Accounting Research Journal of Sutaatmadja (ACCRUALS) Volume 09 Nomor01 Tahun 2025 (Hal : 63-. DOI : . ttps://doi. org/10. 35310/accruals. https://ojs. id/index. php/accruals/index ISSN 2614-5286 (Prin. ISSN 2615-0409 (Onlin. HOW IS THE PERFORMANCE APPRAISAL SYSTEM FOR SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES IN THE LIVESTOCK INDUSTRY? EXPERIMENTAL STUDY IN INDONESIA Ferdi Fathurohman1* Rita Purwasih2 Nurul Mukminah3 Fitri Suciati4 1,2,3,4 Politeknik Negeri Subang. Subang. Indonesia *email: ferdifathurohman@polsub. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : Tgl. Masuk : 04-03-2025 Tgl. Diterima : 22-04-2025 Tersedia Online : 22-04-2025 Keywords: The performance evaluation techniques have been important tools of competitive strategy to enhance organizational productivity and profitability. This study aims to find the factors that promote the deployment of performance evaluation techniques in livestock industry SMEs in Indonesia. In this study we examine the relation between three institutional factors (Imitation. Coercion and Normalit. , four contigency factors (Strength of competitive market. Participation of business owners. Advanced technology and The qualifications of accountant. and the deployment of performance evaluation techniques in livestock industry SMEs in Indonesia. The study applies a quantitative research methodology and uses a questionnaire method to collect the data. The study sample consists of 129 respondents. This study analyzes the data using the (SPSS) program. The results reveal a statistically significant relationship between the Strength of competitive market. Participation of business owners and Imitation and the deployment of performance evaluation techniques in livestock industry SMEs in Indonesia. Business owners. Competitive market forces, and Imitation are one of the most important factors that have a positive relationship with the application of performance evaluation techniques in livestock SMEs in Indonesia. The government needs to issue policies that support and encourage business owners to actively apply performance evaluation techniques in their business activities. Management accounting techniques, performance evaluation techniques, institutional factors, contigency factors. SMEs. Indonesia PENDAHULUAN Penerapan manajemen ke dalam kegiatan bisnis akan perusahaan, oleh karena itu peneliti harus memperhatikan permasalahan terkait teknik akuntansi manajemen pada UKM di Indonesia. Dari sini, penulis memutuskan untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan teknik evaluasi kinerja pada perusahaan di Indonesia. Dalam konteks persaingan global yang ketat, sumber daya yang langka, dan perubahan teknologi yang cepat, memiliki informasi akuntansi yang akurat sangatlah Membuat keputusan tepat waktu adalah tujuan terpenting dari informasi akuntansi manajemen. Selain itu, tujuan penting lainnya untuk memastikan dan mempertahankan keberhasilan operasi bisnis suatu perusahaan adalah untuk meminimalkan biaya. Oleh karena itu. Volume 09. No. 01 Ae Maret seiring berjalannya waktu, dunia usaha perlu memperbaiki sistem informasi akuntansinya agar mampu menghadapi tantangan baru. Teknik evaluasi kinerja saat ini belum menjadi perhatian yang utama terutama di perusahaan peternakan baik yang sekala UKM maupun industry. Perusahaan peternnakan hanya mengevaluasi dari kinerja keuangan. Ini menjadi tantangan tersedinri Dimana industry peternakan itu merupakan perusahaan penyumbang perekonomian terbesar setelah insdustri Di insdustri manufaktur evaluasi kinerja juga dianggap sebagai sistem informasi. Belum banyak karya ilmiah mengenai teknik evaluasi kinerja khususnya penelitian terkait UKM di Indonesia UKM mengalami kesulitan dalam memperbaiki meningkatkan daya saing di era baru, jika merujuk penelitian Ittner & Larcker, . menunjukkan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi organisasi bisnis adalah memilih skala untuk mengukur kinerja sebuah industry pertanian. Selain itu. Reid & Smith, . mengatakan bahwa teknik akuntansi manajemen di UKM pertanian juga berperan sebagai sistem penyediaan KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Ghosh & Chan, . Mitchell & Reid, . menunjukkan bahwa teknik akuntansi manajemen merupakan alat penting untuk membantu administrator mengelola perusahaan secara efektif dalam hal pemasaran. Horngren dkk. mengamati bahwa Auproses mengkomunikasikan informasi pemasaran yang membantu manajer memenuhi tujuan organisasi. Ay Chenhall . mengatakan bahwa istilah-istilah seperti akuntansi manajemen, sistem akuntansi manajemen, pengendalian manajemen dan pengendalian organisasi telah digunakan secara bergantian Sehingga peneliti mempunyai hipotesis, (H1: Kekuatan (SM) ( ) penerapan teknik evaluasi kinerja. Emmanuel menunjukkan bahwa pemilik perusahaan merupakan fungsi penting akuntansi manajemen adalah evaluasi kinerja. Jusoh & Parnell . mengatakan evaluasi kinerja bertujuan untuk memberikan informasi untuk membantu pemilik mencapai tujuan strategis organisasi. Hall menemukan bahwa organisasi telah meningkatkan sistem evaluasi memberikan lebih banyak informasi bagi karyawan, membantu mereka mengelola aktivitas dalam organisasi dengan lebih Hall . mengatakan bahwa komprehensif . eperti BSC) adalah suatu sistem yang terdiri dari serangkaian skala untuk memperkirakan banyak kriteria dan skala ini terkait erat dengan strategi Sehingga mempunyai hipotesis. H2: Partisipasi pemilik usaha (BO) berpengaruh positif ( ) terhadap penerapan teknik evaluasi CIMA evaluasi kinerja seperti model VBM. ABC ABM. BSC. EFQM. manajemen strategis. model enam sigma. Gomes dkk. mengatakan bahwa teknologi ini sering kali mencakup skala finansial dan nonfinansial. Lybaert . sepakat bahwa ada hubungan positif antara penggunaan penerapan teknologi maju sebagai bentuk Accounting Research Journal of Sutaatmadja (ACCRUALS) penguatan kinerja Sehingga peneliti mempunyai hipotesis. H3: Teknologi maju (AT) mempunyai pengaruh yang sama ( ) terhadap penerapan teknik evaluasi Akuntan berkualifikasi tinggi sering manajemen (McChlery et al. Ukuran kinerja tradisional . erdasarkan metrik keuanga. seperti ROI dan pendapatan operasional telah banyak digunakan dan ini sangat tergantung kepada tingkat Kemahiran dari akuntan (Joshi, 2. Pengukuran keuangan banyak digunakan karena informasi mengenai pengukuran tersebut sudah tersedia, baik dan tidaknya pengururan pengukurannya dengan baik atau tidak (Gomes et al. , 2. Ittner & Larcker, . menunjukkan bahwa dengan beberapa ukuran keuangan seperti EVA yang belum diterapkan karena terlalu rumit Sehingga mempunyai hipotesis. H4: Kualifikasi akuntan (QA) berpengaruh positif ( ) terhadap penerapan teknik evaluasi Ismail . mengemukakan bahwa berdasarkan non-keuangan, imitasi dalam indikator ukuran kinerja semakin banyak digunakan. mengamati non-keuangan kekurangan . eperti terlalu menekankan atau terlalu menekankan pencapaian tujuan keuanga. dari imitasi sistem evaluasi kinerja. Dury et al. , . menunjukkan bahwa di antara ukuranukuran non-keuangan, ukuran-ukuran yang berkaitan dengan pelanggan sering kali lebih banyak digunakan dibandingkan ukuran-ukuran non-keuangan lainnya, khususnya ukuran kepuasan pelanggan, kualitas produk, jumlah pengiriman tepat memainkan peran penting. Ukuran yang berhubungan dengan pelanggan, kualitas produk, ketepatan waktu, efektivitas dan kegunaan juga dianggap penting (AbdelMaksoud et al. , 2. Secara khusus. BSC tidak diterapkan secara luas, dengan 26% perusahaan di Jerman menerapkan BSC dan juga hanya menerapkan versi terbatas (Speckbacher et al. , 2. , dan jika perusahaan menerapkan BSC secara (Ismail. Sehingga mempunyai hipotesis. H5: Imitasi (IM) ( ) penerapan teknik evaluasi kinerja. Collis & Jarvis . menyatakan lingkungan persaingan yang sangat ketat, mereka cenderung menerapkan atau manajemen yang lebih kompleks. Lybaert . menunjukkan bahwa penelitian tentang penguatan atau pemaksaan hubungan antara penggunaan teknik akuntansi manajemen dengan partisipasi hubungan yang positif. Sehingga peneliti mempunyai hipotesis. H6: Paksaan (CO) ( ) penerapan teknik evaluasi kinerja. Haverman . menyatakan bahwa normalitas adalah suatu proses dimana organisasi berubah menjadi lebih seperti diri mereka sendiri dalam lingkungan operasi yang sama dari waktu ke waktu. Biasanya, ketika menghadapi situasi yang tidak terduga, organisasi sering melakukan simulasi tindakan organisasi lain, sehingga dalam situasi ini, kemungkinan besar perusahaan akan menerapkan teknik akuntansi manajemen dari organisasi sukses lainnya. Penelitian Omiri & Drury . menunjukkan bahwa kesamaan koersif terjadi sebagai akibat dari tekanan formal . uatu organisasi bergantun. atau tekanan informal . ekanan dari karakteristik budaya dan Volume 09. No. 01 Ae Maret masyarakat di mana organisasi tersebut Oleh karena itu, agar produknya dikenal dan diterima oleh masyarakat, perusahaan memerlukan banyak informasi untuk dapat memenuhi standar tersebut, sehingga kemungkinan besar mereka akan menerapkan teknik menormalitaskan operasional. Omiri & Drury . kesamaan normatif terutama berasal dari profesionalisasi karena juga tunduk pada tekanan koersif dan mimetik. Mereka juga karyawan yang baik dalam sebuah organisasi yang dilatih di universitas yang sama dan memiliki beberapa karakteristik tertentu cenderung memecahkan masalah dengan cara yang sama. Sehingga peneliti mempunyai hipotesisi. H7 : Normalitas (NO) berpengaruh positif ( ) terhadap penerapan teknik evaluasi kinerja. Melalui penelitian ini, peneliti ingin mempengaruhi tingkat penerapan teknik evaluasi kinerja pada perusahaan UKM atau industry peternakan di Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan pada tahun 2024 di 10 Perusahaan industry dan UKM Peternakan di Indonesia dengan cara survey. Focus Group Discussion (PGD) Penelitian menggunakan metode campuran untuk Pertama digunakan metode penelitian kualitatif, kemudian metode penelitian kuantitatif digunakan untuk memverifikasi model penelitian. Pengumpulan data mengunakan kuisioner dengan jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 200 orang yang terdiri dari pemilik, manajer dan karyawan di 10 industri dan UKM peternakan di Indonesia. Metode pengambilan sampel purposive atau metode ini digunakan karena respondeng yang dituju sudah spesifik yaitu yang paling mengetahui dari perusahaan tersebut di berbagai tingkatan. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini evaluasi kualitatif dengan deskriftif dan kuantitatif dengan regresi linear berganda. Metode mengukur pengaruh variabel independen terhadap penerapan teknik evaluasi kinerja pada UKM industri peternakan di Indonesia. Data dikumpulkan melalui pertanyaan tertutup. Model pengujuan menggunakan regresi linier berganda digunakan untuk mengukur pengaruh faktor-faktor . erdasarkan teori kontigensi penerapan teknik evaluasi kinerja pada UKM industri peternakan. Metode faktor-faktor mempengaruhi penerapan teknik evaluasi kinerja sektor UKM industri peternakan di Indonesia. Berdasarkan tinjauan pustaka, penulis mewarisi metode penelitian, grounded theory, hasil penelitian terkait penerapan teknik evaluasi kinerja dan faktor-faktor (Kekuatan Pasar Kompetitif. Partisifasi Pemilik Usaha. Pengunuaan Teknologi. Kualifikasi Akuntan. Imitasi. Pemaksaan dan Normalita. yang mempengaruhi penerapan teknik evaluasi Penjelasan metode evaluasi Penulis mewawancarai para ahli untuk mengkonfirmasi faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan teknik evaluasi kinerja di UKM Indonesia, sehingga memutuskan model penelitian yang Hasil dari metode kualitatif akan independen, variabel dependen, variabel mempertimbangkan kesesuaian model Indonesia. Mengingat dilakukan melalui penggunaan kuisioner, maka faktor kesungguhan responden dalam menjawab kuisioner merupakan hal yang sangat penting, oleh sebab itu sebelumnya perlu dilaksanakan pengujian validitas, dan reliabilitas untuk memastikan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini valid dan realiabel. Pengujian menggunakan aplikasi SPSS versi 27. Accounting Research Journal of Sutaatmadja (ACCRUALS) HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian validitas setiap butir mengkorelasikan skor setiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah skor Intrumen dikatakan valid apabila koefisien korelasi antar butir/item tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas dengan tingkat kesalahan . 0,05 (Green. Seluruh koefisien korelasi item pada masing-masing variabel yang diteliti telah berada di atas 0,3 dan koefisien sehingga item yang digunakan dalam penelitian ini dikatakan valid dan layak digunakan untuk seluruh responden yang telah ditargetkan. Pengujian uji reliabilitas instrumen pada penelitian ini dilakukan dengan cara one shot atau pengukuran sekali saja. Suatu variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai Cronbach Alpha () > 0,6. Paparan hasil uji reliabilitas pada masing-masing variabel yang di gunakan dalam penelitian ini. variabel yang digunakan dalam penelitian memiliki koefisien korelasi cronbach alpha di atas 0,6. Hal ini berarti semua variabel dalam penelitian ini dinyatakan reliabel, dan digunakan pada seluruh responden yang telah ditargetkan. Meskipun mengembalikan kuesioner, beberapa data yang tidak valid . isalnya nilai yang hilan. sampel berjumlah 129 responden sektor industri dan UKM peternakan di Indonesia yang berhasil Pada Tabel 1 , menunjukan hasil dari Tingkat penjelasan model. Tabel 1. Tingkat penjelasan model Model Summary Adjusted R Std. Error of the Square Estimate ,536a ,287 ,246 ,5427906 Predictors: (Constan. SM. BO. AT. IM. CB. CO. NO Dependent Variable: IPAS Model R Square Hasil Adjusted R2 menunjukkan sebesar 24,6% variasi sistem evaluasi 1,468 Artinya dapat dijelaskan oleh variabel independen model (Green, 2. Tabel 2: Kesesuaian model Sum of Mean Model Squares Square 14,369 2,053 Regression Residual 35,649 ,295 50,018 Total Dependent Variable: IPAS Predictors: (Constan. SM. BO. AT. IM. CB. CO. NO. Hasil analisis varians (ANOVA) pada Tabel 2 dengan sig = 0,000 (Sig. , mean ini adalah UKM, menunjukkan Durbin-Watson 6,967 Sig. ,000b bahwa dengan tingkat kepercayaan 99%. Artinya variabel independen berkorelasi linier dengan variabel dependen. Volume 09. No. 01 Ae Maret Tabel 3: Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error (Constan. 1,539 ,427 ,202 ,066 ,273 ,082 ,105 ,071 ,010 ,018 ,174 ,067 -,102 ,060 -,047 ,073 Dependent Variable: IPAS Tidak karena koefisien VIF seluruh faktor dalam model jauh lebih kecil dari 10, menunjukkan bahwa variabel independen tidak berhubungan erat satu sama lain. (Truong & Ngoc, 2. mengamati bahwa tidak terjadi autokorelasi karena dilakukan uji d perbaikan, jika 1 < d < 3. Dengan nilai Durbin-Watson d = 1,468 berarti residu tidak mengalami autokorelasi. Hasil koefisien customized R2 sebesar 0,117. Kita dapat menghitung koefisien Putih nR2 = 129 . = 15,15. Artinya dapat disimpulkan bahwa varians sisa adalah Hasil pengujian menunjukkan bahwa koefisien regresi terstandarisasi variabel SM, variabel BO dan variabel IM mempunyai P-value < 0,05, hal ini Partisipasi pemilik usaha. Kekuatan pasar kompetitif, dan Imitasi merupakan prediktor penting untuk menggunakan sistem evaluasi Dengan ketiga faktor tersebut, pengaruh yang paling kuat adalah partisipasi pemilik usaha (BO), berikutnya adalah faktor kekuatan pasar kompetitif (SM), dan faktor peniruan (IM). Hasil penelitian menunjukkan mempunyai hubungan positif lagi dan Sig. 3,604 3,040 3,311 1,462 ,554 2,582 -1,707 -,645 ,000 ,003 ,001 ,146 ,580 ,011 ,090 ,520 Beta ,251 ,280 ,121 ,043 ,210 -,136 -,051 Collinearity Statistics TolerVIF ,866 ,823 ,866 ,983 ,888 ,924 ,938 1,155 1,215 1,154 1,017 1,127 1,082 1,066 penerapan sistem evaluasi kinerja. Dibandingkan karya-karya sebelumnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan positif antara kekuatan pasar kompetitif dan sistem evaluasi kinerja juga didukung oleh banyak karya sebelumnya. Mia dan Clarke . Mat dkk . Faktor ini menunjukkan bahwa lingkungan bisnis di mana perusahaan beroperasi sangatlah ketat. Berdasarkan teori kontigensi dapat dijelaskan bahwa untuk dapat bertahan dan berkembang perekonomian. UKM perlu berhati-hati dalam menilai kinerjanya. Namun agar komprehensif, data yang dikumpulkan harus mencukupi kebutuhan pengambilan keputusan para manajer, sehingga akan mempengaruhi penerapan sistem evaluasi Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi pemilik usaha mempunyai hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan penerapan sistem evaluasi kinerja. Hasil ini serupa dengan hasil yang diperoleh dari penelitian sebelumnya (Al-Omiri dan Drury, 2017. Thong dan Yap, 1995. Tuan Mat & Smith. Ojua, 2016. Hung, 2. , yaitu penerapan sistem informasi pada UKM hampir ditentukan oleh pemilik/manajer Hal ini juga sangat beralasan dalam konteks saat ini, pada usaha kecil, pemilik/pengelola adalah orang yang Accounting Research Journal of Sutaatmadja (ACCRUALS) menjalankan seluruh aktivitas usahanya, memperhatikan pengalokasian anggaran untuk mencapai efisiensi operasional yang Hasilnya hubungan positif antara kemajuan teknologi dengan penerapan sistem evaluasi kinerja dan hal ini berbeda Tayles dan Drury . menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi mempunyai dampak yang signifikan terhadap perubahan sistem evaluasi Salah satu alasan perbedaan antara hasil-hasil ini mungkin karena mengevaluasi hasil usaha yang digunakan perusahaan-perusahaan diwawancarai tidak beragam, yaitu perusahaan-perusahaan tersebut masih hanya menggunakan skala keuangan untuk mengukur hasil-hasil usaha, sepenuhnya informasi yang diperoleh dari penerapan teknologi maju. Hasil penelitian tidak menemukan hubungan positif antara kualifikasi akuntan dengan penerapan sistem evaluasi Hasil ini berbeda dengan hasil Collis dan Jarvis . Perbedaan ini masyarakat Indonesia yaitu Auhidup dan bekerja dengan damai dan puasAy yang berdampak signifikan pada budaya kerja mereka, sehingga mereka sering bersikap persyaratan manajer. Selain itu, mereka juga takut memikul tanggung jawab untuk mengajukan ide-ide baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor imitasi berpengaruh positif terhadap evaluasi kinerja perusahaan. Hasil ini konsisten dengan teori institusional yang berpendapat bahwa karakteristik suatu organisasi menjadi semakin mirip dengan karakteristik utama lingkungan operasi organisasi. Selain itu, di bidang akuntansi, lembaga pemerintah sering kali menerapkan standar, aturan, dan nilai pada organisasi ketika pemangku kepentingan eksternal. Oleh karena itu, untuk memenuhi persyaratan pihak berwenang dan masyarakat serta untuk menjamin keselamatan organisasi, ada kemungkinan bahwa organisasi akan meniru teknik evaluasi kinerja organisasi yang berhasil diterapkan. Selain itu, penerapan software akuntansi yang sama juga dapat mengarah pada penerapan sistem evaluasi kinerja yang serupa karena software yang sama akan menyediakan sumber data yang sama. Hasil penelitian tidak ditemukan pemaksaan dengan penerapan sistem evaluasi kinerja. Hasil ini dapat dianggap masuk akal karena akuntansi manajemen tidak bersifat wajib tetapi terutama untuk orientasi, sehingga hal ini mungkin menjadi alasan mengapa faktor ini tidak mengatur penerapan sistem evaluasi kinerja perusahaan. Hasil penelitian ini tidak menemukan hubungan positif antara normalitas dengan penerapan sistem Teknik manajemen yang diajarkan di universitas seringkali merupakan teknik tradisional, jadi ini mungkin menjadi alasan mengapa faktor ini tidak mempengaruhi penerapan sistem evaluasi kinerja perusahaan. Hasil penelitian tidak ditemukan pemaksaan dengan penerapan sistem evaluasi kinerja. Hasil ini dapat dianggap masuk akal karena akuntansi manajemen tidak bersifat wajib tetapi terutama untuk orientasi, sehingga hal ini mungkin menjadi alasan mengapa faktor ini tidak mengatur penerapan sistem evaluasi kinerja perusahaan. Hasil penelitian ini tidak menemukan hubungan positif antara normalitas dengan penerapan sistem evaluasi kinerja. Teknik MA yang diajarkan di universitas seringkali merupakan teknik tradisional, jadi ini mungkin menjadi alasan mengapa faktor ini tidak mempengaruhi penerapan sistem evaluasi kinerja KESIMPULAN Volume 09. No. 01 Ae Maret Hasilnya menunjukkan bahwa setiap faktor kelembagaan tertentu akan memiliki tingkat dampak yang berbeda terhadap pilihan teknik evaluasi kinerja untuk diterapkan pada bisnis. tiga faktor partisipasi pemilik usaha, kekuatan pasar kompetitif dan peniruan mempunyai hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan penerapan teknik evaluasi Faktor-faktor lainnya, seperti Paksaan. Normalitas. Teknologi dan Kualifikasi akuntan, belum menemukan hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan penerapan teknik evaluasi Dari hasil penelitian yang diperoleh, kita dapat melihat bahwa semakin fluktuatifnya lingkungan bisnis, semakin banyak pula teknik evaluasi kinerja yang diterapkan oleh UKM dan Indonesia. Partisipasi pemilik/pengelola merupakan salah satu faktor yang mempunyai hubungan positif terbesar terhadap penerapan teknik evaluasi kinerja pada UKM industri peternakan di Indonesia. Untuk meningkatkan partisipasi pemilik/pengelola usaha. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Kebijakan Pemerintah menciptakan lingkungan persaingan yang adil bagi semua jenis usaha di Hal ini akan memaksa dunia usaha untuk terus mengubah kesadaran mereka, mempelajari pengetahuan baru untuk meningkatkan daya saing mereka dan menerapkan teknik evaluasi kinerja untuk meningkatkan efisiensi operasional. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan pemilik/pengelola usaha agar aktif menerapkan teknik evaluasi kinerja dalam kegiatan usahanya. Untuk meningkatkan peniruan, pemilik/manajer bisnis harus memperbarui pengetahuan secara teratur tentang teknik evaluasi kinerja. Penelitian ini mempunyai keterbatasan hanya pada industry dan UKM Peternakan di Indonesia tidak mencakup perusahaan pendukung lainnya di bidang lain, akan lebih mendalam jika kajian dilakukan dari semua unsur yang terlibat seperti Universitas. Pemerintah dan Masyarakat. REFERENCES