CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Penanaman Nilai Karakter Islami Melalui Kegiatan Tausyiah Ramadhan Izzi Fekrat1. Syafruddin Nurdin2. Muhammad Kosim3 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang Email : Izzifekrat3@gmail. com1, syafruddinnurdin@uinib. muhammadkosim@uinib. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki efektivitas penanaman nilai-nilai karakter Islam melalui kegiatan Tausyiah Ramadan, sebuah pendidikan Islam non-formal yang dilakukan di tiga masjid di Kota Padang. Ini berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 yang mengakui pentingnya pendidikan Islam di luar formal untuk membentuk karakter yang kuat dalam masyarakat Muslim. Bulan Ramadan dipilih karena kondusifitasnya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan melalui kegiatan-kegiatan seperti Tausyiah, yang dilaksanakan setelah salat Isya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan fokus mengeksplorasi dan menggambarkan sistematis sesi Tausyiah. Temuan dari penelitian ini menunjukkan partisipasi yang luas dari berbagai latar belakang pendidikan dan demografi, dengan pembicara yang berpendidikan tinggi yang mengkaji topik-topik seperti fikih, ibadah, akhlak, dan akidah. Konten yang disampaikan mendukung pendekatan yang emosional, rasional, dan edukatif, yang memengaruhi pertumbuhan spiritual peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa Tausyiah Ramadan diterima secara positif oleh masyarakat, dengan menggarisbawahi peran penting pembicara yang terampil dalam menyampaikan pengetahuan agama secara Kesimpulannya, pendidikan Islam non-formal seperti Tausyiah memiliki potensi besar untuk memperkuat nilai-nilai karakter Islami dalam masyarakat, dengan rekomendasi untuk lebih mengintegrasikan para pendidik yang berkualitas guna mendukung inisiatif pembelajaran berbasis masyarakat yang berdampak luas. Penelitian ini berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nilai karakter Islami. Kata Kunci : Penanaman. Karakter. Tausiah Abstract This article aims to investigate the effectiveness of instilling Islamic character values through Tausyiah Ramadan, a non-formal Islamic education activity conducted in three mosques in Padang City. This is based on Government Regulation No. 55 of 2007 which recognizes the importance of non-formal Islamic education to form a strong character in Muslim societies. The month of Ramadan was chosen because of its conduciveness in increasing faith and piety through activities such as Tausyiah, which is conducted after Isha prayer. The research method used was descriptive qualitative, focusing on exploring and systematically describing the Tausyiah JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 The findings of this study show broad participation from a variety of educational backgrounds and demographics, with highly educated speakers covering topics such as fiqh, worship, morals, and akidah. The content delivered supports an emotional, rational and educative approach, which influences the spiritual growth of The results show that the Ramadan Tausyiah is positively received by the community, underlining the important role of skilled speakers in conveying religious knowledge effectively. In conclusion, non-formal Islamic education such as Tausyiah has great potential to strengthen Islamic character values in communities, with recommendations to further integrate qualified educators to support impactful community-based learning initiatives. This research contributes to increasing understanding of the importance of Islamic character values. Keywords : Planting. Character. Tausiah Pendahuluan Pendidikan Islam di Indonesia dapat diperoleh tidak hanya dalam bentuk pendidikan formal yang memiliki jenjang dan jenis pendidikan, tetapi pendidikan Islam dapat diperoleh melalui pendidikan informal maupun nonformal. Hal ini telah dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 (Peraturan Pemerintahan Nomor 55, 2. tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan yang berbunyi: AuPendidikan keagamaan Islam berbentuk pendidikan diniyah dan pesantren. Pendidikan diniyah diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pendidikan diniyah nonformal diselenggarakan dalam bentuk pengajian kitab. Majelis Taklim. Pendidikan al-Quran. Diniyah Takmiliyah, atau bentuk lain yang sejenisAy. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan Islam dapat dilaksanakan dalam bentuk pendidikan diniyah nonformal yaitu dalam bentuk Majelis ilmu yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang ilmu-ilmu yang terkait dengan pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki efektivitas penanaman nilai-nilai karakter Islam melalui kegiatan Tausyiah Ramadan, sebuah pendidikan Islam nonformal yang dilakukan di tiga masjid di Kota Padang. Kegiatan tausiyah ramadhan merupakan salah satu bentuk pendidikan diniyah nonformal pada pendidikan Islam khususnya menanamkan karakter Islami. Hal ini dikarenakan kegiatan tausyiah ramadhan dilaksanakan dalam bentuk majelis ilmu yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jemaahnya, serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta (Bariah & Nur, 2. Bulan ramadhan menjadi salah satu bulan yang sangat tepat untuk membentuk manusia menjadi manusia yang memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat pada pendidikan Islam. Banyak sekali kegiatan pada bulan ramadhan yang dapat membentuk karakter manusia menjadi yang lebih baik, salah satunya adalah kegiatan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 tausiyah ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Isya berjamaah sebelum melanjutkan kepada sholat tarwih berjemaah. Nilai adalah suatu hal yang penting dan berharga bagi manusia, tanpa nilai manusia tidak akan memiliki arti dalam kehidupannya karena sebagai dasar dari aktifitas hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan usaha sadar sekaligus upaya orang dewasa dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik agar menjadi kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Dalam proses pembentukan nilai-nilai Islam pada peserta didik tidak hanya di lembaga formal saja tetapi juga ada pada lembaga non-formal. Jadi, berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan diatas penulis disini akan membahas tentang penanaman nilai karakter Islami melalui kegiatan tausiyah ramadhan. Metode Metode penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah penelitian lapangan . ield researc. yang bercorak kualitatif dengan menggunakan metode Metode deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Arikunto, 2005, hlm. Pada penelitian deskriptif kualitatif ini, para peneliti berusaha menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Dalam penelitian deskriptif kualitatif melakukan eksplorasi, menggambarkan, dengan tujuan untuk dapat menerangkan dan memprediksi terhadap suatu gejala yang berlaku atas dasar data yang diperoleh di lapangan (Sukardi, 2003, hlm. Lokasi pada penelitian ini dilakukan di tiga masjid yang berbeda yang ada di kota padang yaitu. Masjid Ikhwanul Muhajirin (Mega Permai I Lubuk Buay. Masjid M. Nur Andalas Kota Padang dan Masjid Nurul Ilmi (Bandar Bua. Penelitian dilakukan dengan hari yang berbeda-beda yang dimulai pada hari JumAat tanggal 22 Maret 2024, 28 Maret 2024 dan 4 April 2024 pada jam 20. 00 WIB setelah sholat Isya berjamaah yang dilakukan pada bulan Ramadhan 1445 H. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Tausyiah Ramadhan di Kota Padang Tausyiah ramadhan merupakan salah satu majelis ilmu yang dilaksanakan pada bulan ramadhan setelah sholat isya berjemaah di kota Padang. Pada umumnya, setiap masjid atau mushalla yang ada di kota padang melaksanakan kegiatan tausyiah ramadhan yang dihadari oleh semua kalangan baik bapak-bapak, ibu-ibu, maupun anak-anak. Tausyiah ramadhan di sampaikan oleh seorang ustadz yang mana materi tausyiah JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 yang disampaikan adalah tentang syariat, ibadah, akidah, muamalah, dan Tausyiah ramadhan menjadi salah satu alternatif pendidikan Islam bagi masyarakat untuk menuntut ilmu mengenai hal-hal yang terkait dengan ajaran Islam maupun pendidikan Islam. Tausyiah ramadhan di kota Padang, merupakan pendidikan nonformal yang tidak terpisahkan dari bulan ramadhan. Memang tidak semua masjid atau mushalla yang ada dikota Padang melaksanakan kegiatan tausyiah ramadhan, namun tetap tausyiah ramadhan tidak bisa terpisahkan dari bulan Ramadhan untuk beberapa masjid atau mushalla yang ada di kota Padang. Materi Tausyiah Ramadhan Pada umunya, para penceramah akan memberikan materi kepada masyarakat mengenai syariat, ibadah, muamalah, dan akhalak kepada masyakat yang merupakan kerangka dasar ajaran Islam, sedangkan yang terkait dengan materi Pendidikan Agama Islam adalah Al-Qur`an/Hadis, akidah, akhlak, fiqh, dan SKI. Sama hal nya dengan materi yang disampaikan pada kegiatan tausyiah ramadhan, bahwa para penceramah atau pemateri akan memberikan materi terkait dengan kerangka dasar ajaran Islam dan materi yang terkait dengan Pendidikan Agama Islam. Pada penilitian ini, akan membahas mengenai materi Pendidikan Agama Islam yang disampaikan selama kegiatan tausyiah Ramadhan. Maka, berdasarkan penelitian yang dilakukan 3 di masjid yang berbeda di kota Padang, yaitu . Pada masjid Ikhwanul Muhajirin (Komplek Mega Permai I. Lubuk Buaya Padan. terdapat 12 materi Pendidikan agama Islam, . masjid Nurul Ilmi (Bandar Bua. terdapat 14 materi Pendidikan agama Islam, dan . Masjid M. Nur Andalas Kota Padang terdapat 16 materi Pendidikan agama Islam. Jadi, dapat disimpulkan berdasarkan 3 masjid yang ada di kota Padang, pada umumnya materi yang disampaikan adalah terkait dengan karakter Islami yaitu bagaimana menjadi manusia yang memiliki akhlak terpuji baik kepada Allah, manusia, maupun makhluk Allah lainnya. Latar Belakang Pendidikan Penceramah Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, pada umumnya ustad yang dihadiri ke masjid atau mushollah pada kegiatan tausyiah ramadhan adalah berlatar belakang pendidikan S1 dan S2, sedangkan untuk pendidikan S3 tidak begitu banyak seperti pendidikan S1 dan S2. Seperti, masjid Ikhwanul Muhajirin (Komplek Mega Perma I Padan. terdapat 6 orang berlatar belakang S1, 13 orang berlatar belakang JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 S2, 7 orang berlatar belakang S3, 2 orang Prof dan 1 orang tidak berlatar belakang sarjana. Pada masjid Nurul Ilmi (Bandar Bua. terdapat 14 orang berlatar belakang S1, 11 orang berlatar belakang S2 dan 4 orang tidak berlatar belakang sarjana dan pada Masjid M. Nur Andalas Kota Padang terdapat 11 orang berlatar belakang pendidikan S2, 16 orang berlatar belakang S3. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya ustadz yang mengisi pada kegiatan tausyiah ramadhan pada 3 masjid yang diteliti menunjukkan bahwa pendidikan S1 dan S2 masih mendominasi, sedangkan sisanya diisi oleh ustadz yang tidak berlatang belakang sarjana dan pendidikan S3. Pendekatan pada Tausyiah Ramadhan Pendekatan yang digunakan pada tausyiah ramadhan adalah pendekatan emosional, rasional, dan edukatif. Pendekatan emosional adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penceramah untuk menggugah perasaan dan emosi jemaah atau masyarakat dalam meyakini, memahami, dan menghayati ajaran agama Islam. Pendekatan rasional adalah pendekatan yang dilakukan oleh penceramah dengan cara membimbing perkembangan berfikir masyarakat atau jemaah ke arah yang lebih baik lagi dalam memahami ajaran Islam. Sedangkan pendekatan edukatif adalah suatu pendekatan yang dilakukan ustad terhadap jemaah yang bernilai pendidikan dengan tujuan untuk mendidik agar memahami nilai-nilai pendidikan Islam. Respon masyarakat terhadap Tausyiah Ramadhan Tausyiah ramadhan merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa terlepaskan dari bulan ramdhan, baik kota Padang maupun di kotakota lainnya yang ada di Indonesia, pasti akan melaksanakan kegiatan tausyiah ramadhan setelah melaksanakan sholat isya berjamaah walaupun tidak semua masjid atau mushollah yang melaksanakannya. Walaupun demikian, kegiatan tausyiah ramadhan tersebut mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, hal ini dikarenakan dengan adanya kegiatan tausyiah ramadhan dapat menambahkan ilmu pengetahuan masyarakat tentang nilai-nilai agama Islam khususnya karakter Islami. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di 3 masjid yang berbeda di kota padang. Bahwa pada umunya masyarakat menyambut dengan baik adanya kegiatan tausyiah ramadhan tersebut. Terkait dengan ustadz yang memberikan ceramah atau materi, masyarakat memberikan tanggapan bahwa sebaiknya ustadz-ustadz yang dihadari adalah orang-orang yang ahli dibidang ilmu agama agar dapat memberikan pengetahuan kepada JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 masyarakat tentang agama Islam dan mampu mengugah hati masyarakat untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Selain itu, ustadz yang dihadari mampu menyampaikan materi dengan cara yang tidak monoton tetapi mampu menciptakan suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan agar masyarakat dengan mudah menerima segala yang disampaikan oleh penceramah atau pemateri. Penanaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya Proses, cara, perbuatan menanam, menanami atau menanamkan. Penanaman secara etimologis berasal dari kata AutanamAyyang berarti menabuh benih, yang semakin jelas jika mendapatkan awalan pe-dan akhiran Aean menjadi AupenanamanAy yang berarti proses, cara, perbuatan menanam, menanami, atau menanamkan (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus besar Bahasa Indonesia, 2003, hlm. Nilai secara etimologi dalam bahasa Inggris yaitu kata Value. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai merupakan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sedangkan secara terminology dapat dilihat dari berbagai pendapat para ahli. Namun secara umum, yang dimaksud nilai adalah segala hal yang berhubungan dengan tingkah laku manusia mengenai baik atau buruk yang diukur oleh agama, tradisi, etika, moral, dan kebudayaan yang berlaku dalam masyarakat (Zakiyah, 2014, hlm. Sedangkan pendidikan Islam adalah suatu usaha sadar untuk mewujudkan manusia yang beriman kepada Allah SWT, membentuk kepribadian manusia sesuai dengan al-Quran dan hadis, memiliki ilmu pengetahuan dan terampil, cerdas, memiliki etos kerja yang tinggi, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, negara, bangsa dan agama. Tri pusat pendidikan merupakan wacana yang menggambarkan bagaimana pendidikan dilakukan bakan hanya sebatas di sekolah saja, tetapi pendidikan juga terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Akan tetapi masyarakat umum seolah-olah mengartikan kata pendidikan hanya sebatas pada ruang lingkup sekolah secara sempit yang diadakan secara formal oleh negara atau swasta. Jarang yang memaknai pendidikan secara luas yang mencangkup seluruh tatanan yang ada dalam kehidupan, tak terkecuali pendidikan non formal yang ada di dalam masyarakat itu sendiri, seperti masjid (Roqib, 2009, hlm. Masjid merupakan tempat untuk mendapat pengalaman syariat Islam secara lebih mendalam. Karena masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam, yang walaupun keberfungsian masjid pada zaman Rasulullah SAW dengan zaman sekarang diantaranya adalah melakukan kegiatan tausiyah Ramadhan sebelum shalat tarwih. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Dalam pembentukan karakter umat Islam. Nabi Muhammad Saw berperan sebagai pendidik yang menggunakan masjid sebagai tempat untuk mengajarkan agama Islam dan memperbaiki akhlak para sahabat. Peran tersebut dilakukannya setelah sholat berjamah dan juga dilakukan selain waktu tersebut yaitu dengan bertausiah serta memberikan nilai-nilai pendidikan kepada para sahabat (Najib, 2015, hlm. Dari permasalahan di atas, khususnya peran masjid sebagai pendidikan nilai agama di zaman Nabi, maka peneliti merasa penting untuk melakukan penelitian jika peran masjid di zaman Nabi tersebut diterapkan untuk zaman Urgensinya antara lain untuk pembangunan moral masyarakat yang dapat dibina melalui masjid, dengan begitu masyarakat akan lebih memahami pendidikan agama Islam secara intensif. Untuk dapat melakukan pembangunan moral masyarakat maka dirasa perlu membiasakan budaya religius di lingkungan masjid diantaranya adalah dengan melakukan tausiah sebelum shalat tarwih. Tausiah ramadhan juga untuk menghidupkan majelis taAlim di masjid. Secara terminologis . akna/pengertia. , majelis taAlim mengandung beberapa pengertian yang berbeda-beda. Effendy Zarkasyi mengatakan. AuMajelis taAlim bagian dari model dakwah dewasa ini dan sebagai forum belajar untuk mencapai suatu tingkat pengetahuan agamaAy. Syamsuddin Abbas juga mengemukakan pendapatnya, di mana ia mengartikan sebagai: AuLembaga pendidikan non formal Islam yang memiliki kurikulum sendiri, diselenggarakan secara berkala dan teratur, dan diikuti oleh jamaah yang relatif banyak (Muhsin, 2009, hlm. Majelis taAlim bila dilihat dari struktur organisasinya termasuk organisasi pendidikan luar sekolah atau suatu lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal yang senantiasa menanamkan akhlak yang luhur dan mulia,meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan keterampilan jamahnya,serta memberantas kebodohahan umat Islam agar dapat memperoleh kehidupan yang bahagia dan sejahtera serta diridhoi oleh Allah SWT. Sementara itu bila dilihat dari segi tujuannya,majelis taAlim termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiah yang secara self standing dan self disciplined dapat mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatannya,didlamnya berkembang prinsip demokrasi yang berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi kelancaran pelaksanaan taAlim sesuai dengan tuntutan pesertanya. Majelis taAlim juga merupakan lembaga pendidikan masyarakat,yang tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat Islam itu sendiri yang kepentingannya untuk kemalahatan umat manusia. Oleh karena itu Majelis TaAlim adalah lembaga swadaya masyarakat yang hidupnya didasarkan kepada AuTaAoawun dan AuRuhamaAou bainahumAy JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Majlis TaAlim sebagai lembaga non formal yang mempunyai kedudukan dan fungsi sebagai alat dan sekaligus sebagai media pembinaan dalam beragama . aAwah Islamiyah ), hal ini dapat dirumuskan fungsi Majlis TaAlim sebagai berikut: Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sebagai taman rekreasi rohaniyah karena penyelenggaraanya bersifat . Sebagai ajang berlangsungnya silaturrohnmi masa yang dapat menghidup suburkan daAwah dan ukhuwah Islamiyah . Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulamaA dan umaraA dengan umat . Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya (Rukiati, 2006, hlm. Dilihat dari segi tujuan, majlis taAlim termasuk sarana dakwah Islamiyah yang secara self . standing dan self disciplined mengatur dan melaksanakan berbagai kegiatan berdasarkan musyawarah untuk mufakat demi untuk kelancaran pelaksanaan taAlim Islami sesuai dengan tuntutan Dilihat dari aspek sejarah sebelum kemerdekaan Indonesia sampai sekarang banyak terdapat lembaga pendidikan Islam memegang peranan sangat penting dalam penyebaran ajaran Islam di Indonesia. Disamping peranannya yang ikut menentukan dalam membangkitkan sikap patriotismedan nasionalisme sebagai modal mencapai kemerdekaan Indonesia, lembaga ini ikutserta menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional. Dilihat dari bentuk dan sifat pendidikannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut ada yang berbentuk langgar, surau, rangkang (Zuhairi, 2014. Pertumbuhan Majlis TaAlim dikalangan masyarakat menunjukkan kebutuhan dan hasrat anggota masyarakat tersebut akan pendidikan agama. Pada kebutuhan dan hasra masyarakat yang lebih luas yakni sebagai usaha memecahkan masalah Ae masalah menuju kehidupan yang lebih bahagia. Meningkatkan tuntutan jamaah dan peranan pendidikan yang bersifat nonformal, menimbulkan pula kesadarana dari dan inisiatif dari para ulama beserta anggota masyarakat untuk memperbaiki , meningkatkan mengembangkan kwalitas dan kemampuan , sehingga eksistensi dan peranan serta fungsi majlis taAlim benar benar berjalan dengan baik (Rukiati, 2006, hlm. Menurut penulis permasalahan yang dihadapi dalam majelis taAlim ialah diantaranya ada daAi dan mubaligh banyak menghadapi kendala di antaranya adalah jamaah majlis taAlim yang ada di masjid ikhwanul muhajirin JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 komplek mega permai I sulit menemukan konsep yang relevan mengingat status sosial dari jamaah majlis taAlim yang latar pendidikan perbedaan satu sama lainnya disamping itu juga daya nalar sangat berbeda sehingga jamaah majlis taAlim kurang mengenal metode lainnya yang mempunyai daya tarik Selain itu, menurut penulis pengembangannya ke depan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengenai materinya. Seharusnya materi itu Misalnya: Kelompok Pengetahuan Agama. Bidang pengajaran kelompok ini meliputi tauhid,tafsir. Fiqih, hadits, akhlak, tarikh, dan bahasa Arab. Kelompok Pengetahuan Umum. Karena banyaknya pengetahuan umum, maka tematema atau maudluA yang disampaikan adalah yang langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Kesemuanya itu dikaitkan dengan agama, artinya dalam menyampaikan uraian-uraian tersebut berdasarkan dalildalil agama baik berupa ayat-ayat Al-QurAan dan hadits-hadits atau contoh-contoh dari kehidupan Rasulullah SAW. Kemudian dari itu, menurut penulis majlis taAlim dengan perkembangannya seharusnya perkembangannya itu sesuai dengan tuntutan zaman saat ini. Misalnya, di Sumatera Barat sudah diorganisir secara lebih baik, sehingga tujuan, arah kegiatan sampai pada model pendekatannya dalam pengajarannya dan bahkan sampai pada rumusan materi pendidikannya sudah Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat maka pola pengembangan daAwah majelis taAlim tidak cukup hanya berorientasi kepada temaAetema daAwah yang sifatnya menghibur dan menentramkan, tetapi juga bersifat memperluas dan meningkatkan yaitu meningkatkan wawasan dan kwalitas keilmuan. Secara strategis majelis-majelis taAlim menjadi sarana dakwah dan tabligh yang berperan sentral pada pembinaan dan peningkatan kualitas hidup umat agamaIslam sesuai tuntunan ajaran agama. Majelis ini menyadarkan umat Islam untuk, memahami dan mengamalkan agamanya yang kontekstual di lingkungan hidup sosial budaya dan alam sekitar masing-masing, menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan yang meneladani kelompok umat lain. Untuk tujuan itu, maka pemimpinnya harus berperan sebagai penunjuk jalan ke arah kecerahan sikap hidup Islami yang membawa kepada kesehatan mental rohaniah dan kesadaran fungsional selaku khalifah dibuminya sendiri. Kemudian dari itu menurut penulis, pengembangannya ke depan untuk mengatasi masalah majelis taAlim ini ialah penambahan dan pengembangan materi terjadi di majelis taAlim. Melihat semakin majunya zaman dan semakin kompleks permasalahan yang perlu penanganan yang tepat. Wujud program yang tepat dan aktual sesuai dengan kebutuhan jamaah itu sendiri merupakan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 suatu langkah yang baik agar majelis taAlim tidak terkesan kolot dan Majelis TaAlim adalah salah satu struktur kegiatan dakwah yang berperan penting dalam mencerdaskan umat, maka selain pelaksanaannya dilaksanakan secara teratur dan periodik juga harus mampu membawa jamaah ke arah yang lebih baik lagi. Budaya religius seperti ini dapat terbangun apabila adanya internalisasi nilai-nilai agama yang tertanam kuat dalam diri setiap Oleh karena itu seberapa banyak dan seberapa jauh nilai-nilai agama bisa mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku seseorang tergantung dari seberapa dalam nilai-nilai yang terinternalisaisi dalam diri. Kepribadian dan sikap religiusnya akan muncul dalam perilaku atau aktivitas keagamaan di lingkungan setempat. Dengan melakukan kegiatan keagamaan seperti tausiyah ramadhan sebelum shalat tarwih selama 20-30 menit yang berbentuk majelis taAlim sekaligus melatih Jemaah untuk scinta ke masjid, ini berfungsi mengingatkan jemaah tentang berbagai hal mengenai agama termasuk pentingnya pendidikan Islam. Maka nilai-nilai agama akan muncul dan dapat membentengi diri dari segala sesuatu yang negatif dalam Berdasarkan hasil observasi pendahuluan beberapa masjid yang diteliti diantaranya adalah masjid agung Nurul Iman kota Padang. Penelitian dilakukan di Masjid M. Nur Andalas Kota Padang bahwa pelaksanaan tausyiah Ramadhan dilakukan setelah melaksanakan sholat Isya berjamaah. Pada hari tersebut tausyiah Ramadhan disampaikan oleh ustad Hasbullah. PdI. Pd dengan tema atau materinya adalah Pembentukan Karakter Muslim dalam Pendidikan Islam. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan jemaah atau masyarakat tentang manfaat yang diperoleh setelah mendengarkan tausyiah tersebut adalah bagaimana kita sebagai seorang muslim harus mampu dan bisa mempertahankan segala perbuatan yang telah dilakukan selama Ramadhan tersebut kepada bulan-bulan selain bulan Ramadhan dan mempertahakan sebuah karakter atau perbuatan baik sebagai seorang muslim. Kemudian, model tausyiah yang diinginkan oleh jemaah atau masyarakat pada umumnya menginginkan sebuah ceramah yang mampu membuat suasana menjadi menyenanagkan, humaris, dan adanya komunikasi yang interaktif antara jemaah dengan penceramah. Begitu juga penelitian yang dilakukan di Masjid Ikhwanul Muhajirin Lubuk Buaya. Pada hari tersebut tausyiah Ramadhan disampaikan oleh ustad Dr. Heri Surikno M. A dengan tema adalah al-Quran membentuk karakter Pendekatan yang digunakan oleh ustad Dr. Heri Surikno MA adalah pendekatan edukatif. Pendekatan edukatif yaitu pendekatan yang memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa Pentingnya pendidikan Al-Quran. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 dapat juga dilihat dari tujuan mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Tujuan mempelajari Al-Quran selain sebagai ibadah membacanya, juga masih banyak tujuan lainnya. Menurut ustad Heri. Intinya tujuan mempelajari Al-Quran adalah sebagai berikut: Memelihara kitab suci dan membacanya serta memperhatikan isinya untuk menjadi petunjuk dan pengajaran bagi manusia dalam kehidupan di dunia. Mengingat hukum agama yang termaktub dalam Al-Quran serta menguatkan keimanan dan mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi Mengharapkan keridhaan Allah dengan menganut iktikad yang sah dan mengikuti segala suruhan-Nya dan menghentikan segala larangan-Nya. Menanamkan akhlak yang mulia dengan mengambil Aibrah dan pengajaran, serta suri teladan yang baik dari riwayat-riwayat yang termaktub dalam Al-Quran. Menanam rasa keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya, sehingga bertambah tetap keimanan dan bertambah dekat hati kepada Allah. Selain itu, ustad Heri juga menguraikan bahwa mempelajari Al-Quran amat penting sekali dimulai sejak kanak-kanak, baik di sekolah, atau di luar sekolah, seperti di rumah, di masjid, atau di langgar atau surau, di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), di pondok-pondok Al-Quran, dan sebagainya karena waktu ini . ebagai langkah awa. , tenaga hafalan kanak-kanak sangat kuat, sehingga mudah baginya menghafal ayat-ayat. Hal ini sejalan dengan pendidikan shalat, bahwa anakanak harus bisa menghafal ayat-ayat yang perlu dibaca dalam shalat atau di luar shalat. Karena itu, sudah menjadi kebiasaan dari dulu anak-anak belajar Al-Quran di surau-surau di seluruh Indonesia. Perguruan Al-Quran harus dihidupkan di tempat-tempat seperti disebut di atas, baik petang hari maupun malam hari, pagi maupun siang. Tetapi supaya pelajaran itu lebih teratur dan menghasilkan tujuan, haruslah diikuti cara-cara yang baik untuk Lebih lanjut pada zaman sekarang, dirasa perlu mempelajari Al-Quran menurut dasar-dasar yang kokoh, bukan semata-mata membaca dan melagukan saja, karena Al-Quran diturunkan Allah untuk petunjuk dan penuntun bagi umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya. Kemudian berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap masyarakat atau jemaah yang hadir pada hari tersebut bahwa manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atau jemaah adalah termotivasi untuk peningkatkan ibadah kepada Allah swt, sehingga bisa mengimplementasikan nilai-nilai luhur dalam al-Quran yang disampaikan oleh ustad tersebut. Selain itu, tausyiah yang disampaikan oleh ustad tersebut juga sebagai pengingat bagi JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 masyarakat yang sudah mengetahuinya dan menambah pengetahuan agama bagi yang belum pernah mendengarkan atau membaca pada sebuah buku. Begitu juga penelitian yang dilakukan di masjid nurul Ilmi di banda Pada hari tersebut tausyiah Ramadhan disampaikan oleh ustad Azhari Pd. I dengan materinya adalah Bulan Ramadhan adalah Bulan Pendidikan. Dalam tausiyah yang disampaikan oleh ustad Azhari S. Pd. I bahwa bulan ramadhan merupakan bulan pendidikan bagi manusia, karena pada bulan ini manusia berusaha untuk selalu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, selain itu ada beberapa hal yang berkaitan dengan bulan ramadhan sebagai bulan pendidikan, yaitu: Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah Allah secara totalitas. Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syawalnya. Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfak. Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan dan kasih sayang. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa jemaah yang hadir, bahwa manfaat yang diperoleh dari ceramah yang disampaikan oleh ustad Azhari S. Pd. I adalah memberikan dorongan dan motivasi kepada umat untuk selalu memperbaiki ibadahnya kepada Allah swt dan selalu berbuat baik dan menolong kepada sesama manusia. Kemudian, harapan yang diinginkan oleh jemaah atau masyarakat kedepannya terhadap model ceramah yang digunakan oleh penceramah adalah model tausyiah atau ceramah yang dapat membuat suasana menjadi menyenangkan dan tidak Oleh karena itu, dari penelitian yang diperoleh diatas bahwa masjid atau mushalla dapat dikatakan sebagai pusat pemberdayaan umat serta kembali memfungsikan kembali peran edukasi masjid sesuai tuntutan zaman dan memanfaatkan masjid sebagai pusat dari segala kegiatan umat muslim dari segi pendidikan Islam. Selain itu problema yang terjadi pada penelitian di atas adalah mengenai perencanaan dalam tausiyah ramadhan tersebut. Banyaknya jemaah mengeluh tentang metode yang dipakai penceramah yang kurang menarik tanpa memperhatikan kondisi jemaah serta penguasaan terhadap materi tausiah yang kurang mengena terhadap pendidikan Islam. Penulis berpendapat penyebabnya adalah tidak adanya perencanaan terhadap tausiah ramadhan Perencanaan tausiah adalah proses pemikiran dan pengambilan keputusan yang matang dan sistematis mengenai tindakan-tindakan yang akan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka penyelenggaraan kegiatan tausiyah, maka dalam menetapkan suatu perencanaan dakwah memerlukan beberapa langkah yang harus dilakukan. Salah satu model perencanaan yang adikuat dalam rangka mencapai sasaran tersebut ialah perencanaan dengan suatu pendekatan sistem . ystem approach plannin. Pendekatan sistem merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengadakan pemecahan menyeluruh terhadap masalah yang ada, dimana masalah dipahami sebagai kumpulan dari sub-sub masalah yang satu dengan yang lain saling terkait dan saling berinteraksi dengan jalan diidentifikasi terlebih dahulu permasalahan yang dihadapi, selanjutnya dikaji permasalahan pokok atau permasalahan yang menjadi prioritas pemecahan, kemudian dicari altematif pemecahan dan strategi yang paling tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi tersebut (Munawwarah dkk. , 2. Perencanaan dengan pendekatan sistem ialah perencanaan yang dikembangkan melalui: Identifikasi masalah. Identifikasi masalah didefinisikan sebagai penemutunjukan kesenjangan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang Dalam konteks ini berarti kesenjangan antara kondisi ideal . enurut tolok ukur Isla. ebagai individu dan masyaraka. dengan kenyataan yang ada pada objek dakwah yang dihadapi. Oleh karena kesenjangan tersebut demikian besar, maka dalam kaitan perencanaan tausiyah diartikan sebagai kesenjangan antara kenyataan objek tausiyah yang dihadapi tujuan antara . ntermediate goa. yang ingin dicapai dengan kegiatan tausiyah Ramadhan tersebut (Abidin dkk. , 2. Dalam upaya identifikasi tersebut, dengan demikian perlu diketahui tentang unsur "masukan", yaitu kondisi objek tausiyah itu sendiri. Seperti telah dikemukakan, objekdakwah ini dapat dilihat dalam aspek individu dan aspek masyarakat. Identifikasi terhadap aspek masukan berarti menggambarkan kenyataan objek dengan menggunakan tujuan sebagai tolok ukur. Merumuskan dan memilih model-model pemecahan yang tepat. Merumuskan dan memilih model-model pemecahan adalah identifikasi masalah (Mayasari dkk. , 2. yang ada pada objek tausiyah, baik individu maupun masyarakat yang selanjutnya dicarikan model yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau memecahkan permasalahan tersebut untuk kemudian dipilih model yang tepat. Dikaitkan dengan perencanaan tausiyah maka pada tahap perumusan model-model pemecahan ini paling tidak akan dilalui dua alur pemikiran kemudian, memilih beberapa altematif dan memilih satu model untuk diimplementasikan. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Menetapkan strategi tausiyah. Langkah penetapan strategi merupakan langkah berikutnya setelah perencana memilih pemecahan yang tepat. Hal ini berarti penetapan hal-hal yang menyangkut aspek-aspek metodologi, substansi, dan pelaksanaannya. Dalam kaitan perencanaan tausiyah berarti perencana melakukan: Penetapan metode . ermasuk model pendekatan dan mediany. untuk tiap model pemecahan dan model. dialog di atas (AsyAari, 2. Beberapa metode yang dapat dipakai adalah tausiyah Billisan yaitu tausiyah yang digunakan menggunakan bahasa lisan. Tausiyah Bilkitab yaitu tausiyah yang dilakukan dengan menggunakan keterampilan tulis-menulis berupa artikel atau naskah, brosur, bulletin dan sebagainya. Tausiyah Bilhal yaitu tausiyah yang dilakukan melalui berbagai kegiatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat sebagai objek tausiyah dengan karya subjek dakwah serta ekonomi sebagai material tausiyah. Pengolahan isi pesan tausiyah. Materi tausiyah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da'i kepada mad'u. Materi tausiyah adalah alIslam yang bersumber dari al-Qur'an dan Hadist yang meliputi aqidah, syari'ah dan akhlak dengan berbagai macam cabang ilmu yang diperoleh darinya diantaranya adalah pendidikan Islam. Materi tausiyah harus cocok dengan metode dan media serta objek tausiyahnya. Hal penting dari materi tausiyah adalah tidak hanya tentang persoalan apa yang dilarang atau dibenarkan oleh agama, akan tetapi tausiyah harus pula mampu mengatasi persoalan-persoalan mad'u dan wawasan global (Munir, 2006, hlm. Penetapan pelaksana tausiyah . a'i / mubaligh / pelaksana yang lai. Dalam hal ini Jalaluddin Rahmat mengemukakan 3 strategi yang dapat digunakan dalam menyelenggarakan kegiatan tausiyah. Strategi tersebut adalah . Power Strategy adalah perubahan sosial dengan menggunakan kekuatan atau kekuasaan, hal ini dalam penyebaran Islam di Indonesia para wali menggunakan metode ini yaitu dengan mendekati para raja atau orang yang berkuasa dengan harapan bahwa apabila penguasa sudah memeluk Islam, maka dengan orientasinya mereka dapat mengislamkan . Persuasif Strategy adalah strategi yang berusaha untuk menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai-nilai agen dan . Normatif Re Educatiue Strategy adalah strategi yang berupaya untuk menanamkan dan mengganti paradigma norma masyarakat yang lama dengan yang baru. Strategi ini tidak hanya untuk merubah perilaku yang tampak tetapi mengubah keyakinan dan nilai termasuk didalamnya pendidikan Islam (Rahmah & Prasetyo, 2. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 Mengevaluasi Hasil Implementasi Model Strategi Pemecahan. Evaluasi model dan strategi pemecahan berarti mengoreksi tiap tahapan pemecahan tausiyah yang telah dirujuk dengan kondisi objek tausiyah dan lingkungannya, untuk mengetahui kekurangan dan kelebihannya. Selanjutnya setelah mengetahui kekurangan dari tiap tahapan, maka selanjutnya merevisi tahapan yang kurang tepat dengan disesuaikan dengan tahap perencanaan yang lebih sempurna. Evaluasi tersebut harus dapat menjawab, apakah program dakwah yang akan dijalankan bisa maksimal atau tidak, sesuai dengan umat atau tidak, dan lain sebagainya. Pada tahap analisis diperlukan sebuah evaluasi, materi yang disampaikan, metode, media, dan lain sebagainya yang menunjang aktivitas tausiyah selalu dibutuhkan sebuah evaluasi (Munir, 2006, hlm. Menurut penulis, problema selain dari diatas adalah dengan keterbatasan subjek penceramah, baik dalam bidang keilmuan, tenaga, biaya dan kesempatan, maka penceramah merupakan suatu kebutuhan bahkan suatu keharusan mengingat permasalahan umat khususnya dalam bidang pendidikan Islam semakin hari semakin bertambah berat dan Dengan adanya kerjasama diantara subyek penceramah dalam menyelenggarakan penerangan agama . dengan cara yang telah disepakati bersama untuk mencapai tujuan tausiyah Ramadhan yang telah dirumuskan sebelumnya. Selain itu menurut penulis, dalam sebuah perencanaan bertausiyah memerlukan adanya beberapa langkah yang salah satunya melalui pendekatan sistem . ystem approach plannin. jika dikaitkan pada kenyataan tausiyah dilapangan aspek-aspek normatif tentang tausiyah yang terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah maka dapat ditentukan fungsi perencanaan tausiyah antara lain: Memperjelas Secara Gamblang Sasaran Ideal. Sebagai langkah awal dalam bertausiyah terlebih dahulu harus diperjelas sasaran apa yang ingin dicapai, kondisi umat Islam yang bagaimana yang akan dihadapi baik dalam wujudnya sebagai individu maupun suatu komunitas Merumuskan Masalah Pokok Umat Islam. Tausiyah bertujuan menyelamatkan umat dari kehancuran dan mewujudkan cita-cita ideal masyarakat setelah mengetahui kondisi baik objek maupun subjek tausiyah serta permasalahan, selanjutnya mengiventarisir masalahmasalah pokok yang dihadapi. Karena perbedaan masalah yang dihadapi antar kelompok masyarakat dan setelah kurun waktu tertentu JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 6 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2024 harus dikaji ulang terhadap masalah yang disesuaikan dengan perubahan dalam masyarakat tersebut. Merumuskan Isi tausiyah. Pada umumnya seseorang baik individu menyamaratakan antara suatu objeknya tanpa ada klasifikasi tertentu. Oleh sebab itu sebaiknya diadakan perbedaan antara sasaran tausiyah satu dengan yang lainnya, mengingat kondisi masyarakat yang majemuk dan kompleks. Menyusun Paket-paket tausiyah. Apabila masalah telah dirumuskan maka langkah selanjutnya adalah penentuan. Isi tausiyah sebaiknya disesuaikan dengan masalah yang dihadapi sehingga tujuan tausiyah dapat terwujud seperti Pendidikan Islam. Evaluasi Kegiatan tausiyah. Tahap terakhir telah mengadakan evaluasi, yakni suatu usaha untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan tausiyah tersebut serta mengakomodasikan setiap permasalahan-permasalahan untuk mencari jalan keluar atau penyelesaian dengan tepat. Simpulan Dalam taksonomi ajaran Islam, pada dasarnya ada 3 dimensi dalam ajaran Islam sebagai materi tausiyah yaitu akhlak, aqidah dan syariAoah. Ketiga dimensi tersebut termasuk juga kepada nilai-nilai dalam pendidikan Islam. Dari penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Kegiatan tausyiah ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat isya berjamaah sebagian telah memberikan materi-materi yang terkait dengan nilai-nilai pendidikan Islam khusunya nilai karakter Islami, walaupun sebagai dari penceramah masih ada yang belum. Hal itu terlihat, dari beberapa penceramah yang menanamkan kepada masyarakat untuk selalu memperbaiki akhlak selama bulan ramadhan dan selalu menguatkan diri untuk selalu tunduk dan taat kepada Allah SWT. Banyaknya jemaah mengeluh tentang model yang dipakai penceramah yang kurang menarik tanpa memperhatikan kondisi jemaah serta penguasaan terhadap materi tausiah yang kurang mengenai terhadap pendidikan Islam. Referensi