Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 The Effect of a Peer Support Based Nursing Education Program on Adolescent Engagement in Health Self-Management Pengaruh Program Pendidikan Keperawatan Berbasis Dukungan Sesama pada Partisipasi Remaja dalam Pengelolaan Kesehatan Diri Nurharlinah1. Karyatain2. Rini Herdiani3 1,2 STIKes Sumber Waras 3 STIK Ponpes Assanadiyah *Corresponding Author: Nurharlinah STIKes Sumber Waras Email: linnurharlina@gmail. Keyword: adolescents, self-health involvement, nursing education, peer support Kata Kunci: remaja, keterlibatan kesehatan diri, edukasi keperawatan, peer support A The Author. 2025 Article Info: Received : June 26, 2025 Revised : August 27, 2025 Accepted : September 03, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Abstract Adolescence is a critical phase in individual development, where awareness and skills in managing self-health are very important to be formed. This study aims to determine the effect of a peer support-based nursing education program on adolescent involvement in self-health The research method used was a quasi-experimental with a pretest-posttest design and a control group. The subjects of the study were adolescents aged 15Ae18 years who were selected purposively from two high schools. The intervention was given in the form of a nursing education session facilitated by peers . eer educator. for four weeks. Data were collected through a validated self-health involvement questionnaire and analyzed using paired t-test and independent t-test statistical tests. The results showed a significant increase in the level of adolescent involvement in the intervention group compared to the control group . < 0. These findings indicate that the peer support approach is effective in increasing adolescent awareness and participation in managing their health. This program is recommended as a relevant and sustainable health promotion strategy in the school environment. Abstrak Masa remaja merupakan fase kritis dalam perkembangan individu, di mana kesadaran dan keterampilan dalam mengelola kesehatan diri sangat penting untuk dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program edukasi keperawatan berbasis peer support terhadap keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest dan kelompok kontrol. Subjek penelitian adalah remaja usia 15Ae18 tahun yang dipilih secara purposive dari dua sekolah menengah atas. Intervensi diberikan dalam bentuk sesi edukasi keperawatan yang difasilitasi oleh teman sebaya . eer educato. selama empat minggu. Data dikumpulkan melalui kuesioner keterlibatan kesehatan diri yang divalidasi dan dianalisis menggunakan uji statistik paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat keterlibatan remaja dalam kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan peer support efektif dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi remaja dalam mengelola kesehatannya. Program ini direkomendasikan sebagai strategi promosi kesehatan yang relevan dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode transisi yang kompleks dari masa kanak-kanak menuju dewasa, yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang signifikan. 1 Pada tahap ini, remaja mulai membentuk identitas diri dan mengembangkan kemandirian, termasuk dalam hal pengambilan keputusan terkait kesehatan pribadi. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri masih tergolong rendah, khususnya dalam praktik promotif dan preventif. Kurangnya keterlibatan ini berpotensi kesehatan, seperti perilaku berisiko, pola makan tidak sehat, rendahnya aktivitas fisik, serta minimnya kesadaran kesehatan secara rutin. 4 Lauridsen, et al. 5 remaja yang tidak memiliki kesadaran dan keterampilan dalam mengelola kesehatannya cenderung lebih rentan terhadap berbagai kondisi kesehatan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 jangka panjang yang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup mereka di masa depan. Untuk remaja dalam pengelolaan kesehatan diri, dibutuhkan pendekatan edukatif yang sesuai dengan karakteristik 6 Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah penggunaan peer support atau dukungan sebaya. Menurut Zwaiman, et al. 7 peer support dalam konteks layanan kesehatan adalah bentuk dukungan sosial yang diberikan oleh individu yang memiliki pengalaman serupa dan berada pada posisi setara, yang dapat meningkatkan penerimaan informasi dan motivasi terhadap perubahan perilaku. Edukasi kesehatan yang disampaikan oleh teman sebaya lebih mudah diterima karena adanya kesamaan pengalaman, bahasa, dan cara pandang, yang menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan suportif. Sejalan dengan hal tersebut. Dodd, et al. meta-analisisnya menunjukkan bahwa intervensi edukatif kesehatan di kalangan remaja, baik dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun perilaku kesehatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi peer support dalam program keperawatan kesehatan remaja dapat menjadi strategi Berdasarkan latar belakang tersebut, edukasi keperawatan berbasis peer support terhadap keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Diharapkan hasil penelitian ini dapat pengembangan intervensi promosi kesehatan yang lebih tepat sasaran dan berdampak bagi kalangan remaja. METODE Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest-posttest dan kelompok kontrol untuk mengevaluasi pengaruh program edukasi keperawatan berbasis peer support terhadap keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Subjek penelitian adalah siswa SMA berusia 15Ae18 tahun yang dipilih secara purposive dari dua sekolah negeri di. Sebanyak 60 responden berpartisipasi, terdiri atas 30 siswa di kelompok intervensi dan 30 siswa di kelompok Kriteria inklusi meliputi kesediaan menjadi partisipan, kondisi fisik dan mental yang memungkinkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, serta tidak sedang mengikuti program edukasi kesehatan serupa dari pihak Program edukasi dirancang dalam bentuk empat sesi pelatihan selama dua minggu, masing-masing berdurasi 60 Materi mencakup manajemen stres, perilaku hidup bersih dan sehat, gizi remaja, serta manajemen waktu. Edukasi disampaikan oleh peer educator, yaitu siswa sebaya yang telah memperoleh pelatihan dari perawat pendamping sebelum pelaksanaan Kelompok kontrol tidak menerima perlakuan selama periode Instrumen penelitian berupa kuesioner keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri yang dikembangkan berdasarkan teori health promotion dan telah diuji validitas serta reliabilitasnya pada uji coba awal ( = 0,. Kuesioner terdiri atas 25 item dengan skala Likert 1Ae5 yang mencerminkan tiga dimensi utama: kesadaran, perilaku, dan tanggung jawab. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah intervensi pada kedua https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 kelompok melalui pengisian kuesioner Data menggunakan uji paired t-test untuk melihat perubahan dalam masingmasing kelompok, dan independent t- test untuk membandingkan perbedaan skor antara kelompok intervensi dan Seluruh analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 25 dengan tingkat signifikansi p < 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Perbandingan Skor Keterlibatan Pengelolaan Kesehatan Diri pada Kelompok Intervensi dan Kontrol Kelompok Intervensi Kontrol Posttest Waktu Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Intervensi vs Skor rerata (SD) 68,2 . 81,6 . 67,9 . 69,3 . 81,6 . vs 69,3 . Sebanyak 60 responden . untuk intervensi, 30 kontro. menyelesaikan Rata-rata keterlibatan pengelolaan kesehatan diri pada kelompok intervensi meningkat dari 68,2 (SD = 7,. menjadi 81,6 (SD = 6,. , t-test menunjukkan peningkatan signifikan . < 0,. Kelompok menunjukkan perubahan non-signifikan dari 67,9 (SD = 6,. menjadi 69,3 (SD = 7,. , p = 0,084. Hasil independent t-test pada posttest juga menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol . < 0,. , yang berbasis peer support. Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa program edukasi keperawatan berbasis peer support secara signifikan meningkatkan keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Temuan ini sejalan dengan studi Rhee, et al. kelompok berbasis komunitas, termasuk peer support, efektif dalam memenuhi kebutuhan psikososial remaja, seperti penerimaan sosial dan motivasi untuk mengikuti perilaku sehat. Uji Statistik Paired t-test <0,001 Paired t-test <0,001 Independent t-test <0,001 Lebih lanjut. Chung, et al. 13 dalam hubungan yang signifikan antara dukungan sebaya dan peningkatan aktivitas fisik remaja, dan menegaskan bahwa perawat komunitas perlu merancang intervensi peer support untuk meningkatkan perilaku sehat Program pelatihan peer educator juga terbukti meningkatkan pelaksanaan edukasi remaja. Studi Susanto, et al. 14 melaporkan bahwa peer educator di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada skor pengetahuan mereka setelah tiga minggu pelatihan, menunjukkan kesiapan yang lebih baik dalam menyebarkan materi kesehatan kepada rekan sebaya . Peer support juga memfasilitasi pembentukan norma positif dalam kelompok sebaya, yang secara tidak 15 Dalam konteks ini, remaja lebih termotivasi untuk mengadopsi perilaku sehat ketika mereka melihat teman sebayanya melakukan hal 7,16 Faktor memperkuat rasa efikasi diri, yang merupakan determinan penting dalam https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 keterlibatan pengelolaan kesehatan. Selain itu, komunikasi dua arah yang setara menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dibandingkan pendekatan instruksional satu arah. 10,17 Dari sudut pandang keperawatan, hasil ini menegaskan pentingnya peran memfasilitasi program berbasis peer support bagi remaja. 17,18 Perawat dapat bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan materi edukasi, dan memantau perkembangan keterlibatan 4,19 Penerapan semacam ini di sekolah atau pusat layanan kesehatan remaja dapat menjadi promotif-preventif perilaku kesehatan positif sejak usia 6,20 Program edukasi keperawatan berbasis meningkatkan keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Peningkatan rerata skor keterlibatan dukungan dari teman sebaya mampu mendorong perubahan perilaku positif pada remaja. 22 Intervensi ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang suportif, partisipatif, dan relevan dengan Keterlibatan aktif antar teman sebaya memperkuat rasa percaya diri dan motivasi intrinsik untuk mengelola kesehatan diri secara mandiri. 23 Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan merupakan strategi efektif untuk Dengan demikian, perawat memiliki peluang strategis untuk mengintegrasikan intervensi ini ke dalam program promotif-preventif di layanan kesehatan remaja. Implementasi program ini secara luas berpotensi kesehatan jangka panjang pada populasi usia muda. Penerapan program edukasi berbasis peer support dapat menjadi inovasi dalam strategi intervensi keperawatan untuk meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab remaja terhadap kesehatan diri mereka. 24 Dukungan dari tenaga keperawatan dalam membimbing kelompok sebaya akan memperkuat efektivitas intervensi serta menjamin keberlanjutan pelaksanaannya. 8 Oleh karena itu, institusi pendidikan dan mengadopsi pendekatan ini dalam kurikulum dan layanan kesehatan Penelitian lanjutan disarankan untuk menguji efektivitas program ini pada populasi yang lebih luas dan jangka waktu yang lebih panjang. 25 Evaluasi dampak jangka panjang terhadap perilaku kesehatan remaja juga penting untuk menilai keberlanjutan hasil Upaya kolaboratif lintas sektor akan menjadi kunci dalam mendukung keberhasilan implementasi program ini secara nasional. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa program edukasi keperawatan berbasis peer support efektif meningkatkan keterlibatan remaja dalam pengelolaan kesehatan diri. Pendekatan ini mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, serta memanfaatkan hubungan sosial antar sebaya yang lebih mudah diterima dan Dengan demikian, peer support dapat menjadi strategi yang tepat dan berkelanjutan dalam upaya promotif dan preventif kesehatan remaja di lingkungan sekolah. SARAN Berdasarkan disarankan agar perawat komunitas dan https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 program edukasi berbasis peer support sebagai bagian dari intervensi kesehatan Sekolah juga diharapkan dapat memberikan dukungan berupa fasilitas dan pelatihan peer educator yang keberlangsungan program ini. Selain itu, penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan durasi intervensi yang lebih panjang sangat diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang serta pengaruh program terhadap aspek kesehatan lain, seperti kesehatan mental dan perilaku berisiko. Terakhir, pembuat kebijakan diharapkan dapat memasukkan model peer support dalam program dan kebijakan kesehatan remaja guna meningkatkan efektivitas promosi kesehatan di tingkat sekolah dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA