakat yang masih menganggur dapat memiliki aktivitas ekonomi produktif. Di tengah potensi demografis yang besar. Desa Tana Duen masih belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang terstruktur. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus Perlu dirancang intervensi untuk menanggulangi permasalahan sampah sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat. Pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi opsi untuk membangun kesadaran kolektif. Program pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menyasar kelompok yang belum memiliki produktivitas ekonomi untuk menjadi salah satu pelaku utama. Intervensi tersebut selain meningkatkan perekonomian, juga sekaligus melestarikan lingkungan desa. Tulisan ini bertujuan untuk merumuskan gagasan pengelolaan sampah yang tidak hanya berkontribusi terhadap lingkungan hidup, tetapi juga memiliki relevansi sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Segala sesuatu yang tertuang dalam tulisan ini diarahkan untuk menjadi rujukan awal bagi pengembangan program inovasi sosial di Desa Tana Duen. Metode Kholis . dalam Yanti dkk. menyebutkan tahapan kegiatan pemberdayaan masyarakat asesmen, perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi. Tulisan ini menunjukkan hasil asesmen yang disusun menjadi perencanaan. Dilakukan identifikasi strategi pemberdayaan masyarakat di Desa Tana Duen. Kecamatan Kangae. Kabupaten Sikka. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemilihan Tana Duen sebagai lokus didasarkan atas faktor wilayah yang berada di kawasan ring 1 PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere. Program pemberdayaan masyarakat diprioritaskan di kawasan ring 1 sebagai daerah yang paling terdampak oleh operasional perusahaan. Program yang akan diaplikasikan di Desa Tana Duen merupakan program pemberdayaan masyarakat perdana yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere. Oleh karena itu, perencanaan program disusun semaksimal mungkin melalui observasi, wawancara, focus group discussion (FGD), maupun kajian pustaka. Pembahasan Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah upaya yang perlu dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain pemerintah, kelompok masyarakat, dan Proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan kerap dikenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Kata Aotanggung jawabAo dalam TJSL menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai kewajiban moral untuk berdampak kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan tersebut secara jangka panjang akan berdampak kepada bisnis yang berkelanjutan. Menurut Carroll . dalam Nabila . , konsep CSR atau TJSL pertama kali diperkenalkan oleh Howard R. Bowen dalam karyanya AuSocial Responsibility of The BussinessmanAy. Identifikasi potensi program TJSL melalui proses pemberdayaan masyarakat di Desa Tana Duen, akan dianalisis menggunakan pendekatan ABCD sebagaimana dijelaskan Parman & Ismail . aset manusia. dan finansial. Ditinjau dari sisi aset manusia, jumlah penduduk Desa Tana Duen mencapai 2. jiwa dengan komposisi yang cukup seimbang antara laki-laki . 122 jiw. dan Perempuan A Drupadi . 248 jiw. Mayoritas berada pada usia produktif . -64 tahu. , yaitu sebanyak 1. 520 jiwa. Kondisi ini mencerminkan besarnya potensi pengembangan sumber daya manusia di desa. Aset sosial tercermin dari kehidupan beragama yang cukup kuat. Mayoritas warga beragama Katolik . 314 jiw. sehingga terbentuk berbagai kelompok keagamaan di kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, maupun remaja. Selain itu, ada pula kelompok berdasarkan mata pencaharian seperti kelompok tani dan nelayan. Norma sosial yang dijunjung, seperti serta praktik gotong royong menjadi modal sosial penting. Misalnya. Ketika salah satu warga menyelenggarakan acara, tetangga dengan sukarela ikut Menurut Fukuyama . dalam Fathy . , bahwa nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan dalam membangun keterlibatan kolektif masyarakat. Ditelisik dari aset lingkungan, jagung merupakan komoditas utama yang diusahakan Pertanian jagung hanya dapat dilakukan pada musim penghujan (November-Apri. karena kondisi lahan yang kering. Selain pertanian, terdapat pula sektor peternakan, terutama ayam, yang mencapai 62. 50 (Social Development Studies Center, 2. Aset lingkungan ini menjadi peluang pengembangan program ekonomi yang relevan dengan kondisi desa. Berkaitan dengan aset fisik, desa memiliki sejumlah infrastruktur dasar seperti sekolah dan gereja. Terdapat tiga tempat peribadatan yang tersebar di setiap dusun. Gereja pusat berada di Dusun Bolawolon . ilayah pesisi. , sedangkan di Dusun Blatat dan Habigete terdapat masing-masing satu stasi. Keberadaan sarana fisik ini dapat mendukung pengorganisasian kegiatan komunitas. Aset finansial tampak pada sebagian besar kepala keluarga . 67 perse. sudah memiliki tabungan (Social Development Studies Center, 2. Tabungan tersebut tidak hanya berbentuk uang tunai, tetapi juga berupa kepemilikan lahan pertanian, perkebunan, maupun ternak. Hal ini menunjukkan adanya cadangan sumber daya ekonomi yang dapat di optimalisasi dalam mendukung program pemberdayaan. Keseluruhan aset yang dimiliki oleh masyarakat di Desa Tana Duen, diintegrasikan dengan permasalahan sosial yang ada, untuk menghasilkan program pemberdayaan masyarakat yang konkret. Teridentifikasi beberapa permasalahan sosial yang adaAisampah, lapangan kerja terbatas, pekerjaan serabutan karena sistem pertanian musiman. Aset dan permasalahan sosial yang ada, dianalisis ke dalam lima tahapan ABCD. Tahapan tersebut dipaparkan oleh Ife dkk. dalam Bela dkk. Bagan 1. Tahapan Asset-Based Community Development Discovery Dream Design Define Destiny Sumber: Ife dkk. dalam Bela dkk. Pertama, discovery. Tahapan ini merupakan proses awal, yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi potensi yang dimiliki masyarakat. Potensi yang ada di Desa Tana Duen telah dilakukan menggunakan instrument lima aset dalam ABCD. Melalui analisis potensi tersebut, ditemukan bahwa bidang pertanian menjadi salah satu potensi terbesar yang dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan masyarakat. Kelompok sasarannya adalah kelompok perempuan serta pemuda yang belum memiliki produktivitas ekonomi. Kedua, dream. Pada tahap ini, masyarakat diajak membayangkan kondisi ideal yang Aspirasi yang muncul adalah peningkatan pendapatan. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengubah permasalahan sosial yang ada di desa menjadi sebuah potensi baru, yaitu A Drupadi pengelolaan sampah. Sistem pengelolaan sampah yang mampu memberikan manfaat ganda menjadi terobosannya. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian, sedangkan sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat. Sehubungan dengan belum maraknya penggunaan pupuk organik di Desa Tana Duen, penjualannya dapat dilakukan kepada kelompok tani yang ada di desa. Penggunaan pupuk organik ini nantinya dapat meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas hasil pertanian (Lizana dkk. , 2. Ketiga, design. Rancangan program disusun secara partisipatif dengan melibatkan kelompok sasaran. Strateginya meliputi pelatihan pengolahan kompos oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan pembentukan unit bank sampah. Selain itu, dilakukan pula diskusi mengenai pengelolaan keuangan dan rencana agenda pekerjaan. Keempat, define. Tahap ini menekankan pada penyusunan kesepakatan bersama dengan masing-masing pihak. Pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan perusahaan berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan program. Dengan demikian, program tidak hanya berhenti pada fase awal pelaksanaan. Kelima, destiny. Tahapan terakhir berfokus pada penguatan keberlanjutan program. Masyarakat diberikan ruang untuk mengelola kegiatan secara mandiri, sementara perusahaan berperan sebagai pendamping. Pendekatan tersebut diharapkan menumbuhkan rasa memiliki pada masyarakat sehingga Program Sapa Tana dapat berkembang menjadi inovasi sosial yang memperkuat kemandirian desa. menjaga kelestarian lingkungan. serta membuka peluang ekonomi baru. Bagan 2. Tahapan Asset-Based Community Development Discovery Dream Design Define Destiny A Potensi di bidang pertanian. A Perempuan dan pemuda sebagai kelompok sasaran. A Peningkatan pendapatan. A Pelatihan pengolahan kompos dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kangae. A Diskusi pengelolaan keuangan dan rencana agenda pekerjaan. A Penyusunan kesepakatan bersama. A Kelompok memiliki wewenang untuk pengelolaan kegiatan. A Perusahaan merupakan pendamping/fasilitator. Sumber: Analisis Perusahaan . Eksistensi fasilitator menjadi penting dalam setiap tahap pemberdayaan masyarakat (Bela dkk. , 2. Dalam konteks pendekatan ABCD, fasilitator seharusnya bukan merupakan pihak eksternal, seperti tenaga ahli khusus. Hal tersebut supaya ada rasa saling memiliki dalam kelompok sasaran dan tidak muncul ketergantungan terhadap pihak Pada Program Sapa Tana, kondisinya cukup berbeda. Program sejak awal diinisiasi A Drupadi dan didampingi oleh perusahaan selaku fasilitator. Begitu pun juga dengan komposisi kelompoknya, yang dibentuk atas hasil diskursus perusahaan bersama pemerintah desa dan BPP. Akan tetapi, ruang yang inklusif bersama kelompok sasaran selalu diupayakan. Kelompok bahkan memiliki wewenang untuk mengelola anggaran program, dengan pendampingan dan pengawasan dari perusahaan. Diskusi kelompok terfokus kerap dilakukan untuk memastikan semua anggota dalam kelompok punya kesempatan yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Melalui diskusi tersebut, fasilitator melakukan pengamatan dan identifikasi local hero, yang nantinya akan dipandu untuk menjadi fasilitator internal dalam Perusahaan juga membuat rencana exit strategy untuk lima tahun ke depan. Perencanaan tersebut dibutuhkan untuk mempersiapkan program dan kelompok supaya tetap berkelanjutan dengan ataupun tanpa bantuan perusahaan. Kesimpulan Program Sapa Tana merupakan wujud pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan sebagai respons atas tantangan pengelolaan sampah di Desa Tana Duen Gagasan atas intervensi tersebut mengintegrasikan pendekatan lingkungan, sosial, dan Sapa Tana juga dapat memperkuat modal sosial yang telah ada di masyarakat, seperti gotong royong. Penerapan pendekatan ABCD menegaskan bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk menjadi aktor utama pembangunan. Identifikasi aset manusia, sosial, lingkungan, fisik, dan finansial menjadi dasar dalam merancang intervensi. Di sisi lain, tahapan discovery, dream, design, define, dan destiny memperlihatkan proses partisipatif yang mendorong tumbuhnya rasa memiliki terhadap program. Pelibatan perempuan dan pemuda menggambarkan bahwa program ini juga berpotensi terhadap penguatan kohesivitas sosial. Supaya kebermanfaatannya dapat berkelanjutan, perlu dirancang model pelaksanaan yang tidak hanya bergantung pada program insidental, namun dibangun melalui sistem yang dapat dijalankan dalam jangka panjang oleh komunitas itu sendiri. Beberapa strategi keberlanjutan yang direkomendasikan antara lain pelatihan pengelolaan sampah secara integrasi program ke dalam rencana kerja pemerintah desa setempat. pelaksanaan monitoring serta evaluasi secara berkala sejak awal pelaksanaan. Selain itu, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kolaborasi antar aktor pemerintah desa. organisasi perangkat daerah (OPD). dan komunitas masyarakat. Setiap pihak tersebut dapat berperan dalam memperluas jangkauan, memperkuat kapasitas, ataupun menyediakan dukungan sumber daya. Melalui komitmen bersama. Sapa Tana berpotensi menjadi rujukan awal bagi pengembangan inovasi sosial di bidang pengelolaan sampah, sekaligus model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan tantangan serupa. Daftar Pustaka