Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. PENERAPAN KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI SUNGAI KLAWING Local Wisdom Practices in Managing Fisheries Resources of the Klawing River Sahda Salsabila1*). Teuku Junaidi. I Gede Suweda Anggana Putera. Taufik Budhi Pramono. Sawitania Christiany Dwi Utami Boru Situmorang. Talitha Putri Windiarta. Indah Karunia Putri. Fidia Indah Rizkiana. Saprudin. Gunardi Djoko Winarno. Dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jl. Dr Soeparno. Komplek GOR Soesilo Soedarman. Karangwangkal. Karang Bawang. Grendeng. Kec. Purwokerto Utara. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah 53122. Indonesia Dosen Program Studi Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jl. Dr Soeparno. Komplek GOR Soesilo Soedarman. Karangwangkal. Karang Bawang. Grendeng. Kec. Purwokerto Utara. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah 53122. Indonesia Dosen Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jl. Dr Soeparno No. Karang Bawang. Grendeng. Kec. Purwokerto Utara. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah 53122. Indonesia Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jl. Dr Soeparno. Komplek GOR Soesilo Soedarman. Karangwangkal. Karang Bawang. Grendeng. Kec. Purwokerto Utara. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah 53122. Indonesia Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan Badan Penyuluhan dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan Dosen Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Jl. Sumantri Brojonegoro No. Gedong Meneng. Rajabasa. Kota Bandar Lampung 35141 *)Korespondensi: sahda. salsabila@unsoed. Received: 8 September 2025. Received in revised form: 17 Oktober 2025. Accepted: 20 Oktober 2025 ABSTRAK Sungai Klawing memiliki peran penting sebagai penopang kehidupan masyarakat sekaligus habitat berbagai spesies ikan, namun kini menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk kearifan lokal masyarakat nelayan Sungai Klawing dalam pengelolaan sumber daya perikanan serta menilai relevansinya terhadap tantangan modern. Penelitian dilakukan di lima desa yang mewakili wilayah hulu, tengah, dan hilir sungai dengan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara dan observasi terhadap 40 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal nelayan tercermin melalui penggunaan alat tangkap tradisional . ala, jaring, pancing, paser, wuwu, dan mijaha. , penerapan pranata mangsa sebagai acuan musim penangkapan, solidaritas sosial antar nelayan, serta tradisi Gredug Sampah yang berfokus pada kebersihan Praktik-praktik tersebut kini menghadapi keterbatasan akibat perubahan iklim, masuknya spesies invasif, dan tekanan ekonomi. Menurunnya akurasi pranata mangsa menunjukkan perlunya integrasi antara pengetahuan tradisional dan informasi klimatologi modern agar masyarakat dapat beradaptasi terhadap dinamika ekosistem. Dengan demikian, sinergi antara kearifan lokal dan pendekatan ilmiah modern menjadi kunci dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya perikanan Sungai Klawing yang adaptif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Kearifan Lokal. Nelayan. Perikanan. Sungai Klawing Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. ABSTRACT The Klawing River plays an essential role as a source of livelihood for local communities and as a habitat for various fish species, yet it is increasingly under pressure from human activities and environmental changes. This study aims to identify the forms of local wisdom practiced by fishing communities in managing fishery resources and to assess their relevance to modern The research was conducted in five villages representing the upstream, middle, and downstream sections of the river using a qualitative descriptive approach through interviews and observations involving 40 respondents. The results show that local wisdom is reflected in the use of traditional fishing gear . ets, gillnets, fishing lines, paser, wuwu, and mijaha. , the application of the pranata mangsa as a seasonal fishing guide, social solidarity among fishers, and the Gredug Sampah tradition focused on maintaining river cleanliness. These practices now face limitations due to climate change, the introduction of invasive species, and economic The declining accuracy of the pranata mangsa indicates the need to integrate traditional ecological knowledge with modern climatological information to enhance community adaptation to ecosystem dynamics. Therefore, the synergy between local wisdom and scientific approaches is crucial for achieving an adaptive and sustainable fishery resource management system in the Klawing River. Keywords: Local wisdom, fishermen, fisheries. Klawing River Sungai Serayu dengan luas daerah aliran sungai mencapai kurang lebih 1. 725,13 kmA (Gunara dan Rukayah, 2. Sungai ini memiliki peran penting bagi masyarakat setempat, terutama dalam mendukung kegiatan irigasi pertanian, penambangan pasir dan batu, serta aktivitas penangkapan ikan mulai dari bagian hulu hingga hilir (Lestari et al. , 2009. Suryaningsih et al. Sebagai habitat. Sungai Klawing dikenal memiliki keanekaragaman spesies ikan air tawar yang sangat kaya. Penelitian oleh Suryaningsih mengidentifikasi sedikitnya 18 spesies ikan dari 11 famili berbeda yang mendiami Sungai Klawing, didominasi oleh famili Cyprinidae . Banyak di antara spesies tersebut merupakan ikan lokal (Puntiu. , senggaringan (Mystus nigricep. , tawes (Barbonymu. dan lain-lain, yang secara alami menghuni perairan sungai ini. Tingginya keanekaragaman hayati tersebut menunjukkan bahwa Sungai Klawing memiliki potensi ekologi yang signifikan sebagai habitat ikan air tawar yang perlu dikelola dengan baik demi kelestariannya. PENDAHULUAN Indonesia tercatat memiliki wilayah perairan darat terluas di kawasan Asia Tenggara (Sarnita, 1987. Fernando, 1980. Baluyut, 1. Perairan tersebut juga dikenal dengan tingkat keanekaragaman ikan yang tinggi, dengan lebih dari 1000 spesies yang menghuni ekosistemnya (Utomo et al. , 2. Sumberdaya perikanan, khususnya perikanan darat di kehidupan masyarakat lokal. Perikanan darat memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, menyediakan keamanan pangan bagi warga, meningkatkan pendapatan asli dan daerah, menjadi habitat bagi organisme akuatik, serta menjaga keseimbangan lingkungan (Sarnita, 1987. Funge dan Bennett, 2. Sungai Klawing merupakan salah satu sub-DAS dari Sungai Serayu yang terletak di Kabupaten Purbalingga. Jawa Tengah, dengan panjang aliran sekitar 55,5 Secara administratif. Sungai Klawing berada di wilayah Kabupaten Purbalingga. Jawa Tengah (Widagdo et al. , 2. Selain itu, sungai ini merupakan salah satu anak Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Selain nilai ekologisnya. Sungai Klawing memegang peran sosial-ekonomi penting bagi masyarakat di sekitarnya. Warga lokal memanfaatkan sungai ini sebagai sumber mata pencaharian melalui penangkapan ikan tradisional . ubsisten maupun komersial skala keci. Hasil tangkapan ikan dari Sungai Klawing menjadi sumber protein bagi rumah tangga setempat dan sebagian dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Sungai Klawing juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan lain seperti irigasi untuk pertanian, pemukiman. MCK . andi, cuci, penambangan pasir, dan batu di bantaran sungai (Suryaningsih et al. , 2018. Gunara dan Rukayah, 2019. Simanjuntak et al. Darmanto dan Sudarmadji, 2. Namun demikian, sumber daya perikanan di Sungai Klawing menghadapi berbagai tekanan dan ancaman serius akibat aktivitas manusia. Beragam kegiatan berpotensi menurunkan kualitas lingkungan perairan dan mengancam kelestarian ikan. Sumber pencemaran air tidak hanya berasal dari aktivitas domestik, tetapi juga dari kegiatan industri yang menyebabkan sungai tercemar (Asrori, 2. Kondisi ini terlihat pada Sungai Klawing, di mana kualitas air cenderung menurun di bagian tengah dan hilir akibat tingginya aktivitas manusia, sementara vegetasi riparian semakin berkurang karena alih fungsi lahan. Praktik penangkapan ikan destruktif masih dijumpai misalnya penggunaan racun dan setrum listrik, yang dapat merusak populasi ikan secara drastis. Aktivitas penambangan pasir dan batu di sepanjang Sungai Klawing juga menimbulkan mempercepat erosi tebing dan sedimentasi. Tekanan-tekanan tersebut sejalan dengan masalah umum perikanan darat di Indonesia, yakni degradasi habitat, pencemaran, dan tangkapan berlebih yang telah menyebabkan penurunan produksi ikan tangkap dan bahkan kepunahan lokal beberapa spesies ikan (Utomo et al. , 2. Apabila tidak dikelola dengan bijak, kombinasi ancaman tersebut dapat keanekaragaman ikan Sungai Klawing dan hilangnya sumber penghidupan bagi masyarakat lokal. Upaya pengelolaan sumber daya perikanan Sungai Klawing yang berbasis pada prinsip keberlanjutan diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut. Salah satu efektivitasnya adalah penerapan kearifan lokal dalam pengelolaan perikanan. Kearifan lokal merupakan pengetahuan tradisional dan praktik adat yang berkembang dalam komunitas setempat guna menjaga keseimbangan alam dan pemanfaatan sumber daya secara lestari. Di berbagai daerah Indonesia, kearifan lokal terbukti berperan positif dalam konservasi perikanan. Sebagai contoh, tradisi lubuk larangan di Sumatra Barat memberlakukan larangan menangkap ikan pada lokasi dan periode tertentu di kesempatan pemulihan stok ikan (Gusmal et al. , 2. Contoh tersebut menunjukkan bahwa pelibatan nilai-nilai lokal dan partisipasi masyarakat dalam aturan pengelolaan dapat meningkatkan efektivitas konservasi sumber daya perikanan. Oleh sebab itu, penerapan dan pelestarian kearifan lokal di Sungai Klawing menjadi sangat penting sebagai upaya melengkapi pendekatan pengelolaan modern. Integrasi kearifan lokal diyakini dapat mendorong praktik perikanan yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu mempertahankan keanekaragaman ikan Sungai Klawing sekaligus menjamin mata pencaharian masyarakat bantaran sungai METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret sampai Agustus 2025, bertempat di lima desa di Kabupaten Purbalingga. Jawa Tengah, yaitu Desa Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Palumbungan dan Desa Banjarsari (Kecamatan Bobotsar. Desa Karangturi (Kecamatan Mrebe. Desa Bojongsari (Kecamatan Bojongsar. , serta Desa Kedungbenda (Kecamatan Kemangko. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada adanya aktivitas penangkapan ikan di Sungai Klawing sekaligus keberlanjutan praktik kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang masih dijalankan masyarakat setempat. Kelima desa tersebut mewakili wilayah hulu, tengah, dan hilir Sungai Klawing: Desa Palumbungan dan Desa Banjarsari mewakili bagian hulu. Desa Karangturi dan Desa Bojongsari mewakili bagian tengah. serta Desa Kedungbenda mewakili bagian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai praktik, pandangan, serta cara masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya perikanan di Sungai Klawing berdasarkan kearifan lokal. Sementara itu, metode deskriptif digunakan untuk fenomena, karakteristik, dan hubungan antarvariabel yang diteliti, yakni bentuk kearifan lokal serta implementasinya (Hudin et al. , 2. Metode kualitatif menafsirkan makna dari suatu peristiwa ataupun interaksi perilaku manusia (Jayanti et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi merupakan metode penelitian yang digunakan untuk memahami dan fenomena yang diteliti (Widiati et al. Wawancara dilakukan dengan informan kunci, yakni tokoh masyarakat dan nelayan yang terkait dengan kegiatan penangkapan ikan di Sungai Klawing. Wawancara dilakukan secara semiterstruktur dengan interview guide. Responden dalam penelitian ini sejumlah 40 orang. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara sengaja berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan Dalam konteks ini, responden pengetahuan, pengalaman, atau keterlibatan langsung dengan aktivitas perikanan di Sungai Klawing, memberikan informasi yang mendalam dan sesuai dengan fokus penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Nelayan Sungai Klawing dan sistem menangkap ikan Sungai Klawing melewati beberapa daerah seperti Desa Palumbungan dan Desa Banjarsari (Kecamatan Bobotsar. pada bagian hulu. Desa Karangturi (Kecamatan Mrebe. dan Desa Bojongsari (Kecamatan Bojongsar. pada bagian tengah, dan Desa Kedungbenda (Kecamatan Kemangko. pada bagian hilir. Sebagian besar penduduk di desa-desa tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka memanfaatkan ikan di Sungai Klawing untuk kebutuhan pribadi dan juga dijual. Kegiatan penangkapan di Sungai Klawing ini telah Masyarakat mulai menangkap ikan sudah sejak kecil, baik diawali dari ikut orang tua maupun ikut teman-temannya. Berdasarkan masyarakat merasa jumlah tangkapan ikan semakin menurun dan semakin sulit Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya kegiatan disekitar Sungai Klawing, seperti pertanian, wisata, industri dan penambangan pasir. Jumlah Kabupaten Purbalingga, khususnya di Sungai Klawing, terus mengalami peningkatan. Kabupaten ini bahkan termasuk dalam delapan besar daerah penambangan pasir di Jawa Tengah. Di bagian hilir Sungai Klawing, berbagai kegiatan industri berkembang, sementara intensitas penambangan pasir dan batu terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan pariwisata (Pramono et , 2. Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Nelayan mengakui bahwa persaingan dalam memperoleh ikan di Sungai Klawing semakin ketat seiring bertambahnya jumlah nelayan dengan penggunaan alat tangkap yang beragam. Selain itu, keberadaan ikan semakin jarang akibat berbagai tekanan bendungan, penambangan pasir, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar Kondisi ini menyebabkan nelayan semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan, sehingga sebagian dari mereka mencari sumber penghasilan tambahan melalui pekerjaan lain, seperti bertani atau menjadi tukang bangunan. Tekanan ekonomi yang timbul akibat menurunnya hasil tangkapan tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memengaruhi praktik kearifan lokal Beberapa meninggalkan cara tangkap tradisional dan beralih ke alat tangkap yang lebih modern demi meningkatkan efisiensi. Namun demikian, kondisi ini juga memunculkan bentuk solidaritas baru di antara nelayan untuk saling berbagi informasi dan menjaga wilayah tangkapan agar tetap produktif. Sumberdaya perikanan di Sungai Klawing memiliki potensi yang cukup Di sungai ini tercatat 23 spesies ikan, yang terdiri atas 16 spesies ikan asli dan 7 spesies ikan introduksi (Gunara dan Rukayah, 2. Kondisi ini mendorong peningkatan aktivitas penangkapan ikan, baik oleh nelayan lokal maupun nelayan Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan utama, tetapi juga bagian dari budaya masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan Berdasarkan nelayan, saat ini semakin banyak warga yang menangkap ikan di Sungai Klawing. Alat tangkap yang digunakan pun beragam, meskipun sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan jala, jaring, dan pancing. Selain itu, terdapat pula pemancing dari luar daerah yang datang khusus untuk menangkap ikan, bahkan ditemukan pemancing dari Yogyakarta yang secara khusus mencari ikan sidat. Peningkatan jumlah dan intensitas pemancing kerap menimbulkan konflik dengan nelayan lokal pengguna jala, terutama terkait perebutan wilayah tangkap. Konflik antara pemancing dan nelayan pengguna jala terjadi karena aktivitas memancing dapat menyebabkan ikan kabur atau ketakutan, serta berisiko membuat jala Untuk mengatasi permasalahan tersebut, nelayan menerapkan mekanisme menggunakan alat tangkap tertentu. Nelayan di Sungai Klawing menggunakan berbagai jenis alat tangkap, di mana satu orang nelayan umumnya memiliki satu hingga dua jenis, bahkan Pemilihan alat tangkap disesuaikan dengan kondisi alam dan waktu Untuk menghindari konflik dengan pemancing, nelayan biasanya menggunakan jala atau jaring pada malam hari, mulai setelah salat maghrib hingga sekitar pukul 12 malam, bahkan ada yang hingga dini hari. Sementara itu, penggunaan alat tangkap pancing umumnya dilakukan pada pagi hingga sore hari. Pada musim hujan, nelayan lebih sering menggunakan alat tangkap jala. Jala umumnya dioperasikan pada perairan berarus deras, sedangkan jaring lebih banyak digunakan pada arus sedang. Jala merupakan alat tangkap tradisional yang banyak digunakan oleh nelayan di wilayah aliran sungai (Putra et al. , 2. Alat ini dilengkapi pemberat di sepanjang tepinya sehingga dapat langsung tenggelam ke dalam air setelah dilemparkan. Saat dilempar, jala akan terbuka dan menyebar di permukaan air, kemudian ketika ditarik kembali, ikan yang terperangkap di dalamnya akan ikut tertangkap. Armada dan Alat Tangkap Tradisional Nelayan di Sungai Klawing masih menggunakan armada dan alat tangkap Armada yang dipakai berupa perahu kayu berukuran panjang sekitar 4Ae5 meter (Gambar . Perahu ini tidak dilengkapi mesin, melainkan digerakkan Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. dengan dayung dan dioperasikan oleh 1Ae2 orang nelayan. Tidak semua nelayan Sungai Klawing menggunakan perahu, hanya nelayan yang melakukan penangkapan di bagian hilir sungai yang umumnya Perahu nelayan di Sungai Klawing juga belum dilengkapi dengan teknologi navigasi modern seperti Global Positioning System (GPS) dan fish GPS memberikan ketelitian posisi dengan spektrum yang cukup luas, mulai dari tingkat yang sangat akurat hingga yang lebih sederhana. Sementara itu, fish finder merupakan perangkat elektronik yang bekerja dengan memancarkan gelombang ultrasonik dan menangkap kembali pantulannya untuk mendeteksi keberadaan ikan maupun struktur dasar perairan. Nelayan Sungai Klawing saat ini masih mengandalkan intuisi, pengalaman, dan informasi dari rekan sesama nelayan untuk mencari ikan. Intuisi dan pengalaman ini terbentuk dari pengamatan jangka panjang terhadap kondisi alam. Cara nelayan dalam mencari potensi lokasi ikan terdahulu hanya berdasarkan pengalaman, intuisi, dan pengamatan tanda-tanda alam (Arleiny et , 2. Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh secara turun-temurun melalui interaksi langsung antara nelayan muda dan nelayan senior. Jala dan jaring yang digunakan oleh nelayan umumnya terbuat dari bahan nilon. Bahan nilon ini dibeli di toko dan kemudian dirangkai sendiri oleh Harga satu rol nilon berkisar Rp75. 000AeRp80. berukuran tiga meter dapat mencapai sekitar Rp 600. Ukuran jala dan jaring yang dimiliki nelayan umumnya memiliki diameter antara 2Ae5 meter. Variasi ukuran mata jala yang digunakan antara lain 0,25 inci, 1 inci, 1,5 inci, dan 2 inci, sementara ukuran mata jaring berkisar antara 1 inci, 1,75 inci, 2 inci, 2,5 inci, hingga 3,5 inci. Umumnya, jala digunakan di perairan berarus deras, sementara jaring lebih sering dipakai pada perairan berarus sedang. Pada bagian tepi jala terdapat pemberat yang berfungsi membantu jala tenggelam ke dalam air (Gambar Sebaliknya, jaring tidak selalu dilengkapi beberapa jenis jaring justru dipasangi pelampung agar dapat terentang di permukaan air (Gambar . Gambar 2. Alat Tangkap Jala Gambar 1. Perahu Kayu Alat tangkap yang digunakan nelayan Sungai Klawing cukup beragam, baik oleh nelayan yang beraktivitas di bagian hulu, tengah, maupun hilir sungai. Jenis alat tangkap tersebut antara lain jala, jaring, pancing, paser . ejenis senapan ika. , serta Gambar 3. Alat Tangkap Jaring Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Pancing merupakan salah satu alat tangkap yang disukai nelayan Sungai Klawing. Ukuran pancing yang digunakan nelayan cukup beragam dan disesuaikan dengan target jenis dan ukuran ikan. Nomor pada pancing mengacu pada standar ukuran mata kail . ook siz. Ukuran pancing yang dimiliki nelayan Sungai Klawing meliputi nomor 1, 2, 3, 4, 8, 10, 15. Pemilihan ukuran ini tidak semata-mata bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman panjang nelayan dalam memahami perilaku ikan di sungai. Nelayan mengetahui bahwa ikan kecil seperti wader dan uceng lebih aktif di perairan dangkal dengan arus tenang sehingga digunakan kail berukuran kecil . omor 1Ae. , sedangkan ikan tawes dan nilem lebih sering ditemukan di arus sedang dengan dasar berbatu sehingga digunakan kail nomor 3Ae4. Untuk ikan besar seperti baceman, nelayan menggunakan kail nomor 15 yang dianggap paling kuat menahan tarikan ikan besar. Kail dengan ukuran yang lebih besar umumnya menghasilkan tangkapan ikan berukuran lebih besar (Cooke et al. , 2. Hal ini terjadi karena ikan kecil tidak mampu memasukkan mulutnya ke dalam kail yang berdiameter lebih besar, sehingga hanya ikan dengan ukuran mulut lebih lebar yang dapat tertangkap. Umpan yang digunakan oleh nelayan Sungai Klawing cukup beragam diantaranya lumut, cacing, uceng . kan keci. , laron, dan udang. Beberapa jenis ikan seperti nilem, tawes, brek, dan mujair umumnya menyukai umpan lumut, sedangkan ikan baceman dan pelus lebih menyukai umpan berupa organisme hidup, seperti uceng dan udang. Salah satu alat tangkap yang cukup unik dan banyak digunakan oleh nelayan di bagian hulu Sungai Klawing adalah paser (Gambar . Paser merupakan alat tangkap ikan yang cara pengoperasiannya mirip dengan panah ikan . pear gu. , namun berbahan dasar kayu. Ukuran paser bervariasi, mulai dari 40 cm, 60 cm, hingga 80 cm. Seiring perkembangannya, alat tangkap panah mengalami modifikasi hingga melahirkan speargun, yakni perangkat yang berfungsi menembakkan anak panah di bawah air dengan memanfaatkan tenaga karet elastis atau tekanan udara (Tahapary et al. , 2. Harga paser beragam, bergantung pada ukuran dan kualitasnya. Untuk paser berukuran pendek . ini spear gun sekitar 40 c. , harga berkisar antara Rp250. hingga Rp1. 000, bahkan ada yang mencapai Rp2. Sementara itu, paser berukuran lebih besar, yang biasanya digunakan di danau maupun laut, dapat mencapai harga hingga Rp3. Alat ini termasuk dalam kategori alat tangkap aktif yang bekerja dengan cara mencengkeram dan melukai ikan, serta biasanya dioperasikan tanpa perahu. Penggunaannya keterampilan individu nelayan, karena mengarahkan dan menembakkan panah ke Keunggulan alat tangkap panah terletak pada tingkat selektivitasnya yang tinggi, karena nelayan dapat secara langsung memilih target tangkapan sesuai ukuran dan jenis ikan yang diinginkan (Humphries et al. , 2. Meski demikian, selektivitas ini juga dapat menjadi ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya ikan apabila nelayan cenderung menargetkan ikan berukuran besar yang berperan penting dalam reproduksi populasi. Efektivitas penggunaan paser sangat dipengaruhi oleh kemampuan fisik penyelam, ketepatan dalam membidik, serta kondisi perairan saat operasi berlangsung (Arceo et al. , 2. Nelayan Sungai Klawing memiliki keterampilan menyelam yang baik. Mereka mampu menyelam tanpa menggunakan alat bantu hingga kedalaman sekitar enam Dalam aktivitas menyelam, nelayan tidak menggunakan kaki katak ataupun alat bantu pernapasan, melainkan hanya mengandalkan kacamata renang dan sebuah senter bawah air sebagai penerangan. Berkat menyelam tersebut, nelayan setempat Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. bahkan sering diminta bantuan untuk mencari korban tenggelam di sungai. tersebut umumnya tidak berkembang menjadi perselisihan terbuka, karena diselesaikan melalui mekanisme sosial berbasis kekeluargaan. Nelayan paser dan jala biasanya menunjukkan sikap adaptif dengan menghindari wilayah yang telah dipasang mijahan dan menyesuaikan waktu operasional penangkapan di luar jam aktivitas nelayan mijahan. Gambar 4. Alat Tangkap Paser Nelayan Sungai Klawing memiliki cara lain untuk menangkap ikan, yaitu dengan membuat jebakan ikan yang disebut Jebakan ini ditujukan untuk ikan yang akan memijah dan biasanya dibuat di pinggiran sungai (Gambar . Mijahan banyak ditemukan di Sungai Klawing bagian hulu. Pembuatan mijahan dilakukan dengan menyusun batu-batu di tepi sungai, kemudian dilengkapi dengan tumbuhan untuk menarik ikan agar memijah di tempat tersebut. Dalam proses penyusunan batu, nelayan memiliki kepercayaan tertentu, yaitu bahwa susunan batu tidak boleh sembarangan. Arah susunan harus dibuat searah, karena mereka meyakini bahwa susunan yang tidak teratur dapat membuat ikan menjadi bingung dan enggan memijah. Pengetahuan mengenai arah dan pola susunan batu ini murni kultural, berasal dari tradisi dan pengalaman kolektif yang diwariskan secara turun menurun. Ikan-ikan biasanya datang ke mijahan pada malam hari, sekitar pukul 20. 00Ae 00, dan setelahnya nelayan akan menangkap induk ikan yang telah selesai memijah di lokasi tersebut. Ikan yang umumnya sering terperangkap di mijahan adalah ikan nilem. Nelayan menangkap ikan di mijahan menggunakan wuwu . (Gambar . Keberadaan mijahan seringkali menimbulkan konflik dengan nelayan pengguna alat tangkap lain karena dianggap menghalangi dan membatasi area penangkapan mereka. Namun, konflik Gambar 5. Mijahan Gambar 6. Alat Tangkap Wuwu Pengetahuan penangkapan dan jenis ikan Nelayan Sungai Klawing dalam menentukan lokasi penangkapan ikan mengandalkan pengalaman, intuisi, serta informasi dari sesama nelayan yang saling berbagi apabila terdapat perairan dengan hasil tangkapan yang melimpah. Sebagian besar nelayan di wilayah ini memiliki pengalaman melaut lebih dari sepuluh tahun, karena sejak kecil mereka sudah terbiasa ikut menangkap ikan bersama orang tua maupun kerabat. Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Solidaritas antar-nelayan juga cukup tinggi, mereka tidak segan saling membantu dan memberikan informasi apabila ada lokasi perairan yang banyak ikanny. Mereka memiliki sistem timbal balik informal . yang terbangun dari hubungan sosial jangka panjang, di mana informasi mengenai lokasi ikan, kondisi arus, atau hasil tangkapan dibagikan secara sukarela dengan harapan akan memperoleh bantuan serupa di lain waktu. Bentuk solidaritas ini tidak diatur secara formal, namun dijaga melalui norma sosial dan rasa saling percaya di antara sesama nelayan. Pada arus deras, ikan yang sering sedangkan pada arus sedang dan air jernih umumnya didominasi ikan nilem. Nelayan juga memperhatikan fenomena ikan yang muncul ke permukaan dalam jumlah banyak . , yang biasanya terjadi pada sore hari. Beberapa nelayan menggunakan kekuatan arus sebagai indikator untuk menentukan lokasi penangkapan ikan. Kecepatan arus turut memengaruhi proses pencarian makanan dan pemijahan ikan, terutama di perairan yang relatif dalam. Selain itu, arus juga sangat penting bagi kelangsungan hidup organisme akuatik karena dapat memengaruhi suhu larva (Daim et al. , 2. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Sungai Klawing bergantung pada musim dan alat tangkap yang digunakan. Secara umum, ikan yang sering didapat adalah ikan nilem (Osteochilus hasselt. , ikan tawes (Puntius javanicu. , dan ikan brek (Puntius Jenis ikan lain yang juga menjadi hasil tangkapan nelayan sungai Klawing antara lain ikan baceman (Mystus nemuru. , ikan pelus (Anguilla marmorat. , lele lokal (Clarias batrachu. , ikan uceng (Nemachilus fasciatu. , ikan lukas (Labiobarbus leptocheilu. , ikan betutu (Oxyeleotris marmorat. Selain itu, beberapa ikan introduksi juga ditemukan, (Oreochromis sapu-sapu (Hypostomus Plecostomu. Ikan sapu-sapu merupakan jenis ikan non-target yang tidak disukai nelayan karena keberadaannya dianggap mengganggu, tidak memiliki nilai jual, dan rasanya kurang enak jika Ikan sapu-sapu merupakan ikan invasive yang dapat menjadi ancaman bagi spesies ikan lokal, karena ikan tersebut memiliki kemampuan adaptasi tinggi, sehingga berpotensi menjadi hama perairan (Hasrianti et al. , 2. Nelayan Sungai Klawing umumnya merespons kemunculan ikan sapu-sapu dengan cara sederhana: ikan yang tertangkap biasanya dibuang, atau jika masih hidup, dilepaskan kembali ke Hingga saat ini belum terdapat upaya kontrol tradisional yang secara khusus ditujukan untuk menekan populasi ikan tersebut. Selain mengganggu hasil tangkapan ikan target, keberadaan ikan sapu-sapu menyesuaikan strategi penangkapan, seperti memilih lokasi yang lebih bersih dari spesies tersebut atau mengubah waktu Pengetahuan tentang kondisi alam Dalam penangkapan, nelayan Sungai Klawing mengandalkan pengalaman yang telah mereka peroleh sejak kecil dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke Hal ini membuat mereka mampu memahami serta mengenali musim yang tepat untuk melakukan penangkapan ikan di Sungai Klawing. Sebagian masyarakat di Sungai Klawing, sebagai nelayan, terkadang mereka juga Kearifan lokal yang dimiliki oleh para nelayan yang semula berbasis pada mata pencaharian petani yang memiliki pengetahuan tentang pranata dalam kegiatan pertanian, dialihkan untuk digunakan dalam periode menangkap ikan untuk melihat potensi tangkapan ikan. Pranata Mangsa . alam bahasa Jawa berarti Auketentuan musimA. adalah sistem penanggalan tradisional yang berkaitan erat Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. dengan aktivitas pertanian maupun penangkapan ikan. Kalender ini disusun berdasarkan peredaran matahari dan berlangsung dalam satu siklus tahunan, yaitu 365 hingga 366 hari. Dalam Pranata Mangsa termuat berbagai tanda fenologi dan gejala alam yang dijadikan acuan, baik untuk menentukan waktu bercocok tanam maupun sebagai pedoman menghadapi potensi bencana alam, seperti kekeringan, banjir, serangan hama, maupun wabah penyakit (Prabintoro et al. , 2. Pranata Mangsa terdiri atas 12 bulan dengan panjang masing-masing antara 23 hingga 43 hari. Kalender ini didasarkan pada peredaran semu matahari yang setiap tahun bergeser ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Ketika matahari berada di utara khatulistiwa, kondisi tersebut menandai datangnya musim Sebaliknya, apabila matahari bergerak ke selatan khatulistiwa, hal itu menunjukkan musim hujan. Sementara itu, ketika matahari berada di sekitar garis khatulistiwa, masa tersebut disebut musim pancaroba, yang terbagi menjadi dua periode, yakni pancaroba menjelang musim hujan dan pancaroba menjelang musim kemarau (Sobirin, 2. Menurut nelayan Sungai Klawing, musim yang dianggap baik untuk penangkapan ikan adalah pada mangsa ganjil, khususnya mangsa pertama. Mangsa Kasa berlangsung selama 41 hari, dari 22 Juni hingga 1 Agustus, dengan kondisi alam ditandai oleh tanah yang mulai mengering akibat berkurangnya air, serta daun-daun yang berguguran dan pohon yang meranggas (Sobirin, 2. Periode ini menandai musim kemarau, di mana nelayan Sungai Klawing merasa lebih mudah menangkap ikan karena arus sungai menjadi lebih pelan dan debit air menurun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir nelayan setempat menyadari bahwa pranata mangsa tidak lagi sepenuhnya dapat dijadikan acuan yang akurat, karena pola musim dan curah hujan mengalami penyimpangan akibat perubahan iklim Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengetahuan tradisional yang sebelumnya sangat andal dalam membaca siklus alam kini menghadapi keterbatasan dalam merespons dinamika iklim modern. Fenomena ini menegaskan pentingnya integrasi antara kearifan lokal dan pengetahuan klimatologi modern agar adaptasi terhadap perubahan lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif dan Pengetahuan Sumberdaya Perikanan Pengelolaan Nelayan Sungai Klawing kini semakin menyadari pentingnya penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan. Pada masa lalu, sebagian dari mereka masih menggunakan metode penangkapan yang berbahaya, seperti racun dan setrum. Namun, seiring dengan meningkatnya pemahaman dan pengalaman langsung terhadap dampak negatif praktik tersebut, mereka mulai meninggalkan cara-cara tersebut karena disadari dapat merusak keberlanjutan sumber daya perikanan Penangkapan ikan dengan metode yang merusak . estructive fishin. merupakan kegiatan menangkap ikan yang menggunakan suatu alat yang dapat merusak sumber daya kelautan dan perikanan sebagai alat bantu (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2. Praktik penangkapan ikan dengan cara merusak ini menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan nelayan itu sendiri, antara membunuh telut-telur ikan sehingga menghambat proses perkembangbiakan biota, mengancam keselamatan jiwa, dan (Mirza et al. , 2. Nelayan Sungai Klawing turut berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di sungai tersebut. Mereka melakukan pengawasan terhadap menggunakan alat tangkap berbahaya dan merusak, serta melaporkan apabila terdapat Salsabila. et al. /Barakuda 45 7 . , 192-204 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. oknum yang melakukan pelanggaran, yang umumnya beroperasi pada malam hari. Nelayan juga menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sungai dengan tidak membuang sampah ke Masyarakat di wilayah hulu bahkan memiliki tradisi yang disebut Gredug Sampah, yaitu kegiatan bersihbersih sungai yang dilaksanakan bersamasama dua kali dalam setahun. Menurut keterangan responden, tradisi ini telah berlangsung sejak lama, meskipun tidak ada catatan pasti mengenai awal mulanya maupun pihak yang pertama kali menginisiasi kegiatan tersebut. Bagi masyarakat. Gredug Sampah dipahami sebagai bentuk tanggung jawab kolektif terhadap kebersihan sungai sekaligus wujud rasa syukur atas sumber daya air yang menopang kehidupan mereka. beradaptasi agar sesuai dengan dinamika sosial dan lingkungan saat ini. Oleh karena itu, penguatan kearifan lokal perlu dilakukan melalui integrasi dengan pendekatan ilmiah modern, seperti kelembagaan co-management, serta edukasi lingkungan berbasis komunitas. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan perikanan Sungai Klawing yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH