hlm: 122-129 Edukasi Penggunaan Obat di bulan Ramadhan sebagai Upaya Penggunaan Obat yang Rasional di Desa Bugel Irma Susanti. Khusnul Khotimah. Maya Maghfirotur Rohmah. Laela Novitasari *. Ayu Fermiasari. Sahla Ayu Fatmawati. Fadlil Al-Hafidz Email: sarinovita9066@gmail. Prodi S1 Farmasi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Indonesia Jl. Plalangan No. KM. RW. Wahyu. Plosowahyu. Kecamatan. Lamongan. Kabupaten Lamongan. Jawa Timur 62218 No. HP: 085706380365 Abstrak Bulan Ramadhan salah momen yang sangat DOI: dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia. 37402/abdimaship. ramadhan wajib dilakukan oleh setiap muslim, namun terdapat keringanan bagi orang yang sakit dapat History artikel: Orang yang mengalami gangguan kesehatan Diterima dapat mempengaruhi pola penggunaan obat seperti hari2024-06-06 hari biasa. Perubahan jadwal penggunaan obat sangat Direvisi perlu diperhatikan sehingga tidak mempengaruhi efek 2024-08-27 terapi yang diberikan atau yang sedang dijalani. Diterbitkan sehingga perlu edukasi mengenai penggunaan obat saat 2024-08-27 bulan puasa agar rasional dan menjaga obat yang masuk ke dalam tubuh memberikan efektivitas yang maksimal tanpa memberikan bahaya dan pengaruh buruk bagi Metode pengabdian masyarakat yang digunakan adalah metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab secara tatap muka yang diikuti 34 peserta posbindu. Hasil pemberian edukasi ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan edukasi yaitu 60% berada pada kategori cukup sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah diberikan edukasi yaitu 100% pada kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan edukasi mengalami peningkatan pengetahuan secara signifikan dengan nilai p<0,05. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pemberian edukasi dapat penggunaan obat saat puasa. Kata kunci: edukasi. minum obat. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. : 122-129 Irma Susanti Khusnul Khotimah Maya Maghfirotur Rohmah Laela Novitasari* et al Abstract The month of Ramadan is a moment that is eagerly awaited by all Muslims in the world. Ramadan fasting is mandatory for every Muslim, but there is relief for sick people who can cancel it. People who experience health problems can affect the pattern of drug use as usual. is important to pay attention to changes in the medication use schedule so that it does not affect the effect of the therapy being given or currently being undertaken, so education regarding the use of medication during the fasting month is necessary so that it is rational and ensures that the medication that enters the body provides maximum effectiveness without causing danger or bad effects on the body. The community service methods used are face-to-face lectures, discussions and question and answer methods which was attended by 34 posbindu participants. The results of providing this education show that the level of knowledge of respondents before being given education, namely 60%, is in the sufficient category, while the level of knowledge of respondents after being given education is 100% in the good category. Based on the research results, it can be concluded that the level of knowledge of respondents before and after being given education experienced a significant increase in knowledge with a p value <0. Community service activities through providing education can increase respondents' knowledge about the use of drugs during fasting. Keywords: education. taking medicine. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam yaitu sekitar 87,2%. Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat muslim di seluruh dunia, di mana setiap penganutnya diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Hal ini keringanan bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan puasa karena alasan sakit, banyak masyarakat yang mengusahakan dirinya untuk tetap melakukan ibadah puasa Ramadhan. Selama bulan puasa (Ramadha. umat muslim memiliki dua waktu makan yaitu segera saat ditandai dengan masuknya waktu . fthar berbuka puas. dan makan saat fajar terbit . , sehingga lamanya waktu berpuasa adalah berkisar antara 11 jam hingga 18 jam setiap harinya. Umat mengalami gangguan kesehatan, pasti akan mempengaruhi pola penggunaan obat seperti hari-hari . Perubahan penggunaan obat sangat perlu mempengaruhi efek terapi yang diberikan atau yang sedang . Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi obat adalah cara dan aturan penggunaan obat. Dalam kondisi tertentu, cara dan aturan penggunaan obat perlu biasanya aspek-aspek kesehatan berkaitan dengan puasa Ramadhan dan implikasinya pada beberapa kondisi penyakit yang kerap dijumpa dalam praktik sehari-hari obat dengan kondisi medis yang berbeda misalnya pasien dengan gastroesophageal, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit ginjal, kehamilan saat puasa. Edukasi mengenai penggunaan obat yang rasional pada bulan puasa dipandang penting agar tetap menjaga obat yang masuk ke dalam tubuh memberikan efektivitas yang bahaya dan pengaruh buruk bagi Sebagai tenaga kefarmasian, baik di ruang lingkup komunitas farmasis wajib memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitarnya mengenai penggunaan obat rasional . Pengetahuan masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan obat dapat ditingkatkan dengan salah satu caranya yaitu menyediakan informasi seluas dan sebanyak-banyaknya masalah obat dan juga pengawasan obat perlu dilakukan supaya tidak menimbulkan permasalahan dan penyalahgunaan obat. Dengan pemahaman yang baik mengenai aturan dan waktu penggunaan obat yang baik dan benar pada saat bulan puasa agar efek terapi obat dapat maksimal. Berdasarkan latar belakang diatas dan bertepatan pula dengan datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1445 H, maka dianggap penting untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Bugel bertujuan untuk mengenai penggunaan obat saat bulan puasa serta meningkatkan pemahaman dalam merubah pola penggunaan obat saat puasa agar tidak menimbulkan efek toksik dan mempengaruhi efek terapi yang sedang dijalani. Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat :122-129 Metode Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan 1 minggu sebelum puasa di Desa Bugel. Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab secara tatap muka. Alat peraga bantu saat Keberhasilan dari kegiatan ini diukur menggunakan kuesioner yang dibuat oleh Stiani SN . dan dibagikan sebelum kegiatan penyuluhan . Hasil dan Pembahasan Kegiatan Balaidesa Bugel. Lamongan pada hari kamis bertepatan tanggal 7 Maret 2024. yang dihadiri oleh 34 peserta Gambar 1. Leaflet penggunaan obat saat Gambar 2. Kegiatan sossialisasi pengabdian masyarakat kader posbindu Desa Bugel Karakteristik Responden Pelaksanaan masyarakat dilakukan dalam satu hari dan telah didapat sebanyak 34 Hasil dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Gambaran karakteristik Responden Pada tabel 1. diketahui bahwa peserta terdiri dari 7 laki-laki . ,59%) dan 27 peserta perempuan . ,411%). Usia responden pada kegiatan masyarakat ini tidak jauh berbeda mulai dari 16-19 tahun. Berdasarkan data tabel 1 dalam persentase peserta posbindu yang paling tinggi berkisar antara 36-45 tahun terdapat 11 peserta . ,35%), kemudian disusul dengan usia berkisar antara 56-65 sebanyak 10 peserta . ,41%). Usia dapat mempengaruhi perkembangan pola berfikir dan daya tangkap. Di mana semakin tua umur seseorang maka proses perkembangan mentalitas menjadi Namun, usia yang mental yang menyebabkan tidak secepat seperti ketika berusia belasan tahun. Bertambahnya usia seseorang dapat dapat berpengaruh kecepatan daya serap pengetahuan yang diperolehnya. Gambaran Tingkat Pengetahuan Pelaksanaan Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat :122-129 pengisian kuisioner pretest dan Berikut gambaran tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan edukasi digambarkan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil pengukuran peningkatan pengetahuan peserta posbindu tentang penggunaan obat saat puasa. Pertanyaan Pre-Test Post-Test Mengonsumsi obat oral . ablet, kapsul, siru. dapat 83,82% membatalkan puasa. Penggunaan obat yang diletakkan dibawah lidah dapat 66,17% 98,53% mebatalkan puasa. 3 Penggunaan obat kumur dapat membatalkan puasa. 63,23% Obat yang digunakan 1 kali sehari dapat dikonsumsi 72,06% saat sahur atau berbuka puasa. Obat yang dikonsumsi 2 kali sehari dapat dikonsumsi 72,05% saat sahur dan berbuka puasa. Obat yang digunakan 3 kali sehari dapat dikonsumsi 6 tiap 5 jam saat berbuka . , saat akan tidur . , 67,64% 92,65% dan saat sahur . Jarak minum antar obat tidak mempengaruhi khasiat 66,17% 95,59% Obat yang disuntikkan dikult dapat membatalkan 67,65% Penggunaan obat dalam bentu cream tidak 76,45% 98,53% membatalkan puasa 10 Penggunaan tetes telinga dapat membatalkan puasa. 69,12% Hasil pengamatan pengukuran pemahaman peserta posbindu dapat dilihat pada tabel 2 menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami sebagian besar materi yang telah disampaikan dan hanya 4 indikator pengetahuan dengan nomer 1, 2, 6 dan 9 yang mendapatkan nilai rendah dibandingkan dengan poin Namun, pada indikator lainnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Terdapat satu indikator pengetahuan yang paling rendah dengan pertanyaan pengunaan obat dengan aturan 3x1 saat puasa. Dalam hal ini berfikiran bahwa dengan aturan pakai penggunaan 3x1 dengan jarak 8 jam, padahal pada saat puasa jarak minum obat dengan aturan 3x1 dengan selang 5 jam. Kurangnya berpengaruh terhadap pengetahuan . Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan beberapa hal seperti pengalaman kesalahan dari pengalaman yang pernah dilakukan, dapat berfikir . Pengetahuan penggunaan obat secara rasional bisa didapatkan dengan edukasi atau dari tenaga kefarmasian baik itu di apotek, rumah sakit, puskesmas, atau tempat pelayanan kesehatan lainnya. Masyarakat dapat lebih aktif untuk mencari informasi dengan menggali dan Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat :122-129 kefarmasian agar terapi penggunaan obat dapat berjalan dan target terapi Tabel 3. Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi setelah edukasi BAIK CUKUP sebelum edukasi KURANG Gambar 3. Diagram pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi Menurut Mbagho et al. , . hasil ukur pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu Baik . %-100%). Cukup . %-75%), dan Kurang (<55%). Berdasarkan Gambar 2. peningkatan pengetahuan dari sebelum edukasi penggunaan obat saat puasa dengan dilakukan edukasi penggunaan obat saat puasa yaitu dari kategori cukup menjadi baik. Tabel 4. Hasil Pretest dan Posttest Mean Std. Sig. Deviation taile. Pretest Posttest Berdasarkan menunjukan nilai yang didapat dengan jumlah responden 34 orang. Di mana nilai pre-test . ebelum mendapatkan nilai sebesar 47. sedangkan nilai post-test . esudah mendapatkan nilai yang tinggi dibandingkan dengan nilai hasil pre-test yaitu sebesar 67. Data yang diperoleh dilakukan pengujian SPSS dengan metode Paired Sample TTest diperoleh hasil P value< 0,00, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan kelompok sebelum diberi edukasi dan setelah pemberian edukasi. Hasil tersebut sesuai dengan dilakukan oleh Stiani et al . perbedaan tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah . Dengan masyarakat Desa Bugel mengenai penggunaan obat saat bulan puasa pengabdian yang telah dilakukan berjalan dengan baik. Kesimpulan Dengan pengabdian masyarakat di balai Desa Bugel mengenai edukasi penggunaan obat saat puasa dapat memberikan pengaruh pengetahuan kepada peserta posbindu dibuktikan dengan hasil pre-test rata-rata sebesar 70,4% dan post-test sebesar 98,5%. Daftar Pustaka