P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2026 Page:1-5 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MULTILITERASI TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS TEKS PERSUASI PADA SISWA KELAS Vi SMP NEGERI 15 LUBUKLINGGAU Ismiatun Khasanah,1. Satinem,2. Inda Puspitasari3 1,2,3 Universitas PGRI Silampari ismi81301@gmail. com1, y. Sartinem@yahoo. id2, indaps21098@gmail. ABSTRAK Penelitian ini berjudul Penerapan Model Multiliterasi Terhadap Kemampuan Menulis Teks Persuasi Pada Siswa Kelas Vi SMP 15 Lubuklinggau. Rumusan masalah penelitian ini. Apakah penerapan model Multiliterasi dapat meningkatkan secara signifikan terhadap kemampuan Menulis Teks Persuasi Pada Siswa Kelas Vi SMP 15 Lubuklinggau?. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui ketepatan model Mulltiliterasi secara signifikan dapat meningkatkan mendemostrasikan atau Menulis Teks Persuasi Pada Siswa Kelas Vi SMP 15 Lubuklinggau. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu. Populasinya adalah siswa kelas Vi SMP 15 Lubuklinggau Tahun Ajaran 2024/2025 dengan sampel kelas Vi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes berupa tes tindakan menulis teks persuasi. Data tes akhir yang terkumpul dianalisis menggunakan uji-t, dimana diperoleh = 2,508. Selanjutnya dikonsultasikan dengan nilai pada daftar distribusi t dengan derajat kebebasan dk = n-1 = 26 Ae 1 = 25, = 0,05 diperoleh = 1,708. Dengan . E . , hal ini berarti Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis teks persuasi siswa kelas Vi SMP N 15 Lubuklinggau setelah penerapan model pembelajaran multiliterasi secara signifikan Kata kunci: multiliterasi, menulis, dan persuasi. PENDAHULUAN Fathurrohman . mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan Bawamenewi . juga berpendapat pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber pada suatu lingkungan belajar yang bertujuan untuk membantu siswa belajar dengan baik. Pembelajaran pada konsepnya mengubah pola pikir peserta didik agar mampu meningkatkan kompetensi dan keterampilannya dalam belajar agar lebih berkualitas. Teks persuasi merupakan sebuah teks ajakan tentang pandangan penulis mengenai sebuah topik. Teks persuasi adalah bentuk karangan yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang baik pembaca atau pendengar agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Darmayanti . Teks persuasi bertujuan mengubah pemikiran orang lain agar dapat menerima dan melakukan sesuatu yang kita inginkan. Keraf (Tukan, 2007:. Teks persuasi pada tingkat SMP mengarahkan pada kemampuan menulis, agar siswa dapat mengungkapkan sebuah ide atau gagasan untuk mempengaruhi si pembaca agar melakukan suatu hal sesui keinginan si penulis. Upaya meningkatkan motivasi peserta didik dalam menulis teks persuasi dan menciptakan pembelajaran yang kreatif, efektif dan menyenangkan perlu adanya P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2026 Page:1-5 penanganan khusus seperti menggunakan model pembelajaran yang tepat. Penggunaan model yang tepat dapat memperbaiki dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam menulis teks persuasi. Setiap model pembelajaran akan memiliki tingkat keefektifan yang berbeda-beda. Semakin rumit model yang digunakan maka akan semakin mempersulit peserta didik dalam proses belajar dan membutuhkan waktu yang Maka dari itu, perlu adanya model pembelajaran yang paling efektif digunakan untuk menulis teks persuasi agar hasil pekerjaan menjadi maksimal. Ahyar . mengungkapkan model pembelajaran multiliterasi pada dasarnya adalah model pembelajaran yang mengoptimalkan keterampilan multiliterasi dalam mewujudkan situasi pembelajaan yang lebih baik lagi menuju ketercapaian keterampilan belajar pada abad ke-21. Selanjutnya Herlambang . mengatakan pedagogik multiliterasi merupakan sebuah konsep pendidikan abad-21 yang didasarkan pada kesadaran perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan, sehingga hal tersebut membangun sebuah paradikma baru tentang kehidupan multidimensional dalam multiperspektif. Model pembelajaran multiliterasi mengajarkan siswa untuk mempunyai kemampuan dalam berbagai bentuk literasi, antara lain adalah literasi visual, litersi informasi digital, literasi media, dan literasi kritis, artinya siswa tidak hanya belajar membaca dan menulis melalui teks tradisional tetapi juga memanfaatkan gambar, grafik, audio, video, dan interaktif lainya untuk memahami dan menyampaikan sebuah informasi. Berdasarkan penjelasan di atas maka akan dilakukan penelitian dengan judul AuPenerapan Model Pembelajaran Multiliterasi terhadap Kemampuan Menulis Teks Persuasi pada Siswa Kelas Vi SMP 15 LubuklinggauAy penulis akan melihat tingkat ketuntasan pembelajaran teks persuasi Melalui penerapan model pembelajaran METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Dengan menggunakan pendekatan eksperimen semu. Yang menggunakan desain pretest, treatment dan postests. Data penelitian ini adalah data ntes dan non-tes. Data tes meliputi kemampuan menulis teks Data non-tes meliputi, observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas dan uji AutAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian dilaksanakan pada tanggal 9 April 2025 dikelas Vi. 2 di SMP Negeri 15 Lubuklinggau. Pelaksanaannya dilakukan secara langsung oleh peneliti dan sesui dengan jadwal yang berlangsung disekolaah tersebut. Model yang digunakan yaitu model pembelajaran multiliterasi pada materi teks persuasi. Pada proses pelaksanaan penelitian dimulai dengan melaksanakan tes awal . untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis teks persuasi yang akan Setelah tes awal selesai diterapkan siswa diberi perlakuan berupa P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2026 Page:1-5 pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran multiliterasi untuk kelas Penelitian kemudian diakhiri dengan melaksanakan tes akhir . ost-tes. untuk mengetahui perbedaan hasil belajar pre-tes dan post-test siswa. Pemberian tes awal digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada materi teks persuasi. Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebelum mengikuti pembelajaran yang diberikan. Kemampuan awal tersebut menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Setelah kemampuan awal siswa diketahui, dilanjutkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran multiliterasi . Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Pada akhir penulis akan dilakukan tes akhir untuk mengetahui kemampuan akhir siswa. Kemampuan akhir siswa adalah kemampuan siswa dalam penguasaan materi pokok teks persuasi yang merupakan hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran. Dari hasil analisis diperoleh bahwa rata-rata pre-test adalah 55,65 dan untuk rata-rata nilai pos Aetest adalah 76,47. Ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan ratarata nilai dar pre-test ke post-tes sebesar 20,83. Sedangkan presentanse jumlah siswa yang tuntas pada pretes sebesar 19% dan pada post tes sebesar 77%. Untuk ketuntasan belajar inpun mengalami peningkatan sebesar . %) . Pembahasan Pada tes awal siswa yang mendapat nilai 85-100 dengan kategori sangat baik tidak ada, siswa yang mendapatkan nilai 75-84 dengan kategori baik 5 siswa, siswa yang mendapatkan nilai 60-74 dengan kategori cukup sebanyak 2 siswa, siswa yang mendapat nilai 45-59 dengan kategori kurang sebanyak 14 siswa. Kemudian siswa yang mendapat nilai 31-43 dengan kategori sangat kurang sebanyak 5 orang. Nilai terendah yang diperoleh siswa yakni 31 dan nilai tertinggi yang didapat adalah 78 dengan nilai rata-rata 55. Hal ini menunjukkan pada kegiatan pretes . ebelum pembelajara. siswa kurang mampu menulis teks persuasi. Pre-test dilakukan sebelum siswa mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran dengan model multiliterasi. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis teks persuasi, sehingga dapat menjadi tolak ukur perkembangan setelah perlakuan diberikan. Siswa diminta untuk menulis teks persuasi sesuai dengan topik yang telah ditentukan oleh guru. Penilaian dilakukan berdasarkan struktur dan kebahasaan teks persuasi. Hasil pre-test biasanya menunjukkan bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam: mengembangkan ide secara terstruktur, menyusun argumen yang logis, menggunakan bahasa yang efektif untuk membujuk pembaca. Beberapa faktor penyebab rendahnya hasil pre-test antara lain: kurangnya motivasi siswa dalam menulis, minimnya variasi strategi pembelajaran yang diterapkan sebelumnya terbatasnya media dan sumber belajar yang relevan dengan dunia siswa. Penelitian yang dilakukan di kelas Vi. 2 SMP Negeri Lubuklinggau, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang mampu memahami dan menulis teks persuasi dengan baik sebelum diterapkan model pembelajaran multiliterasi. Rata-rata nilai pre-test siswa cenderung P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2026 Page:1-5 rendah, menandakan bahwa kemampuan awal mereka dalam menulis teks persuasi masih perlu ditingkatkan. Kesulitan paling sering muncul pada aspek pengembangan ide dan penyusunan argumen. Setelah hasil kemampuan awal siswa diketahui dilanjutkan dengan kemampuan akhir siswa, pada tes akhir . os-tes. siswa yang mendapatkan nilai meningkat, yaitu pada nilai 85-100 dengan kategori sangat baik 6 siswa, siswa yang mendapatkan nilai 75-84 dengan kategori baik 9 siswa, siswa yang mendapatkan nilai 60-74 dengan kategori cukup sebanyak 7 siswa, siswa yang mendapat nilai 45-59 dengan kategori kurang sebanyak 4 siswa. Nilai terendah yang diperoleh siswa yakni 50 dan nilai tertinggi yang didapat adalah 96,87 dengan nilai rata-rata 76,47. Hal ini menunjukan pada kegiatan posttest . etelah pembelajara. siswa mampu menulis teks persuasi. Postest dilakukan setelah siswa mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran dengan model Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan akhir siswa dalam menulis teks persuasi dan membandingkannya dengan hasil pre-test. Siswa diminta kembali menulis teks persuasi sesuai topik yang ditentukan. Penilaian dilakukan berdasarkan aspek yang ditentukan yaitu berdasarkan struktur dan kebahasaan teks Terjadi peningkatan signifikan pada kemampuan menulis teks persuasi siswa setelah diterapkan model pembelajaran multiliterasi. Rata-rata nilai siswa meningkat dibandingkan pre-test, siswa yang sebelumnya kesulitan dalam mengembangkan ide dan menyusun argumen menunjukkan kemajuan nyata setelah pembelajaran multiliterasi. Model multiliterasi mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, serta aktif dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih percaya diri dan aktif dalam menulis, serta lebih kritis dalam menanggapi permasalahan yang diangkat dalam teks persuasi. Data post-test menunjukkan bahwa model pembelajaran multiliterasi efektif memudahkan dalam kemampuan menulis teks persuasi. Guru dapat menggunakan hasil ini untuk menyusun strategi lanjutan, memberikan pendampingan pada siswa yang masih memerlukan, dan memperluas penerapan model multiliterasi di kelas Perbandingan hasil post-test dan KKM menjadi dasar untuk mengukur efektivitas pembelajaran dan merancang perbaikan ke depan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis teks persuasi siswa kelas Vi. 2 SMP Negeri 15 Lubuklinggu setelah penerapan model pembelajaran multiliterasi secara signifikan dapat Hal ini dibutikan dengan rata-rata nilai tes akhir sebesar 76,47 dengan persentase jumlah siswa yang meningkatkan belajar mencapai 20,83% dan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji-t diperoleh hasil , hal ini bearti Ha diterima Ho ditolak. P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Jurnal Language education and literature Vol. 5 No. 2, 2026 Page:1-5 DAFTAR PUSTAKA Ahyar. Bayu. Dasep,dkk. Model-Model Pembelajaran. Jawa tengah : PRADINA PUSTAKA.