ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Analisis Usulan Lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Kota Bogor Menggunakan Mixed Integer Linear Programming Analysis of Proposed Locations for Public Electric Vehicle Charging Stations (PEVCS) in Bogor City Using Mixed Integer Linear Programming Fitri Nurul Firdaus1,2. I Ketut Gunarta1 Dep. Teknik Sistem dan Industri. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya Jl. ITS Raya. Keputih. Sukolilo. Surabaya 60111. Jawa Timur 2PT PLN (Perser. ULP Bogor Barat. Jl Kemang km 18. Bogor 161131 fitrinurulfirdaus@gmail. com, 2ik. gunarta@gmail. Abstract The Indonesian government is targeting net zero emissions by 2060, partly through accelerating the Battery Electric Vehicle (BEV) program in the transportation sector. Its implementation still faces challenges, particularly in the availability and distribution of EV charging infrastructure. To address these issues, optimal locations for EV charging stations need to be designed to meet the demand of electric vehicle users. This study focuses on determining the number of connectors and charging types at each candidate EV charging station location, focusing on subdistrict offices throughout the city of Bogor, using mixed integer linear programming. The model output recommends the installation of new EV charging stations in subdistricts such as West Bogor. Tanah Sareal, and South Bogor, where demand is high but coverage is still limited. The total optimal cost for EV charging station location allocation is IDR 15,769,626,838, which includes the type of charging to be installed and the allocation of EV charging station services to existing demand. The resulting model is capable of determining a cost-efficient combination of EV charging station construction locations. However, decisions on EV charging station development need to consider not only cost efficiency but also technical aspects and location characteristics. Keywords: Electric Vehicles. Mixed Integer Linear Programming. Optimization. Public Electric Vehicles Charging Stations Abstrak Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060, salah satunya melalui percepatan program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) pada sektor transportasi. Implementasinya masih terdapat tantangan khususnya ketersediaan dan pemerataan infrastruktur SPKLU. Dari permasalahan tersebut, dibutuhkan perancangan lokasi optimal untuk penyebaran SPKLU agar memenuhi permintaan pengguna kendaraan listrik. Penelitian ini memfokuskan pada penentuan jumlah konektor dan jenis pengisian pada setiap kandidat lokasi SPKLU yang berfokus di kantor kecamatan seKota Bogor menggunakan mixed integer linear programming. Output model merekomendasikan pemasangan SPKLU baru di kecamatan seperti Bogor Barat. Tanah Sareal, dan Bogor Selatan, di mana permintaan tinggi namun cakupan masih terbatas. Total biaya optimal untuk lokasi alokasi SPKLU sebesar Rp 15. kondisi ini mencakup jenis charging yang akan dipasang dan alokasi pelayanan SPKLU terhadap permintaan yang ada. Model yang dihasilkan mampu menentukan kombinasi lokasi pembangunan SPKLU yang efisien secara biaya. Namun dalam keputusan pengembangan SPKLU perlu mempertimbangkan tidak hanya efisiensi biaya, tetapi juga aspek teknis dan karakteristik lokasi. Kata kunci: Kendaraan Listrik. SPKLU. Optimasi. Mixed Integer Linear Programming Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Pendahuluan Salah satu upaya yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mewujudkan pencapaian net zero emission (NZE) di tahun 2060 adalah mempercepat transisi ke kendaraan listrik berbasis baterai . , . Pemerintah Indonesia menargetkan dua juta unit mobil listrik dan memperbanyak pembangunan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umu. 000 hingga tahun 2030 sesuai Siaran Pers No Pers/04/SJI/2024 Kementerian ESDM. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikind. , penjualan mobil listrik di Indonesia pada tahun 2024 berhasil terjual sebanyak 43. unit atau meraih pangsa pasar sebesar 5%. Sedangkan dari hasil survei indonesia electric vehicle consumer . , sebagian besar masyarakat masih memiliki pertimbangan menggunakan mobil listrik diantaranya biaya penggantian baterai dalam jangka panjang . , . , akses menemukan stasiun pengisian, belum tersedianya insfrastruktur pengisisan di daerah terpencil, waktu yang dibutuhkan pengisian daya, jarak tempuh maksimum sebelum pengisian ulang, serta harga beli mobil listrik cukup mahal . , . , . PT PLN (Perser. merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara yang mendapatkan tugas pertama kali sebagai Badan Usaha SPKLU, sehingga roadmap yang mencakup penentuan lokasi, kapasitas pengisian setiap SPKLU serta skema usaha yang akan diterapkan perlu disusun. Jumlah SPKLU hingga Juli 2025 yang terdaftar di aplikasi PLN Mobile mencapai 4. 102 unit sedangkan di wilayah kota Bogor terdapat 19 titik lokasi SPKLU PLN. Data jumlah transaksi SPKLU PLN di Kota Bogor periode Januari 2023 sampai dengan Juli 2024 ditunjukkan tabel 1. Dari tabel tersebut terdapat tantangan yang dihadapi, salah satunya adalah penumpukan permintaan di SPKLU 3, 5, 6, dan 9. Femonena tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan fasilitas pengisian dan permintaan aktual di lapangan. Ketimpangan distribusi lokasi SPKLU dan jenis charging dapat menghambat kenyamanan dan mobilitas pengguna kendaraan Listrik . , . Alternatif solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan perencanaan penambahan jumlah konektor atau pembangunan SPKLU baru dan pemilihan jenis charging yang sesuai, dengan mempertimbangkan jarak lokasi SPKLU dan kebutuhan pengguna. Tabel 1. Data transaksi SPKLU PLN di Kota Bogor Periode Januari 2023 Ae Juli 2024 Lokasi SPKLU PLN SPKLU 1 SPKLU 2 SPKLU 3 SPKLU 4 SPKLU 5 SPKLU 6 SPKLU 7 SPKLU 8 SPKLU 9 SPKLU 10 Total Sumber : Data PLN, 2024 Jenis conector 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 2 bh DC CCS2 - 60 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 2 bh DC CCS2 Ae 120kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh DC CCS2 Ae 200 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW 1 bh AC TYPE 2 - 22 kW Jumlah periode Jumlah transaksi Dari permasalahan yang didapatkan, diperlukan suatu penelitian yang mampu menentukan lokasi optimal SPKLU dan jenis charging yang tepat untuk dibangun. Lokasi merupakan salah satu penentu utama dalam pembentukan struktur biaya maupun pendapatan perusahaan, sehingga lokasi yang strategis dapat menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan. Beberapa studi sebelumnya menerapkan pendekatan optimasi dalam penentuan lokasi SPKLU. ada beberapa metode yang bisa digunakan, multi-objective programming . , stochastic programming. , . Salah satu metode yang banyak digunakan untuk permasalahan pemilihan Lokasi optimal layanan untuk kebutuhan kendaraan listrik adalah integer linear programming . , . , . Metode ini dinilai memiliki pendekatan yang bisa menggambarkan kondisi objek dengan baik. Penelitian ini akan berfokus pada lokasi penelitian di Kecamatan Kota Bogor. Hasil yang akan didapatkan adalah kondisi lokasi dan alokasi SPKLU di lokasi dengan menggunakan model mixed integer linear programming. Metode tersebut memungkinkan pemecahan masalah dengan fungsi objektif yang kompleks dan batasan linear. Dengan Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 demikian, penelitian ini diharapkan menghasilkan rekomendasi terbaik optimasi penempatan SPKLU dengan mempertimbangkan adanya lokasi SPKLU eksisting, usulan baru lokasi SPKLU, jenis charging yang digunakan, biaya investasi, dan biaya jarak transportasi EV oleh konsumen, khususnya di wilayah Kota Bogor. Metode Penelitian Bagian ini menjelaskan metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah alokasi pembangunan SPKLU agar bisa melayani permintaan yang ada. Model optimasi dibuat untuk menghasilkan tipe charging yang akan dibangun dan ditempatkan di lokasi yang bisa menjangkau permintaan lebih banyak dengan fungsi tujuan minimasi jarak. Tahapan tersebut dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Metodologi Penelitian Tahap 1 : Identifikasi Masalah Menemukan permasalahan kurangnya SPKLU dan mencari lokasi optimal untuk bisa melayani permintaan yang tersebar di beberapa lokasi. Masalah yang akan diselesaikan adalah penentuan jenis charging apa yang akan digunakan dan ditempatkan di lokasi yang mana. Tahap 2 : Kajian Literatur Mempelajari aturan-aturan terkait seperti Peraturan Presiden no 79 tahun 2023 tentang percepatan program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk transporatsi jalan. Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2023 mengenai Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik bagi KBLBB, dan aturan lainnya, serta penelitian-penelitian sebelumnya yang selaras. Tahap 3 : Pengumpulan Data . Data estimasi jumlah pemilik kendaraan listrik tiap kecamatan di kota Bogor, diasumsikan sebagai jumlah permintaan pengisian daya kendaraan listrik per hari di Kota Bogor. Jarak antara pusat administratif setiap kantor kecamatan di Kota Bogor dengan lokasi SPKLU. Pusat administratif setiap kantor kecamatan diasumsikan dapat mewakili sebaran pemilik kendaraan listrik di wilayah tersebut dan jaringan listrik memadai. Data biaya investasi pembangunan SPKLU kategori medium charging, fast charging dan ultrafast charging. Tahap 4 : Pembuatan Model Menyusun model optimasi dengan Mixed Integer linear programming (MILP) untuk meminimalkan total biaya. Total biaya merupakan biaya yang menggambarkan jarak wilayah untuk menentukan optimal lokasi dan alokasi, sehingga hal ini memiliki dampak pada coverage demand yang menjadi tujuan dari model yang sedang Model ini menggunakan beberapa parameter yaitu jumlah pemilik kendaraan listrik, biaya investasi SPKLU, jarak dari pusat administrasi setiap kantor kecamatan ke lokasi SPKLU, dan jumlah konektor yang Model yang diusulkan sebagai berikut: Indeks i = kecamatan ke-i di Kota Bogor yang terdapat kendaraan listrik, untuk i = 1,2,3, . j = kandidat titik lokasi SPKLU di wilayah Kota Bogor, untuk j = 1,2,3, . Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 . Variabel Keputusan xj : jumlah alat medium charging di lokasi j yj : jumlah alat fast charging di lokasi j zj : jumlah alat ultra fast charging di lokasi j P. : proporsi jumlah EV dari kecamatan i yang dilayani oleh SPKLU di j. Fungsi Objektif Fungsi objektif dalam masalah ini adalah meminimalkan biaya total dari biaya investasi pemasangan SPKLU di lokasi j dan biaya jarak tempuh kendaraan listrik ke lokasi SPKLU. Sehingga, fungsi objektif bisa ditulis ycAycnycu ycs = Ocyc. ycuyc yayc . ycyc yayc . ycyc ) yca OcycnOOya OcycOOya yccycnyc UI yaycn UI ycEycnyc Kendala C Permintaan teralokasi penuh Semua kendaraan listrik kecamatan i akan dilayani minimal oleh satu . kandidat SPKLU j Ocyc ycEycnyc = 1 OAi,j . C Alokasi permintaan hanya ke SPKLU yang dibangun Pij O wj OAi, j C Kapasitas SPKLU tidak boleh terlampaui Total kapasitas charging kendaraan listrik kecamatan i Kota Bogor di kandidat SPKLU j tidak boleh lebih dari kapasitas yang tersedia di SPKLU j. Batasan ini akan mempertimbangkan berapa jumlah konektor yang sebaiknya terpasang di setiap kandidat SPKLU. OcycnOOya yaycn UI ycEycnyc O . cIycu . ycuyc ycIyc . ycyc ycIyc . ycyc ) OAyc OO ya . C Batasan variabel Variabel keputusan untuk kandidat SPKLU j dan alokasi kendaraan listrik kecamatan i yang dapat dilayani kandidat SPKLU j nilainya 1 atau 0 . ycyc OO . C Batasan variabel proporsi Variabel ycEycnyc berada dalam rentang 0 hingga 1 0 O Pij O 1 Keterangan : i OO I : indeks titik permintaan . ecamatan di Bogo. Di : permintaan EV/hari di titik i dij : jarak dari titik permintaan i ke lokasi SPKLU j a : bobot biaya transportasi/km per EV Cx . Cy. Cz : biaya investasi untuk pembangunan SPKLU tipe medium, fast, dan ultra-fast charging S x . Sy . Sz : kapasitas masing-masing konektor charging (EV/har. x j , yj , zj : jumlah charger jenis x, y, z di SPKLU j M : bilangan besar (Big-M), digunakan untuk menghubungkan keputusan buka lokasi dengan jumlah konektor maksimal Pij : proporsi permintaan dari titik permintaan i yang dilayani oleh SPKLU di lokasi j wj : variabel biner, bernilai 1 jika lokasi j dipilih untuk dibangun SPKLU, 0 jika tidak A : bilangan integer Tahap 5 : Verifikasi Model Verifikasi model dilakukan untuk memeriksa kesesuaian hasil keluaran model sistem yang telah dibuat dengan hasil perhitungan serta dipastikan penulisan model matematis yang digunakan dalam sistem sudah Verifikasi model dimulai dengan memastikan bahw a model yang dikembangkan sesuai tujuan utama Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 penelitian, yaitu mengoptimalkan lokasi dan jumlah konektor SPKLU serta jenis charging yang disediakan. Melalui verifikasi ini, diharapkan model yang dikembangkan memberikan solusi yang valid, efisien, dan dapat diterapkan dalam pengembangan SPKLU yang strategis dan optimal. Tahap 6 : Hasil dan Pembahasan Tahap ini menyajikan hasil optimasi berupa lokasi terpilih, jumlah konektor, distribusi permintaan yang dilayani, serta analisis implikasi kebijakan bagi pengembangan SPKLU di Kota Bogor. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2023, jenis pengisian KBLBB terdiri dari 4 level yang dijelaskan pada Tabel 2. Sedangkan Jumlah kendaraan listrik per kecamatan di Kota Bogor diperoleh dari data PT PLN (Perser. UP3 Bogor ditunjukkan pada Tabel 3. Data biaya investasi pembangunan SPKLU kategori medium charging, fast charging dan ultrafast charging ditunjukkan pada Tabel 4. Selain itu, didapatkan kondisi bahwa 1 kWh mobil listrik di SPKLU sebesar Rp 2. 466,78 . erdasarkan Permen ESDM no 1 tahun 2. Rata-rata jarak tempuh 1 kWh mobil listrik adalah 6 km . erdasarkan standar Worldwide harmonized Light vehicles Test Procedur. Maka biaya transportasi sebesar ( ) diperoleh sebesar Rp 411 / km. Tabel 2. Jenis pengisian KBLBB Deskripsi Lokasi Arus keluaran maks (A) Daya keluaran Jenis konektor Plug-in Waktu charging Kapasitas charging Level 1 . low Instalasi 16 AC O 7 Kw Tipe 1 dan 2 (IEC 62196-. A 8 jam 3 EV/hari Level 2 . edium Instalasi khusus . 63 AC 7 - 22 Kw Tipe 2 (IEC 62196-. A 2-4 jam 6-12 EV/hari Level 3 . ast chargin. SPKLU Level 4 . ltra fast SPKLU 100 AC / 250 DC 22 - 50 kW Tipe CSS & Chademo (IEC 62196-. 30-60 menit 24-48 EV/hari 300 AC / 500 DC O 150 kW Tipe CCS2 & Chademo (IEC 62196-. 15-30 menit 48-96 EV/hari Tabel 3. Jumlah kendaraan listrik di Kota Bogor Kode Kecamatan Bogor Barat Bogor Selatan Bogor Tengah Bogor Timur Bogor Utara Tanah Sareal Jumlah Tahun Jumlah Tabel 4. Biaya investasi dan kapasitas SPKLU Medium Charging . Biaya investasi (C) Rp 389,4 juta Rata-rata waktu charging 4 Jam / EV Kapasitas SPKLU per konektor 6 EV / hari Jenis SPKLU Fast Charging . ) Ultra fast Charging . Rp 600,6 juta 60 menit / EV 24 EV / hari Rp 1,0835 miliar 30 menit / EV EV / hari Data kandidat lokasi SPKLU di Kota Bogor yang diusulkan yakni setiap pusat administrasi masing-masing kecamatan di Kota Bogor. Lokasi kandidat SPKLU menjadi lokasi tujuan pada data matriks jarak tempuh dari setiap kecamatan di Kota Bogor. Perhitungan jarak tempuh digunakan sebagai salah satu batasan dalam model matematis untuk menentukan alokasi kecamatan ke masing-masing kandidat SPKLU. Data kandidat lokasi PLN ditunjukkan pada Tabel 5. Visualisasi lokasi SPKLU eksisting yang bertanda bendera hijau dan kandidat usulan SPKLU yang bertanda kuning bintang ditunjukkan pada gambar 2. Titik lokasi menggunakan titik central dari kecamatan menuju ke masing-masing kandidat SPKLU. Jarak tempuh yang dipilih dari salah satu kecamatan ke salah satu kandidat SPKLU menggunakan google maps mode mobil memiliki nilai paling kecil yang ditunjukkan pada tabel 6. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Tabel 5. Data Usulan Lokasi SPKLU di Kota Bogor Kode Nama Usulan SPKLU j*1 SPKLU Kec. Bogor Barat j*2 SPKLU Kec. Bogor Selatan j*3 SPKLU Kec. Bogor Tengah j*4 SPKLU Kec. Bogor Timur j*5 SPKLU Kec Bogor Utara j*6 SPKLU Kec. Tanah Sareal Alamat SPKLU Jl. Darul Quran No. Loji. Kec. Bogor Barat Jl. Layungsari i. Empang. Kec. Bogor Selatan Jl. Kantin No. Pabaton. Kec. Bogor Tengah Jl. Raya Pajajaran No. Baranangsiang. Kec. Bogor Timur Jl. Gagalur No. Tegal Gundil. Kec. Bogor Utara Jl. Kb. Pedes No. Tanah Sareal. Kec. Tanah Sereal Wilayah SPKLU Bogor Barat Bogor Selatan Bogor Tengah Bogor Timur Bogor Utara Tanah Sareal Gambar 2. Lokasi usulan SPKLU di Kota Bogor Tabel 6. Jarak tempuh dari titik asal . ke kandidat SPKLU . alam k. Titik asal . ) Usulan Lokasi SPKLU . *) j*2 j*3 j*4 j*5 j*6 Jumlah Permintaan (Ocj ) EV (Ui ) Pada penelitian ini tujuan utama pengembangan ekosistem kendaraan listrik melalui pembangunan SPKLU adalah meminimalisir biaya yang terdiri dari biaya investasi pemasangan SPKLU dan biaya jarak tempuh ke lokasi SPKLU. Fungsi tujuan dibangun dengan melibatkan variabel keputusan apakah akan dibangun SPKLU pada kandidat lokasi j atau tidak dan berapa jumlah SPKLU yang harus dibangun guna memastikan seluruh kendaraan listrik di Kota Bogor dapat melakukan pengisian baterai dalam satu hari. Kandidat lokasi SPKLU optimal dilihat dari jumlah kendaraan listrik eksisting di Kota Bogor dan jarak tempuh minimal kendaraan listrik dari kecamatan asal ke kandidat SPKLU. Setelah model matematis diimplementasikan meggunakan Phyton, dilakukan verifikasi model. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah model yang dibuat sudah bisa running pemodelan sistem yang dimaksud dalam penelitian ini. Pada gambar 3, diberikan gambar yang menunjukkan perbedaan antara model yang sudah terverifikasi dan belum terverifikasi. Dari hasil optimasi yang dilakukan menggunakan Phyton, didapatkan hasil yang terlampir pada tabel 7. Pada tabel tersebut dijelaskan bahwa tiap lokasi akan dibangun SPKLU dengan kapasitas yang berbeda-beda. Kondisi ini menunjukkan jenis charging apa yang akan dibangun dan jumlahnya. Selain itu, proporsi pelayanan yang dilakukan oleh lokasi SPKLU yang dibangun terhadap setiap permintaan di setiap wilayah. Kondisi ini Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 menunjukkan bahwa hasil ini merupakan kondisi optimal, tidak selalu satu lokasi SPKLU hanya melayani permintaan dilokasi yang sama, ataupun sebaliknya satu wilayah permintaan dilayani oleh SPKLU di lokasi yang sama. Proporsi alokasi dapat dilihat pada tabel 8. Gambar 3. Model setelah terverifikasi Tabel 7. Hasil Optimasi Lokasi dan jumlah konektor Lokasi Keputusan Open Medium Charging . Fast Charging . Ultra fast Charging . Tabel 8. Matriks alokasi proporsi (Pij ) Dari hasil optimasi alokasi pelayanan SPKLU yang dibangun dengan permintaan yang ada, didapatkan total system cost sebesar Rp 15. Kondisi ini merupakan kondisi optimal untuk melayani permintaan yang ada. Dari hasil optimasi, semua permintaan 687 EV/hari dapat dilayani. Utilitas dari penggunaan SPKLU mencapai 98. 7%, hal ini menandakan hampir seluruh kapasitas dipakai. Hal ini menunjukkan terdapat cadangan rata-rata hanya 9 EV/hari dari keseluruhan SPKLU yang ada. Setelah model menghasilkan kondisi optimal, analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat perubahan yang terjadi jika variable yca berubah. Perubahan nilai yca tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan jika dibanding total investasi operator . iliar rupia. Kondisi tersebut berarti keputusan pembangunan SPKLU masih wajar/layak. Namun dalam keputusan pengembangan SPKLU perlu mempertimbangkan tidak hanya efisiensi biaya, tetapi juga aspek teknis dan karakteristik lokasi. Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan kondisi optimal dalam menentukan jenis SPKLU apa yang perlu dibangun, dan memberikan hasil alokasi layanan SPKLU terhadap permintaan yang ada. Total biaya yang optimal sebesar Rp 15. Jumlah kuota dari layanan SPKLU yang dibangun cukup menjangkau semua permintaan yang ada. Utilitas dari penggunaan SPKLU mencapai 98. 7%, sehingga masih ada sisa layanan yang bisa Penelitian ini berhasil menunjukkan kondisi optimal dengan analisis sensitivitas perubahan harga Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 per Km, kondisi ini belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap keputusan yang dihasilkan karena nilainya yang cukup kecil. Variabel yang bisa dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya adalah kondisi lifetime jenis charging . , biaya modal/discount rate untuk menghitung annualized capital cost, dan kebijakan pemerintah untuk pembangunan SPKLU. Variabel ini bisa menjadi pertimbangan besar untuk menentukan solusi optimal Selain itu, teknik optimasi lanjutan seperti pembelajaran mesin atau algoritma genetik dapat dieksplorasi untuk menyempurnakan penempatan dan optimasi kapasitas stasiun pengisian. Hal ini akan membantu lebih meningkatkan fleksibilitas dan akurasi model seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Bogor. Ucapan Terima Kasih