Herbal Medicine Journal e-ISSN 2621-2625 Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Formulasi dan Uji Efek Sedatif Patch Transdermal Tipe Matriks Ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans Hout. dan Ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus L. Annisa Kartika Sari1*. Ziadatul Baroroh2. Umrotus Solikah3. Bunaiya Latifah4. Siti Rohmatul Laila5. Nela Sharon6 1,2,3,4,5Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya. Surabaya-Jawa Timur. Indonesia 6Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Tadulako. Palu-Sulawesi Tengah. Indonesia annisakartika@um-surabaya. ABSTRACT Insomnia is a sleep disorder or non-restorative sleep condition. The herbal plants Nutmeg Seed (Myristica fragrans Hout. and Lettuce Leaf (Lactuca sativ. are proven to have hypnotic-sedative effects. The combination of the two herbs is formulated into a transdermal patch to maximize therapeutic effectiveness and reduce side effects. The extraction process used 96% ethanol maceration method and phytochemical screening was performed on the extract to identify secondary metabolite compounds in it. Transdermal patches were formulated using matrix selection with HPMC: PVP concentration ratio of 5:7 (F. , 6:6 (F. , and 7:5 (F. Patch evaluation included organoleptic observation, patch thickness, pH, and folding Sedative effect test was conducted by traction test on male mice (Mus muculus L. The yield of lettuce leaf extract containing flavonoids, tannins, and saponins was 56. 8%, while that of nutmeg seed extract was 28. The formula with optimal characteristics is F2 which has a thickness of 0. 19 mm, pH 8, and folding resistance of more than 200 times. The formulations with the best sedative response were F2 and F3. It can be concluded that F2 is claimed as the optimal formula of sedative effect for insomnia therapy. Keywords: Lettuce. Nutmeeg. Sedative. Traction test. Transdermal Patch ABSTRAK Insomnia merupakan gangguan tidur atau kondisi tidur non-restoratif. Tanaman herbal Biji Pala (Myristica fragrans Hout. dan Daun Selada (Lactuca sativ. terbukti memiliki efek hipnotik-sedatif. Kombinasi kedua tanaman herbal tersebut diformulasikan menjadi patch transdermal untuk memaksimalkan efektivitas terapi dan mengurangi efek samping. Proses ekstraksi menggunakan metode maserasi etanol 96% dan skrining fitokimia dilakukan pada ekstrak untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder didalamnya. Patch transdermal diformulasikan menggunakan pemilihan matriks dengan perbandingan konsentrasi HPMC:PVP 5:7 (F. , 6:6 (F. , and 7:5 (F. Evaluasi patch yang dilakukan meliputi pengamatan organoleptik, ketebalan patch, pH, dan ketahanan lipat. Uji efek sedatif dilakukan dengan traction test terhadap mencit jantan (Mus muculus L. Rendemen ekstrak daun selada yang mengandung flavonoid, tanin, dan saponin sebesar 56,8%, sedangkan pada ekstrak Biji Pala sebesar 28,03%. Formula dengan karakteristik optimal adalah F2 yang mempunyai ketebalan 0,19 mm, pH 4,8, dan daya tahan lipat lebih dari 200 Formulasi dengan respon sedatif yang bekerja paling baik adalah F2 dan F3. Dapat disimpulkan bahwa F2 diklaim sebagai formula optimal dari efek sedatif untuk terapi insomnia. Kata kunci: Patch Transdermal. Biji Pala. Daun Selada. Sedatif. Traction test Program Studi Sarjana Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Senior Medan ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 PENDAHULUAN Insomnia kesulitan tidur atau sulit mempertahankan tidur yang ditandai dengan bangun lebih awal dari yang diharapkan serta kondisi tidur nonrestoratif (Shamim et al. , 2. Insomnia berhubungan dengan fungsi emosional, sosial, kognitif, akademik, dan kualitas hidup yang Apabila kondisi ini berlanjut maka akan menyebabkan dampak yang buruk terhadap Kesehatan mental yang berujung dengan kondisi stres, cemas, depresi, penyakit jantung, kecelakaan, kurang konsentrasi, dan anemia (Sutardi, 2. Berdasarkan data statistik dari National Sleep Foundation pada tahun 2023 secara global sebanyak 39 sampai 70 juta orang di Amerika memiliki gangguan tidur dan diperkirakan sekitar 30% - 40% orang dewasa lah yang sering mengalami insomnia dan diperkirakan sebanyak 936 juta orang secara global mengalami insomnia. Sebuah studi baru menunjukkan 43,7% orang di Indonesia yang berusia lebih dari 19 tahun mengalami insomnia (Edison H, 2. Golongan psikotropika merupakan golongan obat yang digunakan untuk mengatasi Penggunaan pengawasan dokter . erutama spesialis kejiwaa. dapat mempengaruhi kualitas hidup dari pasien yang menyebabkan ketergantungan, intoksikasi akut karena meningkatkan efek samping (Samlan et al. Solusi ketergantungan dari obat sintetik tersebut yaitu dengan menggunakan pengobatan berbahan dasar herbal, dimana sudah banyak diteliti bahwa tanaman herbal memiliki kinerja baik terutama dalam meningkatkan kualitas tidur (Feizi et al. , 2. Biji Pala (Myristica fragrans Hout. merupakah salah satu tanaman mengandung Senyawa aromatik myristicin dan elimicin yang dapat menghilangkan stres, dapat merangsang tidur, dan menimbulkan rasa kantuk (Agaus dan Agaus, 2. Berdasarkan konsentrasi ekstrak biji pala 500 mg/kg yang setara dengan penobarbital 40 mg dapat meningkatkan efek hipnotikum melalui rute oral (Sudradjat, 2. Tanaman herbal lain meningkatkan kualitas tidur adalah Daun Selada (Lactuca sativ. yang diketahui memiliki senyawa Lactucin dan Lactucopirin yang dapat memberikan aktivitas hipnotikum atau sedatif (Widyaningrum, 2. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Kyungae et al . daun selada dalam konsentrasi tinggi . mg/k. dapat memberikan efek peningkatan kualitas tidur sebanyak 68,8% (Jo et al. , 2. Strategi utama untuk meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif farmasi adalah inovasi dalam sistem penghantaran obat Salah satu topik penelitian yang banyak diminati adalah penghantaran obat melalui kulit . (Al Hanbali et al. , 2. Diantara jenis penghantaran transdermal, salah satunya adalah Patch Transdermal. Patch Transdermal adalah sediaan yang digunakan untuk menghantarkan bahan aktif ke dalam kulit dan diharapkan memiliki efek sistemik dengan kecepatan yang dapat dikontrol (Hashmat et , 2. Kelebihan dari bentuk sediaan patch transdermal adalah kemudahan penggunaan, kenyamanan, dapat mengurangi jumlah obat bioavailabilitas, mencegah senyawa aktif menghindari first pass effect metabolism (Wardani dan Saryanti, 2. Berdasarkan fakta dan permasalahan diatas maka maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengembangkan treatment alternatif insomnia dalam bentuk meningkatkan penetrasi bahan aktif yaitu ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans Hout. dan Daun Selada (Lactuca sativ. yang memliki efektivitas sedatif dan hipnotikum sehingga dapat meminimalisir penggunaan obat golongan psikotropika yang memiki efek samping adiktif. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Formulasi dan Uji Efek Sedatif Patch Transdermal Tipe Matriks Ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans Hout. dan Ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus L. METODOLOGI Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain eksperimen murni sesungguhnya . rue experimental desig. serta rancangan yang digunakan adalah post test only control class yaitu dengan cara membandingkan hasil observasi pada kelompok kontrol dan perlakuan untuk mengetahui efektivitas Patch Transdermal dari Ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans houu. yang dikombinasikan dengan ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. pada Mencit Jantan (Mus muculus L. Alat Cetakan Patch. Desikator (GL45MAX). Jangka sorong (XP too. Moisture balance (Shimadz. ,). Oven (Nuve FN . , pH meter (LAQUA HORIBA). Portable USB Magnetic Strirrer (Vortex Lab. Rotary vacuum evaporator (Heidolp. Satu set alat gelas (IWAKI). Timbangan analitik (Shimadz. Vortex (Heidolp. Bahan Biji Pala (Kepulauan Halmahera. Maluku Utar. Daun Selada (Surabaya. Jawa Timu. Etanol 96%. HPMC (PT. Bratac. Metil Paraben (PT. Bratac. Pereaksi FeCl3. Propilen Glikol (Dongying Hi-tech Chemical Industry Co. Lt. Propil Paraben (Industrial Estate. Ankloshwar. Gujara. PVP-K30 (PT. Bratac. Transcutol (Sigma-Aldric. Serbuk Magnesium (Merc. Aquadest. Populasi dan Sampel Populasi diujikan adalah mencit putih (Mus musculus L. jantan dengan bobot 20-30 gram. Uji Determinasi Tanaman Determinasi tanaman Biji Pala dan Daun Selada dilakukan di Unit Layanan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Surabaya. Determinasi ini bertujuan untuk menghindari kesalahan bahan dan mencegah campuran bahan dengan tanaman lain, ciri morfologis tanaman yang diteliti dengan kunci determinasi digunakan Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 untuk menentukan kebenaran tanaman yang Preparasi Simplisia Biji Pala Sampel penelitian adalah Biji pala kering yang diperoleh dari Kepulauan Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara. Biji pala kering sebanyak 1 kg dipisahkan dari cangkangnya, kemudian dirajang, dan terakhir dihaluskan sampai menghasilkan serbuk simplisia halus (Ahidin et al, 2. Preparasi Simplisia Daun Selada Sampel penelitian adalah Daun selada keriting yang diperoleh dari Kebun Sayur Surabaya. Jawa Timur. Daun selada keriting disortasi dan dipisahkan dari kotoran lalu dikeringkan menggunakan oven. Setelah itu, dihaluskan sampai menghasilkan simplisia halus (Nastiti Utami dan Prashinta Nita Damayanti, 2. Ekstraksi Simplisia Biji Pala Simplisia Biji Pala (Myristica fragrans hout. sebanyak 100 gram diesktraksi dengan metode maserasi menggunakan 75 bagian pelarut . tanol 96%) didalam bejana terlindung dari paparan sinar matahari selama lima hari. Kemudian disaring dan dibilas menggunakan 25 bagian pelarut . tanol 70%), kemudian ekstrak yang didapat dipekatkan menggunakan rotary evaporator (Ahidin dan Kartika Parwati, 2. Ekstraksi Simplisia Daun Selada Timbang 100 gram Simplisia daun selada (Lactuca sativ. diekstraksikan cara maserasi dengan 500 mL etanol 70% selama 2 jam pada suhu 70AC diatas waterbath dan diulangi selama 3 kali, kemudian ekstrak yang telah didapat disaring dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator (Nastiti Utami dan Prashinta Nita Damayanti, 2. Skrining Fitokimia Ekstrak Pada senyawa yang dilakukan yaitu uji flavonoid, saponin, dan tanin. Dimana senyawa menimbulkan efek sedatif (Ahidin dan Kartika Parwati, 2. Identifikasi Flavonoid Identifikasi pelarutan esktrak dengan etanol. Kemudian dipindahkan ke tabung reaksi, ditambahkan pita Mg dan larutan HCl pekat 1 mL. Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna menjadi kuning, jingga, dan hijau (Solikah. Identifikasi Saponin Identifikasi menggunakan 2 mL ekstrak yang dimasukkan ditambahkan aquadest panas, kocok selama 1 menit hingga terbentuk busa, diamkan selama 5 menit dan tambahkan 1 tetes HCl. Hasil positif ditunjukkan dengan pembentukan busa stabil (Solikah, 2. lalu ditambahkan 5 tetes FeCl3 1% dan kocok. Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan menjadi warna hijau kehitaman (Solikah. Formulasi Patch Transdermal Polimer HPMC dan PVP yang telah ditimbang dikembangkan dalam aquadest bebas CO2 dicampur hingga homogen. Kemudian ditimbang masing-masing bahan yang dibutuhkan dalam formula. Ekstrak dilarutkan dalam etanol, kemudian larutkan metil dan propil paraben dengan propilen glikol, setelah larut campurkan seluruh bahanbahan menggunakan magnetic stirrer sampai Campuran kemudian ditimbang dan dicetak diatas matrix patch sesuai ukuran . x2 c. dan dikeringkan didalam deksikator (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Konsentrasi formula patch transdermal ekstrak biji pala dan daun selada dapat dilihat pada tabel 1. Identifikasi Tanin Identifikasi melarutkan ekstrak 0,1 gram dan ditambah aquadest, kemudian kocok hingga homogen Tabel 1. Formula Patch Transdermal Nama bahan Fungsi Kode Formulasi Ekstrak etanol biji pala Bahan aktif 80 mg 80 mg 80 mg Ekstrak etanol daun Bahan aktif 10 mg 10 mg 10 mg PVP-K30 (Polivinil Polimer Pirolido. HPMC (Hidroxy Polimer Propyl Methyl Cellulos. Propilen glikol Plastisizer Transcutol Penetration enhancer Propil paraben Pengawet 0,02% 0,02% 0,02% Metil paraben Pengawet 0,18% 0,18% 0,18% Aquades Pelarut Ad 100 Ad 100 Ad 100 Evaluasi Fisik Sediaan Patch Transdermal tidak mengiritasi kulit (Yusuf. Mappiar dan Pengamatan Organoleptis Anneke, 2. Evaluasi organoleptis patch yang Keseragaman Bobot dihasilkan dilakukan menggunakan panca Evaluasi indra mencakup pengamatan bentuk, warna, dilakukan dengan mengambil tiga patch dan bau (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. secara acak pada tiap formula, kemudian Uji pH ditimbang, dan dihitung berat patch rata-rata Evaluasi pH patch menggunakan pH (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Nilai yang diinginkan adalah pada rentang 4,5 - 6,5 karena merupakan pH yang Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Formulasi dan Uji Efek Sedatif Patch Transdermal Tipe Matriks Ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans Hout. dan Ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. Terhadap Mencit Jantan (Mus musculus L. Uji Susut Pengeringan Evaluasi uji susut pengeringan dilakukan dengan menyimpan patch yang telah ditimbang kedalam deksikator yang berisi silika gel kurang lebih 24 jam. Kemudian patch ditimbang lagi untuk mengetahui hasil susut pengeringan (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Ketahanan Lipat Evaluasi ketahanan lipat dilakukan dengan patch dilipat pada posisi yang sama Tingkat pelipatan (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Ketebalan Patch Transdermal Evaluasi ketebalan patch dilakukan dengan mengukur satu persatu patch pada tiga titik yang berbeda pada setiap formula menggunakan jangka sorong (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Uji Efek Sedatif Mencit menggunakan depilatory cream pada bagian punggung sebesar 2x2 cm. Metode uji hipnotik-sedatif yang digunakan adalah dengan melihat aktivitas motorik yang menurun pada hewan uji dengan metode traction test yakni lengan atau tungkai depan hewan uji direnggangkan pada kawat Hasil positif hewan uji dalam pengaruh efek sedatif ditunjukkan dengan waktu jatuh dari alat traction test yang cepat dan membutuhkan waktu lama untuk mengkondisikan tubuhnya kembali tetap seimbang (Makanaung. Rorong dan Suryanto. Way ANOVA dan LSD (Ahidin dan Kartika Parwati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi dan skrining fitokimia Biji Pala (Myristica fragrans houu. yang dikombinasikan dengan ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. mengandung zat aktif flavonoid, tanin, dan saponin yang dapat menimbulkan efek sedatif (Makanaung. Rorong dan Suryanto, 2. Senyawa yang menimbulkan efek hipnotik sedatif pada Biji Pala adalah Myristicin dan Elymicin, sedangkan pada Daun Selada memiliki senyawa Lactucin dan Lactucopirin. Pada konsentrasi biji pala pada 500 mg/kg BB/hari setara dengan penobarbital 40 mg dapat meningkatkan efek hipnotik sedatif melalui rute oral (Sudradjat, 2. Dan pada daun selada dalam konsentrasi tinggi . mg/kg BB/har. dapat memberikan efek peningkatan kualitas tidur sebanyak 68,8% (Jo et al. , 2. Serbuk simplisia Biji Pala (Myristica fragrans houu. yang dikombinasikan dengan ekstrak Daun Selada (Lactuca sativ. yang diekstraksi menggunakan etanol masingmasing dengan konsentrasi 96% dan 70% sehingga diperoleh ekstrak etanol Biji Pala sebesar 28,03 gram dengan randemen 28,03% kemudian pada ekstrak etanol Daun Selada sebesar 56,8 gram dengan randemen sebesar 56,8%. Identifikasi sekunder yang memiliki efek sedatif adalah uji flavonoid, tanin, dan saponin dalam ekstrak biji pala dan daun selada (Ahidin dan Kartika Parwati, 2. Pada tabel 2 menunjukkan bahwa ekstrak biji pala dan daun selada positif mengandung senyawa tanin, saponin, dan Dimana adanya senyawa metabolit sekunder tersebut dapat menunjukkan adanya senyawa aktif yang memiliki sifat hipnotiksedatif myristicin pada biji pala dan lactucin pada daun selada. Analisis Data Metode analisis data yang digunakan untuk meneliti hasil karakteristik patch transdermal dan perlakuan hewan uji dilakukan menggunakan SPSS dengan uji One Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia Senyawa Pereaksi Hasil pengamatan Biji pala Daun Selada Flavonoid 0,1 Serbuk Mg 1 Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Syarat Terbentuk Tanin Saponin mL HCl Pekat 5 tetes FeCl3 Aquadest 1 tetes HCl Pekat Referensi : (Abdulkadir et al. , 2. Evaluasi fisik patch transdermal Formulasi patch transdermal esktrak etanol biji pala dan daun selada menggunakan polimer matriks berbahan HPMC dan PVP perbandingan F1 (HPMC 5% : PVP 7%). (HPMC 6% : PVP 6%). dan F3 (HPMC 7%: PVP 5%). Pada formulasi patch transdermal pemilihan polimer yang memiliki kemampuan untuk membentuk film yang baik merupakan hal yang penting. Setelah penguapan, lapisan tipis polimer akan tetap ada pada permukaan Dengan cara yang sama, ketika obat digabungkan dengan pelarut polimer, molekul senyawa aktif akan tersebar dalam matriks polimer dan membentuk matriks patch yang mengandung senyawa aktif. Akibatnya, penghantaran bahan aktif, sifat fisikokimia bergantung pada polimer dan sifatnya (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Penggunaan HPMC dan PVP yang dikombinasikan dilaporkan dapat membentuk hasil patch lebih optimal (Yusuf. Mappiar dan Anneke, 2. Dibandingkan dengan polimer HPMC pengembangan matriks yang lebih baik. Selain PVP meningkatkan penghantaran bahan aktif karena PVP dapat mencegah proses kristaliasai dari matriks patch transdermal (Kalsum. Erikania dan Nurmaulawati, 2. Hidrogel yang terbentuk dari kombinasi tersebut merupakan jaringan polimer yang memiliki gugus hidrofilik menyebabkan pembengkakan dan berguna sebagai substrat untuk menjebak senyawa aktif. Pengujian pengamatan organoleptis ditunjukkan pada tabel 3. Pengamatan organoleptis dilakukan untuk memeriksa sifat fisik patch yang dibuat berdasarkan pemeriksaan visual berupa warna, bau, dan jingga hingga merah Terbentuk Hijau kehitaman. Terjadi pembentukan bisa yang stabil bentuk patch. Penggunaan basis matrix HPMC dan PVP menghasilkan tampilan patch lebih halus karena tidak terdapat keriput atau aerasi pada patch. Tabel 2. Hasil Pengamatan Uji Organoleptis Organoleptis Formulas Bentuk dan Warna Bau Kotak. Coklat Berbau biji pala Kotak. Coklat Berbau biji pala Kotak. Coklat Berbau biji pala Hasil Patch Transdermal (Tabel . menunjukkan bahwa rasio konsentrasi HPMC dan PVP dalam patch secara langsung mempengaruhi sifat fisik sediaan, seperti ketebalan, bobot, daya serap, dan ketahanan lipat. Konsentrasi HPMC yang lebih tinggi cenderung menghasilkan patch yang lebih tebal, lebih kuat, dan stabil secara PVP meningkatkan daya serap kelembapan Berdasarkan hasil uji menggunakan One Way Anova untuk pengujian ketebalan patch dengan perbandingan konsentrasi basis HPMC dan PVP pada ketiga formula terdapat perbedaan bermakna (P<0,. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Kalsum et al . dan Wardani et al . yang menyatakan bahwa kombinasi HPMC dan PVP pada berbagai rasio secara signifikan mempengaruhi kestabilan fisik dan daya lepas sediaan patch transdermal. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Tabel 3. Hasil Evaluasi Fisik Patch Transdermal Hasil Nilai Rata-Rata Evaluasi Syarat Ketebalan patch 0,14 A 0,005 0,19 A 0,005 0,18 A 0,01 0,15 Ae 0,21 mm Susut pengeringan 0,77 A 0,009 0,64 A 0,09 0,72 A 0,02 <10 g Keseragaman bobot 0,12 A 0,004 0,29 A 0,001 0,14 A 0,001 SD < 6% Ketahanan lipat 300 A 0 300 A 0 300 A 0 >200 4,75 A 0,01 4,80 A 0,02 4,80 A 0,02 4,5 Ae 6,5 Hasil evaluasi susut pengeringan Uji Efek sedatif menunjukkan bahwa F1. F2, dan F3 memenuhi Uji efek sedatif patch transdermal biji syarat untuk susut pengeringan kurang dari pala dan daun selada dilakukan pada hewan 10% dan pada ketiga formula tidak terdapat uji berupa mencit putih jantan (Mus muculus perbedaan bermakna antar formula secara ) diamati dengan dua kali pengujian dengan signifikan (P>0,. setelah di analisis melihat aktivitas motorik setelah pemberian menggunakan One Way Anova. Jika sediaan patch transdermal ekstrak biji pala dan daun patch yang dihasilkan mengandung air diatas Pertama, dilihat reaksi balik badan 10% dapat menyebabkan kerapuhan dan pada hewan uji paa saat tungkai depan digantungkan pada traction test. Semakin lama Hasil uji keseragaman bobot dilakukan hewan uji membutuhkan waktu untuk untuk mengetahui apakah masing-masing mencapai kawat dengan tungkai bagian patch memiliki bobot yang sama. Uji bawahnya sebelum akhirnya jatuh, semakin baik atau dikatakan hewan uji telah mengevaluasi konsistensi pembuatan, yang terpengaruh efek sedatif (Makanaung. Rorong berarti memuat dosis obat yang seragam serta dan Suryanto, 2. mengetahui apakah bobot masing-masing Tabel 4. Hasil Uji Refleks Balik Badan Mencit patch sama. Dari hasil yang didapatkan ratadengan Metode Traction Test rata bobot pada F2 lebih tinggi daripada F1 Kelompok Refleks balik badan mencit dan F3. Dan menurut analisis statistik Uji . menggunakan One Way Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna secara Kontrol (-) ue ue ue ue ue signifikan (P>0,. Kontrol ( ) ue Hasil pengujian ketahanan lipat dalam ue ue ue ue Tabel 4 menunjukkan bahwa setiap formula ue ue ue memiliki ketahanan ketika digunakan. Tujuan ue ue dari uji ketahanan lipat adalah untuk mengetahui elastisitas dan fleksibelitas patch Hasil penelitian ini menunjukkan setelah dilakukan pelipatan pada sudut yang penurunan aktivitas pada mencit yang Penggunaan plastisizer berupa propilen dievaluasi melalui data kualitatif refleksi glikol merupakan bahan yang meningkatkan Pada kelompok kontrol negatif, mencit fleksibelitas patch dan mencegah patch agar tetap aktif dan mampu menunjukkan refleks tidak mudah sobek (Wardani dan Saryanti, balik badan hingga 20 detik Hasil pengujian pH menunjukkan bahwa pH patch transdermal memenuhi persyaratan karena tetap berada pada rentang Sebaliknya, kelompok yang diuji dengan 4,5 Ae 6,5 dimana rentang pH tersebut sesuai formula F2 dan F3 mengalami penurunan dengan pH kulit dan tidak menyebabkan aktivitas yang nyata, di mana refleks balik badan lebih lambat atau bahkan hilang setelah Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 pemberian patch, memperkuat indikasi adanya efek sedatif. Pengamatan kuantitatif lebih lanjut menunjukkan perbedaan bermakna antara waktu jatuh pada kelompok kontrol positif, kontrol negatif, serta formula uji dengan komposisi berbeda. Patch yang mengandung menunjukkan waktu jatuh tercepat, diikuti oleh F2 dan F3, menandakan kekuatan efek sedatif yang lebih tinggi. Formula F1, dengan rasio HPMC:PVP . , menunjukkan waktu jatuh yang lebih lama, mengindikasikan tidak adanya pelepasan zat aktif yang cukup untuk menimbulkan efek sedatif baik secara immediate maupun sustained release. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Ahidin et al . , yang membuktikan bahwa ekstrak etanol biji pala (Myristica fragrans Hout. mempunyai efek sedatif signifikan pada Studi menggunakan kelompok kontrol negatif (NaCMC), kontrol positif . , dan kelompok perlakuan ekstrak biji pala, serta menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok . <0,. Aktivitas mencit pada kontrol negatif tetap tinggi, sedangkan pada kelompok perlakuan ekstrak dan kontrol positif, aktivitas motorik dan refleks tubuh menurun disertai peningkatan potensi jatuh dalam uji perilaku. Potensi sedatif ekstrak biji pala dilaporkan mencapai 87,7%, sedikit lebih rendah dibandingkan diazepam sebesar 91,6%, dan perbedaan ini juga diukur menggunakan waktu jatuh dan parameter refleks tubuh serupa dengan metode pada penelitian ini. Temuan tersebut juga mengindikasikan bahwa komposisi dan laju pelepasan zat aktif dari patch, termasuk rasio HPMC:PVP, sangat berpengaruh terhadap efektivitas sedasi, karena formulasi yang tidak optimal . eperti F. gagal memberikan kadar zat aktif yang cukup pada target. Penting untuk melakukan evaluasi pelepasan zat aktif secara in vitro sekaligus korelasi dengan parameter farmakodinamik in vivo agar dapat mengaitkan profil pelepasan patch dengan efek sedatif secara menyeluruh. Validasi lanjut dengan peningkatan jumlah GABA neurotransmiter lain akan memperkuat bukti mekanisme kerja serta kemanjuran sediaan Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji skrining fitokimia pada ekstrak biji pala dan daun selada positif mengandung senyawa yang bersifat hipnotiksedatif yang ditandai dengan adanya senyawa metabolit sekunder tanin, saponin, dan Hasil evaluasi fisik transdermal esktrak etanol biji pala dan daun selada yang memenuhi spesifikasi sediaan dan memiliki formula terbaik adalah F2 dengan perbandingan (HPMC 6% : PVP 6%). Dan hasil pengujian efek hipnotik-sedatif menggunakan metode traction test terbukti memiliki efek hipnotik-sedatif pada F2 (HPMC 6% : PVP 6%) dan F3 (HPMC 7% dan PVP 5%) memiliki pengaruh efek sedatif yang efektif, sedangkan pada F1 (HPMC 5% dan PVP 7%) tidak sesuai untuk pelepasan zat aktif yang berkelanjutan . ustained releas. dan tidak sesuai untuk bahan aktif yang memerlukan pelepasan segera . mmediate releas. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Riset. Teknologi. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset Dan Teknologi (DIKTI. Kemendikbudriste. atas pendanaan yang diberikan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2023 dengan nomor kontrak 2383/E2/DT. 00/2023. DAFTAR PUSTAKA