JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika ANALISIS KOLABORASI SISWA KELAS V SD MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE Sekarwati Nur Aisyah1*. Heru Purnomo2. Rian Nurizka3 PGSD. FKIP Universitas PGRI Yogyakarta *E-mail: sekarwatina@gmail. Abstrak Model pembelajaran sangat berpengaruh dalam memaksimalkan proses belajar mengajar. Dengan model pembelajaran yang menarik dapat menarik siswa untuk aktif dan berkolaborasi. Tujuan dari penelitian kualitatif ini dalah untuk mengidentifikasi kolaborasi siswa melalui metode belajar Think Pair Share siswa kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif. Pendekatan yang diterapkan adalah deskriptif. Cara untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah melalui lembar observasi. Proses analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif yang menggambarkan data dalam bentuk narasi dan persentase. Data dari penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara siswa kelas V di SD Muhammadiyah Ambarbinangun mencapai tingkat yang memenuhi kriteria yang ditetapkan, yakni sebesar 85,41% secara proporsional. Dari data tersebut terdapat 1 siswa yang memperoleh predikat baik dengan presentase 75% dan 11 siswa lainnya berada di tingkat predikat sangat baik. Adapun pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan strategi belajar kooperatif berupa tipe think pair share. Kata Kunci: Kolaborasi. Model Pembelajaran. Think Pair Share Abstrak The learning model is very influential in maximizing the teaching and learning process. With an interesting learning model, it can attract students to be active and collaborate. The aim of this qualitative research is to identify student collaboration through the Think Pair Share learning method for fifth grade students at SD Muhammadiyah Ambarbinangun. This type of research is qualitative. The approach applied is descriptive. The way to collect data in this research is through observation sheets. The data analysis process was carried out using a descriptive approach that described the data in the form of narratives and percentages. Data from the research shows that collaboration between class V students at SD Muhammadiyah Ambarbinangun reached a level that meets the specified criteria, namely 85. 41% proportionally. From this data, there was 1 student who received a good predicate with a percentage of 75% and 11 other students were at the very good predicate level. The learning carried out by the teacher applies cooperative learning strategies in the form of think pair share type. Keywords: Collaboration. Learning Model. Think Pair Share https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 PENDAHULUAN Pendidikan sebagai fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa dan merupakan elemen yang krusial dalam pembangunan sektor pendidikan di Indonesia. Menurut Hidayah . 2:6. menyatakan bahwa pendidikan melibatkan tiga dimensi penting, yaitu individu, masyarakat, dan keseluruhan realitas yang ada. Menurut Rembangsupu 2022:93 menyatakan bahwa terdapat tiga jenis jalur pendidikan, yakni pendidikan formal, kemudian pendidikan nonformal, serta jalur informal. Pada jalur formal merujuk pada sistem pendidikan yang terorganisir serta memiliki tahapan yang berjenjang, mencakup mulai dari tingkat pendidikan tinggi. Jalur nonformal merujuk pada proses yang berlangsung di luar sistem pendidikan formal namun tetap terstruktur dan memiliki tahapan yang berjenjang. sisi lain, pendidikan informal adalah jenis pendidikan yang lebih banyak dipengaruhi oleh peran keluarga dan lingkungan sekitar, seperti yang diungkapkan oleh Sabar . alam Rembangsupu et. Faktor-faktor yang menjadi tantangan dalam bidang pendidikan juga terdapat dalam tahapan pembelajaran. Yestiani & Zahwa . menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya memfasilitasi pemahaman siswa yang baik, dan tahapan belajar dapat dirasakan siswa dimana saja. Pembelajaran yang efisien akan mempermudah siswa dalam memahami hal-hal yang bermanfaat, seperti keterampilan, nilai-nilai, konsep, serta interaksi sosial, sehingga hasil pembelajaran siswa dapat mencapai tingkat optimal. Mahmudah . menyatakan bahwa keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama oleh peran pengajar . dan peserta didik . , yang merupakan subjek utama pada kegiatan belajar mengajar. Peranan pendidik tidak hanya terbatas pada mengajar dan menyampaikan materi kepada siswa. Namun, guru juga diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami setiap karakteristik siswanya dengan tujuan untuk membantu mengatasi kesulitan belajar yang mereka Menurut Efendi & Sholeh . peran seorang pendidik tidak hanya terbatas pada mengajar siswa, melainkan juga melibatkan diri dalam berbagai aspek seperti menghadapi evaluasi kinerja, serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Guru berperan penting dalam menciptakan iklim pembelajaran yang efektif dalam keberlangsungan proses belajarmengajar. Upaya ini terus berkembang untuk para pendidik dan menekankan perluasan dalam hal struktur kelas, penerapan model dan metode pembelajaran, strategi yang diterapkan, serta dinamika sikap siswa dan (Fakhrurrazi 2018:. Maka disimpulkan dengan jelas bahwa pentingnya Dengan menggunakan berbagai model dan teknik pembelajaran kreatif serta memanfaatkan menyenangkan dapat membentuk suasana pembelajaran yang efisien serta juga mengasyikkan (Setyawan et. Pembelajaran transformasi individu dalam aspek kognitif, perilaku, dan psikomotorik yang berasal dari pengalaman pribadi dan lingkungan, yang membawa dampak, signifikansi, dan nilainilai tertentu (Bistari 2017:. Menurut Reigeluth . alam Magdalena 2020:. , beberapa indikator pembelajaran menyelesaikan tugas, adaptasi perilaku belajar, dan tingkat pemahaman yang Iklim berjalan dengan efektif. Selain itu keadaan ini juga akan membuat siswa merasa lebih JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika rileks dan nyaman selama pembelajaran, serta meningkatkan minat mereka dalam belajar (Fakhrurrazi 2018:. Pembelajaran yang berhasil juga mendorong perkembangan sikap demokratis dan mengasah kreativitas siswa, memungkinkan mereka untuk mengikuti pembelajaran sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki (Setyawan dkk. Penggunaan metode ceramah dalam kegiatan belajar, di mana guru mendominasi dengan cara menyampaikan materi melalui berbicara, sementara siswa hanya berperan sebagai pendengar dan mencatat, dapat menyebabkan kebosanan dan kurangnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran (Bistari 2017:. Penerapan metode pembelajaran yang sesuai dapat memiliki efek yang besar pada mengembangkan kreativitas, berpikir secara kritis dan analitis, serta meningkatkan kemampuan identifikasi dan ketrampilan siswa (Widiyanto & Wahyuni 2020:. Sebelum memulai proses pembelajaran, disarankan bagi guru untuk melakukan merancang kerangka pembelajaran yang melibatkan tujuan pembelajaran, bahan dan sumber belajar, perlengkapan dan media, pendekatan, serta strategi yang akan Pembelajaran yang efektif juga melibatkan partisipasi aktif siswa, di mana mereka didorong untuk mengidentifikasi informasi dan mendorong mereka untuk berpikir kritis. Menurut pendapat Kumala . alam Salsabila & Aslam, 2022:6. , belajar materi IPA di Sekolah Dasar melibatkan pengenalan konsep-konsep dasar IPA yang dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari siswa. Melalui pembelajaran tersebut, siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi alam, keterampilan menyelesaikan permasalahan relevan dan lingkungan sekitar, serta melatih keterampilan berpikir kritis dan objektif. Sejumlah diperkenalkan dalam bidang pendidikan IPA baru-baru ini, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran siswa. Metode yang menciptakan prestasi belajar dan membuat mengembangkan keterampilan kerjasama, berpikir kritis, serta keterlibatan siswa untuk aktif dalam pembelajaran adalah pendekatan pembelajaran kooperatif. Dari penelitian awal yang dilaksanakan peneliti melalui metode wawancara dan observasi serta penyebaran kuesioner kepada siswa kelas V yang diajar oleh Ibu Meta di SD Muhammadiyah Ambarbinangun tanggal 30 April 2024, data menunjukkan bahwa kolaborasi antar siswa telah berjalan Detail hasil survei tersebut dapat ditemukan dalam tabel berikut: Tabel 1. Angket Kolaborasi Siswa Kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun Presentase Kolaborasi Siswa >80 Kategori Sangat Baik (SB) Baik (B) Cukup (C) <59 Kurang (K) Total Siswa Jumlah Siswa Presentase (%) Dari hasil analisis data pada tabel kuesioner mengenai kolaborasi siswa, terdapat empat tingkatan kemampuan pembelajaran, yakni Kategori Sangat Baik, kemudian Baik, selanjutnya Cukup, dan Kurang. Siswa yang termasuk dalam kategori Sangat Baik mencapai persentase sebesar 58% atau terdiri dari 7 siswa, pada saat yang sama, siswa tergolong dalam cakupan kategori Baik mencapai persentase sebesar JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika 25% atau 3 siswa. Selanjutnya, siswa dengan cakupan kategori Cukup memiliki persentase yaitu sebesar 17% atau terdiri dari 2 siswa, sedangkan siswa dengan kategori Kurang memiliki persentase 0%. Maka dari itu, kemampuan kolaborasi siswa tergolong baik, di mana 7 siswa menunjukkan kemampuan Sangat Baik dan 3 siswa menunjukkan kemampuan Baik. Pendekatan modelThink Pair Share (TPS) merupakan pendekatan strategi yang mungkin dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kerja sama antara siswa dalam pembelajaran IPA. Pendekatan Think Pair Share (TPS) mendorong keterlibatan selluruh siswa pada kegiatan belajar mengajar dengan memulai dari tahap mengawali dengan refleksi individu (Thin. , diikuti dengan diskusi berpasangan setelah pemikiran individu (Pai. , dan akhirnya, berbagi hasil diskusi dengan rekan sekelas (Shar. (Rahmawati Erwin, 2022:7. Pendekatan ini yaitu Think Pair Share (TPS) memungkinkan untuk memberikan wadah bagi para siswa dapat bertukar informasi sesama rekan mereka, baik dalam pasangan mereka sendiri maupun dengan pasangan Dilakukannya proses berdiskusi, siswa mampu bertukar informasi, membangun interaksi antara sesama, yang mengakibatkan keterlibatan penuh dari setiap siswa dalam proses belajar mengajar (Larasati dkk. Kelebihan lain dari Think Pair Share mengoptimalkan kerjasama di antara siswa. Selain dapat berpartisipasi dan berinteraksi, di samping itu, siswa juga dapat bekerjasama dalam menuntaskan tugas atau masalah yang diserahkan oleh guru. Menurut Nainggolan dan Martin . kolaborasi adalah keterampilan kerjasama yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan interaksi, kepemimpinan, serta memberikan wawasan mengenai lingkungan kerja kepada Hal ini memungkinkan siswa untuk bertukar gagasan, mendengarkan pendapat satu sama lain dalam kelompok, dan berdiskusi guna mencapai tujuan bersama dalam mengatasi tantangan. Melatih peserta didik dalam bekerja sama dan berkolaborasi merupakan tujuan dari pembelajaran Hal ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial dan mengelola emosi serta ego, yang bertujuan untuk menciptakan ikatan sosial, rasa memiliki, tanggung jawab, dan empati di antara anggota kelompok (Putri dkk. Melihat konteks tersebut, peneliti tertarik untuk menyusun penelitian dengan judul AuAnalisis Kolaborasi Siswa Kelas V SD Melalui Model Pembelajaran Think Pair ShareAy. METODE PENELITIAN Penelitian yang berjudul AuAnalisis Kolaborasi Siswa Kelas V SD Melalui Model Pembelajaran Think Pair ShareAy dimana pelaksanaannya dilakukan peneliti di kelas pada proses pembelajaran menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dilakukan pada semester kedua tahun pelajaran 2024, subjek penelitian ini adalah siswa dan wali kelas di kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun dengan total 12 siswa mata Ilmu Pengetahuan Alam. Pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan observasi menggunakan lembar observasi dengan tujuan mengamati aktivitas kolaborasi siswa melalui model TPS atau Think Pair Share. Metode analisis data ini mengacu pada pendekatan Milles dan Huberman. Metode analisis data disesuaikan dari pendekatan interaktif Mathew B. Milles dan A. Michael Hubberman yang mencakup tiga langkah utama: mereduksi data, selanjutnya terdapat kegiatan menyajikan data, dan yang terakhir menarik kesimpulan. Kegiatan pengurangan data melibatkan rangkuman data yang relevan dengan fokus JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 https://journal. id/widyadidaktika penelitian, sementara penyajian data dilakukan dengan merujuk pada data yang terkumpul dari observasi lapangan dan lembar observasi, kemudian diikuti dengan penarikan kesimpulan untuk menyusun laporan penelitian yang komprehensif. HASIL DAN PEMBAHASAN Studi ini dilaksanakan di kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun yang terdiri dari 12 siswa. Metode penelitian melibatkan wawancara dengan guru kelas V dan pengamatan terhadap proses kegiatan pembelajaran yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Fokus penelitian difokuskan pada kolaborasi antara siswa selama proses pembelajaran. Sebagai panduan, peneliti menyusun pedoman indikator kolaborasi siswa yang terdiri dari: Tabel 2. Pedoman Observasi Indikator Kolaborasi Siswa INDIKATOR KOLABORASI Saling ketergantungan yang positif Interaksi tatap muka Akuntabilitas dan tanggungjawab personal Keterampilan bekerja dalam kelompok Ket: . Kurang, . Cukup, . Baik, . Sangat Baik Analisis yang dilakukan yaitu dengan menggunakan rumus presentase sebagai Maka peningkatan kolaborasi peserta didik dalam berkolaborasi antar siswa dapat dikatakan baik jika memiliki rata-rata >70 = Setelah analisis perhitungan dilakukan, data disusun menurut kriteria standar berikut: Kriteria Sangat Baik (SB) Baik (B) Cukup ( C ) Kurang (K) Presentase (%) >80 <59 Tabel 3. Kriteria Keberhasilan Dari data di atas yang tercantum pada Tabel 4 yang tersedia, terlihat bahwasannya kolaborasi siswa dalam proses pembelajaran mencapai 85,41%, dinilai sebagai sangat baik (A). Dari total 12 siswa, satu siswa mencapai tingkat baik (B) dengan presentase 75%. Selama pembelajaran, siswa menunjukkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang materi dan kemampuan mengikuti tahapan pembelajaran dengan Mereka juga aktif berdiskusi dengan teman-teman lain untuk mengerjakan tugas, pendapatnya meningkat. Hal ini menciptakan suasana umpan balik yang positif di antara sesama siswa. Setelah diperoleh skor per siswa kemudian dilakukan perhitungan skor rata-rata kelas : https://journal. id/widyadidaktika JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Tabel 4. Hasil Kolaborasi Siswa Indikator Persen Nama ASN DNJ RNA SQNR NSRN LEBA HFP FSA CAA SAP MYRR Interaksi tatap muka Saling gan yang Akuntabilitas dan tanggung jawab personal individu Keterampilan bekerja dalam Skor Jumlah skor 81,25 93,75 81,25 81,25 93,75 81,25 Rata-rata 85,41 Hasil observasi yang telah dilakukan dijadikan data sebagai pendukung pada penelitian ini. Dapat dilihat dari data lembar menunjukkan rata-rata kolaborasi berada pada predikat sangat baik yaitu dengan presentase 85,41%. Dari data tersebut terdapat 1 siswa yang memperoleh predikat baik dengan presentase 75% dan 11 siswa yang lainnya sudah memperoleh penilaian "sangat baik" yang pembelajaran terdapat aktivitas awal, aktivitas utama, dan aktivitas penutup. Sintaks pembelajaran think pair share merupakan langkah pada kegiatan inti. Pada penerapan mengimplementasikan tahapan-tahapan proses pembelajaran yang mencakup kegiatan awal, kegiatan inti yang didalamnya terdapat sintaks think pair share, dan kegiatan penutup. Adapun kolaborasi yaitu saling ketergantungan yang positif dapat diketahui bahwa terdapat siswa Predikat yang memperoleh skor 3 adalah empat orang, kemudian skor 4 adalah delapan orang. Hal ini menunjukan sikap ketergantungan antar siswa sudah di terapkan di kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun. Hubungan antar siswa sangat baik dalam melakukan diskusi dengan teman sebayanya, ketika siswa bekerjasama dalam kelompok dan tanggung jawab terhadap pekerjaan kelompoknya. Dan didalam hubungan tersebut juga munculnya interaksi, semangat tolong-menolong, dan tanggung jawab. Penerapan model Think Pair Share tahapan Think . siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Pelaksanaan bahwasannya peran guru tidak hanya sekedar memberikan tugas akan tetapi guru terlibat langsung dalam pembentukan kelompok dan ikut bergabung dengan siswanya. Kemudian pada indikator interaksi tatap muka diperoleh hasilnya adalah enam siswa yaitu yang mendapatkan skor 4, terdapat tiga https://journal. id/widyadidaktika siswa mendapat skor 3, kemudian tiga siswa mendapat skor 2. Berdasarkan hasil perhitungan pada indikator interaksi tatap muka dapat dikatakan cukup baik. Secara rinci interaksi tatap muka adalah Ketika siswa berkomunikasi dengan siswa yang lain saat proses Pada saat penelitian terlihat siswa berbicara dengan siswa yang lain maupun guru dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, pendapatnya dan menghargai perbedaan pendapat yang disampaikan oleh kelompok atau siswa yang lain. Kolaborasi siswa dapat dilihat pada penanda akuntabilitas dan tanggung jawab pribadi individu, dengan enam siswa meraih skor 4 dan enam siswa lainnya meraih skor 3. dalam indikator ini didapatkan hasil sebagian besar siswa mampu memahami akan peran mereka dalam kegiatan berkelompok maupun pada proses pembelajaran. Ini dapat diamati saat observasi siswa mampu berperilaku sesuai yang diharapkan dalam lingkungan belajar. Para siswa mampu melaksanakan tugasnya dan menyerahkan tugas tersebut tepat waktu. Selain itu pada kegiatan berkelompok siswa terlibat aktif mengerjakan tugasnya masing-masing dalam menyelesaikan tugas. Hasil dari indikator keterampilan bekerja dalam kelompok menunjukkan terdapat empat siswa mencapai skor 4, sementara delapan siswa lainnya memperoleh skor 3. Berdasarkan hasil penelitian sejumlah siswa cukup baik dalam melakukan diskusi dengan teman sebayanya, hal ini terlihat Ketika siswa bekerjasama dalam kelompok dan tanggung jawab atas tugas kelompoknya. Kemudian siswa juga terlihat melakukan aktivitas melaksanakan diskusi sesuai dengan arahan guru serta membantu teman yang merasa kesulitan saat Keterampilan bekerja dalam kelompok dapat dilihat dari kegigihan siswa dalam menghadirkan presentasi di depan kelas, siswa menanggapi pertanyaan dengan tepat, dan siswa bertukar jawaban dengan teman JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN JWD Vol. No. Desember 2022. PP 22-30 E-ISSN 2962-4282. P-ISSN 2963-4806 Pada penerapan dalam pendekatan pembelajaran kooperatif Think Pair Share, guru mengimplementasikan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kemudian kegiatan inti yang didalamnya terdapat sintask dari model think pair share dan kegiatan penutup. Kurniasih dan Sani . 6: . menyatakan bahwa Think Pair Share, yang dikenal sebagai berpikir berbagi, adalah pembelajaran kolaboratif yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi di sekolah. Selain itu siswa memperoleh manfaat yang signifikan dalam pengembangan keterampilan sosial Model ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk berinteraksi dengan rekan sekelompok, berkomunikasi secara efektif, bekerja dalam tim, dan mengembangkan sikap saling menghargai. Selain itu, siswa juga dapat belajar untuk mendengarkan dengan baik, menghormati pendapat orang lain, dan membangun keterampilan komunikasi yang Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti, diperoleh hasil bahwa rata-rata kolaborasi siswa yaitu 85,41% dengan cakupan kategori pada rentan Sangat Baik atau (SB). Hal ini membuktikan bahwasannya para siswa sudah mampu pertanyaan secara jelas, dan mendengarkan penjelasan dari anggota kelompoknya selama sesi diskusi. Siswa yang awalnya menerima ceramah dari guru sebagai peran utama kini terlibat dalam pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif, sehingga siswa satu dengan siswa yang lainnya dapat memahami serta mempelajari materi secara lebih baik lagi. Siswa juga mampu dan juga mencapai pemahaman materi karena mereka terlibat dalam pemikiran dan pencarian jawaban pertanyaan yang diberikan oleh guru, yang relevan terhadap materi-materi yang hendak dipelajarinya pada kegiatan belajar yang berlangsung di sekolah. https://journal. id/widyadidaktika SIMPULAN Berdasarkan hasil observasi analisis kolaborasi siswa melalui model pembelajaran Think Pair Share kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun dapat disimpulkan bahwa kolaborasi siswa kelas V SD Muhamammadiyah Ambarbinangun termasuk dalam kategori Sangat Baik. Hal ini ditandai dengan adanya hasil lembar observasi menunjukkan bahwa ratarata kolaborasi berada pada predikat sangat baik yaitu dengan presentase 85,41%. Dari data tersebut terdapat 1 siswa yang memperoleh predikat Baik dengan presentase 75% dan 11 siswa lainnya mendapatkan predikat Sangat Baik atau (SB). Hal tersebut dapat diartikan bahwa siswa kelas V SD Muhammadiyah Ambarbinangun sudah memiliki kolaborasi yang cukup baik. Dengan penerapan teknik pembelajaran tipe Think Pair Share atau biasa disebut TPS, seorang guru telah melakukan rangkaian pembelajaran dengan model atau teknik Think Pair Share sudah sangat baik dan kelompok-kelompok atau pasangan siswa. DAFTAR PUSTAKA