Journal of Physical Activity and Sports (JPAS) E-ISSN. Volume 6. Nomor 2, 2025, 155-161 DOI: https://doi. org/10. 53869/jpas. PENINGKATAN MASSA OTOT MELALUI RESISTANCE TRAINING: STUDI EKSPERIMEN ENAM MINGGU PADA ATLET KARATE JUNIOR Indra William Farrel1. Alen Rismayadi2*. Mulyana Mulyana3. Widi Kusumah4. Geraldi Novian5 Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia Program Studi Kepelatihan Fisik Olahraga. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Indonesia williamfarrel14@gmail. com 1, rismayadialen@upi. edu 2, mulyanafpok@upi. edu 3, widikusumah@upi. edu 4, novian@upi. *Coressponding Author. E-mail: rismayadialen@upi. Abstract Strength development in junior karate athletes is an important aspect because it plays a direct role in supporting performance, both during training and in competitions. However, the applied training pattern is often lacking in variety and is not optimally structured. This study aims to examine the effect of a six-week resistance training program on increasing muscle mass in junior karate athletes. The method used was an experiment with a onegroup pretest-posttest design, involving 15 athletes consisting of 8 boys and 7 girls aged 13Ae15 years. The treatment in the form of resistance training was carried out twice a week, with a training program that included two upper body movements . ench press and upper back ro. and two lower body movements . quat and leg The load used was more than 15 RM with a movement tempo of 2Ae8 seconds. Muscle mass measurements were taken before and after the intervention using the Karada Scan Omron HBF-701, then analyzed through a t-test with the help of SPSS Version 29. The results showed a significant increase in muscle mass of 9% after undergoing resistance training. These findings indicate that a systematically designed resistance training program can help junior karate athletes in increasing strength and speed. Thus, coaches are advised to integrate resistance training into their coaching programs to support the achievement of optimal performance. Keywords: Junior Athletes. Karate. Muscle Mass. Resistance Training. Abstrak Pengembangan kekuatan pada atlet karate junior merupakan aspek penting karena memainkan peran langsung dalam mendukung kinerja, baik selama latihan maupun dalam kompetisi. Akan tetapi, pola latihan yang diterapkan seringkali kurang variatif dan tidak terstruktur secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh program latihan resistensi selama enam minggu terhadap peningkatan massa otot pada atlet karate Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan one-group pretest-posttest design, dengan melibatkan 15 atlet yang terdiri dari 8 laki-laki dan 7 perempuan berusia 13Ae15 tahun. Perlakuan berupa latihan resistensi dilakukan dua kali seminggu, dengan program latihan yang meliputi dua gerakan tubuh bagian atas . ench press dan upper back ro. dan dua gerakan tubuh bagian bawah . quat dan leg extensio. Beban yang digunakan lebih dari 15 RM dengan tempo gerakan 2Ae8 detik. Pengukuran massa otot dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Karada Scan Omron HBF-701, kemudian dianalisis melalui uji-t dengan bantuan SPSS Versi 29. Hasil menunjukkan peningkatan massa otot yang signifikan sebesar 9% setelah menjalani latihan ketahanan. Temuan ini menunjukkan bahwa program latihan ketahanan yang dirancang secara sistematis dapat membantu atlet karate junior dalam meningkatkan kekuatan dan kecepatan. Oleh karena itu, pelatih disarankan untuk mengintegrasikan latihan ketahanan ke dalam program pelatihan mereka untuk mendukung pencapaian performa yang optimal. Kata kunci: Atlet Junior. Karate. Massa Otot. Latihan Ketahanan. Received: 2025-08-12 Accepted: 2025-08-28 Published: 2025-08-31 PENDAHULUAN Bidang olahraga bela diri, termasuk karate, kini mengalami pergeseran orientasi dari sekadar penguasaan keterampilan teknis menuju pengembangan kapasitas fisik yang menunjang performa di level kompetitif (Granacher et al. , 2. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pelatih yang mengintegrasikan program strength dan resistance training ke dalam pola latihan atlet junior, dengan sasaran meningkatkan daya ledak, kestabilan postur, dan kemampuan bertahan terhadap kontak fisik saat bertanding (Granacher et al. , 2016. McQuilliam et al. , 2. Hal ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh Myers et al. mengungkapkan bahwa kecepatan dan intensitas pertandingan yang meningkat, serta pemahaman bahwa kekuatan otot adalah elemen vital dalam penerapan teknik dan taktik yang efek. Penerapan latihan beban pada atlet usia muda masih memunculkan berbagai keraguan dan ketidakpastian (Atiq et al. , 2022. Wiguna, 2. Sejumlah pihak mempertanyakan sejauh mana metode ini efektif, aman, serta bagaimana menentukan intensitas dan volume latihan yang tepat bagi kelompok usia junior. Akibat kurangnya pengetahuan, praktik di lapangan sering kali dilakukan secara insidental dan mengandalkan intuisi atau pengalaman pribadi pelatih. Hal ini dapat berpotensi membuat hasil adaptasi yang diharapkan seperti peningkatan massa otot dan performa fisik yang tidak tercapai secara optimal, bahkan dapat menimbulkan risiko jika program tidak disusun sesuai prinsip latihan yang benar (Faigenbaum & Myer, 2. Situasi ini menegaskan pentingnya penelitian empiris yang secara khusus mengevaluasi dampak resistance training terstruktur pada atlet karate di usia remaja. Maka dari itu studi ini juga didukung pembinaan atlet jangka panjang. Dengan meningkatkan pengembangan kapasitas fisik yang dilakukan secara terarah sejak usia dini berpotensi mempercepat kemajuan keterampilan teknis sekaligus meminimalkan risiko cedera melalui peningkatan daya tahan otot serta pengendalian neuromuskular (Atqiya & Pratama, 2024. Iriani & Salman, 2024. Saharullah. Hal ini juga sejalan dengan studi sebelumnya yang mengungkapkan bahwa program latihan akan menjadi pijakan penting bagi pelatih, klub, dan lembaga pembinaan olahraga dalam menyusun protokol latihan yang lebih aman dan tepat sasaran (Aldapit, 2019. Hasyim, 2. Dalam kerangka pembangunan sumber daya atlet nasional, penerapan intervensi sederhana seperti resistance training yang terbukti memberi hasil positif dalam waktu relatif singkat misalnya enam minggu dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap strategi pelatihan pada level junior. Meskipun demikian, penelitian yang secara khusus membahas perubahan massa otot akibat program latihan resistensi pada atlet karate junior masih tergolong jarang, terutama di lingkungan pembinaan olahraga Indonesia. Sebagian besar studi sebelumnya memiliki keterbatasan, baik dari sisi Peningkatan Massa Otot Melalui Resistance Training: Studi Eksperimen Enam Minggu Pada Atlet Karate Junior Indra William Farrel. Alen Rismayadi. Mulyana Mulyana. Widi Kusumah. Geraldi Novian desain, durasi pelaksanaan, maupun jumlah peserta. Kondisi ini membuka peluang untuk melakukan penelitian dengan desain eksperimen terkontrol dan durasi latihan yang realistis, selaras dengan jadwal latihan klub. Oleh sebab itu, studi ini disusun untuk memberikan kontribusi dalam mengisi celah penelitian yang belum terjawab mengkaji efektivitas program resistance training selama enam minggu terhadap peningkatan massa otot pada atlet karate junior. Penelitian ini tidak hanya diarahkan untuk memberikan bukti empiris terkait pengaruh latihan beban terhadap perubahan komposisi tubuh. Selain itu, penelitian ini bertujuan memberikan acuan praktis bagi pelatih maupun praktisi olahraga dalam menyusun program latihan yang terstruktur, efisien, serta aman, sehingga mampu mendukung peningkatan kapasitas fisik pada atlet usia muda (Atiq et al. , 2022. Rusdiawan et al. , 2. Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam perancangan program latihan bertahap yang mampu menunjang pencapaian prestasi sekaligus menjaga kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang atlet karate remaja. METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan eksperimen kuantitatif dengan rancangan one-group pretest-posttest (Fraenkel et al. , 2. Sebanyak 15 atlet karate junior di Kota Bandung . putra, 7 putr. berusia 13-15 tahun Populasi secara keseluruhan dijadikan responden penelitian dengan menggunakan pendekatan total sampling. Studi ini mengujicobakan program resistance training selama enam minggu . sesi/mingg. dengan melibatkan 2 gerakan tubuh bagian atas . ench press dan upper back ro. dan 2 gerakan tubuh bagian bawah . quat dan leng extensio. Dosis berupa beban latihan rendah diberikan pada program resistance training ini melakukan > 15 RM (Repetisi Maksima. (Lopez et al. , 2. dan dilakukan dengan tempo pengulangan 2-8 detik untuk memaksimalkan proses hypertrophy (Korakakis et al. , 2. Sebelum dan setelah program diberikan, subjek akan dilakukan pengukuran massa otot dengan menggunakan Karada Scan Omron HBF-701 Model (Singh et al. , 2. Setelah proses pengumpulan data selesai, analisis dilakukan dengan menerapkan uji-t pada SPSS versi 29. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Statistik deskriptif hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Statistik Deskriptif Tes Min. Maks. Jumlah Rata-rata Std. Deviasi Awal 107,95 7,20 1,648 Akhir 117,67 7,84 1,797 *Satuan: % atau persentase Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1, hasil pengukuran awal menunjukkan bahwa, atlet karate junior memiliki nilai yang lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil tes pada akhir perlakuan. Temuan ini menandakan bahwa resistance training yang diberikan selama enam minggu memberikan peningkatan massa otot pada atlet karate junior. Selanjutnya, penulis menyajikan hasil uji normalitas yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Normalitas Data Tes Statistik Sig. Awal 0,945 0,200 Akhir 0,988 0,200 Hasil analisis normalitas dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test disajikan pada Tabel 2. Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai Sig. > 0,05 sehingga H0 dapat diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa data tes awal dan akhir berdistribusi normal, sehingga pendekatan parametrik berupa uji t dapat digunakan dalam pengujian hipotesis. Hasil analisis uji hipotesis disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Uji Hipotesis Tes Sig. -taile. Awal-Akhir 6,535 0,001 Tabel 3 menunjukkan hasil uji hipotesis menggunakan Paired Sample t-Test. Berdasarkan hasil uji, diperoleh nilai Sig. < 0,05 maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan resistance training terhadap peningkatan massa otot atlet karate junior. Adapun persentase peningkatan ditemukan perbedaan antara pengukuran awal dan pengukuran akhir sebesar 9%. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan program resistance training selama enam minggu memberikan peningkatan signifikan pada massa otot atlet karate junior. Temuan ini mengindikasikan bahwa latihan resistensi, apabila disusun secara sistematis dan disesuaikan dengan karakteristik atlet muda, dapat menjadi stimulus yang efektif bagi adaptasi hipertrofi otot. Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi faktor fisiologis seperti aktivasi serabut otot tipe II, peningkatan rekrutmen unit motorik, dan perbaikan koordinasi intramuskular yang terjadi akibat pembebanan progresif (Tieland et al. , 2018. Wernbom & Aagaard, 2. Resistance training pada atlet junior tidak hanya meningkatkan kekuatan, tetapi juga berdampak pada penambahan massa otot tanpa mengganggu perkembangan alami tubuh (Granacher et al. , 2016. Myers et al. , 2017. Stricker et al. Peningkatan Massa Otot Melalui Resistance Training: Studi Eksperimen Enam Minggu Pada Atlet Karate Junior Indra William Farrel. Alen Rismayadi. Mulyana Mulyana. Widi Kusumah. Geraldi Novian Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suchomel et al. mengungkapkan bahwa latihan berbasis beban moderat hingga tinggi, bila diterapkan dengan teknik yang benar, dapat memicu adaptasi struktural pada otot, termasuk peningkatan penampang lintang serabut otot. Dalam cabang olahraga karate, peningkatan massa otot memiliki peran strategis. Massa otot yang lebih besar mendukung produksi gaya yang lebih tinggi saat melakukan teknik pukulan . atau tendangan . (Fareza, 2024. Fitri et al. , 2023. Hudain et al. , 2. , sekaligus memberikan stabilitas postural ketika menerima atau menghindari serangan. Selain itu, adaptasi otot yang baik dapat membantu mengurangi risiko cedera melalui peningkatan kekuatan jaringan penunjang seperti tendon dan ligamen (Arovah, 2. Oleh karena itu, peningkatan massa otot bukan hanya sekadar pencapaian estetis, melainkan komponen penting dalam kesiapan fisik atlet (Atiq et al. , 2022. Wiguna, 2. Namun, keberhasilan program ini tidak lepas dari beberapa faktor pendukung. Pertama, durasi enam minggu dengan frekuensi latihan yang konsisten memungkinkan terjadinya adaptasi awal . arly-phase adaptatio. yang signifikan pada sistem neuromuskular (Baroni et al. , 2. Kedua, pemilihan metode beban progresif yang disesuaikan dengan kemampuan awal atlet membantu menghindari kelelahan berlebih sekaligus menjaga motivasi latihan (Bompa & Buzzichelli, 2019. Halson, 2. Ketiga, pengawasan langsung dari pelatih memastikan teknik yang benar, sehingga beban kerja dapat dimaksimalkan tanpa risiko cedera (Drew et al. , 2016. Windt & Gabbett, 2. Meskipun hasilnya positif, penelitian ini memiliki keterbatasan. Sampel yang digunakan relatif kecil dan homogen, sehingga generalisasi temuan ke populasi atlet lain perlu dilakukan dengan hatihati. Selain itu, penelitian ini hanya mengukur massa otot tanpa menilai hubungan langsung dengan performa teknis dalam karate. Penelitian lanjutan sebaiknya menggabungkan pengukuran biomekanik, kekuatan maksimal, serta kinerja spesifik karate untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan panduan bahwa program resistance training berdurasi singkat namun terstruktur dapat menjadi bagian integral dari kurikulum latihan atlet karate junior. Pelatih dianjurkan untuk memadukan latihan beban dengan latihan teknik, menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas fisik dan keterampilan teknis (Burnie et al. , 2. Dengan pendekatan ini, diharapkan prestasi atlet tidak hanya meningkat dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dalam proses pembinaan jangka panjang. Perlu disadari bahwa keberhasilan atlet dalam meraih prestasi merupakan hasil integrasi dari berbagai faktor, bukan hanya teknik saja (Novian & Noors, 2. KESIMPULAN Studi menyimpulkan bahwa resistance training yang disusun secara tepat dan terukur mampu membantu atlet karate untuk meningkatkan massa otot. Secara khusus pada atlet junior, peningkatan massa otot sangat disarankan agar atlet semakin memiliki kemampuan kekuatan dan kecepatan yang Pelatih disarankan untuk mengintegrasikan resistance training yang pada program latihan yang diberikan kepada atlet karate junior agar dapat mendukung pencapaian performa maksimal dengan lebih baik lagi. DAFTAR PUSTAKA