HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya chusnulwashila20@gmail. Diva Fathimatuz Zahro Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya divafz2002@gmail. Riki Setiyadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya rikisetiyadi01@gmail. Abstract: Manusia dan filsafat memiliki hubungan yang erat dengan Manusia memiliki pikiran dan banyak kebutuhan untuk memenuhi keinginan yang mengandung pemikiran filosofis. melatih kita untuk menjadi manusia yang arif, bijaksana dan percaya diri, dalam kompleksitas kehidupan manusia, manusia dituntut untuk menjadi manusia yang bijaksana dan bertanggung jawab. Oleh karena itu kita tidak memungkiri bahwa ada hubungan erat antara manusia, filsafat dan pendidikan dalam kehidupan manusia untuk tetap mampu bertahan hidup di dunia. Berbagai pemikiran reflektif tentang hal-hal yang berkaitan dengan landasan ilmu dan hubungan suatu ilmu dengan seluruh aspek kehidupan manusia disebut sebagai filsafat ilmu. Sains sendiri memiliki bagian-bagian tertentu dimana dalam sains terdapat objek, pernyataan, proposisi, dan ciri-ciri dimana keempat aspek tersebut sebenarnya ditonjolkan oleh tiga landasan pemikiran filosofis tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Keywords: Filsafat. Manusia. Pendidikan. PENDAHULUAN Di dalam proses kehidupan manusia pasti terjadi beberapa fenomena alam yang terjadi. Manusia akan dihadapkan dengan beberapa masalah hidup yang kian terus menerus menghadangnya. Seperti diketahui semesta alam yang begitu luas dan mungkin tak terbatas tidaklah mudah untuk dipahami. Manusia pada dasarnya dilahirkan ke dunia sebagai bayi yang tidak dapat berbuat apaapa tanpa pertolongan orang lain. Apa yang dibawanya sejak lahir merupakan potensi dasar yang masih harus dikembangkan dalam lingkungan melalui bantuan pihak lain, berupa pendidikan. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 29 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang diberikan segala kemampuan jasmani, rohani dan kemampuan berpikir yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia juga makhluk yang sempurna dan yang pertama kali menggunakan bahasa. Sebagai makhluk yang mulia, manusia memiliki tiga keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lainnya, keistimewaan tersebut diantaranya: memiliki penguasaan bahasa, memiliki kemampuan berpikir, dan kesempurnaan bentuk ragawi. Dengan keistimewaan tersebutlah manusia mendapatkan pengetahuan berdasarkan kemampuannya sebagai makhluk yang berpikir, merasa, dan Persoalan manusia yang berkaitan dengan bidang pendidikan itu sendiri sebenarnya masih merupakan suatu hamparan yang sangat luas. Apalagi pada era transformasi glabalisasi pada dekade terakhir ini, persoalan pendidikan semakin kompleks dan rumit. Konsep pendidikan dalam arti luas sebagaimana dijelaskan Soegarda Poerwakawatja. Pengetahuan merupakan hasil dari proses keingintahuan manusia akan Setiap jenis pengetahuan juga berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung pada bagaimana cara mendapatkan dan apa yang dikaji dari pengetahuan tersebut. Manusia mengembangkan pengetahuan karena dua sebab yaitu: Pertama, manusia memiliki bahasa yang mampu untuk mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, manusia memiliki cara berpikir yang sesuai alur yang kemudian disebut sebagai penalaran. METODE PENELITIAN Peneliti menggunakan studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data menggunakan buku atau referensi sebagai penunjang penelitian, dengan melengkapi atau mencari data-data yang dibutuhkan dari literature, referensi, majalah, makalah dan yang lainnya, sehingga memperoleh data-data yang tertulis melalui telaah bacaan yang ada kaitannya dengan masalah penelitian. Peneliti disini dalam melakukan penelitian tentu tidak terlepas dari adanya pencarian data dengan menggunakan studi kepustakaan. Disini peneliti menggunakan studi pustaka dengan mencari berbagai data sebagai pendukung dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu dengan menggunakan refrensi buku dan internet searching. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Safrin Salam. Rekonstruksi Paradigma Filsafat Ilmu: Studi Kritis Terhadap Ilmu Hukum Sebagai Ilmu. EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan. Vol. No. 2, 2019, 886-887. 2 Dikutip dari buku Jalaludin, 2007: . 1976 3 Verdi Yasin, dkk. Filsafat Logika dan Ontologi Ilmu Komputer. JISAMAR: Journal of Information System. Applied. Management. Accounting and Research. Vol. No. 2, 2018, 68-69. Halaman 30 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang komprehensif yang berusaha memahami persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia. Dengan demikian filsafat dibutuhkan manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia, termasuk masalah kehidupan dalam bidang Jawaban hasil pemikiran filsafat bersifat sistematis, integral, menyeluruh dan mendasar. Filsafat dalam mencari jawaban dilakukan dengan cara ilmiah, objektif, memberikan pertanggungjawaban dengan berdasarkan pada akal budi manusia, demikian halnya untuk menjawab persoalan-persoalan manusia dalam bidang Pendidikan. Pada prinsipnya filsafat menempatkan sesuatu berdasarkan kemampuan daya nalar manusia. Kebenaran dalam konteks filsafat adalah kebenaran yang tergantung sepenuhnya pada kemampuan daya nalar manusia. Kemampuan berpikir atau bernalar merupakan satu bentuk kegiatan akal manusia melalui pengetahuan yang diterima melalui panca indera, diolah dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. Ada beberapa teori kebenaran menurut pandangan filsafat dalam bidang ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi Secara bahasa, ontologi berasal dari Bahasa Yunani yang asal katanya adalah AuOntosAy dan AuLogosAy. Ontos adalah Auyang adaAy sedangkan Logos adalah AuilmuAy. Sederhananya, ontologi merupakan ilmu yang berbicara tentang yang Secara istilah, ontologi adalah cabang dari ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup tentang suatu keberadaan yang meliputi keberadaan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Ontologi kerap kali diidentikkan dengan metafisika. Ontologi merupakan cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat apa yang terjadi. Ontologi menjadi pembahasan yang utama dalam filsafat, dimana membahas tentang realitas atau kenyataan. Pada dasarnya ontologi berbicara asas-asas rasional dari yang ada atau disebut suatu kajian mengenai teori tentang AuadaAy, karena membahas apa yang ingin diketahui dan seberapa jauh keingintahuan Menurut Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa pokok dari permasalahan yang menjadi objek kajian dari filsafat awalnya meliputi logika, etika, metafisika, dan politik yang kemudian banyak berkembang hingga menjadi cabang-cabang dari filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik lagi yang kemudian disebut sebagai filsafat ilmu. 4 Jalaluddin, 2007: 125 5 jalaludin, 2007: 126 Mahfud. Mengenal Ontologi. Epistemologi. Aksiologi dalam Pendidikan Islam. Cendekia: Jurnal Studi Keislaman. Vol. No. 1, 2018, 84. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 31 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi Kata ilmu itu sendiri berasal dari Bahasa Arab yaitu dari asal kata Alima yang artinya AupengetahuanAy. Dalam Bahasa Indonesia. Ilmu dikenal dengan istilah Science yang berarti AupengetahuanAy. Jadi, ilmu adalah pengetahuan. Kajian ontologi dikaitkan dengan objek ilmu dalam pandangan Islam, terbagi menjadi dua yaitu: Pertama, objek ilmu yang bersifat materi, maksudnya adalah objek ilmu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan. Contohnya ilmu sains, ilmu eksak, ilmu politik, sosial, budaya, psikologi, dan lain sebagainya. Kedua, objek ilmu yang bersifat non-materi. Berlawanan dengan objek materi, pada non-materi ini tidak bisa didengar, dilihat, dan dirasakan. Hasil akhir dari objek non-materi ini lebih sebagai kepuasan spiritual. Contohnya objek yang berbicara tentang ruh, sifat dan wujud Tuhan. Ontologis dasarnya berbicara tentang hakikat Auyang adaAy ilmu pengetahuan, hakikat objek pengetahuan, dan hakikat hubungan subjek-objek Bagaimana ilmu pengetahuan ditinjau secara ontologi maka pembahasannya adalah ontologi melakukan pemeriksaan, melakukan analisis terhadap ilmu pengetahuan berdasarkan apakah ilmu pengetahuan itu benarbenar ada atau tidak ada. Contohnya pada Manajemen Pendidikan Islam, secara ontologis maka pembahasannya itu terfokus pada Manajemen Pendidikan Islam itu benar-benar ada tidak, jangan hanya program studinya saja tapi sebenarnya ilmu yang diajarkan di dalamnya itu sebetulnya tidak berbeda dengan Manajemen Pendidikan pada umumnya. Jadi ontologis mencoba membuktikan dan menelaah bahwa sebuah ilmu pengetahuan itu benar-benar dapat dibuktikan keberadaannya. Awalnya, argumen tentang ontologi dicetuskan oleh Plato dengan teorinya yang disebut teori idea. Menurutnya, apa saja yang ada di alam semesta ini pasti memiliki idea. Yang dimaksud oleh Plato tentang idea adalah pengertian atau konsep universal dari tiap sesuatu. Sehingga idea ini yang merupakan hakikat sesuatu itu dan menjadi dasar dari wujud sesuatu itu. Idea-idea tersebut berada di balik yang nyata dan idea itulah yang menurutnya abadi. Oleh karenanya, ini yang menjelaskan kenapa benda-benda yang kita lihat atau yang ditangkap oleh pancaindra senantiasa berubah. Dengan demikian, ia bukanlah hakikat, tetapi hanyalah bayangan dari idea-ideanya. Dengan kata lain, benda yang dapat ditangkap oleh pancaindra manusia ini hanyalah khayalan dan ilusi belaka. Selanjutnya, argumen ontologi juga disampaikan oleh St. Augustine. Augustine menjelaskan bahwa manusia mengetahui dari pengalamannya bahwa dalam alam semesta ini ada kebenaran. Kendati demikian, terkadang akal manusia merasa bahwa apa yang ia ketahui memang benar, terkadang juga manusia merasa ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Menurut Augustine, akal manusia pada dasarnya mengetahui bahwa di atasnya 7 Suaedi. Pengantar Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2. , 29. 8 Novi Khomsatun. Pendidikan Islam Dalam Tinjauan Ontologi. Epistemologi dan Aksiologi. EDUCREATIVE: Jurnal Pendidikan Kreatif Anak. Vol. No. 2, 2019, 229-231. Halaman 32 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi masih ada suatu kebenaran yang tetap yang menjadi sumber bagi akal manusia dalam usahanya untuk mengetahui apa yang benar. Kebenaran yang tetap itulah kebenaran yang mutlak. Dimana kebenaran yang mutlak ini yang menurut Augustine disebut dengan Tuhan. Ontologi ketika melihat hakikat suatu kenyataan atau hakikat sesuatu yang ada melalui dua macam sudut pandang yaitu: Pertama, kuantitatif yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu berbentuk tunggal atau jamak. Kedua, kualitatif yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu mempunyai kualitas tertentu. Sederhananya ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan antara lain secara: . Metodis. menggunakan cara ilmiah. Sistematis. saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Koheren. unsurunsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan. Rasional. harus berdasar pada kaidah berpikir yang benar . Komprehensif. melihat objek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara multidimensional atau secara keseluruhan . Radikal. diuraikan sampai akar persoalannya, atau . Universal. muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja. Ontologi ini perlu bagi setiap manusia yang ingin mempelajari secara menyeluruh tentang alam semesta ini dan berguna bagi bidang studi ilmu empiris seperti fisika, sosiologi, antropologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, ilmu teknik dan lainny. Ontologi merupakan hakikat apa yang dikaji atau ilmunya itu sendiri. Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek Ontologi merupakan spesifikasi dari sebuah konseptual, dengan kata lain ontologi merupakan penjelasan dari suatu konsep dan keterhubungannya dari ilmu tersebut. Epistemologi Secara bahasa, epistemologi berasal dari Bahasa Yunani yang asal katanya Episteme artinya AupengetahuanAy dan Logos artinya AuilmuAy. Secara istilah, epistemologi adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang sumber pengetahuan, metode, struktur, dan benar tidaknya suatu pengetahuan tersebut. Epistemologi diartikan sebagai cabang filsafat yang berhubungan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasarnya, serta penegasan bahwa seseorang memiliki pengetahuan. Azyumardi Azra menambahkan bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Jadi, epistemologi adalah sebuah ilmu yang 9 I Gusti Bagus Rai Utama. Filsafat Ilmu dan Logika Manajemen dan Pariwisata (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 7-10. 10 Agus Arwani. Epistemologi Hukum Ekonomi Islam (Muamala. Religia. Vol. No. 1, 2017, Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 33 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan dan dipelajari secara substantif. Ketika ontologi berusaha mencari secara reflektif tentang yang ada, berbeda epistemologi berupaya membahas tentang terjadinya dan kebenaran ilmu. Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan, karena menjadi tempat berpijak dimana suatu pengetahuan yang baik ialah yang memiliki landasan yang kuat. Epistemologi merupakan nama lain dari logika material yang membahas dari pengetahuan. Epistemologi merupakan studi tentang pengetahuan yang mengkaji bagaimana mengetahui benda-benda. Selain itu, epistemologi merupakan suatu doktrin filsafat yang lebih menekankan pada peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Karena pada dasarnya pengetahuan yang diperoleh menggunakan indra hasil tangkapannya secara aktif diteruskan dan ditampilkan oleh akal. Pengetahuan ini yang berusaha menjawab dari pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenisnya. Epistemologi menganggap bahwa setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya dapat diketahui manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa epistemologi ini membahas tentang sumber, proses, syarat, batas fasilitas, dan hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan dari kebenarannya. Epistemologi membahas bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Menurut Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa berpikir merupakan aktivitas mental yang dapat menghasilkan suatu ilmu pengetahuan. Diperlukannya metode ilmiah yaitu berupa pengungkapan tata kerja pikiran sehingga memudahkan akal untuk menggerakkan aktivitas berpikir tersebut. Aksiologi Salah satu cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya disebut aksiologi. Aksiologi mencoba untuk mencapai hakikat dan manfaat yang ada dalam suatu pengetahuan. Diketahui bahwa salah satu manfaat dari ilmu pengetahuan yaitu untuk memberikan kemaslahatan dan kemudahan bagi kehidupan manusia. hal ini yang menjadikan aksiologis memilih peran sangat penting dalam suatu proses pengembangan ilmu pengetahuan karena ketika suatu cabang ilmu tidak memiliki nilai aksiologis akan lebih cenderung mendatangkan kemudharatan bagi kehidupan manusia 11 Novi Khomsatun. Pendidikan Islam Dalam Tinjauan, 229-231. Nur Afni Puji Rahayu. Tinjauan Ontologi. Epistemologi, dan Aksiologi Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi Melalui Model Kooperatif Tipe Round Table. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. No. 1, 2021, 133. 13 Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1. , 119 Halaman 34 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi bahkan tidak menutup kemungkinan juga ilmu yang bersangkutan dapat mengancam kehidupan sosial dan keseimbangan alam. Aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axion yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu. Sederhananya aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Aksiologis dasarnya berbicara tentang hubungan ilmu dengan nilai, apakah ilmu bebas nilai dan apakah ilmu terikat nilai. Karena berhubungan dengan nilai maka aksiologi berhubungan dengan baik dan buruk, berhubungan dengan layak atau pantas, tidak layak atau tidak pantas. Ketika para ilmuwan dulu ingin membentuk satu jenis ilmu pengetahuan maka sebenarnya dia harus atau telah melakukan uji aksiologis. Contohnya apa gunanya ilmu Manajemen Pendidikan Islam yaitu kajian-kajian aksiologi yang membahas itu. Jadi pada intinya kajian aksiologi itu membahas tentang layak atau tidaknya sebuah ilmu pengetahuan, pantas atau tidaknya ilmu pengetahuan itu dikembangkan. Kemudian aksiologi ini juga yang melakukan pengereman jika ada ilmu pengetahuan tertentu yang memang tingkat perkembangannya begitu cepat, sehingga pada akhirnya nanti akan mendehumanisasi atau membuang nilai-nilai yang dipegang kuat oleh umat manusia. Dalam teori Islam klasik, wilayah etis tentang baik dan buruk ada dua pilihan, yaitu the theistic-subjectivism dan rationalistic-objectivism. Dalam hal ini, the theistic- subjectivism menekankan pada pemahaman bahwa baik dan buruk hanya ditentukan oleh Tuhan. Sedangkan rationalistic-objectivism lebih menekankan pada peran akal dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu. Dalam pandangan Islam, ditinjau dari sisi manfaat . imensi aksiolog. atas penerapan dan orientasinya, maka ilmu dibedakan menjadi dua, yaitu: Pertama, ilmu yang diterapkan dan bermanfaat langsung untuk kehidupan manusia di Dalam kelompok ilmu ini adalah yang jelas-jelas langsung dirasakan dan dibutuhkan oleh manusia di dunia atau dibutuhkan dalam masa hidupnya, seperti ilmu sains yang mencakup politik, ekonomi, sosial, budaya, dan kejiwaan . Kedua, ilmu yang bermanfaat secara tidak langsung untuk kehidupan manusia di dunia, tetapi untuk kehidupan akhirat. Dimensi spiritual dalam kelompok ini dikategorikan dengan ilmu-ilmu yang bersifat non-materi dan hasil yang dirasakan tidak langsung untuk kehidupan manusia di dunia atau semasa hidupnya. Ilmu ini lebih banyak berkaitan dengan agama dan keimanan seseorang. Aksiologi ilmu meliputi nilai-nilai . yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana dijumpai dalam kehidupan manusia yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik-material. Lebih dari itu nilai-nilai juga Juhari. Aksiologi Ilmu Pengetahuan (Telaah Tentang Manfaat Ilmu Pengetahuan dalam Konteks Ilmu Dakwa. Al-Idarah: Juenal Manajemen dan Administrasi Islam. Vol. No. 1, 2019, 15 Novi Khomsatun. Pendidikan Islam Dalam Tinjauan, 234. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 35 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Aksiologi memberikan manfaat untuk mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia yang negatif sehingga ilmu pengetahuan tetap berjalan pada jalur kemanusiaan. Daya kerja dari aksiologi diantaranya yaitu: Pertama, menjaga dan memberi arah agar proses keilmuan dapat menemukan kebenaran yang hakiki, maka perilaku keilmuan perlu dilakukan dengan penuh kejujuran dan tidak berorientasi pada kepentingan langsung. Kedua, dalam pemilihan objek penelaahan dapat dilakukan secara etis yang tidak mengubah kodrat manusia, tidak merendahkan martabat manusia, tidak mencampuri masalah kehidupan dan netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik, arogansi kekuasaan dan kepentingan politik. Ketiga, pengembangan pengetahuan diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup yang memperhatikan kodrat dan martabat manusia serta keseimbangan, kelestarian alam lewat pemanfaatan ilmu dan temuantemuan universal. KESIMPULAN Ilmu pengetahuan telah menjadi bagian penting bagi kehidupan sosial Ilmu pengetahuan dapat menjadi tolok ukur untuk melihat maju atau mundurnya suatu bangsa. Suatu bangsa yang memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang sempurna maka semakin modern juga kehidupan Sebaliknya, jika ilmu pengetahuannya rendah maka kualitas masyarakat di suatu bangsanya juga rendah. Hal tersebut yang menjadi ilmu pengetahuan sangat penting dan berpengaruh di suatu bangsa dan menjadikan masyarakatnya bersungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia menjadikan para filosof berupaya membangun pola pikir yang logis dan sistematis terkait dengan kajian suatu ilmu pengetahuan. Kajian tersebut kemudian mendorong lahirnya filsafat ilmu yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas ilmu itu sendiri. Dengan demikian, lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan tanpa terkecuali dalam bidang ilmu sosial dengan berbagai cabang ilmu di dalamnya. Pada dasarnya pada ahli filsafat membagi studi filsafat ilmu pengetahuan menjadi 3 . aspek yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dalam pembahasannya ontologi fokus pada hakikat dari suatu ilmu pengetahuan. Ontologi mencoba membuktikan dan menelaah bahwa suatu ilmu pengetahuan tersebut benar Selanjutnya pembahasannya fokus pada pentingnya cara atau metodologi ilmu pengetahuan Jadi ketika ilmu pengetahuan disoroti melalui epistemologi maka pembahasannya terarah pada bagaimana sumber yang dipakai oleh para 16 Maria Sanprayogi & Moh. Toriqul Chaer. Aksiologi Filsafat Ilmu, 106-108. 17 Muhammad Adib. Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 82. Halaman 36 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT MANUSIA DAN PENDIDIKAN Chusnul Washilatiz Zakiyah. Diva Fathimatuz Zahro. Riki Setiyadi ilmuwan di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan metodenya seperti Kemudian aksiologi, dimana pembahasan aksiologi fokus pada manfaat atau nilai guna dari ilmu pengetahuan tersebut. Pada intinya kajian aksiologi itu membahas tentang layak atau tidaknya sebuah ilmu pengetahuan Dari paparan tersebut, sederhananya bahwa ontologi berbicara tentang eksistensinya, epistemologi berbicara tentang perkembangannya, dan aksiologi berbicara tentang nilainya. DAFTAR PUSTAKA