ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Penerapan Lean Six Sigma Untuk Mengurangi Waste Dan Defect Serta Meningkatkan Kualitas Proses Produksi Pada Industri Manufaktur Implementation Of Lean Six Sigma To Reduce Waste And Defects And Improve Production Process Quality In The Manufacturing Industry Nabila Sabafini ProgramStudi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa nabilasabafini@gmail. Abstract The increasingly tight competition in the manufacturing industry demands companies to continuously improve the quality of their production processes by reducing Waste and product Defects. Various studies have shown that waste and defects remain dominant problems in the production process in various manufacturing sectors, such as the automotive, food, and medical device industries. This literature review aims to analyze the application of the Lean Six Sigma method in reducing Waste and Defects and improving the quality of the production process in the manufacturing industry. The method used is a literature study of scientific journals that discuss the application of Lean Six Sigma with the DMAIC or DMAI approach, as well as the use of analytical tools such as Value Stream Mapping. Pareto Diagram. Fishbone Diagram. Failure Mode and Effect Analysis. Fault Tree Analysis, and Kaizen. The results of the study indicate that the systematic application of Lean Six Sigma is able to identify dominant Waste, including Defects, waiting, overproduction, inventory, transportation, and inappropriate processing. The implementation of this method has proven effective in reducing defect levels, increasing process sigma levels, improving production flow efficiency, and improving product quality through recommendations for improvements based on the root cause of the problem. Thus. Lean Six Sigma can be concluded as an effective and applicable approach in improving the quality of production processes in the manufacturing industry if supported by a commitment to sustainable improvement. Lean Six Sigma. DMAIC. Waste, quality improvement, and process efficiency Keywords: Lean Six Sigma. DMAIC. Waste, quality improvement, and process efficiency Abstrak Persaingan industri manufaktur yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas proses produksi secara berkelanjutan melalui pengurangan pemborosan (Wast. dan kecacatan produk (Defec. Berbagai studi menunjukkan bahwa Waste dan Defect masih menjadi permasalahan dominan pada proses produksi di beragam sektor manufaktur, seperti industri otomotif, makanan, dan alat kesehatan. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode Lean Six Sigma dalam mengurangi Waste dan Defect serta meningkatkan kualitas proses produksi pada industri manufaktur. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap jurnal-jurnal ilmiah yang membahas penerapan Lean Six Sigma dengan pendekatan DMAIC atau DMAI, serta pemanfaatan alat analisis seperti Value Stream Mapping. Diagram Pareto. Fishbone Diagram. Failure Mode and Effect Analysis. Fault Tree Analysis dan Kaizen. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma secara sistematis mampu mengidentifikasi Waste dominan, antara lain Defect. Waiting. Overproduction. Inventory. Transportasion, dan Inappropriate processing. Implementasi metode ini terbukti efektif dalam menurunkan tingkat Defect, meningkatkan level sigma proses, memperbaiki efisiensi aliran produksi, serta meningkatkan kualitas produk melalui rekomendasi perbaikan berbasis akar penyebab permasalahan. Dengan demikian Lean Six Sigma dapat disimpulkan sebagai pendekatan yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kualitas proses produksi pada industri manufaktur apabila didukung oleh komitmen perbaikan keberlanjutan. Kata kunci: Lean Six Sigma. DMAIC. Waste, peningkatan kualitas, dan efisiensi proses Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Pendahuluan Industri manufaktur di tuntut untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang stabil, biaya produksi yang efisien, serta ketepatan waktu dalam memenuhi permintaan pasar. Namun demikian, berbagai kajian literatur menunjukkan bahwa proses produksi pada industri manufaktur masih sering menghadapi permasalahan berupa pemborosan (Wast. dan kecacatan (Defec. yang berdampak pada meningkatnya pekerjaan ulang, waktu proses yang lebih panjang, dan serta kenaikan biaya operasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan kualitas dan efisiensi kerap kali muncul secara bersamaan dalam satu rangkaian pada proses produksi . , . Beberapa kajian literatur menunjukkan bahwa permasalahan Waste dan Defect ditemukan pada berbagai sektor manufaktur dengan karakteristik proses yang berbeda. Pada proses produksi Supramak Bed, teridentifikasi beberapa Critical To Quality (CTQ) yang dominan seperti cacat bolong, belang, las jelek, dan percikan dengan kapabilitas proses pada level sigma sebesar 3,45 pada proses pengelasan dan 3,53 pada proses pengecatan. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kualitas proses produksi masih perlu ditingkatkan . Sementara itu, pada industri percetakan kemasan Food Pail, presentase cacat rata-rata dilaporkan mencapai 9,56% dengan nilai Process Cycle Efficiency (PCE) sebesar 29,07% yang mengidentifikasikan bahwa proses produksi belum dapat dikategorikan sebagai Lean . Permasalahan serupa juga ditemukan pada industri manufaktur lainnya. Pada industri Shuttlecock, integrasi Lean Six Sigma dan TRIZ menunjukkan bahwa aktivitas Non-value Added masih mendominasi sebesar 73,7% dengan level sigma berada pada kisaran 3-4. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang perbaikan proses masih terbuka luas ,khususnya dalam mengurangi pemborosan Waiting. Defect. Inappropriate processing . Sementara itu, pada industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO), penerapan metode Lean dan Six Sigma terbukti mampu menurunkan Lead Time produksi dari 349 menit menjadi 327,59 menit melalui perbaikan tata letak, peningkatan kapasitas mesin, serta perbaikan pada aspek, operator, material, mesin, dan lingkungan kerja . Uraian tersebut diperkuat oleh kajian literatur lain pada sektor manufaktur yang menunjukkan bahwa pemborosan dan kecacatan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja proses produksi, sehingga diperlukan pendekatan perbaikan yang terstruktur dan berkelanjutan . , . Berbagai studi tersebut juga menunjukkan bahwa pendekatan Lean Six Sigma banyak diterapkan karena mampu mengombinasikan prinsip Lean dalam menghilangkan aktivitas tidak bernilai tambah dengan konsep Six Sigma yang berfokus pada penguranganvariasi dankecacatan berbasis data. Implementasi Lean Six Sigma umumnya dilakukan melalui tahapan Define. Measure. Analyze, dan Control (DMAIC), serta didukung oleh alat bantu analisis seperti Value Stream Mapping (VSM). Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan Fault Tree Analysis (FTA) . , . Meskipun demikian, beberapa kajian literatur menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma masih menghadapi keterbatasan. Sebagian studi cenderung berhenti pada tahap identifikasi Waste dan Defect dominan atau tahap perbaikan, tanpa penguatan sistem pengendalian yang memadai untuk menjaga keberlanjutan hasil perbaikan. Selain itu, penggunaan metode analisis akar penyebab secara terintegrasi, khususnya Fault Tree Analysist, masih relatif terbatas pada konteks industri tertentu, sehingga potensi muncul nya pemborosan dan kecacatan baru masih cukup besar . , . Berdasarkan uraian tersebut, kajian ini merupakan studi literatur yang berfokus pada penerapan Lean Six Sigma untuk mengurangi Waste dan Defect serta meningkatkan kualitas proses produksi pada industri manufaktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil-hasil penelitian sebelumnya terkait jenis Waste dan Defect dominan, indikator kinerja proses seperti Deffect per Millon (DPMO), level sigma, dan Process Cycle Efficiency (PCE), serta metode analisis dan perbaikan yang digunakan. Melalui kajian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran State of The Art dan celah penelitian . esearch ga. sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya . , . Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur. Objek penelitian berupa artikel ilmiah yang membahas penerapan metode Lean Six Sigma dalam meminimalkan Waste serta meningkatkan kualitas dan efisiensi proses produksi pada industri manufaktur. Pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri jurnal nasional daninternasional yang terindeks pada basis data ilmiah seperti SINTA. Scopus dan Google Scholar. Proses penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pencarian artikel menggunakan kata kunci Lean Six Sigma. DMAIC. Waste. Quality Improvement, dan Process Efficiency dengan rentang publikasi tahun 2022 hingga 2025, seleksi artikel berdasarkan kesesuaian topik, metode penelitian, dan relevansi terhadap tujuan kajian, serta pengelompokan literatur terpilih. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menelaah tahapan DMAIC, jenis Waste yang diidentifikasi, serta alat analisis yang digunakan, seperti Value Stream Mapping. Fishbone Diagram. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Hasil analisis selanjutnya disintesis untuk memperoleh gambaran umum mengenai pola penerapan Lean Six Sigma dan kontribusinya dalam peningkatan kinerja proses produksi. Hasil dan Pembahasan Hasil Penerapan Lean Six Sigma pada Industri Manufaktur Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma pada industri manufaktur umumnya difokuskan pada pengendalian variasi proses dan pengurangan Defect sebagai permasalahan utama kualitas. Pada industri semen. Lean Six Sigma digunakan untuk mengidentifikasi jenis cacat dominan dan mengendalikan proses produksi secara sistematis, sehingga kualitas produksi menjadi lebih konsisten dan terkendali . Pendekatan serupa juga diterapkan pada industri makanan, dimana optimalisasi tahapan DMAIC berkontribusi terhadap penurunan Waste serta peningkatanstabilitas proses produksi . Penerapan Six Sigma pada industri komponen elektronik menunjukkan bahwa pengukuran kapabilitas proses dan analisis berbasis data mampu menurunkan tingkat kecacatan produk secara signifikan. Hasil perbaikan ini tercermin dari peningkatan level sigma dan penurunan variasi proses setelah tahapan perbaikan dan pengendalian yang diterapkan . Sementara itu, pada industri kertas. Lean Six Sigma digunakan untuk mengoptimalkan aliran proses produksi dan meningkatkan efisiensi operasional melalui pengendalian variasi dan Temuan tersebut diperkuat oleh rujukan tambahan yang menegaskan bahwa keberhasilan Lean Six Sigma sangat dipengaruhi oleh ketepatan identifikasi permasalahan serta konsistensi pelaksanaan tahapan DMAIC dalam organisasi manufaktur . , . Sintesis Hasil Lintas Jurnal dan Perbandingan dengan Kajian Literatur Sebelumnya Hasil kajian menunjukkan pola permasalahan yang konsisten, yaitu dominasi Waste berupa Defect dan aktivitas tidak bernilai tambah yang berdampak langsung pada penurunan kualitas dan efisiensi proses. Pola ini sejalan dengan hasil penelitian pada sektor industri lain yang telah dibahas sebelumnya, seperti pada industri Leaf Spring. Supramak Bed. Shuttlecock, dan Food Pail, yang sama-sama menempatkan Defect dan Waiting sebagai pemborosan utama dalam proses produksi . , . Kesesuaian hasil antara berbagai penelitian menunjukkan bahwa Lean Six Sigma memiliki karakteristik yang adaptif dan dapat diterapkan pada berbagai sektor industri manufaktur, baik industri diskrit maupun industri proses. Pada industri proses seperti pengolahan Crude Palm Oil, penerapan Lean Six Sigma juga terbukti mampu menurunkan Lead Time dan meningkatkan efisiensi operasional melalui standarisasi proses kerja . perbaikan tata letak dan pengendalian proses produksi . , . Ringkasan Hasil Sintesis dalam Bentuk Tabel Ringkasan hasil penerapan Lean Six Sigma pada sepuluh jurnal yang dikaji disajikan pada Tabel 1 untuk menunjukkan perbandingan objek industri. Waste dan Defect dominan, indikator kinerja proses, serta alat analisis yang Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Tabel 1 Ringkasan Hasil Penerapan Lean Six Sigma pada Sepuluh Jurnal Industri Manufaktur Objek Industri Leaf Spring Kulit Kebab Supramak Bed Shuttlecock Food Pail Crude Palm Oil Industri Semen Industri Makanan Komponen Elektronik Industri Kertas Waste / Defect Dominan Defect. Waiting Defect Defect Waiting Defect. Waiting Waiting Defect Waiting Defect Proses Tidak Tepat Indikator Kinerja Level Sigma Persentase Cacat Level Sigma Aktivitas Non-Value Added Process Cycle Efficiency (PCE) Lead Time Konsistensi Kualitas Stabilitas Proces Level Sigma Efisiensi Proses Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa seluruh jurnal menggunakan tahapan DMAIC sebagai kerangka utama perbaikan proses. Jenis Waste yang paling sering muncul adalah Defect. Waiting, dan aktivitas Non- Value Added, dengan indikator kinerja yang umum digunakan meliputi level sigma. Defect per Million Opportunities (DPMO). Process Cycle Efficiency (PCE), dan Lead Time. Hal ini menunjukkan bahwa Lean Six Sigma diterapkan secara sistematis untuk meningkatkan kualitas sekaligus efisiensi proses produksi pada berbagai sektor industri manufaktur . Distribusi Jenis Waste Berdasarkan Sintesis Jurnal Untuk memperjelas distribusi jenis Waste yang ditemukan pada sepuluh jurnal, hasil sintesis disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Distribusi Jenis Waste Berdasarkan Sintesis Sepuluh Jurnal Jenis Waste Frekuensi Persentase (%) Defect Waiting Overproduksi Proses Tidak Perlu Proses Tidak Tepat Gerakan dan Inventori Berdasarkan Tabel 2. Waste dan Defect memiliki frekuensi tertinggi dibandingkan jenis Waste lainnya, diikuti oleh Waiting dan Overproduksi. Distribusi ini mengindikasikan bahwa permasalahan kualitas dan ketidakefisiensi aliran proses masih menjadi isu utama pada industri manufaktur. Data pada Tabel 2 selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan Diagram Pareto untuk menentukan prioritas perbaikan Indikator Kinerja Proses Sebelum dan Sesudah Penerapan Lean Six Sigma Perbandingan indikator kinerja proses sebelum dan sesudah penerapan Lean Six Sigma pada berbagai industri manufaktur disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Indikator Kinerja Proses Sebelum dan Sesudah Penerapan Lean Six Sigma Objek Industri Indikator kerja Kondisi awal Kondisi setelah perbaikan Supramak Bed Level Sigma 3,45-3,53. >4,0 Food Pail Persentase Defect 9,56 (%) Shuttlecock Aktivitas Non- Value Added (%) <40 Komponen Elektronik DPMO Tinggi Menurun signifikan Crude Palm Oil Lead Time . 327,59 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Berdasarkan Tabel 3, menunjukkan perbandinganindikator kinerja proses sebelum dan sesudah penerapan Lean Six Sigma berdasarkan hasil kuantitatif yang dilaporkan pada jurnal-jurnal yang dikaji. Secara umum, seluruh objek industri mengalami peningkatan kinerja proses, yang ditandai dengan penurunan Defect, penguranganaktivitas Non-Value Added, peningkatan level sigma, serta pemendekan Lead Time produksi. Temuan ini memperkuat efektivitas Lean Six Sigma dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi proses produksi. Alat Analisis Lean Six Sigma yang Digunakan pada Setiap Tahap DMAIC Pemetaan alat analisis yang digunakan pada setiap tahapan DMAIC berdasarkan hasil kajian literatur disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Alat Analisis Lean Six Sigma yang digunakan pada Setiap Tahap DMAIC Tahap DMAIC Alat Analisis Dominan Tujuan Penggunaan Define SIPOC. Voice of Customer Identifikasi kebutuhan dan batasan proses Measure Value Strean Mapping. DPMO Pengukuran kinerja dan pemborosan Analyze Fishbone Diagram. FMEA Analisis akar penyebab Waste dan Defect Improve Kaizen. Usulan Perbaikan Implementasi Solusi perbaikan Control Control chart. SOP Menjaga keberlanjutan perbaikan Tabel ini menyajikan pemetaan alat analisis Lean Six Sigma yang paling sering digunakan pada setiap tahan DMAIC berdasarkan sintesis dari 10 jurnal. Penggunaan alat yang tepat pada setiap tahap berperan penting dalam memastikan perbaikan proses dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dampak Implementasi Lean Six Sigma terhadap Kinerja Operasional Ringkasan dampak implementasi Lean Six Sigma terhadap kinerja operasional perusahaan manufaktur ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5 Dampak Implementasi Lean Six Sigma terhadap Kinerja Operasional Aspek Kinerja Dampak Utama Kualitas Produk Penurunan Tingkat cacat dan variasi proses Waktu Produksi Pemendekan Lead Time dan Cycle Time Biaya Produksi Pengurangan biaya akibat Defect dan Rework Efisiensi Proses Peningkatan Process Cycle Efficienty Daya Saing Peningkatan konsistensi mutu produk Tabel ini merangkum dampak implementasi Lean Six Sigma terhadap kinerja operasional perusahaan Dampak tersebut diperoleh dari konsistensi temuan lintas jurnal yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas, efisiensi, dan daya saing setelah penerapan Lean Six Sigma. Analisis Prioritas Waste Menggunakan Diagram Pareto Berdasarkan sintesis darta dari sepuluh jurnal yang dikaji, jenis Waste dominan dianalisis menggunakan diagram Pareto sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar 1 Diagram Pareto Gambar 1 menunjukkan bahwa Waste Defect dan Waste Waiting merupakan pemborosan yang paling dominan dan menyumbang proporsi terbesar terhadap permasalahan proses produksi. Kedua jenis Waste tersebut secara kumulatif mencakup lebih dari setengah total pemborosan yang ditemukan pada sepuluh jurnal yang dikaji. Dominasi Defect mengindikasikan bahwa permasalahan kualitas masih menjadi isu utama pada berbagai sektor industri , sedangkan tingginya Waiting mencerminkan adanya ketidak seimbangan aliran proses dan pemanfaatan sumber daya yang belun optimal. Temuan ini menegaskan bahwa fokus perbaikan Lean Six Sigma sebaiknya diarahkan pada pengendalian Defect dan pengurangan Waiting sebagai prioritas utama. Alur Umum Penerapan Lean Six Sigma pada Industri Manufaktur Sebagai dasar pemahaman metedologis. Gambar 2 menyajikan alur umum penerapan Lean Six Sigma pada industri manufaktur berdasarkan sintesis dari jurnal-jurnal yang dikaji. Gambar 2 Alur Umum Penerapan Lean Six Sigma pada Industri Manufaktur Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar 2 menggambarkan alur umum penerapan Lean Six Sigma yang disintesis dari 10 jurnal. Tahapan DMAIC menjadi kerangka utama dalam mengidentifikasi permasalahan, melakukan perbaikan, serta mengendalikan proses agar hasil perbaikan dapat dipertahankan. Perbandingan Kondisi Proses Produksi Sebelum dan Sesudah Perbaikan Untuk menunjukkan dampak implementasi Lean Six Sigma terhadap kinerja proses. Gambar 3 menampilkan perbandingan kondisi produksi sebelum dan sesudah dilakukan perbaikan. Gambar 3 Perbandingan Kondisi Proses Produksi Sebelum dan Sesudah Perbaikan Gambar ini menunJukkan adanya penurunan signifikan pada indikator pemborosan dan kecacatan setelah penerapan Lean Six Sigma. Pola perbaikan yang konsisten pada berbagai industri menunjukkan efektivitas metode ini dalam meningkatkan kinerja proses produksi. Pemetaan Hubungan Waste Dominan dan Akar Penyebab Guna mengidentifikasi faktor-faktor penyebab utama pemborosan. Gambar 4 menggambarkan pemetaan hubungan antara Waste dominan dan akar penyebab. Gambar 4 Pemetaan Hubungan Waste Dominan dan Akar Penyebab Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Gambar ini menggambarkan hubungan antara Waste dominan dan faktor penyebab utama berdasarkan hasil sintesis jurnal. Analisis ini menegaskan bahwa permasalahan kualitas dan pemborosan umumnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor yang saling terkait. Kerangka Integrasi Lean Six Sigma dengan Industri 4. Sebagai pengembangan konseptual. Gambar 5 menunjukkan kerangka integrasi Lean Six Sigma dengan teknologi Industri 4. 0 yang berpotensi mendukung keberlanjutan perbaikan proses. Gambar 5 Kerangka Integrasi Lean Six Sigma dengan Industri 4. Gambar ini menunjukkan potensi pengembangan Lean Six Sigma melalui integrasi dengan teknologi industri Pemanfaatan data Real-Time dan analitik lanjutan dapat mendukung pengendalian proses yang lebih adaptif dan meningkatkan keberlanjutan hasil perbaikan. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis berbagai penelitian, penerapan Lean Six Sigma pada industri manufaktur terbukti efektif dalam mengurangi Waste dan Defect serta meningkatkan kualitas proses produksi. Melalui tahapan DMAIC yang terstruktur, perusahaan mampu mengidentifikasi penyebab utama pemborosan dan cacat produk sehingga perbaikan yang dilakukan lebih tepat dan berdampak pada penurunan tingkat Defect, pemendekan waktu proses, serta peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya. Selain itu, hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan Lean Six Sigma juga berkontribusi terhadap peningkatan stabilitas dan kapabilitas proses produksi. Penggunaan alat bantu analisis seperti Value Stream Mapping. Diagram Pareto, dan Failure Mode and Effect Analysis membantu perusahaan dalam menelusuri akar permasalahan secara sistematis, sehingga perbaikan tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga preventif. Perbaikan kualitas proses tersebut pada akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi, peningkatan konsistensi mutu produk, serta penguatan daya saing perusahaan ditengah persaingan industri yang semakin Untuk kajian literatur selanjutnya, disarankan dilakukan penelaahan pada sektor manufaktur yang lebih beragam dengan periode implementasi yang lebih panjang untuk mengevaluasi keberlanjutan hasil perbaikan. Selain itu, integrasi Lean Six Sigma dengan teknologi industri 4. 0 dapat menjadi fokus kajian lanjutan dalam Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 mendukung peningkatan kualitas proses produksiyanglebih adaptif, efisien, danberbasis data. Ucapan Terima Kasih