Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/x. Desain Instruksional Model Assure: Tawaran Dalam Desain Pembelajaran Pendidik Agama Katolik Fransiskus Soda Betu1* 1Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa. Ende. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Fransiskus Soda Betu Surel : fransbetu22@gmail. ManuscriptAos History Submit : Agustus 2021 Revisi : September 2021 Diterima : Oktober 2021 Terbit : November 2021 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Model Assure Kata kunci 2 Pendidikan Agama Katolik Copyright A 2021 STP- IPI Malang Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang desain pembelajaran model assure dalam pengajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dengan memakai metode penelitian kepustakaan, tulisan ini mengolah berbagai sumber guna memaparkan pemanfaatan desain pembelajaran model assure dalam pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Berdasarkan telaah kepustakaan tersebut ditemukan bahwa desain instruksional merupakan rancangan pembelajaran yang dikerjakan pendidik supaya membantu peserta didik dalam belajar. Dalam pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat didesain model pembelajaran dengan mengikuti langkah-langkah: . menganalisis pembelajar, . menyatakan standar dan tujuan, . memilih strategi, teknologi, media, dan materi, . menggunakan teknologi, media, dan material, . mengharuskan partisipasi pembelajar, dan . mengevaluasi dan merevisi. Sebagai suatu tawaran, desain instruksional model assure dapat berkontribusi bagi pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Abstract Corresponding Author Name : Fransiskus Soda Betu E-mail : fransbetu22@gmail. ManuscriptAos History Submit : August 2021 Revision : September 2021 Accepted : October 2021 Published : November 2021 Keywords: Keyword 1 Assure Modele Keyword 2 Catholic Religious Education Copyright A 2021 STP- IPI Malang This paper aims to describe the learning design of the assure model in the teaching of Catholic Religious Education subjects. Using the literature research method, this paper processes various sources to explain the use of assure model learning designs in Catholic Religious Education lessons. Based on the literature study, it was found that instructional design is a learning design that educators do to help students learn. In learning in Catholic Religious Education subjects, a learning model can be designed by following the steps: . analyzing learners, . stating standards and goals, . choosing strategies, technology, media, and materials, . using technology, media, and materials, . requiring learner participation, and . evaluating and As an offer, the instructional design of the assure model can contribute to the development of Catholic Religious Education learning. https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure Latar Belakang Pendidikan Agama Katolik merupakan mata pelajaran yang diajarkan guna memastikan peserta didik yang beragama Katolik memperoleh kompetensi sikap spiritual dan sosial, selain pengetahuan agama Katolik dan keterampilan gerejani. Sikap spiritual merupakan tujuan pembelajaran yang berada pada tempat pertama dan utama dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Sikap spiritual sebagai sikap kasih kepada Allah perlu ditunjukkan peserta didik, baik Ketika berada di lingkungan sekolah maupun Ketika berada di tengah masyarakat. Selain sikap spiritual, peserta didik perlu mewujudkan kecintaannya kepada Allah dalam sikap kasih kepada sesamanya. Sikap kasih kepada Allah dan kepada sesama perlu didukung dengan pengetahuan keagamaan yang memadai, dan karena itu, peserta didik perlu dibekali pengetahuan dengan berbagai bahan ajar agama Katolik. Sikap kasih kepada Allah dan sesama dengan bekal pengetahuan perlu diwujudkan dalam kehidupan harian, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Desain instruksional merupakan rancangan pembelajaran yang dikerjakan pendidik supaya membantu peserta didik dalam belajar. Pembelajaran Mata pelajaran Pendidikan Agama katolik perlu didesain sedemikian rupa sehingga dapat menjadi pedoman bagi pendidik dalam mengajar dan peserta didik dalam belajar. Pendidik dapat memperoleh model desain pembelajaran dari para ahli Pendidikan sekaligus dapat memodifikasinya sesuai konteks mata pelajaran dan tujuan pembelajarannya. Desain instruksional model assure dapat menjadi tawaran dalam desain pembelajaran pendidik agama katolik. Dalam model ini, pendidik melakukan analisis terhadap peserta didik, menemukan tujuan pembelajaran dengan standar tertentu, dengan strategi pembelajaran tertentu, memakai teknologi, dengan keikutsertaan aktif dari peserta didik, dan Metode Penelitian Penelitian ini memakai tinjauan kepustakaan. Metode yang pilih dalam tulisan ini, yakni metode deskriptif, yang mana, penulis menguraikan secara kualitatif apa yang ditemukan dari berbagai referensi tertulis kemudian menganalisisnya secara komprehensif, menyangkut desain pembelajaran model assure dikaitkan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Hasil dan Pembahasan Desain Desain dapat dilihat sebagai rancangan yang dibuat sebelum suatu konstruk dibangun. Menurut Sanjaya . desain merupakan rancangan, pola, model. Menurut Gagnon dan Collay . alam Pribadi, 2010:. , desain memiliki arti adanya keseluruhan, struktur, kerangka atau online, dan urutan atau sistematika kegiatan. Smith dan Ragan . alam Pribadi, 2010:. , mengartikan desain sebagai proses perencanaan yang sistematik https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure yang dilakukan sebelum tindakan pengembangan atau pelaksanaan tindakan. Sebagai proses merancang, desain dapat ditinjau, baik dari aspek teknis, kegunaan, dan bahan. Dalam prosesnya, desain yang berkualitas perlu didukung, baik melalui riset lapangan maupun konsep dan teori tertentu. Instruksional . Dari sudut pandang bahasa, menurut Nurochim . , pembelajaran dimengerti sebagai proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut Gagne & Briggs . , instruction is a human undertaking whose purposes is to help people learn. Pembelajaran akan selalu bertujuan untuk membantu orang belajar. Dalam pembelajaran terlihat, baik aktivitas yang dilakukan pendidik dan juga aktivitas yang dilakukan peserta Dengan kata lain, dalam istilah pembelajaran terjadi aktivitas belajar dan mengajar. Pertanyaan yang dapat diajukan supaya dapat didalami lebih lanjut, yaitu Bagaimana dan apa yang dilakukan pendidik? Bagaimana dan apa yang dilakukan peserta didik? Pertanyaan pertama berkaitan dengan pendekatan, strategi, dan metode yang dipilih atau didesain pendidik dalam mengajar. Pertanyaan kedua berkaitan dengan pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran merupakan pertemuan antara pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan pendidik sekaligus pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan peserta didik. Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana mengaitkan pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan peserta didik dan pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan pendidik? Apakah ada koneksi antara pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan peserta didik yang dilakukan pendidik dan peserta didiknya? Atau justru terjadi disharmoni pendekatan, strategi, dan metode yang dilakukan peserta didik dan pendidik? Apabila terjadi disharmoni, apa dampak terhadap proses dan hasil pembelajarannya? Apabila dampak terhadap proses dan hasil pembelajaran kurang optimal bahkan jauh dari tujuan pembelajaran, siapakah yang bertanggung jawab atas hasil tersebut? Apakah pendidik? Apakah peserta didik? Model Istilah model dapat dilihat dari sudut pandang orang atau pola, misalnya, model dipahami sebagai pola atau gambar sesuatu yang akan dibuat. model dipahami juga sebagai orang yang memberi contoh yang baik. Dalam kaitan dengan model. Pribadi . mengemukakan model adalah sesuatu yang menggambarkan keseluruhan konsep yang saling terkait. Pribadi melanjutkan, model dapat dipahami sebagai upaya untuk mengkonkretkan sebuah teori sekaligus juga merupakan sebuah analogi dan representasi dari variabel-variabel yang terdapat dalam teori tersebut. Desain Pembelajaran Dalam desain terlihat tampilan, fungsi, dan cara kerja untuk mengkonstruk sesuatu. Desain instruksional merupakan pembuatan bahan ajar, cara bagaimana peserta didik belajar atau metode apa paling efektif yang membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Desain sistem pembelajaran merupakan keseluruhan proses yang dilakukan untuk https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure menganalisis kebutuhan dan tujuan pembelajaran serta pengembangan sistem penyampaian materi pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut (Briggs yang dikutip Ritchey, 1986, dalam Pribadi, 2010:. Guru dapat mendesain rekayasa proses pembelajaran yang secara ideal perlu mempertimbangkan keunikan masing-masing siswa, dimana kegiatan pembelajaran untuk siswa yang pandai berbeda dengan untuk siswa yang sedang atau kurang (Majid, 2011:. Model assure oleh Sharon E. Smaldino, dkk Pertanyaan diakhir pembelajaran yang dapat diajukan pendidik atau fasilitator, yakni apakah kegiatan pembelajaran, yang mana, peserta didik dibantu supaya belajar secara optimal telah tercapai? Pertanyaan ini membantu pendidik atau fasilitator untuk melihat secara jeli, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Sampai di titik ini, pendidik atau fasilitator sesungguhnya membutuhkan model desain pembelajaran yang cocok dengan proses pembelajaran yang hendak dirancangkannya. Model assure merupakan suatu model pembelajaran yang dapat dijadikan pola bagi kegiatan belajar peserta didik. Langkah-langkah Model assure diberikan Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. terdiri dari . menganalisis pembelajar, . menyatakan standar dan tujuan, . memilih strategi, teknologi, media, dan materi, . menggunakan teknologi, media, dan material, . mengharuskan partisipasi pembelajar, . mengevaluasi dan merevisi. Pendidikan agama Katolik Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan secara sadar, terencana, dan beralasan. Upaya sadar menunjukkan upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik yang terlihat secara langsung maupun yang mendukung kegiatan tersebut. Pihak-pihak yang terlibat secara langsung, yaitu pendidik dan peserta didik. Pihak-pihak yang mendukung meliputi, pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Pemerintah berperan sebagai pihak yang memastikan adanya kurikulum, dan untuk itu, berbagai peraturan perundang-undangan dihadirkan sesuai tujuan yang bersifat nasional. Pihak swasta dapat berperan sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan. Dengan demikian, pemerintah dan swasta secara terencana mendesain kurikulum. Untuk mendesain kurikulum perlu dilakukan analisis kebutuhan, dirasionalkan alasannya, dan ditentukan komponen-komponennya. Pendidikan Agama Katolik merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik beragama Katolik. Melalui Pendidikan Agama Katolik, peserta didik arahkan supaya memiliki kemampuan, baik dalam mengenal dan memahami Kitab Suci. Tradisi Gereja, maupun Magisterium. Peserta didik difasilitasi pula untuk menganalisis konteks sosial kemasyarakatan dengan inspirasi Kitab Suci maupun Tradisi Gereja Katolik. Peserta didik dipandu untuk memiliki kemampuan menilai perkembangan zaman dari sudut pandang iman kristiani. Keterkaitan desain instruksional dan desain kurikulum Oliva . melihat keterkaitan antara kurikulum dan pembelajaran sebagai. Aucurriculum and instruction are viewed as separate but dependent conceptsAy Bagi Oliva https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure . AuCurriculum is program and instruction is methodAy Walaupun dilihat sebagai dua aspek yang berbeda, tetapi kurikulum dan pembelajaran merupakan dua konsep yang saling bergantung. Pembelajaran, sebagai suatu cara mengimplementasikan kurikulum, diarahkan oleh program kurikulum yang telah terdokumentasi . ritten curriculu. Dalam kaitan antara desain kurikulumdan desain sistem pembelajaran, gambaran umum dari pandangan A. Romiszowski . 1:x. berikut ini dapat dijadikan masukan berarti bagi sistem desain pembelajaran. Tabel 1. Kaitan Antara Desain Kurikulum Dan Desain Sistem Pembelajaran Bagian I Batas Masalah Bagian II Analisis Masalah Bagian i Desain Makro Dasar Teori Tinjauan teori, pendekatan, dan Teknik saat ini Instruksi, sistem instruksional dan pendekatan sistem Dari tujuan proyek ke tujuan Analisis Teknik untuk memahami masalah Pendekatan terhadap masalah Pendidikan dan Apakah instruksi adalah solusi? Sintesis Mendesain solusi Bagaimana dan mengapa tujuan Teknik dan prosedur analisis pada level 1 dan 2 Evaluasi Melihat apa yang telah anda lakukan atau rencanakan untuk dilakukan/memikirkan Kembali strategi Sistem dalam Analisis nilai dan kepraktisan solusi A Teori belajar dan A Dari tujuan instruksional hingga instruksionalanalisis level 3 dan 4 A Memasukkan kesenjangan dalam pendekatan saat ini untuk desain A Analisis pengetahuan dan pendekatan yang A Empat tingkat desain A Soal . A Berbagai strategi, rencana, dan metode A Pengelompokan A Pemilihan media A Kontrol A Evaluasi A Mengapa proyek https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure Asumsi dasar desain instruksional Gagne & Briggs . 9:4-. memberikan beberapa asumsi dasar desain instruksional, yakni . desain pembelajaran harus ditujukan untukmembantu pembelajaran individu. desain instruksional memiliki fase yang bersifat langsung maupun tidak langsung . instruksi yang dirancang secara sistematis dapat sangat mempengaruhi perkembangan manusia individual. desain instruksional harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem. pembelajaran yang dirancang harus didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana manusia belajar. Menurut Neal Shambaugh & Susan G. Magliaro . konsep belajar saat ini, yakni . tampilan belajar (View of Learnin. , . pendangan perilaku (Behavioral vie. , . pandangan kognitif (Cognitive vie. , . pandangan konstruktif (Constructive vie. konsep mengajar saat ini, yakni . tampilan mengajar (Views of teachin. , . manajer perilaku (Behavioral manage. , . pengambilan keputusan (Decision makin. , dan . praktisi reflektif (Reflective practitione. Prinsip efesien dan efektif dalam pembelajaran Menurut Ivor K. Davies . , prinsip penguasaan pembelajaran menyoroti dua kata yang sering digunakan dalam pelatihan dan pendidikan, yakni efisiensi dan efektivitas. Eficiency is concemed with doing things right. Effectiveness is concerned with doing the right things. Efficiency is important, but effectiveness is the central issue of both teaching and learning Instructors are paid to be Efficiency will help, but it will not guarantee that they are Similarly, efficiency will help trainees, but it will not guarantee that they will learn In each case, effectiveness is the ultimate goal. (Davies, 1981:. Model assure dalam pembelajaran Pendidikan agama katolik Istilah assure merupakan singkatan. Ada enam kata kerja dari istilah assure, yakni analyze. State, select, utilize, require, dan evaluate. Struktur model assure yang poinpoinnya dirumuskan dengan kata kerja, baik analyze, state, select, utilize, require, dan evaluate tersebut memberikan arah bahwa model ini menekankan aspek aktivitas atau kegiatan yang perlu dipersiapkan dan dilakukan fasilitaor dalam memfasilitasi peserta didik. Atau dengan kata lain, model ini membantu fasilitator dalam mengatur jalannya proses Dalam kaitan dengan desain mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, model assure yang diberikan Smaldino, dkk (Rahman, 2011:. dapat terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: . menganalisis pembelajar, . menyatakan standar, tujuan, . memilih strategi, teknologi, media, dan materi, . menggunakan teknologi, media, dan material, . mengharuskan partisipasi pembelajar, dan . mengevaluasi dan merevisi. https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure Menganalisis peserta didik Pada langkah ini dilakukan identifikasi dan analisis karakteristik pembelajar yang disesuaikan dengan hasil-hasil belajar. Dalam kaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik perlu dianalisis menyangkut gaya belajar dari peserta didik, karakteristik peserta didik, dan kompetensi yang hendak dicapai peserta didik, baik afektif, kognitif, dan Ketika dilakukan Analyze Learner, maka yang dianalisis, yaitu peserta didik yang akan Dalam kaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dilakukan analisis yang mendalam mengenai situasi, kondisi, kenyataan, kebutuhan peserta didik tersebut. Dalam menganalisis pembelajar, area-area kunci yang harus dipertimbangkan selama analisis pembelajar meliputi: . karakteristik umum, . kompetensi dasar spesifik . engetahuan, kemampuan, dan sikap tentang topi. , dan . gaya belajar (Smaldino, dkk. Rahman, 2011:. Menentukan tujuan Dengan adanya tujuan pembelajaran dapat diprediksi perilaku yang diperoleh sebagai hasil belajar peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Dengan adanya tujuan pembelajaran diketahui sejak awal apa yang menjadi arah dari serangkaian aktivitas pengalaman belajar. Dalam kaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, pada tahap ini, standar dan tujuan belajar dibuat sespesifik mungkin. Pendidik perlu mengetahui kurikulum nasional Pendidikan Agama Katolik lalu disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang dinyatakan dengan baik akan memperjelas tujuan, perilaku yang harus ditampilkan, kondisi yang perilaku atau kinerja akan diamati, dan tingkat yang pengetahuan atau kemampuan baru harus dikuasai peserta didik. Rumusan tujuan pembelajaran perlu memerhatikan ranah sikap, pengetahuan, dan Dengan kata lain, fokus tujuannya apakah pada kompetensi sikap ataukah pengetahuan ataukah keterampilan. Bloom, dkk memberi sebutan ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik sebagai tujuan yang perlu dicapai peserta didik dalam pembelajaran. Selain itu, pendidik dapat menggunakan rumusan tujuan dengan model ABCD sebagai singkatan dari Audience. Behavior. Conditions, dan Degree. Adapun yang dimaksud dengan audience, yakni bahwa peserta didik dengan segala karakteristiknya. behavior artinya kata kerja yang menunjukkan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik. conditions, yaitu situasi kondisi yang memungkinkan bagi pebelajar dapat belajar dengan hasil yang optimal. degree berarti persyaratan khususnya. Ketika dilakukan State Objectives, maka dirumuskan tujuan pembelajaran dalam bentuk kompetensi-kompetensi yang perlu diperoleh peserta didik. Dalam kaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, kompetensi meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure Dalam kaitan dengan menyatakan standar dan tujuan, menurut Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , tujuan-tujuan yang dinyatakan dengan baik akan memperjelas tujuan, perilaku yang harus ditampilkan, kondisi yang perilaku atau kinerja akan diamati, dan tingkat yang pengetahuan atau kemampuan baru harus dikuasai siswa. Memilih strategi, metode, media, dan materi Dalam tahap ini, pendidik memilih strategi pengajaran, teknologi, dan media yang sesuai Pendidikan Agama Katolik, kemudian memutuskan materi untuk menerapkan pilihanpilihan tersebut. Ketika dilakukan Select methods, media, and materials, maka dipilih metode, media, dan bahan ajar yang akan diproseskan guna mencapai kompetensi-kompetensi yang Dalam kaitan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, metode yang bersifat refleksi atupun katekese dapat ditawarkan sebagai cara cocok, sesuai kompetensi dan bahan ajar yang dipilih. Ketika dilakukan Utilize media and materials, maka digunakanlah media dan bahan ajar. Pembelajaran merupakan suatu pilihan. Pendidik atau fasilitator tidak dapat mengambil semua metode atau semua media atau semua bahan untuk diajarkan kepada peserta didik dan mengharapkan sesuatu yang optimal terjadi dalam diri peserta didik. Pendidik perlu secara jeli dan teliti memilih metode yang tercocok. Jikalau metode tersebut membutuhkan media tertentu, maka pendidik perlu memilih media yang cocok untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan metode tersebut. Selanjutnya, pilihan bahan ajar dilakukan supaya melalui metode dan media tertentu, peserta didik menguasai bahan ajar tersebut secara optimal. Menurut Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , memilih strategi, teknologi, media, dan materi merupakan titian atau jembatan antara titik permulaan . engetahuan, kemampuan, dan sikap terkini para sisw. dan titik akhir . ujuan belaja. dari pengajaran. Menggunakan teknologi, media, dan material Dalam kaitan dengan Pendidikan Agama Katolik, pendidik merencanakan teknologi, media, dan material untuk membantu para siswa mencapai tujuan belajar. Menurut Smaldino, dkk (Rahman, 2011:. , upaya menggunakan teknologi, media, dan material dengan mengikuti proses Au5PAy, meliputi upaya mengulas . teknologi, media, dan menyiapkan teknologi, media, dan material. menyiapkan lingkungan. para pembelajar. dan memberikan pengalaman belajar. Fasilitator perlu mengkaji bahan ajar dari berbagai sudut pandang supaya membantunya dalam menyiapkan secara tepat sasar. Pembelajaran membutuhkan suasana yang kondusif, supaya peserta didik dapat mengekspresikan diri tanpa peransaan takut atau cemas atau raguragu. Mental maupun fisik peserta didik perlu disiapkan secara baik supaya dapat mengikuti pembelajaran secara sungguh-sungguh. Dengan kegiatan belajar, peserta didik diantar untuk memiliki pengalaman belajar. Selanjutnya dengan pengalaman belajar, peserta didik masuk pada penguasaan kompetensi-kompetensi yang diharapkan sebelumnya. https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure Mengharuskan partisipasi peserta didik Dalam kaitan dengan mengharuskan partisipasi pembelajar, menurut Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , pengajaran menjadi efektif dengan keterlibatan aktif mental para pembelajar. Desain pembelajaran Pendidikan Agama Katolik perlu memuat keterlibatan aktif mental para peserta didik. Efektivitas suatu pembelajaran terjadi apabila peserta didik terlibat aktif dan bukannya pasif mendengar apa yang dikatakan pendidik. Supaya peserta didik aktif dalam pembelajaran, maka pendidik perlu memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik dengan menciptakan suasana yang kondusif. Guru, komputer, para siswa lainnya, atau evaluasi-mandiri mungkin memberikan umpan balik (Smaldino, dkk. Rahman, 2011:. Apapun yang dilakukan pendidik atau fasilitator ditujukan supaya menjadi pasti bahwa peserta didik belajar secara optimal. Apabila pendidik atau fasilitator berlelah-lelah, berjuang dengan penuh kesungguhan hati, dan mengeluarkan seluruh energi tetapi peserta didik tidak belajar, maka sia-sialah pembelajaran tersebut. Pendidik atau fasilitator perlu memiliki kemahiran memotivasi peserta untuk belajar dan memiliki cara meyakinkan peserta untuk Pendidik atau fasilitator perlu melibatkan peserta untuk belajar. Ketika dilakukan Require learner participation, maka dikembangkan peran serta peserta didiknya. Menurut Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , praktik mungkin melibatkan periksa mandiri para siswa, pengajaran dibantu komputer, kegiatan internet, atau kerja kelompok. Mengevaluasi dan mengekspresi Dengan melakukan evaluasi, dampak dari pembelajaran Pendidikan Agama Katolik bagi peserta didik akan terlihat dengan jelas dan terukur. Pendidik dapat mengetahui sejauh mana tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran dan sejauh mana suatu metode telah berhasil membantu peserta didik belajar secara optimal. Evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dapat menilai pula sejauh mana media dan sumber belajar membantu peserta didik dalam belajar. Selanjutnya ketika dilakukan Evaluate and Revise, maka penilaian yang dipilih perlu memperhatikan dimensi kompetensi yang telah diproseskan dalam pembelajaran sehingga upaya perbaikannya menjadi efisien dan efektif pada mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik. Dalam kaitan dengan evaluasi, menurut Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , evaluasi bermaksud melihat sejauh mana dampak pembelajaran siswa dilakukan satu mata Selain hasil pembelajaran perlu dilihat pula sejauh mana proses yang dilalui berkontribusi bagi pengembangan diri peserta didik tersebut. Pertanyaan yang dapat diajukan, yaitu apakah proses yang dilalui sungguh membantu peserta didik semakin maju dalam pembelajaran ataukah sebaliknya? Manutu Smaldino, dkk . Rahman, 2011:. , jika ada ketidakcocokan antara tujuan belajar dan hasil-hasil siswa, maka perlu dilakukan revisi terhadap rencana mata pelajaran guna membahas area-area pertimbangan Peserta didik perlu diukur tingkat pengetahuannya, apakah berada pada kemampuan mengingat materi ajar ataukah pada tingkat memahami materi ajar. Apakah peserta mampu https://doi. org/10. 12568/sapa/x Fransiskus Soda Betu | Desain Instruksional Model Assure menginterpretasi materi ajar ataukah sudah mampu menerapkan dalam situasi lain. Apakah peserta sudah memiliki kemampuan menganalisis ataukah hanya memahami saja. Jikalau peserta didik sudah memiliki kemampuan memberikan kritik terhadap materi yang diajarkan, maka pembelajaran tersebut telah mencapai tingkat yang tinggi. Lebih jauh apabila peserta didik dapat merancang sesuatu yang baru berlandaskan bahan ajar yang diberikan, maka pembelajaran tersebut sudah sampai pada tahap yang optimal. Kesimpulan Pendidikan Agama Katolik perlu didesain secara sengaja berdasarkan tujuan dengan konten Kitab Suci. Tradisi Gereja. Magisterium Gereja, dan konteks kehidupan orang kristiani. dengan metode-metode dan evaluasi. Salah satu tawaran untuk desain pembelajaran Pendidikan Agama Katolik, yakni desain pembelajaran model assure dengan langkah-langkah, yakni . menganalisis pembelajar, . menyatakan standar dan tujuan, . memilih strategi, teknologi, media, dan materi, . menggunakan teknologi, media, dan material, . mengharuskan partisipasi pembelajar, . mengevaluasi dan Ucapan Terima Kasih