FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KANKER LEHER RAHIM PADA WANITA USIA SUBUR Tilawaty Aprina. Khulul Azmi Abstrak Latar Belakang : Berdasarkan data 4 . tahun yaitu tahun 2005, 2006, 2007, 2008 bahwa didapatkan data di Puskesmas Alianyang bahwa kunjungan Pasien rawat jalan yang melakukan Pap Smear dari 94 WUS yang memeriksakan dirinya terdapat 42 WUS yang sudah di diagnosa lesi pra kanker. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker leher rahim pada WUS di Puskesmas Alianyang Kecamatan Pontianak Kota. Metode Penelitian : Penelitian ini bersifat Observasional Analitik dengan pendekatan case control study, besarnya sampel adalah 84 responden, tehnik sample yang dipilih adalah purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Dari analisis chi square diperoleh bahwa variabel yang ada hubungan dengan kejadian kanker leher rahim yaitu umur . =0. , paritas . =0. , perilaku seksual . =0. , dan variabel yang tdak memiliki hubungan yaitu usia melakukan hubungan seks . =0. sosial ekonomi . =0. dan merokok . =1,. Kesimpulan : Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kanker leher rahim pada WUS di Puskesmas Alianyang Kecamatan Pontianak Kota adalah umur, paritas, perilaku seksual. Kata Kunci : Kanker leher rahim. Umur. Paritas. Perilaku Seksual. Abstract Background : Based on the 4 years data in 2005, 2006, 2007, 2008 from Alianyang Community Health Center, it was found that the patients who checked the Pap Smear of 94 WUS, there were 42 WUS had already diagnosed of pre cancer lesions. Objective : This study aimed to determine the factors associated with the incidence of cervical cancer in Alianyang Community Health Center on WUS in the District of Pontianak. Methods : This study used observational analytic approach of case control study, sample size was 84 respondents, and selected sample technique was purposive sampling. Data analysis used Chi-Square test. Results : From the analysis chi square obtained that variable in connection with the incidence of cervical cancer were at the age . = 0. , parity . = 0. , sexual behavior . = 0. , and a variable that had not relation is the age of intercourse sex . = 0:. = 0. and smoking . = 1. Conclusions : Factors associated with the incidence of cervical cancer in WUS in Alianyang Community Health Center in the District of Pontianak are age, parity, sexual behavior. Keywords : Cervical cancer. Age. Parity. Sexual Behavior. kesempatan untuk dapat sembuh dari kanker PENDAHULUAN Menurut Siregar . Kanker leher tersebut lebih besar (Harker, 2. rahim merupakan kanker terbanyak diderita Pemberantasan penyakit menular dan oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tidak menular merupakan salah satu program tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin, melihat pola hidup masyarakat yang preventif, kuratif dan rehabilitatif. berubah ubah sebagai dampak dari transsisi Kanker Leher Rahim merupakan jenis penyakit kanker paling banyak kedua di dunia pemberantasan penyakit menular dan penyakit yang diderita wanita di atas usia 15 tahun, tidak menular. Salah satu upaya pemberantasan 000 wanita di seluruh dunia penyakit tidak menular adalah pemeriksaan Pap didiagnosa menderita kanker leher rahim dan smearAos, pada wanita usia subur yaitu suatu rata-rata 270. 000 meninggal tiap tahunnya cara untuk mendeteksi secara dini apakah (Hacker, 2. seorang wanita tersebut sudah menunjukan Menurut Rasjidi . Kanker Leher Rahim gejala atau tanda-tanda peradangan yang pada akhirnya difonis menderita penyakit kanker terbanyak kedua pada wanita lebih dari 250. leher rahim (W. Rayburn, 2. kematian pada tahun 2005, kurang lebih 80% rahim di Indonesia cukup tinggi, pasalnya sebagian besar penderita kanker leher rahim di adekuat, diperkirakan kematian akibat kanker Indonesia baru datang berobat setelah stadium leher rahim akan meningkat 25% dalam 10 lanjut, jika sudah stadium lanjut ini, maka akan tahun mendatang, dan faktor resiko yang bisa sulit mencapai hasil pengobatan yang optimal terpapar kanker leher rahim ini antara lain, usia (Tapan, 2. Angka kematian penderita kanker leher muda pada saat melakukan hubungan seks. Tingkat pengetahuan seseorang menjadi perilaku seksual, paritas tinggi, sosial ekonomi sesuatu yang sangat penting dalam hal ini rendah, merokok, usia >35 tahun (Rasjidi, kerena semakin seseorang perempuan itu tahu dampak negative yang disebabkan oleh kanker Deteksi dini terhadap kanker serviks maka ia akan semakin mencari jalan keluar dari sangat penting dilakukan guna mengetahui permasalahan yang dihadapinya (Manuaba, apakah perempuan tersebut menderita kanker serviks atau tidak, apabila terdeteksi menderita Di Indonesia diperkirakan setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker leher rahim dan 20 orang wanita meninggal dikarena penyakit tersebut, sedangkan untuk Wilayah Kalimantan Barat sendiri belum tercatat secara jelas angka diambil dengan teknik purpossive sampling kejadian kanker leher rahim ini, menurut rekam dengan kriteria sebagai berikut terdiagnosa lesi medic RSUD. DR. Soedarso Pontianak bahwa pra kanker servik pada stadium tertentu, telah angka kejadian kanker leher rahim tiap menjalani pengobatan, pada sampel dengan tahunnya mengalami peningkatan dikarenakan status kawin, status rekam medis lengkap. rata-rata yang divonis menderita kanker leher Tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini rahim ini tidak pernah melakukan pemeriksaan adalah data primer dan sekunder. pap smear sebelumnya, dan mereka datang sudah dengan keadaan stadium lanjut bahkan HASIL langsung meninggal dunia karena sudah terjadi Analisis Univariat komplikasi pada organ lain, dan berdasarkan Tabel 1 Distribusi Frekuensi Umur Responden kunjungan pap smear di Puskesmas Alianyang bahwa tiap tahunya dinominasi oleh kelompok Kelompok Umur < 35 Tahun Ou 35 Tahun Total umur 30-45 Tahun sebanyak 80-100%, hal ini menandakan bahwa kelompok umur tersebut merupakan kelompok yang beresiko terkena Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa kanker leher rahim. sebagian dari responden dengan umur Ou35 Berdasarkan masalah di atas penulis tahun berjumlah 50 WUS . ,5%). tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuFaktor-faktor Tabel 2 Distribusi Frekuensi Paritas Responden kejadian kanker leher rahim pada Wanita Usia Subur (WUS) di Puskesmas AlianyangAy. Paritas < 3 Orang Ou 3 Orang Total METODE Penelitian ini menggunakan desain studi Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa Analitik dengan pendekatan sebagian dari responden dengan paritas kurang Kasus Kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dari 3 . ,4%). Wanita Usia Subur yang melakukan Pap Smear di Puskesmas Alianyang Tabel 3 Distribusi Frekuensi Perilaku Seksual Responden Pontianak yang hasil Pap Smear nya sudah terjadi lesi pra kanker, yang berjumlah 42 WUS. Berdasarkan rumus di atas ternyata Perilaku Seksual Menyimpang (Perna. Normal (Tidak perna. Total perhitungan sampel terlalu kecil sehingga seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu sebesar 42 responden dengan perbandingan 1:1 sehingga jumlah keseluruhan sampel 84 responden. Sampel Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa Dari tabel 5, dapat kita lihat bahwa sebagian dari responden dengan perilaku responden yang memiliki Paritas Ou3 orang seksual normal sebesar . ,3%). erisiko tingg. dan di diagnose positif kanker leher rahim sebesar 32 WUS . %) lebih besar dibandingkan dengan responden yang memiliki Analisis Bivariat Tabel 4 Distribusi Responden Menurut Umur Dengan Kejadian Kanker Leher Rahim Di Puskesmas Alianyang Kanker Umur Leher Rahim Sakit Tdk Sakit Risiko Tinggi Risiko Rendah Total Paritas berisiko rendah (<3 oran. dan di diagnose Positif kanker leher rahim sebesar 6 WUS . ,7%). Berdasarkan hasil perhitungan statistik Total Nilai didapatkan hasil yang signifikan dimana nilai p 0,005 atau Ho ditolak yang berarti ada hubungan = 0,005 . < ), dengan demikian Ha diterima yang bermakna antara Paritas dengan kejadian kanker leher rahim. Dari tabel 4, dapat kita lihat bahwa Tabel 6 Distribusi Responden Menurut Perilaku Seksual Dengan Kejadian Kanker Leher Rahim Di Puskesmas Alianyang responden yang memiliki Umur berisiko tinggi (Ou35 Tahu. dan di diagnose positif kanker leher rahim sebesar 36 WUS . %) lebih besar dibandingkan dengan responden yang memiliki Perilaku Umur berisiko rendah (<35 Tahu. dan di diagnose Positif kanker leher rahim sebesar 6 Menyimpang Normal Total WUS . ,6 %). Berdasarkan hasil perhitungan statistik didapatkan hasil yang signifikan dimana nilai p Tabel 5 Distribusi Responden Menurut Paritas Dengan Kejadian Kanker Leher Rahim Di Puskesmas Alianyang 0,002 mempunyai perilaku seksual normal dan di diagnose Positif kanker leher rahim sebesar 25 WUS . ,7%). Berdasarkan hasil perhitungan statistik Nilai 13,6 0,005 leher rahim sebesar 17 WUS . %) lebih kecil kanker leher rahim. Nilai menyimpang dan di diagnose positif kanker yang bermakna antara Umur dengan kejadian responden yang mempunyai perilaku seksual atau Ho ditolak yang berarti ada hubungan Total Total Dari tabel 6, dapat kita lihat bahwa = 0,005 . < ), dengan demikian Ha diterima Kanker Leher Rahim Paritas Tdk Sakit Sakit Risiko Tinggi Risiko Rendah Total Kanker Leher Rahim Sakit Tdk Sakit didapatkan hasil yang signifikan dimana nilai p = 0,002 . < ), dengan demikian Ha diterima atau Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang bermakna antara perilaku seksual dengan tahun dipercaya lebih rentan terhadap stimulus kejadian kanker leher rahim. karsinogenik karena terdapat proses metaplasia skuamosa yang aktif, yang terjadi didalam zona transformasi selama priode perubahan sel. PEMBAHASAN Hubungan umur dengan kejadian kanker leher rahim pada WUS Berdasarkan perubahan yang tidak khas ini menginisiasi intraepitelial serviks (CIN), yang merupakan fase infasif dari kanker leher rahim . menunjukan bahwa ada hubungan antara umur dengan kejadian kanker leher rahim . = Pada wanita yang memiliki usia >35 0,. , hal ini sejalan dengan pendapat Rasjidi Tahun bukan hanya saja beresiko terpapar . , yang mengemukakan bahwa umur Ou 35 kanker akan tetapi juga beresiko apabila tahun lebih beresiko terkena kanker leher rahim dibandingkan umur <35 tahun. melahirkan secara normal . isiko relatif /RR = Hasil penelitian ini sejalan dengan . , hal ini sejalan dengan beberapa penelitian penelitian yang dilakukan oleh Joeharno, di dan teori yang dikemukakan oleh para ahli Rumah Sakit DR. Wahiddin Sudirohusodo, kebidanan (Rayburn, 1. Hasil Makasar 20007, mengenai Analisis Faktor penelitian juga sejalan dengan Rahim. Teori Manuaba . mengungkapkan bahwa Faktor usia sangat menentukan daya tahan hubungan antara umur dengan kejadian kanker tubuh seseorang untuk itu diperlukan stamina leher rahim. yang tinggi agar terhindar dari segala macam Resiko Kanker Leher Berdasarkan penelitian di atas secara penyakit, usia diatas 35 tahun merupakan teori, umur akan ikut mempengaruhi kejadian kelompok usia yang rentan terpapar segala macam kanker terutama kanker payudara dan kanker leher rahim. dikarenakan pada usia Ou35 tahun sistem kekebalan tubuh seorang wanita tidak sama Berdasarkan hasil penelitian bahwa data seperti mereka pada usia 20-34 tahun dimana kunjungan poli kebidanan dan Klinik Annisa pada usia tersebut organ resproduksi wanita pagi dan sore hari pada tahun 2007 berjumlah sudah mulai terjadi penurunan efektifitasnya 4497 WUS dimana proporsi kunjungan dengan karena kadar pH pada alat genetalia wanita kelompok usia Ou35 tahun sebesar 59,97% dan sudah berkurang kepekatannya, dengan pH ini proporsi yang melakukan Pap Smear hanya sangat berguna untuk membunuh kuman atau sebesar 1,1%, dari hasil wawancara, peneliti bakteri yang masuk ke dalam genetalia seorang menyimpulkan bahwa rata-rata masyarakat Hacker . mengungkapkan bahwa mengenai metode Pap Smear Test tersebut dan serviks wanita pada usia remaja dan usia >35 manfaatnya apa, hal ini bisa disebabkan karena beberapa hal seperti kurangnya sosialisasi mengenai program Pap Smear Test, dan juga pembersih wanita yang disesuaikan pH vagina. masyarakat terutama wanita usia subur untuk Hubungan paritas dengan kejadian kanker memelihara alat genetalia mereka. Dimana leher rahim pada WUS berdasarkan penelitian Merry . bahwa Berdasarkan Pap Smear merupakan metode yang paling menunjukan bahwa ada hubungan antara cepat untuk mendeteksi secara dini kanker leher paritas dengan kejadian kanker leher rahim . =0. Hasil analisis penelitian ini sejalan Namun pada kenyataannya 80% wanita usia subur yang memiliki umur >35 tahun Joeharno, di Kabupaten hanya mementingkan perawatan mukanya saja Wahiddin dari pada alat genetalia, hal ini berdasarkan mengenai Analisis Faktor Resiko Kanker Leher pengamatan dan wawancara yang dilakukan Rahim. oleh peneliti, dimana membuktikan bahwa terdapat hubungan antara pada saat ini sudah banyak klinik-klinik yang bisa dikunjungi Sudirohusodo. Dimana Makasar paritas dengan kejadian kanker leher rahim. Hubungan antara paritas dengan kejadian konsultasi alat reproduksi, keengganan wanita Kanker Leher Rahim ini juga mendukung teori untuk memeriksakan diri mereka juga bisa yang dikemukakan oleh Menurut Chandranita . , bahwa Paritas/ jumlah anak yang lebih Rumah Sakit DR. tidak adanya dukungan pasangan seks . yang dari 3 juga merupakan faktor resiko wanita bisa menderita kanker serviks, karena semakin pemeriksaan sejenis Pap Smear. Sebagai seringnya wanita melewati proses persalinan manusia biasa kita tidak bisa maka semakin besar kemungkinan mereka bisa menghindari muda atau tuanya umur seseorang terkena infeksi yang berasal dari luar karena tetapi kita bisa melakukan beberapa hal yang pada saat proses persalinan berlangsung bisa saja tehnik septik dan aseptik tidak dijaga. diperlukan pada usia tersebut, misalnya dengan Berdasarkan penelitian Glasier . selalu menjaga stamina atau daya tahan tubuh bahwa bagi wanita yang sudah melawati proses dengan selalu berolah raga, diharapkan dengan persalinan >3 kali beresiko terpapar kanker berolah raga proses metabolisme di dalam rahim dan leher rahim . esiko relatif /RR = . selalu seimbang dan juga dengan dan juga beresiko terjadi atonia uteri yang memakan makanan yang bernilai gizi tinggi menyebabkan perdarahan pada saat proses serta menghindari perbuatan-perbuatan yang persalinan . esiko relatif / RR = . disebabkan karena otot-otot rahim terjadi hiperplasia. menjaga kebersihan diri terutama kebersihan Berdasarkan alat reproduksi dengan menggunakan alat didapatkan bahwa jumlah kunjungan Puskesmas Alianyang tahun 2007 berjumlah 803 jiwa dimana proporsi wanita dengan paritas Hubungan Perilaku seksual dengan kejadian >3 kali sebesar 57,42% dan persalinan yang kanker leher rahim pada WUS ditolong oleh tenaga kesehatan sebesar 63,01%. Berdasarkan sedangkan 36,99% masih ditolong oleh dukun, menunjukan bahwa ada hubungan antara kita sebagai tenaga kesehatan harus selalu perilaku seksual dengan kejadian kanker leher waspada bagi wanita yang proses persalinannya rahim . =0. Hasil analisa tersebut sesuai di tolong oleh dukun tentunya mereka tidak dengan pendapat Manuaba . kanker terlalu mengerti mengenai proses pencegahan serviks skuamosa berhubungan kuat dengan infeksi yang sangat penting dilakukan oleh prilaku seksual, seperti berganti-ganti mitra setiap penolong persalinan dimana tindakan seks dan usia saat melakukan hubungan seks yang pertama. komponen-komponen Resiko meningkat lebih dari sepuluh kali selama persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan lipat bila mitra seks enam atau lebih, atau bila ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan hubungan seks pertama di bawah umur 15 untuk melindungi ibu dari infeksi yang masuk bisa disebabkan karena bakteri, virus dan jamur berhubungan dengan pria beresiko tinggi yang juga untuk menurunkan mengidap kondiloma akuminata. Pria yang penyakit-penyakit berbahaya terutama penyakit beresiko tinggi adalah pria yang melakukan sejenis kanker leher rahim ini. hubungan dengan banyak mitra seks. Resiko Manuaba . mengemukakan bahwa Terdapatnya hubungan yang bermakna peningkatan infeksi makin besar pada keadaan antara perilaku seksual wanita usia subur kehamilan dan persalinan melebihi tiga orang dengan kejadian kanker leher rahim ini dan jarak kehamilan yang terlalu dekat, apalagi menandakan bahwa Masalah reproduksi yang pada kenyataannya persalinan yang ditolong diakibatkan oleh hubungan seksual lebih serius selain tenaga kesehatan masih banyak hal ini pada wanita dibanding pada pria. Hal ini semakin memperberat keadaan dimana kita sejalan dengan beberapa penelitian yang sudah ketahui bersama persalinan yang ditolong oleh dilakukan diantaranya oleh Kampono . , dukun tidak bisa dijamin kesterilisasiannya. Untuk itu bagi wanita yang sudah pernah Universitas Fakultas Indonesia. Kedokteran melewati proses persalinan yang lebih dari 3 disebabkan oleh virus HPV . uman papilloma kali diharapkan untuk lebih proaktif dalam Dimana virus HPV ini dapat ditularkan memelihara organ reproduksinya dengan cara melalui kontak dengan daerah genital, baik memeriksakan diri minimal satu tahun sekali dengan melakukan Pap Smear Tes atau metode sentuhan oral, atau tangan, atau penularan dari deteksi dini yang lainnya agar terhindar dari ibu ke bayi yang dilahirkan. Karena umumnya segala penyakit yang bisa menyerang organ kebanyakan wanita tidak menunjukan gejala. Maka banyak diantara mereka yang tidak menyadari, kalau mereka telah menderita SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pengumpulan data dan Hasil penelitian ini juga mendukung pembahasan dalam wanita yang memiliki jumlah pasangan seksual disimpulkan sebagai berikut : = 3,. ada hubungan yang bermakna antara Umur dibandingkan wanita yang memiliki satu dengan Kejadian Kanker Leher Rahim di pasangan seksual. Puskesmas Beberapa Alianyang . isiko penelitian yang dilakukan Merry . bahwa Kecamatan Pontianak Kota . = 0,. perempuan yang mempunyai banyak pasangan ada hubungan yang bermakna antara seksual, akan meningkatkan risiko tertularnya Paritas dengan Kejadian Kanker Leher Rahim di Puskesmas Alianyang Kecamatan (HPV) berhubungan erat dengan kanker leher rahim. Pontianak Kota, . = 0,. Dari penelitian tersebut juga ditemukan, meski ada Hubungan yang bermakna antara pada perempuan yang mempunyai lebih dari 5 Perilaku Seksual dengan Kejadian Kanker pasangan seksual tidak terindikasi adanya HPV. Leher Rahim di Puskesmas Alianyang Kecamatan Pontianak Kota, . = 0,. perkembangan lesi pra kanker pada leher Saran kepada Pihak terkait seperti Dinas Penelitian tersebut dilakukan selama 6 Kesehatan Provinsi. Kota, maupun Kabupaten bulan setelah 93 perempuan dengan kelainan dan instansi lainnya untuk lebih memperhatikan pada leher rahim didiagnosis. Hampir setengah program Penyakit tidak menular seperti kanker dari responden yang mengalami kelainan leher rahim tersebut berlanjut menjadi kanker. Dharma Wanita yang ada guna mendukung ibu-ibu Diharapkan setelah diketahui salah satu program pencegahan terhadap kanker leher penyebab timbulnya kanker leher rahim maka rahim, diantaranya mengadakan kegiatan bhakti kita sebagai tenaga kesehatan untuk lebih sosial berupa pemeriksaan pap smear atau IVA gratis bagi seluruh masyarakat yang kurang penyuluhan kepada para wanita usia subur agar mampu, serta menindak lanjuti bagi ibu yang sudah terdiagnosa kanker leher rahim dan segera merujuknya ke pusat kesehatan yang memiliki fasilitas pengobatan kanker leher . berperilaku seksual yang normal agar terhindar dari segala penyakit yang menyerang organ (GRATIS). reproduksi wanita ataupun pria. Manuaba. Chandranita. A, 2008. Gawat Darurat Obtetri-Ginekologi Obstetri-Ginekologi Sosial Profesi Bidan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. DAFTAR RUJUKAN Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta. Rasjidi. Arna Glasier dan Alisa Gebbie, 2005. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Rayburn. William. F, 2001. Obstetri dan Ginekologi. Widya Medika. Jakarta. Erik Tapan, 2005. Kanker. Antioksidan dan Terapi Komplementer. PT Elex Media Komputindo. Jakarta. Hacker, 2001. Esensial Obstetri Ginekologi. Hipokrates. Jakarta. Imam. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakrta. Schottenfeld and Fraumeni, 2005. Cencer Epidemiologi and Prevention. Saunders Company. New York. Varney. Helen, 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Joeharno. Moehammad, 2008. Analisis Faktor Resiko Kanker Leher Rahim,