Cakrawala Jurnal Pendidikan Volume 19 No 2 . http://cakrawala. id/index. php/Cakrawala email: cakrawala. upstegal@gmail. The Role of SPMI in Strengthening the Governance of the Indonesian Language Education Study Program at FKIP UMSU: A Self-Evaluation-Based Approach 1 M. Afiv Toni Suhendra Saragih nC, 2 Mahyuni, 3 Akrim History _____________________________________________ 1 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia Received Januari 2 Universitas Sumatera Utara. Indonesia Revised 3 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia Accepted Februari Publish Maret DOI: _____________________________________ DOI: . Email: m. avivtonisuhendra@umsu. mahri@yahoo. Akirm@umsu. Abstract This study aims to analyse the role of the Internal Quality Assurance System (SPMI) in strengthening the governance of the Indonesian Language Education Study Program at FKIP UMSU through a self-evaluation-based approach. Using a mixed method with an explanatory sequential design, quantitative data was collected through a survey of lecturers, students, and education staff, while qualitative data was obtained from in-depth interviews. FGDs, and document The results show that SPMI implementation is in the moderate category, with self-evaluation as the most influential component on the quality of governance. Self-evaluation improves transparency, accountability, and participation in decision-making, although there are still challenges such as limited human resources and resistance to This study concludes that SPMI-based self-evaluation has a significant contribution in transforming study programme governance holistically. Keywords: Educational quality assurance. Governance of study programs. Internal quality. Language education. Selfevaluation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dalam penguatan tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU melalui pendekatan berbasis evaluasi diri. Menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori, data kuantitatif dikumpulkan melalui survei terhadap dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, sedangkan data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam. FGD, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SPMI berada pada kategori sedang, dengan evaluasi diri sebagai komponen paling berpengaruh terhadap kualitas tata kelola. Evaluasi diri meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan, meskipun masih terdapat tantangan seperti keterbatasan SDM dan resistensi terhadap perubahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa evaluasi diri berbasis SPMI memiliki kontribusi signifikan dalam mentransformasi tata kelola program studi secara Kata Kunci: Penjaminan mutu pendidikan. Tata kelola program studi. Mutu internal. Pendidikan bahasa. Evaluasi diri. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 66 | Afiv Toni Suhendra Saragih. Mahyuni. Akrim/ Cakrawala 19 . PENDAHULUAN Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks dalam implementasinya, terutama dalam konteks penguatan tata kelola program studi. Fenomena empiris menunjukkan bahwa banyak program studi yang belum optimal dalam mengimplementasikan SPMI sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetapi hanya sebagai formalitas administrative (Dewi et al. Kondisi ini tercermin pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamamdiyah Sumatera Utara (FKIP UMSU) yang memiliki 225 mahasiswa dan 12 dosen, di mana kompleksitas pengelolaan akademik membutuhkan sistem tata kelola yang kuat dan terukur melalui mekanisme evaluasi diri yang Secara teoritis, konsep tata kelola program studi dalam konteks SPMI masih mengalami ambiguitas dalam operasionalisasinya, terutama dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip tata kelola yang baik dengan standar mutu perguruan tinggi. Ketidakjelasan hubungan antara evaluasi diri sebagai instrumen SPMI dengan penguatan kapasitas tata kelola program studi merupakan masalah mendasar yang memerlukan kajian mendalam (Barus, 2. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara harapan teoritis SPMI sebagai sebuah sistem yang holistik dengan realitas implementasi yang masih bersifat parsial dan tidak terintegrasi (Sampe & Arifin. Sugesti, 2. Studi terbaru menyoroti evolusi implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di institusi pendidikan tinggi di Indonesia. SPMI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui proses sistematis yang selaras dengan standar nasional (Najwa et , 2. Keberhasilan implementasi bergantung pada komitmen kepemimpinan, budaya mutu institusi, dan sistem tata kelola yang kuat (Sulaiman & Wibowo, 2. Tantangan yang dihadapi antara lain menjaga komitmen pimpinan, jumlah auditor yang memadai, dan mencegah kegiatan SPMI menjadi rutinitas (Paputungan et al. , 2. Untuk mengatasi masalah ini, institusi menyediakan tenaga ahli penjaminan mutu, mengadakan pelatihan auditor, dan menumbuhkan semangat penjaminan mutu (Syukron, 2. Efektivitas SPMI bergantung pada dukungan dari semua pemangku kepentingan, terutama staf akademik dan tenaga kependidikan, dalam menumbuhkan budaya mutu (Syaefulloh et al. , 2. Namun, beberapa institusi menerapkan SPMI hanya untuk tujuan akreditasi, yang berpotensi salah menggambarkan kualitas mereka yang sebenarnya (Harahap et al. , 2. Dimensi evaluasi diri sebagai komponen penting dalam SPMI telah menjadi fokus studi intensif dalam literatur terkini. Penelitian oleh Basir S, & Badry . mengembangkan model evaluasi diri dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard (BSC) sebagai kerangka kerja untuk mengukur kinerja mutu pendidikan secara komprehensif. Sementara itu. Salma et . mengeksplorasi implementasi evaluasi diri dalam program pendidikan dan menemukan bahwa pendekatan partisipatif dalam evaluasi diri mampu meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan internal. Namun, kedua penelitian tersebut masih terbatas pada aspek teknis-operasional tanpa mengkaji secara mendalam hubungan antara evaluasi diri dan penguatan tata kelola program studi. Sebuah studi terbaru oleh Zalisman et al. memberikan perspektif baru dengan menganalisis peran SPMI dalam transformasi tata kelola perguruan tinggi di era digital serta tantangan dan peluang dalam transformasi tata kelola perguruan tinggi berbasis teknologi, khususnya di perguruan tinggi Islam. Studi ini menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam The Role of SPMI in Strengthening the Governance | 67 | meningkatkan efisiensi dan efektivitas tata kelola perguruan tinggi. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Hakim dan Irawan yang mengidentifikasi bahwa program studi dengan sistem evaluasi diri yang sistematis memiliki indeks kinerja tata kelola 2,3 kali lebih tinggi daripada program studi yang menerapkan evaluasi diri secara konvensional (Hakim, 2021. Irawan et al. Meskipun penelitian-penelitian sebelumnya telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami implementasi SPMI dan evaluasi diri, terdapat kesenjangan yang cukup besar dalam penelitian integratif antara SPMI dan penguatan tata kelola program studi. Mayoritas penelitian yang ada masih bersifat parsial, berfokus pada aspek teknis implementasi SPMI tanpa mengeksplorasi dampaknya terhadap transformasi tata kelola program studi secara holistik (Harahap et al. , 2. Keterbatasan ini mengakibatkan pemahaman yang terpisahpisah tentang bagaimana evaluasi diri sebagai instrumen SPMI dapat menjadi katalisator dalam memperkuat tata kelola program studi, terutama dalam konteks program studi pendidikan dengan karakteristik mahasiswa dan dosen yang beragam (Sulaiman & Wibowo, 2. Kesenjangan kedua terletak pada kurangnya penelitian yang secara khusus mengkaji peran evaluasi diri berbasis SPMI dalam konteks program studi pendidikan bahasa. Karakteristik unik program studi pendidikan bahasa yang menggabungkan aspek keilmuan linguistik dengan kompetensi pedagogis memerlukan pendekatan tata kelola yang berbeda dari program studi lain (Saputra et al. , 2. Belum adanya penelitian mendalam tentang bagaimana evaluasi diri dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik program studi pendidikan bahasa merupakan kesenjangan yang signifikan yang perlu dijembatani melalui penelitian empiris yang komprehensif Berdasarkan analisis kesenjangan di atas, penelitian ini dirumuskan dengan pertanyaan utama: AuBagaimana peran SPMI dalam penguatan tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU melalui pendekatan berbasis evaluasi diri?Ay Pertanyaan ini dijabarkan menjadi tiga subpertanyaan penelitian, yaitu: . Bagaimana pelaksanaan evaluasi diri sebagai instrumen SPMI di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU? . Sejauhmana kontribusi evaluasi diri berbasis SPMI terhadap penguatan tata kelola program studi? dan . Model seperti apa yang tepat untuk mengintegrasikan evaluasi diri SPMI dengan sistem tata kelola program studi pendidikan bahasa? Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif peran SPMI dalam transformasi tata kelola program studi melalui pendekatan evaluasi diri, mengembangkan model pengintegrasian evaluasi diri dengan sistem tata kelola program studi, dan merumuskan rekomendasi strategis untuk optimalisasi implementasi SPMI dalam konteks program studi pendidikan bahasa. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan integratif yang menghubungkan evaluasi diri SPMI dengan penguatan tata kelola program studi secara holistik, pengembangan model evaluasi diri yang disesuaikan dengan karakteristik spesifik program studi pendidikan bahasa dengan rasio mahasiswa-dosen 225:12, serta sumbangan teoretis dalam memperkaya kajian tata kelola pendidikan tinggi berbasis mutu di Indonesia Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 68 | Afiv Toni Suhendra Saragih. Mahyuni. Akrim/ Cakrawala 19 . METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian mixed methods dengan pendekatan sekuensial eksplanatori yang bertujuan untuk menganalisis peran Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dalam penguatan tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU melalui pendekatan berbasis evaluasi diri. Pada tahap pertama, pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat implementasi SPMI, efektivitas evaluasi diri, dan kualitas tata kelola program studi melalui survei terstruktur. Tahap kedua menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali secara mendalam pengalaman, persepsi, dan tantangan implementasi SPMI dalam konteks tata kelola program studi melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (FGD). Desain sekuensial eksplanatori dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengkonfirmasi dan memperdalam temuan kuantitatif dengan data kualitatif yang lebih kaya dan kontekstual. Populasi penelitian meliputi seluruh pemangku kepentingan internal Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU yang terdiri atas 12 orang dosen tetap, 225 orang mahasiswa aktif, dan 5 orang tenaga kependidikan yang terlibat langsung dalam implementasi SPMI. Teknik purposive sampling digunakan untuk menentukan sampel penelitian dengan kriteria terlibat aktif dalam kegiatan SPMI dan evaluasi diri program studi. Sampel kuantitatif terdiri dari 10 dosen . % dari total dose. , 68 mahasiswa dari berbagai angkatan . % dari total mahasisw. , dan 3 tenaga kependidikan . % dari total tenaga kependidika. Sementara itu, sampel kualitatif melibatkan 6 orang informan kunci, yaitu Kaprodi. Sekretaris Prodi, dua orang dosen senior yang terlibat dalam tim SPMI, satu orang perwakilan senat mahasiswa, dan satu orang tenaga kependidikan yang menangani administrasi akademik. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang dikembangkan berdasarkan standar SPMI Dikti dan instrumen evaluasi tata kelola program studi yang telah divalidasi oleh pakar. Kuesioner terdiri dari empat dimensi utama: Implementasi SPMI . , efektivitas evaluasi diri . , kualitas tata kelola program studi . , dan persepsi pemangku kepentingan terhadap integrasi SPMI-tata kelola . Validitas instrumen diuji melalui expert judgement oleh tiga orang pakar pendidikan tinggi dan reliabilitas diukur dengan menggunakan Cronbach's Alpha dengan nilai minimum 0,7. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen SPMI seperti manual mutu. SOP, dan laporan evaluasi diri tahun 2020-2023. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif dan regresi berganda dengan uji prasyarat normalitas, linieritas, dan multikolinieritas menggunakan SPSS versi 26. Data kualitatif dianalisis secara tematik dengan pendekatan induktif, dan diuji keabsahannya melalui triangulasi dan member checking. Integrasi data dilakukan pada tahap interpretasi untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan merumuskan model integrasi yang sesuai dengan konteks Program Studi. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden dan Profil Program Studi Penelitian ini melibatkan 81 responden yang terdiri dari 10 orang dosen . ,3%), 68 orang mahasiswa . ,0%), dan 3 orang tenaga kependidikan . ,7%) dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Profil responden dosen menunjukkan bahwa 70% telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari 5 tahun, 80% berpendidikan S2, dan 60% telah The Role of SPMI in Strengthening the Governance | 69 | terlibat aktif dalam kegiatan SPMI minimal 3 tahun. Responden mahasiswa terdistribusi secara merata dari semester 2 hingga 8, dengan 45% merupakan mahasiswa aktif organisasi kemahasiswaan yang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tata kelola program studi. Karakteristik responden ini memberikan representasi yang memadai untuk menganalisis implementasi SPMI dan tata kelola program studi dari perspektif multi-pemangku kepentingan, seperti yang direkomendasikan oleh Rizal et al. , 2. dalam penelitian mereka tentang efektivitas SPMI di perguruan tinggi. Tingkat Implementasi SPMI: Analisis Kuantitatif Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa tingkat implementasi SPMI di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU berada pada kategori sedang dengan skor rata-rata 3,42 dari skala 5,0 (SD = 0,. Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa dimensi penetapan standar memiliki skor tertinggi (M=3,78. SD=0,. , diikuti oleh dimensi pelaksanaan standar (M=3,51. SD=0,. , evaluasi pelaksanaan standar (M=3,29. SD=0,. , dan pengendalian pelaksanaan standar (M=3,12. SD=0,. Distribusi skor ini mengindikasikan bahwa program studi memiliki fondasi yang cukup baik dalam menetapkan standar mutu, namun masih menghadapi tantangan yang cukup besar pada aspek evaluasi dan pengendalian pelaksanaan standar tersebut. Tabel 1. Tingkat Implementasi SPMI Berdasarkan Dimensi Dimensi SPMI Mean Std. Deviation Kategori Penetapan Standar 3,78 0,45 Tinggi Pelaksanaan Standar 3,51 0,58 Sedang Evaluasi Pelaksanaan 3,29 0,72 Sedang Pengendalian Pelaksanaan 3,12 0,81 Sedang Total SPMI 3,42 0,67 Sedang Analisis yang lebih rinci terhadap sub-dimensi implementasi SPMI menunjukkan variasi yang menarik dalam praktik manajemen mutu program studi. Aspek dokumentasi standar mendapat penilaian tertinggi dengan 87% responden menyatakan sangat baik atau baik, yang mencerminkan komitmen program studi dalam membangun sistem dokumentasi yang Sementara itu, aspek sosialisasi standar mendapat penilaian baik dari 73% responden, yang mengindikasikan adanya upaya yang cukup efektif dalam mengkomunikasikan standar kepada pemangku kepentingan. Namun, aspek pemantauan berkelanjutan hanya mendapat penilaian baik dari 52% responden, dan aspek tindak lanjut hasil pemantauan lebih rendah lagi dengan 48% responden memberikan penilaian baik. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan sistem monitoring dalam implementasi SPMI. Perspektif Kualitatif: Tantangan Implementasi SPMI Temuan kualitatif dalam penelitian ini memperkuat hasil analisis kuantitatif dan memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang hambatan pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Program Studi dan dosen senior, keterbatasan sumber daya manusia dan beban kerja dosen menjadi faktor utama yang menghambat pelaksanaan monitoring dan evaluasi rutin sesuai jadwal. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Sitepu et Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 70 | Afiv Toni Suhendra Saragih. Mahyuni. Akrim/ Cakrawala 19 . , . yang menyatakan bahwa karakteristik unik prodi pendidikan bahasa dengan rasio dosen-mahasiswa yang tinggi dan beban mengajar yang berat membutuhkan pendekatan tata kelola yang lebih adaptif dan strategi pengelolaan waktu yang efektif agar evaluasi diri berbasis SPMI dapat berjalan dengan optimal. Selain itu, penelitian lain oleh Amini & Kemal . juga menekankan pentingnya manajemen evaluasi diri yang terstruktur untuk mengatasi kendala operasional dan meningkatkan kualitas pendidikan di program studi bahasa. Kondisi ini sejalan dengan Pamungkas & Sinlae, . yang mengidentifikasi bahwa rasio dosen-mahasiswa yang tidak ideal merupakan salah satu faktor penghambat utama dalam implementasi SPMI yang efektif di program studi pendidikan. Efektivitas Evaluasi Diri: Temuan Kuantitatif Evaluasi diri sebagai komponen penting dalam SPMI menunjukkan tingkat efektivitas yang bervariasi di berbagai dimensi. Hasil survei menunjukkan bahwa rata-rata skor efektivitas evaluasi diri adalah 3,35 (SD = 0,. dalam kategori sedang. Dimensi keterlibatan pemangku kepentingan internal memperoleh skor tertinggi (M=3,67. SD=0,. , yang mengindikasikan adanya partisipasi aktif dari dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dalam proses evaluasi Dimensi kualitas instrumen evaluasi berada di urutan kedua (M = 3,41. SD = 0,. , diikuti oleh objektivitas penilaian (M = 3,28. SD = 0,. , dan pemanfaatan hasil evaluasi (M = 3,04. SD = 0,. Statistik ini menunjukkan bahwa meskipun partisipasi pemangku kepentingan dalam proses evaluasi diri cukup tinggi dan instrumen yang digunakan dianggap memadai, pemanfaatan hasil evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan masih menjadi area yang memerlukan perhatian serius. Dinamika Proses Evaluasi Diri: Analisis Kualitatif Temuan kualitatif mengungkapkan kompleksitas proses evaluasi diri yang dilakukan secara terjadwal setiap semester dengan melibatkan tim evaluasi yang terdiri dari dosen senior, perwakilan mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Sekretaris Program Studi menjelaskan: "Kami melakukan proses evaluasi diri secara sistematis dengan menggunakan instrumen yang telah disesuaikan dengan standar BAN-PT dan kebutuhan spesifik program studi pendidikan " Namun, seorang dosen senior menyatakan keprihatinannya: "Evaluasi diri telah berjalan secara rutin dan menghasilkan laporan yang cukup komprehensif, namun tindak lanjut dari hasil evaluasi tersebut sering terhambat karena keterbatasan anggaran dan koordinasi dengan fakultas dan universitas yang tidak optimal. " Observasi partisipatif menunjukkan bahwa dokumentasi hasil evaluasi diri sudah sangat lengkap dan tersimpan dengan baik, namun mekanisme umpan balik dan tindak lanjut pelaksanaan rekomendasi belum optimal (Febriyana et al. , 2. Kondisi ini sejalan dengan temuan Amrullah . yang mengidentifikasi bahwa pemanfaatan hasil evaluasi diri menjadi titik lemah dalam implementasi SPMI di banyak program studi di Indonesia. Kualitas Tata Kelola Program Studi: Capaian Positif Analisis terhadap kualitas tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU menunjukkan hasil yang menggembirakan dengan skor rata-rata 3,59 (SD = 0,. dengan kategori tinggi. Tabel 2 menjelaskan bahwa dimensi transparansi memperoleh skor tertinggi (M=3,84. SD=0,. yang mencerminkan keterbukaan informasi dalam pengelolaan program studi. Dimensi akuntabilitas berada di posisi kedua (M=3,67. SD=0,. , yang menunjukkan komitmen program studi dalam mempertanggungjawabkan kinerja kepada The Role of SPMI in Strengthening the Governance | 71 | pemangku kepentingan. Dimensi partisipasi memperoleh skor 3,52 (SD = 0,. , mengindikasikan keterlibatan pemangku kepentingan yang cukup baik dalam pengambilan Sementara itu, dimensi responsivitas memperoleh skor 3,33 (SD = 0,. , yang masih dalam kategori sedang dan memerlukan peningkatan lebih lanjut. Tabel 2. Kualitas Tata Kelola Program Studi Berdasarkan Dimensi Dimensi Tata Kelola Mean Std. Deviation Kategori Transparansi 3,84 0,41 Tinggi Akuntabilitas 3,67 0,53 Tinggi Partisipasi 3,52 0,68 Tinggi Responsivitas 3,33 0,74 Sedang Total Tata Kelola 3,59 0,61 Tinggi Implementasi Tata Kelola yang Baik: Sebuah Perspektif Kualitatif Wawancara mendalam dengan Sekretaris Program Studi mengungkapkan upaya-upaya konkrit dalam menerapkan prinsip transparansi: "Penerapan sistem informasi akademik yang terintegrasi telah meningkatkan transparansi pengelolaan program studi secara signifikan. Semua informasi akademik, mulai dari kurikulum, jadwal kuliah, hingga sistem penilaian, dapat diakses dengan mudah oleh dosen dan mahasiswa melalui platform online yang telah " Aspek akuntabilitas juga menunjukkan perkembangan yang positif, seperti yang diungkapkan oleh salah satu dosen: "Laporan kinerja program studi sekarang disusun secara berkala dan dipresentasikan dalam rapat senat fakultas, sehingga ada mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. " Namun demikian, aspek responsivitas masih memerlukan perbaikan yang lebih serius, terutama dalam hal kecepatan respon terhadap keluhan dan saran dari mahasiswa. Seorang perwakilan senat mahasiswa menyatakan: "Proses penyampaian aspirasi memang sudah ada jalur dan mekanismenya, namun terkadang feedback atau tindak lanjutnya agak lama, terutama untuk masalah-masalah yang membutuhkan koordinasi dengan pihak fakultas" Temuan dari wawancara mendalam ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan responsivitas dalam tata kelola perguruan tinggi berbasis SPMI. Misalnya. Herminingsih . menyoroti bahwa penerapan sistem informasi akademik yang terintegrasi dapat meningkatkan transparansi dan memudahkan akses informasi bagi seluruh pemangku kepentingan, sehingga mendukung pengelolaan yang lebih terbuka dan akuntabel. Selain itu. Khairul Azan et al. menekankan bahwa mekanisme pelaporan yang terstruktur dan rutin sangat penting dalam memperkuat akuntabilitas lembaga pendidikan. Namun, terkait dengan aspek responsivitas, beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Warta et al. menemukan bahwa meskipun saluran komunikasi telah tersedia, namun masih terdapat kendala dalam hal kecepatan dan kualitas tindak lanjut terhadap keluhan mahasiswa, terutama ketika hal tersebut membutuhkan koordinasi lintas unit atau fakultas. Sejalan dengan hal tersebut. Rahmania et al. merekomendasikan perlunya pengembangan sistem responsif yang lebih efektif agar aspirasi mahasiswa dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Analisis Hubungan SPMI dan Tata Kelola: Temuan Regresi Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 72 | Afiv Toni Suhendra Saragih. Mahyuni. Akrim/ Cakrawala 19 . Analisis regresi berganda menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara implementasi SPMI dan penguatan tata kelola program studi (RA = 0,674. F = 42,18, p < 0,. Model regresi menunjukkan bahwa evaluasi diri berbasis SPMI memberikan kontribusi terbesar terhadap penguatan tata kelola dengan koefisien beta sebesar 0,418 . < 0,. , diikuti oleh implementasi standar ( = 0,312, p < 0,. dan pengendalian implementasi standar ( = 0,267, p < 0,. Sementara itu, penetapan standar tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan tata kelola ( = 0,158, p > 0,. , yang mengindikasikan bahwa keberadaan standar tidak cukup untuk meningkatkan kualitas tata kelola tanpa implementasi yang efektif. Model regresi ini menjelaskan 67,4% varians dalam kualitas tata kelola program studi, dengan evaluasi diri sebagai prediktor terkuat, yang memperkuat hipotesis bahwa SPMI, khususnya melalui mekanisme evaluasi diri yang sistematis, memainkan peran penting dalam transformasi tata kelola program. Mekanisme Penguatan Tata Kelola: Analisis Tematik Analisis tematik terhadap data kualitatif mengungkap empat tema utama yang menggambarkan mekanisme penguatan tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia melalui implementasi SPMI. Pertama, peningkatan budaya mutu dan akuntabilitas yang menandai pergeseran paradigma manajemen dari sikap reaktif menjadi proaktif, di mana pengambilan keputusan yang didasarkan pada data yang valid dan evaluasi dampak yang menyeluruh menjadi landasan utama. Kedua, penguatan sistem monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan, yang terlihat dari pelaksanaan evaluasi diri secara berkala dan pengembangan instrumen monitoring yang lebih canggih. Ketiga, optimalisasi partisipasi pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan yang semakin inklusif, dengan memberikan ruang yang lebih luas bagi keterlibatan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan. Keempat, mengembangkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan lokakarya yang berfokus pada peningkatan pemahaman dan implementasi sistem mutu dan tata kelola yang Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa budaya mutu, pemantauan yang konsisten, partisipasi pemangku kepentingan, dan pengembangan sumber daya manusia merupakan kunci keberhasilan tata kelola berbasis SPMI dalam konteks pendidikan tinggi (Herminingsih, 2021. Khairul Azan et al. , 2. Implikasi Teoritis dan Praktis Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperkaya pemahaman tentang hubungan antara SPMI dan tata kelola program studi dalam konteks pendidikan tinggi Indonesia. Hasil penelitian ini memperkuat teori tata kelola yang baik di perguruan tinggi yang dikemukakan oleh Moh Ali Fauzi et al. terutama dalam hal pentingnya evaluasi diri sebagai mekanisme akuntabilitas dan transparansi. Secara praktis, penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi SPMI yang efektif membutuhkan pendekatan holistik yang tidak hanya berfokus pada dokumentasi standar, tetapi juga pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem informasi yang mudah digunakan, dan menciptakan budaya mutu yang berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan Siregar & Putra . yang menemukan bahwa program studi dengan implementasi SPMI yang sistematis memiliki indeks kinerja tata kelola yang lebih tinggi secara signifikan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan kontekstual dalam implementasi SPMI yang mempertimbangkan karakteristik unik dari setiap program studi, sebagaimana direkomendasikan oleh Chamidi et al. dalam studi mereka tentang model evaluasi diri berbasis teknologi informasi. The Role of SPMI in Strengthening the Governance | 73 | KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) berperan strategis dalam memperkuat tata kelola Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMSU melalui mekanisme evaluasi diri yang terstruktur. Evaluasi diri terbukti menjadi elemen kunci yang tidak hanya meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan dan akuntabilitas, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya mutu dan pengambilan keputusan berbasis data. Dengan pendekatan evaluasi diri yang sistematis. SPMI mampu mengintegrasikan prinsipprinsip tata kelola yang baik ke dalam praktik manajemen program studi, menjawab kebutuhan kontekstual program studi pendidikan bahasa yang memiliki karakteristik yang khas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi model evaluasi diri berbasis digital dan integrasinya dengan sistem informasi manajemen mutu secara real time untuk meningkatkan efektivitas tindak lanjut hasil evaluasi. Selain itu, perlu dilakukan penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan yang berkesinambungan dan harmonisasi kebijakan antara tingkat universitas dan program studi agar implementasi SPMI lebih adaptif dan efektif. Rekomendasi ini bertujuan agar penguatan tata kelola melalui SPMI dapat direplikasi di program studi lain dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual. DAFTAR PUSTAKA