NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. HUBUNGAN BEBAN KERJA PERAWAT DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI POLI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KRAKATAU MEDIKA KOTA CILEGON BANTEN 1*Veri, 2 Riris Andriati, 3 Ida Listiana Jurusan Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang. Tangerang Selatan. Banten. Indonesia korespondensi author: stefenveri060991@gmail. ABSTRAK Perawat adalah profesi kesehatan yang mengkhususkan diri pada upaya penanganan asuhan kepada pasien dengan tuntutan kerja yang bervariasi berdasarkan karateristik pekerjaan. Perawat sering dibebani tugas tambahan lain dan sering melakukan kegiatan yang bukan fungsinya. Stres di tempat kerja adalah beban kerja yang berlebihan dan ketegangan emosional yang mengganggu kinerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan stres kerja perawat. Metode penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif analitik yang menggunakan data primer . dan memakai metode penelitian cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 40 perawat dengan menggunakan total sampling. Dari hasil penelitian diperoleh responden yang memiliki beban kerja yang ringan yang memiliki stres kerja yang ringan sebanyak 11 . ,6%) responden dan responden yang memiliki beban kerja yang berat memiliki stress kerja yang tinggi sebanyak 19 . ,1%) responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai . - value=0,005, : 0,. maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stress kerja Saran penelitian ini dapat diterapkan kepada perawat tentang beban kerja dan stress kerja, hendaknya penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dan acuan mahasiswa/I untuk melakukan penelitian selanjutnya dan penelitian ini diharapkan dapat bermamfaat bagi bahan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Kata kunci : Beban Kerja. Stres Kerja RELATIONSHIP BETWEEN NURSE WORKLOAD AND NURSE OCCUPATIONAL STRESS IN OUTPATIENT POLY HOSPITAL KRAKATAU MEDIKA CITY CILEGON BANTEN ABSTRACT Nurse is a health profession that specializes in efforts to handle patient care or care for patients with varying work demands based on job characteristics. Nurses are often burdened with other additional tasks and often carry out activities that are not their function. Stress at work is excessive workload, tension, and emotional tension that interferes with performance. The purpose of this study was to determine the relationship between workload and work stress for nurses. This research method is a descriptive analytic research that uses primary data . and uses a cross sectional research method. The number of samples is 40 nurses using total sampling. From the results of the study, it was found that 11 . 6%) respondents who had a light workload had light work stress and 19 . 1%) respondents who had a heavy workload had high work stress. The statistical test results obtained a value . -value = 0. 005, : 0. so it can be concluded that there is a significant relationship between workload and work stress of nurses. Suggestions from the results of this study are that it is hoped that the knowledge in this research can be applied to nurses regarding workload and work stress, this research should be used as a reference and reference for students / I to conduct further research and this research is expected to be useful for input materials for the development of Keywords: Workload. Work Stress NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. PENDAHULUAN Perawat merupakan salah satu pekerja kesehatan yang selalu ada disetiap rumah sakit dan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan rumah sakit (Hamid, 2. Menurut Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang profesi keperawatan, perawat adalah seseorang yang dinyatakan lulus dalam menempuh pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam negeri maupun luar negeri yang diakui pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Seorang perawat berkewajiban memenuhi kebutuhan pasien meliputi bio-psiko- sosialspiritual, agar tercapainya derajat kesehatan yang merupakan fungsi utama dari perawat (Dwi, 2. Perawat adalah profesi kesehatan yang mengkhususkan diri pada upaya penanganan perawatan pasien atau asuhan kepada pasien dengan tuntutan kerja yang bervariasi berdasarkan karateristik pekerjaan. Karakteristik perkerjaan tersebut meliputi karakteristik tugas, organisasi, lingkungan kerja fisik maupun sosial. Perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan mempunyai durasi lebih lama bersama pasien dan dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu cepat, tepat, dan cermat dalam keadaan atau kondisi yang kompleks (Sari & Rayni, 2. Perawat sering dibebani tugas tambahan lain dan sering melakukan kegiatan yang bukan fungsinya, misalnya menangani administrasi, keuangan dan lainnya (ILO, 2. Menurut Patria Asda . , beban kerja mengacu pada semua faktor yang mempengaruhi seberapa banyak atau sulitnya pekerjaan seseorang. Perawat berperan penting di rumah sakit dalam memberikan layanan medis. Dengan meningkatnya kualitas layanan kesehatan, kinerja perawat menjadi semakin penting. Profesi keperawatan memerlukan tanggung jawab yang sangat besar dan meminta anggotanya untuk memiliki pola pikir, keahlian, dan kemampuan yang diperlukan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kode etik profesi. Beban kerja merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai keselarasan dan tingkat produktivitas yang tinggi. Selain itu, beban kerja perawat harus sesuai dengan keahliannya. Pasien akan menerima perawatan berkualitas tinggi jika perawat melakukan sesuai dengan standar asuhan keperawatan. Menurut penelitian Barahama pada tahun 2019, beban kerja perawat di Ruangan Perawatan Dewasa RSU GMIM Pancaran Kasih Manado adalah beban kerja berat sebanyak 39 responden . ,2%) sedangkan beban kerja ringan sebanyak 19 responden . ,8%). Beban kerja perawat ditentukan dengan mempertimbangkan kebutuhan klien akan layanan bantuan dan aktivitas kerja perawat. Aktifitas perawat dibedakan menjadi perawatan langsung dan tidak langsung (Nursalam, 2. Banyaknya jumlah kunjungan pasien merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya beban kerja perawat, menurut data Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. Sosial (BPJS) pemanfaatan JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional terus meningakat setiap tahunnya. Kunjungan rawat jalan dan rawat inap di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) pada tahun 2014 tercatat sejumlah 66,8 juta, meningkat menjadi 4 juta pada tahun 2018, kunjungan rawat jalan di rumah sakit pada tahun 2014 tercatat sejumlah 21,3 juta meningkat menjadi 78. 8 juta pada tahun 2018 sedangkan jumlah kunjungan rawat inap di rumah sakit pada tahun 2014 tercatat sejumlah 4,2 juta meningkat menjadi 9. 8 juta pada tahun 2018 (Kemenkes, 2. Stres di tempat kerja adalah beban kerja yang berlebihan, ketegangan, dan ketegangan emosional yang mengganggu kinerja. Faktor-faktor organisasi seperti konflik peran, harapan kerja, tanggung jawab untuk orang lain, pergeseran jam kerja, perubahan yang tidak menyenangkan dalam kelompok kerja, dan perubahan dalam strategi organisasi semuanya dapat mempengaruhi seberapa stres yang dirasakan karyawan di tempat kerja (Pratama, 2. Konsep stres kerja telah muncul sebagai isu global. Hal ini terlihat dari prevalensi stres, yaitu 385. 000 kasus di Inggris dan 11. 000 hingga 000 kasus di Wales (Heath and Safety Executive, 2. American Nurses Asociation . , menyatakan bahwa stres pada perawat didapatkan sebanyak 82% dari pekerja yang ada di rumah sakit di Amerika. Menurut Health and Safety Executive . Profesional kesehatan, pendidik, dan perawat menunjukkan tingkat stres yang signifikan, dengan prevalensi 3. 000 kasus per 100. 000 pekerja. Karena perawat dan mahasiswa menghadapi risiko pekerjaan tertentu, perlu ada strategi untuk membantu perawat mengelola tingkat stres mereka, terutama melalui aktivitas fisik, nutrisi yang baik, istirahat, keamanan, dan kualitas hidup yang tinggi (Azteria dan Hendarti, 2. Menurut Kementerian Kesehatan RI pada tahun . , sebesar 60,6% pekerja mengalami depresi dan sebesar 57,6% pekerja mengalami insomnia. Gangguan ini berhubungan dengan gangguan mental emosional dan stresor pengembangan karir. Penyebab stres ditempat kerja disebabkan oleh beban pekerjaan, seperti target, hubungan interpersonal, dengan atasan atau rekan kerja lain. Hasil survei yang dilakukan PPNI . , menyatakan bahwa sekitar 50,9% perawat di Indonesia mengalami stres kerja (Azteria dan Hendarti, 2. Berdasarkan hasil observasi didapatkan informasi bahwa perawat yang bekerja di poli rata-rata mengalami stres karena beban kerja terlalu banyak yang di alami seorang perawat di setiap poli. Di ruangan lain perawat juga mengalami stres karena jam kerja yang berlebihan dalam sehari dan hubungan perawat dengan perawat lainnya yang kurang baik dalam satu poli. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis ada tidaknya hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika Kota Cilegon Banten NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasi dengan studi cross-sectional. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian di 23 Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika Tahun 2023 pada bulan Mei 2023. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah perawat poli rawat jalan RSKM berjumlah 40 perawat dari 23 Poli rawat jalan. Tehnik Sampling Tehnik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan tehnik total Analisis univariate dalam penelitian ini terdiri variabel beban kerja dan stress kerja. Jumlah Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 40 perawat Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang terdiri atas kuesioner pemenuhan spiritual dan motivasi sembuh pasien. HASIL PENELITIAN Analisa Univariat Usia Responden Diagram 1 . istribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . Diagram 1 menunjukan deskripsi frekuensi responden berdasarkan usia, dimana hampir setengah responden memiliki usia dewasa awal: 26-35 tahun yaitu 14 perawat . %), memiliki usia dewasa akhir: 36-45 tahun yaitu 12 perawat . %), sebagian kecil responden memiliki usia remaja akhir: 17-25 tahun yaitu 11 perawat NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. %) dan sebagian kecil responden memiliki usia lansia: > 45 tahun yaitu 3 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Jenis Kelamin Responden Diagram 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . 6, 15% 34, 85% Laki - laki Perempuan Diagram 2 menunjukan deskripsi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin, dimana sebagian besar responden memiliki jenis kelamin perempuan yaitu 34 perawat . %) dan sebagian kecil responden memiliki jenis kelamin laki Ae laki yaitu 6 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Pendidikan Responden Diagram 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . 5, 13% 35, 87% Di S1/Ners Diagram 3 menunjukkan deskripsi frekuensi responden berdasarkan pendidikan, dimana sebagian besar responden memiliki pendidikan Di keperawatan yaitu 35 perawat . %) dan sebagian kecil responden memiliki pendidikan SI/ Ners yaitu 5 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Beban Kerja Perawat Diagram 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Beban Kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . 14, 35% 26, 65% Ringan Berat NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. Diagram 4 menunjukkan deskripsi frekuensi responden berdasarkan beban kerja dimana lebih dari setengah responden memiliki beban kerja yang berat yaitu 26 perawat . %) dan hampir setengah responden memiliki beban kerja ringan yaitu 14 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Stres Kerja Perawat Diagram 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan stres kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . 18, 45% 22, 55% Rendah Tinggi Diagram 5 menunjukkan deskripsi frekuensi responden berdasarkan stres kerja, dimana lebih dari setengah responden memiliki stres kerja yang tinggi yaitu 22 perawat . %) dan hampir setengah responden memiliki stres kerja yang rendah yaitu 18 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Analisa Bivariat Hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika Tabel 1. Hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika . Beban Kerja Stres Kerja Ringan Tinggi . %CI) Total P value Ringan 2,918 Berat Total 5,817-1,464 0,005 NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. Tabel 1 menunjukkan data dari 14 responden yang memiliki beban kerja yang ringan hampir setengah responden yang memiliki stres kerja yang ringan sebanyak 11 . ,5%) responden sedangkan sebagian kecil responden yang memiliki stress kerja yang tinggi sebanyak 3 . ,5,%) responden. Dari 26 responden yang memiliki beban kerja yang berat hampir setengah responden memiliki stress kerja yang tinggi sebanyak 19 . ,5%) responden, sedangkan sebagian kecil responden yang memiliki stress kerja ringan sebanyak 7 . ,5%) responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai P value = 0,005 maka dapat disimpulkan ada hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Dari hasil analisis diproleh pula nilai OR = 2,918 atau dibulatkan menjadi 3, artinya responden yang memiliki beban kerja yang ringan mempunyai peluang untuk memiliki stres kerja yang rendah sebanyak 3 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki beban kerja yang berat. PEMBAHASAN Analisi Univariat Usia Perawat Berdasarkan karakteristik responden menurut usia dari 40 responden, dimana hampir setengah responden memiliki usia dewasa awal: 26-35 tahun yaitu 14 perawat . %). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Runutu. Pondang. L dan Hammel. pada tahun 2018 dengan judul hubungan beban kerja fisik dengan stres kerja perawat diruang rawat inap Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado, didapatkan bahwa mayoritas perawat rawat inap berusia 26-30 tahun yaitu sebanyak 19 orang . ,3%). Sedangkan penelitian Astuti . dengan judul hubungan beban kerja dengan tingkat stres perawat pelaksana Di Ruang Instalasi Rawat Inap RS Bhayangkara Makassar, mengatakan bahwa Perawat paling banyak dalam kategori usia dewasa awal sejumlah 31 perawat . ,6%). Hal ini sesuai dengan teori menurut A. Wawan & Dewi M . yang mengungkapkan bahwa konsep umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa. Menurut Sugeng . , hal ini berhubungan erat dengan maturitas atau tingkat kedewasaan seseorang. Semakin tua umur seseorang, maka akan semakin meningkat kedewasaannya, kematangan jiwanya dan lebih mampu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Seiring dengan bertambahnya umur maka akan meningkat pula kemampuan membuat keputusan, berpikir rasional, semakin bijaksana, mampu mengendalikan emosi, lebih toleran, dan terbuka dengan pandangan atau pendapat NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. orang lain sehingga ketahanan dirinya terhadap stres akan meningkat Responden pada kelompok usia tersebut termasuk dalam usia produktif dimana semakin tinggi usia seseorang dalam melakukan pekerjaan maka semakin terampil dan berpengalaman, semakin mampu melaksanakan tugas pekerjaan dan semakin sabar. Hal ini juga yang menjadi alasan rumah sakit selalu merekrut tenaga perawat dengan usia 22-30 tahun yang termasuk kedalam usia produktif tiap tahunnya untuk menggantikan perawat yang pensiun atau habis masa kerjanya Jenis Kelamin Perawat Berdasarkan karakteristik responden menurut jenis kelamin responden dari 40 responden, menunjukkan sebagian besar responden memiliki jenis kelamin perempuan yaitu 34 perawat . %). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti . dengan judul hubungan beban kerja dengan tingkat stres perawat pelaksana Di Ruang Instalasi Rawat Inap RS Bhayangkara Makassar, mengatakan bahwa perawat paling banyak dalam kategori jenis kelamin perempuan yaitu 38 orang . ,2%). Sedangkan penelitian Fina Fanka pada tahun 2021 dengan judul pengaruh stres kerja dan beban kerja terhadap prestasi kerja perawat pada Rumah Sakit Sansani Pekanbaru, mengatakan bahwa perawat paling banyak dalam kategori jenis kelamin yaitu perempuan sebanyak 30 orang . ,72%). Manurut teori Brizendin . dalam Lusia . , mengatakan bahwa Jenis kelamin berperan terhadap terjadinya stres. Ada perbedaan respon antara laki-laki dan perempuan saat menghadapi konflik. Otak perempuan memiliki kewaspadaan yang negatif terhadap adanya konflik dan stres, pada perempuan konflik memicu hormon negatif sehingga memunculkan stres, gelisah, dan rasa takut. Sedangkan laki-laki umumnya menikmati adanya konflik dan persaingan, bahkan menganggap bahwa konflik dapat memberikan dorongan yang positif. Dengan kata lain, ketika perempuan mendapat tekanan, maka umumnya akan lebih mudah mengalami stres. Secara teori psikologi, perempuan memiliki sifat atau naluri keibuan yang dibutuhkan dalam melayani, sehingga diharapkan sifat perawat perempuan lebih sabar dan perhatian dalam memberikan pelayanan (Yudi, 2. Pada penelitian ini lebih banyak perempuan dari pada laki-laki karena perawat di RSKM didominasi oleh perempuan, hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan perawat lebih banyak diminati oleh perempuan dibandingkan laki-laki karena keperawatan adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran lemah lembut dan ini identik dengan perempuan yang memiliki sifat atau naluri keibuan yang sabar, lemah lembut, perhatian yang dibutuhkan untuk melayani. Pendidikan Perawat Berdasarkan karakteristik responden menurut pendidikan responden dari 40 menunjukan sebagian besar responden memiliki pendidikan Di keperawatan yaitu 35 NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. %). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kusumaningrum . dengan judul hubungan beban kerja perawat dengan tingkat stres kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat, yang menyatakan bahwa perawat paling banyak dalam kategori pendidikan terakhir yaitu D3 keperawatan sebanyak 14 orang . ,6%). Sedangkan penelitian Kristina Natalya Rewo pada tahun 2020 dengan judul faktor Ae faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada perawat di RS Mayapada Tangerang, mengatakan bahwa perawat paling banyak dalam kategori pendidikan terakhirnya yaitu D3 Keperawatan sebanyak 102 orang . ,4%). Hal ini sesuai dengan Teori Inocian et al. , . , yang mengungkapkan bahwa konsep pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menetukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan (A. Wawan & Dewi M, 2. Berdasarkan pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula kecerdasan emosionalnya. Proses menjalani pendidikan dapat melahirkan perilaku caring. Menurut analisa peneliti pendidikan D3 keperawatan lebih banyak dibandingkan S1 keperawatan dikarenakan pada saat berdirinya rumah sakit pendidikan D3 keperawatan sebagai perawat pelaksana yang dibutuhkan jumlah yang cukup banyak sedangkan pendidikan S1 Ners keperawatan lebih ke peran advokasi dan manejerialnya. Sehingga tidak terlalu banyak pada perawat S1 Ners keperawatan yang telah ditempatkan di masing Ae masing ruangan di RSKM. Beban Kerja Perawat Berdasarkan distribusi responden menurut beban kerja responden dari 40 menunjukan lebih dari setengah responden memiliki beban kerja yang berat yaitu 26 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuli Nur Andhika. Mujahid. Rahman pada tahun 2018 dengan judul hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di IGD RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa, menunjukkan bahwa presentasi beban kerja di ruang rawat inap sebanyak 19 responden dengan beban kerja yang berat . ,2%). Sedangkan penelitian Astuti . dengan judul dengan judul hubungan beban kerja perawat dengan tingkat stress kerja perawat pelaksana Di Ruang Instalasi Rawat Inap RS Bhayangkara Makassar, mengatakan bahwa sebagian besar perawat mengalami beban kerja yang berat sebanyak 27 orang . ,2%). Menurut Madadzadeh . Beban kerja yang berlebihan merupakan sumber utama Pada 37% subjek beban kerja yang tinggi dari pekerjaan yang penuh stres berpengaruh terhadap ketidakpuasan kerja, depresi, gejala psikosomatis dan pada 30-50 persen subjek yang bekerja di lingkungan kerja lesu merupakan sumber stres. Kualitas pelayanan dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara jumlah tenaga dan beban kerja perawat di rumah sakit. Beban kerja yang tinggi dapat menimbulkan stres dan NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. penurunan kualitas asuhan keperawatan. Salah satu beban kerja yang sering terjadi karena adanya tekanan psikologis disebut dengan beban kerja mental (Rizkianti & Haryani, 2. Sumber dari tekanan psikologis tersebut adalah peningkatan jam kerja, kualitas tidur yang buruk, kelelahan, dan risiko terinfeksi virus (Shoja et al. , 2. Tekanan psikologis akan muncul jika perawat harus bekerja dan berinteraksi dengan pasien terus menerus, tuntutan tugas, keterbatasan kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan, kurangnya motivasi, dan perubahan mood perawat (Destiani. Mediawati, & Permana, 2. Menurut Madadzadeh et al. , . Rizkianti & Haryani, . Beban kerja tidak terbatas pada tugas fisik perawat. tugas kognitif atau pengetahuan perawat juga dapat menjadi bagian kompleks dari keseluruhan beban kerja. Beban kerja perawat secara fisik yaitu ambulasi, membantu daily living pasien, menyediakan alat kesehatan, membersihkan dan merapikan bed pasien. Beban kerja perawat secara psikologis yaitu shift atau jadwal kerja, kebutuhan dukungan mental kepada pasien dan keluarga khususnya kondisi kritis, merawat pasien dan komunikasi interpersonal dengan pasien ataupun tenaga kesehatan lain. Bila kondisi jumlah tugas jauh lebih banyak dibanding dengan kemampuan fisik, keterampilan dan ketersediaan waktu, maka cenderung menjadi stressor bagi perawat. Tingginya beban kerja perawat di Poli Rawat Jalan RSKM disebabkan karena banyak jenis pekerjaannya yang harus dilakukan tidak sesuai dengan tugas perawat, kurangnya tenaga perawat di ruangan dan kemampuan yang dimiliki tidak mampu mengimbangi tuntutan pekerjaan serta tuntutan dari pasien dan keluarga dengan karakteristik yang berbeda-beda. Stres Kerja Perawat Berdasarkan distribusi responden menurut stress kerja perawat, responden dari 40 menunjukkan lebih dari setengah responden memiliki stres kerja yang tinggi yaitu 22 perawat . %) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Krakatau Medika. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Shieva Nur Azizah. Bunga Hidi Nopti pada tahun 2019 dengan judul The Relationship Between Workload and Stress Level in Emergency Department of RSU Kabupaten Tangerang, mengatakan bahwa perawat yang mengalami stress kerja yang paling banyak responden yang mengalami stress kerja berat sebanyak 23 responden . 5%). Sedangkan penelitian Astuti . dengan judul dengan judul hubungan beban kerja dengan tingkat stres perawat pelaksana Di Ruang Instalasi Rawat Inap RS Bhayangkara Makassar, mengatakan bahwa sebagian besar perawat mengalami stres kerja yang berat sebanyak 29 orang . ,4%). Menurut Handoko . stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya. Sedangkan NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. menurut Saam dan Wahyuni . stres kerja adalah ketidak mampuan individu dalam memenuhi tuntutan-tuntutan pekerjaannya sehingga merasa tidak nyaman dan tidak Perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Perawat juga sering kali mengalami stress, stres kerja dapat diartikan sebagai tekanan yang dirasakan karyawan karena tugas-tugas pekerjaan tidak dapat pegawai penuhi. Stres kerja ini tampak dari simptom, antara lain emosi tidak stabil, perasaan tidak tenang, suka menyendiri, sulit tidur, tidak bisa rileks, cemas, tegang, gugup, tekanan darah meningkat, dan mengalami gangguan pencernaan Mangkunegara . Menurut peneliti terjadinya stres kerja perawat di Poli Rawat Jalan RSKM merupakan bagian dari stres dalam melaksanakan pekerjaan, stres dapat disebabkan oleh banyaknya pertanyaan yang muncul dari beban kerja perawat, ketegangan dalam berinteraksi dengan atasan dan sesama pekerja, pekerjaan yang menuntut konsentrasi yang tinggi, dan lain - lainnya. Analisis Bivariat Hubungan beban kerja perawat denga stress kerja Perawat Dari hasil Chi Square terdapat hasil uji statistik diperoleh nilai P value = 0,005 maka dapat disimpulkan ada hubungan beban kerja perawat dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika. Dari hasil analisis diproleh pula nilai OR = 9,952 atau dibulatkan menjadi 10, artinya responden yang memiliki beban kerja yang ringan mempunyai peluang untuk memiliki stres kerja yang rendah sebanyak 10 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki beban kerja yang berat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kusumaningrum . dengan judul Hubungan Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat, dengan menggunakan korelasi Spearman Rank didapatkan nilai p value sebesar 0. 01 lebih kecil 05 dengan Correlation Coefficient sebesar 0. sehingga ada hubungan antara Beban Kerja Dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Di Ruang IGD RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Sedangkan penelitian Hagarwati. S . dengan judul hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di Instalasi Gawat Darurat RSI Sultan Agung Semarang, dengan pengujian hipotesis yang dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment diperoleh rxy = 0,318 dengan p = 0,016 . < 0,. Hal ini menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan antara beban kerja dengan stres Menurut penelitian Pandu Wicaksono & Nur Yeti Syarifah pada tahun 2019, dengan judul The Relation Between The Workload Of Nurse Executor And Work Stress In The Hospital Ward Of RSUD Sleman, mengatakan bahwa hasil penelitiannya ada hubungan antara beban kerja perawat pelaksana dengan stres kerja perawat di bangsal rawat inap dengan nilai p value = 0. Sedangkan menurut penelitian Nonik Eka Martyastuti. Isrofah. Khalilatun Janah pada tahub 2019 dengan judul hubungan beban kerja dengan tingkat stres perawat di Ruang Intensive Care Unit dan Instalasi Gawat Darurat. NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. mengungkapkan bahwa hasil uji statistik chi-squere didapatkan nilai p Value 0. < . artinya ada hubungan antara beban kerja dengan tingkat stres perawat ruang ICU dan IGD RSU Siaga Medika Pemalang. Hal ini sesuai dengan teori Wijono . bahwa beban kerja perawat adalah menyelamatkan kehidupan dan mencegah kecacatan sehingga pasien dapat hidup. Sesuai penelitian Hal ini didukung oleh penelitian Jauhari . bahwa standar beban kerja perawat senantiasa harus sesuai dengan asuhan keperawatan yang berorientasi pada kebutuhan pasien. Untuk menghasilkan pelayanan yang efektif dan efisien harus diupayakan kesesuaian antara ketersediaan tenaga perawat dengan beban kerja yang Menurut Sunyoto . Perawat mengalami stres kerja yang diakibatkan oleh tanggung jawab yang besar sehingga perawat tersebut mengalami stres kerja, terlihat dari adanya keluhan seperti nyeri otot, kelelahan, konsentrasi menurun, tekanan darah tinggi, gangguan suasana hati, dan insomnia yang di akui oleh beberapa perawat, kondisi dan situasi lain yang dikeluhkan oleh perawat seperti pasien yang datang pada saat tertentu jumlahnya banyak dan tidak sebanding dengan jumlah tenaga perawat. Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabakan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres, hal ini bisa disebabkan oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja terlalu tinggi, volume kerja terlalu banyak dan Hal ini sejalan dengan fenomena yang peneliti dapatkan yaitu perawat mengalami kelelahan dikarenakan meningkatnya tuntutan pekerjaan perawat saat naiknya lonjakan pasien di rumah sakit yang dapat menyebabkan stres kerja pada perawat. Stres kerja yang muncul pada perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika antara lain disebabkan oleh kondisi pekerjan yang menyebabkan beban kerja berlebihan sehingga dapat meningkatkan ketegangan dan kelelahan mental atau fisik. Menurut peneliti faktor yang mempengaruhi beban kerja perawat adalah kondisi pasien yang selalu berubah, jumlah rata-rata jam perawatan yang di butuhkan untuk memberikan pelayanan langsung pada pasien melebihi dari kemampuan seseorang, keinginan untuk berprestasi kerja, tuntutan pekerjaan tinggi serta dokumentasi asuhan keperawatan. Beban kerja yang berlebihan ini sangat berpengaruh memicu munculnya stres kerja karena semua pasien yang berkunjung secara tidak langsung menuntut mendapatkan pelayanan yang efektif dan efisien sehingga permasalahan yang dihadapi pasien segera KESIMPULAN Teridentifikasi gambaran karakteristik responden di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika berdasarkan usia hampir setengah responden memiliki usia dewasa awal: 26-35 tahun yaitu 14 responden . %), berdasarkan jenis kelamin responden sebagian besar responden memiliki jenis kelamin perempuan yaitu 34 perawat . %), berdasarkan pendidikan responden sebagian besar responden memiliki pendidikan Di keperawatan yaitu 35 responden . %) NURSING ANALYSIS: JOURNAL OF NURSING RESEARCH Vol. No. April 2025. Hal. Teridentifikasi berdasarkan beban kerja dari 40 responden, data yang di dapatkan menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden memiliki beban kerja yang berat yaitu 26 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika Teridentifikasi berdasarkan stress kerja dari 40 responden, data yang di dapatkan menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden memiliki stres kerja yang tinggi yaitu 22 perawat . %) di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika Teranalisis dari hasil uji chi square terdapat adanya hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit Krakatau Medika dengan nilai P value = 0,005 < 0,05 REFERENSI