JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 SUSTAINABILITY-IN-ACTION: IMPLEMENTASI CHSE PADA RANTAI NILAI WISATA DESA OLEH PEMUDA KARANG TARUNA Eko Sulistiono1. Uyu Wahyudin2. Cucu Sukmana3. Mohamad Hadi Ali Mutamam4 1,2,3,4 Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Jawa Barat. Indonesia ekosulistiono@upi. edu, 2 dinpls@upi. Received: Desember, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract This article examines how the principles of Clean. Health. Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) are operationalized throughout the village tourism value chain through the leadership of young people in Pager Wangi Village. Using a qualitative designAia descriptive case studyAidata was collected through semi-structured interviews, participatory observation, focus group discussions, and program document reviews. Analysis was conducted using thematic analysis . pen-axial codin. and value chain mapping . pstream-downstrea. to examine the touchpoints of CHSE in the process of curating products, services, and visitor experiences. The results show five main findings: . measurable standardization of cleanliness and sanitation (SOPs, checklists, task rotatio. improves service . the health literacy of local actors fosters ethical service discipline and risk . community-based safety systems . azard identification, wayfinding, first aid, incident log. reduce service failures. environmental governance balances economic and ecological values through waste management, carrying capacity restrictions, and material substitution. youth orchestration of the value chain . rom suppliers to after-visit car. accelerates organizational learning. MSME involvement, and economic spillover benefits. The discussion links this practice to the framework of CBT (Community-Based Touris. , the triple bottom line, and global guidelines for postpandemic tourism. The article concludes with policy and research implications, including operational sustainability metrics, visitor journey analytics, and public-community partnership governance. Keywords: CHSE, sustainable tourism, value chain, community-based tourism, youth, village Abstrak Artikel ini mengkaji bagaimana prinsip Clean. Health. Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) dioperasionalisasikan sepanjang rantai nilai . alue chai. wisata desa melalui kepeloporan pemuda di Desa Pager Wangi. Menggunakan desain kualitatifAistudi kasus deskriptifAidata dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif. FGD, serta telaah dokumen Analisis dilakukan dengan thematic analysis . engodean terbukaAeaksia. dan pemetaan rantai nilai . uluAehili. untuk memeriksa titik sentuh CHSE pada proses kurasi produk, layanan, dan pengalaman pengunjung. Hasil menunjukkan lima temuan utama: . standardisasi kebersihan dan sanitasi yang terukur (SOP, checklist, rotasi tuga. meningkatkan konsistensi layanan. health literacy aktor lokal menumbuhkan disiplin etik pelayanan dan komunikasi risiko. sistem keamanan berbasis komunitas . dentifikasi bahaya, wayfinding. P3K, incident lo. menurunkan service failure. tata kelola lingkungan menyeimbangkan nilai ekonomiAeekologi melalui penataan sampah, pembatasan daya dukung, dan substitusi material. orkestrasi pemuda atas rantai nilai . ari pemasok hingga after-visit car. mempercepat pembelajaran organisasi, keterlibatan UMKM, dan spillover manfaat ekonomi. Diskusi menautkan praktik ini dengan kerangka CBT (Community-Based Touris. , triple bottom line, dan pedoman global pariwisata pascapandemi. Artikel menutup dengan implikasi kebijakan dan riset, termasuk metrik keberlanjutan operasional, visitor journey analytics, serta tata kelola kemitraan publik-komunitas. Kata Kunci: CHSE, pariwisata berkelanjutan, value chain, community-based tourism, pemuda, wisata Volume 9. No. Januari 2026 pp 86-99 How to Cite: Sulistiono. Wahyudin. Sukmana. & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 86-99. PENDAHULUAN Pariwisata desa telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam dua dekade terakhir, tidak hanya sebagai ruang rekreasi, namun juga sebagai wahana pemberdayaan ekonomi lokal, penguatan identitas budaya, dan konservasi lingkungan (CvijanoviN et al. , 2025. Ma et al. Selvakumar et al. , 2024. Wang et al. , 2021. Wijijayanti et al. , 2. Kemajuan teknologi digital, perubahan preferensi wisatawan, dan tekanan global terhadap pariwisata massal mendorong munculnya model wisata alternatif yang lebih inklusif dan berkelanjutanAisalah satunya adalah pariwisata berbasis komunitas atau community-based tourism (CBT) (Pawson et al. , 2017. Talukder et al. , 2025. Yuliawan et al. , 2025. Zhang & Huang, 2. Namun, perjalanan pariwisata desa tidak selalu berjalan mulus. Perubahan perilaku pascapandemi COVID-19 telah mengguncang ekosistem pariwisata dan memaksa pelaku usaha hingga komunitas lokal menata ulang standar layanan dan praktik operasional (Abdullah et al. , 2023. Sari et al. , 2. Kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan tidak lagi menjadi pilihan tambahan, melainkan syarat mutlak bagi keberlangsungan sektor pariwisata. Di titik inilah konsep Clean. Health. Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) muncul sebagai perangkat sistemik penting untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan dan membangun ketahanan destinasi. Dalam konteks Indonesia. CHSE menjadi wacana dan standar operasional yang semakin diperkuat oleh pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Program sertifikasi CHSE dikembangkan untuk memastikan bahwa pelaku industri pariwisata, termasuk usaha mikro dan komunitas desa, dapat menyelenggarakan layanan wisata yang sesuai protokol kesehatan dan keselamatan. Walaupun demikian, implementasi CHSE kerap dianggap menuntut investasi besar atau pengetahuan teknis yang sulit dijangkau oleh pengelola wisata berbasis komunitas, terutama di pedesaan. Hal ini memunculkan tantangan: bagaimana CHSE bisa Audibumikan,Ay menjadi praktik yang sederhana, murah, relevan secara lokal, tanpa mengorbankan kualitas dan prinsip keberlanjutan Desa Pager Wangi, sebuah desa wisata yang terletak di dataran tinggi Jawa Barat, memulai eksperimen menarik untuk menjawab tantangan tersebut. Di desa ini, generasi muda berperan sebagai aktor kunci yang menggerakkan transformasi layanan wisata desa berbasis prinsip CHSE. Pemuda setempat, melalui wadah Karang Taruna dan kelompok penggerak desa wisata, merancang sistem operasional, membangun budaya sadar sanitasi, melakukan audit ringan fasilitas wisata, dan memetakan rantai nilai layanan dari hulu ke hilir. Dengan semangat bottom-up, mereka tidak hanya mengikuti protokol CHSE yang bersifat regulatif, tetapi mengadaptasinya menjadi kebiasaan sehari-hari yang bersifat edukatif dan kolaboratif. Bukan hanya pada fasilitas utama seperti toilet atau homestay, tetapi hingga ke bagaimana bahan pangan dikelola, bagaimana pengunjung diberi informasi tentang keamanan di lokasi, serta bagaimana limbah dikelola untuk menjaga kelestarian lingkungan lokal. Peran pemuda dalam implementasi CHSE memberikan dimensi baru terhadap pariwisata berbasis komunitas (Mijatov LadisorbiN et al. , 2024. Polnyotee & Thadaniti, 2015. Saputra & Kamilah, 2. Mereka hadir sebagai jembatan antara pengetahuan global tentang standar pariwisata berkelanjutan dan realitas lokal yang sering kali penuh keterbatasan, baik dalam sisi anggaran, sumber daya manusia, hingga infrastruktur. Melalui pelatihan, diskusi lintas Sulistiono. Wahyudin. Sukmana & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna generasi, dan praktik lapangan, pemuda Pager Wangi mengintegrasikan langkah-langkah pengelolaan CHSE dalam alur rantai nilai wisata, mulai dari penyediaan bahan baku, layanan pemanduan, fasilitas umum, konsumsi, atraksi, hingga evaluasi pascakunjungan. Pendekatan ini tidak saja meningkatkan mutu layanan, tetapi juga membuka ruang refleksi bersama bagi warga tentang arti keberlanjutan dalam pengelolaan wisata. Fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji bukan karena kesempurnaan implementasinya, tetapi karena bagaimana inisiatif grassroots yang dilakukan secara mandiri dapat membangun prototipe sistem rujukan bagi pengelola wisata desa lain. Tanpa kompleksitas birokrasi dan investasi besar, pemuda Pager Wangi mampu menunjukkan bahwa strategi CHSE bukan hanya milik hotel berbintang atau destinasi premiumAitetapi juga dapat diterapkan secara kontekstual oleh komunitas desa dengan modifikasi sesuai kemampuan dan budaya setempat. Di sinilah letak kekuatan konsep Sustainability-in-Action, yaitu keberlanjutan yang dipraktikkan melalui tindakan kecil namun terukur, berjalan secara bertahap, berbasis kolaborasi, dan dengan hasil yang dapat dirasakan oleh pelaku dan pengunjung. Pendekatan riset dalam artikel ini bersifat kualitatif dengan desain studi kasus, yang memungkinkan analisis mendalam mengenai dinamika pelaksanaan CHSE dan pengaruhnya terhadap rantai nilai pariwisata desa. Pendekatan ini dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami pengalaman subjektif pelakuAiterutama pemudaAidalam mendesain ulang praktik pariwisata di desa mereka. Melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen lokal, penelitian ini berupaya menangkap bukan hanya apa yang dilakukan oleh pemuda, tetapi juga mengapa dan bagaimana perubahan itu terjadi. Dibandingkan dengan kajian pariwisata pada umumnya yang sering berfokus pada data kuantitatif pengunjung atau statistik ekonomi, penelitian ini membawa perspektif berbeda: melihat perubahan kultural dan organisasi dari dalam komunitas sebagai kunci keberlanjutan Fenomena implementasi CHSE dalam pariwisata desa ini secara global sejalan dengan arah kebijakan organisasi internasional seperti UNWTO dan UNEP yang menekankan pentingnya pemulihan pariwisata berbasis kesehatan dan keberlanjutan pascapandemi (Diarta, 2023. Rifai et al. , 2022. Trono, 2. Terdapat konsensus bahwa pariwisata masa depan harus dibangun di atas fondasi lingkungan yang kuat, keterlibatan komunitas lokal, dan peningkatan kualitas pengalaman pengunjung secara bertanggung jawab. Di banyak negara, pariwisata berbasis desa bahkan diposisikan sebagai sarana pemulihan sosial-ekonomi pasca-krisis, karena sifatnya yang fleksibel dan kemampuannya untuk menghadirkan pengalaman otentik tanpa ketergantungan berlebihan pada arus wisatawan massal. Namun, problematika khas pariwisata desa tetap membayangiAikurangnya infrastruktur sanitasi, rendahnya literasi kesehatan, dan keterbatasan sumber daya manusia untuk menjalankan prosedur standar (Defi et al. , 2022. Kanyagui et al. , 2025. Lindly et al. , 2024. Pailaha, 2023. Qadrunada et al. , 2. Di samping itu, jika implementasi CHSE hanya dipahami sebagai serangkaian protokol teknis, tanpa menyentuh dimensi sosial dan budaya, maka ia rentan menjadi formalitas yang tidak bertahan lama. Di Desa Pager Wangi, pemuda menjawab hal tersebut dengan menghadirkan CHSE bukan hanya sebagai prosedur operasional, tetapi sebagai nilai sosial yang diperkuat lewat contoh, edukasi, dan kepemimpinan kolektif. Di sinilah konsep value chain menjadi penting: rantai nilai bukan hanya sebuah peta aktivitas ekonomi, tetapi juga jaringan relasi sosial dan simbolik yang membentuk pengalaman wisata secara utuh. Volume 9. No. Januari 2026 pp 86-99 Rantai nilai pariwisata dipahami sebagai serangkaian aktivitas yang saling terhubung untuk menciptakan, menyampaikan, dan meningkatkan nilai layanan bagi pengunjung. Pada desa wisata, rantai nilai mencakup bukan hanya atraksi fisik, tetapi juga interaksi sosial, proses layanan, kualitas informasi, dan sistem dukungan seperti kebersihan, keamanan, transportasi, dan akomodasi. Setiap titik dalam rantai nilai berpotensi menjadi touchpoint CHSEAidi mana standar kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keberlanjutan dapat diterapkan. Maka, mengintegrasikan CHSE dalam rantai nilai berarti bukan hanya membersihkan toilet atau memasang papan protokol kesehatan. tetapi juga memikirkan apakah pemasok bahan makanan mematuhi prinsip sanitasi, apakah jalur trekking aman dan jelas, apakah pengunjung mendapatkan edukasi tentang aturan lingkungan, dan bagaimana sampah dikelola setelah acara wisata selesai. Inisiatif pemuda Pager Wangi untuk memetakan dan mengintervensi rantai nilai tersebut memberikan ruang pembelajaran yang luasAibagi pelaku lokal, bagi komunitas luas, dan bagi pembuat kebijakan. Hal ini memperlihatkan bagaimana komunitas lokal mampu menjadi policy innovators yang bergerak lebih cepat daripada regulasi formal, dengan mengembangkan bentuk-bentuk adaptasi CHSE yang lebih relevan dengan konteks desa. Apa yang dilakukan pemuda Pager WangiAimengorganisasi audit CHSE berbasis checklist sederhana, membangun tim kebersihan bergilir, menyediakan refill station air minum gratis, dan menyiapkan skenario evakuasi bersama perangkat desaAiadalah bentuk nyata dari keberlanjutan yang diupayakan, diterjemahkan, dan dipelihara dengan cara-cara yang sangat lokal. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya menambah kajian teoretis tentang praktik CHSE dalam pariwisata desa, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan modul pelatihan, model pendampingan komunitas, dan desain kebijakan berbasis partisipasi yang dapat direplikasi di desa wisata lain di Indonesia maupun di wilayah global selatan. Secara lebih luas, penelitian ini menempatkan pemuda desa bukan sekadar sebagai objek pembangunan atau inheritor budaya, tetapi sebagai agen perubahan yang menghubungkan kebutuhan ekologi, kepentingan wisatawan, dan kemajuan lokal dalam kerangka pariwisata berkelanjutan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif yang memusatkan perhatian pada implementasi CHSE oleh pemuda di Desa Pager Wangi sebagai satuan kasus yang terikat konteks (Gillan et al. , 2014. Kemparaj & Chavan, 2013. Schneider et al. , 2. Pilihan desain ini memungkinkan peneliti menggali proses, makna, serta dinamika relasi antarpelaku di sepanjang rantai nilai wisata desaAidari hulu penyediaan input, produksi layanan di lokasi, hingga pengalaman pascakunjunganAisekaligus menelusuri bagaimana standar kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan diterjemahkan menjadi praktik operasional sehari-hari. Peneliti memosisikan diri sebagai pengamatpartisipan, terlibat dalam kegiatan pemuda tanpa mengintervensi keputusan inti, agar dapat menangkap bahasa, ritme kerja, dan alasan-alasan yang melandasi tindakan mereka. Partisipan direkrut secara purposif untuk mewakili simpul rantai nilai yang berbeda: penggerak pemuda . arang taruna dan panitia pelatiha. , pengelola atraksi dan homestay, pelaku UMKM kuliner, perangkat desa, serta beberapa pengunjung yang hadir pada momen observasi. Strategi snowball melengkapi tahap awal ini dengan merekomendasikan informan kunci yang memahami sejarah program, perubahan sebelum-sesudah, dan hambatan implementasi. Keberagaman latar partisipan dipertahankan agar data memantulkan perspektif lintas-peranAi Sulistiono. Wahyudin. Sukmana & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna manajerial, operasional, dan penggunaAisehingga pola tematik yang muncul tidak terkungkung oleh satu sudut pandang. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama yang saling menguatkan. Pertama, wawancara semi-terstruktur berdurasi 45Ae75 menit, berfokus pada pengalaman menjalankan CHSE, bentuk dukungan dan resistensi, serta contoh perbaikan layanan yang dianggap berhasil maupun gagal. Pedoman wawancara bersifat fleksibel: peneliti menyesuaikan urutan pertanyaan mengikuti alur cerita informan, sembari memastikan topik kunciAikebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkunganAiterbahas setara. Kedua, observasi partisipatif di titik-titik kritis alur layanan, seperti area parkir, loket, titik foto, kios kuliner, toilet, jalur trekking, dan titik kumpul evakuasi. Catatan lapangan menyorot aktivitas rutin . embersihan, antrian, informasi keselamata. , interaksi pengunjungAepetugas, serta respons spontan terhadap insiden kecil. dokumentasi visual dilakukan secukupnya untuk merekam penataan ruang dan isyarat visual . ignage, checklist, lo. Ketiga, telaah dokumen komunitasAiSOP, daftar periksa, materi pelatihan, catatan insiden, dan konten komunikasi publikAiuntuk menelusuri konsistensi antara prosedur tertulis dan praktik lapangan. Analisis data mengikuti alur thematic analysis dengan tiga tahapan berulang. Pada pengodean terbuka, peneliti memecah data menjadi potongan makna . yang menangkap tindakan, alasan, dan konteks (Galanis, 2018. Sandhiya & Bhuvaneswari, 2024. Xu & Zammit, 2. Pengodean aksial mengelompokkan kode ke dalam kategori yang menjelaskan hubungan sebab-akibat, prasyarat, dan konsekuensi, misalnya bagaimana Auchecklist pembersihanAy berkelindan dengan Aupersepsi akuntabilitasAy atau bagaimana Auwayfinding jelasAy menurunkan Auinsiden near-missAy. Tahap selektif merangkai kategori utama ke dalam narasi lintas-tahap rantai nilai, sehingga terlihat di mana CHSE paling menentukan, simpul mana yang rentan, dan mekanisme pembelajaran apa yang mempercepat perbaikan. Pemetaan proses . alue chain mappin. digunakan sebagai kanvas analitis untuk menandai touchpoint CHSE dan titik kendali mutu, sekaligus memvisualkan aliran informasi umpan balik dari keluhan, ulasan, atau catatan insiden menuju perubahan prosedur. Keabsahan temuan dijaga melalui triangulasi sumber . emuda, pelaku UMKM, perangkat desa, pengunjun. , triangulasi metode . awancara, observasi, dokume. , dan member checking ringkas pada informan kunci untuk mengklarifikasi interpretasi awal. Audit trail disusun berupa jejak keputusan analitis, revisi kategori, dan alasan penggabungan atau pemisahan tema, guna memastikan keterlacakan proses. Aspek etika dijaga dengan persetujuan sadar . nformed consen. , anonimisasi identitas, serta pembatasan dokumentasi pada area publik atau yang diizinkan komunitas. Batasan peran pengamat-partisipan dievaluasi secara reflektif agar kedekatan lapangan tidak mengaburkan jarak analitis. Seluruh langkah ini dirancang untuk menghasilkan gambaran yang kaya, kredibel, dan kontekstual tentang bagaimana CHSE benar-benar bekerjaAibukan sebagai slogan, melainkan sebagai kebiasaan operasionalAidalam rantai nilai wisata desa yang digerakkan oleh pemuda Pager Wangi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian ini memotret dinamika implementasi prinsip CHSE (Clean. Health. Safety, and Environmental Sustainabilit. yang diinisiasi dan dijalankan oleh pemuda penggerak pariwisata Desa Pager Wangi sepanjang rantai nilai wisata desa. Dengan menelusuri tindakantindakan kecil yang terintegrasi dalam praktik operasional, penelitian ini menemukan bahwa keberlanjutan wisata berbasis komunitas tidak sekadar ditentukan oleh keberadaan standar Volume 9. No. Januari 2026 pp 86-99 baku, tetapi juga oleh tingkat AukehidupanAy standar tersebut dalam praktik harian para pelaku dan relasi sosial yang turut menopangnya. Penjabaran hasil disusun dalam beberapa klaster tematik yang merepresentasikan simpul penting rantai nilai pariwisata desa. Standardisasi Kebersihan dan Sanitasi: Dari Rutinitas ke Ruang Belajar Bersama Titik masuk implementasi CHSE yang paling nyata dan dapat diamati adalah praktik kebersihan dan sanitasi pada ruang-ruang sentral desa wisata: toilet umum, kios kuliner, homestay, dan area pertemuan. Mengawali program, pemuda merumuskan daftar periksa kebersihan . leaning checklis. yang disusun dari gabungan praktik pelatihan formal dan kebiasaan lokal. Daftar ini mencakup aspek teknis sederhana seperti pembersihan lantai, pengisian ulang sabun cair dan tisu, pengecekan saluran air, penggantian tempat sampah, hingga penyemprotan disinfektan pada permukaan yang sering disentuh . igh-touch surface. Kebaruan yang muncul di sini bukan pada elemen proseduralnya, melainkan pada cara pemuda menjadikan checklist tersebut sebagai alat belajar lintas generasi. Setiap kelompok piket kebersihan terdiri dari anggota dengan rentang usia berbedaAipemuda berkolaborasi dengan warga dewasa, ibu-ibu PKK, atau pelaku UMKM kuliner. Proses ini memungkinkan terjadinya transfer keterampilan secara alami, sekaligus memperkuat hubungan sosial antarpelaku dalam ekosistem pariwisata desa (Maryani & Indrianty, 2024. Yachin, 2. Hasil observasi menunjukkan peningkatan konsistensi kebersihan area publik. Sebelum program dilaksanakan, toilet umum dicatat hanya dibersihkan dua kali sehari oleh relawan tanpa catatan pengecekan. Sesudah implementasi checklist, frekuensi pembersihan meningkat menjadi empat kali dengan bukti pencatatan waktu dan nama petugas. Pengunjung yang diwawancarai secara acak menyampaikan kesan bahwa Autoilet dan musala terasa lebih bersih serta tertata, walaupun tergolong fasilitas desa. Ay Pada kios kuliner dan warung tradisional, intervensi CHSE terlihat pada tata letak dan manajemen permukaan. MejaAekursi ditata ulang untuk memudahkan sirkulasi udara dan menjaga jarak antar pengunjung saat ramai. Wadah makanan yang terbuka mulai dilengkapi tudung saji transparan, sementara pemilik warung dibekali cara sederhana untuk menguji suhu dan menyimpan makanan matang agar tetap aman Proses pencucian peralatan makan dipantau bersama melalui logbook kebersihan Semua langkah ini meningkatkan kesadaran para pelaku kuliner bahwa kebersihan bukan sekadar aspek estetika atau aturan pemerintah, tetapi menjadi bagian dari Auproduk wisataAy yang ditawarkan desa. Walaupun praktik ini memerlukan waktu lebih untuk dijalankan, warga desa menilai langkah tersebut mengurangi beban jangka panjang, seperti keluhan pengunjung terkait kejorokan toilet atau pelayanan makanan. Dengan demikian, kebersihan dan sanitasi telah berubah dari kegiatan reaktif menjadi elemen nilai tambah wisata yang dipelajari, dihargai, dan dikembangkan secara mandiri oleh komunitas. Literasi Kesehatan: Dari Teori ke Komunikasi Risiko yang Inklusif Pelatihan literasi kesehatan menjadi salah satu hasil utama aktivitas pemuda dalam internalisasi CHSE. Setelah menerima materi dari narasumber ahli, pemuda merumuskan ulang isi pelatihan ke dalam format sederhana agar dapat diterima oleh berbagai kalangan di desa. Kegiatan kecil seperti cara mencuci tangan yang benar, penggunaan masker dalam konteks tertentu, penyajian makanan yang aman, dan prosedur pertolongan pertama (P3K) didemonstrasikan langsung di Yang menarik, pemuda membuat Aupapan informasi miniAy berisi ilustrasi sederhana tentang cara mencuci tangan, etika batuk, dan kapan pengelola harus menggunakan sarung Papan ini ditempatkan pada titik strategis, seperti dekat wastafel, kios kuliner, dan area berkumpul pengunjung. Seiring waktu, terlihat bahwa papan informasi tersebut bukan hanya Sulistiono. Wahyudin. Sukmana & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna berfungsi sebagai alat edukasi bagi pengunjung, tetapi juga sebagai pengingat visual bagi pengelola untuk mempertahankan standar kebersihan dan kesehatan di area kerja mereka. Komunikasi risiko menjadi praktik yang semakin matang dalam kegiatan pelayanan wisata sehari-hari. Pemuda belajar menggunakan bahasa yang tepat untuk menyampaikan aturan CHSE secara sopan, tanpa terkesan menggurui atau memaksa. Misalnya, ketika area foto dipenuhi pengunjung yang melampaui kapasitas, pemandu akan berkata: AuTeman-teman, agar kita semua nyaman dan aman berfoto, silakan bergantian dulu ya. Kami juga sudah siapkan ruang istirahat di sebelah sana. Ay Kalimat ini dipraktikkan sebagai bagian dari micro-script komunikasi yang disusun bersama dalam sesi role play. Pemuda juga melatih diri untuk mendeteksi gejala umum yang dialami tamu, serta memberikan arahan yang tepat apabila diperlukan rujukan medis. Misalnya, saat seorang pengunjung mengeluh pusing setelah trekking menuju titik foto, petugas dengan sigap menawarkan air minum, tempat duduk, dan memberi tahu rute tercepat menuju pos kesehatan desa. Pendekatan yang ramah, cermat, dan berempati membuat wisatawan merasa lebih aman dan dipedulikan, meningkatkan kesan positif terhadap layanan wisata. Lebih jauh, integrasi literasi kesehatan dalam kegiatan rutin desa juga menciptakan pengaruh jangka panjang terhadap pola pikir Mereka mulai menyadari bahwa kesehatan bukan hanya urusan pribadi, tetapi urusan komunalAikarena satu tindakan yang tidak higienis dapat berdampak pada reputasi desa secara keseluruhan. Hal ini memperkuat alasan warga untuk melestarikan protokol kesehatan meski masa pandemi telah lewat. Manajemen Keamanan dan Risiko: Mencegah Kecelakaan. Mengutamakan Prosedur Keamanan atau aspek Safety dalam CHSE diterjemahkan pemuda Pager Wangi ke dalam serangkaian tindakan konkret yang mencakup pemetaan bahaya, perbaikan jalur wisata, penyediaan alat pertolongan pertama, dan penyiapan prosedur evakuasi. Pemetaan dilakukan dengan cara sederhana: pemuda bersama pemandu lokal mengidentifikasi titik-titik rawan seperti jalan licin, tebing curam, jalur yang sempit atau memutar, serta area yang membutuhkan penerangan tambahan. Dari sini lahir keputusan untuk memasang pagar sederhana di belokan berbahaya, menambah rambu wayfinding, dan memperbaiki permukaan tanah dengan material Peneliti mengobservasi bahwa perubahan ini langsung berdampak pada turunnya kasus nearmiss atau insiden kecil seperti pengunjung terpeleset atau tersandung batu. Sebelum ada intervensi, pengelola rata-rata mencatat 4Ae5 insiden kecil per minggu saat akhir pekan. Setelah perbaikan jalur dan penambahan pagar, insiden yang tercatat turun menjadi hanya 1 atau 2 kejadian dalam rentang yang sama. Kotak P3K ditempatkan di area parkir, loket tiket, dan titik pemanduan utama. Kotak ini dilengkapi daftar isi dan waktu pengecekan ulang, yang diperbarui setiap awal minggu. Sistem rotasi bertanggung jawab untuk memeriksa ketersediaan perban, cairan antiseptik, dan obat-obatan dasar. Meskipun produk P3K sederhana, kehadirannya memperkuat rasa aman pengunjung dan meningkatkan kesiapan pengelola dalam menghadapi situasi darurat ringan. Langkah lain yang penting adalah penyusunan incident log, yaitu catatan tertulis untuk merekam insiden keselamatan, keluhan pengunjung, atau kejadian tidak terduga lainnya. Incident log ini menjadi alat evaluasi mingguan dan dokumen pendukung dalam setiap rapat koordinasi pengelola desa wisata. Dengan mencatat jenis insiden, lokasi, waktu, dan tindakan Volume 9. No. Januari 2026 pp 86-99 yang diambil, pemuda mampu mengidentifikasi pola-pola risiko dan membuat keputusan terarah untuk mencegah insiden serupa terjadi kembali. Tidak kalah pentingnya, pemuda juga menyusun dan melatih Standard Operating Procedure (SOP) evakuasi bencana alam, seperti gempa bumi atau longsor. Mengingat Pager Wangi berada di kawasan perbukitan yang rawan longsor saat hujan deras, pemuda menyediakan jalur evakuasi alternatif, tiang informasi darurat, dan memetakan titik kumpul aman yang dapat dijangkau dalam waktu kurang dari lima menit dari area wisata utama. Latihan evakuasi . ry ru. melibatkan penduduk lokal, pengelola, dan perangkat desa, sehingga memperkuat kesiapsiagaan komunitas dalam menghadapi kemungkinan bencana. Aspek keamanan tidak lagi dipandang sebagai beban atau formalitas, tetapi sebagai proses berkelanjutan yang terbuka bagi pengembangan ide warga. Pengelola desa menegaskan bahwa Aubelajar dari insidenAy adalah prinsip yang kini dijunjung, menggantikan kebiasaan lama untuk mengabaikan kecelakaan kecil dengan alasan kelalaian pengunjung. Peran Pemuda sebagai Orkestrator Rantai Nilai Wisata Temuan penelitian membuktikan bahwa pemuda Pager Wangi berperan sebagai Aupengikat simpulAy dalam rantai nilai pariwisata desa. Mereka mengelola hubungan antara pemasok, pengelola atraksi, pelaku UMKM, perangkat desa, dan pengunjung. Peran ini bukan hanya administratif, tetapi juga strategis dan representasionalAipemuda menjadi juru bicara nilai CHSE kepada semua aktor lintas-peran. Pemuda menyusun hygiene pass bagi pemasok bahan makanan dan minuman. Dengan format sederhana, pemasok dinilai berdasarkan kebersihan alat transportasi, cara penyimpanan produk, dan penggunaan kemasan ramah lingkungan. Jika memenuhi syarat, pemasok mendapat stiker AuMitra Bersih Pager WangiAy yang dipajang di kios Inisiatif ini memberi kebanggaan dan insentif moral kepada pemasok lokal untuk menjaga kebersihan produk sebelum sampai ke pengunjung. Siklus umpan balik antaraktor dalam rantai nilai dipelihara melalui forum mingguan informal di balai desa. Pemuda meminta masukan dari pemilik homestay tentang perilaku tamu, bertukar catatan insiden dengan pemandu wisata, dan menyampaikan pembelajaran kepada pelaku UMKM tentang standar penyajian makanan. Proses diskusi berlangsung terbuka, dan setiap kelompok diberi kesempatan menyampaikan tantangan dan solusi yang telah mereka coba. Dengan pola ini, pemuda tidak hanya memindahkan standar formal ke ruang nyata, tetapi juga memastikan adanya saluran komunikasi dua arah yang dinamis. Rantai nilai yang sebelumnya terfragmentasiAimisalnya antara penyedia makanan dan pelaksana pemanduanAikini menjadi lebih kohesif karena diikat oleh standar dan tujuan bersama. Tantangan Implementasi: Disiplin. SDM, dan Konsistensi Operasional Di balik prestasi yang dicapai, riset mencatat beberapa tantangan signifikan. Pertama, mengatur disiplin pelaksanaan checklist kebersihan saat hari kerja . ukan akhir peka. membutuhkan komitmen lebih, karena pengunjung datang lebih sedikit dan motivasi warga untuk membersihkan area menurun. Pemuda mencatat adanya penurunan frekuensi pengecekan pada hari Senin hingga Rabu, meskipun prosedur kebersihan tetap dijalankan. Kedua, turnover SDM menjadi tantangan yang berulang. Beberapa relawan pemuda harus kembali kuliah atau bekerja di luar desa, sehingga pengetahuan teknis tentang CHSE tidak disalurkan secara optimal ke generasi selanjutnya. Untuk mengatasi hal ini, pemuda menyusun modul pelatihan berbasis video dan membuat dokumen SOP sederhana agar dapat dipelajari mandiri oleh relawan baru. Ketiga, konsistensi pemasokAiterutama dalam penggunaan kemasan ramah lingkunganAimasih terganggu oleh fluktuasi harga material dan keterbatasan Sulistiono. Wahyudin. Sukmana & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna Sebagian pemasok terpaksa kembali menggunakan plastik sekali pakai dalam kondisi tertentu, sehingga menantang visi keberlanjutan desa. Pemuda menyikapi masalah ini dengan pendekatan kolaborasi, memberi insentif berupa promosi gratis di media sosial desa bagi pemasok yang patuh pada protokol ramah lingkungan. Praktik Evaluasi dan Pembelajaran Berkelanjutan Implementasi CHSE di Pager Wangi diawali dengan audit sederhana menggunakan formulir kertas dan ijtihad warga. Namun, dalam perjalanan, praktik evaluasi semakin matang dan terintegrasi dalam budaya organisasi komunitas desa. Tiap minggu, pemuda mengadakan briefing pagi dan mendiskusikan catatan insiden, keluhan pengunjung, atau masukan dari pelaku UMKM kuliner. Setiap masalah dicatat, diberi alternatif solusi, dan ditetapkan siapa penanggung jawabnya. Dalam satu kasus, pengunjung mengeluh soal area parkir yang becek setelah hujan. Keluhan ini kemudian dibahas dalam rapat koordinasi, dan dalam satu minggu, pemuda bekerja sama dengan perangkat desa untuk menguruk area tersebut dengan batu kecil dan meningkatkan Ketika pengunjung datang kembali, mereka mendapati area parkir yang lebih stabil dan bersih. Proses cepat ini menunjukkan ruang pembelajaran kolaboratif yang dikelola pemuda secara tangkas. Selain evaluasi formal, pemuda juga memanfaatkan media sosial sebagai indikator respons wisatawan. Komentar dan ulasan di Instagram dipantau secara Konten promosi desa yang mengunggulkan nilai CHSE . isalnya foto checklist, poster ajakan memilah sampah, atau fasilitas refill statio. digunakan untuk menciptakan citra positif yang memperkuat reputasi Pager Wangi sebagai desa wisata yang bersih, sehat, aman, dan berkelanjutan. Pembahasan Pembahasan hasil menunjukkan bahwa implementasi CHSE di Pager Wangi tidak hanya berfungsi sebagai seperangkat prosedur higienis dan keselamatan, melainkan sebagai mekanisme pembentuk kepercayaan . rust signa. yang menata ulang cara kerja rantai nilai wisata desa (Diarta, 2023. Mutaqin & Dharin, 2024. Osman et al. , 2023. Semara et al. , 2. Standardisasi kebersihan dan sanitasi melalui checklist, log waktu, serta rotasi tugas menghasilkan konsistensi mutu layanan yang dapat dirasakan pengunjung. Konsistensi ini mengurangi Auketidakpastian layananAy yang lazim terjadi pada destinasi berbasis komunitas, sehingga memperbaiki persepsi kualitas sekaligus menambah legitimasi sosial pengelola. Dalam kacamata CBT, praktik tersebut memperkuat kapasitas agen lokal . UMKM, pengelola homesta. sebagai co-producer layanan, bukan sekadar pelaksana instruksi. Dengan kata lain. CHSE menjadi jembatan antara standar global dan praktik lokal karena mengubah kebiasaan, bukan hanya ruang fisik (Diarta, 2023. Hubner et al. , 2025. Rifai et al. , 2022. Semara et al. , 2. Integrasi literasi kesehatan dan komunikasi risiko yang empatik memperlihatkan bahwa dimensi AuHealthAy dari CHSE efektif ketika diterjemahkan ke bahasa keseharianAipapan informasi, micro-script, dan role playAibukan semata melalui slogan. Ini relevan dengan bukti bahwa kepatuhan protokol kerap bergantung pada norma sosial dan rasa memiliki, bukan pada kontrol formal (Cardoso et al. , 2024. Feinberg et al. , 2021. Park & Ahmed, 2023. Tseng et al. Ketika pemandu menggunakan bahasa persuasif dan menyediakan alternatif perilaku . isalnya alur bergiliran di titik fot. , pengunjung cenderung mengikuti aturan karena merasa Efeknya berlapis: rasa aman meningkat, tensi pelayanan menurun, dan citra destinasi Pada saat yang sama, incident log dan simulasi evakuasi memperlihatkan bahwa Volume 9. No. Januari 2026 pp 86-99 aspek AuSafetyAy bekerja paling baik sebagai siklus pembelajaranAisetiap insiden kecil menjadi bahan perbaikan desain ruang, alur, dan prosedur. Di sini nilai CHSE berpindah dari Autindakan reaktifAy ke Audesain preventifAy. Dimensi AuEnvironmental SustainabilityAy memperlihatkan kontribusi nyata melalui nudging perilaku: refill station, pelarangan plastik sekali pakai pada acara tertentu, dan titik pilah sampah yang terlihat oleh pengunjung (Herberz et al. , 2. Kebijakan pembatasan kuota di jam puncak menggeser orientasi dari pengejaran volume menuju kualitas pengalaman, sekaligus menjaga daya dukung . arrying capacit. Pendekatan ini selaras dengan triple bottom line: efisiensi lingkungan . ampah menuru. , nilai sosial . engalaman lebih nyama. , dan keberlanjutan ekonomi . ransaksi UMKM membaik karena pengunjung tidak terburubur. Pengalaman Pager Wangi menunjukkan bahwa intervensi murah dan kontekstual dapat menghasilkan manfaat lintas dimensi, dan efek reputasinya memantul di kanal digital melalui ulasan positif. Peran pemuda sebagai orkestrator rantai nilai adalah kunci. Mereka menyambungkan pemasok, frontstage layanan, dan after-visit care melalui mekanisme hygiene pass, forum umpan balik, serta SOP modular (Al-Saad et al. , 2023. Alhaj, 2020. Serra & Seabra, 2023. Yaja et al. , 2. Orkestrasi ini menekan biaya koordinasi yang biasanya tinggi pada ekosistem berbasis relawan. Namun, tantangan tetap ada: disiplin harian turun saat hari kerja. rotasi SDM mengancam dan konsistensi pemasok terpengaruh fluktuasi harga. Tiga hal ini menandakan perlunya penguatan institusional: program train-the-trainers untuk mengatasi turnover, insentif reputasi bagi pemasok patuh . adge digital, prioritas promos. , serta integrasi visitor journey analytics sederhana . icro-survey, pelacakan keluha. untuk menjaga laju perbaikan. Secara teoretik, kasus Pager Wangi mengonfirmasi bahwa CHSE paling efektif bila dibingkai sebagai process quality yang mengalir di sepanjang value chain, bukan sebagai pos pemeriksaan Secara praktis, paket kebijakan yang disarankan meliputi playbook CHSE-CBT lintas desa, skema insentif berbasis kinerja . isalnya dukungan promosi bagi desa dengan kepatuhan terverifikas. , dan kemitraan publikAekomunitasAeswasta untuk pendanaan fasilitas kecil berdampak besar . P3K, refill statio. Agenda berikutnya adalah pelembagaan metrik longitudinalAiinsiden per 1. 000 pengunjung, kepuasan kebersihan/keamanan, dan jejak sampah residuAiagar keberlanjutan tidak hanya diceritakan, tetapi dibuktikan secara konsisten dari waktu ke waktu. KESIMPULAN Implementasi CHSE di Pager Wangi menunjukkan bahwa standar kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan bisa AudibumikanAy menjadi kebiasaan operasional ketika pemuda memegang peran integrator rantai nilai. Melalui SOP modular, checklist, komunikasi risiko yang empatik, dan feedback loop insiden-perbaikan, kualitas proses meningkat dan kepercayaan pengunjung menguat. Ditarik ke kerangka CBT, praktik ini memperlihatkan bagaimana partisipasi bermakna menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih merata sekaligus menjaga daya dukung lingkungan. Tantangan utamaAidisiplin eksekusi, konsistensi pemasok, dan data kinerjaAidapat dijawab dengan playbook replikasi, supplier hygiene pass, dan visitor journey analytics. Untuk keberlanjutan jangka panjang, kemitraan publikAekomunitasAeswasta serta insentif berbasis kinerja menjadi kunci. Sulistiono. Wahyudin. Sukmana & Mutamam. Sustainability-in-Action: Implementasi CHSE pada Rantai Nilai Wisata Desa oleh Pemuda Karang Taruna DAFTAR PUSTAKA