Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI KARET DI DESA SEI. TONANG KECAMATAN KAMPAR UTARA KABUPATEN KAMPAR Eliza. Shorea Khaswarina dan Melysari Nasution Staf Pengajar Jurusan Agribisnis Faperta Universitas Riau (UR) Alumni Jurusan Agribisnis Faperta Universitas Riau (UR) ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pendapatan rumah tangga dan ketimpangan pendapatan rumah tangga petani karet di Desa Sei. Tonang Kecamatan Kampar Utara Kabupaten Kampar. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2012 sampai dengan Juni 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling terhadap 38 petani karet yang luas lahan 1-6 hektar dengan umur tanaman 20-25 tahun. Hasil Penelitian menunujukkan bahwa pendapatan petani karet di Desa Sei. Tonang dengan pendapatan diantara Rp. 913 Ae Rp. Dengan rata-rata pendapatan Rp. yang terdiri dari pendapatan sektor pertanian 97,26 % dan di luar sektor pertanian 2,74 %. Angka Indeks Gini Rasio sebesar 0,20 menunjukkan distribusi pendapatan rumah tangga petani karet sudah cukup merata dengan tingkat ketimpangan pendapatan rendah dan Kurva Lorenz mendekati garis kemerataan sempurna Kata Kunci: Karet. Distribusi pendapatan,Ketimpangan pendapatan PENDAHULUAN Pembangunan pertanian khususnya di subsektor perkebunan di daerah Provinsi Riau memiliki andil yang cukup besar untuk merealisasikan tujuan tersebut. Salah satu diantara beberapa komoditi perkebunan yang potensial dikembangkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani pedesaan di Provinsi Riau adalah karet yang sudah membudidaya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sejak tahun 1967 hingga sekarang (Irawan dan Sadikin, 2. Perkebunan karet merupakan salah satu Kabupaten Kampar yang sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat. Pada tahun 2011 Persentase perkebunan karet di Kabupaten Kampar tercatat 91. 720 Ha luas lahan dan didalamnya kecamatan Kampar Utara seluas 3. 902 Ha dengan jumlah petani 815 orang dan produksi pada tahun 2011 FMIPA-UMRI 633 ton (Dinas Perkebunan Kabupaten Kampar, 2. Desa Sei. Tonang merupakan salah satu desa dengan penduduk umumnya bergerak dibidang pertanian, seperti usahatani padi dan karet. Usahatani karet merupakan mata pencaharian pokok di desa Sei. Tonang selain usahatani padi dan pedagang. Namun produksi yang sedikit dan harga produk yang rendah sehingga pendapatan akan menurun, produksi yang sedikit ini dikarenakan banyaknya petani dengan modal terbatas (Sugiarto, 2. Kendala diatas perlu dikaji lebih mendalam agar diperoleh gambaran pendapatan di Desa Sei. Tonang Kecamatan Kampar Utara Kabupaten Kampar. Tujuan penelitian adalah menganalisis distribusi pendapatan dan ketimpangangan pendapatan rumah tangga petani karet di Desa Sei. Tonang Kecamatan Kampar Utara. Vol. 4 No. Mei2014 Jurnal Photon METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan di Desa Sei. Tonang Kecamatan Kampar Utara Kabupaten Kampar yang merupakan suatu desa di Kecamatan Kampar perkebunan karet. Objek penelitian adalah rumah tangga petani karet Desa Sei. Tonang. Metode penelitian adalah metode survey yaitu metode melalui wawancara dan pengisian kuisioner oleh responden terpilih. Populasi penelitian rumah tangga petani karet desa Sei. Tonang dengan jumlah keseluruhan petani karet adalah 150 termasuk didalamnya 50% petani dengan tanaman karet berumur 20 Ae 25 tahun. Sampel diambil sebanyak 50% dari jumlah kepala keluarga (KK) petani karet yang berumur 20 -25 yaitu 38 petani karet yang bermukim di Desa Sei. Tonang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling . dengan pertimbangan petani karet yang tanamannya berumur 20-25 tahun dan luas lahan 1 - 6 ha . iasumsikan produksinya hampir sam. Analisis data dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang diperoleh akan ditabulasikan dan kemudian dianalisis dengan berbagai perhitungan diantaranya distribusi pendapatan dengan menggunakan Indeks Gini (Gini Index Rati. Secara umum penghitungan Indeks Gini (H. T Oshima dalam Widodo, 1. dirumuskan sebagai GC = 1( Xi-1 Ae X. (Yi Yi-. GC = 1- i (Yi Yi-. Dimana: = Angka Gini Coefficient = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif dalam kelas- i Menurut Shorrock dalam Wulan 2011, pengukuran ketimpangan pendapatan dengan menggunakan alat pengukur ketimpangan Koefisien Gini dan Koefisien Variasi merupakan alat ukur yang paling baik, karena komponen penyusun Koefisien Gini dapat digunakan untuk melihat berbagai komponen yang menjadi penyebab ketimpangan yang terjadi berdasarkan komponen pendapatan dan sumber - sumber pendapatan. Kriteria Indeks Gini menurut Todaro . menetapkan kriteria: Bila angka Gini Ratio berada pada nilai < 0,4 berarti distribusi pendapatan berada pada ketimpangan rendah. Bila angka Gini Ratio berada pada nilai 0,4 Ae 0,5 berarti distribusi pendapatan berada pada ketimpangan sedang. Bila angka Gini Ratio berada pada nilai > 0,5 berarti tingkat ketimpangan distribusi yang tinggi. Distribusi pendapatan dapat juga diterangkan dengan menggunakan Kurva Lorenz. Kurva Lorenz akan memperlihatkan hubungan kuantitatif antara persentase penerima pendapatan dan persentase total pendapatan yang diperoleh. Semakin jauh jarak Kurva Lorenz dari garis diagonal . ang merupakan garis pemerataan sempurn. , maka semakin timpang atau tidak merata distribusi pendapatannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Umum Daerah Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Sei. Tonang yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Kampar Utara. Desa Sei. Tonang memiliki luas wilayah yaitu 1. Ha termasuk penggunaan lahan perkebunan karet seluas 152 ha sebagai lahan aktivitas sumber mata pencaharian masyarakat dengan penduduk sebanyak 400 Kepala Keluarga (KK) ( BPS Kampar, 2. Secara geografis keadaan Desa Sei. Tonang sebagai berikut FMIPA-UMRI Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bukit Sembilan. Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Kampar. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pulau Lawas. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Muara Jalai. Keadaan alam, iklim dan struktur tanah sangat menentukan keberhasilan produksi Desa Sei. Tonang memiliki permukaan dataran rendah dengan ketinggian tempat kurang lebih 60 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara 250C Ae 31oC dan merupakan daerah beriklim tropis (BPS Kampar, 2. Faktor-faktor tersebut dijadikan pedoman dalam menentukan tipe Usaha perkebunan karet menjadi menguntungkan di Desa Sei. Tonang dikarenakan keadaan alam, iklim dan struktur yang sesuai untuk komoditi tersebut. Identitas Petani Sampel Petani sebagai pekerja dan pengelola memegang peran penting dalam usahatani yang dituntut untuk mengoptimalkan pengalokasian secara efesien sehingga akan mempengaruhi pendapatan yang diperoleh. Keberhasilan usahatani yang dilakukan petani ditentukan oleh identitas atau potensi petani seperti faktor fisik dan faktor sosial Faktor tersebut dapat dilihat dari umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan dan pengalaman Umur Petani Sampel Umur merupakan faktor internal yang mempengaruhi kinerja atau kemampuan Seseorang yang memiliki umur lebih muda memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat dalam mengelola usahatani serta mudah dalam mengadopsi inovasi baru bila dibandingkan dengan orang yang memiliki umur lebih tua. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kuantitas produksi Pembagian berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Tingkat Umur Petani Karet di Desa Sei. Tonang No. Uraian Kelompok Umur (Tahu. > 60 Jumlah Rata-rata Sumber Data: Data olahan, 2013 Menurut Soekirno . , usia produktif berkisar antara umur 15 Ae 54 tahun. Hasil survei di lapangan menunjukan bahwa usia petani karet rata-rata berkisar antara 47 Jika dilihat dari rata Ae rata usia tersebut dapat digolongkan bahwa petani karet di Desa Sei. Tonang termasuk pada usia produktif, sehingga dapat memberikan indikasi yaitu para petani tersebut masih memiliki kemampuan dan potensi baik fisik FMIPA-UMRI Jumlah Sampel (Jiw. Persentase (%) maupun mental untuk bekerja dengan baik, sehingga bisa menghasilkan pendapatan yang memadai dan mempunyai tanggung jawab sosial terhadap penghidupan seluruh anggota Tingkat Pendidikan Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses produksi, yaitu tenaga kerja agar dapat bekerja dengan produktif, dengan begitu diharapkan dapat Vol. 4 No. Mei2014 mengatasi keterbelakangan ekonomi dengan meningkatkan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk berprestasi. Dalam penelitian ini pendidikan petani yang diamati adalah tingkat pendidikan formal yang Jurnal Photon diuraikan dari tingkat pendidikan terendah sampai yang tertinggi. Pembagian petani berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Tingkat Pendidikan Petani Karet di Desa Sei. Tonang. Tingkat Pendidikan SLTP SMA Jumlah Sumber Data: Data Olahan, 2013 Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar petani berada dalam tingkat pendidikan jenjang SLTP dan SD, yaitu sebanyak 47,37% dan 28,95%. Namun disamping itu, sebagian petani berada pada tingkat SMA sebanyak 23,68%. Petani dalam penelitian ini dapat digolongkan bahwa tingkat pendidikan petani masih rendah. Rendahnya pendidikan petani karet tersebut dapat dibantu dengan diberikannya penyuluhan atau pelatihan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun swasta seperti penyuluhan dari Dinas Pertanian. Penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan diharapkan dapat membantu petani dalam meningkatkan usaha pertaniannya dalam konteks penerapan teknologi yang lebih maju dan efisien. Dengan demikian, diharapkan juga dapat meningkatkan pendapatan petani karet. Pengalaman Usaha Tani Pengalaman berusahatani memegang peranan penting dalam proses usahatani. Jumlah (Jiw. Persentase (%) Dengan berusahatani, maka pengetahuan dan keterampilan para petani akan terus Hal ini disebabkan karena para petani sudah tahu cara atau metode bagaimana menghadapi musim tanam dan fluktuasi harga yang berubah-ubah sehingga pendapatan mereka. Tabel 3 menunjukkan bahwa pengalaman berusahatani petani cukup lama yaitu rata rata 18 tahun. Petani dengan pengalaman usaha 11-15 tahun dengan persentase 21,05%, pengalaman usaha 6-10 tahun dan diatas 20 tahun yaitu sama dengan persentase 31,58%. Petani paling sedikit dengan pengalaman usahatani 16-20 tahun yaitu sebanyak 15,79%. Hasil pengalaman usahatani petani sampel di Desa Sei. Tonang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Tingkat Pengalaman Berusahatani Petani Karet di Desa Sei. Tonang. No. Pengalaman Berusahatani (Tahu. >20 Jumlah Rata-rata Sumber Data: Data Olahan, 2013. Jumlah Sampel (Jiw. Persentase (%) FMIPA-UMRI Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 Tabel 2 menggambarkan bahwa petani karet yang menjadi sampel pada penelitian ini seharusnya telah memiliki keterampilan yang baik dalam menjalankan usahataninya terutama dalam mengalokasikan faktor produksi dan penerapan tekhnologi yang semakin baik agar dapat meningkatkan pendapatan yang mereka peroleh. Luas Lahan Pertanian Tanah sebagai harta produktif adalah bagian organis rumah tangga petani. Luas lahan usahatani menentukan pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga petani, juga akan mempengaruhi skala usaha yang dimiliki petani. Semakin luas lahan yang dimiliki maka berbanding lurus terhadap pendapatan sehingga kemungkinan penambahan pendapatan akan semakin besar, karena luas lahan sangat menentukan hasil dan produksi usahatani karet. Fadholi . dalam Putra . menjelaskan, pada dasarnya dapat dijelaskan 4 golongan petani berdasarkan tanahnya, yaitu: . Golongan petani luas (>2 H. , . Golongan petani sedang . ,5 Ae 2 H. , . Golongan petani sempit . ,5 H. , . Golongan buruh tani Tabel 4 menunjukkan sebagian besar petani sampel memiliki luas lahan sebanyak 2 Ha. Artinya, dalam teori Fadholi petani golongan petani sedang ( 0,5 Ae 2 Ha ) yang merupakan lahan sendiri dari warisan dan lahan hutan yang dibuka sendiri oleh warga, namun sebagian petani sebanyak 8 ( 22% ) jiwa tergolong kepada petani luas ( >2 Ha ) yang memiliki luas lahan lebih dari 2 Ha. Hal tersebut dikarenakan sebagian pendapatannya hasil dari merantau ke negeri jiran Malaysia di belanjakan untuk membeli lahan dari petani lain yang menjualnya. Luas lahan yang dimiliki petani sampel dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Luas Lahan Petani Karet di Desa Sei. Tonang. Luas Lahan (Hekta. 0-0,5 0,5 Ae 2 Jumlah Rata-rata Sumber Data: Data Olahan, 2013 Jumlah Tanggungan Keluarga Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah seluruh anggota keluarga yang sekolah dan yang belum bekerja serta masih berada dalam tanggungan yang bekerja dalam keluarga tersebut. Jumlah tanggungan akan berpengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Besarnya Jumlah (Jiw. Persen (%) mempengaruhi terhadap kesejahteraan petani Semakin besar tanggungan keluarga maka semakin besar pula tanggungan yang dipikul kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pada Tabel 5 dapat dilihat jumlah petani sampel karet berdasarkan jumlah tanggungan kepala Tabel 5. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Karet di Desa Sei. Tonang. Jumlah Tanggungan Keluarga (Jiw. Jumlah Rata-Rata Sumber Data: Data Olahan, 2013 FMIPA-UMRI Jumlah ( Jiwa ) Persentase (%) Vol. 4 No. Mei2014 Tabel 5 menunjukkan jumlah tanggungan keluarga petani sampel, yaitu sebanyak 60,53% petani sampel mempunyai jumlah tanggungan keluarga 4-6 jiwa, sedangkan 26,32% tanggungan keluarga 1-3 jiwa dan 13,16% keluarganya > 6. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa pada umumnya para petani memiliki jumlah tanggungan keluarga antara 4 - 6 jiwa, artinya dengan jumlah Rp. memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Distribusi Pendapatan Pertumbuhan perekonomian yang tinggi belum tentu mencerminkan pendapatan perkapita yang diterima masyarakat tinggi dan distribusi pendapatan yang adil dan merata diantara masyarakat. Distribusi pendapatan merupakan salah satu indikator yang menunjukkan tingkat kemeratan . dari suatu pendapatan yang di Jurnal Photon Distribusi pendapatan mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil dikalangan Distribusi pendapatan yang merata di kalangan masyarakat pada suatu daerah, merupakan salah satu sasaran daerah tersebut dalam melaksanakan pembangunan (Todaro, 2. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menjadi kurang berarti jika terdapat ketimpangan pendapatan yang cukup tinggi, karena jika pertumbuhan ekonomi yang tinggi disertai dengan distribusi pendapatan yang tidak merata . etimpangan yang tingg. , mencerminkan sebagian besar pendapatan di nikmati oleh sebagian kecil penduduk . olongan berpendapatan tingg. , berarti . olongan berpendapatan renda. menikmati sebagian kecil pendapatan daerah. Jika kondisi ini di alami oleh suatu daerah, menandakan tingginya tingkat kemiskinan didaerah Tabel 6. Tingkat pendapatan Keluarga Petani Karet Per Bulan Pada Tahun 2013 No. Tingkat Pendapatan (R. 000 Ae 6. 001 Ae 10. Ou 10. Jumlah Sumber: Data Primer, olah data 2013. Tabel 6. menunjukkan bahwa petani sampel terbanyak berada pada kelompok pendapatan Rp. 000 Ae Rp. yaitu sebanyak 57,89%. Artinya pendapatan dikelompok ini masih terbilang rendah yaitu terdapat sembilan petani dari 22 petani dikelompok ini yang hidup pas Ae pasan Rp. Rp. 000 untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam waktu sebulan. Biasanya petani ini hanya memiliki luas lahan 1 Ha dan memiliki pekerjaan sampingan dengan pendapatan rendah. Sedangkan pendapatan Rp. 000 Ae Rp. Jumlah . Persentase (%) 57,89 28,95 13,16 sudah dikatakan mencukupi tanggungan hidup anggota keluarganya. Kelompok pendapatan Rp. 001 Ae Rp. 000 memiliki jumlah persentase yaitu 28,95%. Artinya dengan pendapatan diatas Rp. 000 petani sudah dapat memenuhi kebutuhan pokok serta kebutuhan tersier mereka. Luas Lahan yang dimiliki petani dalam kelompok ini berkisar Ou2 Ha dengan pekerjaan sampingan yang tergolong Sedangkan kelompok pendapatan Ou Rp. 000 memiliki jumlah persentase yaitu 13,16%. Kelompok ini merupakan petani sampel yang makmur dan memiliki FMIPA-UMRI Jurnal Photon Vol. 4 No. Mei 2014 luas lahan lebih dari 3 Ha dan pekerjaan sampingan yang pendapatan besar. Pendapatan rumah tangga sampel petani karet dapat dikatakan cukup tinggi karena hanya sebagian kecil petani dengan pas-pasan, dikarenakan selain memiliki kebun karet, sebagian petani juga memiliki kerja sampingan seperti petani sawit, petani padi, peternak dan juga sebagai pedagang maupun bidang jasa. Distribusi pendapatan digunakan untuk melihat ketimpangan pendapatan antara rumah tangga di Desa Sei. Tonang. Untuk mengetahui distribusi pendapatan dilakukan dengan mengurutkan jumlah total pendapatan rumah tangga per bulan, mulai dari total pendapatan yang tertinggi. Kemudian membagi kedalam tiga kelompok yang masing-masing dibagi 40% terendah, 40% sedang, dan 20% tertinggi. Distribusi yang diterima oleh petani dapat dilihat pada Tabel Tabel 7. Distribusi Pendapatan yang Diterima Keluarga Petani Karet per Bulan Tahun 2013 di Desa Sei. Tonang Kelompok No. Petani . 40% terendah 40% menengah 20% tertinggi Jumlah Sumber: Data olahan, 2013 Total Pendapatan (R. Jumlah Responden . (%) 243,25 22,76 39,33 37,91 Tabel. 7 dalam lampiran delapan menunjukkan bahwa sebanyak 15 responden termasuk dalam golongan 40% pendapatan terendah dengan total pendapatan Rp. 22,76%, 15 responden termasuk dalam golongan 40% pendapatan menengah dengan total pendapatan Rp. 39,33%, dan 8 responden termasuk dalam golongan 20% pendapatan tertinggi dengan total pendapatan 37,91%. Artinya pendapatan petani sampel di Desa Sei. Tonang berada pada golongan ratarata pendapatan menengah yaitu antara Rp. 000 sampai dengan Rp. Indeks Gini Ratio merupakan pendekatan yang dapat menunjukkan ketimpangan atau Pendapatan Rata-Rata 913,93 134,56 314,48 ketidak merataan pendapatan antara rumah tangga responden. Pada analisa ini yang dipakai adalah kriteria Indeks Gini menurut Todaro . yang menetapkan kriteria: Bila angka Gini Ratio berada pada nilai < 0,4 berarti distribusi pendapatan berada pada ketimpangan Bila angka Gini Ratio berada pada nilai 0,4 Ae 0,5 berarti distribusi pendapatan berada pada ketimpangan Bila angka Gini Ratio berada pada nilai > 0,5 berarti tingkat ketimpangan distribusi yang tinggi. Tabel 8. Indeks Gini Rasio Pendapatan Utama (Usahatani Kare. Petani Sampel (Rp/Bula. No. Kelompok Petani . 40% terendah 40% menengah 20% tertinggi FMIPA-UMRI Pendapatan (R. Pendapatan (%) 0,18 0,40 0,42 Kumulatif (%) 0,18 0,58 1,00 Yi Yi1 0,18 0,76 1,76 fi(Yi Yi. Vol. 4 No. Mei2014 Kelompok Petani . Jumlah Indeks Gini Rasio No. Jurnal Photon Pendapatan (R. Pendapatan (%) Kumulatif (%) 1,76 Yi Yi1 2,70 fi(Yi Yi. 0,73 0,27 Sumber Data: Data Olahan, 2013 Tabel 8 menunjukkan angka Indeks Gini Rasio petani berdasarkan pendapatan dari usahatani karet. Dapat dilihat tingkat ketimpangan yang terjadi adalah sebesar 0,27 Artinya distribusi pendapatan berada dalam ketimpangan rendah jika pendapatan rumah tangga petani karet hanya bergantung sepenuhnya pada usahatani karet. Petani yang memiliki tanaman karet yang produktif dalam jumlah yang luas akan memiliki pendapatan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang memiliki luas lahan karet sedikit, semakin timpang pemilikan karet yang produktif maka akan semakin tinggi Tabel 9. Indeks Gini Rasio Pendapatan Utama dan Sampingan Petani Sampel (Rp/Bula. Kelompok Petani . 40% terendah 40% menengah 20% tertinggi Jumlah Indeks Gini Rasio Sumber: Data olahan 2013 Pendapatan (R. 229,918,243 Pendapatan (%) Kumulatif (%) 0,23 0,39 0,38 1,00 0,23 0,62 1,00 1,85 Besarnya Indeks Gini Ratio untuk petani karet berdasarkan pendapatan utama dan sampingan di Desa Sei. Tonang sebesar 0,20 yang artinya bahwa distribusi pendapatan rumah tangga petani karet tingkat ketimpangannya rendah. Nilai ini berbeda jika dibandingkan dengan nilai Indeks Gini Rasio pendapatan dari usahatani karet berkisar 0,27. Perbedaan yang didapat tidak terlalu nyata, namun rentangan nilai ini menunjukkan pendapatan rumah tangga pada wilayah yang diamati ada sumber pendapatan lain baik dari sektor pertanian maupun nonpertanian yang membawa perbaikan dalam struktur pendapatan rumah tangga dan mengurangi ketimpangan pendapatan yang terjadi pada petani karet. Penelitian ini juga didukung hasil penelitian Putra, . , dengan distribusi pendapatan berada pada ketimpang sedang dengan Gini Rasio 0,476. Ketimpangan ini Yi Yi1 0,23 0,85 1,85 2,92 fi(Yi Yi. 0,09 0,34 0,37 0,80 0,20 disebabkan perbedan dalam tingkat harga karet, luas lahan karet yang dimiliki serta adanya variasi pekerjaan sampingan rumah tangga petani karet. Sedangkan menurut Endang . , distribusi pendapatan rumah tangga di Desa Pauh Angit berada pada ketimpangan sedang dan Indeks Gini Rasio sebesar 0,32. Bedasarkan beberapa hasil penelitian di atas, bahwa kondisi distribusi pendapatan petani berada pada ketimpangan rendah hingga ketimpangan sedang. Kurva Lorenz dapat memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase penerimaan pendapatan dan persentase pendapatan total yang benar-benar mereka Semakin jauh jarak Kurva Lorenz dari garis diagonal . ang merupakan garis pemerataan sempurn. , maka semakin timpang atau tidak merata distribusi Sebaliknya, jika kurva FMIPA-UMRI Jurnal Photon semakin dekat dari garis diagonal maka Vol. 4 No. Mei 2014 distribusi pendapatan semakin merata. Gambar 1. Kurva Lorenz Distribusi Pendapatan Petani Karet di Desa Sei. Tonang Berdasarkan gambar 1. Kurva Lorenz menunjukkan sebaran distribusi pendapatan penduduk disetiap lapisan rumah tangga petani karet merata, artinya tingkat kesenjangan distribusi pendapatan petani karet rendah/, hal ini terlihat dari kemiringan kurva tidak jauh dari garis 45 derajat yang merupakan garis tolak ukur distribusi pendapatan yang merata. Kurva Lorenz diatas juga menjelaskan ketika petani sampel hanya bekerja sebagai petani karet ketimpangan pendapatan yang terjadi sebesar 0,27 yaitu dalam keadaan ketimpangan pendapatan rendah. Namun ketika petani melakukan kegiatan usaha diluar usahatani karet, ketimpangan pendapatan antar golongan petani dapat berkurang hingga sebesar 0,20. Meskipun keduanya berada dalam keadaan ketimpangan rendah. Namun dari penambahan kegiatan diluar usahatani Dapat dilihat pergeseran kurva dari pendapatan usahatani karet ke kurva pendapatan petani dari pertanian dan non pertanian sebesar 0,07 yaitu dari golongan 40% terendah menerima 18% dari total pendapatan, 40% menengah menerima pendapatan 40% dari total pendapatan, dan FMIPA-UMRI 20% tertinggi menerima 42% dari total pendapatan bergeser ketitik golongan 40% terendah menerima 23% dari total pendapatan, 40% menengah menerima pendapatan 39% dari total pendapatan, dan 20% tertinggi menerima 38% dari total KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian serta analisis yang diperoleh terhadap rumah tangga petani karet di Desa Sei. Tonang Kecamatan Kampar Utara dapat diperoleh kesimpulan: Pendapatan rumah tangga petani karet di Desa Sei. Tonang berkisar antara Rp. 913 Ae Rp. Dengan ratarata pendapatan Rp. yang terdiri dari pendapatan sektor pertanian 97,26 % dan di luar sektor pertanian 2,74. Distribusi pendapatan rumah tangga petani karet sudah cukup merata dengan Angka Indeks Gini Rasio sebesar 0,20 dan tingkat ketimpangan pendapatan rendah serta Kurva Lorenz mendekati garis kemerataan sempurna. Saran Petani agar dapat mempertahankan dan meningkatkan distribusi pendapatan yang Vol. 4 No. Mei2014 diperoleh saat ini dengan melihat kepada peluang-peluangan yang ada sebagai sumber pendapatan sampingan. DAFTAR PUSTAKA