Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Aryan Torrido Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Korespondensi aryan.torrido@uin-suka.ac.id; Telp 081904049274. Diterima: 21 Juli 2024; Disetujui: 25 Juli 2025; Diterbitkan: 31 Agustus 2025 Abstrak: Masih banyak pelaksanaan program CSR yang hanya terfokus pada pengumpulan donasi berupa uang dan barang daripada program yang terfokus pada pemberdayaan, terlebih lagi yang menerapkan konsep bisnis sosial sebagai sebuah konsep yang menggunakan pendekatan keberlanjutan dengan tujuan menciptakan kemandirian dari komunitas sasaran. Fenomena donasi dalam program CSR di Indonesia kerap memicu moral hazard, mengaburkan tujuan utama CSR sebagai upaya pemberdayaan berkelanjutan. Karenanya perlu banyak kajian pemberdayaan yang menggunakan pendekatan keberlanjutan seperti bisnis sosial atau kewirausahaan sosial, maka fokus artikel penelitian pada kajian penerapan model bisnis sosial di program CSR Pengklik Flory. Agar dapat menyajikan gambaran mendalam, metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan prespektif analisis deskriptif. Kajian ini memperoleh gambaran model bisnis sosial bersinggungan, dimana output pemberdayaan ekonominya menjadikan kelompok usaha Pengklik Flory sebagai supplier tanaman hias dan keras bagi Badan Usaha Milik Negera Taman Wisata Candi (BUMN TWC) sebagai perseroan pengelola taman di Kawasan Candi Borobudur, Prambanan, dan Boko. Rumusan model bisnis sosial diperoleh dari hasil pengawasan evaluasi tahapan penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi beserta melihat karakter lokalitas komunitas sasaran. Kata kunci: bisnis sosial, pemberdayaan ekonomi, komunitas sasaran Abstract: There are still many CSR programs that focus primarily on collecting donations in the form of money and goods rather than on programs focused on empowerment, especially those that implement the concept of social business as a sustainable approach aimed at creating independence within the target community. The phenomenon of donations in CSR programs in Indonesia often triggers moral hazard, obscuring the primary goal of CSR as sustainable empowerment. Therefore, more studies on empowerment using sustainable approaches, such as social business or social entrepreneurship, are needed. This article focuses on examining the application of the social business model in the Pengklik Flory CSR program. To provide an in-depth description, the research method used is qualitative with a descriptive analysis perspective. This study provides an overview of an interconnected social business model, where the economic empowerment output makes Pengklik Flory’s business group a supplier of ornamental and hardwood plants for the State-Owned Enterprise of Taman Wisata Candi (BUMN TWC), the company that manages the parks in the Borobudur, Prambanan, and Boko Temple areas. The formulation of the social business model is derived from the results of evaluation supervision at the stages of awareness, capacity building, and empowerment, while also considering the local character of the target community. Keywords: : social business, economic empowerment, target community 1 Pendahuluan Penggunaan istilah CSR (Coorporate Social Responbility) di Indonesia, mayoritas digunakan perseroan swasta sedangkan dewasa ini perseroan milik negara atau BUMN lebih banyak menggunakan istilah “Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan” (TJSL) merujuk merujuk Peraturan Menteri Sosial Nomer 19 Tahun 2020 sebagai petanda aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana aktivitas sosial disini merupakan bentuk kegiatan yang bersinggungan dengan kemasyarakatan dan pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan alasan kemunculan konsep CSR yang ditujukan untuk mendorong perseroan terlibat lebih banyak dalam aktivitas sosial diluar aktivitas yang berorientasi profit yang dilakukannya yang seringkali dianggap banyak pihak hanya https://ejournal.kemensos.go.id/index.php/jsk/article/view/3471 DOI : 10.33007/ska.v14i3.3471 236 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 mendepankan efisiensi biaya sehingga hirau terhadap permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat dan atau lingkungan sekitar sebagai dampak operasionalisasi produksi yang dilakukan oleh perseroan. Penggunaan terminologi ‘Perseroan’ dalam artikel ini merujuk ketentuan keberlangsungan kegiatan CSR di Indonesia, dimana aktivitas sosial perusahaan bersifat mandatory bagi perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT), sehingga banyak literatur kajian CSR di Indonesia menggunakan istilah perseroan dalam penjelasannya. Melihat sifat dan tujuan CSR seharusnya keterlibatan perseroan dalam pembangunan sosial di Indonesia tinggi, namun berdasarkan hasil telaah pelaksanaan kegiatan CSR Indonesia, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa masih banyak perseroan tidak melaksanakan kegiatan CSR atau pelaksanaannya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja (Nugraheni et al., 2022) dan (Khoirunnisa & Muhammad, 2022). Penyebab kurang optimalnya pelaksanaan kegiatan CSR dalam pembangunan sosial, meliputi; (1) belum ada institusi yang berfungsi sebagai polisi CSR, (2) belum ada undang-undang atau peraturan pemerintah pusat atau daerah yang mengatur prosentase penghasilan tahunan yang dialokasikan untuk aktivitas sosial perseroan, merujuk beberapa regulasi CSR seperti Undang-Undang No 40 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 dan dan Peraturan Menteri Sosial No 19 Tahun 2020 memang mewajibkan pelaksanaan CSR, namun belum mengatur secara spesifik serta eksplisit mengenai besaran dana yang harus dialokasikan, maupun mekanisme penegakannya beserta institusi khusus yang berwenang sebagai penegak hukum pelaksanaan Kegiatan CSR di Indonesia. Jadi, bisa ditafsirkan CSR di Indonesia bersifat mandatory namun pelaksanaannya hanya mengandalkan inisiatif perseroan. Apakah ini penunjuk kuatnya bargaining power perseroan seperti umumnya yang terjadi di banyak negara. Perlu pembuktian atau diskusi ilmiah lebih lanjut untuk membuktikan perihal tersebut. Hal krusial, adanya pengembangan moral hazard yakni kesalahpahaman di masyarakat mengenai tujuan utama pelaksanaan kegiatan CSR di Indonesia yang tidak lebih sekedar bagi-bagi donasi atau charity bukan pemberdayaan berkelanjutan. Padahal lahirnya CSR di dunia ini untuk mendorong perusahaan agar mau melakukan kegiatan pemberdayaan berkelanjutan dalam penyelesaian masalah sosial dan atau lingkungan, hal ini ada dalam Undang-Undang No 40 Tahun 2007 (UU CSR). Pendekatan pemberdayaan (empowerment) dipandang efektif dalam penyelesaian masalah sosial yang tidak hanya memberikan bantuan materi namun terdapat keberlangsungan tahapan penyadaran dan tahapan pelatihan sehingga membutuhkan sumberdaya lebih besar daripada donasi, karenanya pemberdayaan seringkali disebut ‘proses tumbuh’ menjadi well being. Faktor biaya menjadi pertimbangan perseroan sebagai lembaga profit oriented yang landasan operasionalisasinya terletak pada penekanan biaya serendah-rendahnya demi perolehan keuntungan sebesar-besarnya tentunya ‘enggan’ untuk menjalankan kesemua tahapan-tahapan pemberdayaan, selain itu terdapat anggapan bahwa pemberdayaan merupakan kegiatan yang tidak dapat diprediksi hasil dan keberlanjutannya, sehingga kinerjanya susah diukur dibandingkan aktivitas pemberian (donasi). Dengan demikian, kemudian muncul pendekatan Creating Shared Value (CSV) dalam pelaksanaan kegiatan CSR, sebuah pendekatan pemberdayaan yang berkaitan value chain perseroaan dengan tujuan menciptakan nilai keuntungan bersama; baik perseroan dan komunitas sasaran (Torrido, 2023). Dimana keuntungan yang diperoleh perseroan bisa berupa pendapatan dan atau efisiensi biaya sedangkan keuntungan masyarakat adalah terselesaikan masalahnya. Pendekatan CSV merupakan turunan konsep kewirausahaan atau bisnis sosial sebuah pendekatan mekanisme bisnis yang berpijak pada pemberdayaan ekonomi dalam penyelesaian masalah kemiskinan dan atau lingkungan, salah satu perbedaan kedua konsep tersebut terletak pada tujuan; untuk CSV tujuannya hanya satu kegiatan pemberdayaan ekonomi sedangkan pemberdayaan ekonomi komunitas dalam bisnis sosial merupakan awal penciptaan komunitas mandiri. Namun demikian tujuan penerapan pemberdayaan ekonomi keduanya sama, yakni proses menjadikan komunitas sasaran mau dan mampu menerapkan sebuah inovasi sosial. Maka dari itu, implementasi proses mencerminkan keberlangsungan tiga tahapan, yakni penyadaran, pengkapasitasan dan pendayaan (Lansing et al., 2023). Ketiga tahapan ini dinilai efektif sebab terdapat pendekatan psikologis untuk Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 237 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 penumbuhkembangan kemauan komunitas, yaitu tahapan penyadaran sebagai fase awal penumbuhkembangan keyakinan bisa sebagai modal awal keberhasilan tahapan selanjutnya. Secara mendalam, pendekatan CSV maupun bisnis sosial sama-sama ramah terhadap karakter perseroan karena keduanya memaknai sumberdaya-sumberdaya yang dikeluarkan perseroan dalam kegiatan pemberdayaan sebagai bentuk ‘investasi sosial’ yakni sesuatu yang diharapkan kembali, tuntutan pengembalian diaplikasikan ke dalam bentuk kerjasama bisnis antara perseroan dengan komunitas sasaran. Terdapat empat model bisnis sosial yang diterapkan setelah komunitas sasaran menjalani pelatihan, yang meliputi pengkondisian komunitas sasaran sebagai (1) pekerja di social enterprise, (2) sebagai supplier dan atau reseller produk social enterprise, (3) share profit, dan model terakhir (4) model campuran (Torrido, 2021). Model pendekatan CSV masih jarang sekali dilakukan oleh perseroan swasta dan perseroan milik negara, demikian pula pendekatan bisnis sosial, namun mulai tahun 2022 telah keluar Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-6/MBU/09/2022 yang mewajibkan perseroan milik negara mulai Tahun 2022 untuk membuat satu kegiatan CSR dengan pendekatan CSV dalam satu tahun pelaporan (Hutomi, 2023). Adanya penggunaan data berbasis angka dalam Permen ini, mencerminkan bahwasanya pelaksanaan kegiatan CSR masih lebih mengedepankan target kuantitatif daripada kualitas. Terlepas hal itu, adanya Permen bisa disikapi sebagai pintu masuk penumbuhkembangan terminology keberlanjutan dalam pelaksanaan kegiatan CSR yang selama ini masih sedikit dilakukan. Bahkan banyak terjadi di beberapa daerah mengenai kegiatan-kegiatan pemberdayaan baik program CSR atau bukan, ataupun baik dilakukan oleh pemerintah atau swasta yang berakhir tragis yakni hasil pemberdayaan hanya menjadi artefak fisik tanpa ada keberlanjutan, seperti kurang optimalnya atau berhenti beroperasinya Program Balai Ekonomi Desa (Balkondes) di beberapa desa. Fenomena lain yang dapat diamati adalah adanya perubahan fungsi pada satu atau beberapa lahan yang berlangsung secara dinamis. Perubahan ini dilakukan secara sengaja oleh masyarakat sebagai respons adaptif terhadap berbagai tawaran aktivitas sosial yang muncul. Sebagaimana di provinsi lain, pendekatan CSV masih jarang terlihat dalam program CSR yang diselenggarakan di provinsi DIY. Namun, pendekatan ini bukan berarti tidak pernah dilakukan. Data (UNICEF, 2014) menyebutkan program CSR yang dilakukan oleh PT. Sari Husada di tahun 2019-2020 dengan melibatkan kelompok ternak telah menggunakan pendekatan CSV dalam perencanaan program-nya. Namun terdapat satu BUMN bergerak di sektor jasa pariwisata yang berpusat di Provinsi DIY yaitu Taman Wisata Candi (TWC) pada tahun 2022 membuat Pengklik Flory sebagai program CSR unggulan berupa pemberdayaan budidaya tanaman hias dan keras yang diselenggarakan di Dusun Pengklik, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, DIY. Menurut hasil wawancara dengan Ismi (42 thn) manajer TJSL PT. TWC; ”kegiatan CSR unggulan ini dimulai dengan penumbuhkembangan usaha budidaya tanaman yang nantinya dilanjutkan untuk kegiatan pemberdayaan di lingkup pendidikan dan Kesehatan pelaksananya adalah EmirTusin Corp, perusahaan konsultan CSR”. Hasil wawancara menunjukkan adanya komitmen perseroan untuk menciptakan Masyarakat Padukuhan Pengklik-Madurejo mandiri, dan ini merupakan cerminan tujuan pendekatan kewirausahaan sosial. Terdapat dua hal yang membuat lokasi penelitian ini menarik; (1) BUMN TWC sebagai pelaksana program CSR Pengklik Flory memperoleh penghargaan TOP CSR Awards di tahun 2023 dari Top Business melalui program tersebut, dan ini merupakan penghargaan yang kesekian kalinya (Pengantar, 2022). (2) Menurut hasil wawancara dan pengamatan penulis di lokasi penelitian, Desa Madurejo sebagai daerah yang ketempatan program CSR unggulan ini merupakan wilayah langganan kegiatan pemberdayaan, baik dari lembaga pendidikan, pemerintahaan maupun BUMN. karena secara statistik demografi merupakan wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak (530 KK) di Kecamatan Prambanan (A. H. Wibowo et al., 2020). Sehingga bisa dikatakan bahwa pelaku dan 238 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 komunitas sasaran merupakan pihak berpengalaman dalam pelaksanaan pemberdayaan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian kegiatan pemberdayaan ekonomi yang terjadi sebagai upaya untuk memperoleh gambaran model bisnis sosial pada program CSR Pengklik Flory di Desa Madurejo. 2. Metode Artikel ini merupakan hasil penelitian studi kasus tunggal holistik, suatu kegiatan penelitian eksplorasi pada satu kasus melalui pengumpulan data mendalam. Dimana penelitian studi kasus ini menekankan pada kedalaman makna dalam melihat serangkaian tahapan pemberdayaan Pengklik Flory untuk memperoleh gambaran model kerjasama bisnis antara BUMN TWC dengan masyarakat. Maka tahapan-tahapan pemberdayaan yang terjadi juga membutuhkan adanya analisa pemahaman (interpretative understanding) sehingga dalam konteks ini pilihan metode kualitatif semakin relevan untuk menggali makna terdalam dari tindakan aktor dan komunitas dalam suatu masyarakat. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian serta Jarak ke Kantor BUMN TWC di Candi Prambananan Sumber: Google Map (Modifikasi) Fokus lokasi penelitian pada Pengklik Flory, merupakan kelompok usaha budidaya tanaman hias dan keras di Padukuhan Pengklik, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Provinsi DIY (Gambar 1) yang terlahir dari program CSR unggulan BUMN TWC pada tahun 2022. Sehingga penentuan informan penelitian menggunakan pendekatan purposive sampling; penetuan informan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2020). Pertimbangan yang digunakan adalah derajat pemahaman tinggi terhadap proses pemberdayaan Pengklik Flory (lihat Tabel 1). No Tabel 1. Daftar Informan Penelitian Nama Informan dan Umur Jabatan dan Peran dalam Pemberdayaan Pengklik Flory 1 Totok (43 Thn) 2 Supri (52 Thn) 3 Masrianto (38 Thn) 4 Desi (39 Thn) Carik Desa Madurejo, merupakan perwakilan pemerintah, dan banyak berperan sebagai mediator dan informator kegiatan Ketua pertama Kelompok Pengklik Flory, merupakan sasaran kegiatan yang ditunjuk masyarakat Pengklik, dan banyak berperan sebagai informator dan peserta kegiatan Anggota Pengklik Flory, merupakan sasaran kegiatan yang ditunjuk masyarakat Pengklik, berperan sebagai informator dan peserta kegiatan Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 239 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 5 Ismi (47 Thn) 6 Anita (44 Thn) Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Pengklik, merupakan warga Dusun Pengklik yang banyak membantu sebagai fasilitator kegiatan pemberdayaan Manajer TJSL di BUMN TWC, merupakan perwakilan perseroan, berperan sebagai informator kepentingan perseroan Direktur EmirTusin Corp, merupakan pimpinan lembaga konsultan BUMN TWC, berperan sebagai ketua pendamping kegiatan Penggunaan metode pengumpulan data seperti umumnya penelitian kualitatf; wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan pendekatan triangulasi metode dan sumber dalam menghasilkan kebenaran data (Sugiyono, 2020). Dalam wawancara menggunakan teknik deep interview semi struktur yang dipandang lebih tepat digunakan untuk penggalian pengalaman informan secara mendalam, tujuannya untuk memperoleh data pelaksanaan dan keberlanjutan kegiatan pemberdayaan. Sementara untuk teknik non partisipan digunakan dalam aktivitas observasi, merupakan pengamatan tidak langsung, tujuannya untuk melihat workspace dan aktivitas harian Pengklik Flory. Sedangkan dokumentasi foto dan arsip laporan kegiatan pemberdayaan digunakan sebagai kelengkapan sekaligus cross- check data sama dengan metode lain. Untuk analisis data menggunakan metode interaktif (Sugiyono, 2020), dimana data lapangan yang diperoleh kemudian dikategorikan berdasarkan tahapan pemberdayaan yaitu penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan (Purnomo et al., 2020) disajikan dalam bentuk narasi, gambar dan atau tabel sembari ditarik kesimpulan untuk mengetahui kekurangan data, kalau ada kekurangan data maka ditindaklanjuti dengan kembali ke lokasi penelitian. Adapun pengumpulan data dimulai dari awal Bulan April sampai akhir Bulan Juni 2024. Untuk memahami strategi media sosial yang dijalankan dalam mendukung akses informasi bagi teman tuli, bagian ini menyajikan hasil penelitian yang terbagi ke dalam dua fokus utama. Pertama, mengenai profil akun silang.ig sebagai aktor utama dalam memproduksi konten digital yang inklusif, dan kedua mengenai analisis konten media sosial yang digunakan dalam membangun interaksi dan advokasi digital yang ramah disabilitas. Kedua bagian ini disusun untuk menggambarkan secara menyeluruh konteks sosial, pola komunikasi, serta pendekatan strategis yang diterapkan dalam praktik komunikasi digital yang mendukung prinsip dalam praktik pekerjaan sosial. 3. Hasil dan Pembahasan Model bisnis sosial bersinggungan langsung dengan pemberdayaan ekonomi komunitas yang merupakan inti penggerak bisnis sosial. Sehingga pelaksanaan pemberdayaan ekonomi pada program CSR Pengklik Flory sangat relevan untuk menjadi domain analisis artikel ini. Kelompok Pengklik Flory merupakan kelompok usaha budidaya tanaman hias dan keras yang terlahir dari Program CSR. Ide budidaya tanaman berasal dari Divisi TJSL sementara untuk penentuan lokasi dan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dilakukan oleh Tim dari Emirtusin Corp sebuah lembaga konsultan pemberdayaan berpusat di Provinsi DIY yang ditunjuk oleh BUMN TWC sebagai penanggung jawab keberlangsungan kegiatan. Kegiatan awal pemberdayaan berlangsung dari Bulan Juni 2022 sampai dengan Bulan Februari 2023, dikatakan awal karena kegiatannya direncanakan berkelanjutan (sustainabilty), output awal kegiatan adalah membuat mekanisme kerjasama bisnis dengan BUMN TWC untuk menciptakan tambahan pendapatan keluarga melalui penumbuhkembangan motivasi berkembang/motivation well being (penyadaran), pembentukan kelompok usaha serta capacity building budidaya tanaman hias dan keras (pengkapasitasan), pembuatan infrastruktur workspace dan display 240 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 tanaman hias beserta keras dan penyusunan kerjasama bisnis dengan pemberdaya yakni BUMN TWC (pendayaan). Penentuan lokasi pemberdayaan di Padukuhan Pengklik Desa Madurejo dengan pertimbangan; (1) daerah agraris, (2) jumlah keluarga miskin terbanyak dibanding daerah lain di Kecamatan Prambanan, (3) terdapat kelompok budidaya beras merah dan organik dengan pendampingan dari UGM, sehingga dapat menjadi bagian yang mendukung keberadaan Pengklik Flory (4) termasuk kategori ring 1 atau masuk kedalam wilayah terdekat dengan kantor BUMN TWC (radius ± 5 km), dimana kantor pusat BUMN TWC berada di dalam Kawasan Candi Prambanan, (5) terdapat rintisan infrastruktur desa wisata seperti adanya Pengklik Café dan taman. Penegasan empat pertimbangan terlihat dari hasil wawancara dengan Anita (44 Thn); Tindak lanjut keinginan TWC untuk membuat budidaya tanaman hias dan keras adalah melakukan observasi dan pengumpulan data terkait daerah yang cocok untuk kegiatan ini. Pertimbangannya jarak dekat dengan kantor TWC, kecocokan tema kegiatan dengan keterampilan utama komunitas, dan adanya kemungkinan kolaborasi. Dan ini ada di Dusun Pengklik, yang sudah memiliki kelompok budidaya beras merah (± 2 tahun) sehingga berpeluang untuk dikolaborasikan. (Yogyakarta, 15 April 2024) Jumlah anggota komunitas sasaran (2022) adalah 14 orang, terdiri 25% (3 orang) merupakan warga yang dikategorikan inovator sedangkan sisanya 75% (11 orang) merupakan warga Pengklik berprofesi petani dan memiliki pendapatan rendah, sampai dengan awal tahun 2024 jumlah yang tercatat masih sama. Adanya warga inovator dalam komunitas sasaran, ditujukan sebagai penggerak komunitas dan pengelola Pengklik Flory. Dalam kategori yang dirumuskan oleh penulis, warga inovator adalah bagi warga yang sering terlibat kegiatan pemberdayaan di wilayahnya, dan merupakan pengelola desa wisata. Pemilihan dan penentuan anggota komunitas sasaran didasarkan pada aspirasi lokal termasuk perencanaan kegiatan pemberdayaan yang meliputi perumusan perancangan materi beserta waktu pelatihan, lokasi dan desain workspace dan display tanaman, aneka tanaman hias beserta tanaman keras yang akan ditanam serta klausul kerjasama bisnis yang melibatkan kesemua komunitas sasaran dan Totok (43 Thn) yang menjabat sebagai Carik Desa Madurejo. Perancangan tahapan penyadaran tidak melibatkan komunitas dikarenakan tahapan ini merupakan tahapan pendekatan psikologis pada komunitas, agar mau menerima inovasi sosial yakni budidaya tanaman hias dan keras, jenis aktivitas yang belum pernah dilakukan karena selama ini fokus pertaniannya adalah padi. Budidaya tanaman hias dan keras dipilih bukan karena karakter rakyat Pengklik sebagai masyarakat agraris saja, namun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku utama aktivitas produksi BUMN TWC sebagai perseroan negara pengelola semua taman yang berada di Kawasan Candi Prambanan, Boko, Borobudur, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Melihat fakta lapangan yang telah dijelaskan di atas, terlihat bahwasanya partisipasi komunitas terhadap kegiatan sangat luas; dari hulu sampai hilir pemberdayaan, bukan hanya sebagai peserta atau obyek pemberdayaan tapi terlibat dalam perencanaan dan penyusunan kegiatan. Selain itu, mereka turut serta dalam pengambilan keputusan terkait pemilihan prioritas kegiatan yang dianggap paling relevan dengan kebutuhan mereka, sehingga menunjukkan tingkat keterlibatan yang lebih dari sekadar memberi masukan, tetapi juga berkontribusi dalam proses implementasi program tersebut (subyek pemberdayaan atau involvement). Maka bisa dipastikan kegiatan pemberdayaan Pengklik Flory ini menggunakan strategi pendekatan bottom up, suatu pendekatan perencanaan kegiatan yang melibatkan peserta secara menyeluruh (Stone et al., 2020). Implementasi perihal tersebut termaktub kedalam keberlangsungan kegiatan need assessment yang terselenggarakan setelah observasi dari tim Emirtusin corp, yang didalamnya terdapat aktivitas FGD (Forum Group Discussion) yang diikuti 14 orang dalam meramu sumberdaya lokal kedalam perencanaan, dimana semua peserta berperan sebagai involvement. Sehingga bisa dikatakan kegiatan pemberdayaan yang dilangsungkan menggunakan kaidah pemberdayaan yang semestinya, dimana tingkat efektivitas-nya tergolong tinggi terlihat dari tercapainya output pemberdayaannya yakni terjalinnya hubungan kerjasama bisnis antara Kelompok Pengklik Flory dengan BUMN TWC terhitung bulan Januari 2024. Hal ini, seperti yang Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 241 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 disampaikan Ismail dalam penelitian tahun 2022 (Ismail et al., 2022) dan dan hasil penelitian Kiteto (Districts et al., 2020) di tahun 2020, keduanya menyimpulkan keterlibatan masyarakat yang tinggi dalam penyusunan program berpengaruh signifikan dalam peningkatan efektivitasnya kegiatan pemberdayaan. Untuk penyederhanaan penjelasan keterlibatan komunitas sasaran, bisa dengan melihat visualisasi gambar penjelasannya yang ada di Gambar 2. Penentuan tema umum program CSR (oleh Perseroan TWC) Perencanaan Tahapan dirancang oleh Tim EmirTusin Corp Tahapan Pengkapasitasan Pemilihan lokasi & Observasi (oleh Tim EmirTusin corp) Need Assesmen (oleh Tim EmirTusin corp) Tahapan Penyadaran Perencanaan & Pelaksanaan Tahapan dirancang oleh Tim EmirTusin Corp bersama komunitas sasaran Tahapan Pendayaan Gambar 2. Hubungan Tahapan-Tahapan dan Aktor Pemberdayaan Pengklik Flory Sumber: Analisis Data Lapangan Penelitian Selain keterluasan partisipasi komunitas sasaran dalam pelaksanaan tahapan-tahapan pemberdayaan, terlihat bahwasanya ketiga tahapan pemberdayaan dilakukan dalam kegiatan pengembangan usaha budidaya tanaman hias dan keras Pengklik Flory ini. Semakin menunjukkan primordial matter bisnis sosial adalah community economic development seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sebagai bukti, 14 anggota Kelompok Pengklik Flory terlibat langsung dalam tahapan perencanaan, pelatihan, dan implementasi serta berhasil memperoleh pendapatan sampingan dari usaha kelompok budidaya. Keberhasilan ini semakin memperkuat bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam program ini tidak hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. Untuk lebih mendalami model bisnis sosial di Pengklik Flory, terlebih dahulu membahas mengenai pelaksanaan tahapan-tahapan pemberdayaan, ketiga tahapan dijelaskan di bawah; 3.1. Tahapan penyadaran Terdapat satu tahapan di dalam kegiatan pemberdayaan yang tujuannya adalah menciptakan kesadaran akan pentingnya hal baru (Ceasar et al., 2017). Berpijak prespektif pemikiran bisnis sosial; hal baru yang disampaikan Caesar berarti nilai baru dalam inovasi sosial yang dibawa oleh pemberdaya merupakan tindak lanjut ide kreatif penyelesaian permasalahan komunitas sasaran dengan pendekatan bisnis. Inovasi sosial yang terumuskan dalam program SCR Pengklik Flory terdiri atas 2 bentuk; (1) pengembangan kelompok usaha budidaya tanaman hias beserta keras, dan (2) kerjasama bisnis dengan BUMN TWC. Kedua bentuk ini merupakan hal baru bagi masyarakat Padukuhan Pengklik maupun Desa Madurejo, seperti yang disampaikan Totok (44 Thn) Carik Desa Madurejo; Usaha budidaya tanaman hias dan keras merupakan aktivitas baru bagi masyarakat Madurejo, agrobisnis yang pernah dilakukan lebih ke pengembangan beras organik bersama UGM…nanam tanaman hias di rumah saja masih jarang dilakukan kebanyakan dilakukan kelas atas di kampung kami. Mengenai Kerjasama bisnis dengan TWC merupakan hal baru juga yang menjanjikan…membuat antusias peserta (Yogyakarta,1 Meil 2024) 242 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 Hubungan bisnis dengan kelompok Pengklik Flory merupakan kerjasama dengan komunitas sasaran dampingan program pemberdayaan yang baru pertama kali dilakukan oleh TWC, sebagai bentuk tindak lanjut PERMEN BUMN Tahun 2022. Tahapan penyadaran di Program CSR Pengklik Flory terlihat pada adanya upaya penumbuhkembangan motivasi kewirausahaan (entreprenerual motivation) atau motivasi inovatif, upaya ini penting diadakan karena sebelumnya komunitas belum pernah terlibat langsung dalam agrobisnis. Sehingga dirasa perlu untuk menanamkan nilai-nilai kepercayaan berpikir inovatif, mengingat komunitas nantinya sebagai pengelola kelompok usaha budidaya tanaman. Materi penyadaran berkaitan dengan; (1) penananaman pengetahuan dan perilaku self talk positif atau memberdayakan diri seperti pembiasaan ketika bicara dengan diri sendiri dengan menggunakan katakata yang membangung diri, (2) penumbuhkembangan dan manfaat sikap kolegial, (3) membangun motivasi belajar sebagai pematik ide kreatif, (4) success story pengusaha lokal. Kesemua materi diberikan oleh Tim Emistusin corp melalui dua format yaitu; khusus dan tidak khusus. Format khusus adalah pola penyampaian materi motivasi kewirausahaan yang terjadwal, sehingga dalam pelaksanaan bersifat formal artinya terdapat undangan tertulis untuk peserta dan penyampaian materi yang terkondisikan formal, pemateri pada bentuk ini merupakan salah satu pengusaha sukses dari Yogyakarta yang bergerak di bidang budidaya tanaman hias dan keras. Pelaksanaan kegiatan di Pengklik Café, berlangsung ± 8 jam per 1 hari. Materi kegiatannya terbilang efektif dalam menggugah semangat berwirausaha, komunitas mengetahui bagaimana dinamika menjalankan suatu usaha, seperti yang disampaikan Masrianto (38 Thn) merupakan salah satu anggota komunitas sasaran: Selama ini kami beranggapan buka usaha itu hanya butuh modal besar saja…ternyata tidak, terpenting adalah memiliki pemikiran positif yakin bisa..semua pasti ada solusi tinggal bagaimana merumuskan solusi dari melihat masalah yang ada dikaitkan dengan kemungkinan atau peluang yang ada juga,,,intinya selalu mau belajar dan bertanya pada orang yang tepat. (Yogyakarta,1 Meil 2024) Sementara format tidak khusus, merupakan pola penyadaran yang dilakukan pemberdaya sepanjang interaksi dengan komunitas sasaran, baik interaksi antar individu (man to man marking) maupun kelompok tanpa terkondisikan secara formal. Hal ini bisa terjadi karena sudah ada kesepakatan antar pemberdaya (anggota tim EmirTusin Corp) yang memiliki kesempatan bertemu dengan komunitas sasaran diminta untuk memanfaatkan momentum tersebut sebagai waktu membangun motivasi kewirausahaan komunitas sasaran. Penerapan pola tidak khusus terbilang lebih lama dibandingan dengan format khusus karena mulai dilakukan sejak engagement atau perkenalan sampai dengan sekarang (baca tahun 2024) walau terkadang hanya lewat whatsapp group. Adanya kedua format atau pola dalam tahapan penyadaran tidak bermakna tunggal (independent) tetapi terikat satu dengan lain (dependent), selain membuktikan bahwa perubahan perilaku adalah proses tumbuh perlahan (moving gradual) artinya membutuhkan waktu yang tidak sebentar (but long term). Upaya membangun kesadaran baru sebagai tujuan tahapan penyadaran bersinggungan langsung dengan pembentukan perilaku baru; (1) perilaku komunitas sasaran dalam pertanian padi didorong untuk melakukan budidaya tanaman hias dan keras yang memiliki corak pengelolaan berbeda walaupun prinsip dasar sama, selain (2) perilaku bisnis secara kelompok merupakan hal baru. Lebih lanjut, jikalu merujuk hasil monitoring usaha kelompok Pengklik Flory, memperlihatkan adanya penerapan metode trial error dalam menumbuhkan kesadaran berwirausaha, dimana dinamika kelompok menumbuhkan kedewasaan perilaku usaha masing-masing anggota. Setelah pelatihan dan pembangunan selesai, kami diminta mengelola kelompok usaha sendiri, wah…banyak masalah muncul, lah bikin usaha merupakan pengalaman pertama kali buat kita semua….dari dulu ndak pernah sama sekali berbisnis sih..,apalagi bisnis tanaman, inti malah yang muncul pokoknya lebih pada penyamaan pikiran dan tindakan biar bisa jalan bersama. Konflik muncul tapi terus inget komitmen pas pelatihan dulu untuk selalu bersatu membuat kita mikir lalu….ada yang mengalah. (Wawancara dengan Supri, ketua kelompok usaha budidaya, di Yogyakarta, 8 Meil 2024) Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 243 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 3.2. Tahapan pangkapasitasan Selain membangun kesadaran, kegiatan pemberdayaan menyentuh pembangunan aspek pengetahuan dan atau keterampilan selain itu aspek pembentukan kelompok dimana kedua aspek tersebut menjadi output tahapan pengkapasitasan (Wali et al., 2017). Pelaksanaan kedua aspek tedapat dalam rangkaian kegiatan program CSR ini, menggunakan format kegiatan pelatihan dan praktek yang dilaksanakan selama 7 hari (24-30 November 2022) di Pengklik Café. Materinya meliputi penyediaan media tanam, cara menanam tanaman hias dan keras, metode penghitungan harga pokok penjualan produk, terakhir berkenaan dengan cara menyemai dan mengikatkan tanaman. Pemateri adalah tim EmirTusin Corp, metode pelatihan ceramah, curah pendapat dan diskusi yang diikuti 14 orang (komunitas sasaran). Materi-materi pelatihan merupakan aspirasi komunitas sasaran hasil asesmen kebutuhan, terlihat tidak ada materi pengelolaan tanah dengan pupuk karena dominasi pengetahuan dan keterampilan komunitas adalah pertanian, sehingga secara mendasar mereka sudah terbiasa dan menguasai teknik pengelolaan tanah agar senantiasa terkandung kesuburan tinggi. Lanjutan pelatihan adalah kegiatan pembentukan kelompok, berkaitan dengan nama, struktur beserta tata nilai (kelembagaan). Dimana pemberdaya (baca: Tim EmirTusin Corp) hanya menjadi fasilitator saja, kegiatan ini menghasilkan beberapa kesepekatan; nama kelompok usaha budidaya tanaman hias dan keras dengan “Pengklik Flory” sesuai dengan nama padukuhan-nya, struktur kelompok sederhana menyesuaikan jumlah komunitas sasaran dan bentuk sikap sadar diri usaha baru, meliputi; 2 ketua, 2 sekretaris, 1 bendahara, 1 koordinator produksi, 1 koordinator perlengkapan dan tentunya anggota. Terkait kelembagaan lebih pada penentuan jadwal pertemuan regular dan jadwal piket perawatan tanaman belum menyentuh visi, misi, dan share profit, terpenting konsisten ‘bergerak’ dulu. Layaknya sebuah organisasi baru, jika dilihat dengan prespektif daur hidup manusia pasti melewati fase ‘bayi’ yakni rentang waktu dimana fokus organisasi untuk bergerak agar khalayak tau, karena masalah pertama sebagai organisasi baru adalah resourches dan penyamaan persepsi intern. Melihat fakta lapangan tahapan pengkapasitasan, semakin mempertegas adanya aktivitas analisis sosial (ansos) yang dilakukan pemberdaya (baca Tim EmirTusin Corp) yang mana merupakan manifestasi pendekatan bottom up. Hasil analisis sosial sendiri untuk membuat konstruksi inovasi sosial adaptif terhadap karakter lokalitas komunitas sasaran (memiliki observability, trialability, compatibility, relative advantage, complexity), dalam konteks praktek sebagai bahan penentu materi-materi pemberdayaan. Banyak literatur yang mengatakan perihal salah satu variabel yang bisa mempengaruhi efisien dan efektif suatu kegiatan pemberdayaan adalah ada tidaknya ansos dalam suatu kegiatan pemberdayaan (A. A. Wibowo et al., 2019), sehingga menurut hemat penulis hasil ansos merupakan material pemberdayaan yang menghasilkan adonan (baca inovasi sosial). 3.3. Tahapan pendayaan Seperti yang sudah dijelaskan paragraph awal tulisan ini yang menyebutkan tahapan pendayaan merupakan makna sempit konsep pemberdayaan yakni memberi daya (kuasa), disebutkan juga dalam tulisan Astuti mengkaitkan pendayaan dengan pemberian otoritas (Astuti et al., 2022). Maka bisa diterjemahkan pendayaan sebagai pemberian bekal materi dan non materi oleh pemberdaya untuk sepenuhnya dikelola komunitas sasaran. Dalam bisnis sosial (kewirausahaan sosial) fokus pemberdayaan adalah ekonomi (Community Economic Development atau CED) sebagai pintu masuk pengkondisian sistem kerjasama bisnis dengan pemberdaya, adanya kerajasama bisnis manifestasi sumberdaya yang sudah dikeluarkan pemberdaya (baca social enterprise) sebagai investasi sosial yakni ‘penanaman modal mengharap kembali’ , hal ini yang disebut sebagai return komunitas sasaran. Dalam konsep bisnis sosial, pemberdaya disebut perusahaan sosial (social enterprise) karena memiliki tujuan 244 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 untuk memperoleh laba dan komitmen menyelesaikan masalah serta membantu suatu komunitas sasaran mencapai kemandirian, dua tujuan yang berkelindan (Torrido, 2021). Tahap pendayaan pada program CSR pemberdayaan Pengklik Flory terdiri dari dua fase yang berurutan, fase pertama adalah fase pembangunan infrastruktur fisik workspace budidaya tanaman Pengklik Flory yang berfungsi sebagai area display pula disertai pembuatan sumur beserta kamar mandi dan tentunya septic tank juga. Pengerjaannya mayoritas dilakukan secara gotong royong antar anggota, sedangkan perataan dan penyamaan tinggi tanah menggunakan alat berat eskavator karena dahulunya digunakan untuk menanam pohon teresede sebagai lumbung pakan ternak. Area workspace dalam pembangunan fisik ini berada merupakan tanah desa yang mana disediakan pemerintahan desa untuk program CSR ini, seluas 725 meter persegi. Keberadaan area-nya di seputaran kawasan yang sengaja dipersiapkan desa sebagai pusat wisata di Desa Madurejo, dipilih lokasi ini dikarenakan terdapat bukit dengan makam bangsawan dan ulama di atasnya yang dikeramatkan oleh beberapa kalangan Masyarakat Jawa, sementara di bawahnya terdapat beberapa goa peninggalan Jepang, sehingga banyak didatangi wisatawan minat khusus, fenomena yang ada dimaknai oleh pemerintahan desa sebagai modal awal pengembangan kawasan wisata. Menurut hasil pengamatan di lapangan, arah pengembangan kawasan wisata melebihi konsep triangle diamond atau strategi pembangunan industri pariwisata dengan mengembangkan 3 aktivitas wisata berbeda pada satu kawasan (Febrian et al., 2023). Lebih mengarah square diamond terbukti dari adanya pengembangan obyek yang diperuntukkan sebagai aktivitas wisata minat khusus, alam, kuliner, dan hayati (lihat Gambar 3). Makam keramat (wisata minat khusus) Taman & goa Jepang (wisata alam) Pengklik Cafe Pengklik Flory (wisata kuliner) (wisata hayati) Gambar 3. Skema Kawasan Industri Pariwisata Pengklik Sumber: Analisis Data Penelitian Merujuk gambar dan serangkaian penjelasan di atas, terlihat bahwasanya kehadiran display tanaman-tanaman yang ada di workspace kelompok usaha budidaya tanaman Pengklik Flory bisa menarik wisatawan untuk berkunjung dan atau membeli, hal ini menjadikanya sebagai obyek wisata hayati, pelengkap segmen wisata yang sudah ada. Penentuan lokasi adalah sebuah pilihan rasional yang merujuk hasil ansos dan asesmen kebutuhan, berdampak pada peningkatan efektivitas output pemberdayaan program CSR dilihat dari (1) terciptanya sumber tambahan pendapatan baru bagi anggota (khusus), (2) tersiptanya alternatif penawaran wisata hayati, pelengkap kawasan pembangunan industri pariwisata Pengklik. seperti yang disampaikan Totok (43 Thn) Carik Desa Madurejo: Kami pemerintahan Madurejo sangat senang dan sukur mengetahui paparan hasil observasi dan ansos dalam kegiatan pertemuan bersama yang disampaikan Bu Anita dan Tim EmirTusin perwakilan TWC. Point utama yang bikin kami senang adalah ajuan lokasi pengembangan yang diarahkan di Kawasan Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 245 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 Wisata Pengklik, dan yang bikin senang lagi diarahkan untuk melengkapai penawaran wisatanya juga. (Yogyakarta, 1 Meil 2024) Setelah pembangunan infrastruktur fisik selesai, dilanjut dengan pemberian bibit tanaman hias dan keras (± 500 dengan ukuran variatif berkisar 50-100 cm) untuk ditanam dan dikelola kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan fase perumusan dan penerbitan mekanisme kerjasasama bisnis, dimana penerapannya didahului dengan monitoring evaluasi dari Divisi Pengadaan TWC, tujuannya untuk memastikan kesiapan dan hasil produksi Pengklik Flory sebagai calon mitra produksi. Keberlangsungan monev berlangsung ± 8 bulan, merupakan tindakan wajar bentuk kehati-hatian sebagai upaya menjaga kestabilan arus aktivitas produksi perseroan lebih kepada jaminan kepastian profesionalitas stakeholder mitra produksi. Berdasarkan hasil monev; kelompok usaha budidaya Pengklik Flory dianggap memenuhi persyaratan menjadi salah satu supplier tanaman hias dan keras TWC, keputusan ini tidak menghilangkan penyuplai lama hanya ada pengurangan jumlah pesanan. Sebelum penandatangan perjanjian kerjasama terlebih dahulu kelompok usaha memenuhi peryaratan; (1) keberpemilikan SK Desa pembentukan kelompok usaha Pengklik Flory (2) keberpemilikan rekening bank (3) berkomitmen untuk bisa memenuhi permintaan kebutuhan produksi dari divisi pengadaan TWC. Penandatangan surat kerjasama bisnis (MOU) baru dilakukan di Bulan Desember tahun 2023, disertai dengan daftar pesanan tanaman awal. Bentuk terciptanya hubungan simbiosis mutualisme antara TWC dengan Kelompok Pengklik Flory merupakan gambaran model bisnis sosial bersinggungan (Torrido, 2021) dimana aktivitas produksi keduanya saling melengkapi, dalam hal ini komunitas sasaran setelah menjalani pemberdayaan ekonomi dijadikan penyuplai aktivitas produksi perusahaan sosial (pemberdaya). Besaran investasi sosial (±134 juta) dari TWC dalam bentuk pengadaan pendampingan, material pembangunan fisik dan bibit diharapkan pengembalian (return) oleh TWC kepada komunitas sasaran dalam bentuk suplai bahan baku utama produksi perseroan, sebenarnya tujuan utama return adalah penciptaan hubungan fungsional bersisi ganda; (1) saling mendatangkan keuntungan materi (2) pemberdayaan jangka panjang mendukung upaya pembentukan kemandirian di komunitas sasaran (reinvestasi sosial). Pemberdayaan long term merupakan prinsip dasar bisnis sosial, karena itu terminasi dalam aktivitas kewirausahaan sosial (bisnis sosial) jikalau perusahaan sosial (social enterprise) bangkrut atau sudah terbentuknya kemandirian di komunitas sasaran. Visualisasi model bisnis sosial pada program CSR Pengklik Flory bisa dilihat pada Gambar 4. Investasi dan re investasi Sosial Kelompok Usaha Pengklik Flory (Komunitas Sasaran) Supplier tanaman Laba usaha BUMN TWC (Social enterprise) Jasa Industri Pariwisata Candi Gambar 4. Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory Sumber: Analisis Data Penelitian 4 Kesimpulan Program CSR Pengklik Flory merupakan manifestasi inovasi sosial dengan pendekatan CSV yang dirumuskan dan dilakukan oleh BUMN TWC untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan di tengah masyarakat Padukuhan Pengklik, Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan. Ramuan inovasi sosial dikonstruksikan merujuk hasil analisis sosial, sosialisasi dan transfer-nya melalui tiga tahapan kegiatan pemberdayaan ekonomi yang dilakukan secara prosedural. Meliputi; 246 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 Pertama, tahapan penyadaran atau fase penumbuhkembangan motivasi kewirausahaan melalui dua format yakni khusus dan tidak khusus, pembedanya terletak pada pengkondisian tekhnis pelaksanaan. Dimana format khusus merupakan tahapan penyadaran dengan pendekatan formal/resmi baik tema dan atau kegiatannya, sedangkan format tidak khusus kebalikannya. Adanya dua format dikarenakan komunitas sasaran tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan agrobisnis, karenanya dibutuhkan pendampingan psikologis lebih lama dibandingkan kedua tahapan pemberdayaan lainnya. Kedua, tahapan pengkapasitasan yang meliputi capacity building sumberdaya anggota-anggota komunitas sasaran dan pembentukan kelompok usaha Pengklik Flory dengan pola kelembagaannya. Strategi pengkapasitasan menggunakan teknik pelatihan dan FGD, pendekatan pembelajaran kondisional terkadang pemberdaya di depan, samping dan atau belakang sesuai dinamika kemampuan dan kemauan komunitas sasaran dalam kegiatan, artinya komunikasi dua arah sangat kental mewarnainya. Budidaya tanaman hias dan keras merupakan hal baru bagi komunitas sasaran, sebelumnya terbiasa menanam padi saja, sehingga materi-materi pelatihan dirumuskan berdasarkan anspirasi komunitas mengenai ketidaktahuannya. Ketiga, tahapan pendayaan merupakan fase pengkondisian fisik dan atau pendapatan. Terdiri dua fase; pembangunan infrastruktur workspace merangkap display budidaya tanaman hias dan keras, dan penandatangan kontrak kerjasama bisnis suplai bahan baku perseroan TWC yang diberikan pada kelompok usaha Pengklik Flory. Kerjasama bisnis antar keduanya manifestasi model bisnis sosial bersinggungan, yang mana output pemberdayaan ekonomi menjadikan komunitas sasaran sebagai mitra usaha perseroan (supplier), penentuan output disesuaikan dengan karakter lokalitas dan hasil pengawasan serta evaluasi selama proses pemberdayaan oleh Tim TWC kepada komunitas usaha budidaya tanaman hias dan keras Pengklik Flory. 6. Saran Berdasarkan evaluasi penelitian dan melihat penerapan model bisnis sosial bersinggungan terbilang masih prematur, penulis beranggapan perlunya kajian lanjutan pada penelitian ini untuk dilanjutkan kembali ke analisis dampak terutama dampak sosial ekonominya sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh program berkenaan dengan dampak materi dan atau non materi penerapan bisnis sosial yang dirasakan BUMN TWC selaku pemberdaya maupun kelompok usaha Pengklik Flory selaku komunitas sasaran. Tidak kalah menariknya bagi penelitian selanjutnya adalah riset evaluasi pengembangan dan dampak Desa Wisata Pengklik, berdasarkan temuan penelitian ini pengembangan industri pariwisata mengarah pada square diamons sebuah istilah yang dirumuskan peneliti sendiri mengembangkan konsep triangle diamons yang sudah ada, selain keberlangsungan kegiatan pengembangan industri pariwisata terbilang lama. Sebagai tambahan, perlu dipertimbangkan penerapan model bisnis sosial pada kegiatan pedampingan ekonomi oleh dinas sosial di setiap kabupaten, kota maupun provinsi bagi komunitas marjinal dampinganya, mengingat masalah yang sering mucul pasca pemberdayaan ekonomi adalah akses pasar. Agar dapat terlaksana, perlu dijalin kemitraan dengan perusahaan, karena keterlibatan perusahaan diperlukan untuk menyediakan akses pasar bagi produk hasil pendampingan. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk merealisasikannya adalah melakukan penguatan regulasi tekhnis dan sanksi di Peraturan Menteri Sosial Nomer 9 Tahun 2020 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) badan usaha, dimana tujuan penguatan untuk mendorong terciptanya model kemitraan bisnis antara masyarakat dengan badan usaha. Ucapan terimakasih: Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Editor dan Tim Jurnal SOSIO KONSEPSIA yang telah memberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil penelitian ini. Tidak lupa, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada BUMN TWC, EmirTusin Corp, Kelompok Pengklik Flory beserta Masyarakat Desa Madurejo Kecamatan Prambanan Provinsi DIY atas dukungan dan partisipasinya dalam penelitian ini.. Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 247 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 235-249 Daftar Pustaka Astuti, D. I., Saraka, S., Winarti, H. T., Lukman, A. I., & Mustangin, M. (2022). Analisis Pemberdayaan Perempuan Berbasis Keterampilan Budidaya Tanaman Hidroponik. Masyarakat Madani: Jurnal Kajian Islam Dan Pengembangan Masyarakat, 7(2), 52. https://doi.org/10.24014/jmm.v7i2.17262 Ceasar, J., Peters-Lawrence, M. H., Mitchell, V., & Powell-Wiley, T. M. (2017). The communication, awareness, relationships and empowerment (C.A.R.E.) model: An effective tool for engaging urban communities in community-based participatory research. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(11), 1–12. https://doi.org/10.3390/ijerph14111422 Districts, K., Losioki, B. E., & Rono, W. T. (2020). Journal of Education Research and Rural Community Development Assessment of Community Empowerment Activities in Longido and Abstract : Research Objectives. 2(2), 38–50. https://doi.org/10.5281/zenodo.4108445 Febrian, A. W., Sandi, D. M. N., Amalia, F. R., & Perdana, M. A. (2023). Mapping the Tourism Village Potential at Triangle of Diamond Banyuwangi. Journal of Social and Policy Issues, 1, 34–40. https://doi.org/10.58835/jspi.v3i1.122 Hutomi, L. M. (2023). Dampak Konteks Internal dan Eksternal terhadap Creating Shared Value (CSV) Perusahaan Energi Terbarukan. Journal of Social Development Studies, 4(1), 230–241. https://doi.org/10.22146/jsds.5884 Ismail, Hidayat, Y., & Yunani, A. (2022). Effectiveness of Village Fund Management in Community Empowerment. International Journal of Political, Law, and Social Science , 3(1), 2501–7322. https://ijpls.org/index.php/IJPLS/index Khoirunnisa, W., & Muhammad, R. N. (2022). Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT Kereta Api Indonesia (Persero). Indonesian Accounting Literacy Journal, 2(3), 619–629. https://doi.org/10.35313/ialj.v2i3.4106 Lansing, A. E., Romero, N. J., Siantz, E., Silva, V., Center, K., Casteel, D., & Gilmer, T. (2023). Building trust: Leadership reflections on community empowerment and engagement in a large urban initiative. BMC Public Health, 23(1), 1–25. https://doi.org/10.1186/s12889-023-15860-z Nugraheni, P., Indrasari, A., & Hamzah, N. (2022). The Impact of Ownership Structure on CSR Disclosure: Evidence from Indonesia. Journal of Accounting and Investment, 23(2), 229–243. https://doi.org/10.18196/jai.v23i2.14633 Pengantar, K. (2022). Laporan Tahunan PT TWC. 1–23. Purnomo, S., Rahayu, E. S., Riani, A. L., Suminah, S., & Udin, U. (2020). Empowerment model for sustainable tourism village in an emerging country. Journal of Asian Finance, Economics and Business, 7(2), 261–270. https://doi.org/10.13106/jafeb.2020.vol7.no2.261 Stone, D., Porto de Oliveira, O., & Pal, L. A. (2020). Transnational policy transfer: the circulation of ideas, power and development models. Policy and Society, 39(1), 1–18. https://doi.org/10.1080/14494035.2019.1619325 Sugiyono. (2020). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Torrido, A. (2021). Penanganan Dampak Sosial dan Ekonomi Akibat Pandemi Covid 19 (Aryan Torrido) Handling Social and Economic Impact of Pandemic Covid 19 Through Social Entrepreneurship Approach Study: Empowerment of Small and Medium enterprise (SME). Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 20(1), 77–90. https://doi.org/https://doi.org/10.31105/jpks.v20i1.2464 Torrido, A. (2023). Effective Leadership and Social Entrepreneurship Engagement in Optimal MSMEs Performance. MIMBAR : Jurnal Sosial Dan Pembangunan, 79, 257–264. https://doi.org/10.29313/mimbar.vi.2076 UNICEF. (2014). Nutrition Indonesia. Wali, A., Alvira, D., Tallman, P. S., Ravikumar, A., & Macedo, M. O. (2017). A new approach to conservation: Using community empowerment for sustainable well-being. Ecology and Society, 248 Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 236-249 22(4). https://doi.org/10.5751/ES-09598-220406 Wibowo, A. A., Supriyanto, A., & Timan, A. (2019). Implementasi Pelibatan Dan Pemberdayaan Dalam Kualitas Pada Organisasi Pelajar Madrasah Aliyah Swasta. Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 5(01), 115. https://doi.org/10.32678/tarbawi.v5i01.1802 Wibowo, A. H., Hidayat, R., & Aminudin, A. A. (2020). Pelatihan technopreneurship untuk pengelolaan bank sampah, desa madurejo, prambanan, sleman. Jurnal Dharma Bakti-LPPM IST AKPRIND, 3(2), 88–93. (Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Aryan Torrido Model Bisnis Sosial Program CSR Pengklik Flory oleh BUMN TWC di Dusun Pengklik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 249